Saturday, July 11, 2015

Susahnya Berterus Terang, Mudahnya Bergosip

Saya yakin banget, seyakin-yakinnya, setiap dari kita pasti pernah kesal sama teman atau sahabat kita sendiri karena tingkah laku dia terhadap kita. Tapi untuk menghadapi dan ngomong langsung, kita nggak berani. Kalau sudah begitu, dipendem sendiri kan tentunya ngga enak ya? Apa yang biasanya kita lakukan? Biasanya sih: Gosip dengan teman lain yang kita balut dengan istilah curhat. Iya, seringkali kita menceritakan perbuatan tidak enak sahabat kita sendiri ke teman kita yang lain, cuma karena kita terlalu pengecut untuk menghadapi reaksi teman kita kalau kita bilang ketidaksukaan kita secara langsung. Terus apakah sesi curhat itu membuat segalanya jadi lebih baik? Ya...bisa sih, tapi sifatnya cuma sementara saja. Dan saya pernah kena batu yang luar biasa dari sesi curhat saya, yang membuat saya menyesal setengah mati pernah ngegossipin sahabat sendiri ke sahabat yang lain. 

Kejadiannya di tahun 2003, jaman saya masih kuliah. Walaupun sudah 12 tahun berlalu, saya masih ingat betul, karena gara-gara kejadian ini, membuat saya sadar, kalau yang namanya berterus terang itu lebih baik daripada menyimpan dalam hati, terutama jika kita merasa kesal dengan apa yang sahabat kita lakukan. As I have said before, being blunt doesn't mean being harsh.

Alkisah, saya dimintai tolong oleh sahabat saya, Steven, dalam project film pendeknya. Saat itu saya bersedia, bahkan saya membantu dia membuat skenario, menyiapkan segala properti (mulai dari minjemin furniture, aksesoris, baju-baju, sampai bikin gorden segala loh dari kain meteran), dan juga jadi make-up artist! Lengkap banget kan ya! Pokoknya I was one of the hardest working friends that he has. Hampir setiap hari saya temenin dia syuting film, dan filmnya ini bukan digital loh ya, tapi pakai pita film 16mm, kayak professional punya, lalu nanti kalau mau edit ya beneran dipotong-potong alias digunting. Bahkan musik dan efek suara pun dimasukin belakangan. Jadi kebayang yang namanya ngulang take itu gak bisa sesering kalau pakai digicam. Budget pun terbatas, jadi sudah pasti ini kerjaan pro-bono. Gak ada imbalan apapun. Selama seminggu full di saat Spring Break yang mestinya dipakai liburan, malah dipakai untuk ngerjain project ini.

Setiap hari saya kerja ikutan capek, setiap kali dimintain tolong ini itu, saya selalu bilang iya, dan saya selalu laksanakan dengan senang hati. Tapi ada suatu saat di mana saya merasa he took everything for granted. Mentang-mentang ada saya, semua saya yang disuruh, bahkan sampai mobil saya kena tilang demi bolak balik nganter props untuk film. Dan apa yang dia lakukan? Nothing! Boro2 say sorry udah nyusahin saya, say thanks pun saat itu rasanya cuma sekedar lewat. Memang sih parking ticketnya digantiin. Cuma ya sudah sampai situ aja rasanya. Saya sudah kenal baik dengan dia dan keluarganya. Jadi mau marah kok rasanya sungkan banget. Jadi semuanya saya pendam dalam hati dan saya biarkan berlalu. Did I forget it? No, I didn’t. Setiap kali saya ketemu dia, saya masih berharap, at least ada satu kali lah dia dengan tulus bilang sorry and say thanks kalau sudah bikin saya kerja rodi demi dia. Itulah dodolnya saya, berharap sahabat itu tau isi hati saya, padahal buat dia, the project is over, and we would continue with our normal daily activities.

Suatu hari, setelah project film tersebut selesai, saya mengundang temen-temen makan pempek di apartemen saya. Kebetulan di satu gedung apartemen itu, ada beberapa teman Indonesia, dan sudah sering banget mereka mampir ke tempat saya untuk makan-makan tiap kali saya bikin sesuatu. Nah, Steven juga salah satu yang tinggal di gedung itu. Berhubung jadual tiap orang beda-beda, jadi deh makannya biasa gantian, dan pintu rumah saya selalu terbuka buat mereka. Kebetulan salah satu yang mampir adalah common friend dari saya dan Steven. Saya juga sangat dekat dengan teman ini, jadi saya dengan santainya, curhat ke dia. Saya ceritakan semua kekesalan saya terhadap si sahabat, intinya cuma sekedar ngeluarin uneg-uneg. Terdengar normal dan sederhana ya? Curhat ke teman soal teman lain, seperti yang biasa kita lakukan toh? Tetapi sehabis ini, ada kejadian yang totally slapped me in the face.

Beberapa jam kemudian, Steven juga datang, dan ikutan makan pempek seperti biasa. Saya merasa semuanya normal-normal saja, pembicaraan kita pun haha hihi saja seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sampai pada akhirnya dia pamit, dia kasih saya selembar surat di dalam amplop. Dia minta saya baca setelah dia balik ke unit dia. Saya langsung bingung, ada apa ini? Saya buru-buru baca surat dari dia, and I was shocked! Dia bilang, saat saya curhat ke teman kita, dia mendengar setiap perkataan yang saya bilang, dia mendengar betapa saya kesal ke dia. EVERY BIT OF IT. Dia bilang kalau dia kecewa sekali karena saya tidak langsung ngomong saja, dan dia meminta maaf karena selama ini dia tidak menyangka kalau dia kurang memberikan apresiasi ke saya. Oh my God! 

Jantung saya langsung rasanya copot. Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala. Pertama, kenapa saya nggak sadar kalau saya sudah menggosipkan sahabat saya sendiri ke seseorang yang sudah jelas tidak akan memberikan perubahan apapun terhadap hidup saya? Kedua, apakah saya merasa lebih baik setelah curhat itu saya lakukan? Yang jelas, saya malah melakukan hal yang bisa mengancam persahabatan kita, dan kemungkinannya lebih parah daripada kalau saya terus terang ke sahabat saya dari awal. Ketiga, what should I do next? Jujur bingung, mau ngapain, rasanya kok muka saya pindah ke manaaaa gitu, jauh kelempar ke seberang samudra.

Saat itu, saya akhirnya memutuskan, untuk datang ke unit apartemennya. Dan kita ngobrol. Kita ngobrol panjang lebar, saling bermaafan satu sama lain. Segala uneg-uneg kita keluarkan, kita lepaskan semuanya. Saya bersyukur, dibalik kebodohan saya menggosipkan dia, sahabat saya ini secara terbuka langsung menghadapi saya dan tidak menyimpan kekesalannya sendiri. Dia bicara langsung kepada saya, dan hal inilah yang menyebabkan semuanya jadi beres. Coba kalau dia mirip saya, malah curhat ke orang lain lagi. Dijamin, peristiwa ini mungkin berakhir dengan persahabatan yang putus. Buat saya sendiri, butuh keberanian besar untuk mengakui kalau saya salah. Saat saya menginjakkan kaki di depan apartemennya, saya tau, saya harus memendam seluruh ego, dan menggantinya dengan permintaan maaf.

Until now, we still remain friends. His sister was my maid of honor on my wedding day. Peristiwa itu sungguh membuka mata saya, kalau dalam persahabatan, kita memang harus terbuka jika ada perbuatan teman kita yang membuat kita kurang nyaman. Tinggal cari cara untuk menyampaikan dengan cara yang elegan. Walaupun ada resiko kawan kita marah, tapi lebih baik daripada kita pendam tapi sebenarnya keselnya nggak hilang, atau malah kita curhatin ke orang lain yang ujug-ujug malah jadi gosip dan nanti bisa ditambah bumbu-bumbu penyedap. Kegampar beneran kalau kejadian kayak saya di atas dan malah jadi nambah dosa. Cuma ada satu hal yang kita sebaiknya nggak ngomong langsung kalau ada hal yang ngga enak yaitu...kalau bicara sama mertua hahaha. (Pssttt... that's another topic :P ).

Untuk menulis kisah di atas, saya sempat berpikir, bukankah akan cukup memalukan menceritakan kebodohan saya sendiri? Tetapi jika kebodohan itu bisa menjadi pelajaran yang berharga untuk saya, saya rasa hal itu cukup layak dibagikan. Kunci dari persahabatan saya yang masih berjalan sampai saat ini selain keterbukaan adalah: saling meminta maaf dan saling memaafkan. Sama seperti semangat Idul Fitri yang selalu terkenal dengan semboyan "Mohon Maaf Lahir dan Batin", sudah layaklah kita semua ikut berefleksi atas semua hal yang terjadi di kehidupan kita. Apakah kita punya uneg-uneg sama seseorang yang sebetulnya ingin disampaikan tetapi kita didera rasa takut, malu, ataupun gengsi? Apakah kita pernah tidak mau memaafkan orang yang meminta maaf pada kita cuma karena rasa sakit hati kita kelewat besar? Apakah kita pernah menggosipkan sahabat kita sendiri, dan berpura-pura baik di depannya? Apakah kita punya hati yang besar untuk meminta maaf kepada orang yang kita sakiti hatinya?


PS: Buat yang mau nonton film pendeknya, bisa lihat di sini.

40 comments:

  1. iya betul banget... kadang kejujuran emang pahit dan susah mau diomongin, tapi emang lebih baik diomongin terus terang biar jelas duduk perkaranya ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Diomongin dengan cara yang baik dan personal. Gue yakin bisa sekalian refleksi juga satu sama lain.

      Delete
    2. in my case, is one sided le..gw say sorry, apologise berkali kali..tapi tetep di babai-in..T_T

      Delete
    3. Kalau udah dicoba dan cuma 1 sisi yang mau mengusahakan persahabatan berlanjut.. artinya gak worth untyk diperjuangkan. As simple as that hehe. Kan temen ngga cm satu.

      Delete
  2. Bener ci kadang kejujuran terasa pahit di telinga orang lain...ak klo ma temen yg udh sahabatan tahunan klo ndk seneng ya langsung to the point blng ndk seneng yahhh semacam kritikan terbuka lah *wong kritiknya rame2 di group ahhahhaha* tp kadang ak liat2 orangny juga klo mao mengkritik hahahha, liat org ini bs ndk terima kritikan org klo ndk bisa mending ak agak menjauh karna drpd deket2 yg ada ribut gede....kan ada ci type org yg kudu disanjung2 wlpn salah dan ndk bs terima kritikan, nah drpd gw mesti berbohong pura2 sanjung dia dan malas kritik dia kr bakal jadi panjang mending menjauh deh *pengecut ya saya?* hahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sama temen yg udah kelewat akrab ya gak apa2 kritik si grup udah tau sama tau. Tp kalau sm temen yang susah dikritik memang sebaiknya diomonginnya personal sih. Menjauh tp tetep ga bs melupakan kan?

      Delete
  3. Wahhh bener Le..curhat ke orang lain mah malah memperkeruh suasaana.,banyak bumbunya. Kalo gua sebel sama temen, diemin sampe ilang sendiri...hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Syukur banget tuh ci kalau sampe bisa diemin dan lama2 lupa. Seringkali org biasanya diemin tapi dipendem terus tau2 meledak haha. Berabe kan. Apalagi kl meledaknya dlm bentuk gosip.

      Delete
  4. g ama temen deket enggak deket kebanyakan jujur aja, makanya dikantor jarang ada yang mau temenan ama g, yang keluar dari mulut g kenyataan pahit semua wakaka... tapi dari pada g mangkel sendiri, mereka dibilangin dari baik2 sampe enggak baik begitu2 aja, dah ngomong pahit aja deh :) hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seperti gue bilang di atas, kalau kita mau sampaikan uneg2 harus dengan cara yang elegan. Kalau di kantor misalnya kita bisa ngomong berdua aja secara personal dan dengan kelembutan, jadi ga ada yang kesel atau sakit hati. Kalau kita nyatain ga suka sm orang di depan org banyak, bisa membuat org sakit hati jg hehe.

      Delete
  5. ga gampang loh le kayak temen loe itu yang mau menyatakan perasaannya ketika dia tau bahwa loe omongin di belakang dia. Yang ada juga biasanya diem2an, terus jadi ga ngomong lage.. atau bahkan ngomongin ke orang laen lagi soal kejelekan loe..jadi rentetan panjang deh yang ga putus2...
    kadang kalo kita curhat ke orang, dan orang itu nyampein ke yang bersangkutan kadang banyak tambahannya yang malah jadi bikin alur cerita yang baru...dan parahnya lage meski ga ada tambahannya pun, dari nada bicaranya/gerak geriknya bisa bikin orang nangkep dengan persepsi yang berbeda.
    so emang lebih aman kita ngomong langsung di depan orang yang bersangkutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makanya Fun gue salut juga sama temen gue itu yg cukup berani menyampaikan kekecewaannya. Cara dia lewat surat jg menurut gue cukup elegan dan sopan. Mgkn bisa aja dia ga kuat nahan emosi kl dia bicara langsung. Intinya kita pny banyak cara untuk menyampaikan hal yg kurang enak sehingga tidak menyakiti.

      Kalau sudah jadi gossip emang bahaya banget. Untungnya temen yg satu lagi jg baik dan ga banyak ngomong. Krn cowo jg kali ya. Makanya gue saat itu nyesel dan banyak belajar dr kejadian itu.

      Delete
  6. Aduh... Untung steven langsung ngomong balikin & mungkin jg krn dia bukan cewe hahaha... Entah kenapa klo dibayanganku hubungan pertemanan antar cewe lebih ribet krn lebih sering berhubungan dgn gosip, jd kadang milih buat menghindar. Sedangkan berteman dgn cowo banyakan "take it for granted".. Soalnya cowo2 suka ngga sadar, padahal butuh dibilangin jg. Jd aku sendiri kadang suka keceplosan deh ngomong yg ngga enak(antara mau jujur atau lupa hrs dipendem) hehe... tapi aku lebih menghargai yg jujur jd bisa saling intropeksi jg.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya cowo maupun cewe sama aja sih. Cm cewe itu lebih gampang emosi jadinya kalau kita mau sampein sesuatu yg ngga enak harus lebih dipikirin lagi gmn cara nyampeinnya. Memang kalau cowo kadang ya kayak cowo banget, ga peduli sama yg kecil2 sementara cewe lebih sensitif. Tapi bersyukur banget ada kejadian 13 thn lalu itu, jadi pelajaran berharga.

      Delete
  7. Thanks for sharing le... g baru liat videonya.. keren.. dan g cari2 leony dimana ya.. apa elo yg di coffee shop duduk diseberang cowonya (cm keliatan rambut doang hehe).. btw ivonne atmadja itu skrg buka sekolah musik ya di jkt.. temen lo jg ya le..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue mah di situ cm jadi cameo alias sekelebatan doang. Fungsi utamanya jadi pembantu umum. Hwahahahahaa.

      Iya Ivonne itu smart banget. Dia double major di Biotechnology and Music di kampusku. Kakak kelas beda bbrp tahun. Terus pas S2 baru lanjut ke SF Music Conservatory majoring in Piano Performance. Canggih banget!

      Delete
  8. Wii salut cici ttp berani ngomong langsung buat ngelurusin masalahnya...aku jg tipe org yg kalo kesel di pendem nih ga berani ngomong langsung...kayanya mulai dr skrg uda harus belajar terbuka deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dipendem asal ga menyiksa ya gak apa2 Rib. Asal jangan dipendem abis gitu malah curhat ke org lain dan jadi gosip. Nah itu yg akhirnya ga bener. Memang perlu keberanian dan juga kedewasaan dari kedua belah pihak. Kalau sampai yg satu sakit hati karena dikritik membangun, timbang2 lagi deh.. org tsb cocok gak jadi sahabat kita.

      Delete
  9. Salut ama temen elo itu. Gua rasa dia pasti anggep elo teman yang layak diperjuangkan jadinya dia milih cara begitu. Gua dan temen2 gank kuliah gua type yang ada apa-apa diomongin sama yang bersangkutan. Everything went well sampai satu ketika ada seorang teman yang merasa kita "keroyok" dia dengan kritikan-kritikan. Sedih banget padahal teman-teman gua udah berusaha ngomong dengan lemah lembut hal-hal yang kita gak sukai dari dia, bahwa kita sayang sama dia dan pengen dia berubah. Jadi relationship itu emang timbal balik ya, tidak selalu niat baik ditanggapin dengan baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly, El. Memang ada beberapa pertemanan yang menurut gue seringkali tidak layak diperjuangkan. Bukan berarti kita ga mau berteman ya, tapi kalau sampai berteman itu malah bikin kita merasa tidak nyaman, mungkin ada bagusnya jg agak menjauh atau putus sekalian. Nah, kalau kita sudah berusaha keras mempertahankan pertemanan tp sisi satunya ga ada usaha.. lupakan deh. Maybe not worth our effort. Plus di Indonesia tercinta ini seringkali being blunt malah dianggap being harsh dan kebanyakan org kita kebanyakan basa basi busuknya.

      Delete
  10. Kalo gw jadi elo, Le. Pasti saat itu gw langsung telp temen yg td dicurhatin dan bilang "ANJRIT, DIA DENGER SEMUA!!! GUE HARUS GIMANA DONGGGGGGGGGGGG" dengan nada lebay hahahaha

    tapi ya, entah gw yg cuek ya, gw gak pernah sih kejadian sebel2an sama temen. Tapi gak tau juga kalo ada yg sebel sama gw yah :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ibaratnya curhat jg milih2 kali Mel haha. Gue udah tau sih kebetulan tipe temen yg satu lagi emang pendengar yang baik. Terus ya sama2 temen baik dr gue dan si Steven.

      Gue sih yakin deh pasti kita pernah kesel sama org. Mungkin bisa aja elu cuek, atau elu udah menemukan medium curhat yg enak n bisa dipercaya, jadinya ya santai2. Sementara pas gue sendirian di sono tuh kadang suka bingung mau cerita yg gini2 sama siapa. Paling YMan sm nyokap haha.

      Delete
  11. 2 taun lalu pernah ngalamin hal yang kurleb sama nii ci en bner bgt, jau lebih baik lsg terbuka aja dink nyampain uneg2 drpd dipendem sendiri tow "curhat" ke org lain. emank c curhat suka buat diri jadi lega tapi sementara bgt en ga kelar juga masalahnya. inget jelas bgt pas b3 nyampein uneg2 itu sama2 saling nangis2an tapi berakhir lega plong en punya hubungan persahabatan yang jau lebih bagus en erat :)
    thanks for sharing-nya ci :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Leganya cuma sesaat doang kok. Malah kalau nanti jadi gossip berbumbu malah kita jd sumber masalah kan. Nah bagus jg tuh kalau bertiga jadi ada saksi mata tambahan hahaha.

      Delete
  12. Wah, klo gw tipe orang yg ngerasa ga bisa ngungkapin kekesalan tanpa jadi kasar..hehehe.. Untung wajahku ini gampang ditebak klo kesel, jd orangnya tahu sendiri deh..hehehe, biasanya diomongin klo keselnya udah lewat :)

    etapi, pernah juga kok kemarin coba ngomong sama orang klo gw kesel sama dia..untung ga ada drama, lgsg clear masalahnya..hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, makanya blunt boleh, tp harsh jangan Pit hehehehe. Diomongin pake cara elegan, misalnya face to face berdua doang di ruangan ketutup... terus doa dulu supaya dikasih sabar. Pasti deh bisa hehehe. Enak kan kalo udah clear masalahnya.

      Delete
  13. Gue langsung ngasih link postingan ini ke bestie, hehehe. Dengan harapan kalo kita kesel, bisa langsung cerita aja daripada dicurhatin ke orang lain. Harapan sih cuma satu: Penyampaian aku nanti ga bikin bestie tersinggung karena aku kalo ngomong suka ngeselin. Huahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cara menyampaikan itu emang pentingggg banget. Mesti tau situasi dan kondisi plus kalau bisa ngga blak2an di depan banyak org jikalau masalahnya personal. Mesti mnt rahmat jg dr yg di Atas sebelum mengutarakan.

      Delete
  14. wah salut dengan keberaniannya nulis kebodohan masa lalu kaya gini hehehehe, buat pelajaran kita2 ya.
    untungnya gw ini tipe yang gak ember, gw sangattt hati2 kalo gosipin orang lain. jadi kalo gw pergi ada suami nih, suami gw tipe yang talkactive, gw sering tuh tendang kakinya di bawah meja kalo doi mulai ngomongnya melebar sana sini hahahah. dia tipe sanguin, gw tipe plegmatis :P

    tapiii... gw ember kalo sama pasangan gw. ibarat temen gw bilang: jgn cerita2 ya, gw akan bilang ya (sambil dalem ati: gak termasuk suami gw, soalnya kan kita bukan lagi dua melainkan satu hahaha). Iya pokoknya kalo sobat gw cerita sesuatu rahasia ke gw, dipastikan 90% misua gw juga tau :P
    apalagi kalo namanya gw kesel sama orang, yaa pasti gw ngomel2nya ke misua hauhahaha, ga brani di depan orangnya -_-'

    ehhh gw dah liat movienya, oke juga ya filmnya :D apalagi bukan digital

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hwhahahah kocak gue baca yang elu suka nendangin kaki suami. Kalo gue orgnya demen cerita, bahkan gue bawel banget n bs cerita random topics (as you can see here hwhahahaa), tapi kalau udah sesuatu rahasia dipercayakan ke gue, gue akan keep itu abis2an. Kalau lu baca dulu, gue pernah cerita kalau gue sempet disebelin setengah mati sm temen cewe gara2 gue ga cerita kalau tmn cowo kita ternyata gay dan gue ga tau kalau si temen cewe ini naksir hahaha. Akhirnya pas dia tau, at least taunya lgsg dr si tmn cowo. Pdhl bisa diitung tmn cewe itu sahabat gue loh. Bodo amat deh dia keki. Iya gak apa gue cerita kebodohan di masa lalu, soalnya ngena banget buat gue.

      Sama tuh soal cerita ke suami gue jg udah anggep dia trash bin hahaha. Suami sih ud kayak cerita ke diri sendiri. Bener2 tmn curhat. Beruntung gue pny suami yg termasuk diem dan ga hobi cerita, jadi aman juga.

      Delete
  15. Untung temen lu cowo, kalau cewe mungkin beda lagi ceritanya hahahaha. Belom tentu bisa kaya elu sama sutradara yang ada nanti malah nyebar fitnah macem2, konon katanya fitnah lebih kejam dari pada nggak fitnah hahahha. Kalau gw sih skrg gak berani curhat2 takut jadi bumerang trus malah nusuk gw dari belakang. Gw juga menghindari grup2 besar karena kalau gw perhatiin gak sehat keliatan kompak keren tapi di belakang saling gosip dan tusuk2an (salah2 kita digosipin). Jadi mending temen dikittttt aja yang penting kualitas bukan kuantitas

    Minal Aidin Wal Faizin, maap kalau saya pernah salah kata di komen 😁

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau temen cewe, gue punya 1 temen yang dulu baik, terus tiba2 ngilang, dan kalau ditegur sapa ngga mau jawab. Tapi gue nggak heran, karena org tersebut menjauh dr semua temen-temennya tanpa kejelasan. Soooo.... wanita itu emang lebih misteri biasanya dibandingin laki-laki. Tapi biarlah... kan namanya pertemanan kudu dua arah kan? Kalau cuma sendiri yg berusaha, berarti gak worth dipertahankan. Kalau gue di grup gede, ngomongnya basa basi aja. Tapi kalau sama temen deket bisa cerita yg asik-asik dan lebih mendalam (plus gossip... lah sama aje hahaha).

      Sama2 bu, maaf lahir batin kalau ada salah2 kate.

      Delete
  16. Salut sama temen elu. Biasanya emang temen cowok lebih easy going ya, ga se-sensitive yg cewek. Cari teman tuh gampang tapi cari teman baik, susah (lebih gampang cari jodoh kali ya wkwkwk.. Becanda deh). Yg pasti kuncinya harus saling terbuka dan jujur. Gue termasuk blak2an kalo ngomong ke temen, baik di kantor atau dimana pun. Bagus bilang bagus. Jelek bilang jelek. Kalo sampe ga bs ngomong krn satu hal, biasanya keliatan dr sikap gue. Ga bisa gue pura2 baik-baik aja pdhl hati lg keki. Hihihi.. Makanya gue blg ke temen2 gue, kalo ada apa2, ngomong langsung ke gue. Ada yg salah, tegor langsung. Mari kita klarifikasi abis itu beres.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rata2 cowo emang lebih terus terang walaupun ada bbrp yang jelimet juga. Tp gue blg sih itu semua action and reaction. Seandainya gue saat itu malah jadi marah n ga nemuin dia jg ud repot. Jd bener2 dalam persahabatan yg worth untuk dipertahankan, dua2nya harus berjuang untuk memperbaiki keadaan. Sama kayak hubungan suami istri kan hihihi. Tetep lbh susah nyari jodoh bo drpd nyari temennn..

      Delete
  17. kirain ngasih amplop yg ada isi gambar pahlawannya :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emangnya mau imlekan? Hahahaha.

      Delete
  18. eh pas berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala.. kok u ga wondering dia kok bs dgr semua tanpa lo ketahui, emang dia berdiri dimana? kepo bener gw ahahhaha..
    anyway nice posting! cm gw termasuk salah satu org yg susah berterus terang nih.. dan bener biasanya utk ngurangi unek2 jdnya malah bergosip di belakang org itu *tutupmuka*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata dia nangkring di depan pintu apartemen gue Live. Kan biasa kalau abis masak pintunya gue buka dikit biar angin muter. Apadaya suara jg jadi muter deh.

      Gak apa sih Live.. gossip itu bagian dari kehidupan kita. Cm kalau temen yg mengganggu gue secara pribadi kayaknya emang enakan jujur aja deh dibicarain. Siapa tau bisa dicari titik tengah. Kalau orgnya ngeyel ya dipertimbangkan lagi apakah cukup worth pertemanannya utk dipertahankan.

      Delete
  19. Gw ngomong lgsg itu untuk sahabat karib Le, pokoknya yang deket banget lah. Yang kalo ada masalah sama dia kayaknya bakal ga enak bgt jadinya. Tapi kalau untuk teman yang cuma haha hihi sambil lalu gw cenderung cuek, maksudnya ya cukup tau aja ternyata kita ga enak berteman, dari situ biasanya lgsg jaga jarak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, untuk orang yang kita anggap perlu kita pertahankan hubungannya hehehe. Tapi kalau orang jauhpun, kalau sampai mengganggu ranah pribadi gue, gue akan bilang sih Py hihihi.

      Delete