Thursday, June 18, 2015

Hormatilah Orang Yang (Tidak) Berpuasa

Di negara kita ini, kalau soal yang ada kaitan dengan agama, sensitifnya setengah mati. Padahal soal agama itu, hubungannya luar biasa personal dengan Tuhan. Beberapa minggu terakhir, di koran nemu artikel yang menurut saya biasa saja, masuk akal, tapi jadi bahan pergunjingan dan keributan senegara, sampai jadi trending topics di beberapa koran ternama negeri ini. Yang pertama adalah, soal Wapres kita Pak Jusuf Kalla yang meminta pengajian lewat kaset dihentikan karena dianggap mengganggu (bisa dibaca di sini), dan yang lebih baru adalah soal Menteri Agama kita, Pak Lukman Hakim Saifuddin, yang mengeluarkan statement mengenai para penjual makanan tidak wajib menutup usahanya untuk menghormati orang yang tidak berpuasa (bisa dibaca di sini, artikel yang saya taut ini dari media berbahasa Inggris, karena rangkumannya lebih jelas). Kalau males baca gak apa-apa, saya rangkum juga kok di bawah.

Nah, sekarang saya mau bahas soal dua hal ini, dari sudut pandang saya sebagai seorang minoritas dobel (sebenernya sih saya nggak mau mencap diri begini, tapi ya memang begitu adanya, saya keturunan Tionghoa, dan saya Katolik). Disclaimer dulu, saya bukan Fans Berat Pak Jusuf Kalla atau Pak Lukman Saifuddin. Jadi ini bukan postingan berbau politik...titik!

Soal Pernyataan Pak Jusuf Kalla (JK)

Dalam pernyataan singkatnya, Pak JK mengkritisi pengurus masjid yang menggunakan kaset pengganti orang mengaji yang diputar secara berlebihan sebelum jam sholat. Dia bahkan meledek kalau nanti yang dapat pahalanya adalah Sony (alias pemutar kaset merek Jepang) bukan orang yang mengaji (literally lucu nih pak JK). Selain itu, dia juga mengkritisi kerasnya suara toa yang digunakan berlebihan dan "saingan" antar masjid, sehingga menyebabkan polusi suara, dan dia menegaskan kalau peraturan soal masjid ini sudah diatur oleh Dewan Masjid Indonesia. 

Sebenernya yang diusulkan Pak JK ini bagus sekali. Setelah saya runut, Pak JK ini sudah berusaha banget mengatur soal toa mesjid dan polusi suara dari tahun-tahun sebelumnya dalam posisi dia sebagai Ketua Dewan Masjid. Bukankah pernyataannya di itu sangat sesuai dengan semangat toleransi yang digadang-gadangkan oleh bangsa kita? Tapi apa kenyataannya? Pak JK dianggap bukan muslim sejati, dianggap musim liberal. Ketua Ikatan Dai Indonesia, K.H. Ahmad Satori bahkan menentang perkataan Pak JK dengan pernyataan yang menurut saya, agak lucu, "Masyarakat masih butuh untuk diingatkan bangun pagi....untuk mengingatkan orang-orang supaya tidak terlampau sibuk dengan urusan dunia.... Mendingan dia (Pak JK) memperbaiki masalah ekonomi daripada mengungkit hal yang baik seperti kaset ngaji." 

Helllloooowwww... Sejak kapan kaset dibutuhkan untuk bangun pagi? Bukankah setiap orang punya alarm? Kalau untuk sholat lima waktu, apa perlu dikasih tau secara publik sampai mengganggu umat lain? Bahkan Pak JK yang Muslim saja merasa terganggu ketika dibangunkan subuh-subuh oleh toa dari empat masjid yang memutar kaset ngaji satu jam di muka sebelum waktu sholat. Kemudian soal menarik orang dari urusan dunia, bukankah itu soal pribadi masing-masing? Mau dengar pengajian sekencang apapun, kalau memang hatinya tidak terpanggil, ya tetep aja cuek. Toh tanpa harus dipanggil-panggil pakai toa, umat beragama lain tetap ke tempat ibadahnya sendiri kan? Lalu kenapa harus dialihkan kalau Pak JK mendingan memperbaiki masalah ekonomi? Bukankah statement itu sangat tidak relevan dengan niat baik yang disampaikan?
Mari saya ceritakan pengalaman buruk saya dengan banyaknya toa mesjid di sekitar tempat tinggal saya. Pas saya pindah kemari, saya itu sudah hamil tua, dan nggak lama kemudian melahirkan. Bayangkan kalau namanya ibu baru, waktu tidur nyenyak itu adalah kesempatan yang langka. Tapi toa di sini ngga mengenal waktu. Pukul 3.30 pagi, yang jelas belum waktunya sholat, sudah diputar kaset sekencang-kencangnya. Bukan cuma dari 1 mesjid, tapi dari 3 mesjid sekaligus yang bersahut-sahutan. Isinya bisa ngaji, bisa shalawat, apa aja deh. Saat itu kuping saya masih sangat sensitif. Saya nggak bisa tidur, jadi gelisah setiap hari, yang ada malah bikin kepala tambah pusing, dan kayak orang jantungan karena sering kaget kebangun dan nggak bisa tidur lagi. Tapi setelah setahun tinggal di sini, akhirnya saya jadi mulai kebal. Mungkin itulah satu-satunya keuntungan yang saya dapatkan dari banyaknya masjid bertoa super kencang di sekitar rumah yaitu kekebalan telinga. Lalu kalau saya saja bisa kebal, bukankah umat-umat Muslim lama-lama bisa kebal juga karena bosan sama kaset yang diputar berulang?

Kalau bulan puasa, toa-toa ini bahkan lebih heboh lagi, hampir nonstop sejak mulai buka puasa sampai pagi lagi. Isinya bukan pengajian yang merdu yang menyejukkan (jujur kalau ngajinya bagus masih lumayan), tetapi suara anak-anak kecil yang isinya nyanyi teriak-teriak di mikrofon mesjid secara uncontrollable. Saya suka kok suara anak-anak menyanyi, tapi kalau sudah tidak beraturan dan mengganggu ketentraman, alangkah lebih baik nggak usah ada suara sama sekali. Apakah semuanya harus disiarkan? Bukankah tarawih lebih bagus kalau bersama-sama khusyuk dan syahdu daripada berteriak-teriak? Mana toleransinya dengan orang lain yang butuh istirahat? Oh iya, belum lagi segala pengumuman terasa harus disampaikan lewat toa masjid tanpa memikirkan orang lain. Misalnya ada kematian, bisa-bisaan jam 2 pagi ada pengumuman kenceng minta ampun. Kenapa nggak nunggu aja sih sampai jam 5 pagi? Toh kalau memang ada yang meninggal, dari mulut ke mulut juga ketahuan, gak usah pakai toa.

Pengalaman buruk lain yang berkaitan dengan toa masjid adalah, betapa toa masjid sebagai alat syiar ini, seringkali disalahgunakan dengan cara luar biasa. Saya masih ingat sekali, ketika saat itu masa kampanye, ada uztaz yang berdakwah, dan dakwahnya itu menyudutkan salah satu capres, menghina si capres habis-habisan dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran, kemudian menggadang-gadangkan capres satunya dengan bilang kalau si capres pilihan dia Muslim sejati, mantan TNI perkasa, bahkan bilang kalau memilih capres yg salah itu nanti warganya tidak barokah. WTH! And I was there, listening to those bull crap, bukan karena sengaja dengerin, tapi ya karena kedengeran seantero kompleks! Sedihhhhhh deh pokoknya. Tega-tegaan banget menggunakan sarana ibadah buat hal-hal macem begini. Segini dulu soal toa mesjid, sekarang lanjut lagi ke topik berikutnya.

Soal Pernyataan Pak Lukman Hakim Saifuddin

Pak Lukman dalam twit-nya meminta para follower untuk tidak memaksa warung makan untuk menutup usahanya pada saat Ramadan karena sebagai umat muslim juga harus menghormati orang yang tidak berpuasa. Bukankan ini suatu pernyataan yang menyejukkan? Kalem-kalem aja toh pernyataannya, dan betul-betul menjunjung tinggi toleransi. Tapi bagaimana tanggapan orang? Ya tentu saja mirip seperti tanggapan mereka terhadap Pak JK. Mereka menganggap Pak Lukman terlalu progresif. 

Beberapa pendukung Islam konservatif menanggapi pernyataan itu dengan pernyataan yang lagi-lagi sangat lucu. Misalnya, Ibu Fernita Darwis yang juga anggota separtai Pak Lukman alias dari Partai Persatuan Pembangunan, bilang kalau pernyataan Pak Lukman menyakiti hati umat Muslim dan menimbulkan stigma negatif. Saya sih lumayan garuk-garuk kepala, cuma gara-gara warung tetap buka, dia menggeneralisasi kalau umat Muslim akan sakit hatinya. Padahal mah yang sering terjadi itu kalau puasa sakit maagnya ya, bukan hatinya... *krik...krik...* Kemudian ada tanggapan lagi dari anggota DPR dari Partai Keadilan Sejahtera, Pak Jazuli Jawani, dia menyesali perkataan Pak Lukman, dan bilang kalau logika Pak Lukman terbalik alias terbelakang dan tidak mengerti bagaimana menjunjung toleransi, dan sudah semestinya orang yang tidak berpuasa justru menghormati orang yang berpuasa, karena orang yang lagi beribadah puasa itu harus diberikan penghormatan ekstra, dibandingkan mereka yang tidak. Hmm... kayaknya si Pak Jazuli ini rada-rada gak paham ya makna puasa. Kalau semua godaan di tiadakan, apa makna puasa, Pak? Apa artinya menahan lapar dan haus? Plis dong ah! 

Yang aneh lagi pernyataan dari Pak Ali Badri Zaini, ketua Forum Dakwah Indonesia - Jawa Timur. Dia bilang, kenapa mayoritas harus menghormati minoritas? Mestinya minoritas yang menghormati mayoritas. Dia juga bilang Pak Lukman lagi ngomong nonsense, dan umat Islam Jawa Timur gak akan mengikuti himbauannya. Lagi-lagi generalisasi kan? Ini kenapa sih ya orang-orang konservatif ini hobinya bawa-bawa seluruh umat, padahal gak semua umat itu pengikut dia. Pak Ali juga bilang, warung makan harus ditutup supaya tidak menggoda orang yang berpuasa. Hellowwwww (lagi!)... Emangnya gunanya warung untuk menggoda pak? Warung itu jualan makanan, kalau tergoda ya urusan yang puasa kali! Apakah dia mampu atau tidak menahan godaan tersebut. Tapi pernyataan ter"keren" muncul dari anggota Partai Demokrat, Pak Khatibul Umam Wiranu. Pak Khatibul ini bilang, kalau Pak Lukman bikin pernyataan itu gara-gara Pak Lukman ketakutan posisinya dicopot dari jabatan menteri, jadi satu-satunya hal yang bisa dia lakukan adalah bikin pernyataan supaya dia populer. Hmmm.... Hmmmm... Lagi-lagi pengen ngomong, plis dong ah! Gitu amat si Pak Khatibul. Emangnya Pak Lukman macem Bella Shofie gitu? Bikin kontroversi biar populer? Pernyataan Pak Lukman buat saya bukan kontroversi loh, tapi masuk akal semua dan wajar banget!

Saking dianggap kontroversialnya pernyataan Pak Lukman, beberapa hari kemudian, dia sampai harus bikin serial twit baru, untuk mengklarifikasi pernyataannya (yang sebenernya buat saya nggak perlu diklarifikasi). Ada beberapa statement penting darinya, di antaranya: tidak boleh ada pemaksaan orang untuk menutup warung pada saat Ramadan. Jika ingin ada yang sukarela menutup warungnya, itu dibolehkan, tetapi sebagai umat Muslim yang baik, kita tidak boleh menutup mata pencaharian orang. Kita harus menghormati hak orang Non-Muslim yang tidak berpuasa untuk mendapatkan makanan dan minuman, dan kita juga harus menghormati umat Muslim yang berhalangan puasa karena kondisi tertentu (dalam perjalanan, sakit, haid, hamil, dan menyusui). Tambah jelas kan maksud Pak Lukman? 

Bagi saya yang non muslim, seringkali saat dulu masih ngantor, di bulan Ramadan kebingungan sendiri karena warung-warung di belakang tutup semua. Akhirnya jadi makan di restaurant atau fast food yang ujung-ujungnya malah nguras kantong berlebih. Yang lucunya, teman-teman Muslim yang baik, justru sama sekali tidak keberatan kita makan dan minum di depan mereka. Yang ada kita sendiri yang jadi agak sungkan karena tau kalau teman Muslim kita puasa. Jadi ya toleransi itu terbangun sendiri, dari pengendalian diri yang baik, bukan karena dipaksakan. Bukankah di Indonesia ini umat Muslim luar biasa dimanjakan dengan berbagai program-program religi di bulan Ramadhan selama hampir 24 jam? Ibaratnya, segala sarana sudah ada, apa masih perlu dimanjakan lagi dengan menutup akses yang dibutuhkan oleh orang lain? 

Saya salut dengan umat Muslim yang ada di dalam lingkungan minoritas. Menurut saya, mereka keren banget dan sama sekali tidak manja. Saya masih ingat sahabat saya di SMP dan SMU, Ratih. Kita main instrumen yang sama di Marching Band, yang jelas ada di sekolah Katolik yang mayoritas siswanya beragama Non-Muslim. Kami main alat musik tiup loh, yang bikin bibir kering setengah mati, ditambah lagi kita latihan di bawah gempuran matahari dan hawa panas Jakarta. Seluruh pelatih memaklumi kalau Ratih mau istirahat dan tidak main alat dulu selama puasa. Tapi apa yang terjadi? Ratih justru merasa, kalau dia dikasih hal istimewa, itu tidak membuat puasanya afdol. Dia tetap berlatih seperti biasa dan sesekali istirahat jika dirasa tidak kuat. Untuk teman-teman di belahan utara bumi yang puasanya lama karena musim panas, I salute you all! Hiburan religi di televisi jelas hampir tidak ada, mau makan hidangan khas Ramadan harus bikin sendiri, gak bisa tinggal beli takjil yang kalau bulan puasa di Jakarta bertebaran di mana-mana. Dengan kondisi lingkungan yang sama persis dengan sebelum puasa, kalian bisa berpuasa dengan baik. Bukankah itu justru makna puasa, dimana kita menahan lapar dan haus, hawa nafsu, egoisme, ketidakjujuran, dan keserakahan, dalam kehidupan yang wajar, dan juga beribadah secara lebih tekun mempersiapkan diri menyambut hari kemenangan?

Gambar dari sini

Selamat berpuasa teman-temanku umat Muslim di seluruh dunia. Semoga puasa kali ini membawa berkah untuk kita semua, mengeratkan hubungan antara seluruh umat, dan memberikan kita kedamaian di hati semua orang. Dan kalau mau buka bersama, bolehlah saya diundang! Hahahaha...


72 comments:

  1. thanks for sharing buLe...anget ati dan mata rasanya baca ini. saya yang org muslim aja malu kok org2 yg buLe sebutin di atas tadi ngomong begitu. di kantor juga gitu, apalagi yg kontra sama Jkw. pasti ngomongnya "ya anteknya jokowii". males bener buat nimpalin lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anget2 serasa minum sekoteng ya Prita. Itu dia, rasanya di dunia ini, agama udah jadi kayak barang komoditas, bukan lagi hubungan personal kita sama yang di Atas. Makanya sering banget dikaitin sama politik. Apa gak cape ya?

      Delete
  2. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Udah lama nggak baca berita dalam negeri, ternyata ada yang begini toh, Lol.
    Dulu aku pikir hal ini wajar ya, karena tinggal di Indonesia sejak kecil. Baru sadar kalau ada yang aneh waktu ke Malaysia dan Brunei, walau sama-sama negara mayoritas muslim tetapi dalam beragama memang lebih toleransi.
    Ya di Indonesia masih banyak yang seperti ngeluarin statemen di atas sih ya, kalau teman-temanku yang muslim nggak seperti itu. Mereka saling menghormati kok, nah misalnya aku yang vegetarian masa melarang orang makan daging depan wajahku? Bisa nggak laku tuh daging :p
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Indonesia ini, beberapa orang Muslim konservatif memang hobinya menggeneralisasi seluruh umat Islam itu harus yg sama cara pikirnya sama dia. Kalau ngga = bukan Muslim sejati. Ampun deh, serasa lebih Arab daripada yang di Arab sana. Sama kayak yg pernah saya tulis, orang lain udah sampai bulan, orang Indonesia masih brantem aja!

      Delete
  3. As usual, nice post Leony.. :) tajam dan terpercaya hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serasa Liputan Enam ya. Kalau ini Liputan Eneng....Neng Leony hahaha.

      Delete
  4. Selalu ada drama tentang puasa tiap tahun ya...benernya ak sebagai kaum minoritas ganda sama kek cici sangat sangat terganggu dengan penutupan tempat makan selama bulan puasa, bukannya kita sebagai kaum minoritas tidak peduli dengan kekhusyukan kalian beribadah tp tdkah kalian pernah berpikir klo semua tempat makan tutup yang tdk berpuasa bagaimana bisa makan? bertoleransilah sedikit dengan kaum minoritas ini misalnya dengan tetep boleh buka wlpn mulainy jam 11 siang.

    sedikit cerita ya ci , ak punya kenalan ibu yang buka warung nasi dibelakang rumah...seminggu sebelum puasa ak sempet tanya ke ibu itu apakah selama puasa warungnya tutup? jwbanny bikin ak mikir andai sebagian besar umat muslim bisa berpikir seperti ibu itu, jadi dia jawab " Tetep buka kok ak mbak tp ak bukany ndk pagi ya plng jam 11 ak baru buka warung, lagian klo ak tutup warung selama bulan puasa sapa yang mau bayarin biaya sewa warung ku? kan selama puasa biaya sewa warungku tetep jalan dan lagian yang non muslim mang ndk beli makan ya? kan pelangganku bukan orang muslim doank"..... apakah ibu ini dimasukan dalam kategori muslim yang ndk taat? karna tetep jualan selama puasa? klo warungnya tutup dan ndk ada penghasilan sapa yang nanggung?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly! Jangan nutup rejeki orang. Tapi gilanya dibeberapa daerah yang ormas-nya kuat... you know lah ormas yang mana, kasian loh warung2 malah kayak dijarah, dipaksa tutup, malah ownernya digebukin atas nama agama. Kebodohan tingkat akut deh!

      Delete
  5. justru yang nyari sensasi itu yang nimpalin2 itu ya ny.. bukan yang ngeluarin statement.
    kalo gua liat, biasanya muslim yang educated yang puasanya bener. gak ribet ama godaan2 yang ada. karena kayak lu bilang, justru puasa itu kan intinya untuk melawan godaan. lha kalo godaan ditiadakan, apa puasanya? dan biasanya mereka ya tetep aktivitas biasa aja.

    justru yang kaum gak educated tuh yang biasanya trus memanfaatkan puasa sebagai alasan. jadi males lah, ini itu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak juga yang educated tapi berpikiran sempit Man. Justru mereka "licik" kalau gue bilang istilahnya, nyari keuntungan untuk diri sendiri aja. Soal puasa berkoar2 soal penghormatan. Coba kalo giliran punya istri muda, awalnya diem2 aja, begitu ketauan, mereka dukung2 aja pake bawa2 sunah Rasul, Bikin garuk2 pala.

      Delete
  6. Ci, setuju banget deh sama postingan cici...harusnya memang sama2 saling menghormati yaa toh negara ini bukan negara untuk satu spesifik agama tertentu...masih ada banyaak juga kaum2 minoritas lain...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya org Indonesia kan gitu. Mayoritas menang.. gede badan menang.. banyak duit menang... lama2 jd spt ga ada hati n pikiran.

      Delete
  7. Satu lagi nice post dari Leony, harusnya lo jadi jurnalis, hehe .. mungkin karena lebih nikmat dihormati daripada menghormati…

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jurnalis tp tulisannya acakadul begini. Langsung ditendang sama yg punya media hahaha. Ya gitu deh Bertha, kaum gila hormat emang susah diberantas.

      Delete
  8. gue daridulu selalu ditekankan sama bonyok + suami juga (sejak kenal dia); kalau ramadhan wajib menghormati yang tidak berpuasa. kok sekarang jadi panjang, sih. gregetan, deh! hahahahahahha ribet. :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Geregetan... jadinya geregetaaannn... *sok imut ala Gita Gutawa* Saling menghormati, itulah inti puasa kan?

      Delete
  9. Kantin di kantor gw tahun ini SURPRISINGLY buka semua loh pas kemarin hari pertama puasa! Padahal tahun lalu, dan 2 tahun lalu semuanya tutup! Gw jadi penasaran, apakah ini himbauan dan kewajiban dari pemilik gedung untuk kantin tetap buka? atau mereka pribadi yg emang mau buka...
    Terus gw tanya sama satu ibu2 yg jualan padang (pake jilbab), ibu kok buka hari ini.. Jawabannya "iya kan yang gak puasa tetap harus makan toh?" :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu gue di kantor bbrp hari pertama biasa tutup semua. Terus nanti ada yang buka, tp ada juga yang bener2 sebulan off. Dipikir2 gak make sense. Pembeli tetep banyak kok. Msh bisa ngehasilin rejeki. Cm kayaknya ada jg tipe org yg males.. Ramadan ga kerja sm sekali malah tidur2an doang (ada tuh tkg gorengan). Kalau ngga ada aktifitas sm sekali mah namanya istirahat ya, bukan puasa. Hehe.

      Delete
  10. Ci Le.. pengalaman abnegt waktu Kost di Gu*ung S*hari.
    Waktu kost ngga teliti bgt, aku kira itu sekeliling rumah2 semua... ternyata di bagian belakang ada Mushola kecilll... dengan Toa nyaring yg superB... kalo pas waktunya puasa 1 bulan itu, dari jam 5,30pm - 5am esok harinya Toa nya super bgt plus nyanyian2 anak kecil ditambah teriakan2...

    mmg bener sie kl yg muslim sejati tulus hatinya... legowo... ngga repot urusan kita makan minum depan mereka. malah banyak kesempatan mereka lebih care juga sama kita ttg makanan di bulan puasa,.. sering di bawain makanan pula sama mereka, beli takjil juga bareng2.. indah deh temenan dengan rasa tulus tanpa S*RA.


    Aneke

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beberapa org di kantor gue jg Muslim dan mereka sama sekali gak mind kita makan dan minum, guepun turut senang krn kalo meeting sore jd ada menu takjil macem bubur sumsum, kolak, biji salak. Sedaaapp.. Indah kan kalo semua menghargai perbedaan.

      Delete
  11. harusnya puasa dilalui dengan susana yang adem ya ci, adem di hati en pikiran plus dari lingkungan juga tapi yang ada belum mulai puasa aja uda ada hal2 debat kek gini :(
    malah yang nimpalin dengan ngasi statement aneh yang cari sensasi, hehehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Biasa deh, ujug2 ada urusan sama politik n nyari dukungan. Toleransi jd nomer kesekian, malah miara hobi ngadu domba. Ampun dah.

      Delete
  12. yang lucunya dan yang kita kangein suasana puasa gini adalah di Bangka le... disini ya, kalo 3 hari sebelum puasa, orang2 udah siap2 bikin tenda seadanya di trotoar.. panjang banget.. dan tiap jalan loh. buat apa? karena nanti saat puasa, mereka jualan. Jualannya pun dari jam 9 pagi loh.. dan jualannya terpampang jelas dari jalan. Dan yang jualan mayoritas muslim. Yang bahagia ya semuanya, yang minoritas bisa punya banyak pilihan jajanan.. yang mayoritas juga punya banyak pilihan untuk berbuka, dapet penghasilan dadakan juga. disini gak ada resto yang tutup saat puasa le, kayak biasa aja..cuma ditutupi sama kain aja, meski ada imbauan untuk tutup pada hari 1,2,3 puasa.

    gw kan biasanya nitip anak kantor kalo beli makan siang. karena puasa, gw nanyanya agak hati2, siapa nih yang gak puasa? Maksud gw yang gak puasa kan boleh donk gw titipi beli makan siang. Nah malah tadi gw tanya "siapa yang ga puasa?" Kata mereka "puasa semua sich bu.. emang ada apa bu?"
    gw jawab "gak sich, mau nitip beli makan siang kalo gak puasa"
    staff gw jawab "oalaa bu, gpp atuh, saya beliin.. gpp kok..bisa sekalian hirup udara segar daripada di kantor mulu" terharu jadinya gw


    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng banget ya Fun! Gue jg mayan seneng pas bulan puasa, dulu di belakang kantor kan pasar Benhil, mulai siang udah penuh banget sama jajanan khusus Ramadan. Pokoknya semua senang semua gembira. Kita yg non Muslim jg seneng nyobain berbagai makanan dan ikutan nambah gendut pas bulan puasa haha. Jd mestinya diambil positifnya ya.

      Delete
  13. Nice post le, bener banget tuh yang pada komen2 lebay ke pak JK dan ke pak menteri itu mah sebenernya buat diri dia sendiri aja, jangan bawa2 umat secara keseluruhan dong ya, yang laen aja belom tentu setuju, cuma pada diem aja daripada ribut2 ga penting, bulan puasa di Indonesa mah bulan ujian buat umat manusia, bukan cuma umat muslim, semua kena imbasnya harus merasakan penderitaan yang puasa..,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Org2 berpikiran sempit spt itu yg bikin negara ini jd terbelakang soalnya msh ada jg pengikut2 mereka yg garis keras itu. Tmn kantor gue ada tuh. Jelas2 bos besarnya Chinese, tp dianya tiap hari di fb sharenya berita voa-i*lam sama pksp*iyungan hahaha. Bikin kita jd risih.

      Delete
  14. baru aja gua ngebahas masalah ginian sama suster gua... walaupun dia muslim, tapi dia bilang gini tentang warung2 yang ditutup atau dikasih gorden.... "puasa itu kan menahan godaan, kalo tempat makan ditutup atau dikasih gorden ya namanya bukan menahan godaan..yang namanya puasa tuh kalo ada yang makan di depan kita tapi kitanya ga tergoda" bener juga sih hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benerrrrr.... Kalo menahan godaan itu, org ksh liat dada (ayam) kita ga akan tertarik hahahhaha. Gue suka sih gara2 si menteri agama keluarin statement itu, keliatannya mendingan loh tahun ini warung2 banyak yang tetep buka spt biasa.

      Delete
  15. g herannya kenapa klo bulan puasa itu yang main petasan juga banyak yah?! padahal udah dilarang tapi ada aja.. semenjak ada Zio, apa lagi tahun lalu Zio masih kecil, sering kagetnya ama petasan... petasannya itu mulai setelah buka puasa dan setelah sahur, kenapa yah ?!
    dan ini g tinggal dikawasan sunter yang karyawannya mayoritas non-muslim susah banget cari makan, kudu naik motor, enggak ada jajanan makanan murah nih hiks...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu juga yang suka bikin gue dari mau tidur, sampe ga bisa tidur, begitu giliran baru mulai pules mendadak kaget kebangun. Pokoknya jd gak damai gitu hidup hahaha.

      Yah Pit, kalau cari makan susah, bawa aja kali ya dari rumah. Itung2 lebih sehat dan lebih hemat. Nanti duit selisihnya kita pake buat liburan. Gimana? Asik ga hahahaha...

      Delete
  16. Nice post as usual...:)
    Di kantor aku ada 2 kubu, yang banyakan minoritas serta mayoritas. Dan memang bener, muslim di kubu minoritas jauh lebih bikin kagum, mereka ga keberatan kita makan2 di depannya. Kita sendiri yang sungkan. Kinerjanya sama dengan kalo ga puasa, karena kan mereka harus mengimbangi rekan kerjanya yang minoritas.Mereka ga mengeluh kalo harus pulang setelah jam kerja tanpa lembur, padahal rata2 mereka cewek dan kudu nyiapin buka puasa untuk keluarganya.
    Sedangkan kubu yang mayoritas, lembur aja ga mau. Padahal dibayar lembur loh, dan emang perusahaan sedang butuh2nya, lembur cuma sejam sampe jam 5 aja. Belum buka puasa tuh, dan rata2 rumah mereka deket pabrik, 10 menit nyampe. 17.10 itu belum waktunya buka puasa juga, dan mereka cowok2 yang notabene buka puasanya udah disiapin oleh istrinya masing2. Alesannya lagi puasa, harus buka bareng jadi ga mau lembur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Paula, kalau aku lihat, orang Muslim yang ada di lingkungan Non-Muslim justru mereka berusaha banget untuk memberikan kesan yang baik dan saling menghargai satu sama lain. Mereka mau nunjukkan, ini loh, kami ini Muslim yang sejati, bukan seperti yang diberitakan oleh orang-orang (yang identik dengan kekerasan, dll), jadi justru tingkat toleransinya luar biasa. Negara kita ini, padahal bukan negara agama, tapi unfortunately, beberapa pentolan dari umat beragama mayoritas ini, hobiiii banget manas-manasin umatnya yang (sorry), not too educated, jadi apa2 bawa nama agama, pdhl tujuannya bukan untuk memuliakan Allah. Sedih kannnn...

      Delete
  17. Di beberapa daerah disini ci (jawa barat) masih kota yang megang teguh ga boleh warung/resto/cafe buka selama puasa, dan temen aku pernah ngalamin dia kerja lapangan trus pas laper sama sekali ga ada yang buka bahkan sampe ke kfc pun tutup

    Aku punya banyak temen muslim, mereka aja santai banget mau warung dibuka apa ga, katanya tergantung iman kita lagian itu warung ditutup gorden koq, ga ngaruh sama mereka.

    Aku juga pernah baca salah 1 tulisan yang beredar di fb yang bilang sekarang warung yang disuruh buka, besok2 adzan di mesjid dilarang. Hmmm...pikiran yang dangkal dari penulis yang justru menyesatkan orang2 yang baca malah makin sensi.

    Apa sih bedanya mayoritas sama.minoritas? Kita sama2 WNI koq punga hak kewajiban yang sama. Aneh aja kalo ada yang minta hak mereka lebih karena mereka mayoritas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu biasanya kerjaannya beberapa ormas tuh yang kayak gitu Ren. Padahal umat muslim yang beneran puasa dan taat biasanya lebih ke tenang saja. Jawa Barat kan bukan kayak di Aceh yang pakai hukum Syariat, jadi kalau cari gara-gara mah biasanya UUD, atau ada kepentingan politik. Nah, warung ditutup gorden menurutku juga aneh sih. Kalau emang puasa mau nahan godaan, ya lihat orang makan santai saja mestinya.

      Delete
  18. Waw ci.. post nya keren banget hahhaa..

    Dulu, waktu aku pindah dari Tg Duren ke daerah Mangga Besar, sempet syok kalo bulan puasa. Rumahku pas banget di sebelah musolah. hahaha.. yang namanya taraweh, saur gitu, bunyi bedug ga berenti2.. Karena aku bener2 yang minoritas dari yang lain di kampung itu, mereka suka jahat, ngelempar petasan ke depan rumah, sengaja mukul bedug nya di depan pintu rumah..(iya bedug nya dipindain)
    pokoknya parah...
    Sama kaya cici, dari yang kebangun dan ga bisa tidur sampe kebal hahhaa...
    Sebenernya gapapa sih mereka putar kaset ngaji. kalo volume nya ga ganggu.. malah kalo yang cuma ngobrol ato teriak2 pake toa itu yang ganggu..

    Nenek & kakek aku muslim, Keluarga mama banyak yang mualaf dan nikah sm yang muslim. Kadang kalo aku nginep disana, si popo tetep masakin aku makanan. Mereka tetep puasa. Kata popo dan kiu2 aku, puasa mah niat. mau yang laen makan ato apa gitu, kalo dari diri sendirinya ga tahan yah jangan nyalain orang lain.
    Puasa kan menahan napsu, apapun itu, mw lapar, haus, dll. Kalo misalnya mau puasa tapi ga ada cobaan gimana? ga greget dong puasanya. :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buset bedug dipindahin! Kejam bener hahahaha. I feel you sist :P

      Delete
    2. Nah, Mel, padahal kamu lihat deh, daerah Mangga Besar sendiri itu justru malah daerah yang sebenernya dikenal sebagai tidak terlalu aman ya. Mana kalau denger kata Mabes, biasanya malah selalu dikaitkan dengan kehidupan malam. Jadi kalau lihat begini, mau digeber bedug sama petasan kayak apapun untuk "ngingetin" orang beribadah, rasanya tidak ngefek, buktinya daerah sana makin menjadi-jadi tuh tingkat kriminal dan prostitusinya. Justru kalau sebagai umat Muslim bisa kasih contoh yg baik, kitapun bisa salut sama mereka.

      Delete
  19. setuju banget sama pemikiran nya ci leony.. :D
    yg penting saling menghormati selama puasa.
    jgn sengaja pamer makanan di depan temen2 yg lagi puasa..walopun tujuan nya buat bercanda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau becandain temen yang lagi puasa dengan kita sengaja makan, itu mah namanya ngga bener. Tapi kalau kita pas lunch time misalnya ijin dulu makan di depan teman kita yg puasa, itu namanya menghormati.

      Tp dr tulisan yang saya maksud bukan soal ngomongin org yg tidak menghormati dengan pamer makanan, tapi lebih kepada umat yg puasa harus mampu menahan godaan walaupun warung/ rumah makan buka semua.

      Delete
  20. Wah hebat bener Le, lu rajin baca koran ato nonton tivi bisa tau semua tu tokoh2 ngomong apaan ? *maklum gw uda lama banget ga nonton tv*
    Gw stuju smua yang lu omongin dah. Kita aja umat Kristen kalo puasa ya santai2 aja kok nemenin org laen makan di restoran kitanya gak ikutan makan. Namanya puasa ya tergantung niat hatinya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue gak rajin nonton berita di TV, Teph, malah ampir ga pernah. TV dikuasain Disney Junior hahaha. Tapi at least gue suka baca Kompas dot com buat headlines2nya aja sih, sama beberapa berita yang lagi ngehits dan berseliweran biasa gue suka telusurin beritanya hehe.

      Baik Kristen maupun Muslim gue rasa sama kok, di Alkitab kan ada tertulis kalau lagi puasa, gak boleh muram muka atau tunjukkin ke org kalau kita lagi puasa. Cukup kita sm Tuhan yang tau.

      Delete
  21. thanks buat rangkumannya jadi ngerti berita2 terkini di indo hehe.. :) lucu-lucu bener ya tanggepannya lolz..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu gak terkini banget sih Lyd hehehe. Yang Pak JK itu udah lebih lamaan, kalau Pak Lukman emang pas sebelum puasa ini dia lontarkan. Tapi anehnya kmrn gue ke mall, resto2 tetep penuh dan rame loh!

      Delete
  22. Kalo kata gue sih yg heboh Muslim di Jawa aja Ci apalagi di Jakarta. Di Bali ga segitunya mungkin karena mayoritas Hindu jg ya. Tapi Muslim di pulau lain jg ga gitu2 amat kok, macam di Sumatra, Kalimantan, dll..

    Sedikit cerita salah satu warung makan langganan gue dsni ngubah jam buka tadinya pagi jadi sore-malem Ci krn anggota keluarganya Islam semua, ga bisa masak pagi-siang krn nanti kalo masak trus icip2 makanan, puasanya jadi batal dong :D Gue sih ga masalah krn warung makan ga dia doank, mungkin pagi pun mereka juga udah ada sampingan buat nutupin pengeluaran biaya hidup sehari2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nambahin, kenapa gua cerita begini maksudnya mereka tutup ya tutup aja gitu, ga pake koar2 ato bikin pengumuman di pintu. Ada juga warung makan muslim lain yg buka dari pagi-sore tp ya itu, yg jadi juru icipnya anaknya yg ga puasa hehehe.

      Delete
    2. Kalau di Bali, Muslim itu jadi minoritas. Bener kan, kalau Muslim yang di daerah yang mayoritasnya Non-Muslim, mereka justru lebih toleransi dan lebih niat ngejalanin ibadahnya dan ngga ganggu-ganggu orang lain. Di Sumatra especially di Aceh sih sangat parah loh penegakan hukum syariat versi mereka. Kalau ada RM atau warung yang buka, siap2 aja digebukin yang punyanya. Bahkan kalau umat Muslim ketauan beli makanan sebelum jam buka, siap2 digrebek dan dipermalukan. Ada beritanya kok di koran.

      Delete
  23. Dan lalu ternyata, yang komplen, yang marah-marah, yang ngakunya "taat" beribadah, kalah sama godaan tirai warteg. Atau sama godaan ngebul berjamaah.

    Untungnya (masih untung nih), masjid di deket rumah gue cuma sebatas bangunin orang-orang pas mau sahur aja.
    Kira-kira 1/2 jam sebelum jam sahur, mulai deh ada suara "Pakk, Bu, bangun. Jangan tidur terus. Ayo masak, nanti sahurnya kelewatan."
    Begitu terus, sampai Jam sahur abis. (Gue pun akhirnya jadi kebangun sih)
    Selebihnya, gak pernah ada suara-suara dari Toanya lagi. Teraweh pun gak pake Toa. (untung kan)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruntunglah anda kalau most activities gak pakai toa hehehe. Nah itu, orang-orang yang garis keras itu, kok malah ternyata imannya cuma sebatas neken orang doang. Maunya cuma yang enak-enak doang (coba kalau istri lebih dari 1, dianggap sunah rasul hahaha). Kalo orang puasa ga disediain makanan, ya jelas aja dia gak bisa makan. Tp apa itu intinya puasa?

      Delete
  24. suka banget ci sama postingannya.. :)

    aku juga ngerasain banget pas merit tinggal di daerah yang banyak toanya.. apalagi kalo nyala berbarengan. udah sahut2an. saling adu keras yah ampun. apalagi kalo udah hari rabu. itu dari pagi ampe malem. wkwkwkw.. :D dan bener banget. kita aja yang bukan muslim aja lama2 kebal ya. gimana yang udah muslim? hihihihi.. :D

    dan bener banget yang soal makanan puasa itu. warung nasi buka itu bukan berarti dia gak menghormati orang yang berpuasa. tapi karena mereka juga tau, ada sekelompok lain juga yang gak berpuasa dan butuh makanan. kalau memang niatnya udah berpuasa, mau kita makan dan minum didepan mereka, mereka harusnya gak bermasalah yah. :) *tapi tetep sih, kita juga gak ada maksud untuk batalin puasanya mereka*.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kok bisa ya pas hari Rabu? Special gitu ya kalau Rabu ada acara khusus hehehe.

      Siapa sih yg bermaksud ngebatalin orang puasa kalau kita yg non Muslim ini cuma makan biasa seperti hari-hari lainnya? Justru kalau kita jadi ikut kelaparan gara-gara yang Muslim puasa, itu malah kita jadi korban kan? Masak puasa malah ikut mengorbankan hak org lain?

      Delete
  25. seperti biasa postingannya selalu berani, nggak semua orang berani nulis topik ginian hahaha *jadi inget karena posting2 berani makanya gw bisa nyasar blog ini dulu*

    kl gw dari kecil emang rumah selalu deket sama mesjid jadi nggak ngaruh juga dengan catatan gw udah pules yah, lain cerita kalau gw kebangun trus berisik nah itu gw bete banget orang masih subuh2... gw lupa dalam rangka apa gitu udah malemnya kan berisik gw gak bisa tidur jadi berisiknya emg sebelom jam tidur trus pas gw udah bisa tidur eh kenceng2 pake toa terima kasih atas sumbangan sapi 1 ekor dari siti binti maimun, kambing 1 ekor dari tono bin martono...gile dengan sederet binatang lain dan nama2 penyumbang (maksud gw apa perlu lu subuh2 sampe pagi gitu berjam2, kenapa nggak langsung ngomong ke orangnya terima kasih atau pas lagi kumpul jumatan atau apalah gitu), kalau yg berita duka cita sih gw cincai deh biar kata subuh soalnya jarang2...gw terganggu yg binatang2 itu wahahahahhaa

    kl dulu gw kuliah kampus dan gw minoritas, justru mereka orangnya fine2 aja dengan kita makan dan minum depan mereka (malahan yg ada kita sungkan dan mereka ngomong gak apa2 kok fel makan aja) justru kalau yg bener2 jalanin puasa tuh para pekerja yang kerja di restoran, bener nggak mereka beneran depan makanan, ngelayanin orang yg beli makan plus melihat orang2 yah makan...(ini gw baru sadar pas makan KFC kemaren itu)

    kl yg koar2 kaya gitu mah udah ketahuan lah model orangnya seperti apa hahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahaha.. Soal sumbangan itu, gue juga sempet terheran-heran. Laporan keuangan mesjid dibacain loh kalau abis sholat Jumat. Sumbangan dari siapa, bapak siapa, ibu siapa, terus dikasih tau saldo berapa dan kedengeran di seluruh penjuru. Dulu mesjid di sini lamaaaaaa banget ngga jadi2, mana minta duitnya tipe2 nyetopin orang pakai jaring di jalan kayak jaman purba. Bukannya kenapa-kenapa ya, jadi lebih berkesan kayak preman dibanding minta sumbangan yang sopan. Untungnya akhirnya jadi juga tuh mesjid, dan begitu jadi, toanya makin membahana.

      Gue salut tuh sama pekerja di resto yang tetap melayani dengan suka cita dan harus memberikan service terbaik. Tp itulah makna puasa, tetap menjalankan aktivitas seperti biasa ditengah bulan Ramadan. Lebih afdolll!!

      Delete
  26. Hi Ci Leony.. Kenalkan nama ku Leony juga..hahaha

    Ga sengaja nyasar ke blog cc gr2 cr2 info buat bikin pasport for baby. Abis itu jd ngikutin blog nya cc mulu.hehe

    Mo komen ah.. Iya neh, 2 issue itu sbnernya masih taraf wajar n masuk akal. Eh, tau2 ada beberapa oknum ga jelas responnya aneh bin ajaib, dah gt ngompor2in orang yang gampang kena kompor n panas.. Ya uda deh jadi rame ga jelas..

    Begitulah Indonesia, yang katanya negara yg toleran, tp buktinya kaum mayoritas yg merasa memiliki. Padahal kan Indonesia "Milik kita bersamaa".. (kek lagu apa yah??)
    Yang menggelikan perut dan bikin geleng2 kepala, ada yang komen 'lagi2 mayoritas yang harus ngalah sama minoritas'.. Langsung gw yg baca 'kriiiiik....kriiiiik...'

    Berdoa saja lah, semoga orang yg ga jelas gt semakin diperjelas jalan hidupnya, jd negara Indonesia tercinta makin jelas masa depannya... Merdeka!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Leony (juga)! Hihihi. Iya silakan nyasar dan bermain-main di sini. Gimana bikin paspornya udah jadi belum?

      Ya biasa, hal2 yang seharusnya jadi masukan yang baik, kalau sudah ditanggepin sama yang super konservatif jadinya... ya gitu deh, bikin rame! Yang caper tuh padahal kayaknya yang nanggepin ya dibandingin dengan yang bikin statement pertamanya.

      Gue yakin, org-org tersebut jalan hidupnya juga jelas, gue yakin banget dlm hati kecil mereka juga tau kok, cuma namanya mau caper kan udah bawaan, harus berlawanan pokoknya (ujung2 politik lagi).

      Delete
  27. woww ini salah satu topik sensi yg kayanya gw ga akan berani bahas, tp u bs bahas dgn bahasa general yg apikkk.. nice written!

    puji tuhan temen muslim yg gw kenal semuanya beda 180 drajat sama muslim2 yg ada di tv tuh.. rata2 temen gw toleransinya tinggi, pas natal bisa ikutan ngerayain makan bareng abis gw kelar misa.. bgitu jg pas mereka lebaran, abis sholat ied.. gw dl jg suka ikutan makan di rmh mereka.. temen2 kantor jg untungnya bae2.. kaya pas puasa gini, kl ada meeting pun, snack2 pun tetep disediakan, pdhl peserta meetingnya mayoritas muslim...Mereka malah mempersilahkan kami utk makan dan minum sgala.. alhasil kita2 yg non muslim pun malah jd sungkan kan mau makan depan mereka.. yah anyway toleransi itu emang cm bs dibangun dgn hati.. Org2 yg ga punya hati (ga care ma org lain) yah ga akan ngerti gmn baiknya bertoleransi dgn org beda agama ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kantor gue dan elu itu lingkungannya yang rata2 educated semua Live. Orang makin educated dan berwawasan, pasti makin kebuka pikirannya. Kaga mandek ky org2 yg ga pernah baca berita dan cm denger berita searah dari org2 yg mereka anggap bener. *pdhl org2 tsb cuma pake nama agama utk kepentingan pribadi*

      Knp blog gue ga bs kayak blog2 seleblog.. ya gini deh Live. Keinginan gue nulis hal2 yg agak2 nekad ini msh bergejolak hahahaha.

      Delete
  28. Rumah ortu di jkt juga pas sebrang an ama mesjid (yg jalanan cuma lebar 5 meter), mana toa nya arah ke jendela kamar gue pula...hahahahhaa....waktu masi di rumah ortu gue kebal loh...santai aja gitu tidur..ya kebangunan sih, tapi abis itu molor lagi...tapi sejak keluar rumah, kalo mudik pas bulan puasa, gue jadi gak bisa tidur! Ahahahahhaha
    Kapan itu gue baca di fb, ada yg posting, masalah kyk gini ini karena self pity...merasa susah banget berpuasa, makanya minta org lain berkorban ikutan gak makan...hahahhahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh gileee... cuma 5 meter itu berarti 2 mobil pas2an ya. Ga kebayang deketnya sampai segitu. Terus kalau jam sholat jumat, jalanan rumahlu ditutup dong ya?

      Iya, self pity, sama ngerasa dirinya yang paling beriman, jadi semua org hrs menghargai dia. Tp dia lupa kalau org lain juga harus dihargai.

      Delete
  29. iya sob, yang penting sama-sama menghormati deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah iya, Sob (entah sejak kapan kita sobatan). Itu ngiklannya mantab jg.

      Delete
  30. Selalu sukaa dengan bahasan mu Mama Abby :D

    Di Kotamobagu (mayoritas Muslim) malah ga kayak disini lho yang masjid nya muterin pengajian kaset gitu. Murni adzan aja. Trus paling ceramah jumat yang volume nya pun ga yang sampe memekakan telinga. Makanya pas waktu ke Manado yang mayoritas Kristen, kangen juga dengerin adzan gitu. Secara masjid nya jauh2 kan.. Dan syukurnya dari kecil temen2 gw yang muslim pada biasa aja tuh. Malah kalo misal makan sembunyi2 gitu malah mereka yg ngomong "ye elahh.. Kek anak kecil aja makan mesti diem2".. Makanya suka heran ma orang2 ditv yang komen aneh2..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kata temen... bahasan ini benernya suara hati begitu banyak org.. cm banyakan pada ga berani ngomong hahaha. Ya nulis kayak gini siap nanggung resiko sih Py. Tp ya saya yakin, most readers pasti educated dan paham maksudnya hehe.

      Di Manado malah gereja dimana2 ya. Tiap bbrp ratus meter hahaha. Di Arab juga katanya gak ada tuh toa dipakai fungsi lain2 selain adzan. Makanya bingung sama Indonesia yg jelas2 bukan negara Islam, kok malah seperti less tolerance.

      Delete
  31. Sebenernya di luar ramadan ada puasa sunah juga, kalau emang dia rajin ibadah harusnya sih kuat kalau warung buka. Toh pas puasa sunah (senen kamis dll) yang muslim juga banyak yang ga puasa dan warung pada buka hahaha...itu sih imannya aja cemen kata saya.

    Untuk toa mesjid juga emang ngeganggu sih, pengen nangis kalau udah sebel pengen istirahat tp keberisikan. Bukan ga cinta sama Allah dan agama sendiri, tapi ngeganggu karena keras belum dari berbagai penjuru. Kan pengen istirahat tenang juga. Toh ngaji/salawatan suara kedengeran di mesjid aja juga gpp. Cuma ya gitu, kebanyakan ga mikirin orang lain tapi diri sendiri dulu. Jadinya susah. Wapres komen aja begitu apalagi warga biasa. Keluh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. iman cemen dan self pity. Minta dikasihani terus. Iya Dit. Pas aku pny bayi itu, berasa banget keselnya krn kurang tidur tp brisik. Tiap org butuh istirahat. Blm lagi yg pada ngantor ya. Yg ada ngantuk semuanya. Dan ga semua kantor ngikutin pemerintah kan yg bs pulang early. Rata2 jadual kantor spt biasa. Jadinya malah merugikan mayoritas.

      Nah makanya aku blg ujug2 mah politik jg blakangnya. Kalau sudah haters akan terus jd haters.

      Delete
  32. terimakasih banyak, sangat membantu sekali...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Membantu apanya Pak/Bu? Jualan juga ya? Kalau cm sekedar jualan jgn pake sarana blog orang dong.

      Delete
  33. Salam kenal kak leony,

    Duuh post nya bener banget tuh, lagi ada project ngerekam lagu trs aku mau ngerekam lagu itu sampe susah, sampe jengkel sendiri, toa toa itu ya ampuuunn. Masa iya kita ngerekamnya di jam jam tidur orang, kan gak mungkin.. duh toa toa, bacalah post ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga Anon! Next time tulis nama ya biar enak nyapanya hehe. Mgkn ngerekamnya kudu siang bolong di saat mereka pd tidur semua hahaha.

      Delete
  34. Islam menurutku gak sebegitunya.. Yg di TV² itu terlalu gmn gitu.. Aku aja jengkel ngliatnya, dsini byk muslim,byk jg kristenya.. Damai² aja dari dulu.. Di TV aja yg Ribut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Post ini sudah saya bikin tahun lalu loh, Sangin. Jadi gak ada hubungannya dengan yang di TV kemarin. Tapi rupanya masih sama kan situasinya? Malah got worse hehehe. Saya gak pernah generalisasi semua Muslim itu sama. Bahkan post yang saya tulis ini, komentar kritiknya pun dr sesama Muslim.

      Delete
  35. Assalamualaium warahmatullah
    ..kelak...sama sama nunggu janji allah subhabahuwataalla..ketika jahannam didekatkan...mari bertaubat ..masih ada kesempatan...berapa lama kita hidup di dunia.??...akhirat tanpa bata..es cendol yang dipamerkan tidak akan mampu menghilangkan dahaga padang masyar...janganlah kalian berbuat melampaui batas dan menghancurkan islam...rabbulalamin tuhan yang esa yang memberi masa tangguh kehidupan dunia..cukup orang yang tidak beriman kepada agama allah dengan azab yang besar...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini maksud komentarnya apa ya? Saya bingung bacanya hehehe. Yg melampaui batas siapa, yg menhancurkan Islam siapa hehehe. Mungkin bisa lebih jelas biar yang baca nggak bingung.

      Delete