Saturday, May 31, 2014

Award Baru (Bikin Sendiri)

Pasti para blogger sudah tau lah ye soal Liebster award yang syarat-syaratya sebagai berikut:

  1. Post award ke blog kamu
  2. Say thanks buat yang ngasih award dan link back ke blog dia
  3. Share 11 hal tentang diri kamu
  4. Jawab 11 pertanyaan yang ditujukan ke kamu
  5. Pilih 11 blogger lainnya dan ajukan 11 pertanyaan yang ingin kamu tanyakan
Nah, berdasarkan blog roll saya dan dikasih tau sama orang lain, sampai saat ini, saya dapet si Liebster ini dari empat blogger yaitu Angela, Nyonya Kecil (Teph), Ribka, dan Tiana. Gile, rada pressure kudu nulis nih. Disempet-sempetin deh. Makasih ya kawan-kawanku. Eh iya, kalau seandainya ada yang ngasih juga, tapi saya belum ada nama kamu di blogroll, mohon maaf ya.

Kalau saya ngikutin aturan sih Liebster ini, saya kudu pilih-pilih blogger lagi. Nah saya bingung mau milih siapa, gara-gara kenalan saya rata-rata sudah punya award ini. Kalau saya mau stop rantainya, nanti dianggep ngga memenuhi syarat, jadilah, saya persembahkan, award baru, bikinan saya sendiri, yang terinspirasi dari Liebster award.

Saya persembahkan dengan bangga....


Prok prok prok prok prok.... Ayo semua tepuk tangannnn... Itu foto Abby yang paling galak yang saya temuin, dan cocok banget buat logo award-nya kan? Nama Lobster sendiri itu celetukannya si Mamipapa (Felicia). Dia WA saya bilang, "Le, lu dapet Lobster award tuh..." Nah, saya sempurnakan namanya jadi Lobster (Kepo) Award. Soalnya si Liebster itu kan intinya nanya-nanya orang toh? 

Nah, syaratnya juga saya bikin sendiri, tetep terinspirasi dari Liebster Award.
  1. Saya akan ceritain 11 hal soal diri saya.
  2. Saya bakalan jawab pertanyaan yang dikirimkan oleh para pemberi award di atas sebagai ucapan terima kasih karena sudah milih saya buat dapat award. Hore!
  3. Saya nggak akan kirim pertanyaan lagi ke orang lain.
  4. Kalau ada yang mau nanya sama saya (alias kalau mau kepo), silakan tulis pertanyaan apa saja di komen, saya akan usahain jawab kalau masih dalam kapasitas saya, dan selama ngga melanggar privacy. (Contoh pertanyaan yang bukan kapasitas saya: "Berapakah harga kentang mutu ABC hari ini?" Hihihi...). 
Semoga dengan adanya Lobster (Kepo) Award ini, segala kekepoan anda terjawab. Sekarang, marilah kita mulai!

11 Hal Mengenai Diri Saya --> Ini bakalan panjang banget! ASLI PANJANG!

1. Saya ini bayi yang hadirnya kecepetan (kata mama). Tadinya mereka masih mau menikmati masa-masa honeymoon, tapi nggak sampai dua bulan setelah orang tua saya menikah, mama saya tekdung, jadilah Natal 1981 mama saya ke gereja dalam keadaan  mabok berat, dan Agustus 1982 saya lahir ke dunia. Waktu mama saya melahirkan saya dulu, karena posisi bayi yang kurang pas, terpaksa akhirnya saya lahir dengan cara divakum. Mama saya sempet maksain ngga mau divakum karena takut nanti anaknya jadi bego *mitos banget deh*. Buktinya sekarang saya ngga bego-bego amat tuh. Tapi mungkin kalau saya lahirnya nggak divakum, saya bakalan pinter banget dan juara olimpiade sains. --> Ngehayal kok gak kira-kira.

2. Dari kecil saya dibiasakan untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dulu waktu saya masih kelas 3 SD, walaupun di rumah ada ART, saya diwajibkan oleh mama untuk beresin ranjang sendiri, lap-lap meja belajar dan meja pajangan, lalu nyapu kamar, dan ngepel sendiri. Terkadang suka sedih, soalnya biasa kan kalau orang punya ART, yang kerjain hal-hal kayak gini kan ART-nya. Ini kok saya sihhhh!! Sekarang saya baru ngeh, kalau hal tersebut sangat-sangat membantu saya di saat saya mulai dewasa memasuki jenjang kuliah. Bersihin rumah sendiri? Hayuk! Nyuci mobil sendiri? Hayuk! Nyetrika setumpuk? No problemo! Masak-masak tiap hari? Ngga susah, tinggal improvisasi doang. Saya ngga mengalami yang namanya panik atau adjustment process yang berlebihan kalau saya pindah dari tempat satu ke tempat lain. Saya berharap bisa meneruskan apa yang orang tua saya lakukan dulu dan tidak memanjakan anak berlebihan. I know that it will be tough, probably my kid(s) will call me "Meanie Mom". But I don't care. I used to hate the chores too when I was a little, and look, I got all the advantages.

3. Waktu saya SMP kelas satu, saya pernah jadi korban bullying. Maklum, asal saya dari SD yang bisa dibilang nggak ada top-topnya, bahkan terkesan SD "orang susah", lalu masuk ke sekolah favorit di Jakarta, dimana saya cuma sendirian dari sekolah asal saya, sementara teman-teman lain asalnya dari sekolah top-top, bahkan mereka sudah punya geng sendiri alias teman-teman dari sekolah lama. Padahal prestasi saya di sekolah itu cukup bagus, masuk lima besar di kelas, dan bisa dibilang aktif. Saya ngerasain gimana saya dikucilkan, nggak dijadikan anggota kerja kelompok, sampai akhirnya supaya saya masuk ke salah satu kelompok, para ketua kelompok harus gambreng, dan yang kalah harus menerima saya jadi anggotanya. Hati saya nangisnya luar biasa saat itu. Untung ada wali kelas saya bu Nenny yang bilang ke teman-teman sekelas, "Lihat nanti di masa depan, kalau Leony jadi dokter, lalu kamu berobat dan digratisin sama dia, kalian akan malu!" Hal itu menguatkan saya banget, untuk menjalani hari-hari "kelabu" selama satu tahun ajaran. Tapi intinya saya nggak menyerah, terus buat hal yang terbaik di sekolah. SMP kelas dua, situasi berubah total, saya punya kelompok kecil yang kalau kerja kelompok nilainya A terus, sampai orang-orang harus ngantri kalau mau jadi anggota kelompok saya HAUHAHAHAHA. *Ketawa nenek lampir*. Dan sampai saya lulus SMA, kuliah, sampai sekarang, temen saya termasuk banyak. Tapi saya paling gak mau punya geng. Saya ngga mau dianggap anggota geng apapun, karena saya tau bagaimana rasanya "diundi" cuma buat jadi anggota. Mendingan berteman santai-santai saja. Back to the case, intinya sih, bullying itu menyakitkan. Makanya sekarang sebagai wali kelas, saya paling ngga tahan kalau ada situasi bullying di sekolah.

4. Saat saya kuliah, milih jurusan itu paling ribet. Bukan kenapa-napa, sebagai anak IPA, tentunya ada harapan keluarga untuk saya menjadi seorang scientist atau anak teknik. Saat tes psikologi, dua jurusan utama yang keluar adalah Teknik Industri dan Kedokteran. IPA banget kan tuh? Tapi sebenarnya kalau ditanya cita-cita utama saya jadi apa, saya kepingin jadi chef! Cuma siapa yang mau ngirim saya ke luar negeri kalau mau sekolah chef? Tukang masak dianggap profesi yang kurang penting, apalagi di tahun itu belum ada reality show macam Masterchef atau Top Chef. Saya saat itu sempet nangis2, "Mama, Noni ngga mau jadi dokter, Noni mau jadi tukang masak" -->; Efek jetlag juga sih abis liburan kelas 3 SMA haha. Akhirnya saya memilih jurusan Computer Science. Tahun pertama masih oke, tahun kedua, saya makin ngga suka! Nggak bisa bayangin jiwa saya yang berkobar-kobar ini, harus stuck di lab bawah tanah selama berhari-hari, ditemani orang Cina daratan dan Indiahe yang suka ngga mandi. Saya banting setir, pilih jurusan yang saya suka dari sejak saya SMA, tapi terputus di kelas 3 karena jurusan IPA, yaitu Accounting. Saat saya pindah jurusan, omongan orang ngga enak, saya dianggep "kurang pinter", bahkan ada keluarga yang nyeletuk, "Ngapain jauh-jauh keluar negeri, cuma jadi akuntan." Tapi saya nggak gubris omongan orang. Saya enjoy sekali, aktif di organisasi Beta Alpha Psi (Professional Accounting Fraternity), dan ujungnya, saya dapat offer pekerjaan di salah satu Big 4 Accounting Firm sebelum saya lulus. Itu juga yang saya tekankan ke murid-murid saya sekarang, pilihlah jurusan karena kamu enjoy, bukan karena gengsi. 

5. Saya tinggal di keluarga yang sangat "terbuka" terhadap segala pendapat. Kalau biasanya di Indonesia itu anak pokoknya denger aja kata orang tua (trus tau-tau udah gedenya berontak), di keluarga saya itu dari kecil kami dibiasakan untuk berpikir kritis dan melakukan pembicaraan layaknya orang berdiskusi. Tetapi bukan berarti kurang ajar macem si Bart ngomong sama Homer. Jadi kalau anak-anak tidak setuju terhadap suatu hal, kami boleh mengemukakan asal alasannya jelas dan logikal. Orang tua pun bukan berarti tidak boleh dikritik dan dikasih masukan. Orang tua juga harus bisa menerima pendapat anaknya dan mengakui kalau ada benarnya. Kami juga suka berdebat loh, dan debat ini bukan berarti kami perang bintang berhari-hari. Kadang di WA saja kami bertiga (saya, mama, adik) bisa adu argumentasi, sambil mencari solusi. Setelah semua orang mencerna baik-baik, tidak berapa lama suasana panas bisa langsung reda dan haha hihi. Gak usah nunggu 1 jam, sebentaran juga sudah beres. Yes, we are that close, no hard feeling at all. Buat orang yang baru masuk ke keluarga saya, pasti bingung! Termasuk suami saya, juga suka rada bingung, dan pernah bilang, "Kok kalau keluarga kamu ngobrol, rame banget, brisik!" Tetapi sekarang dia sudah ngerti, kalau berisik tapi terbuka itu jauh lebih asyik daripada manis-manis dan lembut di depan, tapi sebenernya dalamnya dongkol lantaran nggak bisa bersuara. 

6. Waktu kecil, saya nggak suka yang namanya urat dan lemak-lemak. Kayaknya hal itu disebabkan oleh mama saya yang sama-sama geli kalau ngeliat daging yang ada urat dan klenyer2. Dia juga paling anti makan babi kecuali babinya sudah digiling halus, atau bentuknya sudah diubah jadi processed food macam smoked ham dan Ma-Ling. Sampai menjelang remaja, saya mulai diekspose oleh papa saya yang suka berpetualang makanan, dan saya mulai mencoba yang namanya sate babi komplit mulai dari daging, urat, kulit, hati, usus kecil, usus besar, dan ternyata semuanya SEDAP BANGET! Belum lagi kuping babi temen makan nasi campur. Kemana aja saya selama ini?? Lalu yang biasanya makan daging sapi has dalam melulu, mulai jadi suka makan daging sengkel yang kalau digigit menimbulkan sensasi yang nyam-nyam. Oh iya, orang yang paling suka berpetualang makan adalah papa saya. Kalau saja mama saya nggak nikah dengan papa saya, mungkin perbendaharaan makan mama saya berputar di masakan Indonesia, masakan Indo-Belanda, masakan peranakan, dan mentok ke Chinese food macam capcay, puyunghai, dan siomay hihihi. Gara-gara ada papa saya, jadi mulai makan haisom, hisit, wong san, dan lain-lain. *nelen ludah*

7. Hobi saya selain nyanyi dan masak, adalah menggambar. Sayangnya hal terakhir itu sudah tidak saya tekuni lagi. Saat saya kuliah dan mengambil kelas menggambar, nilai saya bagus terus. Bahkan gambar perspektif saya "Monona Terrace" pernah dipamerkan sebagai one of the best students' work di art building-nya sekolah. Waktu itu gambarnya pakai 100% pensil. Guru saya saat itu meminta saya untuk mengambil art sebagai tambahan minor dan meneruskan kelas menggambar. Tetapi saya nggak mau, karena kelasnya benar-benar membutuhkan waktu yang panjang dan pekerjaan rumahnya seabrek-abrek, sementara saat itu saya sudah mengambil double major juga. Bisa pingsan berdiri, kemudian koprol, kemudian celentang. Terkadang saya mikir, sebenernya saya ini bakatnya di mana sih? Mungkin harus psikotest sekali lagi untuk mastiin. Eh iya, saya juga suka ballroom dancing. TUH KAN? BINGUNG KAN?

8. Saya pernah ikut Audisi American Idol di Chicago tahun 2005, dan Audisi Indonesian Idol di Indonesia tahun 2008. Alesannya? ISENG! Jelas-jelas ditulis, yang boleh ikut audisi itu Permanent Resident dan Citizen Amerika Serikat. Tapi saya nekad aja gitu, bahkan sampe sewa hotel segala di Hampton Inn-Chicago supaya bisa ngejar audisi pagi-pagi. Kalau mau tau cerita lengkapnya, bisa dibaca di sini. Maklum lah, usia saat itu masih muda belia, masih punya energy untuk ngantri dan nunggu audisi berjam-jam di Soldier Field Stadium. Kalau suka nonton American Idol, mungkin masih inget pas adegan orang menerobos pintu stadium. Sebenernya dilakukan berulang-ulang, ada sutradaranya, dan ada Ryan Seacrestnya donk hihi. Hasil audisinya, gagal maning lah! Yang penting hepi hihi. Kalau ikut yang di Jakarta, itu karena ditantangin temen kantor hahaha. Jelas-jelas males banget melihat kualitas Indonesian Idol tahun-tahun segitu gimana (macem tukang ngamen haha). Ceritanya bisa dibaca di sini. Tapi ya berhubung memenuhi tantangan dan rasa penasaran, boleh lah dijabanin, mumpung usia belum uzur dan lewat batas. Hasilnya? Ya gagal dong! Hahahaha. Tapi lumayan lah, bisa ngeliat mas Anang lewat sambil dadah-dadah. Padahal kalau soal suara, saya ini lumayan loh. Lumayan buat bikin orang menganga, karena beda tipis sama Mariah Carey KW 3 alias Mari Ah Kere.

9. Sebelum saya ketemu suami saya, saya pernah punya hubungan serius dan hampir ke jenjang pernikahan sama (mantan) sahabat saya. Orang itu sudah saya kenal bertahun-tahun lamanya, dan saya pikir saat kita akhirnya memutuskan pacaran, lalu orang tuanya kepingin kita cepet-cepet nikah, itu karena kita jodoh. Tapi rupanya, ada udang di balik siomay. Mending kalo udangnya seger dan enak, ini mah udang busuk. Intinya, saya sempat terbuai janji-janji palsu, yang membuat saya percaya kalau dia dan keluarganya itu baik adanya. Sampai suatu hari, Tuhan membukakan mata saya, dan akhirnya walaupun dipenuhi dengan banyak drama dan air mata, saya benar-benar diselamatkan. Kalau saya bilang diselamatkan Tuhan, ini nggak main-main, karena buat yang tau ceritanya, urusannya udah bukan antar keluarga lagi, tetapi sudah melibatkan pihak negara lain hahahaha. Tolong hal yang ini jangan dikepoin ya, saya tulis di sini sebagai salah satu pengalaman yang berharga buat saya. Intinya, kalau kita dekat dan berserah pada-Nya, pasti Tuhan akan tunjukkan jalan yang unik dan luar biasa untuk upaya penyelamatan itu, walaupun harus ada rasa sakitnya dulu.

10. Saya adalah penganut casual dating. Alias, kalau misalnya kita mau kenalan sama cowok dan kita ada interest sedikit aja sama dia dan menurut kita patut untuk dicoba jalan berdua, ya jalan aja. Asal kita tau background orang tersebut (alias ngga asal ketemu di tempat umum tanpa referral), saya sih oke-oke aja pergi berdua untuk sekedar lunch, dinner, or watch movie. Tapi kalau kita sama sekali ngga ada interest alias nol persen, ya mendingan jangan. Tar kita disangka PHP hihihi. Pergi bareng berdua itu buat saya bukan patokan kalau kita lagi pacaran. Mungkin ada orang yang mikir kesannya kita cewek gampangan kalau suka pergi sama cowok berdua, especially di Indonesia ya. Tetapi kalau kita tidak pernah nyoba pergi bareng, terus ngeliat komitmen seorang cowok dari berbagai sisi misalnya: apakah kita dianter jemput, lalu liat sikapnya saat ketemu orang tua kita, lalu bagaimana dia treat kita selama kita jalan sama dia, lalu apakah dia pelit atau ngga selama jalan sama kita, hal-hal tersebut bisa menjadi konsiderasi kita loh dalam menentukan apakah kita mau lanjut sama dia ke hubungan yang lebih serius alias pacaran. Kalau kita ngga pernah jalan bareng, lalu begitu jalan pertama langsung memutuskan untuk pacaran, ya saya sih ngga pernah mau ya hihihihi. Serem malah, apalagi kalau yang nekad langsung mau ngajak kawin. HIIIIYYYY!!!

11.Saya pernah dua kali pengalaman dikenalin (alias buat dijodohin) sama anak dari temennya mama saya. Yang pertama tahun 2006, saat saya lagi liburan ke Indonesia. Waktu itu mamanya dia ngebet banget pingin ngenalin anaknya, jadilah saya beberapa kali dijemput sama anaknya itu dan diajak jalan untuk dinner bareng, termasuk juga pernah dinner bareng sama mamanya juga. Tapi sebenernya saya ngga sreg sama cowok tersebut, karena buat cowok tersebut, saya kurang gaul. Alesannya karena saya nggak suka clubbing. Hiyah! Kisah perjodohanpun tidak berlanjut. Si cowok ini akhirnya pacaran sama adik kelas saya. Saat itu saya sudah balik ke Indonesia. Karena orang tuanya harapannya masih tinggi sama saya, sampai dia udah pacaran pun, mamanya masih "maksa" dia untuk jalan sama saya. Mamanya ngundang saya dan mama saya untuk makan bareng, pake dijemput pula. Karena saya sudah tau dia sudah pacaran sama orang lain, ya jadinya awkward dan isinya basa basi doang. Repot deh kalau mamanya yang lebih ngebet daripada anaknya. Ujung-ujungnya kami berdua ya nikah dengan pasangan masing-masing, dan kami hadir di pesta nikahan masing-masing hihihi. Yang kedua, adalah anak temen gereja. Katanya mamanya cowok tersebut tertarik sama saya karena suka ngelihat saya nyanyi di gereja. Awalnya, saya diundang ke rumahnya dulu, buat ketemu dan ngobrol sama ortunya lantaran anaknya lagi di Canada. Kemudian dikasih lihat deh tuh foto-foto anaknya (yang sebenernya sih saya udah males banget dan pingin kabur pulang tapi nggak bisa, lagian ngga enak sama mama saya). Suatu hari, anaknya pulang untuk liburan. Mamanya dan anaknya itu dateng dong ke rumah saya, bawainnya bukan oleh-oleh dari Canada atau apa kek, tapi mangga harum manis hahahaha. Duh untung basa-basinya kagak lama-lama. Phew... Dan yang paling bikin ilfeel, hari jumat, jam 10 malam, anaknya telepon saya, ngajak keluar ke club! JAM 10 MALEM SODARA-SODARA! Jelas-jelas saya tolak mentah-mentah. Kan akyu bukan anak malam, emangnya Batman keluarnya jam 10? Batman aja keluar malem buat lawan musuh, bukan buat clubbing.

UDAH 11 YA? HOREEEEE!!! Tuh kan, kalo saya udah nulis, malah jadi seabrek, padahal awalnya mau mulai aja susah bener. Nah sekarang saya mau jawabin pertanyaan orang-orang dulu nih. 

Dari Angela:

1. Apa yang akan kamu kerjakan pertama kali jika jadi Presiden Republik Indonesia?
Mengangkat suami saya jadi First Gentleman. Huahahaha...Ya ya, itu gak serius. Itu kan otomatis toh hihi. Kalau saya jadi Presiden Republik Indonesia, saya mau sujud syukur sama Tuhan YME, akhirnya ada juga presiden yang: Wanita, Keturunan Tionghoa, Katolik pula. Artinya Indonesia sudah maju pesat, dan yang jelas saya akan bikin kabinet yang isinya murni orang-orang yang kompeten dan merakyat, plus bekerja sama dengan DPR untuk bikin undang-undang yang menindak tegas kekerasan berlatarkan SARA. Eh kok jadi banyak sih?

2. Tiga tempat yang harus kamu kunjungi sebelum meninggal?
Percaya atau ngga, ngga ada kepikiran sama sekali hehe. Kalau kata harus kok kesannya nanti jadi memaksakan diri. Tetapi kalau kepingin, saya kepingin ke Fatima.

3. Kalau bisa memilih tinggal di kota atau negara mana saja di dunia ini, mau tinggal dimana dan kenapa?
Melbourne, Australia. Jaminan kesehatan baik, secara jarak, tidak terlalu jauh dari Indonesia, jadi kalau kangen sanak saudara bisa beberapa kali bolak balik dalam setahun. Cuaca tidak terlalu extreme, dan udaranya bagus. Secara akademik juga banyak universitas yang baik. Eh, gak ditanya kenapanya ya? Huahahah.

4. Share satu resep favorit dong!
Nasi uduk. Simpel banget. Beras, santan, lada, garam, sereh, daun salam, lengkuas, daun pandan, air. Cemplungin semua ke dalam rice cooker. Voila! Hidangkan dengan  telur dadar dan bawang goreng. Endeus!

5. Pengalaman paling tidak terlupakan sepanjang hidup?
Happy: Waktu pertama kali suami jemput ke rumah saat hari pernikahan, dan dia tersenyum lebar lalu bilang, "Kamu kok lain banget sih?" --> Baru tau ya istrinya ini cakep?
Sad: Waktu terima kabar kalau papa sudah nggak ada lagi saat saya usia 18 tahun.

6. Impian yang belum tercapai?
Punya dapur dengan konsep open kitchen, dengan alat masak komersial, dan buka usaha kuliner haha.

7. Kalau bisa switch body ke orang lain, pengen jadi siapa dan kenapa? 
Nggak kepingin jadi siapa-siapa. I am happy with what I am now. After all that I have been through, having a condition like this is a miracle.

8. Ajaran-ajaran apa yang akan kamu teruskan ke anakmu suatu hari nanti?
Karena anak saya baru satu alias Abby, saya ingin kasih tau dia, untuk selalu berserah dan dekat pada Tuhan. Sebagai perempuan harus bisa mandiri dan tegar, tidak gampang menyerah atas keadaan.. Kita tidak akan pernah tau kapan keluarga kita akan meninggalkan kita, bahkan pasangan hidup kita (berkaca dari mama saya). 

9. Serial TV favoritmu?
How I Met Your Mother

10. Kalau nggak menjalani profesi sekarang, kira-kira jadi apa?
Jadi tukang bikin kueh.

11. Misalnya nggak putus sama mantan sebelum pasangan sekarang, dan terus pacaran/menikah dengan si mantan. Kira-kira hidupmu akan seperti apa?
MISERABLE!

Dari Stephanie:

Pertanyaannya sama dengan Angela, hanya diganti nomer 4 dan 5.

4. Apa sih yang disuka dari pasangan dan dulu bikin jatuh cinta?
Tentunya yang awal, karena dasar sudah terpenuhi (seiman, faktor keluarga, pendidikan, dan pekerjaan). Eh iya, saya gak bisa jatuh cinta on the first sight. Kemudian yang bikin saya tambah cinta adalah, dia itu geeky dan apa adanya.

5. Pengalaman paling memalukan sepanjang hidup?
Apaan ya? Saya ngga pernah sampe merasa malu gimana sih. Beneran nggak ada deh rasanya, atau urat malu saya udah putus.

Dari Ribka dan Tiana:

1. Kapan pertama kali mulai ngeblog? 
Tuh, bisa diintip di pinggiran, May 2003! (11 years ago!)

2. Pertama kali ngeblog nulis tentang apa? 
Hal pertama yang ditulis adalah cerita pengalaman habis jalan-jalan ke Purdue University, dan isi belanjaan. NGGA PENTING BANGET!! Maklum, dulu ngga ngerti kalau blog itu salah satu social media ihiks...

3. Kenapa suka ngeblog? 
Waktu awal-awal sih seneng aja bisa sebagai diary buat disimpen online. Lama-lama kok bisa jadi nambah temen dan pembaca ya? Kok saya tambah ngetop ya? HUAHAHAHA *gila, parah pede banget*

4. Paling seneng nulis tentang topik apa? 
Paling seneng saat bisa mengemukakan pendapat dan mendapat respon dari banyak orang. Seru aja bisa mendapat pandangan yang berbeda dari orang-orang.

5. Apa kegiatan favorit di waktu luang? 
Tidur! Soalnya sejak ibu dan jadi guru, waktu luangnya hampir nggak ada hihihihi.

6. Apa mimpi yang masih belum tercapai? 
Udah dijawab ya di atas

7. Sebutkan 3 hal yang paling kamu suka dalam hidup. Mencintai, dicintai, dan berbagi

8. Sebutkan 3 hal yang kamu ga suka dalam hidup. 
Hipokrit, serakah, hedonisme

9. Kalau dikasih cash 10 juta, mau dipake buat apa? 
Disimpen dulu. Tau-tau juga ludes buat grocery hahahaha. *Darn, biaya hidup tambah berat...*

10. Ada buku yang menjadi inspirasi gak buat kamu? 
Ada. Buku Fikir (Catatan Seorang Pendidik)-nya Sr. Francesco Marianti, OSU

11. Kalau 1 hari hidup tanpa listrik dan gadget mau ngapain?
Ya nyantai aja, jalanin aja hidup seperti biasa. Masak bisa pake kompor gas. Lampu bisa pake solar cell atau lilin. Palingan yang repot gara-gara kulkas mati, daging beku pada meleleh semua. Di luar Jakarta malah bisa berhari-hari gak ada listrik kan? Cuma 1 hari doang sih, not too bad (sambil kipas2 kepanasan).

Eh, udah kelar! Nah, sesuai peraturan Lobster (Kepo) Award yang saya bikin ngasal di atas, kalau masih ada kekepoan yang belum ditanyakan, boleh ditanyakan di kolom komentar. Hidup Kepo!

Thursday, May 22, 2014

Kisah Orang Kepo Nan Rese

Mungkin beberapa dari pembaca di sini, masih inget dengan cerita si Omde (alias Omong Gede). Kalau belum baca dulu di sini. Walaupun saya sudah lama nggak denger berita soal dia, tetapi cerita ajaib itu emang menarik untuk dikenang (a.k.a digosipin). Anggeplah ini hiburan semata, udah lama kan saya nggak ngegosip? Huahahahaha... Mari kita mulai!

Waktu saya lagi persiapan nikah, dia ini keponya luar biasa. Dia nanyain semua vendor-vendor saya, sampai detail, bahkan sampe maksa nanya harganya! Saya tuh paling sebel kalau ditanya soal harga, apalagi kalau vendor tersebut adalah vendor yang tipenya subjektif (misalnya dekor, baju) tentulah ada barang ada harga. Kalau vendor-vendor yang sudah punya price list tetap, tentulah saya akan senang hati memberi tahu. Saya tuh mikir, nih orang kok keponya minta ampun. Eh, nggak taunya dia itu lagi nyiapin perkawinannya dia juga yang jaraknya lebih kurang tiga bulan setelah perkawinan saya. Jadilah kalau dia tanya, saya coba bantu-bantu sedikit.

Saat dia menerima undangan pernikahan saya, bisa-bisanya gitu di depan orang-orang sekantor, dia nyamperin meja saya, terus nanya:  

"Le, ini undangan lo harganya brapa?"

Ya ampun, bukannya itu nggak sopan banget ya? Diundang, terus nanya harga undangan di depan orang yang baru aja ngundang. Akhirnya saya jawab dia japri di YM. Sebenernya sih males banget ngejawabin dia, tapi ya karena berusaha berbaik hati aja, akhirnya saya bales. Terakhir, karena dia kebanyakan nanya ini itu, saya bilang aja,  

"Ya udah, nanti lu dateng aja ke kawinan gue sama calon istri lu. Lu liat aja vendor2 gue yang lu suka, terus nanti lu bisa tanya gue deh."

Dan pas kawinan saya, DIA NGGA DATENG DONG! Sebagai orang terkepo, bisa ngga dateng ke kawinan saya, nitip angpao dan selamat aja kagak loh! Padahal dia ini kan tipe yang omde dan selalu membanggakan diri gitu. Pas saya balik kantor dari short honeymoon, dia juga ngga nyamperin saya ke meja dan ngasih ucapan selamat. Tapi siangnya dia kebetulan lewat di depan meja saya terus bilang,

"Eh selamet ya, Le. Sorry ya, gue gak bisa dateng ke acara lu. Soalnya besoknya gue ulang tahun, jadi gue harus bersih-bersih rumah." --> Kurang absurd apa sih nih alesannya.

Beberapa bulan kemudian, tibalah saatnya dia bagi-bagi undangan kawinannya dia. Ternyata dia nikah di salah satu hall yang tidak terlalu besar di Jakarta Barat. Dari undangannya aja udah ketauan nih orang meditnya minta ampun. Bukan karena undangannya jelek ya, tetapi di undangan itu, ada sebuah kertas kecil banget diselipin, yang intinya, kalau nggak bawa kertas itu, nanti nggak bisa dapat souvenir. Bos saya yang nerima itu sampe geleng-geleng. Saya juga lumayan geleng-geleng. Bos saya nyeletuk,

"Untung kamu kasih tau saya, Leony. Kalau ngga beneran saya gak dapat souvenir."

Kita semua penasaran, souvenirnya itu apaan, mungkin kerennya minta ampun sampai dia ngeri kalau souvenir gak sesuai dengan jumlah undangan.

Kebetulan, saya hari itu ada dua undangan pernikahan, jadi saya cuma titip angpao saja ke teman yang pergi. Bukan balas dendam sama dia ya hehehe. Saya masih nitip kok. Dan yang paling bikin penasaran adalah... souvenirnya... eng ing eng... Photobooth selembar dan notes kecil. Kirain apaan, Ceu! Bukannya saya tidak menghargai ya. Tapi rasanya dibandingkan omongannya yang selangit itu, mestinya nggak usah sampai serempong itu buat bikin notes kecil-kecil demi menjaga souvenir. Bos saya pas ketemu di kantor nyeletuk lagi,  

"Berapa banyak sih penyusup yang mau dateng ke acaranya dia? Ngasih notes ke penyusup juga nggak bikin susah!"

Ini sih belum apa-apanya. Setelah dia kembali ke kantor sehabis acara pernikahannya, kerjaannya cuma ngomongin biaya-biaya perkawinan. Dia ngoceh kemana-mana kawinannya dia habis empat ratus juta. Saya sih nyengir aja, katanya dulu mau kawin di Hotel Mulia, sekarang giliran empat ratus juta kok rempong. Kemudian setelah ditelusuri, dia cerita ke temen saya yang cowok, kalau jumlah itu termasuk untuk beli ranjang dan lemari baru. GUBRAK! Tolong deh! Namanya mau nikah, masak mau tidur di lantai? Nggak sekalian itung biaya beli gorden? (eh apa jangan-jangan diitung juga?? #masihmisteri). Dan ternyata, setelah kekepoannya yang najubilah min jalik soal vendor-vendor saya itu, nggak ada satupun vendor saya yang dipakai. Dekor dari toko bunga milik maminya, baju ngejahit di Bandung, WO saja pakai teman kantor. Terus ngapain nanya2 sampe bikin keki? Cuma buat mbanding-mbandingin thok rupanya.

Kegeloan belum berakhir. Di kantor kita itu kan karyawannya tentulah dari berbagai kalangan ya. Ke orang-orang yang ngga mengerti soal harga, dia itu bisa nyebutin angka fantastis nan ajaib. Misalnya, dia cerita kalo baju pengantin istrinya itu, bikinnya di Bandung. Saya tanya,

"Siapa designernya?"

Dijawab,  

"Gak tau, pokoknya yang bikin bajunya Krisdayanti.". 

Ke orang-orang, dia bilang, kalau dia bikin baju pengantin istrinya harganya sembilan puluh juta, terdiri dari harga bahan sebesar tujuh puluh juta, dan ongkos jahit dua puluh juta. Dalam hati saya, kasian juga nih orang, udah bayar segitu, nama designernya aja kagak tau hihihi. Ngomong gede kok gak kira-kira. Lagian, kalo total biaya nikah empat ratus juta, termasuk ranjang dan lemari, masak baju aja seperempat biaya nikahnya? Nah yang lebih lucu, orang-orang yang dia omongin begitu memang orang-orang yang memang ngga ngerti. Kalo ke saya kagak berani dia nyebut harganya. Ibaratnya mereka cuma bisa mengagumi... Woww.. keren ya si Omdeee... Ngek!

Terakhir saya bener-bener ketemu dia sebelum akhirnya resign adalah saat saya mengantarkan Manyue (bingkisan sebulanan) si Abby ke kantor buat orang-orang yang sudah dateng dan kasih gift ke Abby. Ya bisa ditebak lah, dia nggak mungkin participate kado buat Abby. Tapi pas baru nyampe aja, gak pake ngucapin selamat, dia langsung nembak:

"HARGANYA BRAPA, LE?" 

 Metong deh nih orang keponya. Terus karena udah tau sifatnya dia, saya langsung jawab dengan tatapan melengos,

"Napa? Mo mesen? Ini gue bikin sendiri, kagak dijual."

Ehhhh masih dia jawab lagi loh,  

"Kalo bikin sendiri, nanti kan gue bisa pesen sama elu buat sebulanan anak gue."

Dalam hati saya... yeah rite!

Setelah setahun lebih ngga ketemu si Omde, tiba-tiba aja keingetan sama dia. Kangen kali ye. Alias kangen buat gosipin dia sama temen-temen kantor. Atau mungkin lebih tepatnya, saya kangen sama suasana gosip temen-temen di kantor, yang sebagian ya isinya soal si Omde hihihi. Apa kabar ya tu orang? Ada yang punya temen ajaib kayak gini juga gak sih? Mau dong gosip! #hausdrama

Saturday, May 10, 2014

Saya Pro UN loh!

Ya ya... saya tau banget, tulisan saya ini pasti bakalan menimbulkan pro dan kontra. Apalagi sekarang lagi rame banget yang namanya gerakan "Tolak UN", sampai khusus ada websitenya, lalu didukung oleh orang-orang yang hmmm... kalo boleh saya bilang sih lagi ngetop-ngetopnya saat ini dan dianggap cerdas. Nggak usah disebutin deh ya orangnya, pokoknya salah satu stand up comedian yang lagi hits lah saat ini, dan juga banyak tokoh-tokoh lainnya.

Kemarin, salah satu orang yang sangat mendukung gerakan tolakUN, sebutlah namanya si Bokek, sempat adu argumentasi sedikit di Facebook dengan saya. Sebenarnya saya ingin copas benar-benar tulisan orang tersebut, yang konyolnya, setiap saya tulis satu komen, dia membalas dengan tiga komen berendeng-rendeng ditambah link-link dari website dengan alasan research dan lain-lain, demi mendukung gerakan tolak UN tersebut. Saya sih jawab simpel saja, kalau dia cuma berani kasih saya link dari website yang sama, yang jelas-jelas websitenya itu adalah website yang mendukung tolak UN, ya jelas saja isinya semua soal hal-hal yang mendukung pernyataannya dia. Tulalit.com deh ah. Ujung-ujungnya saya gak ladenin lagi, males dengan orang yang kelewat fanatik dengan gerakan dan tokoh tertentu, tanpa melihat dari sisi seorang praktisi pendidikan yang terjun langsung ke lapangan. Pas saya baca profile FBnya dia, isinya tuh cuma gerakan tolak UN, dan ada disisipkan jualan software yang katanya bisa untuk tes kemampuan anak. Hi hi hi...

Intinya, si Bokek berargumen, kalau dia tolak UN, karena UN membuat standardisasi, padahal anak-anak kita bukan batu bata yang dicetak, dan sekolah bukan pabrik yang perlu ada quality control. Saat saya membicarakan tentang standardisasi, dia bisa melenceng ke soal biaya UN yang besar yang seharusnya bisa dipakai untuk yang lain-lain. Padahal saya sendiri fokus mengenai pentingnya standardisasi tersebut.

Sebagai seorang praktisi pendidikan, yang kebetulan ikut melihat dan memantau pelaksanaan UN di sekolah, dan kegunaan UN itu sendiri, saya mau memberikan beberapa argumen dari sisi saya. Tapi tolong, jangan diliihat dari sisi pelaksanaan UN yang mekanismenya memang suka berantakan ya, ataupun jual beli soal yang terjadi. Di manapun yang namanya tindakan itu kan tidak sesuai dengan maksud dan tujuan UN, dan sekali lagi itu menurut saya tidak bisa dijadikan argumentasi bahwa UN-nya sendiri jelek. Ibaratnya, kalau kita punya barang bagus banget, tapi pas sampai ke tangan konsumer sudah dipreteli oleh orang yang tidak bertanggung jawab, apakah berarti barang kita awalnya jelek? Saya akan membahas dari satu-persatu sisi yang dipaparkan oleh si Bokek sebagai argumen dia dalam menolak UN.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. UN Dianggap Mencetak Orang Seperti Batu Bata

Saya tidak pernah merasa dengan adanya UN, manusia dicetak menjadi manusia yang kaku dan tidak berkarakter. Dari dulu saya dan kawan-kawan saya mengikuti ujian apapun, kami tidak pernah merasa kalau kami ini dicetak untuk menjadi sama. Kami merasa ujian itu perlu, sebagai tolak ukur kami setelah mengikuti proses belajar mengajar. Kalau ada opini yang bilang gara-gara ada UN, semua guru cuma fokus mengajarkan materi UN kepada anak-anak, saya kira itu berarti pengaturan kurikulum di sekolah yang belum rapi pemetaannya, dan kurangnya kontrol mengenai materi-materi yang harus dicakup. Saat kita SMA-pun, kita bisa memilih jurusan yang kita mau sesuai dengan bakat dan minat kita. Jurusan yang diakui ada IPA, IPS, dan Bahasa, dan anak kita bisa memilih pengetahuan dasar apa yang dia inginkan untuk bekalnya ke depan nanti. Soal UN sudah dibuat sedemikian rupa sesuai dengan jurusan yang diambil. Apakah dengan demikian kami semua dibentuk jadi sama?

2. UN Membuat Sekolah Menjadi Seperti Pabrik Yang Butuh Quality Control

Si Bokek mengemukakan, UN itu tidak boleh menjadi standar kelulusan. Sekolah sendirilah yang harus menentukan standar kelulusan anak-anaknya, karena sekolah yang tau kemampuan anak-anak tersebut. Bayangkan, kalau semua sekolah boleh menentukan standar kelulusannya sendiri. Sekolah A 100% lulus! Tetapi ternyata anak-anaknya tidak mampu melakukan hitungan dasar dan hal-hal yang diperlukan sesuai dengan jenjang umurnya. Bagaimana nasib anak tersebut ke depannya? Tau sendiri kan bagaimana kualitas sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk sekolah yang memakai label Internasional di namanya? Kebanyakan hanya berorientasi kepada bisnis, dan mencoba menyenangkan customernya (alias murid dan orang tua murid). Pada tau nggak sih, kebanyakan para expatriate yang mengajar di sekolah-sekolah international itu menganggap UN adalah sampah! Mereka mendoktrin anak-anak kalau mereka tidak perlu UN, yang penting belajar saja lalu ambil ujian international (yang seringkali ternyata tidak diakui). Sekolah jadi seperti tempat les, anak-anak hampir tidak ada yang tidak naik kelas karena kalau sampai tidak naik, mereka dengan mudah pindah ke sekolah lain yang bisa menyebabkan pendapatan sekolah berkurang.

Giliran mereka mau kuliah, mereka tidak punya dokumen apapun yang resmi, yang menandakan kalau mereka itu kompeten. Yang ada cuma rapor sekolah, yang seringkali juga nilainya belum tentu murni karena standar sekolahnya lain-lain (lagi-lagi banyak nilai yang dibagus-bagusin cuma buat pleasing the parents). Saya sendiri melihat, bagaimana anak-anak murid saya banyak yang sebelumnya tidak ikut UN, dan sekarang benar-benar struggling saat mau masuk kuliah dan mencari kampus. Ujung-ujungnya, banyak dari mereka yang akhirnya masuk ke kampus kurang baik di luar negeri, atau cari kampus lokal yang bisa disogok masuknya. Sedih kan? FYI, hasil UN itu lebih diakui loh di kampus di Amerika daripada IGCSE dan AS.

Katanya si Bokek, sekarang setiap kampus di Indonesia juga mulai banyak yang tolak UN, dan punya ujian masuk sendiri. Kalau menurut saya, ini dia yang akhirnya sekarang juga bikin banyak praktek kotor di beberapa kampus besar. Anak-anak yang tidak punya dokumen, tapi pingin kuliah, dengan alasan tolak UN dan ngga perlu UN, jadi gampang bisa masuk ( tentulah dengan "imbalan secukupnya". Ini saya jujur loh). Nah, kalau kampus di luar negeri gimana? Selain TOEFL/ IELTS/ Test standard yang diakui, juga butuh dokumen penunjang dari Indonesia kan? Mana ada test-test-an lagi? Apa kita mau datang ke sana cuma buat test, terus ditolak dan balik lagi ke Indonesia gitu?

3. Anak-anak Yang Tidak Lulus UN Akhirnya Drop Out dan Masa Depannya Suram

Oke, sekarang, kalau pelaksanaan UN tidak curang, tidak jual beli soal, alias pelaksanaan UN sesuai dengan maksud dan tujuan awal, seandainya anak tersebut sampai tidak lulus UN, yang notabene adalah pendidikan dasar jenjang SMA sesuai dengan bidang studi yang sudah dia pilih, itu salah siapa? Salah UN-nya kah? Anak-anak yang saya lihat mendukung gerakan tolak UN itu rata-rata justru anak-anak (maaf) alay, yang memang MALAS belajar! Mereka menolak UN, karena yaahhh... sekolah aja jarang! Kerjaannya demo, ngerjain guru, main-main, ngebolos. Bahkan, ada yang satu sekolah kompak tolak UN, dengan sengaja tidak datang pada saat ujian, sehingga tingkat kelulusannya nol persen. Kalau sampai mereka gagal, I think they deserve it! Kalau dia masa depannya suram, apakah karena salah UN? Ya salah dia sendiri dong. Kenapa gak belajar dengan tekun? Kenapa tidak berusaha? Mana daya juangnya?

Lain cerita kalau dia gagal UN karena misalnya sehari sebelum UN bapak/ ibunya sakit keras sehingga dia tidak bisa konsentrasi, itupun masih bisa ikut UN susulan dengan keterangan resmi dari sekolah. Amerika sendiri punya SAT, dan tidak membatasi umur dalam mengambil test tersebut. Apakah sistem pendidikan di Amerika jelek? UK punya IGCSE. AS/A Level. Apakah sistem pendidikan di Inggris buruk? Indonesia kasih kesempatan dengan Kejar Paket A, B, dan C. Kurang baik apa sebenarnya sistem ini kalau dijalankan dengan mekanisme yang benar sesuai dengan tujuan awalnya?

4. Menurut Laporan Hasil Pemetaan PISA, setelah 11 tahun UN, Indonesia Masih Termasuk Nomer Buncit, Bukti UN Tidak Efektif

Yang tidak efektifnya itu, sistem pendidikan di Indonesia, atau UN-nya? PISA itu juga hanya mencakup beberapa negara saja, lalu bagian mana di Indonesia yang mereka tes? Kemudian, apakah hasil dari PISA itu menandakan kalau orang Indonesia bodoh? Saya inget banget sampai ada yang nulis artikel dengan tulisan, remaja Indonesia salah satu yang terbodoh di dunia. Aduhhh sakit hati saya dengernya. Yang sempit itu pemikirannya siapa ya? Jadi menurut saya, membandingan secara langsung UN dengan PISA itu, rada-rada gimanaaaa gitu deh ya.

Kalau menurut saya, PISA itu lebih menganalisa dari kemampuan kognitif dan problem solving para remaja Indonesia yang dinilai kurang. Pemerintah tidak tinggal diam kok, mereka juga melakukan perombakan kepada kurikulum yang dinilai memang kurang memberikan pendekatan itu. Kurikulum 2013 yang akan mulai dilaksanakan ini terlihat sudah mengalami perbaikan dari segi partisipasi murid dan kemampuan problem solving.  Saya sendiri terus terang agak deg-degan, terutama untuk kesiapan para guru. Kita doakan saja semoga para guru-guru juga siap untuk mengajar dengan metode yang lebih baik.

5. UN Hanya Buang-Buang Uang, Mendingan Uangnya Dipakai Untuk Hal Lain Seperti Perbaikan Nasib Para Guru

Nah, kalau saya lihat, pas si Bokek mulai melenceng kemari, saya merasa dia sudah mulai melakukan pengalihan issue. Issue awalnya tadi kan mengenai UN yang membuat anak seperti batu bata, jadi kan lagi ngomongin isu standardisasi nih, eh mendadak dia lompat ke masalah habis-habisin uang. Kalau saya sih sistemnya sederhana, UN-nya sendiri tidak salah, karena UN dipakai juga untuk melihat standar di daerah-daerah lain, bagaimana mutu pendidikan di daerah, apakah sudah mengalami perkembangan, fasilitas apa yang masih dibutuhkan oleh daerah-daerah lain di Indonesia, apakah guru-gurunya sudah ditrain secara kompeten. Kalau sampai ada daerah yang benar-benar parah keadaannya, IDEALNYA pemerintah turun langsung untuk melihat ke lapangan, dan menjadikannya jauh lebih baik. Jangan salah loh, banyak juga sekolah-sekolah di daerah yang ternyata mutunya luar biasa baik dengan guru-guru berdedikasi, dan menghasilkan manusia-manusia unggul. Mengenai pengalokasian dana, ya itu dikembalikan lagi ke pemerintah. Tapi apakah UN perlu? Ya menurut saya sih masih.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jadi kesimpulannya apa? Menurut opini saya (opini saya loh ya..pribadi nih..) yang salah bukan UN-nya!! Kenapa kita harus tolak UN? Yang ngaco itu adalah sistem pendidikan yang kurang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjadi anak2 yang critical, analytical, dan mampu melakukan problem solving, sehingga bisa mengerjakan soal secara standar UN yang katanya hampir mendekati standar internasional, bahkan beberapa soalnya juga bersumber dari PISA. Tapi buktinya, beberapa sekolah bisa kok menerapkan itu, dan tidak pernah ada masalah kelulusan. Berarti sekolah-sekolah yang seperti itu harus dijadikan sekolah percontohan, dan pemerintah tidak boleh tinggal diam. Saya terus terang senang dengan adanya kesadaran pemerintah untuk kurikulum yang lebih baik. Saya berharap pelaksanaannya di lapangan juga mengikuti kurikulum yang berlaku. Contoh nih ya, guru SMP dan SMA kalau ngajar jangan kayak robot! Sebel saya kalau lihat guru cuma bisa copy and paste dari buku, lalu ngajar sesuka hati tanpa ngikutin standard harus ngajar sampai mana. Guru jaman sekarang harus lebih bisa memberikan contoh ke dalam real life situation. Dijamin, anak-anak bakalan lebih engaged dalam belajar, dan mereka langsung bisa relate ke dunia nyata. Nah, berarti pemerintah juga harus mengadakan lebih banyak training, seminar, dan sertifikasi untuk para guru. Pakai sistem lelang jabatan kalau perlu (tapi testnya dilihat dari berbagai sisi ya: skill test, aptitude test, personality test, and group test). Biar bisa dilihat apakah guru benar-benar bisa ngajar atau nggak. Lalu tolonglah adanya standar alat-alat yang dibutuhkan, terutama untuk sekolah-sekolah negeri di daerah. Btw, kemarin saya senang loh mendengar banyak sekolah-sekolah negeri sekarang punya fasilitas yang wow banget. Sekolah swasta aja kalah! Ayo Pak/ Bu Mendikbud (siapapun nanti) supaya bisa mulai disamaratakan di seluruh Indonesia.

Duh, tulisan saya kali ini serius banget ya? Gak apa-apa toh ya. Soalnya terus terang saya peduli banget dengan pendidikan bangsa ini dan nasib anak-anak kita. Saya sedih banyak sekali sekolah, yang makin lama makin mengedepankan strategi "pemasaran" macam: mengembangkan karakter anak lah, memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang sesuai individu lah, membuat anak merasa kalau mereka istimewa lah, padahal sebenernya tujuannya cuma untuk menjaring murid, tetapi akhirnya tidak mempunyai standar kelulusan yang mumpuni. Siapa korbannya? Ya anak-anak kita sendiri! Anak-anak jadi tidak punya kemampuan dasar yang sesuai usianya. Kecuali anak anda luar biasa bakatnya dari awal, dan keliatan sebagai child prodigy alias wonder kids, boleh lah anda tidak ikutin anak anda ke ujian apapun (And I think even a wonder kid needs to know how to do multiplication hahahaha).

Sekian dan terima kasih!