Saturday, March 15, 2014

Atas Nama Cinta

Tentunya semua orang kira-kira dua minggu lalu dikejutkan dengan kasus si Ade Sara. Sara dibunuh oleh mantan pacarnya yang bernama Hafidz dan pacar barunya Hafidz yang namanya si Syifa. Kalau saya ceritanya jadi seorang analis, dan menganalisa kasus ini, menurut saya penyebab utamanya, yaitu rasa cinta Hafidz yang kelewat batas kepada Sara, sehingga menyebabkan dirinya jadi gila sendiri, dan rasa cinta Syifa kepada Hafidz yang menyebabkan Syifa gila sendiri. Get it? Nggak ya? Huahaha...

Nih analisa kesotoyan saya. Jadi gini, walaupun sudah putus dengan Sara, Hafidz itu masih cinta mati. Makanya Hafidz itu terus berusaha menghubungi Sara dan berharap mereka bisa menjadi teman baik, tapi Sara itu tidak menggubris, karena Hafidz sudah dianggap menjadi masa lalunya. Sementara si Hafidz, demi bisa meyakinkan Sara kalau dirinya cuma ingin sekedar "berteman" saja dan tidak akan memaksa Sara balik jadi pacar, maka Hafidz memacari Syifa yang kebetulan juga teman Sara. Selama pacaran dengan Syifa, Hafidz tetap mencari cara untuk mengontak Sara, padahal statusnya kan sudah menjadi pacar Syifa toh? Bayangkan, gimana Syifa gak cemburu dengan Sara? Syifa ini juga cinta banget sama Hafidz, tapi why oh why Hafidz tidak bisa move on dari Sara. 

Jadilah, Hafidz membunuh Sara, karena dia cinta sekali dengan Sara, dan tidak rela kalau sampai Sara jatuh ke tangan orang lain. Dan Syifa ikut membantu membunuh Sara untuk memastikan supaya Hafidz tidak akan kembali lagi ke Sara. Mengapa Syifa masih ketawa-tawa saja saat akhirnya dia ditangkap polisi? Karena dia bahagia, bisa menjalankan "penderitaan" ini bersama dengan Hafidz, laki-laki yang dia cintai. Sekian analisa sotoy dari saya. 

Kalau dari cerita di atas, kita jadi bisa melihat, kalau orang sering kali melakukan hal-hal bodoh, semuanya atas nama cinta. Saya peringatkan, posting kali ini akan menjadi posting yang cukup panjang. Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya di masa lalu. Bukan ingin mengorek luka lama, ataupun menyinggung perasaan orang-orang yang terlibat di dalamnya, tetapi untuk sekedar mengingatkan, supaya jangan melakukan hal-hal yang bodoh cuma karena cinta yang belum pasti, terutama saat kita di usia yang masih muda. Kisah ini adalah kisah nyata, tapi akan saya samarkan sedikit-sedikit, inisial pun bukan berarti nama orang tersebut. Mohon maaf jika ada yang membaca ini dan merasa "oh itu kan si anu", ya biarkan ini menjadi pelajaran saja. Ini juga merupakan alasan, kenapa akhirnya blognya-Leony itu jadi blog publik.

Alkisah di awal tahun 2005, saya baru beberapa bulan pindah ke kota baru tempat saya bekerja. Saat itu saya pacaran dengan A yang kebetulan berasal dari kota itu. Saya berpacaran dengan dia dari tahun 2004 akhir, dan status kita saat itu long distance. Nggak long banget, tapi sekitar 1.5 jam naik mobil. Itu termasuk lumayan jauh kalau untuk ukuran Amerika. Kenapa saya akhirnya bisa pacaran dengan si A adalah, karena di akhir 2004 itu, tepat sebelum saya wisuda, saya mendapatkan pekerjaan di kota baru. Saya yang tadinya tidak percaya dengan LDR, akhirnya menerima si A karena nantinya kita akan bersama di satu kota. Saat itu, si A ulang tahun, dan kami bersepakat mengundang seluruh teman-teman Indonesia kami di kota itu untuk pesta BBQ di rumah A. Dari sekian banyak yang diundang, ternyata sebagian tidak datang, ada yang alasannya karena sakit, dan sore-sore banyak yang sudah pamit untuk pulang.

Malam harinya, karena saya dan si A itu terbiasa ngajak teman-teman untuk dinner bareng, kami telepon salah satu teman, kali-kali mau join kami makan, dan dijawab tidak bisa karena ada meeting. Kami telepon lagi teman yang lain, dijawab tidak bisa, ada meeting juga. Kami bingung, ada meeting apa. Besoknya, kami ketemu dengan salah satu teman lain, dan teman tersebut bilang, "Eh, lu kok ga dateng di acara semalem?" Lah, kita bingung itu acara apa. Ternyata ada satu teman yang ulang tahun, ngundang beberapa temen di pesta ultahnya di sebuah restaurant yang agak fancy, dan tidak mengundang kita. Lucunya, ada orang yang kemarinnya tidak datang ke acara ultah si A karena alasan sakit, ternyata malamnya malah ikutan juga makan-makan.

Jujur, saya saat itu sebagai seorang yang baru pindah ke kota baru sangat kecewa. Kenapa harus ditutup-tutupi kalau memang ada undangan dari teman lain, lalu kenapa kami undang tidak datang, tapi bisa datang ke pesta orang lain di tempat yang lebih fancy. Saya sedih kenapa anak di kota baru ini tidak sesolider di kota lama saya. Saya tidak membagi cerita itu kemana-mana. Hanya kepada sebuah diary online alias blog, tempat saya berbagi cerita kepada mama dan adik saya di Indonesia. Saat itu sayapun belum mengenal blogspot, masih pakai xanga. Kuno ya? Namanya pun bukan leonyleony yang jelas kayak sekarang. Diary online itu murni tujuannya untuk curhat kepada keluarga saya.

Mendadak, beberapa hari kemudian, ada satu anak, sebut saja si B, seorang cewek Indonesia, teman kami di kota baru, menulis email di mailing list Permias (Persatuan Mahasiswa Indonesia Amerika) di kota tersebut. Si B ini mengcopy-paste isi dari postingan curhatan kekecewaan saya, dan di bawahnya saya dikatain ANJ*NG, B*BI, B*NGSAT, dan kata-kata kasar lainnya yang sungguh sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang perempuan yang berpendidikan, dan diakhiri dengan, kalau tidak suka tinggal di kota ini, pulang saja ke kota lama.  Kemudian dia juga memprovokasi teman-teman Indonesia di kota itu untuk membenci saya dengan mengatasnamakan kesolidaritasan karena menurut si B saya menjelek-jelekan seluruh orang Indonesia di kota baru. Sedihnya lagi, anggota mailing list itu, ikut-ikutan mengatai saya, bahkan para alumni yang tidak mengenal saya sama sekali ikut-ikutan mengatai saya juga. Lebih gilanya, saya saja tidak tergabung di dalam mailing list tersebut! Saya mengetahui hal tersebut dari si A.

Saya shock berat, bukan cuma shock karena saya dikata-katain lalu "diusir" seperti itu, tetapi saya shock, darimana si B bisa mendapatkan link dari blog tersebut? Setau saya, mama dan adik saya yang tau mengenai saya mempunyai diary online tersebut, dan satu sahabat saya yang sangat dekat. YA AMPUN! SATU SAHABAT SAYA YANG SANGAT DEKAT! Saya baru ingat, saya punya seorang sahabat yang luar biasa dekat dengan saya, dari sejak kita kecil, sampai sempat sekolah bareng, dan akhirnya kita kuliah pun cuma terpisah jarak 1.5 jam! Saya di kota lama, dia di kota baru. Sebut saja dia si X. Hampir tidak ada rahasia yang saya tutupi dari si X, karena kami dekat sekali! Sudah hampir seperti saudara kandung. Si X sudah pulang ke Indonesia dari sejak 2004, sebelum saya pindah ke kota baru.

Benar-benar saya tak habis pikir. Apa yang mendasari si X melakukan hal itu terhadap saya. Lalu pacar saya saat itu, A, berinisiatif mereply email tersebut, dengan meminta kalau yang menyebarkan link tersebut untuk mengaku di mailing list, karena dia sudah tau siapa yang menyebarkan diary online tersebut yang seharusnya merupakan hal pribadi. Kasus ini menjadi melebar, karena si X saat itu juga dalam keadaan tertekan, dia tidak tau kalau karena perbuatannya tersebut yang memberitaukan link saya ke si B, membuat si B mengata-ngatai saya seperti itu. Si X akhirnya menelepon saya, dalam teleponnya itu, dia awalnya masih defensif dengan bilang kalau itu bisa dilihat siapa saja, kemudian akhirnya dia meminta maaf, karena tidak menyangka masalahnya jadi seperti itu. Saya bilang kepadanya, "X, sebelum kamu meminta maaf, saya sudah memaafkan kamu. Tidak ada masalah besar di antara kita, saya lebih menghargai persahabatan kita, saya lebih tidak mau kehilangan kamu. Tapi saya mohon, tolong kamu bilang kalau kamu yang menyebarkan hal pribadi saya, supaya setidaknya orang-orang tau kalau itu adalah personal dan tidak sepantasnya diberitahukan ke orang lain."

Beberapa waktu kemudian, akhirnya X mengaku di mailing list, kalau dia yang menyebarkan link itu. Nasi sudah menjadi bubur. Yang membingungkan saya adalah, kenapa X melakukan hal tersebut. Akhirnya tekuaklah alasannya. Ternyata X, sahabat saya itu sangat-sangat menyukai A. Tetapi sayangnya A tidak memberikan balasan yang diharapkan. Saya juga baru tau, ternyata selama beberapa bulan terakhir sebelum X meninggalkan Amerika, X sering memberikan hadiah-hadiah yang personal kepada A, memberikan perhatian yang lebih, namun tidak ditanggapi. Saya sendiri baru pindah ke kota itu belakangan, setelah X kembali ke Indonesia, jadi saya tidak tau sudah begitu dalamnya perasaan X kepada A. Saat A menceritakan semuanya itu ke saya, saya lemas.

Yes, love can make a person become a fool. Saat X menyebarkan diary online saya ke B, saat itu yang ada hanyalah perasaan kesal dan benci pada saya. Dia anggap saya sebagai perebut si A dari dirinya. Dia sempat melupakan persahabatan kita yang sudah berjalan selama lebih dari 20 tahun. Saat itu, saya bisa memilih, untuk marah dan sebal, atau untuk memaafkan dia. Dan Puji Tuhan, untungnya saya memilih memaafkan. Waktupun berlalu. Kami saat ini sama-sama sudah menikah. X menikah duluan sebelum saya, dan saya ada di situ menyaksikan kebagaiaan dia. Dan sebaliknya dia juga ada saat saya menikah. Our friendship and sisterhood doesn't change. It was broken once, but we managed to fix it.Ada yang dapat si A nggak akhirnya? NGGAK ADA! A pun sudah menikah, punya anak yang lucu, dan kita sudah memilih jalan hidup kita masing-masing. 

Memang selalu ada hikmah di balik kejadian ini. Sekarang saya dan si X bisa mentertawakan kejadian ini sebagai masa lalu kita di masa muda. Buat para perempuan di luar sana, terutama yang masih muda dan masih mencari cinta, biarkanlah cinta mendatangimu. Usaha tentu harus ada, tapi jangan sampai kita menjadi bodoh karenanya. Buat pembaca blog ini, mungkin bisa "berterimakasih". Karena sejak kejadian itu, blog ini saya nyatakan publik, dan saya pindahkan semuanya ke blogspot. Cerita lama, bahkan postingan yang bocor tersebut masih ada di blog ini kalau kalian iseng mencari. Hihi.

Monday, March 10, 2014

Pagi Yang Sedih...

Cuma mau share. Tadi pagi... pas mau masukin ASI ke dalam freezer, ternyata...

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

FREEZER ASINYA PINTUNYA KEBUKA!!! ASI YANG DI WINDOWNYA MENCAIR. YANG BAGIAN DALAM TUTUPNYA PADA MELETUP, DAN SEPERTI BANJIR DI DALAM KULKAS!!!

NANGISSSSSSSSSSSSSSSSSS.......

Ini gara-gara si sus iseng numpukin kardus di atas kulkas, dan karena gaya gravitasi, kardusnya melebar karena tumpukannya tinggi dan berat dan mendorong pintunya.

Buat saya yang berjuang habis-habisan dengan ASI setetes demi setetes, ini adalah tamparan besar banget. Mana pagi ini mau siap-siap ngajar di hari Senin, di mana Senin itu salah satu hari terpadat di sekolah. Masih ada kira-kira 40-an botol masing-masing 100ml, yang dikumpulkan selama beberapa bulan. Hati ini langsung remuk redam. Saya nahan diri supaya ngga nangis, karena kalau saya nangis, akan menambah hancurnya hati ini. Bisa-bisa saya ngga semangat ngajar. Tetapi sebagai profesional, harus bisa memisahkan yang terjadi di rumah dengan kegiatan di sekolah.

Kemarin ini saya sempat 2 minggu membuang ASI (perah langsung buang) karena operasi gigi bungsu, dan karena flu parah sehingga harus minum antibiotik. Jadi stok ASI saya makin menipis, dan produksi ASI juga menurun drastis. Sepertinya saya memang harus mulai merelakan Abby minum UHT yang baru dimulai 3 hari lalu, dan ngga full ASI lagi setelah lebih dari 14 bulan. Mungkin ini jalan Tuhan supaya pelan-pelan saya bisa lebih santai.  --> Berusaha positive thinking.

Udah, saya cuma mau curhat segitu aja... biar hati legaan sedikit :(

Note to self: Jangan nyerah!

Saturday, March 01, 2014

Dream Wedding

Gara-gara lagi tiduran dikarenakan radang tenggorokan akut, saya jadi iseng-iseng baca koran online. Sebuah artikel di koran ternama tersebut menyatakan, kalau semua anak gadis yang normal, walaupun belum punya pacar, pasti sudah membayangkan pernikahan impiannya! Bener nggak sih? Saya coba berkaca juga sama diri saya, dan ternyata, bener juga. Kalau cowok, biasanya tidak terlalu mikir, apalagi kalau masih jomblo, boro2 mikirin dream wedding. Tapi yang namanya cewe, yang dari kecil sudah dibiasakan melihat kisah-kisah putri kerajaan yang berakhir indah di pelaminan, rasanya cukup wajar ya kalau sudah mulai memimpikan hal-hal yang romantis apalagi menyangkut pesta pernikahan.

Kalau kamu laki-laki, dan kamu nanya cewekmu pernikahan impiannya seperti apa, tapi terus dijawab "terserah kamu aja deh gimana", itu malah menurut saya nggak wajar, atau malah berkesan ditutup-tutupi. Terus pada akhirnya malah keki saat di tengah-tengah persiapan karena pasangannya seperti tidak mengerti apa yang dimaui oleh perempuannya. Seringkali perempuan juga suka malu atau ragu mengungkapkan pernikahan impiannya, karena... takut cowoknya kabur kalau impiannya kelebihan! 

Kalau saya sendiri gimana? Apakah dulu sebelum nikah punya impian pernikahan saya harus seperti apa? Oh tentu! Apakah saya kemukakan hal tersebut ke pasangan saya? Tentu dong! Buat saya, soal pernikahan impian itu bukan hal yang tabu dibicarakan, apalagi kalau hubungannya sudah mendekati serius. Kalau baru 2 kali kencan terus ngomongin pernikahan idaman sih, agak serem juga. Hihihi. Itu mah ngebet euy! Walaupun upacara pernikahan seringkali dianggap hanya simbol, dan katanya yang lebih penting adalah hari-hari setelah pernikahan, biar bagaimanapun juga orang ingin merasakan hari bahagianya dengan cara yang istimewa. 

Mungkin buat para pria yang mulai serius ingin meminang sang gadis, boleh juga ditanyakan ke pasangannya "How's your dream wedding?" Terkadang, dari cerita pernikahan impian yang diungkapkan seorang wanita, seorang pria juga jadi bisa tau tipe wanita yang dikencaninya ini seperti apa sih. Apakah dia seorang yang religius? Apakah dia adalah orang yang dekat dengan keluarganya? Apakah dia seorang yang happy go lucky? Apakah dia orang yang sangat detail terhadap printilan? Apakah dia orang yang cermat mengatur keuangan? Apakah dia orang yang artistik dan kreatif? Apakah dia orang yang kelewatan bermimpi sampai tidak memandang kesiapan finansial calon suami? 

Ketika kita ungkapkan impian kita, dan ternyata kita nyambung banget dengan calon suami dan keluarganya, maka dijamin, lancar persiapannya. Pernikahan impian saya, waktu itu:

1. Lokasi pemberkatannya di Gereja Katedral, dengan diiringi lagu yang semuanya harus yang disetujui oleh gereja Katolik, tanpa lagu pop. Sumpah setia asli secara Katolik, tidak dilebihkan, tidak dikurangi, dan tidak pake sumpah-sumpah buatan pribadi. 

2. Pakai mobil tua berwarna merah! Karena Papa dan Mama saya itu dulu menikah dengan naik Mercy Tiger berwarna merah cabe. Dan sebagai orang keturunan Tionghoa, warna merah melambangkan suka cita dan kebahagiaan.

3. Saya mau dijemputnya dari rumah. Bukan dari kamar hotel. Biarin rumah saya kecil dan pas-pasan, tapi di situlah saya dibesarkan oleh orang tua saya. 

4. Saya kepingin pakai gaun cantik, yang tidak banyak bling-blingnya (dan bikin sakit mata), tapi pakai permainan bahan dan jahitan yang elegan.

5.Pas wedding entrance di resepsi, saya ngga mau biasa-biasa aja. Ngga mau pengantin cowo dari ujung satu, lalu pengantin cewe dari ujung lain, ketemu ditengah, wedding kiss bertabur confetti. (no offense buat yang pake cara ini masuknya ya hahaha). Saya mau masuknya joged, diiringi live music.

6. Kalau di resepsi, musicnya harus live dan asik. Soalnya saya mau nyanyi, saya mau joged sampe puas! Ada after party is a plus point! 

7. Di tempat resepsi nikah, parkirannya harus gampang. Berkali-kali keki karena ke kawinan orang susah parkir, yang ada kaki udah lemes duluan dan muka asem gara-gara jalan jauh dari parkiran.

8. Makanan harus berlimpah ruah! Soalnya, ngapain pesta kalau makanan aja kurang. Kalau pesta itu artinya mau bagi2 bahagia sama orang, bukan nyusahin dan membiarkan orang yg datang jauh-jauh, pulang dengan perut lapar. Suasana pesta harus asik, nyaman, tamunya ngga kebanyakan. Soalnya penganten males salaman mulu. 

9. THE MOST IMPORTANT: Nikahnya harus sama orang yang sudah saya YAKINI bisa menjadi pendamping saya seumur hidup, dan direstui oleh seluruh keluarga.

Kedengeran klise ya. Pas saya sampaikan ke calon suami saat itu, loh kok nyambung semua! Dia juga setuju banget sama poin-poin saya di atas, bahkan dia jadi ikut meyakinkan orang tuanya untuk mengijinkan kita menjalankan poin-poin tersebut. Inget ya, di Indonesia ini, orang tua itu pegang peranan penting loh dalam menyetujui printilan perkawinan. Kalau sampai ngga kesampean, ya ngga usah maksa. Tapi asik toh kita bisa menyampaikan saja apa yang kita mau? Kalau nanti pada akhirnya hasilnya gak sesuai impian, ya ga usah kecewa juga. Balik lagi ke pernyataan di atas, yang terpenting adalah kehidupan sesudah upacara perkawinan tersebut.

Did I get my dream wedding? I think so! Dalam dream wedding list itu, saya tidak pernah menyebutkan harus pakai vendor apa. Kalau dream wedding kita sudah menyangkut nama-nama vendor, itu namanya bukan dream lagi, tapi nuntut, dan kayaknya rada susah untuk kita bisa jadi fleksibel. Pikirkanlah suasananya, pikirkanlah kebahagiaan kita, keluarga kita, dan tamu-tamunya, jangan ambisi pribadi. Kalau soal vendor, itu balik lagi ke budgetnya. Inget ya, duit juga ada serinya, kecuali duitmu sudah tidak berseri lagi (sambil melirik sosialite Indonesia yang harga tasnya bisa buat beli rumah). Buat para pria, jangan takut menghadapi list dari wanita. Kalau kamu merasa tidak bisa mewujudkannya, jangan gentar. Toh ada pepatah, love conquers everything. Tapi bukankah merupakan kebahagiaan si pria juga kalau bisa mewujudkan impian si wanita? 

Kalau boleh saya bagi cerita, persiapan perkawinan itu adalah ujian yang sangat seru buat pengantin pria dan wanita. Kita melatih kesabaran, komitmen, dan pemahaman satu sama lain. Makanya, berdasarkan pengalaman pribadi juga, kalau dalam persiapan perkawinan saja, tidak ada sedikitpun usaha dari pasanganmu untuk mewujudkan satu poin saja dari impianmu, pikirkan lagi. Kalau kalian sudah selisih paham terus menerus sepanjang persiapan, pikirkan lagi. Should I move forward, or should I start a new?  It's true that time heals everything, tapi kalau sudah sumpah setia di hadapan Tuhan, harus siap seumur hidup. 

Kok tumben, Leony nulis hal soal dream wedding? Bukannya weddingnya Leony udah lewat ya dari kapan tau? Ya gak apa-apa juga toh? Soalnya akhir-akhir ini, saya sering banget nemuin pihak wanita, yang saking takut kehilangan pasangannya, sampai gak bisa buka suara soal keinginan dia sendiri di saat acara pernikahan. Dan hal tersebut, biasanya berkelanjutan pada hidup rumah tangganya, jadi sulit untuk mengemukakan pendapat. Coba di test dulu di saat persiapan perkawinan ya. Kalau si calon suami belum apa-apa udah emosian, terus keluarganya kelewat ikut campur termasuk dalam hal printilan, bayangkan nanti pas sesudah nikah gimana jadinya. Serem ya? Iya banget! 

Jadi inti tulisan ini apa sih? Don't be afraid to have a dream wedding, and let your partner knows about it! Itu aja sih. Mungkin hal sederhana, tapi gak ada salahnya dipraktekin buat para calon pengantin di luar sana. Sekian!