Friday, September 05, 2014

Blunt v. Harsh

Blunt v. harsh, kalau diterjemahin kira-kira, terus terang v. kasar. Sebenarnya, dua artian ini berbeda jauh banget! Tetapi di negara kita Indonesia tercinta ini, seringkali kalau kita adalah orang yang blunt, orang malah bilang kita ini harsh. Boleh dibilang, saya ini orangnya lumayan blunt, alias terus terang. Kalau kamu mau nanya opini saya, saya akan jawab terus terang, tentunya dengan batasan tertentu. Mau bilang saya nekad, ya kadang nekad. Tetapi kalau kenekadan kita bisa menyelamatkan orang lain, lebih baik nekad daripada nyesal kemudian. Tetapi untuk harsh atau kasar, saya mencoba untuk sangat menjauhi hal tersebut. Saya tidak pernah keluar kata f***, atau sial**, atau umpatan apapun saat berkomunikasi dengan orang.

Di Indonesia ini, kebanyakan orang seringnya basa basi. Sehingga kalau ada hal yang kurang berkenan yang disampaikan, walaupun itu adalah sesuatu yang terus terang, akibatnya malah menyakitkan orang lain. Orang Indonesia tidak terbiasa mendengarkan kritik secara langsung. Bahkan kalau mau mengkritik orang, rata-rata budaya kita menganjurkan agar: 1. Kita muter-muter dulu dari A sampai Z, baru nanti omongin ke pokoknya, dengan harapan penuh orang yang diajak bicara tidak tersinggung, atau bahkan; 2. Udah deh gak usah dibahas sama sekali daripada orangnya tersinggung. Perlu diketahui, blunt itu maksudnya terus terang, tapi sopan ya. Bukannya berarti merepet, dan tidak tau sopan santun. Kalau sudah menjurus ke tidak tau sopan santun, malah jadinya harsh tadi itu. Jadi sebelum bilang sesuatu secara terus terang, dipikirkan juga penyampaiannya.

Beda sekali dengan apa yang saya alami dengan orang-orang di luar yang pada umumnya akan berkata straight to the point tanpa basa basi, baik dalam hal MEMUJI, maupun dalam hal MENGKRITIK. Jangan heran kalau misalnya ada orang ketemu kita dan langsung bilang, "Hey, gue suka banget gaya pakaian lu hari ini, warnanya cocok sama sepatunya." Tetapi kalau kita melakukan sesuatu yang menurut mereka kurang berkenan, atau mereka kurang setujui, mereka akan langsung bilang, "Menurut gue sih itu ngga cocok, kayaknya lebih bagus begini deh." 

Cerita dikit, pada saat saya kuliah, saya pernah dapat nilai F untuk ujian Audit pertama saya, gara-gara saya sakit cacar. Saya datang ke professor saya, namanya Larry Rittenberg, berharap dia kasih keringanan dan saya bisa ulang lagi ujiannya. Tapi apa jawaban beliau? "Kamu tau, Leony, saya pikir kamu tidak siap ambil kelas ini. Menurut saya kamu lebih baik menunggu, dan ambil kelas ini dengan  professor lain semester depan" Ditambah lagi komen selanjutnya yang bikin saya tambah stress. "Saya sudah maafkan kamu karena 3 minggu tidak masuk kelas, tetapi kamu tidak boleh gagal ujian kalau kamu mau jadi auditor." Cerita soal dia sempat saya tulis di tahun 2006 lalu, bisa dibaca di sini. 

Saat saya denger seperti itu, saya shock berat. Dalam hati saya, kejam banget orang ini. Kalo kata anak sekarang...sakitnya tuh disiniii...  (sambil nunjuk dada). Udah bagus saya ikut ujian dia, kalau mau kabur kan juga bisa. Semua alasan saya untuk membela diri itu berputar-putar. Tapi dasar saya anaknya ndablek, saya nggak drop kelas itu, dan terus ikut sampai ujian terakhir. Di tengah-tengah, masih sempet diancam untuk drop kelas, karena nilainya masih belum cukup. Ujungnya saya pass juga, walaupun dengan nilai pas-pasan setelah semua nilai dirata-rata. Saya pikir-pikir, kalau saya saat itu masukkan dalam hati kata si professor, mungkin saya sudah nyerah dan males banget ambil kelas sama dia, kalau perlu tidak usah berhubungan lagi. Di kelas, professor ini dikenal gahar, gak ada tedeng aling-aling. Kesannya gak pedulian. Tapi dia ini yang bikin saya sadar, kalau saya mau sukses, saya memang harus belajar mati-matian dan tidak banyak alasan. 

Dua semester berlalu, ternyata saya dapat kerja di salah satu perusahaan impian saat itu. Siapa yang pertama kali di antara guru-guru yang memberikan ucapan selamat ke saya? Ya dia itu! Dia kasih selamat, tersenyum dengan lembut, dan kita masih keep in contact, bahkan sampai saya kembali ke Indonesia. Dari dia, saya banyak belajar, soal integritas apalagi di dunia audit. Bayangkan kalau kita ada rasa tidak enak terhadap client kita karena client kita baik dan ramah, bahkan kita dibayar oleh client kan? Bagaimana cara kita menyampaikan kalau di dalam perusahaannya itu ternyata sistemnya ada flaw atau kelemahan? Bagaimana kita menyampaikan kalau ternyata hasil auditnya jelek? Lagi-lagi, blunt alias terus terang itu yang kita perlukan. 

Ketika saya kembali ke Indonesia, saya sangat bersyukur, punya atasan yang luar biasa. Dari atasan saya yang pertama, maupun yang kedua (karena yang pertama pensiun), dua-duanya adalah tipe orang yang blunt. Dalam hal ini, kalau mereka tidak suka akan kerjaan saya, atau perilaku saya dianggap kurang berkenan, mereka tidak segan-segan menegur saya. Mungkin saya shock sebentar, tetapi habis itu jadi sadar kalau memang saya ada kesalahan. Teguran mereka, buat saya jadi penyemangat, bukan jadi beban. Saya masih inget, saya pernah ditegur keras gara-gara jam 3 mau meeting dengan big boss, tapi jam 2 siang saya masih makan siang di Senayan hahaha. Saat itu bos saya ngamuk, sampai kantor heboh, katanya Pak *** udah teriak-teriak di kantor. Saya saat itu berasa kayak digampar banget pas balik lagi ke kantor, tapi ya udah, setelah meeting itu selesai, masalah juga selesai, saya lega, begitupun dia, dan ga  ada yang namanya mengumpat di belakang. Things were solved. Bedakan dengan orang yang memuji-muji tapi ujung-ujungnya ternyata ngomongin jelek soal kita di belakang atau gossipan sama orang lain tanpa kita tau masalahnya. Menderita gak sih punya rekan kerja atau teman kayak gitu?

Kembali ke dunia kita sekarang, berapa banyak di antara kita yang seringkali tidak mau berkomentar hal yang dianggap blunt, cuma karena takut orang sakit hati pada kita, padahal mungkin komentar kita bisa menyelamatkan orang tersebut? Ingat juga teman-teman sekitar kita, yang selama ini kita pikir komentarnya kurang berkenan sama kita, apakah itu justru kenyataan yang sengaja tidak mau kita dengar?  Orang yang kadang berani berkomentar yang kurang enak itu, justru biasanya orang-orang yang sayang dan peduli sama kita, dan orang-orang yang selalu komentar super manis, kadang-kadang belum tentu ada di sisi kita saat kita butuh. 

"Sometimes you have to be mean & hurt someone's feeling to help & save their heart. The truth hurts, but lies kill" ~ unknown

44 comments:

  1. Iya mending ketemu orang yg terus terang dibanding yg mulutnya manis tapi nusuk di belakang. Seram itu... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya ketemu yang manis tapi ga jujur juga udah ga asik. Ga usah sampe nusuk di blakang. Contoh misalnya kiat pake hotpants pdhl ga pantes. Terus temen kita cm bikin kita seneng dengan blg kita cantik pake hotpants. Pdhl kenyataannya, kaya kudanil. Kan ga asik tuh hahaha.

      Delete
  2. Hmmm... ada juga sih kelompok orang yang ngomong ceplas-ceplos tanpa dipikir tapi nyakitin. Nggak harsh juga, cenderung blunt, tapi nyakitin hati.

    Contoh: Dulu pas gue lagi hamil trimester pertama bawaannya pengen makan terus, alhasil langsung naik 6 kilo dalam trimester pertama. Ada yang komen: Lo makan terus sih, mau jadi seberapa gendut lagi? Nanti kalo nyusuin makannya lebih banyak lagi lho. Fun fact: Gue emang laper, dan kalo dengan gue makan, gue menghindari rasa mual. Jadi lebih mending mana? Gue nggak makan demi menyenangkan orang supaya nggak ngeliat gue makan terus, tapi yang ada jadi muntah, atau makan karena memang perut laper?

    Mungkin maksudnya baik ya supaya gue nggak kegendutan. Tapi pasti selalu ada alasan kenapa seseorang melakukan sesuatu, dan alasan tersebut belum tentu diketahui oleh semua orang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahhaha... makanya being blunt pun harus sopan kan, Ngel. Kalo ngga sopan, ujung2nya jadi harsh. Tinggal kita aja open mind. Pertamanya kesel, abis gitu diambil hikmahnya, jadi keselnya berkurang hehehe. 

      Sama ky pas gue dikomenin sama professor gue atau dimarahin bos gue. Rasanya sedih banget n kesel, tp ambil positifnya aja. 

      Ps: trus kalo sempet... bales aja komen nyinyirnya. 'Gendut juga gue yg gendut, so what gitu loh' hwhahaha...

      Delete
  3. Sayah setujuuuu, di perusahaan sebelum ini bergaul ama orang-orang blunt yang bikin banyak belajar gak papa dikritik dan mengkritik karena niatnya baik dan bisa bikin kita memperbaiki diri. Karena kalo nggak gitu bakalan ngerasa baik-baik aja selamanya dan malah terjebak sendiri.
    Makasih BuLe dah diingetin lagi. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly, Dan. Itu point yg saya mau sampaikan. Jadi kalo ada orang yg terus terang sama kita, jangan kelewat sakit hati walaupun ga enak didenger. Who knows itu yg akan membantu kita in the future.

      Delete
  4. Aku pernah kirim undang2 nomor 13 pake bold ke bos saya cc satu kantor. Bos terakhir susah sekali diajak diskusi giliran kita salah marahnya kayak apaan ini juga cuma saya yang berani ama dia krn saya nggak terima dia ngomelin saya pdhl review aja nggak. Kadang saya takut sih jd manusia terlalu terus terang, tp nggak terima rasanya klo harus pasrah liat sesuatu yang salah dan perlu koreksi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha. Kadang the way we communicate is very important. Bagus juga kalau kamu bs terus terang terhadap bos. But you need to remember, bos usually is always right hahahhaa alias gengsinya gede. Tapi bagus jg bs membuka mata dia untuk sedikit 'nyadar' kalau dia gak bisa semena2 terhadap orang lain.

      Delete
  5. aku juga orangnya blunt lho haha tp lama2 karena tau orang sini susah menerima kenyataan dan mereka anggap kita harsh and kepo jadi lama2 hold back haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh kalo kepo itungannya udah lain lagi tuh hahaha. Orang di sini emang agak susah terima kritikan, bawaannya emosi dan marah. Padahal ngakunya ramah tamah itu budaya kita. Tapi kadang ramahnya cuma buat tameng doang ya. Aslinya cm karena ga berani terus terang.

      Delete
  6. Halo Salam kenal :) Sudah lumayan lama baca blog ini, tapi cuma silent reader :) senang bisa baca posting ini. Dulu aku orangnya juga terus terang, tapi sekarang banyakan gak, karena keseringan orang sakit hati, dan musuhin hehehe... Mau mulai balik terus terang lagi deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terus terang itu bagus, tetapi harus dibarengin dengan sopan santun. Kalau kita cara penyampaiannya aja sudah kurang sopan, yang ada beneran bisa bikin orang sakit hati. Pakai golden rules aja kalau sebelum nyeletuk ke orang lain.

      Delete
  7. aku jg sk ngomong terang2an, mgkn blunt tp kdg terkesan harsh kali yah.. aku sendiri lbh suka yg terang2an kalo ngmg, jgn cm nyenengin org lain doank gitu, tapi beranii ngmg scr jujur eheheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Orang Indonesia most of the time orang yang blunt malah suka dibilang harsh karena seringkali orang cuma mau dengar apa yang dia mau dengar. Yang hebat menghadapi orang tuh Syahrini hahahaha... dia emang udah siap banget kayaknya nerima komen apapun. Malah mungkin sengaja mancing hwahahaha...

      Delete
  8. Hi Ci Leony.. Salam kenal! Aku pembaca baru, tapi dah bacain blog nya sampe banyak bgt bbrp hari ini.. hehe.. Terutama suka banget sama blog ttg wejangan2 pernikahan dari si Bos.. Keren banget!

    Tentang blunt ini, aku punya satu pegangan yg aku pernah dgr dr tokoh yg aku kagumi. Intinya, beliau bilang kalo kita harus pake teori Sandwich. Sandwichnya itu pujian-kritikan-pujian. Karena org2 kalo dengernya langsung kritik, kupingnya langsung pada "panas" smua.. haha.. Tapi yang pasti pujiannya tetep musti jujur sih.. Hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, semua harus based on honesty. Jangan takut untuk mengkritik tapi jangan juga takut untuk memuji. Kadang2 malah orang suka pelit pujian karena dibalut rasa iri, itu juga ngga bener.

      Delete
  9. Aku cenderung blunt kl udah kenal lama sih, malah kadang nyeplos tanpa dipikir hehe. Kl baru kenal, mending diem aja atau simpen di dalem hati komennya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo baru kenal terus komen macem2, itu mah ngga sopan dong hahahaha. Justru kalo sama orang yang udah kenal lama, dan deket sama kita, seandainya org tsb terus terang, kita ngga boleh marah. Justru kemungkinannya org tsb sayang sama kita.

      Delete
  10. lu type bos gw banget kl ngomong tp kl dia kadang agak gitu deh semua anak buah sakit ati hahaha...hobinya mecatin org atau bikin org gak betah biar resign even HRD pun resign gara2 dia dan gw dipanggil owner oh nooo

    hobinya tiap hari nyela kerjaan gw dari yg kurang ini kurang itu pdhl dia udah acc blg bagus oke tau2 dia tanya kok kamu bikin surat kaya gini grrrr ampe keki gw revisi surat 7x akhirnya gw resign satu2nya yg resign trus dikasih duit secara pribadi lagi kt tmn2 1 divisi hahaha secara biasa mecat2 org duitnya buat kita farewell deh,

    owner panggil gw knp resign apakah bos resistant sama gw, gw blg kaga kok (sembari dalem ati abis sy takut dijadiin istri kedua wakakka abis gosip udah santer dari kalangan OB bahkan ownernya sendiri kl itu mau jadiin gw istri *_* duda ditinggal istri, anak dibawa istri pantes yah sikapnya sulit), kl bukan gara2 dia resistant sm kamu sy tambahin gaji kamu jadi kamu nggak usah keluar, dia itu memuji2 kamu banget depan saya (oh yah, depan saya nyela2 sy terus pak hahahha)

    cuman yah gitu deh banyak yg sakit hati krn terlalu terus terang jadinya sarkastis itu bos gw, apalagi duda *kok jd gosip hahaha* makin ribet, gara2 ini gw gak dikasih kerja sama ferry alasan dia nanti kl dapet bosnya genit lg, udahlah km nggak bisa kerja sama org kl dapet bos laki2 genit hidung belang blablablabla *capek deh*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hwhahahahaha. Kalo gitu mah tuh org lagi luka batin tuh Fel. Idupnya lagi repot. Bedain sama yang terus terang dengan yang cuma mau cari2 kesalahan orang. Ada kan orang yang tipenya ga suka sama orang terus dicari2 kesalahannya. Kalo itu mah bukan terus terang tapi nyebelin hwhahahaha.

      Delete
  11. Gua mungkin termasuk blunt ya, tapi dengan syarat dan ketentuan misalnya sama keluarga, sahabat-sahabat dan orang yang gua tahu cara gua bisa dia terima dan membuat dia lebih baik, Contoh aja kalau habis presentasi atau ujian di bagian dulu, pasti setelah basa basi tepuk bahu dsb dsb, banyak teman gua yang narik gua untuk ngomong berdua dan mereka minta pendapat gua. Teman gua sekali waktu itu ngomong, dari puluhan yang berpendapat, gua paling menunggu-nunggu jawaban elo dan sangat appreciate karena itu pasti jujur dan membuat gua bisa introspeksi, kalau yang lain membuat gua terlena.
    Tapi gua selalu berusaha nyesuain lagi ama orangnya, kan ada tipikal yang alusssss, gak bisa terima "blunt"nya kita, lebih baik tidak usah dijawab atau diberi warning dahulu terus emang bahasa kita agak dihalusin sedikit.

    Seperti elo ngomong, orang bule beda banget. Saat gua kerja di pusat penelitian ama orang Belgia, kita kan semua dekat. Terus pas dia tegur teman gua soal kerjaan, sorenya teman gua mewek dan batalin janji hang out karena merasa diserang secara personal. Si bule shock dan jelasin bahwa kita tetap berteman tapi kalau cara kerja kalian salah ya saya tegur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kalau mau blunt ya harus liat orang juga. Kalau semua orang apalagi orang baru kenal terus langsung kita terang-terangan, apalagi orang Indonesia nih ya, biasanya tuh kayak ngerasa diserang hahahaha. Kayak temenlu tadi, malah jadi langsung mewek, ngambek. Setelah gue pikir-pikir, apa itu yang bikin bangsa kita ini ngga maju-maju ya. Susah banget terima kritikan, demennya selalu menempatkan diri sebagai orang yang dizolimi *istilah sekarang banget tuh hehe*.

      Sama El, gue juga sering diminta opini sama temen gue. Tapi dari awal gue akan bilang kalo gue jujur banget, jadi jangan marah kalo gue bilang jelek. Eh tapi makin ke belakang justru makin banyak orang yang nanya. Daripada diboongin dengan ucapan manis kan?

      Beda banget sama di luar, problem itu bisa langsung kelar karena masing-masing saling terbuka. Bukan berarti di luar gak ada tukang gossip ya, tapi gue ngerasa di sini itu intrik2nya lebih gila. Kalau di LN pun yang suka bikin intrik justru malah temen2 gue yang orang Indonesia hihhi...

      Delete
  12. jadi inget temen ngomong "Jujur itu menyakitkan hati" tapi emang bener sih yah.. daripada cuma ngomong2 yang indah2 didepan tapi ternyata belakangnya malahan lebih nyakitin lagi. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di belakangnya kadang tuh malah gossipan gak jelas. Soalnya gue sendiri pernah terjebak jadi malah ngomongin orang di belakang gara-gara gue ngga berani berhadapan langsung dengan orangnya. Dan gue nyesellll banget. Tapi itu jaman2 kuliah sih. Akhirnya pas ketemu dan berani terus terang, ternyata orangnya keselnya cuma bentar, abis gitu baekan lagi.

      Delete
  13. Kadang gw pengennya blunt tapi seringan nyeplos ga dipikir dan jadinya masuk kategori harsh hahhaaaa....
    Di saat-saat tertentu gw memutuskan untuk DIAM tapi kadang DIAM pun bisa diartikan ga sopan.

    Makanya dibilang musti minta hikmat ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Istilah "diam itu emas" kadang sudah ngga gitu berlaku lagi Xiao. Tetapi untuk orang-orang tertentu memang suka berlaku, contohnya orang dablek nan ngeyel yang pernah gue ceritain sebelumnya. Tapi itupun gue masih mengemukakan opini kok. Kalo dia masih ngeyel ya udah baru gue diem hihihi.

      Hikmat sama hati nurani kali ya mesti di asah. Jadi inget sama homili pastor gue kemarin ini, dia bilang kalo hati nurani ngga diasah, gak ada bedanya dengan orang yang tidak punya hati nurani. Kita baru bisa percaya hati nurani kalau hati tersebut kita latih. Jadi marilah kita sering2 latihan :)

      Delete
  14. Memang intinya harus berhikmat ya Le, harus bisa terus terang tanpa kasar dan terus terangnya juga harus pada waktu, kondisi, dan cara yang tepat.... Kayak gini kadang gak mudah, apalagi kalo orang yang kita hadapin bukannya yang udah akrab bener..kalo sama keluarga, temen akrab, apalagi sama pasangan kan cenderung lebih gampang tuh...tapi kalo misalnya sama kolega atau rekan kerja yang meski udah kenal lama tapi ketemuannya cuma di kantor doang dan hubungan selama ini cuma sebatas kerjaan, nah itu yang perlakuannya agak beda. Makanya ada teori sandwich compliment itu, awalnya liat sisi lebihnya dulu (pujian yang jujur), baru masuk ke kritik, trus ditutup lagi dengan sisi positif..

    Anyway, memang jauh lebih asik temenan sama orang yang bisa terus terang, ketimbang sama yang iya-iya aja atau diam doang, tapi trus di belakangnya ngomong yang gak2..yang kayak gini banyak nih...T__T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Too badnya, banyak juga ya orang-orang yang udah pake sandwichpun masih suka kurang bisa terima soal negative things that are related to them, padahal maksud hati kita sudah baik malah ingin nolong. Makanya aku tuh ngerasa banyak orang yang sulit maju karena ngga mau menanggapi kritikan orang sebagai sesuatu yang membangun. Kalau dikritik sama orang malah ngerasanya jadi korban hihihihi...

      Nah itu, sedih deh kalo orang yang di depan kita cuma ngomong baik-baik, padahal di blakangnya penuh gossip. Dan yang kayak gini yang bener-bener ga asik ditemeninnya, bikin cape ati.

      Delete
  15. tapi rada sakit juga kalo dia terus terang tapi ga sesuai dengan kenyataan yak? Terus terangnya jadi seakan2 kesempatan buat minta kompensasi.. hehe :) misal : minta dibikinkan nota/kuitansi yang tidak sesuai dengan realita, dan ketika kita menolak, diungkaplah semua komplain2 yang dia punya. Jadi seakan2 karena dia berterus terang karena tidak dikabulkan keinginannya. Lebih capek hati lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo gitu mah namanya dia terus terangnya salah. Terus terang kan dari awal harus jujur. Kalau udah dibalut ketidakjujuran dan penuduhan, itu namanya bukan terus terang yang baik. Tapi kan kita jadi tau toh orang seperti apa yang kita hadapi kalau dia tidak jujur. Membantu kita juga kan karena dia terus terang (atas ketidakjujurannya, walaupun ngeselin hahaha).

      Delete
  16. Saya punya golongan darah B dan menurut yg sy baca katanya sih cenderung terus terang dan ceplas ceplos....
    mungkin maksud hati blunt tapi apa daya yang keluar dari mulut jadinya harsh hehehe.....
    kadang ngerasanya tu kalo udah terlanjur nyolot hehe...jadi mending berusaha ditahan-tahan nggak komen aja deh mbak daripada ntar ada yg tersinggung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.... nah itu bagus, artinya kamu udah tau tuh batasan antara blunt and harshnya. Karena untuk jadi orang yang blunt itupun diperlukan sopan santun. Kalau kita sudah tau banget omongan kita itu nyolot alias menjurus ke harsh, lebih baik memang menahan diri. Kita bisa tetap blunt dengan mencari cara yang sopan untuk menyampaikan maksud hati kita.

      Delete
  17. Saya punya tante yang lidahnya tajem banget, kalo ada sesuatu yang ga kena dihatinya, pasti langsung dikomentari. komentarnya ke saya dan sepupu2 lain biasanya, "pakai baju kok kaya gitu", "ayo jalan yang tegak", "rambutmu kok kaya gitu sih, ntar tante anterin ke tukang potong rambut yang bagus".
    Itu komentar yang selalu saya denger dari kecil sampai SMA.

    Saya tuh anaknya sensitif banget, jadi daripada denger kritiknya dia, saya memilih untuk bilang "terserah tante dah" atau "terserah mamah deh" dari mulai milih baju sampai makanan di restoran! Kebangetan banget! Baru pas sekolah di AS , pelan-pelan saya merubah mentalitas itu. Saya jadi bisa menyuarakan pendapat. I finally found my voice!

    Kemarin waktu akhirnya pulang kampung setelah 6 tahun ga mudik sama sekali, saya ketemu si tante ini lagi. Waktu itu kita di salah satu toko di mall, saya kan udah pegangin beberapa dress yang pengen dicoba. si tante pas liat pilihan saya bilang, "baju kayak gitu kok dicoba- jelek banget". trus salah satu dress pilihan saya diambil dan dilambai2in ke sepupu saya yang berdiri across the store, "ini kan jelek ya". trus dia balikin ke rak, dan bilang "ini baju bukan selera kita".

    gimana ya, komentar yang sepele sekali tapi sedih banget rasanya. Pokonya waktu di mall itu menyiksa sekali, karena saya udah dikatain gendut bolak-balik (I’m size 8)- dan banyak baju yang gak pas karena ya lemak-lemak itu. Hahaha. Waktu itu saya bener-bener uda ga sabar balik ke AS.

    Tapi at the same time, si tante bilang, dia sering banget komentar pedas2 sama anak temennya. si anak temennya ini berubah dari tampang biasa aja jadi cantik, langsing, pintar pilih baju modis, dan pinter dandan loh. Dari yang matanya dia monolid sampe punya kelopak mata. pokonya pangkling sekali deh! Kayak transformasinya Andrea Sachs di the Devil wears Prada. Jadi bottom line, emang tergantung gimana kita ambil criticismnya dia yah. Gak tau deh si tante itu blunt atau harsh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi, Pam. Thanks for stopping by and wrote a long comment. Bisa jadi cerita sendiri tuh. Saya coba bahas dikit ya. Kalau menurut saya, tantemu ini tadinya blunt. Cuma karena nggak ada yang rem, akhirnya jadi harsh, especially kalau dia sudah mulai ngoceh2 di mall dan melambai2kan baju ke sepupumu cuma untuk mengkomentari pakaian yang kamu pilih.

      Saya ngga tau agama kamu apa, tapi kalau kamu Katolik, mungkin bisa lihat Injil yang minggu lalu (Tanggal 7 September). Kira-kira bunyinya, jikalau kamu ingin berterus terang, cobalah bicara empat mata. Jadi dari alkitab sendiri saja sudah dijabarkan sedikit, jika kita ingin menegur orang, sebaiknya kita lakukan dengan cara yang sopan dan empat mata, sehingga kita tidak menghakimi.

      Anyway, soal tantemu itu, soal kesaksian dia soal anak temennya yang dia komentari mendadak bertransformasi, menurut saya itu juga tidak semata-mata dari komentar tantemu kok. Belum tentu anak-anak tersebut berubah karena komentar tantemu, bisa banyak faktor lain. And maybe your aunt just took the credit for them. Who knows? Last but not least, tanpa bermaksud kepo, I just wanna know how she and her daughter(s) (of course if she has ones) dressed. Probably she has a certain obsession with look, and probably she also thought that look is the most important thing in the world hehehehe.

      Special message for you, just be happy. People that is always obsessed with specific thing, might have failure that she would like to cover.

      Delete
    2. Oh Wow! Terima kasih untuk responsenya. agama saya Kristen btw. Sebenernya saya sayang banget sama tante + sepupu saya itu, cuman sering jengkel waktu mereka lagi komentar pedes hahaha.

      Iya betul, tante dan anak2nya emang well dressed. Modis dan pintar dandan. si tante + sepupu ini tipe orang yang dipakein karung goni aja udah cakep gitu. Yang tidak membantu lagi, saya rasa orang-orang di midwest sini tuh santai2 kalau jalan ke mall. pakai baju gym, kaus + shorts. jadi pas pulang kemarin saya bawa banyak baju santai (kan ceritanya vacasiongg). ternyata kalau di indo banyak orang yang dress up kalau ke mall. haha.



      Delete
    3. Km di Midwestnya dimana? Saya dulu jg di Midwest area. Midwest memang kadang kelewat laidback. Rednecknya apalagi kadang malah kurang sopan dan pantas. Contoh nenek2 pakai bra sama short saja hahaha.

      On the other hand, cuma di bbrp negara Asia (in this case Indonesia) kok yang orang kalau ke mall dandanannya berlebihan. Kalau saya sih cuek kalau cuma mau ke mall untuk santai2. Ngga usah dressed up berlebihan. Tp memang ada bbrp mall di Jkt yang pakaian orang2nya suka agak intimidating haha. Buat saya sih, pakai yg kita merasa nyaman dan juga sopan. Drpd cm ikut2an gaya orang lain.

      Soal tantemu, dengerin aja omongannya. Tp ya ga usah dimasukin hati. Anggep aja motivasi.

      Delete
  18. Leony,
    salah satu hal yang paling gw suka dari lo (selain jadi ensiklopedia pribadi) adalah lo blunt. Klo jelek bilang jelek, sehingga klo lo bilang bagus, gw percaya. Soalnya banyak orang yang suka bilang bagus padahal sebenernya nggak. Gw orang yang kaya gitu, klo temen deket banget gw bisa jujur tapi klo ngga deket dan tau orangnya sensitif-an, yaudah deh mending gw bilang bagus atau iya-iya aja karena mikir ngga worth deh pertemanan gw rusak gara-gara gw ngomong jujur soal pilihan berpakaiannya, cara dia mendidik anak, prioritas dalam finansial, dll.

    Gw lagi belajar untuk lebih blunt lagi dengan sopan, tapi kayanya masih jauh…sekarang masih banyakan iya-iya karena takut jadi harsh. Pelan-pelan deh ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Met... gue biasanya juga mau blunt bakalan liat2 orang dulu. Itupun gue harus dpt hikmat dan keyakinan kalau yang gue omongin memang demi kebaikan semuanya. Dan itu berat banget. Sampe sekarangpun gue masih belajar, selain belajar memilih kata2 dan saat yang tepat, juga belajar untuk siap2 seandainya org menanggapi dengan tidak enak atau super defensif yg menyebabkan hubungan jd kurang nyaman. 

      Ya namanya tindakan, ada aksi pasti ada reaksi. Hrs makin menajamkan hati nurani jg nih hehehe. Banyak2 doa sama Tuhan.

      Delete
  19. Le kayanya ini sebabnya gw suka baca blog lu, soalnya lu terus terang cerita semua di blog hehehe. gak smua orang berani untuk menyuarakan pendapat dan siap berkonfrontasi lho..
    Seperti gw ini, gw kayanya tipe orang cuek, golongan orang plegmatis, dan cinta damai (katanya ni rata2 gol darah O sifatnya kaya gw). Btw gol darah lu apa? hauahhaha, B kah?
    Jadi kalo ditanyain pendapat ya biasanya jawaban gw flat2 aja (maklum orang cuek) wakakak.. Baguslah ada orang2 kaya lu, jadi ada penyeimbang untuk dunia yg lbih baik :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tralalalala... hayo golongan darah gue apa yoooo?? Tebak tebak...

      Jawabannya adalah... O!! Hahaha ente kecele. Hihihi. Emangnya kalo O plegmatiskah? Ngefek ya sifat golongan darah hehehe. Pantesan gue suka susah relate ke joke2 yg golongan darah. Abis sebagian besat suka kaga nyambung sm gue hihihi.

      Gue gak tau nih apakah gue malah jadi penyeimbang, atau malah bikin kacau hahahah. Soalnya some people kan kadang sudah too comfortable in their own nutshell dan sudah merasa tenang2 aja, tiba2 gue ngomong something n malah bikin rusuh hehe. Insyaallah segala perkataan dan tindakan yg dibalut cinta dan kasih sayang akan bikin dunia lbh baik ya. Aminnn....

      Delete
    2. wah iya gw kecele, kalo kita sama2 O kenapa sifat kita beda banged ya? Gw pikir makhluk O itu org yg .... km tau joke kartun Korea yg gol darah itu? Nah itu gw cocok banged dah, suami gw A juga cocok sifatnya perfectionist organised blabla kaya di kartun itu wakakakak.. Coba tes darah lagi sapatau udah berubah #maksa hauahahahha

      Iyalah, kita manusia perlu ada yg ngingetin supaya ga dlm nutshell / comfort zone. Kalo ga dipecut / ada tantangan, nti ga maju2 :P makanya perlu deh orang2 kaya lu, yang peduli dan mau bersuara :)

      Delete
    3. Kartun itu gue kurang cocok Teph... makanya sebenernya gue cocoknya B toh? Hahahaha. Soal karier dan edukasi gue aja, masih bingung sampe skrg loh. Dijalanin sih bisa2 aja jadi akuntan atau yg berhubungan dengan bisnis. Tp jiwa artnya jg msh bergelora hahaha. Cuma ya gak jago kayak designer sih.

      Sering sih gue mikir takut ada org yg tersinggung... tp ditimbang2 aja. Lbh penting mana untuk kebaikan ke depannya.

      Delete
  20. Betul Leony, Blunt dan harsh di Indonesia dipandang sebagai satu hal yang sama. Dan kalo terus terang padahal sopan itu ngga pantes. Cuma ya lebih baik terus terang kan daripada ngga? Atau lebih parah lagi seperti beberapa komen diatas, ngga terus terang cuma dibelakang diomongin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sini itu soalnya keramahan di depan itu dianggap penting. Makanya kalau dilihat, mentalnya org sini itu kalau kena kritikan banyak yang langsung sakit hati. Menganggap kritikan orang itu bukan hal yg membangun. Moga2 kita jd manusia yg makin terbuka ya dan gak kelewat sensitif.

      Delete