Wednesday, June 04, 2014

Sponsored Video: Tree Of Life

Apa yang dirasakan saat kita kehilangan anak kita tercinta? Saya yakin, antara kita jadi setengah gila, atau jadi gila beneran. Saya sebenarnya tidak mau membayangkan bagaimana rasanya, ngeri. Tetapi melihat kisah Utari di video di bawah ini, saya jadi ikut terbawa. Sempetin dulu ya nonton videonya.


Singkat cerita, video tersebut menggambarkan bagaimana "setengah gila"nya Utari yang kehilangan anaknya di usia yang sangat kecil. Bukannya dia membesarkan seorang anak, Utari jadi cuma bisa membesarkan sebuah pohon. Hiks. Umumnya di desa sendiri, kebersihan memang belum menjadi kepedulian utama masyarakatnya. Ibaratnya "masih untung bisa makan". Padahal tingkat kematian bayi yang tinggi salah satunya bukan karena kurang gizi saja, tetapi karena kurangnya kepedulian terhadap kebersihan. Nggak cuci tangan, nggak cuci sayur, main masuk saja ke dalam mulut. Kita saja yang dewasa seringkali kena diare dan itu menderitanya ampun-ampunan, apalagi seorang bayi kalau sampai kekurangan cairan. Jadi walaupun sederhana, cuci tangan sebelum makan itu pentingnya luar biasa. 

Saya sendiri belum pernah ke NTT, tetapi orang-orang dekat di sekitar saya selama setahun terakhir ini, semua berasal dari NTT. Suster saya yang merawat Abby, berasal dari Bajawa, dan teman kerja yang duduk di sebelah saya, seorang guru yang cukup saya kagumi, berasal dari Pulau Lembata. Sebelum menulis posting ini, saya bertanya kepada teman kerja saya, bagaimana sebenarnya keadaan di NTT, apakah benar tingkat kematian anaknya tinggi. Saya tidak mau membahas kalau ternyata kenyataan di lapangan bukan seperti yang diiklankan. Dan ternyata jawabannya adalah, benar. Sedih sih, kok sebagian Indonesia ternyata masih tertinggal sekali. Sebenarnya kata beliau, yang tertinggi per kapita adalah di Papua. Tetapi karena Papua penduduknya tidak sepadat NTT, sehingga secara jumlah, NTT jadi masuk sebagai salah satu yang tertinggi.

Di NTT sendiri, keberadaan air bersih memang kurang, dan sebenarnya Lifebuoy (dalam hal ini Unilever), cukup banyak membantu di sana, terutama di Pulau Timor dimana desa Bitobe (yang di dalam iklan tersebut) berada. Sayangnya, masih banyak daerah-daerah lain yang belum tersentuh oleh bantuan tersebut, terutama di daerah yang aksesnya sulit, seperti tempat kelahiran teman kerja saya, yaitu Pulau Lembata, salah satu gugusan pulau di NTT. Semoga suatu hari, seluruh daerah terpencil bisa dijangkau oleh kampanye cuci tangan sebelum makan ini. Eh iya, katanya pemerintah NTT sempat protes kepada Unilever karena dianggap mengeksploitasi daerahnya, tetapi dipikir-pikir, pemerintah sana juga cuek kalau Unilever tidak "membuka kenyataan" tersebut. Ya mungkin ada bagusnya juga ya, kita "ditampar" sedikit, supaya kita yang hidup di kota besar paham keadaan saudara-saudara kita sebangsa, dan siapa tau kita bisa berbagi.

Sebelum Indonesia, negara yang juga menjadi sasaran dari gerakan ini adalah India. Mungkin masih ingat cerita tentang si Gondappa. Saya juga pernah memuatnya di postingan lalu. Kalau mau gabung ke dalam gerakan cuci tangan ini, bisa ke halaman Facebook, Youtube, dan Twitter-nya #helpchildrenreach5.

Postingan ini disponsori oleh Lifebuoy.

10 comments:

  1. Bokap nyokap orang kupang ci :) kemarin itu pas pulkam aku cm muter2 di kotanya aja sih, makanya penasaran jg ngeliat iklan yg katanya ga ada air bersih atau masi tertinggal, pasti itu yg di pelosok2 ya. Kl di kota kupangnya (aku nginep di rmh saudara), fasilitasnya (air bersih, listrik) udah lumayan, jalanan jg kebanyakan udah diaspal, cm berasa lbh sepi aja dan ga ada macet dooong. Tapi kl denger oma cerita, dulu hidup disana memang susah ci.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ternyata dari Kupang toh. Kalau Kupang itu sudah termasuk kota besarnya Yun. Kalau ke desa-desanya itu yang kasian banget. Gak usah jauh-jauh, di Banten aja yang deket dari Jakarta, tertinggalnya bukan main. Anak masih pake jembatan bambu untuk nyebrang sungai kalau mau ke sekolah. Indonesia ini nggak merata banget developmentnya.

      Delete
  2. Kakakku dokter di Rote, NTT, Le...aku jg sudah pernah ke sana, kondisinya memang memprihatinkan sekali. Tapi yang lebih memprihatinkan lagi karena di tengah kondisi rakyat di pedalaman/kepualauan masih susah, di NTT jg angka korupsinya termasuk tinggi :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Exactly, Lis! Itu juga yang dibilang sama co-workerku dan nannyku. Kalau pejabat daerah, rumah dan kantornya mewah banget, bahkan naik mobil bagus, semetara rakyatnya susah minta ampun. Parah banget. Ya ngga usah jauh-jauh deh, kasus Bupati Ngada kemarin itu aja kan menunjukkan arogansi dan egoisme-nya si kepala daerah.

      Delete
  3. Di Bali, yang harusnya udah modern, di daerah perumahan Dalung aja (yang cuma 1 jam dari Kuta.. kalo macet), air PAM nyalanya bergilir.. jadi disana itu kalau mau mandi udah kaya rebutan nunggu jam air mengalir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya itu... mirip sama di Banten itu kan, kurang kaya apa tuh si Atut, tapi rakyatnya minta ampun menderitanya. Sementara para pejabat itu, foya-foya ngabisin uang rakyat. Sedih....

      Delete
  4. Yah begitulah kalo pemerintahnya korup yang plg kasian ya orang miskin ya, smoga aja yg baru nanti lbh baik.
    Dipikir2 kita slalu berharap walau tak pernah terwujud ya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak apa-apa, semua diawali dari sebuah harapan :). Daripada orang ngga punya harapan sama sekali alias keburu putus asa.

      Delete
  5. Betul ci, harusnya kita yang di kota besar lebih menghargai keberadaan air bersih.
    Kadang kalo liat air dibiarkan mubazir gitu, sedih deh rasanya :(
    Tapi kata temen yang asalnya dari timur, emang disana air bersih agak susah, kadang harus beli baru ada :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mandi pakai shower dibanding pakai bak dan gayung. Bisa menghemat sepertiga air loh!

      Delete