Saturday, May 10, 2014

Saya Pro UN loh!

Ya ya... saya tau banget, tulisan saya ini pasti bakalan menimbulkan pro dan kontra. Apalagi sekarang lagi rame banget yang namanya gerakan "Tolak UN", sampai khusus ada websitenya, lalu didukung oleh orang-orang yang hmmm... kalo boleh saya bilang sih lagi ngetop-ngetopnya saat ini dan dianggap cerdas. Nggak usah disebutin deh ya orangnya, pokoknya salah satu stand up comedian yang lagi hits lah saat ini, dan juga banyak tokoh-tokoh lainnya.

Kemarin, salah satu orang yang sangat mendukung gerakan tolakUN, sebutlah namanya si Bokek, sempat adu argumentasi sedikit di Facebook dengan saya. Sebenarnya saya ingin copas benar-benar tulisan orang tersebut, yang konyolnya, setiap saya tulis satu komen, dia membalas dengan tiga komen berendeng-rendeng ditambah link-link dari website dengan alasan research dan lain-lain, demi mendukung gerakan tolak UN tersebut. Saya sih jawab simpel saja, kalau dia cuma berani kasih saya link dari website yang sama, yang jelas-jelas websitenya itu adalah website yang mendukung tolak UN, ya jelas saja isinya semua soal hal-hal yang mendukung pernyataannya dia. Tulalit.com deh ah. Ujung-ujungnya saya gak ladenin lagi, males dengan orang yang kelewat fanatik dengan gerakan dan tokoh tertentu, tanpa melihat dari sisi seorang praktisi pendidikan yang terjun langsung ke lapangan. Pas saya baca profile FBnya dia, isinya tuh cuma gerakan tolak UN, dan ada disisipkan jualan software yang katanya bisa untuk tes kemampuan anak. Hi hi hi...

Intinya, si Bokek berargumen, kalau dia tolak UN, karena UN membuat standardisasi, padahal anak-anak kita bukan batu bata yang dicetak, dan sekolah bukan pabrik yang perlu ada quality control. Saat saya membicarakan tentang standardisasi, dia bisa melenceng ke soal biaya UN yang besar yang seharusnya bisa dipakai untuk yang lain-lain. Padahal saya sendiri fokus mengenai pentingnya standardisasi tersebut.

Sebagai seorang praktisi pendidikan, yang kebetulan ikut melihat dan memantau pelaksanaan UN di sekolah, dan kegunaan UN itu sendiri, saya mau memberikan beberapa argumen dari sisi saya. Tapi tolong, jangan diliihat dari sisi pelaksanaan UN yang mekanismenya memang suka berantakan ya, ataupun jual beli soal yang terjadi. Di manapun yang namanya tindakan itu kan tidak sesuai dengan maksud dan tujuan UN, dan sekali lagi itu menurut saya tidak bisa dijadikan argumentasi bahwa UN-nya sendiri jelek. Ibaratnya, kalau kita punya barang bagus banget, tapi pas sampai ke tangan konsumer sudah dipreteli oleh orang yang tidak bertanggung jawab, apakah berarti barang kita awalnya jelek? Saya akan membahas dari satu-persatu sisi yang dipaparkan oleh si Bokek sebagai argumen dia dalam menolak UN.

----------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. UN Dianggap Mencetak Orang Seperti Batu Bata

Saya tidak pernah merasa dengan adanya UN, manusia dicetak menjadi manusia yang kaku dan tidak berkarakter. Dari dulu saya dan kawan-kawan saya mengikuti ujian apapun, kami tidak pernah merasa kalau kami ini dicetak untuk menjadi sama. Kami merasa ujian itu perlu, sebagai tolak ukur kami setelah mengikuti proses belajar mengajar. Kalau ada opini yang bilang gara-gara ada UN, semua guru cuma fokus mengajarkan materi UN kepada anak-anak, saya kira itu berarti pengaturan kurikulum di sekolah yang belum rapi pemetaannya, dan kurangnya kontrol mengenai materi-materi yang harus dicakup. Saat kita SMA-pun, kita bisa memilih jurusan yang kita mau sesuai dengan bakat dan minat kita. Jurusan yang diakui ada IPA, IPS, dan Bahasa, dan anak kita bisa memilih pengetahuan dasar apa yang dia inginkan untuk bekalnya ke depan nanti. Soal UN sudah dibuat sedemikian rupa sesuai dengan jurusan yang diambil. Apakah dengan demikian kami semua dibentuk jadi sama?

2. UN Membuat Sekolah Menjadi Seperti Pabrik Yang Butuh Quality Control

Si Bokek mengemukakan, UN itu tidak boleh menjadi standar kelulusan. Sekolah sendirilah yang harus menentukan standar kelulusan anak-anaknya, karena sekolah yang tau kemampuan anak-anak tersebut. Bayangkan, kalau semua sekolah boleh menentukan standar kelulusannya sendiri. Sekolah A 100% lulus! Tetapi ternyata anak-anaknya tidak mampu melakukan hitungan dasar dan hal-hal yang diperlukan sesuai dengan jenjang umurnya. Bagaimana nasib anak tersebut ke depannya? Tau sendiri kan bagaimana kualitas sekolah-sekolah di Indonesia, termasuk sekolah yang memakai label Internasional di namanya? Kebanyakan hanya berorientasi kepada bisnis, dan mencoba menyenangkan customernya (alias murid dan orang tua murid). Pada tau nggak sih, kebanyakan para expatriate yang mengajar di sekolah-sekolah international itu menganggap UN adalah sampah! Mereka mendoktrin anak-anak kalau mereka tidak perlu UN, yang penting belajar saja lalu ambil ujian international (yang seringkali ternyata tidak diakui). Sekolah jadi seperti tempat les, anak-anak hampir tidak ada yang tidak naik kelas karena kalau sampai tidak naik, mereka dengan mudah pindah ke sekolah lain yang bisa menyebabkan pendapatan sekolah berkurang.

Giliran mereka mau kuliah, mereka tidak punya dokumen apapun yang resmi, yang menandakan kalau mereka itu kompeten. Yang ada cuma rapor sekolah, yang seringkali juga nilainya belum tentu murni karena standar sekolahnya lain-lain (lagi-lagi banyak nilai yang dibagus-bagusin cuma buat pleasing the parents). Saya sendiri melihat, bagaimana anak-anak murid saya banyak yang sebelumnya tidak ikut UN, dan sekarang benar-benar struggling saat mau masuk kuliah dan mencari kampus. Ujung-ujungnya, banyak dari mereka yang akhirnya masuk ke kampus kurang baik di luar negeri, atau cari kampus lokal yang bisa disogok masuknya. Sedih kan? FYI, hasil UN itu lebih diakui loh di kampus di Amerika daripada IGCSE dan AS.

Katanya si Bokek, sekarang setiap kampus di Indonesia juga mulai banyak yang tolak UN, dan punya ujian masuk sendiri. Kalau menurut saya, ini dia yang akhirnya sekarang juga bikin banyak praktek kotor di beberapa kampus besar. Anak-anak yang tidak punya dokumen, tapi pingin kuliah, dengan alasan tolak UN dan ngga perlu UN, jadi gampang bisa masuk ( tentulah dengan "imbalan secukupnya". Ini saya jujur loh). Nah, kalau kampus di luar negeri gimana? Selain TOEFL/ IELTS/ Test standard yang diakui, juga butuh dokumen penunjang dari Indonesia kan? Mana ada test-test-an lagi? Apa kita mau datang ke sana cuma buat test, terus ditolak dan balik lagi ke Indonesia gitu?

3. Anak-anak Yang Tidak Lulus UN Akhirnya Drop Out dan Masa Depannya Suram

Oke, sekarang, kalau pelaksanaan UN tidak curang, tidak jual beli soal, alias pelaksanaan UN sesuai dengan maksud dan tujuan awal, seandainya anak tersebut sampai tidak lulus UN, yang notabene adalah pendidikan dasar jenjang SMA sesuai dengan bidang studi yang sudah dia pilih, itu salah siapa? Salah UN-nya kah? Anak-anak yang saya lihat mendukung gerakan tolak UN itu rata-rata justru anak-anak (maaf) alay, yang memang MALAS belajar! Mereka menolak UN, karena yaahhh... sekolah aja jarang! Kerjaannya demo, ngerjain guru, main-main, ngebolos. Bahkan, ada yang satu sekolah kompak tolak UN, dengan sengaja tidak datang pada saat ujian, sehingga tingkat kelulusannya nol persen. Kalau sampai mereka gagal, I think they deserve it! Kalau dia masa depannya suram, apakah karena salah UN? Ya salah dia sendiri dong. Kenapa gak belajar dengan tekun? Kenapa tidak berusaha? Mana daya juangnya?

Lain cerita kalau dia gagal UN karena misalnya sehari sebelum UN bapak/ ibunya sakit keras sehingga dia tidak bisa konsentrasi, itupun masih bisa ikut UN susulan dengan keterangan resmi dari sekolah. Amerika sendiri punya SAT, dan tidak membatasi umur dalam mengambil test tersebut. Apakah sistem pendidikan di Amerika jelek? UK punya IGCSE. AS/A Level. Apakah sistem pendidikan di Inggris buruk? Indonesia kasih kesempatan dengan Kejar Paket A, B, dan C. Kurang baik apa sebenarnya sistem ini kalau dijalankan dengan mekanisme yang benar sesuai dengan tujuan awalnya?

4. Menurut Laporan Hasil Pemetaan PISA, setelah 11 tahun UN, Indonesia Masih Termasuk Nomer Buncit, Bukti UN Tidak Efektif

Yang tidak efektifnya itu, sistem pendidikan di Indonesia, atau UN-nya? PISA itu juga hanya mencakup beberapa negara saja, lalu bagian mana di Indonesia yang mereka tes? Kemudian, apakah hasil dari PISA itu menandakan kalau orang Indonesia bodoh? Saya inget banget sampai ada yang nulis artikel dengan tulisan, remaja Indonesia salah satu yang terbodoh di dunia. Aduhhh sakit hati saya dengernya. Yang sempit itu pemikirannya siapa ya? Jadi menurut saya, membandingan secara langsung UN dengan PISA itu, rada-rada gimanaaaa gitu deh ya.

Kalau menurut saya, PISA itu lebih menganalisa dari kemampuan kognitif dan problem solving para remaja Indonesia yang dinilai kurang. Pemerintah tidak tinggal diam kok, mereka juga melakukan perombakan kepada kurikulum yang dinilai memang kurang memberikan pendekatan itu. Kurikulum 2013 yang akan mulai dilaksanakan ini terlihat sudah mengalami perbaikan dari segi partisipasi murid dan kemampuan problem solving.  Saya sendiri terus terang agak deg-degan, terutama untuk kesiapan para guru. Kita doakan saja semoga para guru-guru juga siap untuk mengajar dengan metode yang lebih baik.

5. UN Hanya Buang-Buang Uang, Mendingan Uangnya Dipakai Untuk Hal Lain Seperti Perbaikan Nasib Para Guru

Nah, kalau saya lihat, pas si Bokek mulai melenceng kemari, saya merasa dia sudah mulai melakukan pengalihan issue. Issue awalnya tadi kan mengenai UN yang membuat anak seperti batu bata, jadi kan lagi ngomongin isu standardisasi nih, eh mendadak dia lompat ke masalah habis-habisin uang. Kalau saya sih sistemnya sederhana, UN-nya sendiri tidak salah, karena UN dipakai juga untuk melihat standar di daerah-daerah lain, bagaimana mutu pendidikan di daerah, apakah sudah mengalami perkembangan, fasilitas apa yang masih dibutuhkan oleh daerah-daerah lain di Indonesia, apakah guru-gurunya sudah ditrain secara kompeten. Kalau sampai ada daerah yang benar-benar parah keadaannya, IDEALNYA pemerintah turun langsung untuk melihat ke lapangan, dan menjadikannya jauh lebih baik. Jangan salah loh, banyak juga sekolah-sekolah di daerah yang ternyata mutunya luar biasa baik dengan guru-guru berdedikasi, dan menghasilkan manusia-manusia unggul. Mengenai pengalokasian dana, ya itu dikembalikan lagi ke pemerintah. Tapi apakah UN perlu? Ya menurut saya sih masih.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Jadi kesimpulannya apa? Menurut opini saya (opini saya loh ya..pribadi nih..) yang salah bukan UN-nya!! Kenapa kita harus tolak UN? Yang ngaco itu adalah sistem pendidikan yang kurang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menjadi anak2 yang critical, analytical, dan mampu melakukan problem solving, sehingga bisa mengerjakan soal secara standar UN yang katanya hampir mendekati standar internasional, bahkan beberapa soalnya juga bersumber dari PISA. Tapi buktinya, beberapa sekolah bisa kok menerapkan itu, dan tidak pernah ada masalah kelulusan. Berarti sekolah-sekolah yang seperti itu harus dijadikan sekolah percontohan, dan pemerintah tidak boleh tinggal diam. Saya terus terang senang dengan adanya kesadaran pemerintah untuk kurikulum yang lebih baik. Saya berharap pelaksanaannya di lapangan juga mengikuti kurikulum yang berlaku. Contoh nih ya, guru SMP dan SMA kalau ngajar jangan kayak robot! Sebel saya kalau lihat guru cuma bisa copy and paste dari buku, lalu ngajar sesuka hati tanpa ngikutin standard harus ngajar sampai mana. Guru jaman sekarang harus lebih bisa memberikan contoh ke dalam real life situation. Dijamin, anak-anak bakalan lebih engaged dalam belajar, dan mereka langsung bisa relate ke dunia nyata. Nah, berarti pemerintah juga harus mengadakan lebih banyak training, seminar, dan sertifikasi untuk para guru. Pakai sistem lelang jabatan kalau perlu (tapi testnya dilihat dari berbagai sisi ya: skill test, aptitude test, personality test, and group test). Biar bisa dilihat apakah guru benar-benar bisa ngajar atau nggak. Lalu tolonglah adanya standar alat-alat yang dibutuhkan, terutama untuk sekolah-sekolah negeri di daerah. Btw, kemarin saya senang loh mendengar banyak sekolah-sekolah negeri sekarang punya fasilitas yang wow banget. Sekolah swasta aja kalah! Ayo Pak/ Bu Mendikbud (siapapun nanti) supaya bisa mulai disamaratakan di seluruh Indonesia.

Duh, tulisan saya kali ini serius banget ya? Gak apa-apa toh ya. Soalnya terus terang saya peduli banget dengan pendidikan bangsa ini dan nasib anak-anak kita. Saya sedih banyak sekali sekolah, yang makin lama makin mengedepankan strategi "pemasaran" macam: mengembangkan karakter anak lah, memberikan kesempatan kepada anak untuk berkembang sesuai individu lah, membuat anak merasa kalau mereka istimewa lah, padahal sebenernya tujuannya cuma untuk menjaring murid, tetapi akhirnya tidak mempunyai standar kelulusan yang mumpuni. Siapa korbannya? Ya anak-anak kita sendiri! Anak-anak jadi tidak punya kemampuan dasar yang sesuai usianya. Kecuali anak anda luar biasa bakatnya dari awal, dan keliatan sebagai child prodigy alias wonder kids, boleh lah anda tidak ikutin anak anda ke ujian apapun (And I think even a wonder kid needs to know how to do multiplication hahahaha).

Sekian dan terima kasih!

50 comments:

  1. Hai salam kenal. Saya termasuk yang masih bingung dengan pro kontra UN. Tapi kalau saya liihat dan baca, orang2 yang kontra UN itu kok cuma mengkritik tanpa memberi solusi ya? Gimana dong?
    Menanggapi pandapat Leonny bahwa bukan UN yang salah tapi sistemnya, kalau menurut aku, Kurikulum 2013 sekarang ini sudah lumayan bagus lho, terlepas dari kekurangan sana-sini, tapi ada upaya untuk membuat siswa lebih berpikir kreatif, imajinatif dan aktif, dan pelajarannya tidak terlalu memberatkan. Semoga terus disempurnakan deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai salam kenal juga. Iya saya setuju sama kamu. Saya tidak melihat ada solusi yang lebih baiknya. Soal Kurikulum 2013 saya memang sudah mentioned di atas dan saya setuju juga dengan kamu kalau kurikulum tersebut sudah lebih baik.

      Tinggal bagaimana guru2nya juga dilatih untuk menjalankan kurikulum tersebut dengan baik, lalu adanya monitoring system yang baik juga dari sekolah dan pemerintah.

      Delete
  2. nah gw malah baru tau ada gerakan tolak UN. Kemana gw selama ini ya? hauhaha..
    Menurut gw juga UN itu perlu ya, kalo ga ada standar yg sama antara skolah2, trus mereka lulusin anak2nya 100 persen smua, gimane donk.. Lagipula bukannya kelulusan itu ada itungannya berapa persen dr nilai UN, brapa persen dari nilai ujian sekolah (yg dibikin skolah sendiri), dan nilai pelajaran selama ini? Jadi ga mutlak dari nilai UN saja yg menentukan lulus gak nya si anak. Dulu jaman gw kayanya begitu, skarang gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekarang juga komponen UN tuh 40 persen. 60 persennya masih UAS alias Ujian Akhir Sekolah dan nilai rapor anak. UN pun syarat kelulusannya termasuk 'ringan'. Average 5.5 dengan lowest score 4.5 seinget gue. Makanya heran kenapa org nolakin UN. Yg perlu dikaji itu mekanismenya aja kok.

      Delete
  3. setuju bingit. dari dulu juga ada tes kelulusan yang standar se-indonesia, namanya aja sekarang yang beda. emangnya EBTANAS itu gak bikin anak murid gemetar? ya sama juga kali, gue juga gugup banget saat harus ujian akhir, gak SD, SMP, SMA, sama aja was-wasnya. soalnya susah? dari dulu juga susah, kalo gak susah ya bukan ujian; kalau takut gak bisa ngerjain, belajarlah lebih tekun dari awal. Jangan mau gampangnya aja!
    Gue masih ingat kok ujian naik kelas SD, SMP, SMA, materi yang diujikan mencakup pelajaran di kelas-kelas sebelumnya.. gak perlu diprotes, kalau memang belajar beneran, pasti ada yang nyangkut - kalau ilmu di sekolah hanya untuk numpang lewat, les aja 12 tahun. jadi penasaran gue, siapa sih yang mengembuskan isu gak perlu UN.. cih. uda gitu standar kelulusan dianggap ketinggian.. waduh sedih amat ya kalau kita sudah berpuas diri dengan hasil yang sedang-sedang aja! gak heran dong kalau mutu siswanya juga (dituding) jalan di tempat, atau malah turun, wong ekspekstasinya aja rendah.

    maju terus, bu guru! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, anak2 jaman sekarang menurut gue agak2 mental tempe. Dikit2 protes dengan alasan begini begitu. Buktinya akhir-akhir ini, makin banyak aja kisah anak2 yang tawuran dan nggak sekolah terus males belajar. Kalau giliran mereka gagal, ngga melihat kesalahan diri sendiri, tapi menyalahkan katanya kurang dikasih kesempatan mengembangkan diri sesuai bidang lah. Menurut gue sih itu ngacooooo.... mau cari enaknya doang.

      Delete
  4. Hai ci Leony,

    salam kenal, aku silent reader cici...
    Wow bgt, thx ud share ini..aku sependapat dengan opini cici..dr dlu aku pun setujuu dgn UN, tp bingung jelasin ke org2, nah dr share cici ini, jelas bgt penjelasan tiap poinnya..

    makasiii cici..
    smangat utk tetap melayani di dunia pendidikan..

    Jbu n your fam :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi. Iya, sama2. Saya coba pake bahasa yang gamblang dan gak terlalu akademis, supaya awam lebih bisa mengerti. Semoga walaupun sederhana, penjelasan saya bisa memberikan sedikit titik cerah. Sedikitpun tidak apa2.

      Delete
  5. ibu guru teladan banget nih, le :)
    iya gw setuju sama loe, yang harus dibenerin itu sistemnya! bukan UN nya, ... ibarat kalo kita masak yang harus dibetulin itu takeran resepnya bukan nama makanannya .. nyambung ga ya istilah gw?! HAHAHA .. dari perbandingan gw ngajar di indo sama di sing, menurut gw ya emang sistem pendidikan sih yang jadi main issue yang harus segera dengan amat sangat cermat diberesin!!!!!

    thank you for sharing, le! dan gw juga baru tau ada tolak UN HAHAHAH .. kemane aje!?!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha gue ngerti kok maksud elu hehe. Iya, lagi rame gerakan tolak UN dan menurut gue, tidak ada solusi yg lebih baik juga yang ditawarkan oleh para penolaknya. Yang dicari cuma dukungan2 orang, tetapi tidak ada solusi yang menurut gue bisa digunakan untuk semuanya.

      Delete
    2. Haha gue ngerti kok maksud elu hehe. Iya, lagi rame gerakan tolak UN dan menurut gue, tidak ada solusi yg lebih baik juga yang ditawarkan oleh para penolaknya. Yang dicari cuma dukungan2 orang, tetapi tidak ada solusi yang menurut gue bisa digunakan untuk semuanya.

      Delete
  6. setuju sama semua yang lu bilang!! bukan salah UN nya tapi salah yang lain2nya itu... sistem nya, manusia2nya (yang bisa sampe jual beli soal), dll dsb.
    gua juga pro standardized test. rasanya dimana2 juga pasti ada lah yang namanya standardized test, kalo gak ada, ya kayak lu bilang, bisa2 ntar sekolah2 pada lulus2in aja dong murid2nya tapi ternyata anak2nya gak bisa apa2. kan malah kacau...

    aneh juga kalo sampe ada gerakan yang kontra ama UN. once again setau gua dimana2, di negara2 lain pasti ada standardized test kan ya? at least di US sih ada...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Man. Lu bayangin kalau test SIM di USA tidak ada standardized test. Lalu orang bisa kasih alasan misalnya krn lagi stress atau capek jadi dapat pengecualian. Habis lah itu jalanan isinya orang kebut2an gak karuan dan accident di mana2.

      Delete
  7. Hi Leony thanks for sharing. Selama ini saya silent reader.
    Setuju banget sama semua point di atas. Semuanya butuh standardisasi; bisa jadi tolok ukur pemerintah ya untuk kapasitas dan kemampuan guru dan sebagai feedback kalau ada satu atau beberapa sekolah yang nilai kelulusan UN nya jelek; gurunya perlu di-upgrade kapasitas, skill dan atau metodologi pengajarannya. Semoga UN tetap diadakan dan pemerintah dengan segala hormat, mau memperbaiki seluruh sistem pendidikan untuk menjadikan anak Indonesia anak yang bermartabat ..cieeeeh semogaa ..amiiiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebelumnya salam kenal yaah :) :)

      Delete
    2. Dian, salam kenal juga ya. Nah makasih kamu juga mengerti tujuan UN itu sendiri. Semoga dengan kurikulum baru dan pelatihan guru2 yang lebih baik, anak2 Indonesia ini bukan hanya bisa berkembang secara akademik, tapi juga berkembang secara karakter. Semoga lebih cinta Indonesia juga.

      Delete
  8. Hahahahahahahahahahahaha lol
    Katanya praktisi pendidikan untuk menangkap maksud jja g' bener yang d maksud dgn membentuk anak seperti batu bata itu adalah setiap anak memiliki kemampuan dan pola pikir yang berbeda dan setiap anak memiliki kemampuan di bidang masing2 thu maka na d perlukan pengembangan kemampuan sejak dini

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari gaya penulisan anda terlihat anda termasuk salah satu korban pendidikan yang salah, makanya banyak kata serba disingkat dan hanya "spesies" sejenis anda yang mengerti apa maksud komentar anda

      Delete
    2. Anonymous 1: waduh, saya sampai perlu beberapa saat sendiri untuk melihat maksud tulisan anda.

      Anonymous 2: daripada ngebahas gaya tulisan anonymous 1 yang memang ngga jelas itu, mending kita bahas sedikit dari apa yang saya bisa tangkap dari tulisan dia ya.

      Setiap anak memang mempunyai pola pikir dan kemampuan berbeda. Tetapi keberadaan UN tidak menghambat pola pikir dan kemampuan anak. Selama saya bersekolah, saya tidak pernah merasakan adanya hambatan untuk saya menjadi kreatif dari adanya UN. Keselarasan kurikulum dan kompetensi pengajaran membuat kemampuan murid dalam bidang akademis, seni, olahraga, dan karakter, bisa berjalan bersamaan.

      Kalau cuma gara2 UN kita jadi tidak bisa mengembangkan pola pikir dan kemampuan di bidang yang kita minati, duh, itu mah mikirnya kejauhan banget.

      Delete
  9. wah gue baru tau juga ada heboh2 tolak UN ini.. gue ga setuju UN dihilangkan.. salah satu contoh sepupu gue.. Jadi waktu dia masuk SD di salah 1 sekolah yang gedungnya bagus dan muahal juga sekolahnya , dengan fasilitas mantap, dia selalu dapet nilai bagus di raport 80 ,90 gitu lah scorenya.. mamanya santai2 aja kan.. ehh taunya pas uda kelas 6, gurunya bilang sepupu gue ini ga bs ikut UN karena ga mampu pasti.. setelah selidik demi selidik.. ternyata anak ini belom bisa baca, belom bisa ngitung pertambahan, perkalian dst2.. so, kenapa nilainya bsa bagus? ternyata di sekolah tiap ada ujian, ada guru yang bisikin jawabannya. Kalo UN keknya masih sistem tuker2 guru ga sih skrg dari sekolah lain? jadi ga bs dibisikin kali ya.. ternyata ga cuma sepupu gue doang yang begitu, beberapa temennya juga ada yang kaya gitu. Walo menurut gue salah ortu juga sih masa anak ga bisa baca hitng ampe umur segitu ga ketawan. tapi point gue, nanti kalo g ada UN jadinya seperti yang u blg.. demi nama baik, guru bisa tinggi2in nilai semau dia padahal anak2nya ga bisa apa2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah parah kan, Sinta? Bayangkan saja kalau sekolah2 yang sekarang ini banyak business oriented, menentukan kelulusan mereka sendiri. Mau jadi apa? Cuma buat nyeneng2in yang udah mbayar istilahnya. Serem kan kalau masa depan Indonesia kayak begini anak2nya. Dasar2 saja gak mampu.

      Delete
  10. Kalau aku awalnya termasuk ya tolak UN, eh, abis diskusi panjang lebar sama nyokap yang praktisi pendidikan dan pro UN, mata jadi mulai terbuka. Poin-poin yang dibicarain nyokap hampir sama persis dengan yang mbak Leony tulis, dimana-mana kan emang harus ada standardisasi tes kan ya, ngga cuma di Indonesia.

    Kenapa kesannya acakadut, kacau balau, karena implementasinya aja belum oke, masih banyak carut marut disana mari, jadi kesannya UN itu cuma program pemerintah yang buang-buang uang aja. Padahal ngga gitu juga sih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, memang anak muda jaman sekarang cenderungnya ikut2an yang lagi trend, tapi seringkali tidak ada solusi sebenarnya. Nah mamamu pasti lebih ngerti krn dia berkecimpung di dunia pendidikan ya. Iya nih, tinggal implementasinya yang perlu diberesin. Semoga makin lama makin baik.

      Delete
  11. Nice share :) could agree more..aku sangat sangat setuju dengan semua point yang disampaikan...anak anak jaman sekarang terlalu manja, daya juang sedikit jadii ya gitu akibatnya...kebanyakan protes ga penting :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengaruh social media juga kali ya. Liat gerakan yang trend dan sok 'anti mainstream' jadi ikut2an deh. Padahal masih belum begitu mengerti esensinya apa.

      Delete
  12. mbak leony, salam kenal :))
    saya ijin share boleh mbak? saya suka dengan argumen dan pendapat mbak leony ttg UN :)

    trimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Ita, boleh. Kalau memang bisa membantu 'penyegaran' sedikit. Dicantumkan sumbernya ya. Makasih.

      Delete
    2. pasti mbak dicantumin sumbernya. trimaksih mbak leony.

      Delete
  13. Tulisannya bagus!! :)

    Saya pribadi ga bisa bilang tolak atau lanjutkan UN, soalnya sejauh ini emang UN satu-satunya yang kita punya, kalau mau bilang 'nolak UN', jangan bilang 'nolak' aja, tapi emang sediakan solusi yang kira-kira bagus untuk menggantikan sistem UN. Kalaupun para penolak UN ini udah punya sistem/solusi yang lebih baik dari UN dan misal pemerintah setuju,tetep pasti ada kajian juga kan, apa sistem baru yang menggantikan UN memang cocok atau engga. Nah sambil menuju ke sana -ke arah di mana kita pengen nyari sistem yang lebih baik dari UN- yang biarkanlah UN dipakai dulu tapi dengan perbaikan.

    Concern utama saya sih kalau di UN masalah kebocoran soal yang kayaknya luar biasa. Kebetulan adik Saya 10 taun di bawah Saya, jadi masih ikut merhatiin apa-apa yang terjadi. Waktu adik mau UN SMP, bimbelnya dia sampe nawarin kunci jawaban loh, bahkan banyak pengawas yang sengaja kasi celah/nyuruh anak-anaknya nyontek (meskipun si pengawas udah di switch sm sekolah lain) demi ngejar tingkat kelulusan sekolah supaya tinggi. Nah, yang kasian anak-anak yang emang serius dan jujur pas UN tapi kelibas sama yang ga jujur dan cari jalan pintas.

    Lha??kok jadi panjang? Intinya, kalau kata Saya, sekarang kita baru punya UN, ya diterapkan dulu sebaik-baiknya sambil terus dicari sistem yang paling pas untuk Indo karena adopsi sistem luar yang bagus belum tentu jadi bagus di Indo. Dan kualitas guru juga kudu terus di bagusin sambil lebih dihargai (baca: digaji) keberadaanya.

    Semangat terus Cici!! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Bening, makasih sudah nulis komen panjang lebar yang kebetulan isi komennya saya suka sekali :). Bener yang kamu bilang, UN itu memang belum sempurna, tetapi kita harus berusaha menuju ke arah yang lebih baik. Bukan cuma sekedar menolak tanpa ada solusi yang baik.

      Saya sih nggak terlalu gimana sama ranking sekolah berdasarkan UN ya. Sekolah tempat saya belajar dulu gak selalu nomer 1 di UN. Tapi yang namanya reputasi sekolah-sekolah baik itu, sudah ada loh di universitas2 di luar negeri. Tidak perlu nomor wahid di UN, yang penting adalah konsistensi pengajaran di sekolah tersebut, sehingga lulusan2nya punya daya juang yang baik dan bisa survive di lingkungan universitas yang kompetitif.

      Delete
  14. yang gua bingung, un ini knapa baru2 ini aja heboh ya? waktu gua dulu perasaan un biasa2 aja ah, gak kaya skarang heboh amat di tv sampe nangis2an basuh kaki ortu kaya mau pergi perang aja.
    atau dulu mungkin kita emang nontonnya film hk mulu jadi gak ngeh pas un orang pada melakukan rutual begitu wkwkwk..

    dan gak tau juga soal un skarang sesuah apa ya, tapi gua setuju kok un. sehebat apapun bakat anak2 itu di bidang lain menurut gua setidaknya mereka tetep harus lulus di materi yang di unkan walaupun dengan nilai minimal, kan gak harus dapet 8 baru lulus pan, yang nolak un mah menurut gua baru sekaolah aja udah gak ada semangat juangnya, cemen deh ah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha.. iya Vi, basuh kaki, minta wangsit dll. Perasaan dulu persiapan mau UN itu ya belajar sungguh-sungguh, ikut bimbingan belajar yang kompeten (dulu sih gue gak ikutan), dan beli buku2 persiapan UN.

      Soal UN sekarang sesusah2nya gue sih percaya pasti bisa diselesaikan dengan baik. Buktinya sekolah2 yang baik ya tetep aja nilai UNnya bagus-bagus dan anak-anaknya kompeten. Nah itu dia, lulus juga average 5.5 dengan nilai terendah sekitar 4 dari 10 aja udah bisa lulus UN kok!

      Delete
    2. oh nilai average 5.5 udah lulus? trus nilai terendah 4 masih lulus? lah kalo gitu ngapain lebay bener yah wakakak... aduh biar kata gak bakat di satu bidang setidaknya berusalah! daripada sibuk mengutuki un lebih baik waktunya dipake buat belajar di bidang yang kurang dikuasai ya gak sih..

      Delete
    3. Emang. Menurut gue sih syarat kelulusannya udah lumayan minim. Makanya gue bingung kok yg protes sampe gila2an begitu.

      Delete
  15. Gue setuju dengan adanya benchmark kelulusan, baik itu melewati UN atau ada cara lain (entahlah?). Dimana-mana juga harus ada sesuatu yang menjadi tolok ukur kemampuan seseorang.

    Cuma gue merasa yang kontra dengan UN ini pada cemen sih. Dulu gue juga melewati UN kok, malah pas jaman gue, kalo gagal di salah satu mata pelajaran udah otomatis nggak lulus, meskipun nilai yang lain 100. Takut? Ya pasti lah. Gue juga nggak pinter di semua mata pelajaran, in fact I suck at MAFIA. Cuma gue bisa melewatinya dengan baik-baik saja. So what changes now?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue percaya kok kalau sekolah ngikutin kurikulum dengan bener, lalu murid2 belajar dengan sungguh2, mestinya bisa lewati UN dengan tenang dan baik2 saja. Yang berubah itu mental manusianya. Kayaknya kebanyakan main socmed, kerjaannya chatting, update status, selfie, dan ngepoin orang instead of studying hahaha.

      Delete
  16. Tulisanya bagus dan ngasih pandangan baru Mbak, karena selama ini gaung Tolak UN memang cukup kencang. UN itu sebenarnya cuma ujung dari segala permasalahan yang terjadi. Kalau cuma potong ujungnya doang tapi pankalnya nggak dibenerin ya tetap akan ada lagi masalahnya.

    Standarisasi pasti perlu, kalau nggak gimana anak mau mengukur hasil belajarnya. Tapi mungkin kita harus mundur ke belakang... apa sih yang dipelajari? penting nggak dipelajari semuanya? atau gimana elaborasi bahan-bahan ajar itu supaya mudah cerna dan bermanfaat untuk kehidupan siswa? guru-guru yang mengajar udah kompeten belum? jangan-jangan cuma megang sertifikasi aja tapi cara ngajarnya nggak beda? setelah itu baru evaluasi UN-nya.

    Tanpa mengurangi rasa hormat pada guru-guruku, rata-rata dari mereka terutama yang berusia lanjut susah untuk update metode dan bahan ajar. Ada yang plek-plekan cuma baca dan ngambil soal dari buku pelajaran. Aish... Dan walaupun bisa lulus UN dengan nilai cukup baik, tetep ajah banyak yang nggak nyantel di kepala saya kalau mau diulang lagi dan saya nggak tau ini gunanya buat apaan... hehe. Beda dengan pelajaran-pelajaran yang memang saya suka, klasifikasi binatang aja bisa dibikin dongeng buat nemenin anak sebelum tidur. hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Dahlia sama komenmu. Kadang yang bikin repot juga adalah guru2 model lama yang sukanya dr teks pindah ke papan. Tapi bukan berarti guru2 yang tua itu selalu begitu loh. Banyak guru2 tua yang asik banget ngajarnya. Tapi banyak jg guru2 muda yang males yang tipe copas dr textbook ke ppt. Lalu di kelas cuma ngebaca doang tanpa ngasih contoh. Palingan muridnya pada zzzzz semua hahaha.

      Makanya nih, kalo kurikulum 2013 pelaksanaannya baik, sebenernya udah jauh lbh bagus drpd kurikulum sebelumnya. Yang penting pemerintah kita konsisten untuk memberikan training dan evaluasi.

      Delete
  17. Hi Leony, salam kenal ya :) Ikut urun komentar ya, dari satu praktisi pendidikan ke praktisi pendidikan lain :)

    Pertama tentang ujian. Aku antara setuju dan nggak setuju masalah ujian. Setuju untuk masa-masa pra-dewasa (ciee bahasanya hehe) i.e sampai lulus SMA dan/atau S1, karena biasanya usia mental masih muda kalau nggak ada imbalan/hukuman (imbalan misal nilai bagus: naik kelas, hukuman misal nilai jelek ga naik kelas/ujian ulangan), bakal susah buat murid-murid untuk punya motivasi sendiri buat belajar (namapun masih anak muda, tau sendirilah haha). Tapi, untuk paska sarjana, aku nggak setuju sama ujian standard (ujian tulis tentang topik tertentu, UAS, Mid term, etc) diluar presentasi/pembahasan kasus/uji tesis. Buang waktu, karena toh mahasiswa paska sarjana biasanya udah punya motivasi sendiri. Aku ngajar sekarang kebanyakan paska sarjana, dan cuma 1-2 mahasiswa pra-sarjana, dan karena selama 3 tahun sebelumnya terbiasanya ngajar paska sarjana tanpa ujian, begitu pindah ke sistem yang masih nerapin ujian, terasa banget betapa buang waktunya ujian2 midterm ini (dimana mahasiswa gue pasti pada setuju berat hahahahah). Kesimpulannya, ujian harusnya ada tujuannya, bukan cuma sekedar rutinitas, dan aku paling anti sama bank soal (soal pilihan ganda dari kapan tau yang diulang2), memang berat buat pengajar untuk bikin soal tiap kali mau ujian, tapi kembali lagi ke motivasi masing2 jadi pendidik, kan, mau mendidik, bukan cuma meluluskan murid.
    Masalah UN, aku agak tebelah. Di satu pihak setuju BANGET adanya standardisasi, dan ini harus jadi standard mutu sekolah-sekolah itu dan juga untuk jenjang sekolah sesudahnya untuk seleksi awal (cuma salah satu seleksi lho ya, bukan satu2nya penentu penerimaan/kelulusan) penerimaan murid. Di lain pihak, kembali ke tujuan itu lagi. Kenapa sih, kita harus kasih UN? Jangan jadi rutinitas. Mungkin ini yang bikin orang2 anti UN khawatir, rutinitas bakal bikin si anak jadi kayak batu bata. Salahnya, aku setuju yang Leony bilang, yang salah sistemnya, bukan UN nya. Nggak gampang sih, bikin soal yang betul2 memenuhi tujuan UN, tapi kembali ke komitmen tadi, Departemen Pendidikan ada kan motivasinya buat bikin anak2 Indonesia lebih cerdas kan?
    Sori kepanjangan hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau sudah pendidikan level tinggi, menurut gue depends juga pada jenis pascasarjananya, dia tipe yang lebih teori, atau lebih yang ke arah research. Kalau arah research sih menurut gue konyol juga kalau ada ujian standardisasi haha. Wong dia misalnya S2-nya bantuin professornya nguprek2, menurut gue memang professornya sendiri yang harus nentuin dia layak atau ngga.

      Rutinitas UN maksudnya apaan ya Ivo? Maksudnya sebaiknya jangan setahun sekali? UN itu malah 3 tahun sekali kan buat siswa bersangkutan?Jadi gak bisa dibilang rutin. Kalau soal kelulusan, setauku UN itu 40% dari total penentu kelulusan. Tetapi ya harus lulus juga dong, soalnya minimal banget syarat kelulusan UN tersebut (average 5.5, minimum subject score 4 kalau gak salah). Masih ada lagi ujian sekolah teori dan praktikal. Gue sih yakin kalau pemerintah sebenernya peduli, dan soal-soal itu katanya sih mengalami kualitas perbaikan. Tapi kalau soal diperbaiki mutunya, ada yang protes lagi terlalu susah lahhhh... Kayaknya orang Indonesia ini memang hobi protes kalau yang demi perbaikan hahaha.

      Delete
  18. Dulu gw sempet mikir ada yang salah mungkin sama UN-nya *pas masih sekolah* kok bisa di TV" menayangkan yang juara kelas sampe gak lulus? Di sekolah gw sendiri jaman" berapa tahun diatas gw juga ada yang pinter tapi gak lulus?? Nah, gw sempet mikir ini apa ad yang salah sama pemeriksaan soalnya? atau orangnya yang grogi sampe jadi odong pas ujian??
    Setelah gw lulus sma sendiri, gw ngerasa omongan cici banyak benernya dibandingkan si Bokek itu.. Kalau gw ngelihatnya anak" sekarang itu lebih ngegampangin ujian/sekolah yah.. Secara kegiatan di Mall dan main gadget nya lebih banyak dan udah pasti belajarnya jadi jarang lah...
    Yah, dan seharusnya kita yang berusaha dengan belajar soal" dll, dibantu juga sama guru"nya yang gak bosen"nya cekokin soal dan pastinya punya temen" yang punya semangat buat usaha dan sukses UN, bukan sukses beli jawaban pas UN.. :p...
    Eh tetapi dd gw protes sama UN skrg, dia bilang kasian sampe ada 20an paket soal, lalu gw bilang loh kalau lu belajar mau lu 1 kelas soalnya beda" lu bisa kerjain sendiri donk?? *yah maksd tersembunyi dia yah gak bisa nyontek* =.= Beruntung gw punya temen" yang keras jaman itu, ngajak nyontek?? bisa dimusuhin... ckckckck... soalnya mereka capek" belajar dan lu gangguin dia pas ngerjain soal dengan minta jawaban?? apes" dia bisa dipergokin sama pengawas?? ckckckck..... mana mau kalau temen gw yah... Panjang lebar banget gw ciii :p...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaa... iya tuh, banyak yang stress paket soalnya isi 20, jadi soalnya dibeda-bedain urutannya, mestinya mah gak usah bingung kali. Nyontek juga buat apaan sih, kalo jawaban temennya salah, bareng deh salah semua huahahahah...

      Kalau masalah mekanisme yang jebot, ya apa mau dikata, negara ini kelewat oportunis kalau hal-hal yang negatif. Orang dalem aja bisa ikut berperan untuk menyebarnya kunci2 jawaban. Ya kita sama2 berdoa aja semoga mental bangsa ini pelan2 bisa diubah, bisa punya prioritas yang baik terutama dalam belajar.

      Delete
  19. Halo, Leony, salam kenal :)

    Setuju sekali dengan semua poin di atas! Nggak bermaksud menyamaratakan, tapi gue mengamini pernyataan bahwa anak2 sekarang entah kenapa semangat juangnya kurang sekeras zaman gue dulu. Gue juga guru SMP dan selama persiapan UN nggak habis2nya memotivasi anak2 untuk lebih mau berusaha, bukan cuma cari gampangnya aja. ya masih ada sih satu dua anak yang memang sulit mengejar teman2nya. tapi terus gue berusaha yakinkan mereka kalau UN ini adalah titik awal untuk episode2 kehidupan mereka berikutnya dalam meraih cita2. mau jadi pilot, dokter, akuntan, psikolog, dll nggak akan tercapai kalau mereka nggak lewatin UN.

    itu pun menurut gue, kelulusan sekarang masih jauuuuhhh lebih ringan daripada 11 tahun lalu, yaitu 60% nilai UN, 40% nilai sekolah. Artinya anak2 yang diprediksi kesulitan pada UN bisa memaksimalkan nilai sekolahnya. 11 tahun lalu kelulusan hanya berpatokan pada nilai UN murni kan.

    menurut gue, 20 paket soal itu sebetulnya malah membantu dari segi keamanan soal dan mengurangi peluang untuk nyontek (meski ada juga yang bisa nyontek, ga tau gimana caranya, kadang anak lebih pinter urusan ini daripada gurunya). terus peran media yang terlalu mem-blow up isu UN ini yang sebetulnya bikin anak2 stres (dan gurunya juga!). sampai 11 tahun lalu, setiap UN ya biasa aja, nggak perlu dibuat heboh pakai ritual macem2, cukup doa bersama, dan mempersiapkan diri baik2. kadang opini masyarakat itu mudah terbentuk oleh media yang kurang mengupas sesuatu dari berbagai sisi, seperti halnya UN ini. Bagaimanapun juga, UN kan sebetulnya sudah ada sejak dulu, dari masih bernama EBTANAS, lha kok baru dipermasalahkan sekarang? Buktinya, kita semua yang sudah pernah melewati UN tetap baik2 saja dan bisa berprestasi di bidang masing2. jadi, kenapa mesti dibikin heboh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibikin heboh soalnya ada beberapa biangnya yang bikin heboh, dan biang itu di blow up abis-abis sama media, dan mereka adalah orang-orang yang aktif di socmed. Anak-anak muda kita jaman sekarang kan lebih banyak nangkringin socmed daripada belajar. Jadilah begitu.

      Mana ada sih jaman dulu mau EBTANAS kudu minta wangsit, nyuci kaki ibu, bertapa dan lain-lain. Lebay banget emang anak-anak jaman sekarang. Belum lagi hasilnya keluar aja udah ada yang committed suicide. Masyaampun, kebanyakan sinetron kali ye.

      Btw, untuk mekanismenya sendiri, gue masih ngerasa gak asik deh. Ada murid yang jelas-jelas UN cuma dapet 2, tapi gara-gara dikatrol sama nilai (modifikasi) sekolah yang dapet 7 ke atas, averagenya jadi 4 dan lulus dong! CAPE DEH! Makanya kok mendingan angka kelulusan majoritynya dari UN deh daripada pake nilai sekolah yang bisa dimodifikasi gak jelas.

      Delete
  20. Ngomongin UN jadi inget temen gw yg stress karne anak nya UN. Sejujurnya dia bilang ke kita2 "Gw biarin anak gw jadi apa aja, mau UN jelek atau bagus silahkan yg penting hidup nya bener. Pokok nya gw kasih kebebasan mau milih apa aja yg penting bener. nilai sekolah ngak jaminan bakal sukses"
    Gw salut banget cara ngedidik dia thd anak nya, bener2 omongan nya di terapin ke anak nya TAPI ..... saat anaknya UN tenyata dia stress juga kepikiran hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah gitulah.. ortu kadang2 suka idealis... kesannya UN kagak penting, tapi benernya mules juga pas anaknya ikut UN hihihihi...

      Delete
  21. setuju banget ama tulisan ini Leony, bingung juga jaman dulu perasaan kalo Ebtanas atau UN perasaan santai-santai aja, deg-degan sih tapi ya gitu ga perlu ampe minta wangsit kan asal persiapan kita bener dan ga dadakan amat harusnya bisa lah lulus UN
    kalo kata ortu yg kebetulan guru mungkin gara kurikulum nya ganti-ganti mulu makanya banyak yang jadi bingung dan mungkin ini yang bikin stress. Belum lagi pengaruh media yang suka membesar-besarkan soal UN ini. oh iya satu lagi hobi membandingkan ama pendidikan di luar yang kayaknya ga ada ujian tipe UN gini padahal kayaknya tiap negara ada deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, semua negara ada kok. Universitas2 yang terkemuka juga pasti minta hasil UN atau SAT. Kalau cuma berdasarkan rapor sementara komparasinya tidak punya standar, nanti kalau kuliah megap2 gimana? Memang ada2 aja deh.

      Delete
  22. Hallo salam kenal, setuju banget dengan pendapat kamu.
    Di China sono, kalo ga pinter ga bisa kuliah, di Singapore juga. Kalo ga pinter bisanya masuk ke poli, bukan univ. Nah bisa diliat mereka progress kemajuannya cukup bagus. Itu univ di China biasa buka sampe malem, dengan murid2 didalemnya sedang belajar.....tanpa dosen. Mereka duduk dan belajar sendiri di ruangan kelas. Nah kalo disini UN aja ditakutin......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di Singapore lebih sadis lagi ya. Kalau dr kecil udah ngga rajin sekolahnya dan ga lulus, yang terbuka itu jalur masuk Poli haha. Dulu aku di kampus juga hampir semua gedung buka 24 jam dan kita belajar sendiri. Library penuh krn hampir semua orang memang niat sekolah. Kl anak2 sekarang banyak yg mentalnya lemah buanget.

      Delete