Friday, December 26, 2014

Abigail's Second Birthday Celebration

Kalau mendekati hari Natal, itu artinya mendekati ulang tahun Abigail hihihi. Ya begini indahnya punya anak ulang tahun di Malam Natal, artinya ada alasan ekstra untuk bisa kumpul-kumpul keluarga. Kali ini, karena sudah ulang tahun kedua, perayaannya dilakukan sederhana dengan makan siang bersama keluarga kecil, pas hari H alias tanggal 24 December 2014 kemarin, supaya pada malamnya semua bisa melaksanakan ibadah di gereja masing-masing.

Saturday, December 13, 2014

Alat Tipu-Tipu

Belum lama ini, ada berita yang menurut saya sangat menggelitik, yaitu cerita seorang laki-laki bernama Mark Anthony Perez yang bunuh diri lompat dari lantai 4 sebuah mall, gara-gara shock berat melihat wajah asli wanita idaman yang selama ini dia temui di Facebook dan Twitter, ternyata berbeda total dari aslinya. Padahal mereka udah LDR-an selama 4 bulan loh. Kalau ngga percaya, bisa dibaca di sini. Sedih ya? Ternyata si cewek ini, populer sekali di kalangan social media, karena foto-fotonya menarik, cantik banget, dan katanya sampai bisa dapet begitu banyak 'likes' setiap kali dia posting foto. Gimana sih Mark nggak kepincut ya? Karena penasaran, saya jadi googling lagi, sebenarnya bagaimana sih bentuk ceweknya saat di socmed dan bentuk aslinya yang sampai bikin si Mark bunuh diri. Ternyata....

Friday, December 05, 2014

Segalon Air Bocor

Postingan ini bakalan jadi postingan yang sebenernya rada gak penting, karena dipengaruhi oleh PMS (alias bawaan kepingin marah), tapi kalau dipikir-pikir, isinya bakalan juga mempengaruhi khalayak luas terutama dari dunia retail *asli, ini mulai lebay banget bahasanya*. Maklum udah lumayan lama saya ngga posting hal-hal acak yang kadang bikin keki.

Di daerah tempat saya tinggal ini, banyak banget bertebaran toko-toko retail Alf*mart dan Ind*maret. Kalau dihitung, pada jarak 200 meter aja, kayaknya ada 4 cabang, dan yang terdekat si Alf*mart itu malah beneran tinggal ngesot. Di dekat si Alf*mart itu ada toko kelontong, sebut saja toko Harum (padahal namanya bukan ini), menjadi satu-satunya toko kelontong sejenis yang terdekat, dan sudah menjadi tempat saya membeli gas dan air mineral galonan dari sejak lama, bahkan sebelum toko-toko macam Alf*mart dan Ind*maret itu berada. 

Saturday, November 29, 2014

Abby Tamasya Ke Kuala Lumpur - Anniversary Trip

Peringatan: Postingan kali ini isi fotonya banyak banget, jadi kalau internetnya lemot atau ngeri kemakan kuotanya, mending nunggu sampai dapet (free) wifi yang kenceng (ini ala fakir wifi banget deh ah hahaha).

Bertemu lagi dalam seri Abby Tamasya! Halah... sejak kapan ada serialnya hahaha. Masih pada ingat kan di post yang lalu, kalau Papa dan Mama Abby short honeymoon-nya ke Langkawi tepat sehabis resepsi dulu. Nah karena kali ini ulang tahun pernikahan kami yang ke-3, kami ingin mengajak Abby jalan-jalan juga sekalian mengenang masa lalu....(padahal masa lalu dari mana coba? Baru juga tiga tahun hahaha). Trip ini juga tidak direncanakan jauh-jauh hari, alias dadakan aja. Rasa iseng melanda sehabis ngubek-ngubek foto lama di Langkawi. Berhubung papa Abby cuma bisa cuti sebentar, jadilah kita berangkat tanggal hari Jumat dan pulang hari Minggu dan kali ini kita cuma ke Kuala Lumpur saja. Kalau ke Langkawi mah butuh 5 hari baru puas.

Tuesday, November 25, 2014

Tiga Tahun Bersamamu

Tiga tahun berlalu sejak kita menikah, rasanya masih sama apa sudah beda? Kalau dijawab masih sama, saya kok yakin gak mungkin ya. Pasti rasanya udah beda. Bedanya apa? Saya merasa cintanya jauh lebih dalam, bukan cuma dari perkataan dan perbuatan yang kelihatan, tetapi lebih kepada perasaan yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Saya dan suami bukan tipe orang yang suka mengumbar-ngumbar kemesraan, apalagi yang namanya PDA (Personal Display of Affection) di social media, dengan bilang I love you ataupun kirim-kiriman perkataan cinta, atau pasang foto mesra. Kita berdua adalah pasangan yang sangat logical, dan buat suami saya untuk jadi orang yang romantis, saya tau banget usaha dia seperti apa. Saya sendiri juga sama, nggak bisa nulis kata-kata mesra. Buat saya hal yang romantis itu adalah saat saya masak, dan suami saya bilang masakannya enak, sampai dia nambah. Sederhana dan cetek banget. Tapi itu menghangatkan.

Monday, November 17, 2014

Bulan Madu Yang Sudah (3 Tahun) Berlalu

Beberapa hari lagi, saya dan suami sudah resmi menikah selama tiga tahun. Buat beberapa orang, itu singkat banget, apalagi melihat pasangan yang sudah menikah di atas 30 tahun. Buat kami gimana? Singkat juga! Nggak berasa, apalagi sejak ada si Abby, waktu kok ngebut banget berlalunya (plus badan ngerentek). Jadi di minggu yang penuh cinta ini, saya mau berbagi kisah seminggu pertama kita setelah jadi suami istri di tiga tahun lalu yang sebelumnya belum pernah saya bagikan. Sebenarnya sih sudah ada clue sedikit waktu kita dulu short honeymoon pergi kemana, tapi sekarang dijembrengin dikit deh ya hahaha. Reminiscence masa-masa di mana saya masih lebih singset dari sekarang (padahal mah badan sterek juga), dan kembali melihat tampang muda-mudi yang sekarang sudah jadi papa dan mama.

Here we go....

Monday, November 10, 2014

Abby Jalan-jalan Ke Kebun Raya Bogor

Tadinya mau masukin edisi "Abby Tamasya", tapi kok cuma sebentar ke Kebun Raya aja dan nggak pakai nginep, jadi itungnya jalan-jalan aja deh hihihi. Jadi ini masih sambungan dari solusi atas kasus horor di bulan lalu, minggu lalu tanggal 2 November 2014, kami sekeluarga untuk lanjut "terapi" Abby dengan membawa dia jalan-jalan ke daerah hijau nan luas, dan kita memilih ke Kebun Raya Bogor yang lokasinya cukup dekat dari Jakarta.

Saturday, November 01, 2014

Horror Story of The Month

Berhubung hari ini bertepatan dengan Halloween, saya mau kasih satu cerita yang lumayan horor, dan kali ini, khusus banget untuk para emak-emak, yaitu: ANAK NGGA MAU MAKAN! Horornya dan sedihnya itu melebihi dari habis nonton film serem dan nangis-nangis nonton Drama Korea. (Eh yang blakangan itu bayangan belaka, soalnya saya gak nonton Dra-Kor hahaha).

Wednesday, October 22, 2014

Make It Personal, Different, But Not Tacky ~ Another Post for Bridezilla

Selamat ya rakyat Indonesia, untuk Presiden barunya, Pak Joko Widodo dan wakil presiden barunya, Pak Jusuf Kalla. Dan di bulan penuh BER-BER-BER alias musim kawinan ini, semoga Presiden dan Wakil Presiden baru kita juga banyak diberikan BERkah oleh Tuhan, sehingga menjadi BERkat untuk bisa membawa rakyat Indonesia menjadi BERsatu, BERdaulat, adil dan makmur.

Tau nggak sih kenapa Pak Jokowi dianggap sebagai angin segar di dunia politik Indonesia bahkan di dunia? Karena, Pak Presiden kita yang satu ini mirip sama judul saya di atas, yaitu PERSONAL (alias pendekatannya sangat membumi terhadap orang-orang di sekitarnya, sangat pribadi), DIFFERENT (berbeda dari presiden yang kita punyai selama ini, sehingga kita sampai dibuat terpana dan mengingat gerak-geriknya), tapi NOT TACKY (tacky = bad taste, alias selera jelek. Semua pilihan Pak Jokowi dilakukan secara seksama serta mempunyai alasan tersendiri yang justru membuat kita kagum).

Nah, event lima tahunan sekali aja, Pak Jokowi kepingin bikin yang sangat berkesan untuk rakyatnya. Apalagi kalau para pengantin ingin nyiapin acara yang cuma sekali seumur hidup, alias kawinan, saya yakin seyakin-yakinnya, kalau semua orang kepingin acara nikahannya berkesan. Masih nyambung dengan postingan saya minggu lalu soal milih-milih vendor dan perkenalan saya dengan Bridestory, saya kepingin banget berbagi cerita soal pilihan-pilihan kecil yang saya buat saat saya menikah dulu, yang saya usahakan banget supaya memenuhi prinsip Personal, Different, and Not Tacky yang saya kemukakan di atas. Dan yang terpenting, sebenernya untuk memenuhi prinsip di atas, tidak membutuhkan biaya extra loh, melainkan melakukan pilihan yang tepat. Tapi kalau menurut para pembaca di sini, saya masih kelewat general, dan similar sama yang lain, plus tetep tacky, maafkanlaaahhhh.... (pake nada lagu Inul Daratista-Goyang Inul).

1. Cincin Pernikahan

Waktu jaman saya menikah dulu, yang lagi ngetrend adalah, cincin nikah bermerek terkenal (macam C*rtier atau B*lgari) atau cincin dengan mata berlian. Kalau duitnya extra, kata "atau" tadi ditukar dengan kata "dan" hihihi. Saya sendiri sempat mampir ke Plaza Indonesia di mana cincin bermerek tersebut di jual, tetapi pada akhirnya merasa, kok jadi mirip-mirip dengan orang lain dan terasa seperti beli merek. Padahal cincin ini kan dipakai seumur hidup. Kalau datang ke toko perhiasan, rata-rata ditawari cincin bermata. Baik yang permatanya kicik2 asal ada kilap, sampai yang permatanya besar. Kemudian saya dan suami mikir, dulu orang tua kita memakai cincin nikah itu rata-rata simpel dan mulus. Tetapi kalau kita bikin yang super polos juga nggak seru. Akhirnya kita sepakat bikin dengan bahan polos sama seperti cincin nikahan orang tua kita, tapi pakai emas putih, dengan grafir nama di luar, mirip-mirip cincinnya Lord Of The Rings, tapi tulisannya adalah nama dan tanggal pernikahan kita. Nunggunya memang lama sampai 5 bulan lebih karena digrafir bukan di Indonesia, tapi kita puas sama hasilnya, dan surprisingly, lebih murah daripada budget planning kita! IHIY! 

Nah, keliatan ya tanggalnya. Gak berasa udah mau tiga tahun aja kita nikah

2. Buku Misa

Kalau bikin buku panduan misa (untuk yang Katolik), biasanya itu bukunya disusun oleh pengantin, lalu isinya difotokopi, dan dikasih cover cantik yang dipesan di tukang undangan. Rata-rata lagu hanya diketik terkadang ada liriknya, terkadang tidak ada liriknya, dan rata-rata lagu-lagunya sering memakai lagu-lagu sekuler (alias sebenarnya  lagu pop, tetapi dipakai di gereja). Jujur saya agak prihatin sih, kok bisa-bisanya di gereja entrancenya pakai lagu soundtrack Twilight. Untuk pernikahan saya waktu itu, saya benar-benar memilih lagu yang sudah disetujui oleh gereja Katolik (gabungan antara Puji Syukur dari Indonesia dan Gather Book dari Amerika) supaya kesakralan tetap terjaga. Kemudian untuk lagu yang berbahasa Inggris, saya tuliskan terjemahan dari lagu tersebut, supaya umat bisa membaca apa maksud dari lagu tersebut dan menyadari keindahan dari kata-katanya, bukan hanya sekedar indah didengar. Sebagai pencinta musik dan lirik, saya sungguh menghargai karya besar para composer, jadi tidak lupa juga saya cantumkan nama composer dan arranger-nya. Lebay ya? Biarin deh! Tapi hati puas. Daaannn seluruh lembarannya gak pakai fotokopi, melainkan dicetak off-set printing, pakai tinta warna ungu tua! Huahahahaha....

3. Mobil Pernikahan

Sudah sejak lama saya mengidamkan naik mobil pengantin warna merah. Orang tua saya pas menikah di tahun 1981 dulu memakai Mercedes Tiger warna merah cabe. Kalau orang Tionghoa bilang, warna merah itu melambangkan prosperity and happiness, dan kepinginnya, mobilnya antik, Kalau perlu di Jakarta cuma ada satu-satunya! Pertama kita dapat mobil Chevrolet Bel Air tahun 1957 convertible berwarna merah, dan hati sudah seneng banget, sampai kira-kira sebulan sebelum nikah, mendadak ownernya telepon saya, kalau mobil tersebut ditawar oleh seorang Jendral, dan dia tak kuasa menolak. Metong deh, apa kita mesti ngulang lagi car hunting dari awal? Eh dasar rejeki nggak kemana, ownernya bilang, beliau akan ganti dengan mobil kesayangannya dia, yang selama ini belum pernah disewakan ke orang lain.... dan mobilnya ternyata warnanya merah hati! We finally had the red car! Ayo, di Jakarta ada lagi nggak selain yang ini? 

1940 Ford Deluxe di depan hotel pas suami mau brangkat jemput saya. Sangar gak?
4. Souvenir

Kalau kita milih souvenir, menurut saya cuma satu kuncinya. Golden rules. Tanyakan pada dirimu sendiri, apakah kamu akan senang menerima souvenir tersebut jika kamu datang ke nikahan orang lain. Walaupun buat beberapa orang souvenir mungkin tidak terlalu penting, tetapi itu adalah salah satu hal yang akan dibawa pulang sebagai pengingat kalau kamu menghargai kedatangan tamu tersebut (selain tentunya konsumsi yang melimpah ruah, bakalan diingat terus. Kalau konsumsi kurang, apalagi diingetnya double hahahaha). Cerita soal souvenir saya, bisa dilihat di sini. Dan sampai saat ini, banyak yang udah jadiin kainnya itu baju atau rok. Plus kalau ada teman yang habis melahirkan, surprisingly pas saya nengok beberapa ada yang pakai sarungnya. Jadi berasa seneng juga!

5. Prosesi Masuk Resepsi

Kalau soal ini, saya bukan cuma mau ngomong soal gimana cara kita masuknya, tetapi juga soal pemilihan lagunya. Kalau bisa nih, saran aja, pilih lagu jangan karena lagu tersebut terdengar keren atau grand semata, atau ikut-ikutan yang lagi  ngetrend saat itu, contohnya "I Finally Found Someone" (a.k.a "THIS IS IT... OHHH.." song) atau "A Thousand Years" yang udah saya denger (ibaratnya) a thousand times. Pilihlah lagu yang benar-benar berkesan untuk kita dan pasangan kita, serta kita berdua secara tulus suka dengan lagu tersebut. Untuk prosesi masuk wedding kami, kami milih lagu yang bener-bener sesuai dengan apa yang dirasain dalam masa pacaran kita, yaitu bahwa kita berdua ini memang "Accidentally in Love", alias ngga sengaja jatuh cinta. Makanya lagu Counting Crows tersebut kita pilih jadi entrance song kita, dimainkan secara live (alias gedumbrengan) oleh band, untuk mengiringi bridesmaids, groomsmen, dan pasangan pengantin tak tahu malu berjoged goyang gergaji dan goyang kayang... TARIK MANGGG!

Habis ini gayanya lebih parah.... ini baru permulaan. Bener deh, ga boong!
Dan setelah entrance yang ajaib (dan agak tak terkendali itu), tamu-tamu malah jadi penasaran apa acara selanjutnya...

6. Nyanyi Bareng

Walaupun suara saya kayak comberan, dan suara suami suka false, tapi kami lumayan hobi menyanyi. Masih inget waktu dia pertama kali ngajak saya karaoke, dia nyanyi lagu "Can You Feel The Love Tonight"-nya Elton John, tapi hampir gak ada nada yang pas huahahaha *buka aib*. Malam itu, kami juga pingin menghibur tamu-tamu yang sudah menyempatkan diri hadir ke resepsi kami. Kedua mempelai nyanyi mah udah biasa dong ya? Tapi kalo mempelainya duet nyanyi lagu NAIF? Siapa yang nyangka di kawinan Leony, dia nyanyinya lagu Naif? Saya mah yakin penonton mikir saya bakalan nyanyi lagu Celine Dion atau Mariah Carey! *halah, kayak nyampe aja, Non* Nah lagi-lagi balik ke pemilihan lagu yang bener-bener personal dan ngena banget di kita, sehingga kita nyaman banget pas nyanyi walaupun kita bukan penyanyi professional. Siapa yang nyangka ternyata lagu Naif ini romantis banget. 

Karena Kamu Cuma Satu - Naif

Kau yang paling setia, kau yang teristimewa
Kau yang aku cinta, cuma engkau saja

Dari semua pria, aku yang juara
Dari semua wanita, kau yang paling sejiwa

Denganmu semua air mata, menjadi tawa sukaria
Akankah kau selalu ada, menemani dalam suka duka
Denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
Janganlah kau berpaling dariku, kar'na kamu cuma satu... untukku

Kau satu-satunya, dan tak ada dua 
Apalagi tiga, cuma engkau saja

Denganmu semua air mata, menjadi tawa sukaria
Akankah kau selalu ada, menemani dalam suka duka
Denganmu aku bahagia, denganmu semua ceria
Janganlah kau berpaling dariku, kar'na kamu cuma satu... untukku

Suwer deh... kamu cuma satu untukku! CIYUS!
7. First Dance

Lemme tell you guys and girls... first dance ini bukanlah acara wajib cuma supaya keliatan keren pas di foto. Saya tuh udah sampe cape ngeliat pengantin first dance cuma biar keliatan gaya ada dancenya, karena.... anda akan keliatan kaku kayak robot! Namanya aja first dance, jadi first dance itu adalah pembuka untuk second dance, third dance, dan seterusnya sampe tepar... Jadi jangan cuma dijadiin formalitas aja. Menurut saya, jadinya kurang asik dan kurang sincere. Seringkali sehabis first dance kaku tersebut, pengantin balik ke pelaminan...and that's it. Malah masih ada acara salam-salaman dan foto-foto, and the dance itself never came back. *padahal seringkali saya gatel pengen goyang kaki karena bandnya bagus*. First dance saya saat itu, yang nyanyi adalah adik saya. Lagunya "Cinta Terakhir" dari Ari Lasso. Dari dulu adik saya semangat banget, pokoknya cici nikah, dia mo nyanyi lagu itu. Kita enjoy banget dancenya, lumayan santai, walaupun kita berdua bukan penari. Ngaco-ngaco koreo jadi ngga gitu keliatan. Setelah itu, baru dilanjutkan dengan acara seseruan yang gak ada seriusnya.

Yang ini namanya gaya sweetheart, cocok buat mesra-mesraan  ngeliat bulan di langit
8. Lempar Bunga dan Garter Belt

Satu lagi tradisi yang saya agak bingung dari orang Indonesia adalah, adanya bagi-bagi hadiah di saat kawinan. Sebenarnya, tradisi awalnya itu adalah lempar bunga. Konon yang dapat bunganya bisa enteng jodoh. Dapet bunga aja udah syukur alhamdullilah, eh ini masih ditambah hadiah lagi. Lebih ekstrim lagi, buketnya dari duit! Ckckckck... Yang lebih anehnya, lempar bunga itu mestinya khusus untuk wanita-wanita lajang loh, dan maksudnya supaya enteng jodoh! Laki-laki nggak termasuk. Tetapi di Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya rebutan bunga, sehingga rata-rata yang dapat tuh laki-laki karena loncat dari jauh, pakai gaya American Football/ Rugby, sambil nyeruduk orang demi sebuket bunga (dan tentunya sejumlah hadiah). Belum lagi, ada juga yang bagi-bagi boneka, lalu yang dapet malah dikerjain di panggung sama MC-nya. Jadi esensi dari tradisi tersebut hilang begitu saja. Di nikahan saya sendiri, saya bagi dua crowdnya. Untuk yang wanita lajang, ikutan lempar bunga, dan untuk yang laki-laki lajang ikutan lempar garter belt. This is a tradition, if we wanna do it, do it right! Jangan cuma gara-gara mau kasih hadiah/ doorprize, kita jadi seenaknya. Justru gara-gara saya ngikutin tradisi aslinya, malah jadi kelihatan beda. Bingung kan? Hahahaha...

Si Abang lagi nyari harta karun buat dilempar ke para pria lajang hwehehehehe
9. After Party

You can have all the alcohol in the world, but making people dance and have fun in your party is another story. Jadi gini ya bapak, ibu, sodara-sodari sekalian, saya sudah beberapa kali diundang ke acara pernikahan yang ada after partynya, dan instead of dancing the night away sambil minum dan seseruan, seringkali yang ada DJ-nya mainin musik sendiri dan dicuekin, orang-orang cuma duduk-duduk aja sambil minum dan ngerokok (hoek) dan begitu bride and groomnya masuk, yang ada mereka muter-muter sambil foto-foto sama temen-temennya sambil toast-toast-an, kemudian diakhiri dengan cekok-cekokan alkohol sampe teler. Nobody actually danced! Kalau ngadain after party jangan cuma karena gengsi atau ikut-ikutan. Hawanya gak dapet! Namanya party, masak isinya cuma cekok-cekokan alkohol sih? Itu dia yang bikin saya lama-lama jadi males ikut after party, soalnya cuma beberapa kali yang bener-bener kita berasa fun, where the fun was not only from the alcohol. Waktu saya dan suami memutuskan untuk mengadakan after party (dan mendapat restu orang tua), kita memutuskan kalau kitalah yang harus menjadi motor dari after party itu sendiri. Kita harus dance, ngajak orang-orang seneng, kalau perlu waktu itu sampai nyeker karena keasyikan dance. Lightingnya mumpuni, jadi orang kebawa asik, sound system juga harus oke (plus ngga ada rokok). Ada yang got drunk? Ya ada, masak gak ada. Tetapi kita semua masih enjoy dan ngga ada tuh yang namanya cekok-cekokan minum. Dan tolak ukur dari after party yang sukses adalah.... 

OM SAYA SENDIRI AJA IKUT JOGED!!! 

Canda euy hihihihi... Maap ya Om :P

Nah, segitu deh kira-kira my Personal, Different, but Not Tacky parts of my wedding. Itu yang saya lagi inget sekarang ya. Intinya sih, nggak masalah ngikutin orang lain, asal jangan karena kamu mau ngikutin orang lain, ujung-ujungnya justru kamu gak jadi dirimu sendiri, dan memaksakan diri. Sebagai contoh, kamu bisa ambil inspirasi banyak sekali dari Bridestory, dan kamu bisa saja naksir vendor ini itu dan kontak langsung ke masing-masing vendor, karena Bridestory bikin nyari vendor jadi lebih mudah. Tetapi untuk menjadikannya spesial, kamu buatlah acaramu itu sesuai dengan kepribadian kamu. Remember, this is not about spending too much money, but making the right decision. Having more options to see and to inspire in Bridestory, will help you and your partner in determining which one that will fit your personality, in the end the decision is yours. Do it wisely.

Monday, October 13, 2014

Untuk Para Bridezilla

Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk para bridezilla, ex-bridezilla, dan semua yang mampir ke sini gara-gara nyari info soal kawinan. Hayo, pada ngacung! Saya tuh ngerasa pembaca di blog saya itu meningkat sejak saya nikah loh, alias sejak posting foto kawinan.

Banyak banget blogger yang jadi punya blog, gara-gara nyiapin kawinan. Katanya biar terkenang-kenang memori pada saat menyiapkan. Tapi yang sering terjadi adalah, kita kelewat kepingin perkawinan yang sempurna luar biasa, nyari-nyari vendor dan deal terbaik sampai kalap, dan ujung-ujungnya, CAPE! Berapa banyak saya liat calon pengantin di luar sana lelah banget saat mempersiapkan acara perkawinan yang cuma satu hari itu. Belum lagi penuh brantem dan drama-drama, yang seringkali justru mengancam kelangsungan hubungan itu sendiri. Dalam hidup saya ini, sudah banyak teman saya yang gagal menikah justru karena banyak selisih paham di saat mempersiapkan pernikahan.

Padahal, persiapan pernikahan itu merupakan hal yang seharusnya paling dinikmati loh. Waktu saya mempersiapkan perkawinan sendiri, saya merasa saat-saat itu nikmatnya minta ampun. Karena apa? Karena kita justru tidak menghabiskan akhir pekan kita yang berharga itu cuma untuk ngurusin vendor pernikahan semata. Kita lebih banyak pacarannya. Bayangin, kalau suami saya yang jemput saya dari Jakarta Barat, ngelewatin macet tol dalam kota ke Jakarta Timur untuk ngejemput saya, dan kita cuma ngurusin wedding vendors, geez, rugi banget. At that moment, there was almost no stressful moment. Ketemu vendor itu, bisa dihitung pakai jari, dan jari satu tangan doang! Sayangnya, ngga terlalu banyak yang mempersiapkan wedding bisa santai. Sering banget denger temen-temen curhat soal keribetan nyari vendor. Bukan cuma cewe yang curhat, cowonya juga curhat kalau cewenya banyak maunya.

Jaman saya mempersiapkan pernikahan itu sampai sekarang pun, kalau mau nyari vendor, cara yang ngetrend masih pameran wedding, dan forum. Dan kalau pembaca blog ini pernah liat posting saya sebelumnya, saya gak suka banget ke pameran wedding dan baca-baca forum yang bikin gila. Di dunia social media yang makin ganas ini, saya yakin orang-orang makin pada bingung untuk melihat banyak opsi yang tersedia. Beberapa waktu lalu, teman saya nulis di status Facebooknya, kalau foto preweddingnya dia (yang kebetulan diambil di Prague) di feature di instagramnya Bridestory, dan kayaknya dia seneng banget. Sebagai orang yang sudah nikah, saya biasanya gak gitu ambil pusing, tapi karena teman sendiri yang mentioned soal web itu, saya jadi tertarik, dan meluncurlah saya ke situ. Pas liat webnya, saya langsung mikir, coba dari dulu ya ada web macem Bridestory ini, jadi kan saya nggak sempet terjebak ke forum wedding yang isinya seringkali cuma banggain vendor sendiri dan jelekin vendor lain, ataupun terjebak di pameran wedding raksasa yang bikin saya nahan pipis gara-gara antrian kamar kecilnya kayak antri sembako.

Coba deh, buat yang belum nikah maupun yang udah nikah, mampir ke sana. Saya sendiri mampir, karena saya penasaran, feature apa sih yang bikin dia beda dari website perkawinan sejenis. Dan jujur nih, feature yang saya paling suka di Bridestory ini adalah adanya opsi milih vendor berdasarkan BUDGET! Berapa banyak coba, orang yang pusing tujuh keliling gara-gara kepentok budget pada saat nyiapin pernikahan. Sementara di Bridestory ini, kita bisa langsung lihat dan sortir. Kalau misalnya tanda $-nya satu artinya terjangkau, $$ artinya sedang, kalau tanda $$$, ya artinya lebih premium harganya. Itu baru satu. Belum lagi, pas buka halaman pertama aja, kita udah bisa dapetin gambar-gambar yang menyejukkan mata dari vendor-vendor yang akan diupdate berkala, dan tinggal di klik aja nama vendornya. 

Buat yang mau nyari inspirasi, dijamin pas buka Bridestory udah bikin kita feel inspired. Sebagai manusia yang sangat terstruktur dan sistematis, saya seneng liat tampilannya, karena kita juga bisa mengklasifikasi langsung berdasarkan jenis vendornya, misalnya mau bridal, catering, fotografi, tinggal di check and uncheck aja untuk mengkategorikan, langsung deh dia sortir otomatis sesuai yang kita mau lihat. Ademmmm...Feature lain yang saya suka adalah, untuk search vendor juga gampang banget, gak usah browsing-browsing sampai tulalit, tinggal masukin nama vendor di sisi kanan atas, terus langsung ada suggested pagenya. Langsung deh kontak sama si vendor, gak usah ribet. Ih enak banget deh! Lucky you buat para calon pengantin jaman sekarang. Itu sih yang menurut saya kepake banget sama saya ya. Saya sih yakin kalau kita ke sana, kita pasti bakal nemuin feature lain yang kita suka.

Kebetulan, beberapa vendor yang saya dulu gunakan juga ada di Bridestory. Nih saya jadi ngoprek foto-foto lama saya deh. Kali-kali bisa kasih inspirasi buat yang lain hihihi.

Yang ini namanya Ko Willy Wahyudi, dari W2 Hair and Make-Up yang ngedandanin saya biar hari itu jadi princess (biasanya preman)

Ini lobby dari lokasi resepsi kita Ritz Carlton, Mega Kuningan

Kalau ini dekorasi kita hasil karya dari Vica Decoration

Last but not least, itu yang nyempil lagi iseng motret kita di dalam lift, Edward dari Edward Suhadi Production
Jadi, buat para calon pengantin, selamat mencari vendor yang sreg di hati. Daripada makin banyak kamu ketemu orang, makin kamu mabok. mendingan liat aja portfolionya di Bridestory, kontak langsung, kalau cocok dengan selera dan harganya, tinggal janjian ketemu sekali dua kali, beres deh!

PS: Di bawah ini adalah analisa sotoy saya kenapa nama websitenya adalah Bridestory.

Yang paling ribet kalau nyiapin kawinan dan sampe udah kelar kawinan masih suka terbayang-bayang sama vendor dan masih suka ngecek-ngecek kawinan orang lain tuh pasti BRIDE-nya. Yang suka ngambek kalau nyiapin kawinan, itu pasti BRIDE-nya. Yang hobinya nawar minta ini ono sama vendor, pasti BRIDE-nya. Bride itu emang paling banyak punya story. Makanya nama websitenya Bridestory. Coba kalau groom, yang penting kalo kondangan: MAKAN! huauhahhaa... Makanya namanya bukan Groomstory kan? Plus, kagak ada tuh Groomzilla.

Bride oh bride....

Monday, October 06, 2014

Rekrut(e)men

Saya yakin banget, di antara anda-anda yang baca ini, pasti pernah ada yang jadi "korban" rekrutmen entahlah produk MLM, Asuransi, atau apapun sejenis itu dari temen sendiri, makanya postingan kali ini saya kasih judul rekrut(e)men.

Tidak pernah dalam hidup saya, saya ingin menjelekkan profesi apapun selama itu adalah profesi yang halal, termasuk juga orang yang bergelut dalam bidang Multi Level Marketing. Entah itu produknya berupa kosmetik dan alat-alat kecantikan, barang-barang kesehatan, atau apapun itu. Begitu pula untuk orang-orang yang bergerak di bidang asuransi. Menurut saya, jadi agen asuransi itu adalah hal yang baik, apalagi anda bisa membantu orang lain, dengan cara yang halal pula. Kalau moneygame, saya angkat tangan, karena menurut saya itu gak halal. 

Yang saya suka keki dari orang-orang yang bergelut di bidang itu adalah, cara-cara mereka merekrut orang yang kadang suka ngeselin! Kalau orang tersebut tidak saya kenal, ya sudah lah ya, kita dengan lebih mudah untuk menolak kalau diajak ketemuan. Tapi kalau orang tersebut adalah orang yang dekat bahkan sahabat kita, itu baru yang kadang agak repot. Seperti yang saya kemukakan sebelumnya di postingan Blunt v. Harsh, kalau di Indonesia kita mau blunt alias terus-terang kalau kita tidak suka dengan cara  mereka mendekati kita, nanti kita malah dibilang harsh. Repot kan? Jadi selama ini, saya berusaha banget untuk meladeni dan "ngikutin" mau mereka dulu. Biarlah mereka keki di akhir, tapi saya nggak kasar nolak mereka dari awal. Biar gimana, mereka ini adalah orang-orang yang dekat dengan saya.

Saya ceritain aja ya beberapa kejadian rekrut(e)men ini, mulai dari yang menyenangkan, sampai yang menyebalkan. Yang ada di sini, yang sudah terpilih aja ya hehehe. Kalau semuanya dijembrengin nanti kebanyakan. Saya anggap saja suatu kehormatan buat saya yang sering dicoba direkrut ini, artinya saya dianggap punya potensi untuk jadi "downline" (ataupun alasan lainnya bisa jadi karena sekarang saya mulai jadi pengangguran). 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Maminya Temen Baik Ngajak Ketemuan

Waktu itu saya baru banget balik ke Indonesia, kemudian saya diajakin ketemuan sama temen saya dan maminya. Ketemuannya di salah satu gedung di daerah Thamrin situ di hari Sabtu pagi. Karena sudah lama nggak ketemu sama teman itu, jadilah saya berniat juga untuk ngobrol dan lepas kangen (sama temen saya ya, bukan sama maminya hahaha). 

Pas sampai sana, tau-tau saya diajakin ke sebuah seminar, daftar, duduk, yang saya nggak tau itu seminar apaan. Mendadak ada pembicaranya berbicara dengan semangat, yang tipenya, "APA KABAR??" Lalu seluruh peserta menjawab dengan teriak, "LUAR BIASA!! YES YES YES!!" Matek dah eike! Apaan sih ini? Ternyata ini seminar isinya adalah rekrutmen buat agen asuransi! Jadi ceritanya, ada beberapa orang bersaksi di situ, kalau dengan ikut asuransi tersebut, hidup mereka yang terpuruk sampai akhirnya bisa travel keliling dunia, beli mobil baru, pendapatan sekian miliar per tahun, dan lain-lain. Bukannya kenapa-napa sih, tapi saya kok berasa kejebak aja diajakin ketemuan temen-tapi akhirnya malah berujung pada kebengongan saya melihat orang-orang semangat teriak YES YES YES!! Totally not my thing at that moment.

Sesudah selesai seminar itu, maminya temen ngajak saya dan beberapa orang ke kantornya, dikasih segepok map mengenai recruitment plan, komisi, dan lain-lain. Saya kaget berat, dan saya bisa melihat kalau temen saya sendiri sebenernya mukanya menunjukkan rasa nggak enak hati. Saya sih tanggepi saja pas maminya ajak ngobrol, tapi jujur ngga ada yang masuk ke otak saat itu. Yang ada bawaannya saya pingin cepet kabur. 

Siang itu, saya lunch bareng sama temen saya. Berdua aja. Di situ dia nanya saya, apakah saya tertarik untuk join? Dia bilang, kalau dia sebagai anak mau nggak mau harus bantu maminya untuk merekrut orang baru. Tetapi di dalam hati kecilnya, kelihatan dia sendiri pun nggak terlalu suka ada di bidang itu. Saya bilang sama dia, kalau itu bukan bakat saya, saya sungguh gak tertarik. Tetapi teman saya ini cukup baik, dia milih mempertahankan persahabatan kita dan tidak mengejar saya lagi soal rekrutmen. Kalau kita ketemuan selanjutnya, dia sama sekali nggak pernah membahas soal itu dan menjadikannya kenangan masa lalu (yang kayaknya bikin dia nggak enak hati juga hehe).

Setahun berikutnya, saya lihat dia sendiri pun melepaskan urusan asuransi, dan membuka apa yang jadi passion dia yaitu e-commerce, dan ternyata sukses besar. Kalau ada yang langganan majalah business SWA, dia sudah masuk beberapa kali sebagai top 10 young entrepreneurs di Indonesia. Di situ saya lihat, kalau memang orang bakatnya bukan di MLM/ Asuransi, biar ortunya agen besar sekalipun, belum tentu mau ngikutin orang tuanya. 

Temen Kantor Punya Istri Yang Pengen Kenalan

Kejadiannya ini saat saya masih ngantor dulu. Saya punya temen baik di kantor. Posisi sudah lumayan tinggi, sudah sukses. Dan saya pun sering ngobrol sama orang ini baik di kantor maupun di luar kantor. Suatu hari, dia bilang istri dia kepingin kenalan sama saya. Saya pikir apa salahnya toh ya. Soalnya dia waktu itu nikah di Bali, jadinya nggak bisa undang semua orang kantor. Jadi kita janjian ketemuan after works, terus katanya mau lanjut dinner. 

Saat jam pulang kantor tiba, saya ketemuan sama istrinya di lobby. Temen saya sendiri katanya masih ada kerjaan di atas, jadinya saya ngobrol-ngobrol aja sama istrinya. Terus saya diajak jalan kaki ke gedung sebelah, dan diajak naik ke lantai atas. Katanya mau ditawarin produk wajah yang bagus banget. Dia nanya saya apa saya bisa tebak umur dia brapa. Ya berhubung saya udah kenal sama suaminya, ya saya tebak aja umur dia sekian. Dan ternyata bener! Gagal deh pancingan, padahal mungkin dia berharap saya nebak umurnya jauh lebih muda HWAHAHAHA... *ketawa ala genderuwo* 

Pas sampai di tempatnya, saya bingung, banyak banget ibu-ibu di situ, terus mereka kasak kusuk dan negur istri temen saya itu. Komennya, "Udah diamond ya? Tas Chanelnya keren banget. Asli ya." Dalam hati saya, habis deh ini, MLM nih kayaknya, mana ada diamond-diamond-an kalau bukan MLM. Setelah itu, saya diajakin untuk test kulit, katanya supaya nanti produknya itu bisa diapply dan langsung bisa dilihat perubahannya. Jadi saya diminta hapus bedak pakai pembersih, supaya gak ketutupan sisa make up. Begitu saya test kulit, dia berharap bakalan ketemu keriput, flek hitam, dan lain-lain, supaya nanti efek produknya langsung keliatan. Apa daya, pas habis test, ternyata hampir gak ada problem ditemukan di kulit saya! Dia sendiri nampak cukup putus asa saat itu. Tapi tetep dong, harus apply produk di sisi kulit sebelahnya, supaya keliatan katanya beda kanan dan kiri. Ternyata lagi, setelah diapply, gak keliatan bedanya sisi kanan sama sisi kiri. CAPEK GAK SIH?

Akhirnya si suami nyusul. Terus si suami bilang gini ke istrinya, "Apa gue bilang, dia mah kulitnya baek-baek aja, gak bisa ditawarin produk. harus ditawarin yang lain." Haduh, mulai makin mencium gelagat gak enak nih saya. Habis gitu, acara dilanjutkan sama dinner, di restoran yang cukup bagus di Jakarta. Mulai deh tuh, baik istri maupun suami, ngerayu saya ikutan dia jualan, dan merekrut banyak orang. Ngomongin keuntungannya sekian-sekian, didukung pula oleh suaminya yang saya tau penghasilannya udah tinggi, dengan bilang, "Lu percaya gak Le, istri gue ini penghasilannya lebih tinggi dari gue." Saya he-eh he-eh aja dah, sambil terus ngeganyem. Maklum laper. Padahal omongannya rada masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. 

Jadilah, malam itu, plan suami istri gagal total. Pertama, jelas saya nggak butuh produknya. dan kedua, jelas saya emang gak tertarik ditawarin jadi agen MLM, walaupun produknya eksklusif. Tapi itung-itung, saya dapet makan gratis deh. Asik! Tapi setelah itu, rasanya kok hubungan kita jadi menjauh dan jarang kontak-kontakan lagi sampai sekarang. Huks!

Sahabat Baik Saya Hampir 20 Tahunan, Kangen Ingin Ketemu

Yang terakhir ini, sebenarnya agak sulit saya ceritakan, karena dia ini adalah kawan baik saya dari masih SMP. Tetapi kenapa saya nekad cerita, karena menurut saya, ada batas antara business dan persahabatan yang garisnya itu sudah memudar yang membuat suasana jadi kurang enak. 

Setelah kawan saya ini menikah di tahun 2007, rumah dia jadi jauh di bilangan Jakarta Barat, sementara saya masih di bilangan Jakarta Timur. Kemudian saat saya mau melahirkan di akhir 2012, saya juga pindah di bilangan Jakarta Barat. Sehabis saya melahirkan, dia kontak saya, katanya mau nengok, karena rumahnya dekat sekarang, dan juga kangen sama saya sudah lama nggak ketemuan. Waktu itu dia akhirnya datang ke rumah saya, sama suami dan anak-anaknya, sekalian nengok. Saya sendiri senang sekali sudah lama nggak bersua sejak resepsi pernikahan saya di 2011. Jadi rasanya kepingin banget catch up. 

Beberapa minggu setelah dia nengok itu, dia kontak saya lagi di Whatsapp. Katanya kangen mau lihat Abby, jadi kepingin datang lagi ke rumah. Saya pun bersedia dia datang ke rumah, karena pas pertemuan pertama juga belum bisa ngobrol banyak. Saat itu saya terima dengan senang hati, dan yang saya bingung dia datang bersama suaminya. Jadi ya mau cerita gimana juga ya, namanya ada suaminya mana bisa bebas? Dari ngobrol mulai ngalor ngidul, saya mulai digambari ini itu soal investasi, soal penyakit kanker, dan lain-lain, dan ujung-ujungnya nawarin asuransi. Mulai dari asuransi kesehatan, pendidikan, unit link, jiwa, segala macam produk deh.

Suasana mulai tidak nyaman, karena saat itu saya masih menyusui langsung setiap 1 jam sekali, dan mereka nggak mau pulang-pulang! Saya sampai repot menyusui di rumah sendiri harus pakai apron, dan sesudah lebih dari 3 jam, mereka tetap masih ngendon di rumah. Mertua saya waktu itu dateng, dan mereka masih tetep nggak mau pulang juga loh! Hebat nggak tuh. Saya sampai ngga enak hati karena mertua saya agak cuekin. Akhirnya saya capek, saya bilang saya butuh istirahat dan makan siang dulu. Baru deh mereka pulang.

Saya pikir semuanya sudah selesai. Setiap kali dia Whatsapp saya, bawaan saya jadinya deg-degan, ngeri mau ditawarin ini itu lagi. Sesudah setahun lebih cuma ngobrol basa basi di Whatsapp, kira-kira dua bulan lalu, dia kontak saya lagi, katanya kangen sama Abby dan pingin main ke rumah. Waduh, gawat dalam hati saya. Terus saya bilang aja kalau mau ketemuan, gimana kalau saya saja yang main ke rumah dia, toh saya sudah jadi IRT jadi bisa nyetir siang-siang. Tapi dia nolak, dan akhirnya dia nawarin untuk ketemuan di mall. Saya bersyukur banget bisa pindahkan lokasi ke mall. Setidaknya saya tau kalau di mall, nggak bakalan bisa lama-lama juga. Akhirnya kita ketemuan di food court, ngobrol-ngobrol, lalu dilanjutkan ke area bermain anak. Kebetulan di sana dia ketemu dengan kawan lain, dan saat itu sudah jam tidur siang Abby. Suasananya juga sangat berisik, sehingga tidak nyaman. Lalu saya pamit sama dia, saya bilang Abby mau bobok siang. Toh kita juga sudah lebih dari 2 jam ketemuannya. Hore! Gak ditawarin apa-apaan hihihi.

Di saat (lagi-lagi) saya pikir semua sudah selesai, seminggu lalu teman saya itu kontak lagi hari Rabu pagi-pagi. Dia bilang hari itu juga mau main ke rumah saya. Saya bilang saya nggak bisa karena mau nganter kado, ada teman yang mau lahiran (Mel O), udah keburu janji mau anter. Lagian kok mau dateng, ngasih taunya mendadak. Terus dia nanya, Kamis bisa nggak? Saya bilang saya ada di rumah, tapi saya mau sambil baking karena mertua saya anniversary. Terus dia bilang, kalo gitu Jumat pagi bisa nggak? (gile ngga nyerah-nyerah). Akhirnya saya bilang bisa. Gak enak kan ditembak terus sampai ketemu kata "bisa". 

Jumat itu, pagi-pagi banget dia udah nelepon saya lagi, padahal saya masih tidur. Tau-tau dia udah di depan aja gitu loh! Saya cuma sempat sikat gigi lalu nemuin dia. Dan saudara-saudara... dia nggak pulang-pulang aja gitu! Sampai sudah mau jam makan siang! Luar biasa nggak sih? Lagi-lagi dia datang sama suaminya, ngobrol ngalor ngidul, tapi disisipin, "Menurut lu, investasi yang bagus itu sekarang apa, Le?" Langsung saya jawab, "Properti." Terus dia mulai ngomong lagi ngalor ngidul, terus mendadak dia nanya, "Menurut lu, pekerjaan seperti yang gue dan suami gue lakukan gimana, Le?" 

Saya jawab, "Pekerjaan lu dan suami itu bagus banget. Buat orang-orang yang berbakat dan punya passion di bidang itu, pekerjaan lu itu sangatlah menghasilkan. Bahkan gue tau banyak orang-orang di sekitar gue yang sukses menjalankan pekerjaan sebagai agen asuransi. Elu berdua adalah contohnya. Tetapi memang tidak semua orang mempunyai bakat yang sama di bidang itu, bahkan gue punya temen pun, ada yang ortunya sangat sukses dan punya agency besar, tetapi anaknya tidak mau nerusin karena tidak punya passion." Lalu saya cerita dikit soal teman saya yang tadi saya ceritakan itu, yang sekarang punya e-commerce. 

Saya tambahin, "Kalau gue, gue sama sekali nggak bisa. Gue sudah sering ditawarkan, bahkan ikutan seminarnya, dan gue merasa awkward. Itu bukan dunia gue. Tapi itu adalah dunia kalian berdua. Kalian cocok dan punya bakat." Teman saya dan suaminya itu manggut-manggut. Saya pikir bakalan kelar loh, ternyata masih belum mau pulang juga. Padahal udah tiga jam lebih hu hu hu. Saat itu perut saya sudah krucukan, maklum belum sarapan. Akhirnya saya ijin, saya mau ke dapur untuk menghangatkan nasi dan sayur untungnya masih ada sisa sayur semalam, bayangin biasanya saya masak loh, hari itu sampai belum sempat masak karena meladeni agen asuransi. Akhirnya saat saya mulai ke belakang, ambil-ambil sayur dari kulkas dan angetin di microwave, mereka baru mulai mau pamit on LUNCH TIME! Phewww.... 

Bayangin, sudah dua kali ke rumah buat nawarin asuransi dan merekrut, sudah dua kali pula berjam-jam ngga mau pulang. Saya sih salut dengan persistensi mereka. Tapi sekarang saya merasa persahabatan saya bisa jadi di ujung tanduk. Saya sudah bilang sama diri saya sendiri, sekali lagi dia kontak saya untuk ketemuan, saya mau bilang sama dia, tolong untuk sama sekali tidak bicara soal asuransi, investasi, apapun itu. Saya lebih senang kita membahas petualangan masa kecil kita, masa remaja kita, membahas guru-guru kita, ataupun membahas soal anak-anak. Please, I don't want to put our friendship at stake. :(

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Temanku, kalau seandainya kamu sempet baca ini, mungkin kamu mengerti, kalau tidak semua orang nyaman diperlakukan seperti itu. Buat seluruh agen-agen, asuransi ataupun MLM, ataupun apapun, saya mengerti banget kalau kalian itu usaha terbesarnya bukan jualan, tetapi merekrut orang. Saya tau kamu ingin income yang besar, berkeliling dunia, punya mobil mewah, punya warisan. Saya mengerti buanget-buanget karena dulu saat seminar itu, kita diajarkan untuk mengajak siapa saja yang kita kenal. Tetapi tolonglah, jagalah hubungan baikmu dengan beberapa orang jika menurutmu itu berharga. Jangan sampai kamu kehilangan persahabatan baik cuma karena kamu ingin extra income. Coba-coba rekrut boleh, tapi lihatlah batasannya. Sahabat baik itu susah dicari, lebih susah dari pada nyari downline!

There you go, I said it. 

Friendship is always a sweet responsibility, never an opportunity ~ Khalil Gibran

Wednesday, September 24, 2014

Abby Tamasya Ke Bali - Bagian 2

Sekarang kita lanjut ke bagian dua ya. Bagian satu dari seri Abby Tamasya Ke Bali, bisa dilihat di sini.

Saturday, September 20, 2014

Abby Tamasya Ke Bali - Bagian 1

Bertemu lagi dengan edisi Abby Tamasya! Kali ini Abby tamasyanya ke Bali. Perasaan edisi Abby Tamasya ini isinya kota-kota berawalan B melulu ya. Bandung, Bogor, Bali... mungkin seterusnya ada yang mau sponsorin ke Berlin gitu?

Friday, September 12, 2014

JYSK Chit Chat Corner Berbalut Misteri Tempe Yang Hilang

Mirip-mirip sama serial How I Met Your Mother, cerita saya kali ini, mau sok-sok pake alur maju mundur *Padahal bisa-bisa malah bikin orang bingung*. Daripada belum apa-apa udah bingung, mendingan dibaca aja deh, nanti juga nyambung.

Beberapa waktu lalu, saya menerima undangan dari JYSK untuk mengikuti Chit Chat Corner, yang akan membahas berbagai tip menata interior rumah. Pas terima undangannya, saya bingung, apaan sih JYSK ini? Membaca saja aku sulit! Asli, saya bingung gimana cara baca JYSK itu. Pertama-tama saya kira bacanya "Je Wai Es Ke", eh ternyata bacanya "Jis". Beneran bacanya kayak nama sekolahan yang kemaren kena kasus itu. Kalau bacanya aja saya udah salah, pasti ini brand bukan sembarang brand kan? Sebelum saya konfirmasi undangannya, saya sempetin dulu buka-buka websitenya. Ternyata si JYSK ini itu produsen furniture yang asalnya dari Denmark. Ealahhh kemane aje aye? Situ tau? Sebagian belum tau juga kan? SAMA DONG! Rupanya kalo di Eropa Utara alias Skandinavia sono, merek ini udah terkenal dan banyak cabangnya di negara lain, dan udah ada dari tahun 1979! Itu berarti sebelum saya lahir! *mendadak berasa muda, wink!* Sebagai seorang emak-emak yang rempong, saya nggak langsung konfirmasi. Liat dulu lokasinya dimana. Ternyata, lokasinya di Taman Anggrek! Ya ampyun ternyata deket dari rumah saya aje gitu. And guess what, ternyata JSYK di Jakarta ini adalah yang pertama se-Asia Tenggara! Keren kan? Setelah ijin sama suami untuk ikut acara ini, ternyata suami mau nganter. ASIK! Confirm deh saya dateng tanggal 30 Agustus 2014 kemarin.

Beberapa hari sebelum hari H, saya lagi keki berat. Keki karena saya ngerasa di rumah saya ada tikus! Tapi saya ngga ngerti, tikusnya itu dateng dari mana. Semua lubang di rumah udah saya cek, dan tiap malam tertutup rapat. Tapi tiap kali di bawah sofa, saya nemu makanan sisa dari tempat sampah dapur. Macem tulang ayam lah, batang sereh lah, kulit lengkeng lah. Siapa coba yang bawa? Masak Abby mau nguprek tempat sampah? Jadi saya berkesimpulan kalau itu tikus. Karena punya anak bayi, dan tikus itu binatang yang suka bawa penyakit, saya langsung perintahkan tuan besar alias suami, untuk beli lem dan racun tikus. Pulanglah dia dari supermarket bawa lem tikus dan racun. Racun kita ngga pakai akhirnya karena kita ngeri nanti kalau tikusnya mati, kita malah ngurusin jenasah...eh bangkai tikus. Jadilah kita mau jebak pakai lem tikus. Kita taruh cookie di tengah-tengah kardus, dan disekeliling kardus kita baluri dengan lem tikus. Besoknya kita cek, cookie-nya masih di posisi semula. Besoknya lagi, kita cek cookienya udah boncel alias udah kemakan sebagian sama si tikus, tapi tikusnya ngga nempel! GIMANA SIH INI!! Step selanjutnya, kita beli tempat sampah tertutup (tadinya tempat sampah dapur kita terbuka). Sejak saat itu kita nggak melihat lagi tanda ada tikus. Jadi kita pikir, aman lah... Tapi, beberapa hari kemudian, tempe goreng saya dua potong, yang ada di atas meja makan, HILANG! Suster, saya, suami, semua saling nanyain apakah ada diantara kita yang makan tempe goreng itu. Kata Suster, "Bu, mungkin ibu tengah malam lapar, jadi makan tempe ga sadar". Lah die kira kita sleepeater apa? (temennya sleepwaker). Masak tidur sambil makan. Aya-aya wae. Jadilah itu tempe hilang menjadi misteri.

Sabtu pagi, 30 Agustus 2014. Pukul 10 pagi, saya sudah siap-siap jalan ke acara JYSK Chit Chat Corner yang mulainya jam 11. Mendadak ada laporan dari suster saya...."Buuuu... itu tikus tadi jalan-jalan ke rak-rak di atas TV! Saya liat tikusnya bisa naik ke atas, Buuuu!"  Langsung saya stress berat, karena saya pikir perjuangan melawan tikus sudah selesai. Ternyata masih jauh dr usai. Langsung saya manjat itu rak TV, dan melihat... ternyata di atasnya penuh dengan kotoran tikus!! OH NOOOO!!! Padahal terakhir dibersihkan, ngga ada tanda-tanda kehidupan tikus! Saya bingung, gimana ini, jadi pergi atau nggak. Akhirnya saya turunkan semua barang pajangan dari rak, dan saya tetap berangkat walaupun telat. Habisnya gimana, kan sudah konfirmasi, kalau nggak datang rasanya ngga enak banget. 

Akhirnya sampai di acara sudah rada telat dikit. Tapi saya nggak ketinggalan banyak. Acara ini isinya soal tips-tips untuk kita yang punya problem di rumah. Contohnya: rumah kita tempatnya terbatas tapi barangnya banyak banget. Belum lagi kalau rumah atau apartmen kita gak punya gudang tapi barang seabrek, ditambah lagi punya anak kecil yang lari-larian melulu. Kadang-kadang kan rumah  masa kini kan ukurannya 4L alias Lu Lagi Lu Lagi, sana sini mentok. Di sini kita diajarin gimana menciptakan privasi, menciptakan ruang hijau di tengah sumpeknya rumah atau apartemen, lalu diajarin juga menyiasati ruangan dengan furniture yang pas dan penyimpanan yang pas juga. Intinya, bagaimana kita membuat rumah mungil kita itu, efisien, fungsional, tapi tetep chic! Biar betah gitu loh di rumah (dan ngirit ngga ke mall melulu hihihi).

Kebetulan pembawa acaranya kalau nggak salah Amy, itu heboh banget neranginnya dan ibu-ibu banget, jadilah kita merasa terbawa suasana (dan brasa jadi emak-emak banget kalau lagi bahas soal anak). Ditambah lagi ada designer interior, Vera, yang bisa nerangin dari sisi estetika juga. Dan tau sendiri lah, namanya furniture Skandinavia, semuanya pasti minimalis dan cocok untuk rumah-rumah masa kini berukuran 4L tadi. Warna-warnanya juga simple, biasa satu tone aja, dan sebagian besar di dominasi warna putih. Kalau kata Vera, warna putih itu bikin pajangan dan pernak pernik kita tampak stand out. Hal ini yang nanti akan berhubungan dengan cerita saya selanjutnya.

Keliatan kan, pada seru bahas soal interior?
Setelah sesi menerangkan selesai, ada kuis tebak harga yang dimenangkan sama Dhita (ini orang hokinya gede banget sih!), plus demo cara memasang duvet cover. Tadinya saya mau volunteer tuh cara masang duvet cover, yakin banget cepetan saya daripada mas sama mbaknya, dan saya biasa masang yg ukuran King hahahaha, tapi kan ngga ada yg manggil saya *geer banget sih gue*. Eh iya, buat yang pengen tau duvet cover ini apa, dia itu semacam sprei yang membungkus duvet. Duvet itu sendiri adalah semacam bedcover yang biasanya polos dan berisi polyester atau bulu angsa atau kombinasi, dan ada tingkat kehangatannya. Kalau di Indonesia pakai level yang agak tipis saja. Saya demen banget pake duvet karena empuk banget, dan covernya itu bisa dicuci dan diganti-ganti sesuai dengan sprei saya. Dulu susah banget nyari duvet dan covernya di Jakarta sampai harus beli di Singapura. Ternyata sekarang sudah ada di JYSK, lengkap dengan level kehangatannya. Ayo sana pada beli!

Terus harga-harganya gimana kakak? Nah, ada barang pasti ada harga. Di JSYK ini ada 3 level harga yang berbeda yaitu Basic (good product, good price), Plus (extra comfort and quality), dan Gold (absolute best quality that money can buy). Nah, tinggal dipilih deh, makin high quality, pasti makin mahal, itu gak bisa dibohongin. Tapi untuk Basic aja, menurut saya barang-barangnya udah oke kualitasnya, sesuai banget sama harganya. Ditambah lagi kalau ada tag "Price Star", itu udah super good value banget deh! Kayak kemarin itu ada produk bertag "Price Star" berupa lemari pakaian 2 pintu kanan kiri dengan laci-laci, cuma IDR 1,499,000 aja! Lebih dari cukup kalau mau simpen baju-baju anak. Mantap gak?
APAHHHH.... LEMARI INI IDR 1.499 JUTA SAJAHHH??

Sepulang dari situ, saya masih berkeliling lihat-lihat furniturenya. Tapi karena bawa anak kecil dan udah lewat jam tidur siangnya, saya ngga bisa lama-lama, ditambah lagi masih ninggalin tragedi tikus di rumah, bawannya pengen beresin itu dulu deh. Jadi saya juga ngga sempet banyak foto-foto. Cuma sempet foto ini nih, ibu-ibu cantik bawa goodie bag berisi bantal dari JSYK. Mayan banget buat gantiin bantal di rumah yang udah kempes hihi.

Emak-emak cantik (self-proclaimed) dengan kantong isi bantal.
Udah cape bacanya? Nanggung ya, separo lagi. Eh masih separo? Jadi saya kembali ke rumah, dengan happy, tapi pas masuk rumah langkah langsung gontai. Ya gimana ngga gontai, saya mesti bersihin itu seluruh kotoran tikus dan mencari sumber masalahnya. Saya cerita dikit ya. Jadi rumah yang saya tempati ini dulunya ditempati sama mertua. Pas saya pindah kemari, saya sih seneng-seneng aja. Seluruh interior sudah lengkap produksi dari designer interior yang cukup punya nama dan kata mertua seluruhnya solid wood, sampai langit-langitnya pun dibuat naik turun, pokoknya ada modelnya gitu deh. Siapa yang nggak seneng ya, namanya masuk udah tinggal bawa koper. Tetapi ternyata kendalanya ada di situ. Gara-gara design interior itu, kalau ada tikus, kita super bingung nyari sumbernya. Hampir seluruh furniture kecuali sofa, coffee table, dan meja makan, tidak bisa dipindahkan! Semua sudah mati nempel di tembok, termasuk closet-closet untuk wardrobe. Mati kutu deh.

Dengan hasrat membara melawan tikus, saya dan suami langsung berjibaku, ganti pakaian rumah, dan langsung memindahkan seluruh barang-barang yang ada di rak tivi. Dan saudara-saudara sekaliaaaannnnnn..... kami menemukan, kalau di belakang PS3-nya si suami... ada tumpukan sampah dan kotoran!! Langsung kita keruk itu semua kotoran, dan kita tampung di atas kertas koran. Buat yang nggak tahan lihat sampah bekas tikus, di skip aja langsung gambar di bawah ini.

Kotoran tikus dan berbagai sampah, termasuk tulang ayam dan cups bekas cupcakes bikinan saya :(
Dan apa lagi yang kita akhirnya temukan? TEMPE!!! TEMPE YANG HILANG SUDAH DITEMUKAN!! Ternyata tempe dari meja makan, dibawa oleh tikus! Berarti tikusnya itu masih beredar di dalam rumah! (dan berarti saya bukan sleepeater!!) Suami langsung ambil tangga, ngecek ke atas langit-langit di lekukan interior, dan ternyata di situ banyak lubang-lubang untuk berbagai kabel termasuk kabel sound system, yang akhirnya bikin tikus bisa nyarang di situ. Mau ngebongkar ngga mungkin toh?? Nih penampakan rak tivi kami yang nggak bisa dipindahin itu dan ceilingnya.

PS3-nya udah pindah ke atas, tadinya di selipan rak bawah itu, dan di situlah tikusnya ngendon sambil makan dan buang air. Pajangan dan foto semua udah turun dari rak.
Kalau lihat gambar di atas, ngerti kan ya, langit-langit bertingkat dan diselipannya pun banyak lubang. Jadi hari itu kita seharian bersihin semuanya, kasih kapur barus, nutup lubang-lubang kecil yang ada di atas ceiling. Cape ngga? BANGET! Badan rasanya mo rontok. Belum lagi mesti cek-cek tempat lain juga kali-kali tikusnya buka lapak lagi. Saya sendiri, seandainya tempat ini masih kosong, mungkin akan milih furniture lepasan aja dibandingkan full interior design, yang jelas-jelas harganya berpuluh lipat daripada furniture di JYSK. Jadi pembicaraan di JYSK Corner yang soal furniture warna putih tadi, benar-benar membuka pikiran saya. Seandainya saja furniture saya lebih minimalis dan berwarna putih, pasti itu kotoran tikus sudah ketemu dari kapan-kapan dan saya juga nggak repot membersihkan raknya lantaran bisa digeser-geser.

Anyway, buat yang mau beli rak tivi yang simpel untuk ruangan yang minimalis tapi tetap manis, nih coba liat deh produk dari JYSK. Harganya? IDR 2 juta aja loh! Tikus dijamin keliatan langsung kalau jalan-jalan di situ.

Minimalis, efisien, dan fungsional banget nih!

Dan setelah denger cerita saya, mungkin semua lebih berminat beli furniture yang minimalis ala Skandinavia ya? Mampir aja langsung ke JYSK di lantai 2 Mall Taman Angrek. Kalau mau browsing dulu sebelum menuju ke TKP, bisa langsung cek ke websitenya http://www.jysk.co.id/. Kalau saya sih udah langsung like page Facebooknya. Di dalamnya bisa lihat katalog terbaru dan promosi yang ada. Yang punya twitter (jangan kayak saya ya, gak punya hahaha), langsung aja ke account @JYSKIndonesia, denger-denger sih banyak banget offer menarik seperti potongan harga. Manteb ya? Buat saya sendiri gimana? Saya sekarang browsing-browsing dulu, sama beli printilan dari JSYK. Untuk sementara stuck dengan furniture besar yang ada, tapi nanti kalau pindah ke rumah baru, pasti consider furniture dari JYSK. Udah ngebayangin kamar anak yang furniturenya imut-imut dan bersih.

Last but not least, semoga tikus nggak akan pernah balik lagi. Phew!

Friday, September 05, 2014

Blunt v. Harsh

Blunt v. harsh, kalau diterjemahin kira-kira, terus terang v. kasar. Sebenarnya, dua artian ini berbeda jauh banget! Tetapi di negara kita Indonesia tercinta ini, seringkali kalau kita adalah orang yang blunt, orang malah bilang kita ini harsh. Boleh dibilang, saya ini orangnya lumayan blunt, alias terus terang. Kalau kamu mau nanya opini saya, saya akan jawab terus terang, tentunya dengan batasan tertentu. Mau bilang saya nekad, ya kadang nekad. Tetapi kalau kenekadan kita bisa menyelamatkan orang lain, lebih baik nekad daripada nyesal kemudian. Tetapi untuk harsh atau kasar, saya mencoba untuk sangat menjauhi hal tersebut. Saya tidak pernah keluar kata f***, atau sial**, atau umpatan apapun saat berkomunikasi dengan orang.

Di Indonesia ini, kebanyakan orang seringnya basa basi. Sehingga kalau ada hal yang kurang berkenan yang disampaikan, walaupun itu adalah sesuatu yang terus terang, akibatnya malah menyakitkan orang lain. Orang Indonesia tidak terbiasa mendengarkan kritik secara langsung. Bahkan kalau mau mengkritik orang, rata-rata budaya kita menganjurkan agar: 1. Kita muter-muter dulu dari A sampai Z, baru nanti omongin ke pokoknya, dengan harapan penuh orang yang diajak bicara tidak tersinggung, atau bahkan; 2. Udah deh gak usah dibahas sama sekali daripada orangnya tersinggung. Perlu diketahui, blunt itu maksudnya terus terang, tapi sopan ya. Bukannya berarti merepet, dan tidak tau sopan santun. Kalau sudah menjurus ke tidak tau sopan santun, malah jadinya harsh tadi itu. Jadi sebelum bilang sesuatu secara terus terang, dipikirkan juga penyampaiannya.

Beda sekali dengan apa yang saya alami dengan orang-orang di luar yang pada umumnya akan berkata straight to the point tanpa basa basi, baik dalam hal MEMUJI, maupun dalam hal MENGKRITIK. Jangan heran kalau misalnya ada orang ketemu kita dan langsung bilang, "Hey, gue suka banget gaya pakaian lu hari ini, warnanya cocok sama sepatunya." Tetapi kalau kita melakukan sesuatu yang menurut mereka kurang berkenan, atau mereka kurang setujui, mereka akan langsung bilang, "Menurut gue sih itu ngga cocok, kayaknya lebih bagus begini deh." 

Cerita dikit, pada saat saya kuliah, saya pernah dapat nilai F untuk ujian Audit pertama saya, gara-gara saya sakit cacar. Saya datang ke professor saya, namanya Larry Rittenberg, berharap dia kasih keringanan dan saya bisa ulang lagi ujiannya. Tapi apa jawaban beliau? "Kamu tau, Leony, saya pikir kamu tidak siap ambil kelas ini. Menurut saya kamu lebih baik menunggu, dan ambil kelas ini dengan  professor lain semester depan" Ditambah lagi komen selanjutnya yang bikin saya tambah stress. "Saya sudah maafkan kamu karena 3 minggu tidak masuk kelas, tetapi kamu tidak boleh gagal ujian kalau kamu mau jadi auditor." Cerita soal dia sempat saya tulis di tahun 2006 lalu, bisa dibaca di sini. 

Saat saya denger seperti itu, saya shock berat. Dalam hati saya, kejam banget orang ini. Kalo kata anak sekarang...sakitnya tuh disiniii...  (sambil nunjuk dada). Udah bagus saya ikut ujian dia, kalau mau kabur kan juga bisa. Semua alasan saya untuk membela diri itu berputar-putar. Tapi dasar saya anaknya ndablek, saya nggak drop kelas itu, dan terus ikut sampai ujian terakhir. Di tengah-tengah, masih sempet diancam untuk drop kelas, karena nilainya masih belum cukup. Ujungnya saya pass juga, walaupun dengan nilai pas-pasan setelah semua nilai dirata-rata. Saya pikir-pikir, kalau saya saat itu masukkan dalam hati kata si professor, mungkin saya sudah nyerah dan males banget ambil kelas sama dia, kalau perlu tidak usah berhubungan lagi. Di kelas, professor ini dikenal gahar, gak ada tedeng aling-aling. Kesannya gak pedulian. Tapi dia ini yang bikin saya sadar, kalau saya mau sukses, saya memang harus belajar mati-matian dan tidak banyak alasan. 

Dua semester berlalu, ternyata saya dapat kerja di salah satu perusahaan impian saat itu. Siapa yang pertama kali di antara guru-guru yang memberikan ucapan selamat ke saya? Ya dia itu! Dia kasih selamat, tersenyum dengan lembut, dan kita masih keep in contact, bahkan sampai saya kembali ke Indonesia. Dari dia, saya banyak belajar, soal integritas apalagi di dunia audit. Bayangkan kalau kita ada rasa tidak enak terhadap client kita karena client kita baik dan ramah, bahkan kita dibayar oleh client kan? Bagaimana cara kita menyampaikan kalau di dalam perusahaannya itu ternyata sistemnya ada flaw atau kelemahan? Bagaimana kita menyampaikan kalau ternyata hasil auditnya jelek? Lagi-lagi, blunt alias terus terang itu yang kita perlukan. 

Ketika saya kembali ke Indonesia, saya sangat bersyukur, punya atasan yang luar biasa. Dari atasan saya yang pertama, maupun yang kedua (karena yang pertama pensiun), dua-duanya adalah tipe orang yang blunt. Dalam hal ini, kalau mereka tidak suka akan kerjaan saya, atau perilaku saya dianggap kurang berkenan, mereka tidak segan-segan menegur saya. Mungkin saya shock sebentar, tetapi habis itu jadi sadar kalau memang saya ada kesalahan. Teguran mereka, buat saya jadi penyemangat, bukan jadi beban. Saya masih inget, saya pernah ditegur keras gara-gara jam 3 mau meeting dengan big boss, tapi jam 2 siang saya masih makan siang di Senayan hahaha. Saat itu bos saya ngamuk, sampai kantor heboh, katanya Pak *** udah teriak-teriak di kantor. Saya saat itu berasa kayak digampar banget pas balik lagi ke kantor, tapi ya udah, setelah meeting itu selesai, masalah juga selesai, saya lega, begitupun dia, dan ga  ada yang namanya mengumpat di belakang. Things were solved. Bedakan dengan orang yang memuji-muji tapi ujung-ujungnya ternyata ngomongin jelek soal kita di belakang atau gossipan sama orang lain tanpa kita tau masalahnya. Menderita gak sih punya rekan kerja atau teman kayak gitu?

Kembali ke dunia kita sekarang, berapa banyak di antara kita yang seringkali tidak mau berkomentar hal yang dianggap blunt, cuma karena takut orang sakit hati pada kita, padahal mungkin komentar kita bisa menyelamatkan orang tersebut? Ingat juga teman-teman sekitar kita, yang selama ini kita pikir komentarnya kurang berkenan sama kita, apakah itu justru kenyataan yang sengaja tidak mau kita dengar?  Orang yang kadang berani berkomentar yang kurang enak itu, justru biasanya orang-orang yang sayang dan peduli sama kita, dan orang-orang yang selalu komentar super manis, kadang-kadang belum tentu ada di sisi kita saat kita butuh. 

"Sometimes you have to be mean & hurt someone's feeling to help & save their heart. The truth hurts, but lies kill" ~ unknown

Wednesday, August 27, 2014

20 Bulan Memberi ASI

24 Agustus 2014 lalu, Abby tepat berusia 20 bulan. Banyak tingkahnya, nggak bisa diem, saingan Dora the Explorer, tapi versi bandelnya.

25 Agustus 2014, hari terakhir saya memompa ASI. Kanan kiri, lengkap dengan pijatan perah dua kali pagi dan malam. Hasilnya... barely 20 ml for the whole day. Setelah mempertimbangkan masak-masak, that's it. Saya akhiri untuk saat ini perjuangan saya memberi ASI.

Sebenernya saya punya cita-cita besar kasih Abby ASI sampai dia umur 24 bulan alias 2 tahun. Tinggal 4 bulan lagi padahal. Tetapi sudah sejak beberapa bulan lalu, Abby tidak doyan ASI lagi. UHT pun dia tidak doyan. Tapi dia doyan makan, dari mulai nasi daging dan sayur, plus dia doyan sekali cemilan yang saya buat: cake, cookies, yang kadang saya selipkan susu di dalamnya. Tapi kalau dikasih ASI ataupun UHT langsung? Kaburrrr... Bahkan untuk kasih ASI ke dia, kepaksa saya harus pakaikan dot dan agak "dicekokin" walaupun dia akhirnya ngenyot juga. Buat beberapa ibu, nyapih setengah mati. Buat saya, malah sebaliknya. Abby nyapih sendiri. Harus bersyukurkah? Yak bolehlah ini disyukuri dan ambil sisi positifnya.

Sejak saya mengajar tahun lalu, otomatis saya jadi lebih jarang menyusui langsung. Pada saat Abby 8 bulan, giginya mulai tumbuh, mulai juga dia menggigit-gigit puting saya. Akhirnya setelah itu, saya kasih susu via botol. Tetapi saya tidak berhenti untuk mompa beberapa kali sehari, berapapun hasilnya. Dari mulai bisa di atas 800ml per hari, sampai akhirnya pelan-pelan ASI saya berkurang, seiring dengan nafsu makan Abby yang meningkat kalau melihat solid food. God is fair, right?

Konsumsi ASI Abby juga menurun, karena dia lebih doyan makan. Saya sempet concern dan tanyakan ke dokter, karena Abby cuma mau makan terus, gak mau minum susu sama sekali. Kata dokter, justru itu bagus, karena ternyata susu bukan sumber energy satu-satunya dan utama. Banyak sekali sumber makanan yang bisa diberikan kepada Abby, dari nabati dan hewani. Justru dokter senang melihat Abby doyan makan, dan selama ini, dia selalu mengkonsumsi makanan sehat buatan mamanya. Kekhawatiran saya pelan-pelan luntur, dan akhirnya, saya relakan untuk tidak lagi memompa payudara (yang sudah turun kayak pepaya Bangkok kempot ini).

Gimana perasaan saya? Bittersweet. Banget. Masih ingat saat-saat dia di pelukan saya dari masih merah, dengan semangat mengeyot ASI. Saya yang waktu itu buta banget cara menyusui, berjuang habis-habisan dengan ASI yang minim, supaya Abby bisa lulus ASIX, sampai kena mastitis, dan ternyata dia bisa jadi anak full ASIX sampai umur setahun. Masih ingat gimana dia tadinya begitu bergantung pada saya untuk menyediakan sumber makanan utama untuk dia, sampai akhirnya sekarang dia bisa lepas alias independen tanpa ASI lagi. Ngebayangin bayi kecil yang merah itu sekarang sudah bisa lari-larian dan bernyanyi, duh... jadi bikin mewek. Padahal saya bukan orang melankolis.

For this 20 months of fighting, I think I should pat myself on the back.

And now, let's go on diet!! TU WA TU WA TU WA! *niat besar, tenaga kurang*

Stock ASI sisa-sisa perjuangan sampai hari ini
20 months old "Abby the Explorer" doing grocery with Mama



Wednesday, August 20, 2014

Tiga Dua

Iye... itu umur saya... Hu hu hu. Masih muda apa udah tua? Depends dari siapa yang baca kali ye. Tapi kayaknya pembaca saya banyakan umurnya lebih kecil dari saya deh. Jadi saya ambil kesimpulan sendiri kalo saya tua hihihihi. Yang penting jiwanya tetep muda lah yaow!

Jadi di hari Sabtu lalu, saya ulang tahun. Walaupun yang ngucapin biasanya semua pada bilang, "Semoga cepet nambah anak lagi yaaa... " (standar), tapi wish saya lebih standar lagi, yaitu supaya keluarga saya ini sehat semuanya, diberikan jalan yang terbaik menuju ke masa depan. Saya menyadari, di usia yang sudah tidak muda lagi ini (a.k.a TUA!) saya harus lebih simpel mikirnya. Ibaratnya, cara berpikir harus diubah dengan tambahan kebijaksanaan yang lebih, yaitu kita berusaha sebaik mungkin, dan berharap Tuhan yang akan melapangkan segala jalan baik keturunan, rejeki, dan apapun itu. Makin merasakan setelah semakin lama hidup, kalau mau rencana apapun seandainya Tuhan ngga ijinkan, ya nggak akan terjadi, dan kalau Tuhan kasih, gak direncanakan juga pasti kejadian, dan itulah yang the best.

Tahun ini perayaannya gimana dong?

Sabtu, 16 Agustus 2014

Pagi-pagi dibuka dengan... MAKAN MIE! hihihi... Iya, makan mie dulu dong buat syarat. Bukan Indomie kok hahaha. Kali ini Makan Mie Ujung Pandang langganan aje, Mie Bintang Gading di Ruko Alam Sutera.

Penampakan Mie Porsi Besar Special, seluruhnya pake daging babi panggang hihi. Bisa pilih juga mau pake ayam, atau campur ayam dan babi. Makan mie, CHECK!
Acara dilanjutkan dengan grocery. Keliatan kan ye, kalo udah emak-emak gini, weekend teteup kudu disempetin grocery dulu. Saya demen grocery di sini, soalnya si masnya baik banget kalau kita beli daging sapi, pasti dibantu pilih yang dagingnya segar. Tapi mas-nya suka SKSD gitu. Contoh,

"Mas, tolong daging rendang specialnya ya sekilo. Yang cakep mas dagingnya."

Dijawab sama dia,

"Iya deh, yang cakep kayak ibu." #EAAAA!

Suwer, saya ga hobi grocery kemari gara-gara masnya kok!! Pas grocery malah ketemu sama temen baik, dan dua krucilnya.

Beginilah suasana kumpul bocah di Superindo Alam Sutera ha ha. 
Sorenya, kita janjian ketemuan sama beberapa temen kita yang wiken itu dateng dari Singapore, di Common Grounds, Citiloft. Eh kebetulan banget, temen kita juga ada yang ultahnya deketan, dia tanggal 15 Agustus, saya tanggal 16 Agustus. Jadilah dibawain kue buat ditiup bareng. Ended up ga tiup bareng, takut disangka lagi anniversary cuy! HAHAHA!

Happy Birthday to both of us! Ternyata, ini satu-satunya foto saya dengan kue pas di hari ultah saya. Saya kelupaan foto bertiga sama suami dan Abby :(
Malemnya, saya dan suami kepingin makan Mexican Food. Pilihannya saat itu antara Amigos atau Chili's. Akhirnya kita ke Chili's. Dan seperti biasa, kalo di Chilis itu, porsinya alamakjan! Bertiga sama suster, pesen 3 dishes, Sus sharing sama saya. Pulang2 begah semua. Tapi kenapa ya, Mexican Food itu ngangeninnnn... Cuma kalo di Chili's lebih ke Tex Mex style sih, dan sejujurnya kalo buat Mexican Food menangan Amigos. Tapi Amigos kalo Saturday Night rokoknya suka kuenceng dan ga ada batas yang jelas antara smoking and non-smoking section.

Ultimate Nachos

Chicken Tacos, favorite saya. 8 out of 10 times kalo ke Chili's pasti pesen ini.

Country Fried Chicken
Sama sekali nggak foto bareng loh kita di hari ultah saya ini. Hiks... Tapi ada bonus foto Abby deh nih.

Entah siapa yang ngajarin!
Minggu, 17 Agustus, 2014

Paginya, sudah pasti dong ya kita ke gereja dulu. Setelah itu dilanjutkan dengan makan keluarga di Harum Manis. Dan rasanya kalau makanan Indonesia, hampir semua orang cocok di lidah. Sedikit kejadian yang kurang asik adalah, hari itu ramai sekali, dan seluruh staff terlihat overwhelmed. Tapi setelah saya layangkan input ke Harum Manis, tanggapan mereka sangat baik sekali, professional, dan sangat memahami situasi yang terjadi. Jadi nggak salah ya bayar tax and service 21% standard hotel hehe.

Berbagai jenis sate, mulai dari sate tempe tahu, sate lidah, sate ayam, bakso dan somay bakar, sampe favorite saya, sate kikil! Hihi. Liat deh, si Abby tuh udah ngga mau duduk di baby chair loh. sekarang dia duduk di kursi orang dewasa, sambil ganyem opak.
Dan bukan Abby namanya kalo nggak ngiter kesana kemari.

Muter sambil bawa antibacterial liquid ckckckck...
Kue klasik favorite saya, dipesenin sama Mama.

Siap-siap tiup lilin...

Puuuufff... Dapet rejeki 10 juta USD! Hihi. Gak ding! Wishnya kayak yg di atas ditulis kok.
Tiga cucu mertua, yang paling gede Shio Monyet, lalu Shio Tikus, dan si mungil Shio Naga. Denger2 kalo bikin usaha bisa makmur ye? Kapan nih kita mau start bikin PT? Huahahahah...

Foto dulu serombongan. Si Sus selalu ga mau ikut difoto, pake alesan, "Saya mau godain Abby".

Akhirnya ada foto bertiga yang mayan rapi.

Adek ipar, siap-siap mau jadi baby sitter ngurusin tiga bocah

Hepi amat dek!
Pulang dari Harum Manis, masih lanjut ke Kota Kasablanka, tapi rombongan cici ipar nyerah karena ngga dapet parkir. Rupanyaaa... hari itu ada penarikan undian berhadiah mobil, dan pemenangnya harus hadir supaya eligible. Ya ampunnn... pantes aje di dalem mal udah kayak sarden. Untungnya kita masih bisa dapet parkir, dan bisa ngopi dengan tenang.

Si Abby di sini keliatan manis dan kalem ya. Padahal...ckckckck... hahahaha...
Terus tahun ini hadiahnya apaan? Kali ini saya mintanya peralatan masak semua! (atau mentahnya juga boleh buat beli alat masak hahahaha). Maklum, sejak pindah peralatan masaknya minimalis banget! Sekarang kan saya udah jadi IRT. Kudu ada kegiatan yang keep me a bit busy, tapi nggak busy-busy banget lah. Plus bisa menghasilkan makanan enak untuk keluarga.

Buat panci2nya, saya pilih Scanpan, tapi yang bener-bener saya butuh aja alias bukan set. Kenapa pilih Scanpan? Bukan gara-gara nonton Masterchef doang ya hehe, tapi gara-gara pas dulu mau MPASI Abby, saya pelajari soal stainless steel, dan Scanpan ini stainless steelnya bener alias 18/10, lalu kalo dirawatnya bener, awet! Karena udah test drive dulu buat masak MPASI Abby, sekarang lanjut beli lagi. Kekurangannya, beratnya agak ngajubile. Tapi bukankah semua panci yg baik beratnya ngajubile? Silakan tanya sama ratu panci.

Scanpan Grill Pan, gambarnya diambil dari sini
Scanpan Chef Pan 32cm, gambarnya diambil dari sini 
Scanpan Steamer 32 cm, gambarnya diambil dari sini

Scanpan Bakepro mini muffin tray, gambarnya diambil dari sini
Scanpan Spectrum fork, gambarnya diambil dari sini
Nah, kenapa kita beli garpu ini, padahal ga penting-penting banget, soalnya waktu itu tergiur, kalo beli sendok 1 set, dapet garpu 1 set huahaha. Dasar cewe ga boleh liat diskon. Too bad, pancinya ga diskon. Katanya Juni lalu sempet diskon sedikit! TAPI KAN ULTAH SAYA AGUSTUS! *protes sama Kawan Lama Group*


Panci Galoreeee!
Selain itu, saya juga minta kado oven tangkring dan mixer. Kenapa? Karena di sini saya ngga punya wall oven. Ada juga oven listrik over the counter, tapi ya oloh kecil dan lama banget matengnya, plus wattnya gede. Dengan harga listrik yang naik terus, pake oven listrik over the counter tambah ga asik! Saya pilih Otang merek Hock, karena denger punya denger, yang paling bagus dan tebel ya merek ini.

Kemudian kenapa saya minta mixer? Sejak pindah saya cuma punya hand mixer kecil dan itu lama banget plus hasilnya kurang uhuy. Mixer yg saya minta juga yang biasa kok, bukan Kitchen Aid. Nanti kalo punya dapur gede dan nyaman, saya mau request Kitchen Aid (HALAH BANYAK MAUNYA!).


Oven Hock No. 2, gambar diambil dari sini
Mixer Philips, gambar diambil dari sini
Kemarin ini saya coba ngetest pake oven tangkring. Selama ini kan ngga pernah ya, dan saya bener-bener ngga gitu ngerti gimana pakenya, brapa lamanya, suhunya dll. Ternyata SUSAH sodara-sodara. Ibaratnya si Otang ini, kudu kenalan dulu, pedekate, baru deh nanti dia kasih kita hasil lumayan. Saya coba manggang cupcakes 3 kali, batch ketiga baru bener. Dan mengutip kata Erlia, JANGAN PERCAYA SAMA TERMOMETER OTANG. Hu hu... aku diperdaya. Ya gak apa-apa ya, Tang, kita kan lagi tahap penjajakan hehe.

Kalo steamernya, saya langsung bikin....eng ing eng...
Ya lumayan, sekali steam langsung bisa masuk semua, kalo dulu kudu 4 sampe 5 kali steam gara-gara steamernya kekecilan. Istri senang, suami kenyang!
Okeeee...demikianlah kisah ulang tahun saya yang Thirty-Two-My-Age ini (masih kena demam Vickinisasi). Buat yang mau kirim kado, silakan dikirim... hahaha. Yang jelas saya minta doanya aja dari kalian semua. Cup cup mwah! 

PS: Tolong pas doain saya, ditambahin supaya saya bisa langsingan dikit. Okeh?