Thursday, December 26, 2013

Refleksi Setahun Menjadi Ibu

It's been a year! Yes, my baby is one now. Soal ulang tahun Abby, biarlah nanti saya posting sendiri yah. Saat ini saya mau cerita soal diri saya sendiri dulu. Bagaimana rasanya selama setahun ini menjadi seorang ibu.

Seneng gak? Seneng dong. Ada tapinya gak? BANYAK! Kalau jadi seorang ibu isinya cuma seneng doang, pasti semua orang berebutan kepingin jadi ibu. Tetapi saya tau kok, di luar sana, banyak juga orang yang nggak kepingin jadi seorang ibu. Bukan karena nggak bisa, tapi karena nggak mau aja. Contoh terkenal adalah, si Carrie Bradshaw di Sex and The City yang menyatakan sama pasangannya kalau dia memilih untuk tidak punya anak. It's totally personal choice. Yang suka nonton acaranya Rachel Zoe, ada episode saat suaminya terus bertanya kapan dia siap punya anak, sementara mereka sudah bertahun-tahun menikah, tapi Rachel masih merasa karir dia lebih penting. Saya bisa melihat ketidaksiapan dia. Hey, in the end, as you (might) know, they're having two kids! Setelah menaklukan ketakutannya, ternyata di usia 40-an, Rachel adalah seorang ibu yang super. Seperti yang pernah saya utarakan sebelumnya, saat saya memilih untuk menikah, (terutama dalam agama yang saya anut) itu tandanya saya siap untuk menjadi seorang ibu. Or else, I will not get married. Period!

Setelah saya melahirkan Abby, perjuangan awal dimulai. ASI saya yang keluarnya setetes demi setetes itu, tekanan dari orang-orang yang merasa kalau Abby kurang gemuk, membuat keyakinan saya sempat goyah untuk memberikan dia ASI exclusive. Tapi mungkin saya ini bintang Leo yang keras kepala, makin saya ditekan, makin saya berusaha keras dan rela menyusui sejam sekali supaya Abby dapat asupan yang cukup. Yes, bukan dua jam atau tiga jam sekali, tetapi satu jam sekali. Saya hampir tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Belum lagi, saya harus makan gila-gilaan supaya ASI saya cukup. Selamat tinggal impian punya badan kembali singset setelah melahirkan seperti yang orang-orang bilang. Soal merawat diri jadi nomer sekian, sampai saat ini pun, saya belum potong rambut lagi! Tapi hey, Abby lulus ASIX, dan sampai saat ini, dia masih ASIX. Siapa sangka?

Kalau sudah niat habis mau ngasih ASI terus, kalau kondisi pas-pasan kayak saya, sudah pasti yang namanya kebebasan untuk jalan-jalan itu jadi hal yang spesial banget. Mau pergi aja mikirin dulu, apakah stok susunya cukup atau ngga, di mana saya bisa nyusuin, di mana saya bisa mompa, dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Bukannya saya mau menyiksa diri, tapi ujung-ujungnya prioritas itu harus dijaga betul-betul. Seringkali saya kangen kehidupan di masa Abby belum lahir, dan menurut saya pribadi, ini MANUSIAWI banget. Jaman dulu, kalau mau nonton ke bioskop bisa spontan, mau makan di kaki lima ya hayuk. Bahkan mau traveling ke luar negeri pun bisa spontan dilakukan. Sekarang?? Kalau mau cari jalan gampang ya bisa titip sana titip sini. Tapi kok ujung-ujungnya nggak tega ninggalin. 

Pas awal liburan kemarin, tadinya kita rencana mau ke Bali. Tapi ngebayangin bawaannya aja, udah bikin keder. Apalagi si Abby ini ternyata gak doyan makanan instant. Kita udah pernah coba kasih, dan dimuntahin dengan sukses. Yang dia suka itu adalah makanan sehari-hari dia yang isinya bubur sayur n daging. Akhirnya kita ke Bandung aja deh, cukup 2 malam, dan semua makanan dia dibekukan dan dititip di kulkas hotel, serta diangetin setiap kali dia mau makan. Pas kita berangkat itu, bawaannya Abby ada kali sekoper 25 inch, sementara bawaan emaknya nyempil dikit di antara bawaan dia. Beda banget sama saya yang jaman dulu, yang mau pergi jauh aja, packing cukup sehari sebelumnya, nggak mikirin apa-apaan yang penting ada cukup uang saku buat makan. Lah kalau ada anak gini, ada uangpun kalau di perjalanan dia gak bisa makan yang dijual umum ya sama juga boong. 

Tapi, ditengah kerempongan itu, ternyata perjalanan kita sangat menyenangkan. Sungguh merasa perjuangan saya tidak sia-sia: melihat Abby yang tidak rewel sepanjang perjalanan, karena dari kecil dia sudah dibiasakan duduk di car seat; melihat Abby yang tidur nyenyak di baby cot hotel karena dsudah dibiasakan tidur sendiri; melihat Abby yang tidak harus selalu digendong karena dibiasakan duduk di stroller. Anaknya pun selalu ketawa dan senyum, sehingga semua orang yang melihat dia ikut merasakan kesenangan yang dia rasakan. Bahagia saat travel itu bukan lagi shopping atau makan enak lagi, tetapi melihat anak kita senang dan menikmati sepanjang perjalanan. Itulah kadar kesuksesan jalan-jalannya.

Melihat Abby sekarang, kok kayaknya saya hampir lupa loh, bagaimana rasanya awal-awal mengurus dia. Saya hampir lupa capek dan telernya di awal-awal lahirnya, dan gara-gara nulis ini saya malah jadi mengingat-ngingat lagi peristiwa "melelahkan" setahun kemarin. Mungkin harus saya tulis sebagai pengingat. Saya hampir lupa saat itu payudara saya sempet sakit dan kata dokter kena mastitis, sampai setiap hari harus kompres rivanol. Saya masih ingat kata dokter saat itu, kalau sampai parah, harus disuntik atau dioperasi, dan artinya saya harus stop menyusui. Tapi tiap hari saya berdoa, semoga dengan kompres rivanol saja, semuanya beres, dan puji Tuhan, semua beres sampai sekarang. Dua kali Abby saya sempat bawa ke UGD, pertama karena muntah-muntah sembelit pisang di usia 6 bulan, dan kedua  muntah-muntah rupanya karena mau tumbuh gigi. Saya jadi tau, bagaimana perasaan ibu saya di saat saya sakit berat, kayaknya memang lebih sedih ibunya dibandingkan dengan yang sakit.

Kalau yang menyenangkan dan lucunya, justru saya lebih banyak ingat. Malam tahun baru 2013, Abby dengan sukses pup besar banyaaakkk banget, sampai mengotori satu badannya. Bukannya kita panik, kita malah ngakak gila-gilaan karena satu badan pup semua. Masih inget juga wajah bengongnya saat pertama kali kita taruh dia di bouncer yang bergetar-getar, lalu kemampuan motorik dia yang semakin meningkat mulai dari bicara, mengingat, sampai sekarang dia mulai belajar berjalan. Kalau saya atau papanya pulang, dia bisa berjingkrakan senang dan melompat-lompat sambil ketawa-ketawa. Sekarang kalau ditanya Abby mana, dia pasti sudah bisa menunjuk dirinya sendiri. Lalu kalau diminta sayang mama, dia akan mengelus pipi saya. Ahhh.... senengnya minta ampun!

Syukur luar biasa pada Tuhan, telah dikasih kesempatan, telah dipercaya untuk menjadi seorang ibu. Ini tugas yang sangat tidak gampang. Ini baru satu tahun, masih ada lagi tahun-tahun selanjutnya, dan peran seorang ibu tidak akan pernah berakhir. Tapi saya tahu, kalau saya akan selalu dikuatkan oleh Tuhan, karena dengan Dia memberikan anak ke saya, itu tandanya saya mampu, dan pasti Tuhan kasih yang terbaik, asal kita mengusahakannya.

Special thanks to the people that have helped me a lot through the first year successfully: my husband, my mom, my in laws, and last but not least, my nanny! *cup cup mwah*

"Parenting is not for sissies. You have to sacrifice and grow up."
~Jillian Michaels
Manyun dulu hahaha....
Sebelum lupa, untuk yang merayakan Natal, Selamat Hari Natal! Damai di bumi, damai di hati.

Wednesday, December 11, 2013

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas

Ini sih sebenernya postingan super duper telat banget dah! Acaranya sendiri sudah berlangsung di bulan Oktober dalam menyambut English Festival di sekolah. Tapi berhubung hari ini saya lagi tewas di rumah, dan tidur melulu gara-gara minum obat herbal dan nenggak Panadol, sekarang malah jadi agak semangat buat berbagi cerita. Apalagi pas Jeng Meta kemarin nanya ide buat dekorasi kelas, jadinya saya pikir, eh kali aja berguna yak buat di share ke temen-temen.

Saat itu di seluruh kelas secondary diumumkan, kalau bakalan ada lomba dekorasi kelas yang temanya harus sesuai dengan buku literatur! Wadoh! Saya sendiri berhubung tidak terlalu akrab dengan literatur bahasa Inggris, memberikan kebebasan ke murid yang saya walikan di kelas 7 untuk memilih sendiri tema tersebut. Jadi dengan brainstorming selama 5 menit (beneran 5 menit, kagak boong), akhirnya terpilihlah tema "ALICE IN WONDERLAND"! Idenya murni dari anak-anak, dan (kampretnya) modalnya juga dari anak-anak, alias nggak disponsorin oleh sekolah. Jadi kita harus putar otak, gimana caranya supaya kita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan dengan biaya yang semurah-murahnya, tapi temanya dapet.

Murid-murid saya tadinya hampir putus asa karena menurut mereka, sulit dengan modal seadanya, mereka bisa membuat karya yang bagus. Apalagi mereka melihat kakak-kakak kelasnya lumayan keluar modal banyak, bahkan (gossipnya) ada yang sampai keluar di atas 1 juta rupiah untuk membeli properti. Sementara di kelas kami, saya tidak mau anak-anak sampai membebankan orang tua mereka untuk mengeluarkan uang banyak, jadi kami berusaha memakai uang kas yang kami miliki yang jumlahnya 300 ribuan saja, ditambah dengan sumbangan dari beberapa anak. Dan ternyata dengan modal sederhana.... kami bisa menghasilkan seperti ini loh!

Pintu kelas yang dilapis karton sewarna dinding kelas, rumput dari kertas krep, cetakan judul dan hiasan kartu (serta kelinci yang lagi nyelip)

Balon-balon, jamur dari karton, rumput dari kertas krep, dan lantai hitam putih yang kami buat dari karton hitam

Print besar Alice in Wonderland, lengkap dengan kartu-kartu tersebar di kelas
Prinsip "do it yourself" tanpa buang uang untuk membeli kostum ini juga saya terapkan ke anak-anak. Kalau seandainya mereka harus beli, belilah properti yang mendukung saja, tidak perlu beli kostum khusus. Walaupun sederhana, saya bangga sama kreatifitas mereka. Kelas kita ini satu-satunya kelas yang seluruh muridnya memakai kostum bertemakan Alice in Wonderland, sementara kelas lain, anak-anaknya bebas pakai kostum apapun. Lumayan kan?

Murid-murid saya sedang story-telling. 
Ada Card Soldiers (yang bajunya dibikin dari papan fiber), ada Jabberwocky (yang sayapnya dibikin dari kardus hitam), ada Catshire Cat (yang pakai bando dan bajunya dilapis pita-pita ungu), ada Rabbit (yang bikin bando sendiri dari kawat), ada Knave of Hearts (yang bikin steel jacket dari kertas perak yang dipotong-potong dan tempel2), ada Red Queen (yang bikin mahkota dari kertas kilap), ada Mathatter (yang bikin tongkat dari gagang sapu), ada Alice (yang demi sepatu biru, melapisi kakinya pakai double tape dan ngelibetin pita biru), dan ada White Queen (satu-satunya yang beli wig untuk mendukung penampilan). Saya sendiri lebih menghargai yang seperti ini, dibandingkan dengan penampilan keren tapi tinggal beli kostum jadi.

Lalu, gurunya pake baju apaan dong? Tadinya, para guru diencourage untuk beli kostum karakter literatur, dan sudah dikasih tau toko untuk beli kostumnya. Harganya di kisaran 300-400 ribu. Rata-rata guru males juga sih beli kostum, dan akhirnya pada pakai yang ada di rumah, kebanyakan jadi tokoh Indonesia (misalnya Bang Jampang, atau Nyai Dasima, atau apa saja deh yang pakai kebaya dan sarung, atau pakai jas hahahaha). Tapi berhubung saya ingin sekali turut mensupport kelas saya, saya juga mau bikin kostum dong! Kan gurunya harus jadi teladan untuk kreatifitas hihi (gaya lo! sok jadi teladan). Akhirnya saya memutuskan untuk jadi Humpty Dumpty.

Dalam karya sastra aslinya, Humpty Dumpty ini duduk di atas dinding bata. Dialah yang memberikan teka-teki dalam bentuk puisi yang judulnya "Jabberwocky". Nah, karena terlalu suram, tokoh ini dihilangkan dari versi film Disneynya. Tapi kan ini English Literature week toh? Bukan Disney week? Dan ide buat jadi Humpty Dumpty ini benernya dateng dari Meta pas lagi ngobrol di WA. Tapi pelaksanaannya gimana? Karena saya (sok) kreatif, inilah langkah-langkah pembuatan kostum Humpty Dumpty ala Leony.

Saya beli 2 fiber board warna merah, dan 1 fiber board warna putih. Yang merah itu saya kasih spidol permanen warna hitam dan dibentuk seperti bata, lalu yang putih itu saya bagi dua lalu bentuk seperti telur.

Untuk si telur, saya warnai dengan spidol permanen. Modalnya cuma tiga warna. Hitam, merah dan biru. Lalu saya ambil lengging punya Abby untuk kakinya si Humpty.

Leggingnya diisi dengan kertas koran, lalu saya kasih sepatu kets Abby. 

Saya juga membuat topi, lagi-lagi cuma modal sisa potongan fiber dan spidol permanen. Dan saya juga warnai bagian blakang si Humpty.
Jadi bagaimana hasilnyaaaaa?

Ini lohhhh...kostum saya! hahahaha... Ini pas saya test drive aja sih, yang motoin si ipar yang kebetulan lagi mampir ke rumah. Besoknya saya pakai baju hitam-hitam. 
Modalnya itu, nggak sampai 70 ribu loh! Udah gitu, spidolnya masih bisa dipakai lagi. Dan tali hitamnya itu juga masih sisa banyak banget.

Nah, jadi saat lomba itu.... kan diadu antara tujuh kelas ya. Ternyata, dengan modal minimalis, kelas saya dapet juara 3! Dan jujur saja, dengan modal segitu, mestinya bisa kali dapet juara 1 hahahaha... *ini kan kata wali kelasnya, yang pastilah subjektif wahahahah* Anak-anak tadinya malah ngerasa mereka  memang deserve jadi juara 1, karena yang juara 1-nya memang sudah nyolong start dari awal semester, dan juara 2-nya modalnya besar banget. Tapi mereka cukup senang karena mereka yang tadinya sudah putus asa, ternyata masih bisa membawa hasil yang memuaskan. Menang itu memang penting, tapi bukan segalanya. Proses ini membuat kelas kita semakin kompak, dan saya bisa melihat semangat kebersamaan anak-anak di dalamnya.

Oke, demikianlah tutorial sok kreatif dari bu guru abal-abal di tahun pertamanya mengajar. Semoga berguna!

PS: berhubung ada yang nanya kenapa kaki Bu Guru keliatan kayak abis digigit drakula gitu, nih jawabannya. Itu karena pas lagi ngajar di kelas 12, kaki Bu Guru digigit beberapa ekor semut api yang bersarang di tembok, sampai kakinya bengkak, dan akhirnya meletus berair huks. Tragedi di awal tahun pelajaran, tapi bekasnya nggak hilang-hilang.

Saturday, December 07, 2013

Sponsored Video: Gondappa ~ Lifebuoy

Sebelum kita makan, Dik
Cuci tanganmu dulu
Menjaga kebersihan, Dik
Untuk kesehatanmu.

Banyak-Banyak makan, jangan ada sisa 
Makan jangan bersuara, ayo makan bersama.

Masih ingat penggalan lirik lagu di atas? Sekarang, ayo kita nonton video ini, untuk mengingatkan kita betapa pentingnya cuci tangan sebelum makan.



Terharu nggak? Bayangin si Gondappa, bisa ngerayain ulang tahun ke-5 anaknya aja, senengnya minta ampun lantaran anak-anak dia sebelumnya meninggal semua sebelum usia lima! Huks. Bagi mereka, bisa mencapai usia lima adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Bener yang orang tua bilang, kalau demi anak, "kaki buat kepala, kepala buat kaki." Literally loh di video tersebut! Hahaha.

Kalau kita lihat video tadi, memang benar, bukan hanya soal cuci tangan yang menjadi isu utama, melainkan hidup bersih secara keseluruhan. Tetapi melihat bagaimana kuman masuk ke dalam diri kita dan diare menjadi salah satu penyebab utama kematian anak, berarti kita harus menjaga kebersihan makanan kita, dan juga kebersihan tangan kita. Betapa hal kecil seperti mencuci tangan dengan sabun, mampu mempertahankan hidup seseorang! 

Kalau saya dengar kata Lifebuoy, saya pasti ingat sabun antiseptik, dan saya tau banget, betapa Lifebuoy gencar sekali mengkampanyekan cuci tangan sebelum makan sejak tahunan yang lalu, dan juga mandi yang bersih dengan sabun. Kampanye yang sama seperti video di atas, sebenarnya juga sudah mulai terlaksana di Indonesia. Kalau di India tadi sasarannya adalah di Thesgora, di Indonesia sasarannya adalah desa Bitobe di NTT, di mana angka kematian anak tinggi, sebagian besar disebabkan oleh diare. Mungkin sudah pada lihat ya iklan yang dibintangi oleh Pandji Pragiwaksono yang temanya "5 Tahun Bisa untuk NTT".

Sayangnya, beberapa waktu lalu, saya membaca artikel di salah satu surat kabar di Indonesia, yang isinya adalah (perwakilan) masyarakat NTT protes keras karena iklan tersebut dianggap melecehkan warga NTT, dan mengeksploitasi warga NTT. Saya sendiri terus terang kaget dengan protes tersebut, karena menurut saya, walaupun ini adalah bentuk Corporate Social Responsibility dari Lifebuoy, setidaknya ini merupakan bentuk kepedulian dibandingkan dengan eksploitasi. Dalam kenyataannya, memang kehidupan di beberapa kampung di Indonesia sungguhlah memprihatinkan, dan mungkin ini merupakan sedikit "tamparan" untuk beberapa pihak *terutama pemerintah* untuk lebih memperhatikan warganya sebelum ada pihak luar yang justru lebih memperhatikan. Saya tau banget bagaimana masyarakat NTT ini justru banyak mendapatkan bantuan dari pihak-pihak lain di luar pemerintah termasuk pihak asing dan banyak institusi. Lifebuoy ini hanyalah salah satu pihak yang turut berpartisipasi.

Dibalik berbagai kontroversi yang diciptakan oleh kampanye ini, inti yang harus diambil adalah, bahwa mencuci tangan harus menjadi suatu kebiasaan, Lifebuoy membantu kita mengingatkan mengenai pentingnya hal tersebut. Jangan sampai ada desa-desa lain yang juga mengalami nasib yang sama. Marilah kita mencuci tangan, untuk Indonesia dan generasi mendatang yang lebih sehat.

Postingan ini disponsori oleh Lifebuoy.

Friday, December 06, 2013

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 2

Sekarang kita lanjut ke bagian kedua. Buat yang mau lihat bagian pertamanya, silakan klik di sini. 

Nah, barang-barang di bawah ini, sebenernya seringkali di salah kaprahkan orang sebagai kebutuhan utama, lantaran kalau ke toko bayi, barang-barang ini yang suka di deretan paling depan. Padahallll... yang di bagian satu itu yang jauh lebih penting.

Berhubung emak-emak jaman sekarang yang tinggal di Jakarta ini hobinya ngemol, jadi marilah kita menuju ke alat transportasi bayi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1. Car Seat

Masih ingat cerita saya soal pencarian car seat? Kalau lupa, silakan diintip lagi. Terus terang cerita itu bikin saya bengong, ngakak, dan nggak habis pikir hihihi. Nah, waktu di situ, saya belum nulis kan ya, akhirnya saya beli car seat apa? Jawabannya adalah: Combi Coccoro!

Abby punya persis warna ini :). Katanya kalau sekarang ada yang model baru ya?
Tadinya, saya mau beli yang bisa bolak balik. Sama-sama merek Combi, kalau nggak salah harganya sekitar IDR 5.8 juta, tapi gak ada barangnya! *makanya klik postingan lama tadi untuk tau kenapa nggak ada barangnya*. Pilihan akhirnya jatuh ke si Coccoro ini, yang ternyata harganya cuma 2 jutaan saja! *lupa blakangnya brapa*. Dan jujur saja, saya puas banget pakai ini, karena.... 

1. Enteng! Kan Abby gak selalu naik mobil saya, kadang-kadang naik mobil bapaknya, kadang-kadang juga naik mobil om-nya. Masak mau beli car seat berbiji-biji? Jadilah car seat ini pindah dari mobil satu ke mobil lain kalau memang dibutuhkan. Dan karena enteng, enak bawanya :). Pake 1 tangan juga bisa loh!

2. Gampang masangnya! Karena suka pindah-pindah itu, enak banget punya car seat yang tinggal ditemplok dan disilang safety beltnya. Juara banget deh soal pemasangannya itu.

3. Ukurannya! Combi Coccoro ini bisa mulai dari new born, dan sampai nanti anaknya beratnya 15 kg. Bayangin kalau misalnya beli yang new born sampai satu tahun, nanti beli lagi yang satu tahun sampai tiga tahun. Boros deh malah jadi beli dua kali. Selain itu, ukurannya sendiri tidak terlalu besar, sehingga tidak terlalu memakan tempat di mobil saya yang sekelas city-car alias imut-imut.

2. Stroller

Tadinya, saya punya keinginan beli stroller besar ala negara-negara Barat, dan sudah ngincer banget Quinny Moodd. Pokoknya naksir berat lah, mana warnanya cakep-cakep gitu. Sampai akhirnya, saya denger masukan dari orang-orang yang sudah pernah makai Quinny, katanya gede banget, berat, dan nggak sesuai sama suasana di Indonesia. Suasana apa maksudnya? Ayo ngaku, kita tuh pake stroller tuh kapan sih? Jawaban paling umum adalah: Saat Ke mall! Jarang banget orang Indonesia bawa stroller buat ke pasar atau jalan di luar rumah. Sayang bo! Soalnya jalanannya acakadul aspalnya brantakan, trotoarnya bompel-bompel. Pokoknya nggak banget deh ah. Beda banget sama di luar negeri, yang orang dorong-dorong stroller kemana-mana, bahkan jogging sambil dorong stroller. 

Terus kalau ke mal, pakai stroller gede-gede, kalau naik turun lantai gimana? Pake lift kan? Udah pernah liat lift-nya mall di Jakarta? Ya ampyun kecilnya! Dan ngantrinya saingan sama ngantri sembako. Terus, diakalin naik eskalator aja? NO NO NO! Bahaya bangetttt!! Kalau rodanya nyangkut, strollernya bisa kebalik dan anak kita kelempar! Jangan nekad ya. Makanya begitu nemu stroller yang satu ini, saya langsung hajar. Udah pada tau dong the most popular stroller of the year? Aprica Karoon! Alasannya:

Ini persis Abby punya, yang polkadot :). Sengaja biar kalo adeknya laki, masih bisa dipake haha. Ngirit donk!

1. Enteng! Beratnya cuma 3.6 kg! Lebih enteng dari sekantong beras, Bu! Terus karena enteng, keluar masukin dari bagasi mobilnya gampang banget. Kalau mau naik eskalator dan gendong anak, gak berat angkat strollernya.

2. Ukurannya! Lagi-lagi, walaupun strollernya ringan, bisa dipakai sampai anak kita beratnya 15 kg.

3. Cara lipatnya! Bener-bener tinggal one click away, dan simpel banget. Satu step saja! 

Kontranya: Suka lupa kalau enteng! Biasanya emak-emak kan suka nyantolin kantong belanjaan tuh di pegangan stroller. Kalau sama Aprica Karoon jangan ya! Tar yang ada pas anaknya diangkat, seluruh belanjaan bakalan ngejeblak semua saking entengnya tuh stroller hihihi. *lagian kayaknya cuma orang Indonesia doang yang hobi banget nyantolin segambreng belanjaan di pegangan stroller. Apalagi kalo lagi jalan-jalan di singaparna, stroller itu jadi kereta belanja haha*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oh iya, sebenernya saya sempat beli gendongan Aprica Fitta. Bagus sih, cuma ujung-ujungnya nggak sering dipakai karena Abby saya biasakan untuk tidak minta gendong. Jadinya dia betah banget duduk di stroller dan di car seat. Kalau tidur juga gitu, ditaruh di crib, paling dia loncat-loncat, terus nggak lama tidur sendiri. Jadi saya nggak bisa review gendongannya ya, soalnya beneran gak terlalu sering dipakai. Jadi bapak ibu, sebenernya, nggak usah beli terlalu banyak ya untuk alat transport. Kayak tas bayi, gak usah pakai yang fancy-fancy, karena ujung-ujungnya bakalan sering kotor juga dan malah lebih enak pakai yang parasut biasa atau ransel, yang bisa dicuci. 

Semoga walapun sedikit, reviewnya bisa membantu ya.  Intinya adalah, semua barang-barang yang saya tulis, worth the money spent. Nanti kalau ada kepikiran lagi barang-barangnya, bakalan saya tulis juga. Atau silakan tanya juga di comment soal barang-barang saya yang lain, nanti akan saya jelaskan dengan senang hati.