Tuesday, November 26, 2013

2 Tahun Jadi Istri Orang

Terorejing torejing torejing... *ala PMR*... 19 November 2013 lalu, saya sudah jadi istri orang selama 2 tahun sodara-sodara! Prok prok prok prok prok! Ayo kasih saya selamat!

Kalau setahun pertama itu adalah masa-masa penyesuaian, kalau tahun kedua ini adalah MASIH TETEP masa penyesuaian. Beneran! Memang banyak orang bilang, sampai maut memisahkan pun, masih banyak misteri-misteri dan kelakuan pasangan yang baru kita ketahui. 

Tapi boleh dibilang, tahun kedua ini banyak diisi dengan peristiwa yang seru, dengan banyaknya lompatan-lompatan yang kami lakukan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
1. Kami pindah lokasi!

Kami pindah bukan karena baru beli rumah, tapi kami pindah karena sudah mau melahirkan! Hahahaha.... Rumah kami sebenarnya sudah dibeli sejak sebelum kami menikah, tapi akhirnya tidak jadi kami tempati karena saat itu belum sempat renovasi, dan berat juga meninggalkan mama saya yang saat itu rasanya "seneng-namun-nggak-rela" anaknya nikah. Kebetulan dokter kandungan yang sreg di hati, lokasinya ada di RSPI Puri Indah, jadilah awal Desember 2012 lalu, saya pindahan dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat dalam keadaan perut usia hampir 9 bulan hahahaha... Untungnya cuma bawa koper doang, karena kami nggak pindah ke rumah kami, melainkan pindah ke ex tempat mertua yang saat itu sudah kosong. Jadi semua sudah furnished, dan kami tinggal gerek bawa koper pakaian dan juga crib serta perlengkapan Abby.

Siapa yang seneng pas kami pindah ke Jakarta Barat? Tentulah suami saya, karena itu berarti dia bisa sering-sering bersua dengan Bakmi Alok, Bakmi Asoi, Bakmi Aloi, dan bakmi-bakmian lainnya (dan babi-babian)... Welcome back, Darling! 

2. Kami dapat anugrah terindah - Abigail!

Cerita lahiran Abby sudah pada tau lah ya. Masa-masa membesarkan Abby, walaupun bahagianya tak terkira, juga merupakan masa-masa yang melelahkan dan kadang membuat hati down. Apalagi saat drama per-ASI-an di mana ASI saya jumlahnya nggak banyak, dan ada dorongan dari pihak sana sini untuk menyerah. Saat itu saya jadi belajar, kalau mau punya keteguhan hati, semuanya itu bisa dilalui dengan baik, tapi faktor utama yang juga penting adalah, dukungan dari SUAMI! Yes, dari suami. Apapun yang orang bilang, yang mengecilkan hati kita, asal suami selalu berada di sisi kita dan mendukung kita, rasanya kayak dapet tambahan support 1 juta orang!

Saya harus bersyukur punya suami yang kebo tidurnya, karena dia tidak pernah sekalipun mengeluh atas keberisikan aktifitas saya memompa ASI di sebelah dia saat subuh dan pagi hari. Saya bersyukur juga punya suami yang seneng sama anak kecil, walaupun seringkali dia sudah mau teler kecapekan pas pulang kantor, tapi kalau Abby masih bangun, pasti dia sempetin main. 

Bonus lagi, kami punya seorang anak yang mukanya seneng terus! She's a very happy baby! Sekarang di usia 11 bulan, hobinya lagi loncat-loncat gak karuan di crib, dan kayaknya gak sabar banget buat jalan sendiri. Being parents is tough, but it is rewarding. Having her in our life, have been the greatest joy so far. 

3. Saya pindah profesi!

Yang ini juga temen-temen juga pasti sudah tau, saya ganti profesi jadi guru. Terus terang, saya sempat stress saat awal-awal saya memulai pekerjaan ini. Seperti saya pernah cerita, memang ada faktor idealisme sebagai pendidik yang membuat saya justru kebanyakan merenung dan bertanya-tanya. Yang ada, saya sering banget nangis, sedih, gak bisa tidur, pokoknya segala hal berkecamuk di dalam otak saya. 

Saat saya mengalami yang namanya kegalauan super itu, saya sering banget gangguin suami saya yang lagi tidur pules tengah malem. Saya towel-towel, dan seringkali saya nangis sendiri sambil dia pelukin. Kedengeran lebay? IYA! GPP BIARIN hahahaha! Dalam kenyataannya, saya gak pernah kena baby blues, tapi kena teacher blues. Untungnya masa-masa itu pelan-pelan berlalu, dan saya menyadari, kuncinya adalah, saya cukup fokus di hal-hal yang memang menjadi tanggung jawab saya secara scope kecil dulu. Nanti setelah itu, baru kita menguasai dunia! *halah* Dan sekarang, lumayan saya sudah bisa tidur pulas dengan kadar stress berkurang (kecuali kalau nggak sengaja minum kopi atau teh kebanyakan, gak bisa tidur juga, haha). Thanks Pak Suami, you can get your sleep time back!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Last but not least, hal yang lumayan PENTING, yang saya rasakan di tahun kedua ini, yang merupakan perkembangan dari tahun pertama adalah: SAYA BISA TIDUR PULES WALAUPUN SUAMI SAYA NGOROK! Tralalalalala.... Hahahaha. Adaptasi akhirnya membuat kuping saya tebel dan ngorok suami berubah menjadi nyanyian merdu (gak deh, bohong, tetep aja ngga enak).

Terus, tahun ini rayainnya ngapain dong? Tahun ini bener-bener nggak ada perayaan. Kami lagi pada sakit semuanya! Udah gitu suami lagi lembur karena kantor pindah lantai, istri lagi gempor karena anak-anak mau ujian semester. Yang jelas, ketidakromantisan kali ini bukannya karena gak usaha kok! Hahaha. *melirik suami yang untungnya sudah lumayan menebus ketidak romantisannya pas Valentine tahun lalu di hari ultah saya*

Kesimpulannya, di tahun kedua ini, jauh lebih menantang dibandingkan tahun pertama, karena ada Abby. Kehadiran Abby di tengah-tengah keluarga, membuat kita makin memikirkan prioritas hidup, membuat kita bekerja lebih keras, dan membuat kita melakukan pilihan-pilihan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Puji Syukur pada Tuhan atas 2 tahun yang luar biasa ini, Puji Syukur karena begitu banyak orang yang mencintai kami dan memberikan support yang besar. Tidak sabar untuk menantikan tahun-tahun selanjutnya yang makin seru dan penuh cerita indah. Doakan kami terus ya!

19 November 2011 - Katedral Jakarta
PS: Our wedding day Part 1 and Part 2


Wednesday, November 20, 2013

Sponsored Video: Why Bring a Child into This World

Saya tau, saya adalah orang yang makin ke sini makin memilah-milah apa yang mau saya post di dalam blog. Dan ketika ada permintaan untuk posting video ini, saya mikir 1000 kali, should I do it? Dan setelah saya melihat video-nya, I definitely said yes.



Bohong banget kalau kita bilang kita tidak pernah khawatir dalam menghadapi masa depan. Saya yakin, sehebat-hebatnya kita, pasti ada saat dimana kita merasa sudah mentok, tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Saya sendiri pernah mengalaminya, mulai dari pengalaman keputusasaan saat didera penyakit, ataupun pengalaman hubungan dengan orang lain yang berlangsung tidak menyenangkan.

Kemudian setelah saya punya Abby, rasa ketakutan dan kekhawatiran itu makin melanda. Tentang masa depannya, tentang kualitas hidupnya, terutama kualitas hidup di Indonesia. Seringkali saya bertanya pada diri sendiri, apakah keputusan saya untuk kembali ke negara ini sudah tepat? Apakah keputusan untuk meminta suami saya tinggal di Indonesia dibandingkan dengan saya ikut dia ke luar negeri itu salah? Ada bagian-bagian di video ini, di mana saya jadi ikutan gemetar juga, mengingat masa-masa Abby masih di dalam perut saya, dan berbagai cita-cita yang sudah saya sematkan untuk dirinya. Apakah semuanya akan tercapai?

Seringkali saya berdiskusi kecil dengan suami saya, soal masa depan anak, soal apakah nanti dia bisa merasakan yang kita rasakan pada saat kecil dulu, bermain di halaman, menikmati udara yang bersih, menikmati main siram-siraman, menikmati kualitas hidup yang layak. Saat saya menonton video di atas, saya merasa tertampar, karena saya merasa, loh kenapa saya jadi begitu pesimis, padahal banyak hal-hal kecil yang kita lakukan sekarang, bisa berguna untuk masa depan. Saya, dan juga kita semua di sini, bisa membuka pintu bagi anak cucu kita, untuk kualitas hidup yang jauh lebih baik. Ditengah kebimbangan itu, kita harus punya suatu hal yang bisa membuat kita bersemangat, yaitu HARAPAN.

Project Sunlight dari Unilever ini menjadi pengingat bagi kita, kalau kita masih punya harapan, masih bisa berbuat sesuatu. Mungkin bukan kita yang menikmatinya, tetapi anak cucu kita. Teknologi itu bukan menjadi bumerang bagi kita, melainkan menjadi sarana bagi kita, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Untuk yang berminat, bisa gabung di project ini. Let's join, to make the world a better place. (sambil dadah-dadah kayak kontestan miss universe).

Postingan ini disponsori oleh Unilever, tapi curahan hatinya, asli dari saya! Hehehe.


Tuesday, November 05, 2013

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Pada saat mau jadi emak-emak, saya yang tadinya kalau buka internet itu cuma buat baca berita (plus gossip), facebook-an, dan blogging-an, mendadak jadi nambah hobi baru, yaitu buka website barang-barang kebutuhan untuk bayi dan emaknya beserta forum-forum. Dan lagi-lagi saya pusing tujuh keliling kalau  baca forum, sama seperti saat nyiapin kawinan. Seperti biasa, kalau di forum itu, emak-emak suka ngerasa pilihannya paling top markotop. Gak usah jauh-jauh, sampe soal dokter aja saing-saingan. Alamakjannnn... Tulung deh ah!

Buat orang yang nggak mau ribet kayak saya, paling enak itu nanya temen yang "sukses" dalam membesarkan bayinya, dan hidupnya keliatan cukup "wajar". Wajar dalam hal ini adalah, setelah punya anak, hidupnya tidak keliatan sulit dan ribet alias ngeluh melulu, plusss anak-anaknya terawat. Kebetulan emak-emak di group WA dan beberapa temen kuliah saya itu memang resources yang sungguh bisa diandalkan! Dalam kenyataannya, kalau kita bertanya pada sumber yang tepat, kita jadi tidak "kelebihan" dalam beli barang, dan bisa fokus pada barang-barang yang lebih bermutu daripada beli beberapa kali karena nggak gitu cocok.

Nah, di bawah ini adalah list dari beberapa barang yang saya beli sampai saat ini yang menurut saya berguna sekali setidaknya sampai Abby usia sekarang. Inget ya, ini versi saya loh. Kalau ada yang ngerasa nggak cocok, ya gak apa-apa karena tentunya tiap orang beda-beda ya preferensinya. Semoga membantu!

1. Pompa Asi

Lupakan soal stroller, car seat, dan lain-lain, karena inget bu, kebutuhan primer bayi itu adalah ASI! Banyak orang yang belum apa-apa mikirnya alat transportasi dulu, dan baru ingat, kalau pompa ASI adalah salah satu alat terpenting yang sebaiknya dimiliki oleh seorang ibu. Menyusui langsung adalah metode yang paling baik. Tetapi bagaimana jika ibu nantinya harus balik ke kantor? Supaya asupan ASI tetap bisa dipenuhi dan kewarasan ibu dapat dijaga dengan tidur yang cukup, tentunya bisa dilakukan dengan cara memompa ASI. Pompa asi yang saya pilih adalah: Medela Freestyle


Kenapa saya pilih pompa ini? Alesan ceteknya, ini adalah satu-satunya pompa ASI di pasaran yang memakai batere litium yang 'rechargeable'. Waktu itu saya berpikiran untuk langsung kembali ke kantor setelah cuti lahiran, dan mendapatkan berita kalau di ruangan tempat kita biasa mompa itu tidak ada stop kontak! Kemudian denger dari beberapa teman, kalau pakai pompa manual itu pegel banget, dan harus mompa satu-satu. Akhirnya, diputuskanlah untuk membeli Medela Freestyle. Ternyata banyak keunggulannya! Ukurannya kecil banget, beratnya kira-kira setengah kilo aja. Kemudian ada dua fase pemompaan, jadinya  dada kita ini dibikin relax dulu, baru kemudian diperes kayak sapi hahahaha. Dalam satu kali charge, bisa dipakai mompa 4-6 kali masing-masing setengah jam, tergantung level tarikannya. Kemudian, karena pompa langsung kanan dan kiri, buat saya yang ASInya minimalis ini, itu bisa membantu menstimulasi pengeluaran ASI sampai (katanya sih) 15 persen lebih banyak. Yang jelas nggak ada tetes terbuang karena umumnya kalau mompa separo, dada sebelahnya suka netes2 ASI. Sayang kan kebuang? Keunggulannya lagi, udah termasuk dengan tas dan cooler bagnya itu. Jadi nggak perlu simpen-simpen di kulkas kalau memang kulkasnya jorok (apalagi kulkas kantor yang isinya berbagai rupa ngga jelas). Tambahan lagi, suaranya tenang. Ya ada brisik dikittt... tapi paling tenang dibandingin pompa ASI elektrik lainnya. Kalau saya lagi mompa di klinik sekolah aja, orang-orang suka ngga ngeh saya lagi mompa di balik tirai. 

Kontranya: Harganya kakakkkkk.... Ini dia yang bikin saya sempet maju mundur mau beli. Tapi dinekad-nekadin juga akhirnya beli di Singapura. Saat itu jatuhnya sekitar IDR 4.5 juta dengan kurs yang dulu, dan saat itu di Indonesia harganya masih di kisaran IDR 5.3 juta. Kalau mau ngirit, belilah di Amerika! Jatuhnya IDR 3.5 jutaan. *sayangnya saat itu saya nggak tega mau nitip orang, takut ngerepotin hu hu hu* Kemudian, dia suka ada kayak "down time" yaitu saat indikatornya mulai nggak beres, itu artinya si pompa kudu di charge alias colok 24 jam nonstop untuk balik ke fungsi awal. 

2. Botol Susu

Nah, kalau sudah dipompa, kasih minum anaknya pakai apa dong? Ya tentunya pakai botol susu dong! Saya menggunakan botol susu Dr. Brown, yang standard neck, bukan yang wide neck. Ukurannya saya pilih yang 120ml. 



Dr. Brown ini saya pilih karena dia flownya lambat (natural flow). Flow yang sangat lambat ini baik sekali untuk bayi, supaya dia lebih berusaha pada saat mengenyot, dan mirip-mirip dengan saat dia mengenyot di puting ibu. Buat ibu, inget kan bu kalau sedotan bayi itu paling ampuh menstimulasi ASI? Jadi anak tidak punya preferensi karena baik di puting ibu maupun dengan botol, sedotannya sama-sama 'sulit'. Dan juga keunggulannya adalah anti-colic systemnya. Saya tidak tau pengalaman ibu-ibu lain, tapi yang jelas Abby cuma memakai produk Dr. Brown, dan sampai saat ini tidak pernah kolik. 

Kenapa yang standard neck? Karena bentuknya ramping, kemudian mulut botolnya bisa langsung pas dengan ukuran si Medela Freestyle tadi! Hihihih. Jadi saat saya kejar tayang dengan persediaan ASI, seringkali malam saya mompa dan langsung direct ke botol susunya Abby. Saat Abby sudah bisa megang botol susu sendiri pun, bentuknya pas dan tidak kebesaran. Dan kenapa saya  memilih yang 120ml, bukan yang lebih kecil atau lebih besar? Kalau yang 60 ml itu terlalu kecil, dan dipakainya sebentar banget! Sementara yang 240ml itu besar banget, dan baru akan dipakai saat anaknya sudah minum sangat banyak. Jadi kalau baru jadi ibu, cukup beli yang ukuran 120ml. Belilah setidaknya 6 botol, supaya tidak harus keseringan cuci dan steril.

Kontranya:  Partsnya banyak! Jadi nyucinya butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra. Sebenernya nggak banyak-banyak banget, hanya tambah insert dan karetnya. Tetapi insertnya itu harus disikat khusus dengan sikat tipis yang dia kasih supaya bersih. 

3. Penghangat ASI

Kalau ASI ibu sudah didiamkan di kulkas, untuk diberikan ke bayi tentunya harus dihangatkan. Kalau mau pakai cara tradisional, rebus air, lalu rendam botol susunya di air panas. Tetapi jaman sekarang, kebanyakan orang memakai penghangat ASI. Pilihan saya jatuh kepada Philips Avent. Jangan bingung ya, botol susu sama penghangatnya kok mereknya lain hahahaha... Saya jelasin habis ini kenapa.


Banyak sekali bottle warmer yang ada di pasaran, dan mungkin ibu-ibu berpikir. Kenapa harus Philips Avent? Kan banyak yang lebih murah jauh, bentuknya juga mirip-mirip. Tapi dari awal sebelum Abby lahir, pilihan saya jatuh ke yang ini. Saya dapat kado juga merek lain yang sekarang saya taruh di rumah mertua buat cadangan. Padahal mereknya lumayan terkenal. Jangan salah ibu-ibu, kalau merek lain itu lamaaaaaa panasnya. Anak ibu udah bisa keburu meraung-raung kelaperan. Kalau si Philips Avent ini, cepet sekali! Sama seperti setrikaan merek Philips yang awet, penghangat botol yang satu ini juga awet dan praktis banget! Bentuknya juga mungil dan enteng. Jadi daripada buang uang dua kali, mendingan beli yang pasti-pasti aja hihi.

4. Sterilizer

Lupakan semua sterilizer botol, dan cukuplah kita memakai yang satu ini! Panasonic Dish Dryer!



Saat saya bilang saya cuma pakai sterilizer ini dan bukan pakai sterilizer khusus botol, banyak yang takut, duh, nanti bakterinya nggak mati semua, duh nanti kurang kering. Nah sekarang logikanya gini aja, kalau misalnya disteril direbus air panas, terus nanti ditaroh di rak lagi, kena debu nggak? Kena bakteri lagi nggak? Indonesia gitu loh! Terus kalau misalnya pakai bottle sterilizer, memangnya barang bayi hanya botol saja? Tidak berapa lama, barang si bayi udah nambah seabrek-abrek. Dari masih full ASI saja kan sudah ada cup-cup penampung ASI, sparepart pompa ASI emaknya, belum lagi nanti kalau sudah makan, ya ampunnn barangnya banyak bener deh ah! Kalau mau direbus satu-satu, entah sampai kapan kelarnya. Kalau takut ga bersih, tips saya, pretelinlah semua bagian-bagian botol dan lain-lain, cucilah sepenuh hati pakai sabun cuci piring yang food grade, sponge dan sikat yang bersih, bilas dengan baik. Terus tata dengan rapi di dish dryer ini, puter tombolnya selama setengah jam-an, dan voila! Kering kerontang plus anget hihihi.... Setelah itu, tinggal dipasang-pasang lagi deh bagian-bagian botol dan sparepart. Keunggulan lainnya, untuk kapasitas segitu, harganya terjangkau! Plus poin lagi tuh. 

5. Hand Blender

Inilah, alat paling berguna untuk MPASI-nya Abby. Tepuk tangan untuk Philips Hand Blender!! 


Percaya atau nggak, saking majunya pemikiran saya (alias sotoy), saat belanja barang-barang lamaran, saya minta hand blender ini masuk jadi bagian barang hantaran! Hahahaha.... Dan ternyata, ini adalah alat yang luar biasa membantu sekali untuk saya mempersiapkan MPASI-nya Abby. Lupakan berbagai alat untuk bikin bubur saring, bubur kasar, dan lain-lain. Serahkan saja kepada hand blender ini. Kalau ibu mau halus banget, ya tinggal hajar aja itu blender sampai halus. Kalau anak sudah agak besar dan  mau dikasarin, tinggal kasar-kasar aja pelan-pelan blendernya, jadi nasi tim-nya lebih bertekstur. Sangat-sangat menghemat waktu! Selain itu, karena dia hand blender, jadi ibu bisa langsung melakukan proses penghancuran di panci! Tidak perlu berganti-ganti container. Bedanya dengan blender biasa adalah, kalau blender biasa, proses penghancurannya kan dari bawah ya alias dari mata pisaunya dan itu bisa menyebabkan makanan terlalu halus. Kalau hand blender Philips ini, ibu atur aja, naik turun, puter-puter sambil posisi mengaduk, jadi dijamin lebih rata dan tingkat kehancurannya bisa diatur. Hal yang bagus lainnya adalah, bersihinnya gampang banget! 

Kontranya: Brisik! Udah..itu doang.

Oke, segitu dulu barang-barang yang menurut saya esensial sekali dalam perkembangan Abby, dan semuanya di atas itu berkaitan dengan makanan!! Hihihi... Nantikan lagi bagian selanjutnya! Kalau ada yang mau nanya-nanya, monggo!