Saturday, May 25, 2013

Hipokrasi dan Agama

Berhubung lagi rame-ramean dikit soal si EsBeYe mau nerima World Statesman Award yang tentu saja mendapatkan cengoan dari orang-orang Indonesia yang lumayan berpendidikan dan berakhlak baik, yang menyatakan kebingungannya karena tentu saja negara kita ini masih acakadul toleransinya, MAKA (eh panjang amat ya saya nulis sebelum kata 'maka') saya juga mau menuliskan sedikit pandangan saya soal agama, kebaikan, dan toleransi. Catet ye, ini bakalan serius! I'll try to make it as fun as possible untuk dibahas.

Hari ini, saya melihat sebuah artikel sangat bagus di koran online USAtoday yang judulnya saja sudah bikin nyengir: "Pope Francis Defends Atheists". Ajegile, nohok banget judulnya. Seorang pemimpin Agama Katolik, tidak mempermasalahkan kepercayaan seseorang, asalkan orang tersebut: MELAKUKAN KEBAIKAN!

Francis described doing good not as a matter of faith, but of "duty, it is an identity card that our Father has given to all of us, because he has made us in his image and likeness."

"If we do good to others, if we meet there, doing good, and we go slowly, gently, little by little, we will make that culture of encounter: we need that so much. We must meet one another doing good."

Btw, pada ngerti kan? Gak usah diterjemahin lagi lah ye. Kenapa saya angkat topik ini di sini? Terus terang, saya suka kecewa. Kecewa berat sama orang-orang yang ngakunya beragama, bahkan berkoar-koar soal agama, tapi dalam kenyataannya sama sekali tidak melakukan apa yang semestinya dia lakukan sebagai umat beragama, mulai dari melaksanakan korupsi, menebar kebencian, melarang orang beribadah, memainkan perasaan orang dengan kawin sana sini, melakukan pembunuhan cuma gara-gara kepentingan, sampai yang memaksakan kehendak orang untuk masuk ke agama tertentu (dan tentunya masih banyak lagi contoh-contoh yang lebih menyesakkan).

Tadi siang, saya kedengeran khotbahnya pak uztaz dari toa mesjid deket rumah sini. Beliau menghimbau, untuk tidak mencampurkan agama dan politik, karena agama itu lebih ke memperjuangkan hubungan kita dengan Tuhan dan sesama, sementara politik itu hanya untuk memperjuangkan kepentingan pribadi dan golongan. Toss deh, pak uztaz! Lah, tapi kenyataannya gimana yah, ini negara udah terlalu carut marut. Partai yang katakan tidak pada korupsi saja, tau2 anggotanya pada masuk bui gara-gara korupsi. Belum lagi partai yang berlandaskan agama, ternyata korupsi sapi dan persoalan cewek-ceweknya semakin memanas dan jadi headlines di mana-mana.

Ah, gak usah jauh-jauh deh. Saya masih belum sampai kalau ke soal negara. Sekarang saya mau menceritakan pengalaman, mengenai hipokrasi kecil-kecilan yang terjadi di lingkungan sekitar saya. 

1. Ada teman saya,orangnya alim, kalem, kelihatan sangat beragama sekali. Saya suka dishare-share lagu-lagu rohani sama dia. Bahkan kalau dia lagi pake headphone, saya suka ditawarin, mau denger bareng atau nggak. (Jelas lah saya nolak, mana enak denger lagu separo telinga). Saya pun beberapa kali naik taksi sama beliau. Kalau saya naik taksi, kebiasaan kasih bulatkan ke atas sekalian untuk tip-nya sopir taksi. Tapi pas saya pergi sama dia, saat saya mau bayar, dia keluarkan uang-uang dia yang terbutut, recehan dan uang kertas yang sudah sobek-sobek, lalu dia bilang, "Udah kasih pas aja, nih saya banyak duit butut, ngotor-ngotorin dompet aja, mending buat bayar taksi." Saya SHOCK! Shocknya karena dia berbicara begitu di depan sopir taksinya! Belum lagi kalau memperlakukan office boy, suka seenaknya, dan bilang: "Suruh-suruh aja tuh, kemarin udah saya kasih dia uang 100 ribu." Geez... 

2. Ada orang lain juga, yang setiap hari bagi-bagi email renungan agama, kalau cerita soal agama sangat berapi-api. Tapi kalau dia nggak suka akan sesuatu, bisa-bisanya dia teriak-teriak dan memaki-maki orang di depan orang banyak. Kalau boleh dibilang, orangnya kasar banget. Yang anehnya, seringkali dia membanggakan dirinya sebagai seorang yang agamais dan aktif melaksanakan kegiatan keagamaan. Tapi kok tiap hari marah-marah dan memaki orang melulu. Gimana tuh? Sampai ada satu teman yang trauma loh diteriakin sama dia, dan sampai sekarang masih keingetan terus.

3. Ada juga orang yang setiap hari status BB, Facebook, dan semua media sosialnya menggambarkan kebesaran Tuhan, syukur, bahkan sering update kegiatan rohaninya. Pokoknya biar kelihatan kalau dia ini mantab lah ibadahnya. Tapi dalam kenyataanya orangnya tukang gossip, jelekin si A ke si B, jelekin si B ke si A, dan mungkin kalau ada 5 orang, akan disilang-silangkan semua gossipnya supaya masing-masing jadi tau kejelekan yang lain. Sebenarnya kalau menurut saya sih, orang tersebut hanya mau membuat dirinya feel better. Kecian deh lu! Too bad saya juga sempet kemakan loh, sampai akhirnya saya menyadari kalau keterusan, saya juga bisa terjebak dalam permainannya. Phew!

4. Ada lagi orang juga, yang maksain kehendak untuk saya memilih lagi agama yang "benar" dan mempertanyakan agama yang saya pilih, kemudian diterangin panjang lebar sampai berbusa, kalau saya selama ini ibadahnya salah, menyembah pihak yang salah, dan cuma agamanya dia saja yang betul, dan hanya melalui nabinya saja saya bisa masuk surga. Bahkan berani-beraninya ada seorang pemuka agama yang ngatain di depan muka saya kalau agama saya itu tradisinya serasa kayak orang mati (he said that it was "dead people tradition" saking membosankannya) dan dia bilang, memuji Tuhan itu harus gembira ria, bukan dalam keheningan. HELLO? Hari gini??

Kecewa gak sih? To be honest, sebenernya saya juga lagi gossipin orang sih sekarang *PLAK* hihihi. Oke, bukan gossip, tapi  memberi contoh semata, kali-kali aja sebenernya banyak orang di sekitar kita yang seperti ini juga. Bawa-bawa nama agama, hanya untuk pembentukan image a.k.a. pencitraan, padahal aslinya, basi banget. Lebih basi jauhhhh daripada yang atheist alias  gak percaya Tuhan/ gak memiliki agama, tapi menjalankan kehidupan yang baik, melakukan kebaikan untuk sesama, dan mempunyai semangat berbela rasa yang tinggi. Bahkan suami saya pernah dengan extremenya berkata, "Non, kalau ngga ada agama, mungkin dunia lebih baik kali ya?" Itu ya saking dia keselnya karena pertikaian antar agama ini gak habis-habis, dan makin banyak petinggi-petinggi yang suka mengatas namakan Tuhan di setiap aksinya walaupun sebenarnya itu jauh dari kehendak Tuhan yang maha kasih.

Dalai Lama, yang notabene juga pemimpin agama Budha Tibet, pernah menulis di status Facebook-nya sebagai berikut: 

"All the world's major religions, with their emphasis on love, compassion, patience, tolerance, and forgiveness can and do promote inner values. But the reality of the world today is that grounding ethics in religion is no longer adequate. This is why I am increasingly convinced that the time has come to find a way of thinking about spirituality and ethics beyond religion altogether." 

Jeger banget? Yoi, jeger! Bahkan orang-orang sampai bertanya, apakah Dalai Lama mau menghapus semua agama di dunia hahaha. *Hadeh, gak nyampe segitunya kali*

Statement Paus Fransiskus dan Dalai Lama di atas, sungguh membuat hati saya tergugah. Makanya saya jadi terinspirasi untuk nulis soal ini. Setiap hari dalam hidup kita, marilah kita berbuat kebaikan yang nyata. Tidak penting agama kita apa, tidak penting latar belakang kita apa.

WE MUST MEET EACH OTHER DOING GOOD. 
HAVING NO FAITH DOESN'T MEAN HAVING NO MORALITY. 

Jadi, marilah kita bertanya pada diri sendiri, have I done something good today? Sudahkah kita melakukan kebaikan hari ini?

Friday, May 10, 2013

Motherhood Saga: Masuk Kuping Kanan, Keluar Kuping Kiri

Setelah dua postingan sebelumnya yang kata para pembaca rada mengharu biru (padahal beneran deh, ga ada maksud bikin orang terharu, cuma pengen sharing aja jatuh bangun kehidupan ini...cieh), kayaknya sudah selayaknya dan sepantasnya saya berbagi postingan yang lebih ringan dan manis seperti gulali, dan garing seperti emping jengkol. Mari!

Buat emak-emak di sono yang  lagi ngegedein anak, ngaku deh, kalo yang namanya omongan orang negatif orang itu, NYEBELIN luar biasa! Belum lagi, di dunia ini banyak emak-emak kompetitif, yang bukan cuma saingan berat badan, panjang badan, udah bisa ngapain aja, tetapi semua hal. Ibaratnya jumlah kentut sehari aja juga dijadikan ajang kompetisi! (ibaratnya loh ya.... eh apa beneran?)

Ngaku deh, pernah nggak sih, kita tuh kayak ngerasa kecil hati saat orang-orang berpikir kalau kita ini bukan ibu yang baik, cuma gara-gara cara kita berbeda dari cara dia membesarkan anaknya sendiri? Itu ya kalau diandaikan, seperti belum apa-apa udah di cap di depan jidat: NOT A GOOD MOM. Padahal nih yah, sebagai ibu yang normal, dan menghasilkan anak itu dari relasi suami istri yang saling mencintai, pasti deh dijamin (kecuali ibu tersebut nggak waras), kalau kita pasti berusaha memberikan yang terbaik buat anak sesuai kemampuan kita. Kaki buat kepala, kepala buat kaki deh kalo buat anak (ibaratnya lagi loh ya, bukan akrobat).

Pertama, soal fisik anak. Pasti pertanyaan paling sering: Berat badannya udah brapa, anaknya udah bisa ngapain aja. Wajar kok Pak, Bu, nanyain berat badan dan kebisaan sang anak. Wajar banget... yang nggak wajar itu, kalo yang nanyain mulai nyinyir, "Oh, anaknya kok kecil banget sih? Makannya cukup nggak tuh? Anak saya tuh dulu... (bla bla bla)" atau, "Ih, anaknya kegendutan deh, pake formula yah? Ati-ati loh, formula bisa bikin kegendutan, jelek nanti anakmu." Kayaknya kok jadi manusia serba salah banget yah. Gendut salah, kurus salah, anak kelewat aktif salah, anak kelewat diem dianggep dodol belum bisa ngapa-ngapain.

Kalo soal si Abby, kebetulan dia termasuk anak yang imut, dan sampai sekarang masih full ASI. Tapi brapa banyak yang sudah meragukan kemampuan saya untuk ngasih ASI? Banyak euy! Memang, ASI saya gak berlimpah, tapi saya tiap malem berdoa dan terus berusaha, sampai badan gembrotpun, saya rela. Dokter suruh saya makan full meal 3 kali sehari, suplemen juga sudah dikonsumsi. Saya pun sampai ambil unpaid leave selama 4 bulan, supaya saya bisa kasih ASI exclusive, minimal 6 bulan. Kalau anak saya bakatnya imut-imut, salah siapa? Mau salahkan orang tuanya? Dokternya aja nggak complain, kok banyak orang-orang yang malah discourage saya kasih full ASI dan nyuruh untuk kasih formula? Belum lagi, yang sampai banding-bandingin kasih liat foto anak orang lain yang usianya mirip. Duh, ngenes banget. Rasanya sampe pengen nangis bombay cuma ditahan-tahan. Tapi puji Tuhan suami dan orang-orang di dekat saya juga banyak yang mendukung walaupun ada juga yang nggak, dan si Abby sehat, pintar, lucu, dan berukuran wajar *ehem,  muji anak sendiri*.

Eh bosen ya dengerin soal ASI ini? Iya saya ngerti, soalnya emak-emak di sana juga banyak kok yang senasib. Bahkan beberapa hari lalu, ada ibu muda juga, yang begitu saya bilang saya kasih ASI walaupun pas-pasan, dia langsung komen, "Ngapain repot-repot? Kalo pas-pasan, kasih formula aja lah gampang..." Rasanya pengen deh saya cabik-cabik tuh orang (halah, kayak brani aja saya haha, toel aja gak brani). Ngomong kok gampang bener yah. Padahal seperti yang kita tau, segala sesuatu yang dicapai dengan perjuangan tuh rewarding buanget! Seenggaknya, sampai saya gagal, saya pernah berusaha mati-matian. Kalau saya dengan mudah menggagalkan diri sendiri cuma lantaran nyari gampang, nanti saya gak bisa nularin semangat juang ini ke putri saya sendiri dong. Kan guru kencing berdiri, murid kencing berlari (sambil blepotan). Gimana nanti kalo anak saya ga punya daya juang? Pasti saya sebagai ortu juga kecewa kan. Gile, mikir2 gini, makin terasa loh saya udah emak-emak banget ngomongnya.

Selanjutnya, soal kebiasaan. Namanya ibu-ibu Indonesia itu, judgmentalnya luarrrr binasa. Kalau nggak sama dengan caranya dia = ibu yang buruk. Sepertinya mereka itu ibu terbaik di dunia. Contohnya aja nih ya:

1. Saat saya bawa Abby ke RS buat imunisasi pas dia umur sebulan, dan saya dorong Abby di stroller. Strollernya dalam keadaan flat yah, karena untuk new born. Mendadak ada tante-tante komentar pakai pandangan silet, "Ih, kalo saya sih gak tega ya anak kecil dimasukin kereta dorong. Mestinya tuh kamu gendong."  Berkali-kali loh ngomongnya. Untung saat itu ada anaknya ibu itu yang lagi hamil nyaut, "Mama kuno ih, jaman sekarang kan anak-anak harus dibiasakan mandiri. Biar kagak bau tangan!" Asik..ada anaknya si tante belain saya hihihihi...

2. Saat saya bawa Abby ke RS buat imunisasi dua bulan, Abby tidur di stroller, dan susternya dorong-dorong strollernya maju mundur dikit-dikit. Dikomenin lagi, "Anak tuh jangan dibiasain kalo di stroller didorong-dorong. Nanti kebiasaan buruk kalo kalau ngga didorong ngga bisa tidur." Halah ini si tante, anaknya tidurnya pake apa sih? Dikasih aromatherapy ya? Sama musik-musik lembut biar relax? Ini bayi loh, bukan tante... (tapi ngomongnya dalam hati). Pas saat itu sih saya bilangnya, "Oh  tante, ini cuma sus-nya aja lagi iseng-iseng." Dan dilanjutkan lagi tuh  merepetnya si Tante, dengan ujung2nya nanya pake bahasa Mandarin yang saya gak ngerti, kira-kira isinya, dapet suster dari mana, terus gajinya brapa, dan minta nomernya yayasan buat anaknya yang mau lahiran. KUYA LU!

3. Saat bawa Abby ke mall, waktu menunjukkan pukul 8.30 malam, saat itu saya baru selesai dinner dan suami lagi nyobain sepatu di department store. Abby lagi bobok di stroller. Lagi-lagi ada tante yang komentar, "Aduh dek, kasian banget anaknya udah jam segini masih ada di mall. Mestinya kamu tuh jangan keluar malem-malem, nanti anaknya masuk angin." Saat saya bilang, kalau anak saya standard jam tidurnya 10 malem, matanya makin tajam kayak gergaji mesin pandangannya. Mungkin dia pengennya saya jawab, iya deh tante, saya bersalah!! *sambil sujud*. Dia nggak tau aja benernya anaknya di rumah boboknya jam 12! hahahaha... (saat itu loh ya, sekarang sih beneran jam 10).

4. Saat saya bawa Abby renang untuk pertama kalinya di public pool di usia 4 bulan (milik sports club di daerah sini ya, bukan kayak yg public beneran yg isinya kayak sarden), ada juga yang komen, "Dek, kasian dek anaknya nanti penuh dengan kuman, masuk angin, jorok...." Belum lagi saat saya posting foto renangnya di BB, komentar negative-nya juga ya gitu deh, bilang kalo saya kok tega bener sama anak... Padahal mah dikit juga nggak ada keinginan untuk menjerumuskan anak sendiri di lembah kelam... Cuma sekedar supaya anaknya bisa sosialisasi dan nggak kaget masuk air aja kok. Lagian anaknya hepi bener bisa renang di kolam arus gak dipegangin, dan dianya jalan sendiri.

Kalau mau diturutin ya pak bapak dan bu ibu, ini hati tuh sering rasa tersayat sembilu loh dengerin komentar negatif orang. Tapi, hubungan dan cinta kita kepada anak cuma kita dan si anak yang tau (plus Tuhan tentu). Kalau kita sayang dan cinta sama anak kita, anak kita juga ngerasain kok betapa kasih orang tua itu luar biasa. Jadi buat emak-emak dan bapak-bapak di sana yang lagi berjuang, selama kalian tau kalau kalian lagi berusaha kasih yang terbaik buat anak, dengerin aja opini orang, tapi yah, sekedar buat masukan. Kalau cocok yah diterima. Kalau nggak cocok, masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Kalau komentar orang lain itu sudah keterlaluan, sumpel aja kuping sendiri, soalnya kalo sumpel mulut orang tersebut nanti dianggep kurang ajar toh? Brantem lagi! hahahahah...

Hayo siapa yang kangen Abby? Udah 4 bulan looohhh! Nih deh, kasih lagi foto-fotonya.

Si buntek pake rok

Tengkurep, kemudian ileran hahaha

Ketawa digodain

Mari swim swim! (ini berenang di public pool yang kedua kalinya)

Ditemenin tantenya, papanya, dan omanya

Ape lu liat-liat? 
Eh iya, Happy Mother's Day to all moms in the world!