Thursday, April 25, 2013

Motherhood Saga: Menjadi Seorang Ibu Part 2

Untuk bagian pertama, silakan baca di sini. 

Kami sekeluarga, mengalami saat-saat kelabu saat papa meninggal di bulan Juni 2001. Mungkin kalau papa meninggal dengan memberikan  tanda, mama akan lebih siap menghadapi hal ini. Tetapi, papa meninggal mendadak, satu jam setelah terserang stroke. Dengan riwayat kesehatannya yang baik, sampai sekarang kami merasa penyebab beliau meninggal itu sebuah misteri Ilahi. Saat itu, saya belum genap 19 tahun, baru saja memulai kuliah. Memang ada pilihan, apakah saya mau menemani mama dan mengkandaskan studi saya di Amerika, atau terus lanjut. Saya memilih terus lanjut. Bukannya saya egois, tetapi saya yakin, keberadaan saya di Indonesia, tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik, dan saya sudah memulai sesuatu yang cukup sayang untuk ditinggalkan dan dimulai dari awal lagi. Saya juga masih mempunyai adik yang dekat dengan mama. Saat papa meninggal, usianya genap 17 tahun. Bahkan dia merayakan ulang tahun ke-17 sehari setelah penguburan papa.

Tahun pertama, mama masih bisa menyibukkan diri. Mengantar-jemput adik saya dan kawan-kawannya, ikut kegiatan ini itu. Tapi justru menjelang tahun ketiga, mama saya drop. Rupanya tidak ada kesibukan yang sungguh membuat dia melupakan papa. Mama tidak berani  lagi tidur di kamar atas yang biasa ditempati bersama papa dan memilih untuk tidak melihatnya lagi. Di bawah ada kamar saya dan adik, juga ada kamar emak (oma). Mama saya memilih tidur bersama adik. Saat itu tahun 2003, saya masih studi. Tapi saya mencoba mencari cara untuk membahagiakan beliau. Saya tau beliau hobby masak, dan suka mengeluh dapurnya kurang nyaman. Jadi saat itu, kami memutuskan untuk merombak dapur menjadi lebih baik. Beliau setuju. December 2003, saat saya liburan, proses redesign dapur dimulai. Saya yang merancang dan memilih langsung materialnya, kemudian seorang arsitek dan kontraktor yang mengeksekusi karena saya harus tinggalkan. Selama proses perombakan dapur, mama saya malah makin terpuruk. Bukannya dia menganggap itu hal yang baik, dia malah menganggap perombakan itu membuat rumah menjadi kacau.

Dapur kenangan hasil renovasi di tahun 2003 yang ternyata sangat tidak disukai mama. (dan sekarang sudah dihancurkan kembali)
May 2004, mama datang ke Amerika untuk menyaksikan wisuda saya. Badannya kurus, walaupun dia bangga akhirnya saya bisa wisuda. Dia bilang, dia senang berada bersama saya walaupun cuma sebentar. Dia bangga pergi berduaan dengan saya naik mobil kemana-mana, dan begitu sedih saat kembali lagi ke rumah di Jakarta. Agustus 2004 saya pulang untuk tengok mama, dan melihat hasil pengerjaan dapur. Menurut saya lumayan bagus, tapi mama saya tidak bahagia. Sama sekali tidak bahagia. That was not what she wanted. Saya sungguh bingung, saya tidak mengerti apa yang dia inginkan. Rupanya, begitu dalam rasa kehilangan terhadap papa, separuh jiwanya benar-benar pergi.

May 2004, hari wisuda. Saya gemuk dan bulat, mama kurus sekali

2005, saya sudah bekerja di Amerika. Februari 2005, emak (oma) meninggal. Mama saya kembali kehilangan untuk yang kedua kalinya, dan semakin terpuruklah dia karena selama ini, mamalah yang melayani emak di masa tuanya. Mama makin kehilangan tujuan hidup, dan semakin menutup diri. Tante saya mencoba membantu ide untuk mama mengisi kesibukan dengan berjualan makanan di kantin karena hobinya memasak, tetapi tidak bertahan lama. Saat itu, kemungkinan saya untuk pulang kecil sekali, karena jadual kerja yang begitu padat. Tapi saya bertekad, di tahun 2006 bulan September akhir, saya harus pulang, karena mama saya akan berulang tahun ke-50. Begitu sulitnya mendapatkan liburan, sehingga untuk merencanakan liburan itu, saya sudah booking setahun dimuka supaya saya tidak dikasih client untuk tanggal-tanggal tersebut.

Pertengahan 2006, saya memberitahu mama saya kalau saya akan pulang untuk liburan. Mama senangnya luar biasa! Perlahan-lahan beliau bangkit, semangat, bahagia! September-October 2006 itu, saya merasakan kalau mama luar biasa bahagia dengan kehadiran saya. Perayaan ultah mama saat itu dirayakan sederhana oleh keluarga dan teman-teman di salah satu hotel di Jakarta, dan saya mengajak mama dan adik jalan-jalan di Bali. Sekembalinya saya dari liburan, saya berpikir, mungkin saya memang harus kembali dan menemani mama di Jakarta, karena sejak papa tidak ada, saya tidak pernah melihat mama sebahagia itu. Dan, saya membuat keputusan, saya kembali ke Indonesia tepat saat malam tahun baru 2007.

Saat saya berpikir kalau mama saya akan bahagia, ternyata keadaan malah sebaliknya. Mama malah terpukul dengan kembalinya saya, dan dia merasa, kalau saya melakukan langkah yang salah. Rupanya dia lebih senang saya berada jauh, dan menjadi "sukses" di negeri orang, karena dia takut saya gagal di Jakarta. Selama lebih dari setengah tahun saya harus membuktikan kepada mama kalau sayapun bisa berhasil di Jakarta, dan akhirnya saya mampu. Kami melakukan trip ke Hongkong untuk merayakan ulang tahun saya ke 25, dan puncak kebahagiaan itu adalah saat kami bisa ziarah ke Tanah Suci di saat Natal 2007.

Desember 2007, perjalanan paling membahagiakan berdua di Petra, Jordania
Apakah setelah itu sudah selesai? Tidak! Ternyata mama mengalami drop lagi, untuk yang kesekian kalinya di tahun 2008. Di akhir 2008, saya bertemu dengan seseorang, yang saat itu saya kira akan menjadi pelabuhan terakhir saya. Tapi di saat yang sama, sayapun didiagnosa mengalami penyakit yang sangat serius. Tapi karena mama saya berpikir kalau saya sudah punya seorang "pelindung" alias pacar saya saat itu, hatinya menjadi lebih tenang. Seperti yang diketahui, operasi pertama saya di Jakarta gagal.

Malang tak dapat ditolak, ternyata di tahun 2009, beberapa hari sebelum ulang tahun saya, kisah saya dan si mantan kandas. Kandasnya pun dengan cara yang sangat menyedihkan dan menyakitkan. Bayangkan keadaan saya saat itu. Dengan operasi yang gagal, kemudian ditinggalkan begitu saya oleh orang yang saya pikir akan menjadi pendamping hidup yang ternyata srigala berbulu domba. Saat itu adalah saat-saat terburuk dalam hidup saya, tapi rupanya impactnya lebih berat lagi ke mama saya. Melihat putrinya disakiti, dia merasa lebih sakit lagi. Saat itu saya selalu berusaha menjaga ketegaran hatinya, dan meyakinkan, everything will be alright. Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang setia pada-Nya, dan saya yakin itu. Saat itu, kami  melakukan perjalanan ke Perth untuk menghibur diri, tapi dibalik foto-foto kami yang terlihat cukup gembira, itu adalah perjalanan yang paling menyedihkan yang pernah kami alami.

September 2009, Mandurah, WA. Our saddest consolation trip.
2010, seiring dengan operasi kedua saya yang berhasil, mama sayapun bangkit. Dia sungguh meyakini, kuasa Tuhan itu ada, dan rupanya itu sangat ber-impact kepada hatinya yang sempat beku. Kami menghabiskan saat-saat yang  luar biasa indah selama 5 minggu di Singapura, dan saya bertemu dengan orang yang menjadi suami saya sekarang di saat masa recovery di sana. Tidak lama kemudian, kami mempersiapkan perkawinan, dan semuanya berjalan dengan begitu lancar dan indah.

Singapore, April 2010, during my recovery period in Singapore. Do you see how young my mom look when she's happy? 

October 2011, sebulan sebelum pernikahan saya, mama saya drop lagi untuk kesekian kalinya. Berat badannya turun lebih dari 5 kg dalam waktu sebulan. Dan di saat hari pernikahan saya, kalau ditanya siapa yang paling sedih, jawabannya adalah Mama saya. Mungkin di hari itu, hanya dialah orang yang tidak bahagia. Sangat sulit baginya untuk tersenyum, yang ada, dia merasa sedih kehilangan. Kesedihannya berlarut-larut, sampai akhirnya saat saya hamil besar, dia baru mengakui, apa hal yang membuat dia sedih. Rupanya, bukan hanya kehilangan saya yang membuat dia sedih, melainkan rasa takut apakah suami saya bisa menjadi suami yang baik. Saya mengerti, betapa seorang ibu, sangat tidak ingin melihat putrinya disakiti, karena rasa sakit yang ia rasakan melebihi rasa sakit orang yang mengalaminya. Apalagi setelah peristiwa traumatik yang kami alami dua tahun sebelumnya.

Nov 2011, mama berusaha tersenyum walaupun sedih
Beberapa bulan menjelang Abby lahir, mama saya baru menunjukkan rasa syukur dan bahagia. Dia melihat saya dan suami baik adanya, dan cucu pertamanya akan segera lahir. Mama bilang, kalau dia sungguh menyesal tidak bisa mendukung saya sepenuhnya di hari bahagia saya saat itu, dan berharap kalau saat pernikahan saya bisa diulang kembali, dia akan menjadi seorang ibu yang memberikan yang terbaik. Tapi saya tidak butuh mengembalikan hari pernikahan saya lagi, yang saya inginkan adalah supaya mama terus bahagia, dan berkeyakinan penuh, kalau anak dan menantunya ini, siap menjalankan rumah tangga, dan saya siap menjadi seorang ibu.

Sekarang, baru saya melihat mama saya pada puncak kebahagiaannya yang sesungguhnya. Menjalani hari-harinya dengan gembira, dan pelayanan yang sungguh-sungguh di masyarakat. Satu hal yang saya pelajari dari mama saya dari dulu sampai sekarang adalah, sedalam-dalamnya dia terpuruk, dia TIDAK PERNAH BERHENTI BERDOA. Itulah yang saya salut dari mama. Di saat orang-orang melupakan Tuhan pada saat sulit, dia selalu tekun berharap hanya pada Tuhan. Saya pun di sisi lain, tidak pernah menyerah untuk membahagiakan mama, dan berusaha menariknya dari keterpurukan, walaupun sering dalam hati saya menangis dan hampir putus asa. Saya yakin, itu tidak terlepas dari ajaran mama saya di masa kecil, untuk selalu bertekun dan berusaha jadi yang terbaik. In the end, saat orang tua kita lanjut usia, mereka akan kembali seperti anak-anak, dan kitalah yang akan juga membantu merawat dan membahagiakan mereka.

Maret 2013, mama and Abby on her baptism day
Banyak hal yang saya pelajari dari mama saya, baik yang positif maupun yang negatif. Namun satu hal daru cerita di atas yang saya harap bisa saya melakukannya lebih baik untuk diri saya sendiri adalah: BE NOT AFRAID TO LET GO. Yang membuat mama saya terpuruk berkali-kali adalah rasa ketakutannya untuk melepaskan. Melepaskan papa, melepaskan emak, dan terakhir melepaskan saya. Sementara, kita semua dipertemukan di dunia ini hanya sesaat. Suatu saat orang-orang yang kita cintai akan meninggal, suatu saat anak kesayangan kita akan meninggalkan kita dan bersatu dengan pasangannya. Suatu saat nanti Abby mungil akan meninggalkan saya, dan saya harus siap. Itulah tugas seorang ibu. Menjaga dan merawat titipan Tuhan yang dipercayakan kepada kita, sampai pada saatnya sang titipan akan meninggalkan kita.

Dear Mama, I love you with all my heart, and I will always love you forever. Aku akan selalu menjadi gadis kecil mama, dengan pipi yang tembem dan rambut ekor kuda, menunggu di depan gerbang untuk dijemput sepulang sekolah. Tapi waktu terus berjalan, dan beberapa tahun lagi, akulah yang akan menjemput anakku di depan gerbang sekolah. It's a circle of life. I'm saying this again to you and me: Be not afraid. 

PS: Tulisan seadanya ini, saya dedikasikan untuk mama tercinta, dengan harapan penuh, supaya mama tidak akan pernah jatuh lagi....selamanya.

Wednesday, April 10, 2013

Motherhood Saga: Menjadi Seorang Ibu Part 1

Sama seperti mama saya, sayapun mempunyai anak pertama seorang perempuan. Sejak saya melahirkan sampai sekarang, saya suka berpikir, pola pendidikan apa yang akan saya terapkan kepada anak saya nanti. Dan sebagai standardnya, walaupun saya banyak membaca buku, artikel di koran, bahkan seluruh informasi di internet, tetap yang akan menjadi panduan saya adalah: Mama.

Let me tell you a bit (or probably a lot) about my mom. Ibu saya adalah anak terakhir dari 7 bersaudara. Menjadi anak bontot, bukan berarti dia itu dimanja di keluarga. Emak (nenek) saya, adalah orang yang keras, yang sejak kecil mengajarkan anak-anak mereka untuk mandiri. Jadi jangan bingung, kalau dari kecil, mama saya itu sudah terbiasa jalan ke pasar untuk belanja, membereskan rumah, mencuci baju, dan memasak. Bahkan anak laki-lakinya pun alias om-om saya bisa juga mengerjakan sedikit demi sedikit pekerjaan rumah tangga.

Saat saya kecil, saya ingat, betapa kerasnya mama saya dalam mendidik. I can say that she's a Tiger Mom. Sejak TK, saya sudah dilatih untuk aim for perfection. Perfection sesuai dengan KEMAMPUAN SAYA. Artinya, kalau saya semaksimalnya bisa segitu, ya itu yang akan dikejar oleh mama saya. Bukan berarti sempurna seperti malaikat loh ya. Saya jadi ingat, pada saat saya TK, kita mulai belajar untuk menulis di buku garis tiga, alias buku khusus menulis. Saat itu kita harus menulis huruf dari atas ke bawah secara lurus dan rapi. Tapi namanya anak TK, tentu saja mencang mencong. Hapus lagi, hapus lagi. Buat mama saya ketekunan itu penting. Jadi kalau saya ngerjain peer maunya cepat-cepat dan hasilnya brantakan, nggak tanggung2, halaman bukunya DISOBEK, dan saya harus ulang dari awal. Kejam?? Yes! Memang. Namun hasilnya, bisa saya rasakan. Tulisan saya itu menjadi rapi, dan saya menjadi sangat organized dalam menulis di buku. Bahkan saat SMA, ada guru yang suka meminjam catatan saya untuk dijadikan standar catatan.

Saat saya SD dan mulai menghadapi yang namanya ulangan, seringkali saya mendapatkan nilai yang tinggi di kelas, bahkan sangat tinggi, tapi tetap dimarahi. Dapat nilai 95 dan tertinggi di kelas, bukan berarti itu baik. Apalagi kalau setelah ditanya oleh mama saya, ternyata kesalahan yang saya lakukan itu bukannya karena saya tidak bisa tetapi tidak teliti. Habis deh! Tapi bukan berarti saya jadi stress dan nggak enjoy belajar ya. Malah saya makin terpacu untuk berbuat lebih baik lagi. Saya cuma diajari mama secara intensif sampai kelas 2 SD. Setelah itu, ya belajar sendiri. Tapi bekal yang mama saya kasih untuk menjadi lebih tekun dan lebih teliti itu, terpakai sampai di kelas-kelas selanjutnya. Saat SD, rasanya cuma 3 dari 18 caturwulan yang saya jadi ranking dua, sisanya ya di satu. Bukan effortless loh, tapi karena usaha dan terbiasa dari kecil.

Di SD juga, saya sudah dibiasakan untuk pasang sprei, nyapu, ngepel untuk kamar sendiri. Kejam nggak sih? Serasa ratapan anak tiri yah? Hihihi. Ngepelnya pun bukan pakai stick loh, ngesot! Sounds very traditional? Emang! Tapi gara-gara itu, saya malah nyantai banget kalau ngga ada pembantu. Bahkan saat saya kuliah maupun saat sudah berumah tangga sekarang, masih bisa dan lancar kok ngerjain pekerjaan rumah tangga. Mama saya juga hobinya masak, dan masakannya enak-enak semua. Jadi jangan heran kalau saya nggak pernah kurus seumur-umur, sampai akhirnya nyadar sendiri buat diet beberapa tahun lalu. Dan mama saya itu tipe yang membiarkan anak perempuannya ini ke dapur untuk berkreasi. Jadi jangan heran, saat kelas 3 SD, saya udah ngubek2 bahan yang ada. Contoh: bikin roti tawar gulung sosis yang direndam di telor dan digoreng tepung. Gimana nggak gembrot? Tapi dengan mama membiarkan saya di dapur, sampai sekarang saya nggak pernah takut kelaparan. Ada bahan apa di kulkas, bisa diolah lah jadi makanan enak. Suami pun perutnya terjamin lah.... (terjamin tetap montok maksudnya hihi).

Waktu saya SMP, saya ini juga sempat jadi kurban bullying loh. Gara-garanya sederhana. Saya yang asalnya dari SD "payah" di Jaktim, masuk sekolah ternama di Jakpus, dan cuma perwakilan satu2nya. Di kelas saya lumayan berprestasi dan aktif. Tapi rupanya anak-anak saat itu nggak suka dan mengucilkan saya. Rasanya mau nangis bombay. Dan siapa yang bela saya mati-matian? Of course, my mom! Saya ini bukan tipe anak mama, tapi saat itu mama saya bertindak dengan menulis surat ke wali kelas tentang bagaimana saya diperlakukan tidak adil. Dia selalu bilang ke saya, "Non, kalau buat anak, mama ini kaki buat kepala, dan kepala buat kaki." Setelah hari itu, wali kelas saya menegur anak-anak sekelas, dan bilang, "Kalian apa nggak malu, kalau nanti di masa depan si Leony ini jadi bos, dan kalian jadi karyawannya? Atau apa kalian nggak malu nanti si Leony jadi dokter dan kalian jadi pasiennya?" Of course so far saya nggak jadi bos, dan nggak jadi dokter, tapi since then, moral saya keangkat, temen-temen saya jadi bejibun dan no more bullying.

Didikan keras mama saya sejak kecil, justru membuat saya luar biasa disiplin di masa-masa remaja. Jadi dulu itu, jangan heran liat jadual saya yang aneh. Saat di SMA, saya itu sekolah pukul 6.55-13.30, dilanjutkan dengan extra kurikuler, dan baru sampai rumah pukul 18.00. Mandi-mandi, santai, nonton TV sebentar. Kemudian pukul 20.00-02.00 saya tidur. Pukul 02.00 bangun lagi, bikin peer, belajar, lalu mandi dan berangkat lagi ke sekolah! Belum lagi kadang suka ada les pelajaran loh. Saya bukan melakukan itu karena saya kiasu atau nggak mau kalah di sekolah, tapi karena saya tau, saya ini kemampuan otaknya pas-pasan, dan kalau saya nggak kerja keras, saya nggak bisa survive di sekolah nan penuh tantangan itu.

Bagaimana dengan soal sex education? Percaya atau nggak, mama saya itu sangat-sangat terbuka dengan yang namanya pengetahuan soal satu itu. Jangan heran kalau papa saya bawa kalender dari supplier di Jepang yang gambar cewe2 seksi aduhai itu, kami anak-anak ini ya boleh aja ngelihat. Malah kami jadi tau anatomi tubuh dan nggak kebingungan. Kemudian pelajaran soal agama dan pembawaan diri itu, sangat-sangat ditekankan oleh orang tua saya, soal bagaimana kita harus mencintai tubuh kita, dan bagaimana kita menjaga hal yang "satu itu" sampai ke jenjang perkawinan. Dan to be honest, saya nggak pernah tuh penasaran. Soalnya saya tau juga resiko-resikonya secara fisik maupun secara rohani, karena dari kecil sudah diexpose. Makanya, walaupun kesannya saya blak-blakan dan agak preman, saya berani loh melawan kalau ada orang yang berpikir cewek yang sudah kuliah di luar negeri dan pernah pacaran, pasti sudah pernah melakukan. Enak aje lo!! *tujes*

Apakah saya bahagia dididik dengan cara keras itu? Ada kalanya saya bete sih, namanya juga anak-anak. Tapi kalau boleh dibilang, secara overall, saya SANGAT BAHAGIA. Mama saya itu tipe orang yang juga pasti akan memberikan reward yang setimpal jika anak-anaknya berhasil. Dia bukan tipe yang dikit-dikit berhasil dikasih reward, tapi secara keseluruhan sudah berhasil, baru dikasih sesuatu yang besar. Misalnya kenaikan kelas, dibelikan meja belajar baru, atau sepeda, atau liburan. Tapi buat saya yang masih kecil itu, reward terbesarnya adalah, ya saya sendiri bisa mempunyai kebanggaan kecil karena bisa mencapai sesuatu.

Sejujurnya, saya nggak ngerti mama saya itu dapat kekuatan dari mana loh (yang pasti kan dari Tuhan ya?). Pagi-pagi sudah bangun nyiapin kopi dan kue-kue untuk papa. Nyiapin anak-anak, ngasih sarapan. Kemudian sempet ke pasar, masak berbagai macam makanan (minimal 3 macam), lalu bersih-bersih rumah, masih sempat ikut kegiatan lingkungan dan koor, ngajarin anak-anak sendiri, antar jemput anak juga dengan nyetir sendiri. Intinya: Rumah selalu kinclong, makanan enak selalu tersedia, anak-anak pintar terawat, and she looked awesome. She and my dad made the hottest couple in town lah (kalo kata tetangga).

Tapi, bahkan Xena the Warrior Princess aja kan nggak selalu menang toh melawan musuh. Pasti ada saat-saat dimana dia terluka dan kalah sebelum akhirnya dia berhasil bangkit kembali.

To be continued...

Kiss from Mama