Wednesday, March 20, 2013

Motherhood Saga: It's Official

... That my Abby is now a Catholic.

Soal pendidikan agama, keluarga saya memang lumayan mateng dalam hal praktek dibanding teori. Kenapa menurut saya dalam hal praktek? Karena jujur aja, kami semua gak hafal yang namanya ayat-ayat Alkitab, ataupun sejarahnya,  tapi kami tau, kalau yang namanya mengamalkan kasih, berderma, dan menjalankan ibadah dengan sungguh adalah kewajiban kami sebagai umat Katolik (dan saya percaya, itu juga kewajiban seluruh umat lainnya di dunia ini). Hayo, ada gak agama yang mengajarkan perang?? Bahkan yang perang mengatasnamakan agama itu, itu sih kerjaannya manusia doang!

Pertama kali Abby ikut misa, adalah saat usia dia masih 11 hari. Misa-nya adalah Jumat Pertama di rumah mertua saya. Dia cuma tiduran di stroller, sama sekali nggak rewel, padahal rumah ramai sekali, dengan lebih dari 60 orang yang hadir. Kemudian, sejak dia berusia sebulan, kami rutin membawa dia ke gereja untuk misa setiap hari Minggu. Sampai saat ini, Abby nggak pernah bolos loh! Bravo! Sekali-kalinya dia nangis di gereja adalah saat dot botol ASIP-nya dilepas, dan dia mewek hihi.

Berdasarkan pengalaman saya dan orang tua saya, kayaknya kalau anak kita dari kecil dibiasakan untuk ke gereja, ataupun ke rumah ibadah yang lainnya, nampaknya gak akan rewel-rewel gimana yah. Soalnya kan banyak tuh ortu yang takut banget ngebawa anaknya ke rumah ibadah karena rewel. Kalau saya sih tipnya, yang penting kita siapkan susu/ ASI yang cukup, duduknya di paling pinggir, dan nggak terlalu jauh dengan pintu keluar. Sehingga kalau si bayi mendadak rewel saat lagi ibadah, tinggal ngabur! (jangan pulang ke rumah tapinya yah hahaha, ntar dibawa masuk lagi kalo udah ngga rewel).

Saya masih ingat, oma saya alias Nenek Buyutnya si Abby, membawa papa saya untuk dibaptis saat usia papa 40 hari. Termasuk masih sangat muda. Bahkan tante saya ada yang dibaptis saat usia 3 hari loh! Alias keluar dari RS, bukannya balik ke rumah malah ke gereja dulu hehe. Tapi jaman sekarang kan udah beda ya. Baptisan biasanya rombongan. Pakai penataran dulu, melengkapi dokumen dulu, baru deh siap dibaptis.

Jadilah Minggu, 17 Maret 2013, Abby dibaptis dengan nama baptis: ODILIA.

Nggak sabar mau dibaptis, kok lama banget nggak mulai-mulai

Horeeee! Sudah resmi dibaptissss! Aku pinter loh, ngga nangis hihihi.

Bersama Ibu Baptis a.k.a Godmother-nya Abby

Bersama Papa, panas-panas malah pules...

Pas yang lain makan-makan, aku malah tambah pules donk!

Awww...I'm sooo cuteee.... 

Papa, aku bosen difotoin mulu.

Santa Abigail dan Santa Odilia itu, ke empatnya (yes, empat, karena ada 2 St. Abigail dan 2 St. Odilia dalam sejarah gereja), semuanya itu adalah orang yang daya juangnya tinggi, bijaksana, pintar, rela mati demi membela kesuciannya, dan yang pasti, ketaatannya luar biasa pada Tuhan. Kedua nama tersebut pun mempunyai arti yang sangat baik.

Abigail --> The Father's Joy, The Source of Joy

Odilia --> Praise God, Fortunate

Semoga Odilia Abigail bisa menjadi sumber kegembiraan bagi kita semua, selalu beruntung dalam hidupnya, dan bisa menjadi sarana untuk kita memuji Tuhan. AMIN.

Intermezzo:


Sejujurnya, saat saya memilih nama anak tuh, saya tuh rada-rada bingung loh. Kok bisa ya nama panggilannya tuh agak-agak gimanaaaa gitu.

Abigail. Panggilan: Abby --> Ebi --> Udang Kering

Odilia. Panggilan: Odi --> OD --> Over Dosis

Hahahahahah...  Lupakan...

Tuesday, March 05, 2013

Go Figure!

Temen baik saya si Mr. Fat Owl (yang bantu saya bikin tulisan untuk box suvenir nikahan) dan sekarang tinggal di Singaparna, menulis status ini di Facebook dia beberapa hari lalu, dan saya nggak tahan untuk membagikannya di blog ini. Oh iya, ini berdasarkan pandangannya dia loh ya, tapi menurut saya, ya ada benernya juga.

An average middle-class CAUCASIAN will purchase:
- $20 basic white dinner plate from Crate & Barrel
- $39.90 bedroom slippers from Marks & Spencer
- $20 whisk from Franc Franc
- $40 cushion cover from Tangs
- $39 garlic press from WMF
- $29 chef's knife from Ikea
- $25 weekday work lunch at Din Tai Fung
- $170 shoes from Steve Madden
- $150 handbag from Zara (on sale from $199.90)

An average middle-class ASIAN will purchase:
- $2 basic white dinner plate from Daiso
- $2 bedroom slippers from Daiso
- $2 whisk from Daiso
- $2 cushion cover from Daiso
- $0 garlic press (no need for a garlic press, using a knife would suffice)
- $2 chef's knife from Daiso
- $4.50 weekday work lunch (yong tau foo)
- $29 shoes from Charles & Keith (on sale from $39.90)
- $2,970 handbag from Chanel

Go figure.


He he he he... udah dibaca baek-baek? Udah narik kesimpulan?

Bandingkan dengan situasi saya pas saya mau nyari car-seat buat si Abby. Waktu itu saya masih hamil sih, jadi masih banyak waktu buat browsing sana sini. Setelah melihat-lihat online dan beberapa video mengenai car-seat, saya memutuskan untuk membeli sebuah car-seat yang kebetulan dijual online. Harganya sekitar IDR 5.8 jutaan. Kenapa saya tertarik? Saya kalau tertarik sama barang, bukan karena harganya, tapi karena feature dan safetynya. Kebetulan car-seat ini oke banget menurut saya.

Saya kontak toko online A dan saya langsung transfer pembayarannya. Pas udah transfer, dibilang ternyata gak ada barang, uangnya pun dibalikin dengan sukses. Kontak toko online B, lagi-lagi barangnya katanya nggak ada. Ke sebuah toko anak di mall, barangnya ada, tapi udah kotor dan tinggal display aja. Pas saya tanya ada lagi yang baru atau ngga, katanya barangnya nggak masuk lagi. Kontak lagi toko online C yang menjual barang-barang bayi high-end, dan tetep, barangnya nggak ada, padahal gambarnya terpampang loh di webnya.

Akhirnya, toko C bilang, "Bu, kalau orang nyari car seat biasanya nggak yang mahal-mahal bu, paling yang sejuta dua jutaan, kalau yang lima juta ke atas nggak laku bu."

Saya sih kaget ya, gimana mungkin gak laku? Soalnya saya liat toko itu promosiin terus stroller merek Stok*e yang harganya belasan juta bahkan ada yang sampai dua puluh juta kalau yang special edition. Saya nanya lagi, "Tapi kalau stroller kok kamu brani jual yang belasan dan puluhan juta? Apa laku?"

Dijawab dengan santai, "Bu, kalo stroller belasan juta mah laku banget, Bu! Kalo car-seat nggak laku, soalnya kalo car-seat siapa yang mau liat Bu, cuma di dalam mobil aja. Kalau stroller kan bisa buat dipamerin di mall."

WHAT?? Jadi stroller bagus itu, BUAT DIPAMERIN?? Pantesan aja saya suka bingung sama ibu-ibu di mall, yang pake stroller buatan Eropa yang jelas-jelas nggak sesuai sama kondisi mall di Jakarta karena sizenya yang segede motor dan beratnya amit-amit. Sampai-sampai, mau naik lift aja, udah makan 1 lift sendiri. Kalau nggak sabar nunggu lift, bapaknya anak-anak jadi tukang panggul stroller untuk naik escalator, sementara anaknya digendong. Dan pantesan juga toko-toko itu brani jual stroller mahal. Sementara car-seat "dianaktirikan" gara-gara invisible. Yang liat cuma emak, bapak, sama suster... Pathetic nian!

Balik lagi deh ke status si Mr. Fat Owl tadi, PERSIS banget kan sama kejadian yang saya alami? 

Kesimpulannya: apa yang bisa kelihatan sama orang lain, boleh beli yang mahal-mahal. Kalau yang nggak kelihatan orang, beli yang murah aja. 

Brasa gak sih, emak-emak di mall itu, kalau megang tas bermerek mahal, udah kayak jadi SPG yang menjadikan tangannya gantungan. Tasnya itu harus posisi di depan (gak boleh dikempet dong, ntar nggak eksis), lalu bagian yang kelihatan mereknya itu harus hadap depan. Cling! Belum lagi kalau makan di restaurant, tasnya itu dapet special seat sendiri, dan surprisingly, para waitress itu sudah hafal perilaku ibu-ibu dan dengan sigap mengambilkan kursi extra, khusus untuk tas para nyonya. 

Untungnya, gak semua orang berpikiran kayak begitu. Banyak temen-temen saya yang masih lempeng cara mikirnya. Phew....!

Sekarang saya jadi inget, temen baik saya yang lain. Dia nyetir Mercedes baru kemana-mana, tapi pake Crocs palsu beli di Mangga Dua seharga 25 ribu. Lalu Mama saya nyeletuk: "Non, pake Crocs asli turunnya dari bajaj, pasti orang mikir palsu, Non. Pake Crocs palsu turun dari Mercy, ya langsung naik pangkat jadi asli." 

Geez, Asian!