Wednesday, November 20, 2013

Sponsored Video: Why Bring a Child into This World

Saya tau, saya adalah orang yang makin ke sini makin memilah-milah apa yang mau saya post di dalam blog. Dan ketika ada permintaan untuk posting video ini, saya mikir 1000 kali, should I do it? Dan setelah saya melihat video-nya, I definitely said yes.



Bohong banget kalau kita bilang kita tidak pernah khawatir dalam menghadapi masa depan. Saya yakin, sehebat-hebatnya kita, pasti ada saat dimana kita merasa sudah mentok, tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Saya sendiri pernah mengalaminya, mulai dari pengalaman keputusasaan saat didera penyakit, ataupun pengalaman hubungan dengan orang lain yang berlangsung tidak menyenangkan.

Kemudian setelah saya punya Abby, rasa ketakutan dan kekhawatiran itu makin melanda. Tentang masa depannya, tentang kualitas hidupnya, terutama kualitas hidup di Indonesia. Seringkali saya bertanya pada diri sendiri, apakah keputusan saya untuk kembali ke negara ini sudah tepat? Apakah keputusan untuk meminta suami saya tinggal di Indonesia dibandingkan dengan saya ikut dia ke luar negeri itu salah? Ada bagian-bagian di video ini, di mana saya jadi ikutan gemetar juga, mengingat masa-masa Abby masih di dalam perut saya, dan berbagai cita-cita yang sudah saya sematkan untuk dirinya. Apakah semuanya akan tercapai?

Seringkali saya berdiskusi kecil dengan suami saya, soal masa depan anak, soal apakah nanti dia bisa merasakan yang kita rasakan pada saat kecil dulu, bermain di halaman, menikmati udara yang bersih, menikmati main siram-siraman, menikmati kualitas hidup yang layak. Saat saya menonton video di atas, saya merasa tertampar, karena saya merasa, loh kenapa saya jadi begitu pesimis, padahal banyak hal-hal kecil yang kita lakukan sekarang, bisa berguna untuk masa depan. Saya, dan juga kita semua di sini, bisa membuka pintu bagi anak cucu kita, untuk kualitas hidup yang jauh lebih baik. Ditengah kebimbangan itu, kita harus punya suatu hal yang bisa membuat kita bersemangat, yaitu HARAPAN.

Project Sunlight dari Unilever ini menjadi pengingat bagi kita, kalau kita masih punya harapan, masih bisa berbuat sesuatu. Mungkin bukan kita yang menikmatinya, tetapi anak cucu kita. Teknologi itu bukan menjadi bumerang bagi kita, melainkan menjadi sarana bagi kita, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Untuk yang berminat, bisa gabung di project ini. Let's join, to make the world a better place. (sambil dadah-dadah kayak kontestan miss universe).

Postingan ini disponsori oleh Unilever, tapi curahan hatinya, asli dari saya! Hehehe.


20 comments:

  1. le, gua kemaren udah liat cuplikan video ini di FB...dah iyahh, sampe agak melow juga kalo mikirin masa depan anak2 kita nanti....pasti bakal susah bla bla bla...tapi berharap aja deh...dengan makin banyak nya kesadaran orang hidup sehat, hidup bersih dll...mungkin generasi yang seterusnya akan menikmati hidup yang lebih baik...( asal jangan perang lagi aja, hidup damai...udah oke kok ) *make a wish

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah itu dia, yang penting kita masih punya harapan, dan kita bisa mulai melakukan sesuatu deh. Kalau ngarepin orang lain, kayaknya berat. Gue sih jujur ngeri sama Indonesia dan pemerintahnya yang lebih mentingin memperkaya diri dalam tempo sesingkat2nya hehehehe.

      Delete
  2. Mellow, khawatir sama anak kita nantinya gimana, tapi juga punya harapan ya Le. At least klo kita udah melakukan yang terbaik buat anak-anak, kita ngga akan ada penyesalan di kemudian hari. amiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kaki buat kepala, kepala buat kaki Met (ngulang lagi perkataan nyokap gue hahaha).

      Delete
  3. aku nonton di perpus pagi pagi mewek sendiri. Suka banget ngeliatnya. Aku aminkaaan kenceng-kenceng bahwa anak-anak kita akan mengalami yang jauuh lebih baik dari kita. Biar deh kita generasi hamburger, semua mata rantai yg jelek putus di generasi kita aja. Amin. Amin. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita ini generasi hamburger, kita bagian dagingnya ya? Hehehe... kalo hamburger sih masih enak loh. Ini generasi apaan ya. Permen karet diantara sendal jepit dan aspal hahahah...

      Amin, semoga masa depan lebih baik!

      Delete
  4. Biarpun gw belom punya anak... Gw pun ikut mellow. Dan bikin gw parno pun...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo jangan parno, kita masih bisa punya masa depan yang baik!

      Delete
  5. cii...aku g bisa liat videonya yaaa...drtd udh refresh ulang-ulang padahal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, kenapa ya? Flash player ditempatmu belum diupdate kali :D

      Delete
  6. gue kok mellow banget ya liat video nya. Pasti karena PMS nih..Pasti! *lap air mata*

    ReplyDelete
    Replies
    1. PMS - Pre-Mendapat-Salary ya? Hahahaha.... Ya sebagai emak-emak gue juga terharu Dhit. Inget masa-masa hamidah.

      Delete
  7. Definately!!
    Perubahan dimulai dari diri sendiri.. aku rasa klo kita seeeemua berubah, bumi akan jadi tempat yang layak lagi kok!

    ReplyDelete
    Replies
    1. BERUBAH! *ksatria baja hitam*.

      Iya Dhir, dengan kita nggak nyampah sembarangan aja udah membantu loh. Sampe sekarang suka miris liat mobil2 mewah seliweran, tapi penumpangnya buang sampah di jalan tol.

      Delete
  8. Hai Le, I'm an optimist. Jadi waktu nonton video ini setengah gue pertama sebel dulu, iiihh kok yang diliat war nya sih, kan there are so many great thing in the world. Trus pas terus nonton gue pun ikut terharu.
    Tapi gue inget soal unilever... setau gue ada bbrp produk unilever yang masih testing on animals dan gue nggak tau seberapa environmental friendly produksi mereka. It feels a little hypocrite for me since mereka bilang ini untuk masa depan. Yang gue taw, kalo kita maw masa depan yang lebih baik untuk anak cucu kita, we have to start being friendly to the earth. Kalo mau anak kita liat polar bear, kalo mau anak kita nggak struggle sama es yang terus mencair dll.
    Sorry I didn't mean to preach. I'm not a saint myself. I really love the video but sebuah CSR yang dihasilkan oleh sebuah coorporate gede begitu biasanya untuk menutupi dosa2nya mereka yang lain. But well... daripada nggak sama sekali sih ya. =)
    ANyway thanks for sharing the video and give hopes for the future kids. ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue jadi iseng bales disini hahahaha..
      Gue juga awalnya liat video ini gegara tipi Indo gak ada channel Jerman, jadi kudu pasang youtube buat Saif, dimana Project Sunlight mulu yang keluar sebelom lagu2 babytv gitu..

      Keseringan liat iklan ini, gue jadi penasaran pengen tau apaan sih yang beginian.
      Kalo opini gue, kadang bisnis sama charity itu dua sisi koin, jadi susah juga kalo disatuin. Yang satu ngandangin tikus2 buat dites, dan yang satu lagi koar koar ttg environmental sustainability, dan reducing the greenhouse impact.
      Susah juga sih bisnis mau berkembang kalo beneran gak bikin dosa sama bumi hahaha..

      Gue sih gak kerja di Unilever hahahah tapi yang gue tau, ini perusahaan kerjasama dg salah satu divisi tempat gue kerja dulu, World Food Programme yang proyeknya salah satu adalah suplai makanan / snack buat anak sekolah ke negara berkembang gitu, and talking about animal testing, gue jadi google policy mereka (http://www.unilever.com/sustainable-living/Respondingtostakeholderconcerns/testing/), dimana mereka memang gak menyangkal ttg ngetes ke binatang, tapi ternyata ada tahapan lain yang harus dilewatin sebelom animal testing dilakuin. Sehingga, tes terhadap binatang dilakuin kalo udh gak ada pilihan lain.
      So far menurut gue, gak bisa juga sih kalo sama sekali gak dites ke mahluk hidup, si shampoo efektif gk buat ngebasmi ketombe, kalo ditesnya di tanaman jagung instead of tikus putih (perumpamaan, hahaha)..
      Dan mereka kayaknya udah masuk dalam Fair Trade deh buat bahan2 makanannya..

      Yah gak papalah bikin proyek kemanusiaan setelah bikin dosa, yang jelas mereka ada aksi to giving back to community hahahah daripada cuek bebek aja..

      Delete
    2. Hi May! Sebelum gue nayangin video ini, gue juga udah research2 dikit sih soal Unilever. It's true kalau mereka sempet terlibat dalam animal testing, but on the other hand, sama kayak yang si Amy bilang, memang ada hal-hal yang emang agak impossible untuk tidak dicoba sama sekali. Kalau human being yg langsung konsumsi terus kenapa-napa kan remfong juga yah. Tapi segala good deeds yang bisa membantu kebaikan di dunia ini, marilah kita dukung sisi baiknya. Banyak juga company yang gede2 banget dan untung besar, tapi sama sekali pelit untuk charity.

      Amy, thanks for replying. Dan pas banget cara kita mikir itu similar. Despite program ini disponsori oleh siapa, menurut gue ini adalah sentuhan yang bagus ke dalam hati kita masing-masing, soal bagaimana kita disadarkan kalau masa depan itu memang ada di tangan kita sekarang ini dan kita harus melakukan sesuatu untuk keselamatan generasi mendatang.

      Delete
  9. betul... jadi kuatir yak... gw ngerasa begini setelah melahirkan..jadi kuatir nasib anak gw gimana nantinya? hehehe :) jadi inget seringnya nangis waktu awal2 selena lahir, takut ga bisa jagain selena, takut ga bisa jadi ibu yang baek, takut selena menderita... huaaaa banyaak lagi.
    tapi gimanapun, mereka akan terus tetap hidup.. dan kitalah yang mewujudkannya.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Punya anak itu sudah jadi pilihan kita Yul. Jadi kita yang memilih, kita juga yang harus menghadapi konsekuensinya. Yang penting kita harus positive thinking aja kalau hari depan lebih baik dari hari ini, dan perubahan dimulai dr diri kita masing2.

      Delete
  10. Thank you for sharing your hope, kak.. :)
    Saya ini nikah aja belum.. boro-boro mikirin mau punya anak dan masa depannya. Terus terang suka kuatir, apalagi kalau udah dengar para financial planner bilang, inflasi biaya pendidikan itu tinggi lah.. gaji apa kabarnya lah pas punya anak.. Huah.. But anyway, sepertinya harus belajar to keep myself positive dan keep the hope ya. Thanks again ya :)

    ReplyDelete