Friday, September 27, 2013

Ini Bukan Curcol

Akhir-akhir ini, saya suka mendusin alias terjaga di pagi-pagi subuh, sebelum weker saya bunyi. Aneh, padahal saya ini termasuk orang yang biasanya gampang tidur susah bangun. Tapi sejak saya mengajar di sekolah dan menghadapi segala problematikanya, kayaknya saya jadi banyak banget pikiran. Seumur-umur saya kerja baik di perusahaan konsultan maupun di korporat, walaupun keadaan lagi chaotic karena dikejar deadline, saya nggak pernah tuh sampai nggak bisa tidur karena mikirin berbagai hal yang berlebihan. Tapi kenapa sekarang ini jadi begini ya?

Saya menyadari, sepertinya profesi saya yang sekarang, membuat saya makin berkaca, dan membuat saya agak khawatir mengenai masa depan bangsa ini. Sekolah tempat saya mengajar memang sekolah yang bisa dikatakan anak-anaknya sangat berada. Rata-rata pakai sopir ke sekolah, dengan mobil yang seringkali mentereng, dan jangan ditanya, gadgetnya nomer wahid! Kalau mau lihat gadget yang baru di launching, tinggal cari saja murid saya yang pakai. On the other side, saya melihat, guru-guru yang berjuang di tengah kemewahan tersebut, dengan pendapatan yang seadanya. Boro-boro naik mobil, masih banyak yang bermotor, bahkan naik angkot. Butuh kecintaan luar biasa besar untuk membuat para guru bertahan mengajar anak-anak.

Bayangkan, itu di tengah kota Jakarta loh! Di sekolah swasta pula. Bagaimana dengan keadaan guru-guru di daerah terpencil? Hari minggu lalu saat misa, saya mendengar khotbah Romo yang kebetulan bertugas di Kalimantan Barat, di daerah terpencil yang dihuni oleh suku Dayak Iban. Beliau bercerita, kalau guru-guru yang ditugaskan di pedalaman itu, banyakan memilih tidak datang ke sekolah, dan hanya datang ke sekolah pada saat tanggal gajian untuk menerima gaji. Saat itu sih umat tertawa, saya pun tertawa. Tapi dalam hati saya kok jadi menangis ya. Nyari guru yang baik saja, susahnya minta ampun. Sudah ada guru yang baik, ternyata tidak terlalu dihargai dari segi finansial dan support, sehingga kalau ditanya jaman sekarang, jarang sekali anak-anak yang cita-citanya mau jadi guru. Yes, bahkan yang pingin jadi polisi aja jarang! Maunya pada jadi pengusaha hahaha. Terus gimana dong dengan nasib anak-anak didik yang di pedalaman itu? Ya tambah mundur lah. Makanya saya salut juga dengan program Indonesia Mengajar, yang mengajak anak-anak muda perkotaan untuk membantu anak-anak di pedalaman. Cuma hasrat untuk berbagi yang bikin anak-anak muda ini mau untuk tinggal di pedalaman mengabdikan diri selama setahun penuh. Coba di cek video Lagu Baru, karya Edward Suhadi, siapa tau ada dari pembaca yang tergerak untuk menjadi guru. 

Sesungguhnya, banyak orang-orang Indonesia muda dan hebat lulusan luar negeri yang sebenarnya ingin sekali mengkaryakan dirinya di kampung halaman. Teman-teman saya yang bersekolah di luar negeri, banyak yang akhirnya jadi hebat dan jadi peneliti handal serta jadi professor, tapi jarang yang akhirnya balik jadi tenaga pengajar di Indonesia. Beberapa alasannya adalah, tidak ada penghargaan, lalu tidak ada dukungan dari pemerintah terhadap karya cipta anak bangsa. Dana penelitianpun dipangkas di sana sini gara-gara birokrasi yang jelimet, ijin kerja yang susah, sehingga akhirnya suatu ide yang luar biasa itu, mandek di tengah jalan. Sementara di sisi lain, orang-orang di luar negeri berebut mencari orang-orang pintar dari negara kita untuk masuk ke kampus mereka, dan pada akhirnya kembali jadi tenaga pengajar di negeri tersebut. 

Sedih? Ya iyalah! Saya masih ingat di kampus saya dulu, orang dengan bangga bilang kalau jurusan kuliah yang mereka ambil adalah bidang edukasi. Tapi kalau di Indonesia kita bilang sekolah pendidikan guru, orang malah mikir: "Gak salah lu? Mau makan apa?" Jadi guru itu susahnya ampun-ampunan, terutama di Indonesia. Di mata orang tua, sering kejadian begini, kalau anaknya berprestasi, jarang yang bilang: itu karena gurunya hebat. Rata-rata bilangnya, karena anaknya brilian, bekerja keras, hebat. Giliran anaknya gagal, gurunya yang dicari, terus diconfront, dibilang gurunya nggak bisa ngajar. Kasian deh kite...

Saya punya harapan, supaya profesi guru bisa semakin dihargai di negara ini, supaya guru-guru tidak perlu lagi bersusah payah mencari penghasilan tambahan, bisa fokus untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak muridnya, mendapatkan penghargaan yang layak sesuai dengan jasa-jasanya, dan menjadi figur yang bisa dicontoh oleh anak-anak didiknya. Saya ingin sekali anak-anak bisa mengidolakan guru-guru mereka, seperti saya mengidolakan beberapa guru-guru saya dulu, karena dedikasinya yang luar biasa. Saya ingin orang menjadi guru karena cita-cita, bukan karena terpaksa.

Sebenernya banyaaaakkkk banget yang saya pingin curahkan soal keresahan saya.  Tapi kayaknya bakalan jadi postingan yang sendu yah. Daripada sendu semuanya, mendingan saya tutup postingan hari ini dengan gambarnya si kecil deh. Ada yang kangen?

Mirip gak??


Sama kayak baju hamilnya mama saya yang masih disimpan dan sempat saya pakai dulu, ternyata mama juga masih simpan baju saya pas masih bayi! Dan masih bagus! Ternyata jadi hoarder ada gunanya juga ya? Hahahaha....

41 comments:

  1. Yang kayak gini kejadiannya bukan cuma di profesi guru aja, tapi di profesi lainnya yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat, contohnya dokter. Kakakku dokter, ngelayanin di ujung paling selatan Indonesia, di pulau rote...masyarakatnya masih primitiifff banget. Tapi alih2 dapat penghargaan, gaji aja suka telat dibayarin, bisa tuh kejadian nunggu 9 bulan baru gajinya bisa didapat. Aku udah pernah cerita juga sih di blog ku soal ini...miris banget lah pokoknya. Cuma orang2 yang semangat melayaninya besar yang sanggup bertahan dalam kondisi kayak gitu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua yang berkaitan dengan pelayanan itu.... emang rata2 menyedihkan ya. Yang bisa bikin bertahan itu seringkali bukan penghargaan di bidang materinya, tapi menyaksikan orang-orang yang butuh bantuan kita itu akhirnya sukses atau kalau jadi dokter ya pasiennya sembuh. Tapi ada lagi sih yang menurut gue penting banget, support system! Kadang yang bikin kita nggak kuat itu juga kurangnya support system. Sedih gue sama negara ini.

      Delete
  2. mirip! hahahaha....

    gua juga salut sama program Indonesia Mengajar itu... mereka emang patut diapresiasi... jadi guru aja uda ga gampang, apalagi jadi guru di pedalaman... pemerintah kita emang harusnya lebih concern tentang masalah pendidikan ya...bukan malah ngurusin yg lain yg ga jelas hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemerintah kita kan mikirnya most of them loh ya, cuma mau memperkaya diri selama masa jabatan. Emangnya ngapain mereka berebut mau posisi atas kalau bukan untuk nyari setoran hihihi....yah walau gak semuanya, tapi rata2 gitu deh.

      Delete
  3. tapi sekarang kayaknya di indo di sekolah2 intl, gaji gurunya udah tinggi2 ya ny...

    btw gua tuh orang yang paling gampang kepikiran. jadi kalo ada masalah apa2 di kantor atau dimanapun juga, walaupun masalahnya kecil, taip bisa kepikiran sampe gak bisa tidur. dan gua paling sebel kalo kebangun 1-2 jam sebelum waktunya bangun, soalnya yang ada gua jadi gak bisa tidur lagi. masih pengen tidur tapi gak bisa. trus end up nya kurang tidur. :P

    wuiii keren banget baju lu jaman bayi masih ada ya sampe sekarang. awet banget ya.
    dibilang mirip banget gak juga ya ny.. tapi keliatan ada mirip2nya juga walaupun gak 100%.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut gue gajinya biasa aja, gak tinggi. Gak tau deh kalo mungkin guru ekspat bisa tinggi kali ye. Gue tuh tipe orang yang biasanya tuh positive thinking loh. Tapi gue kok sekarang jadi suka brasa mampet. Gejala apakah ini? Penuaan? Hahahaha...

      Delete
  4. Ishhhh hebat banget bajunya masih awet. 30 tahun umurnya! ckckckck...
    tentang guru, iya Mbak...ruwet kalo ngomongin sistem. Makanya yang bisa kita lakuin ya lakuin ajalah ya...gak usah nunggu dari Pemerintah mulu. Dulu pernah daftar jadi guru di Indonesia Mengajar eh gagal. Daftar jadi stafnya, gagal lagi hahahaha...sekarang mau ikutan Festival Indonesia Mengajar, Alhamdulillah gak gagal hahaha...lah wong gak ada seleksi :D | Ikutan yuk Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener, sistem dan sistem pendukung yang paling parah. Birokrasinya juga, alamakjan. Haha, pasti bisa ikut festivalnya. Kemarin ikutan toh? Bikin alat peraga kah?

      Delete
  5. Merinding bacanya Bu Le. Merinding sedih. Bukan curcol emang ini. Kondisinya memprihatinkan.
    Lihat VoA ada profesor termuda di kampus apaa gitu (lupa euy) dari Indonesia. Ditanya pengen balik Indonesia apa gak jawabannya dia pengen sumbangkan ilmunya untuk kemanusiaan dan di Indonesia belum terfasilitasi. Huhuhu.

    Bu Le, semoga banyak guru berdedikasi seperti dirimu ya.

    Btw potonya lucuuu banget. Jadi pengen simpen bajunya Aaqil deh. Hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha, si Nelson ya professornya. Itu kawan saya dari kampus yang sama pas di US dulu hahaha. Dulu buku fisika setebel batako dia lalap semua, dan gurunya dia challenge hihihi.

      Saya sangat ingin berdedikasi untuk dunia pendidikan, tapi memang banyak sekali kendala2nya. Terutama karena jaman sekarang orang mencampuradukkan antara pendidikan dan tujuan lainnya, sehingga fokus mulai bergeser. Miris saya.

      Simpen aja bajunya si Aaqil, biar nanti dipake buat cucu kamu *msh lama ya?*

      Delete
  6. jadi guru itu panggilan sih.. gak semua orang bisa ngajar. Tp gw jd inget temen gw yg cita2nya jadi guru, tapi terus temen2 ya bilangnya "yakin lo? mo digaji berapa?" akhirnya gak jadi deh jd gurunya.

    tp iya denger2 guru internasional school udah lumayan ya gajinya? ya setara gaji orang kantoran lah. Justru guru2 negri itu yang masih menyedihkan nasibnya. Pernah liat berita guru demo minta gaji dan tunjangan. Dalem ati "idih guru kok demo sih, ngajarin yg gak bener nih".. tapi dipikir2 mungkin mereka udah buntu kali ya, di alusin tetep aja dicuekin sm pemerintah, akhirnya demo deh...

    ya ini emang bkn hal gampang sih, soalnya pemerintah langsung yg hrs turun tangan buat menjamah guru dipelosok. Berdoa aja supaya bayak orang baik yg mau mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan bangsa, bukan cuma ngejer gajinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo soal mencerdaskan kehidupan bangsa sih, tentunya gue mauuuu banget. Pengen anak2 ini jadi punya visi dan misi di dalam hidupnya. Pemerintah sih kan udah pada tau ya, kalo ada dana apapun, mostly dipake buat nebelin kantong sendiri. Gak usah pemerintah deh, beberapa sekolah juga gitu kok, missionnya dipertanyakan hwhahahaha...

      Kalo gaji, ya kayak orang kantoran bisa dibilang gitu. Tapi orang kantoran level apa dulu? :P Kan orang kantoran tuh dari kroco juga ada hihi.

      Delete
  7. menrut gw, jaid gur itu murni panggilan le
    asli kalo cuma mikirin duit, jangan jadi guru deh
    kerjaannya segambreng, beban mentalnya juga segambreng

    gw juga 7 tahun ini seringgg bgd resah-sedih-galau kayak gitu
    dan skrg gw di posisi lagi-sekolah-diluar-dan-ditawari-untuk-ngajar-di-sini-jadi-galau-mau-balik-ke-indo-ato-engga

    nah gimana tuh le?
    *malah nambah2in pikiran miss leony :p*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tya, wajar banget elu galau. Lah gue baru bbrp bulan aja galau, banyak banget yang ada di pikiran gue.... dan malah gue merasa idealisme kita soal pendidikan itu, terbantahkan oleh banyak hal, yang ujung2nya jauh dr pendidikan. Cape deh!

      Delete
  8. Gw termasuk orang yg gampang kepikiran juga Le sama kerjaan, apalagi klo tuh kerjaan agak menguras otak, ampun deh smpe rmh kepikiran banget.

    Btw dgr2 nih, guru2 di sekolah internasional udah gede gajinya, tmn gw ada yg ngajar jg dibilangan fatmawati situ, ktnya gajinya udah lumayan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penasaran ya soal gaji berapa. Jujur aja, dibandingin gue kerja corporate sih... mendingan kerja corporate kemana-mana hahahaha....

      Gue sih kepikirannya banyaaaakkk banget. Dan gak pernah gue sampe begini lah seumur2. Makanya jadi mikir, wajar kagak sih hihi.

      Delete
  9. i like this! *jempol*
    Berharapnya dengan berkurangnya subsidi BBM, subsidi untuk pendidikan akan meningkat ya. Tapi BBM udah naik, kualitas pendidikannya masih gitu2 aja. Oh well, mungkin belum kali ya?
    Sebagai orang yang tinggal di negara yang pernah mengalami reformasi (atau bahkan revolusi) pendidikan. Dan SUKSES. Gue berharap reformasi pendidikan di Indonesia bisa segera dilaksanakan. Banyak artikel dan blog yang membahas tentang pentingnya perubahan sistem pendidikan Indonesia ini, tapi kok berubahnya malah ke arah "kompetitif" ya dimana murid2 dipaksa utk menelan bahan pelajaran yang jauh di atas kapasitas usianya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rikkkk... as far as I want revolusi pendidikan itu terjadi, masih banyak hal2 yang harus dibenahi di negara kita ini. Sebelum sampai ke pemerintahnya, kita aja sering lupa apakah makna pendidikan tersebut. Percampuran antara pendidikan yg sesungguhnya dengan komersialisme. Pokoknya miris banget liatnya.

      Delete
  10. Memang dr dulu peer bangsa kita gak kelar2 yah..abis gak dikerjain sih gimana bisa kelar hehe..masing2 sibuk sendiri..begitulah..
    Emm mirip ga ya gimana ya mo jujur atau gak nih haha.. si abby miripan ama suami elu sih hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha gue sih udah pasrah kok kl si Abby dibilang mirip bapaknya. Emang makin lama kiblatnya ke sono haha.

      Bangsa kita APBN gede buat pendidikan, larinya ke kantong penguasa. Sekolah2 mahal nyari murid, tp kualitas questionable. Kacow lah.

      Delete
  11. Yaampun bajunya udah 30taon dong itu yah?? ckckckckkk kagum deh ama si Mami yg nyimpennya super apik sampe bs dipake cucunya gitu :)
    Negara kita emang banyak yg kudu dibenahi ya Ci Lele, aku msh percaya suatu saat hal2 ky gini bs di ubah, biar gk ada lg ketimpangan dimana2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngubah mindset orang tentang arti pendidikan itu aja susah buenerrr... ditambah lagi birokrasi yg beribet yg UUD. Nasib deh...

      Delete
  12. ya ampun nyokap lo apik banget ya le orangnya. nyimpen baju 30 thn masih bisa bagus banget gitu *takjub*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Prok2 kan buat nyokap gue hahaha. Untung ga semuanya disimpen. Kl semua bs jadi museum dah.

      Delete
  13. Temen gue ada yang jadi guru Indonesia Mengajar tahun lalu. Program itu membuka mata banget deh, gue yang denger tentang program itu untuk pertama kalinya dari temen gue jadi kebuka wawasannya. Semangat ya Le, guru kan pahlawan tanpa tanda jasa.

    Bajunya masih bagus banget padahal udah 30 tahun!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Ngel. Lu kudu nonton pilemnya deh. Keren banget... tantangannya masing2 ya guru di kampung dan guru di kota. Termasuk gue nih... sejak jd guru malah jadi ratu galau. Hihi.

      Delete
  14. Aaah... Lo guru ya Le? Gw baru tau!! Temen gw ada yang jadi guru Indonesia Mengajar itu di Sulawesi. Dia sebenernya dokter loh. Hebat yah? Gw salut banget sama orang-orang yang sanggup jadi guru. Gak perlu ikut IM, guru sekolah mana pun, gw salut!

    Dulu waktu gw kuliah, gw mikir kerjaan jadi guru itu kayanya enak... gampang... ga pusing... tiap taun tinggal ngulang hal yang sama... Tapi makin kesini, gw liat-liat, susah yah ternyata! Butuh kesabaran & kebesaran hati banget. Sabar ngadepin murid-murid, ngadepin orang tuanya juga, tak lupa ngadepin komentar-komentar dari orang sekitar yang "kurang mendukung". Semangat Le!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue baru mulai jadi guru taun ajaran ini. Dan tantangannya itu luar biasa. Bukan cuma dr murid dan ortu, buat gue lbh kepada visi dan misi pendidikan itu sendiri.

      Delete
  15. Gue paling susah tidur. Apalagi kalo ada kerjaan ribet. Makin susah aja tidurnya. hihihi...

    Abby lucuuu...bajunya masih bagus pula :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerjaan emang suka bikin ribet. Tp baru kali ini gue bener2 susah tidur krn kerjaan. Aneh! Hahaha...

      Delete
  16. salut banget aku mbak sama profesi guru, karena tanggung jawabnya yang besar buat generasi bangsa memang mestinya itu jadi profesi yang dihargai dan jadi cita2 , bukan karna terpaksa. Keren banget itu program Indonesia Mengajar.

    Mbaakk..itu mamih gimana caranya bisa nyimpen baju jaman bayi 30 tahun masih tetap apik? Kereeeen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Soal bajunya... tanyain sama mamaku ya hehe. Jadi guru itu memang panggilan. Tetapi sayangnya banyak hal2 lain terutama di luar akademik yg bisa menggoyahkan panggilan tersebut. Birokrasi... visi dan misi...

      Delete
  17. biasanya photo kecil kita akan sama dengan anak2 kita hahahah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Disama2in donk Pit. Namanya jg usaha hehe.

      Delete
  18. puk..puk..Mba Leony, aq yakin Mba pasti akan menjadi guru yang hebat, walaupun banyak yg menyepelekan profesi guru, tapi bagi aq pahala yg di dapat oleh seorang guru tu gede bgt lho...semangaaaaaaaaattttt....

    Fotonya mirip bgt, koq bisa ya Mama nya M'leony nyimpen baju sampe usia 30 tahun'an gitu n masih kinclong...keren bgt jadinya lihat foto tu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. I am trying my best nih Tes. To keep my sanity with this profession. Bukan hanya soal anak2nya loh... yg lbh mengkhawatirkan itu justru di luar hal2 tersebut.

      Delete
  19. puk..puk..Mba Leony, aq yakin Mba pasti akan menjadi guru yang hebat, walaupun banyak yg menyepelekan profesi guru, tapi bagi aq pahala yg di dapat oleh seorang guru tu gede bgt lho...semangaaaaaaaaattttt....

    Fotonya mirip bgt, koq bisa ya Mama nya M'leony nyimpen baju sampe usia 30 tahun'an gitu n masih kinclong...keren bgt jadinya lihat foto tu...

    ReplyDelete
  20. Ember. G sendiri jug berpikiran: "Jadi guru? Mana bisa mapan?"
    Miris juga ya sebenernya. Tapi keknya beebrapa tahun belakangan ini nasib guru-guru di sekolah negri maupun swasta udah mengalami kemajuan ye, Bok?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi guru itu harusnya bs cukup. Gak harus super mapan... tapi mestinya cukup n dihargai. Soal kemajuan nasib guru, yah sampai sekarang masih banyak guru yg demo. Masih banyak guru yg masa depannya terombang ambing setelah mengabdi sekian lama. Mgkn maju di bbrp sisi krn ada sekolah swasta.. tp overall... i don't see significant change.

      Delete
  21. Le, kalo semua orang menjadikan guru jadi pilihan karir terakhir ato karena terpaksa setelah gak ada yang terima disana-sini, kebayang gak kayak apa kualitas anak-anak kita yang dididik ?
    Bagaimanapun IMO, kalo melakukan pekerjaan bukan dari hati, hasilnya gakkan semaksimal kalo dilakukan dengan hati, ya gak.
    Gw pengen lho jadi guru....masalahnya ya itu. Gw gak yakin bisa sabar sama anak orang. hahaha...
    Kalo di pabs, gw ngomel-ngomel kan gak pernah ada istri/suami/emakbapaknya nyamperin ke pabs ngomelin gw balik.
    Makanya salut banget gw sama temen-temen yang memang berdedikasi jadi guru. Semangat ya, Le.
    Btw, loe satu sekolahaan sama Cik kristy ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ndah...ama anak sendiri aja suka gak sabar kan?? Hahaha...

      Soal melakukan pekerjaan dengan hati itu gue sedang menjalaninya Ndah. Tapi banyak keadaan yang membuat gue berpikir... kalau gue terus2an menjalankannya dengan hati, gue jg bisa jadi gila sendiri loh krn apa kata hati nurani gue itu suka tak berjalan seiring dengan visi orang lain.

      Btw Cik Kristy itu siapa ya?? Ada 1 staff namanya mirip itu sih tp spellnya bukan kayak gitu dan dipanggilnya jg bukan Kristy. Atau mgkn gue blm kenal hehe. Soalnya guru kan banyak.

      Delete