Thursday, December 26, 2013

Refleksi Setahun Menjadi Ibu

It's been a year! Yes, my baby is one now. Soal ulang tahun Abby, biarlah nanti saya posting sendiri yah. Saat ini saya mau cerita soal diri saya sendiri dulu. Bagaimana rasanya selama setahun ini menjadi seorang ibu.

Seneng gak? Seneng dong. Ada tapinya gak? BANYAK! Kalau jadi seorang ibu isinya cuma seneng doang, pasti semua orang berebutan kepingin jadi ibu. Tetapi saya tau kok, di luar sana, banyak juga orang yang nggak kepingin jadi seorang ibu. Bukan karena nggak bisa, tapi karena nggak mau aja. Contoh terkenal adalah, si Carrie Bradshaw di Sex and The City yang menyatakan sama pasangannya kalau dia memilih untuk tidak punya anak. It's totally personal choice. Yang suka nonton acaranya Rachel Zoe, ada episode saat suaminya terus bertanya kapan dia siap punya anak, sementara mereka sudah bertahun-tahun menikah, tapi Rachel masih merasa karir dia lebih penting. Saya bisa melihat ketidaksiapan dia. Hey, in the end, as you (might) know, they're having two kids! Setelah menaklukan ketakutannya, ternyata di usia 40-an, Rachel adalah seorang ibu yang super. Seperti yang pernah saya utarakan sebelumnya, saat saya memilih untuk menikah, (terutama dalam agama yang saya anut) itu tandanya saya siap untuk menjadi seorang ibu. Or else, I will not get married. Period!

Setelah saya melahirkan Abby, perjuangan awal dimulai. ASI saya yang keluarnya setetes demi setetes itu, tekanan dari orang-orang yang merasa kalau Abby kurang gemuk, membuat keyakinan saya sempat goyah untuk memberikan dia ASI exclusive. Tapi mungkin saya ini bintang Leo yang keras kepala, makin saya ditekan, makin saya berusaha keras dan rela menyusui sejam sekali supaya Abby dapat asupan yang cukup. Yes, bukan dua jam atau tiga jam sekali, tetapi satu jam sekali. Saya hampir tidak punya waktu untuk diri saya sendiri. Belum lagi, saya harus makan gila-gilaan supaya ASI saya cukup. Selamat tinggal impian punya badan kembali singset setelah melahirkan seperti yang orang-orang bilang. Soal merawat diri jadi nomer sekian, sampai saat ini pun, saya belum potong rambut lagi! Tapi hey, Abby lulus ASIX, dan sampai saat ini, dia masih ASIX. Siapa sangka?

Kalau sudah niat habis mau ngasih ASI terus, kalau kondisi pas-pasan kayak saya, sudah pasti yang namanya kebebasan untuk jalan-jalan itu jadi hal yang spesial banget. Mau pergi aja mikirin dulu, apakah stok susunya cukup atau ngga, di mana saya bisa nyusuin, di mana saya bisa mompa, dan banyak lagi pertanyaan lainnya. Bukannya saya mau menyiksa diri, tapi ujung-ujungnya prioritas itu harus dijaga betul-betul. Seringkali saya kangen kehidupan di masa Abby belum lahir, dan menurut saya pribadi, ini MANUSIAWI banget. Jaman dulu, kalau mau nonton ke bioskop bisa spontan, mau makan di kaki lima ya hayuk. Bahkan mau traveling ke luar negeri pun bisa spontan dilakukan. Sekarang?? Kalau mau cari jalan gampang ya bisa titip sana titip sini. Tapi kok ujung-ujungnya nggak tega ninggalin. 

Pas awal liburan kemarin, tadinya kita rencana mau ke Bali. Tapi ngebayangin bawaannya aja, udah bikin keder. Apalagi si Abby ini ternyata gak doyan makanan instant. Kita udah pernah coba kasih, dan dimuntahin dengan sukses. Yang dia suka itu adalah makanan sehari-hari dia yang isinya bubur sayur n daging. Akhirnya kita ke Bandung aja deh, cukup 2 malam, dan semua makanan dia dibekukan dan dititip di kulkas hotel, serta diangetin setiap kali dia mau makan. Pas kita berangkat itu, bawaannya Abby ada kali sekoper 25 inch, sementara bawaan emaknya nyempil dikit di antara bawaan dia. Beda banget sama saya yang jaman dulu, yang mau pergi jauh aja, packing cukup sehari sebelumnya, nggak mikirin apa-apaan yang penting ada cukup uang saku buat makan. Lah kalau ada anak gini, ada uangpun kalau di perjalanan dia gak bisa makan yang dijual umum ya sama juga boong. 

Tapi, ditengah kerempongan itu, ternyata perjalanan kita sangat menyenangkan. Sungguh merasa perjuangan saya tidak sia-sia: melihat Abby yang tidak rewel sepanjang perjalanan, karena dari kecil dia sudah dibiasakan duduk di car seat; melihat Abby yang tidur nyenyak di baby cot hotel karena dsudah dibiasakan tidur sendiri; melihat Abby yang tidak harus selalu digendong karena dibiasakan duduk di stroller. Anaknya pun selalu ketawa dan senyum, sehingga semua orang yang melihat dia ikut merasakan kesenangan yang dia rasakan. Bahagia saat travel itu bukan lagi shopping atau makan enak lagi, tetapi melihat anak kita senang dan menikmati sepanjang perjalanan. Itulah kadar kesuksesan jalan-jalannya.

Melihat Abby sekarang, kok kayaknya saya hampir lupa loh, bagaimana rasanya awal-awal mengurus dia. Saya hampir lupa capek dan telernya di awal-awal lahirnya, dan gara-gara nulis ini saya malah jadi mengingat-ngingat lagi peristiwa "melelahkan" setahun kemarin. Mungkin harus saya tulis sebagai pengingat. Saya hampir lupa saat itu payudara saya sempet sakit dan kata dokter kena mastitis, sampai setiap hari harus kompres rivanol. Saya masih ingat kata dokter saat itu, kalau sampai parah, harus disuntik atau dioperasi, dan artinya saya harus stop menyusui. Tapi tiap hari saya berdoa, semoga dengan kompres rivanol saja, semuanya beres, dan puji Tuhan, semua beres sampai sekarang. Dua kali Abby saya sempat bawa ke UGD, pertama karena muntah-muntah sembelit pisang di usia 6 bulan, dan kedua  muntah-muntah rupanya karena mau tumbuh gigi. Saya jadi tau, bagaimana perasaan ibu saya di saat saya sakit berat, kayaknya memang lebih sedih ibunya dibandingkan dengan yang sakit.

Kalau yang menyenangkan dan lucunya, justru saya lebih banyak ingat. Malam tahun baru 2013, Abby dengan sukses pup besar banyaaakkk banget, sampai mengotori satu badannya. Bukannya kita panik, kita malah ngakak gila-gilaan karena satu badan pup semua. Masih inget juga wajah bengongnya saat pertama kali kita taruh dia di bouncer yang bergetar-getar, lalu kemampuan motorik dia yang semakin meningkat mulai dari bicara, mengingat, sampai sekarang dia mulai belajar berjalan. Kalau saya atau papanya pulang, dia bisa berjingkrakan senang dan melompat-lompat sambil ketawa-ketawa. Sekarang kalau ditanya Abby mana, dia pasti sudah bisa menunjuk dirinya sendiri. Lalu kalau diminta sayang mama, dia akan mengelus pipi saya. Ahhh.... senengnya minta ampun!

Syukur luar biasa pada Tuhan, telah dikasih kesempatan, telah dipercaya untuk menjadi seorang ibu. Ini tugas yang sangat tidak gampang. Ini baru satu tahun, masih ada lagi tahun-tahun selanjutnya, dan peran seorang ibu tidak akan pernah berakhir. Tapi saya tahu, kalau saya akan selalu dikuatkan oleh Tuhan, karena dengan Dia memberikan anak ke saya, itu tandanya saya mampu, dan pasti Tuhan kasih yang terbaik, asal kita mengusahakannya.

Special thanks to the people that have helped me a lot through the first year successfully: my husband, my mom, my in laws, and last but not least, my nanny! *cup cup mwah*

"Parenting is not for sissies. You have to sacrifice and grow up."
~Jillian Michaels
Manyun dulu hahaha....
Sebelum lupa, untuk yang merayakan Natal, Selamat Hari Natal! Damai di bumi, damai di hati.

Wednesday, December 11, 2013

Tutorial Sok Kreatif - Dekorasi Kelas

Ini sih sebenernya postingan super duper telat banget dah! Acaranya sendiri sudah berlangsung di bulan Oktober dalam menyambut English Festival di sekolah. Tapi berhubung hari ini saya lagi tewas di rumah, dan tidur melulu gara-gara minum obat herbal dan nenggak Panadol, sekarang malah jadi agak semangat buat berbagi cerita. Apalagi pas Jeng Meta kemarin nanya ide buat dekorasi kelas, jadinya saya pikir, eh kali aja berguna yak buat di share ke temen-temen.

Saat itu di seluruh kelas secondary diumumkan, kalau bakalan ada lomba dekorasi kelas yang temanya harus sesuai dengan buku literatur! Wadoh! Saya sendiri berhubung tidak terlalu akrab dengan literatur bahasa Inggris, memberikan kebebasan ke murid yang saya walikan di kelas 7 untuk memilih sendiri tema tersebut. Jadi dengan brainstorming selama 5 menit (beneran 5 menit, kagak boong), akhirnya terpilihlah tema "ALICE IN WONDERLAND"! Idenya murni dari anak-anak, dan (kampretnya) modalnya juga dari anak-anak, alias nggak disponsorin oleh sekolah. Jadi kita harus putar otak, gimana caranya supaya kita bisa mendapatkan hasil yang memuaskan dengan biaya yang semurah-murahnya, tapi temanya dapet.

Murid-murid saya tadinya hampir putus asa karena menurut mereka, sulit dengan modal seadanya, mereka bisa membuat karya yang bagus. Apalagi mereka melihat kakak-kakak kelasnya lumayan keluar modal banyak, bahkan (gossipnya) ada yang sampai keluar di atas 1 juta rupiah untuk membeli properti. Sementara di kelas kami, saya tidak mau anak-anak sampai membebankan orang tua mereka untuk mengeluarkan uang banyak, jadi kami berusaha memakai uang kas yang kami miliki yang jumlahnya 300 ribuan saja, ditambah dengan sumbangan dari beberapa anak. Dan ternyata dengan modal sederhana.... kami bisa menghasilkan seperti ini loh!

Pintu kelas yang dilapis karton sewarna dinding kelas, rumput dari kertas krep, cetakan judul dan hiasan kartu (serta kelinci yang lagi nyelip)

Balon-balon, jamur dari karton, rumput dari kertas krep, dan lantai hitam putih yang kami buat dari karton hitam

Print besar Alice in Wonderland, lengkap dengan kartu-kartu tersebar di kelas
Prinsip "do it yourself" tanpa buang uang untuk membeli kostum ini juga saya terapkan ke anak-anak. Kalau seandainya mereka harus beli, belilah properti yang mendukung saja, tidak perlu beli kostum khusus. Walaupun sederhana, saya bangga sama kreatifitas mereka. Kelas kita ini satu-satunya kelas yang seluruh muridnya memakai kostum bertemakan Alice in Wonderland, sementara kelas lain, anak-anaknya bebas pakai kostum apapun. Lumayan kan?

Murid-murid saya sedang story-telling. 
Ada Card Soldiers (yang bajunya dibikin dari papan fiber), ada Jabberwocky (yang sayapnya dibikin dari kardus hitam), ada Catshire Cat (yang pakai bando dan bajunya dilapis pita-pita ungu), ada Rabbit (yang bikin bando sendiri dari kawat), ada Knave of Hearts (yang bikin steel jacket dari kertas perak yang dipotong-potong dan tempel2), ada Red Queen (yang bikin mahkota dari kertas kilap), ada Mathatter (yang bikin tongkat dari gagang sapu), ada Alice (yang demi sepatu biru, melapisi kakinya pakai double tape dan ngelibetin pita biru), dan ada White Queen (satu-satunya yang beli wig untuk mendukung penampilan). Saya sendiri lebih menghargai yang seperti ini, dibandingkan dengan penampilan keren tapi tinggal beli kostum jadi.

Lalu, gurunya pake baju apaan dong? Tadinya, para guru diencourage untuk beli kostum karakter literatur, dan sudah dikasih tau toko untuk beli kostumnya. Harganya di kisaran 300-400 ribu. Rata-rata guru males juga sih beli kostum, dan akhirnya pada pakai yang ada di rumah, kebanyakan jadi tokoh Indonesia (misalnya Bang Jampang, atau Nyai Dasima, atau apa saja deh yang pakai kebaya dan sarung, atau pakai jas hahahaha). Tapi berhubung saya ingin sekali turut mensupport kelas saya, saya juga mau bikin kostum dong! Kan gurunya harus jadi teladan untuk kreatifitas hihi (gaya lo! sok jadi teladan). Akhirnya saya memutuskan untuk jadi Humpty Dumpty.

Dalam karya sastra aslinya, Humpty Dumpty ini duduk di atas dinding bata. Dialah yang memberikan teka-teki dalam bentuk puisi yang judulnya "Jabberwocky". Nah, karena terlalu suram, tokoh ini dihilangkan dari versi film Disneynya. Tapi kan ini English Literature week toh? Bukan Disney week? Dan ide buat jadi Humpty Dumpty ini benernya dateng dari Meta pas lagi ngobrol di WA. Tapi pelaksanaannya gimana? Karena saya (sok) kreatif, inilah langkah-langkah pembuatan kostum Humpty Dumpty ala Leony.

Saya beli 2 fiber board warna merah, dan 1 fiber board warna putih. Yang merah itu saya kasih spidol permanen warna hitam dan dibentuk seperti bata, lalu yang putih itu saya bagi dua lalu bentuk seperti telur.

Untuk si telur, saya warnai dengan spidol permanen. Modalnya cuma tiga warna. Hitam, merah dan biru. Lalu saya ambil lengging punya Abby untuk kakinya si Humpty.

Leggingnya diisi dengan kertas koran, lalu saya kasih sepatu kets Abby. 

Saya juga membuat topi, lagi-lagi cuma modal sisa potongan fiber dan spidol permanen. Dan saya juga warnai bagian blakang si Humpty.
Jadi bagaimana hasilnyaaaaa?

Ini lohhhh...kostum saya! hahahaha... Ini pas saya test drive aja sih, yang motoin si ipar yang kebetulan lagi mampir ke rumah. Besoknya saya pakai baju hitam-hitam. 
Modalnya itu, nggak sampai 70 ribu loh! Udah gitu, spidolnya masih bisa dipakai lagi. Dan tali hitamnya itu juga masih sisa banyak banget.

Nah, jadi saat lomba itu.... kan diadu antara tujuh kelas ya. Ternyata, dengan modal minimalis, kelas saya dapet juara 3! Dan jujur saja, dengan modal segitu, mestinya bisa kali dapet juara 1 hahahaha... *ini kan kata wali kelasnya, yang pastilah subjektif wahahahah* Anak-anak tadinya malah ngerasa mereka  memang deserve jadi juara 1, karena yang juara 1-nya memang sudah nyolong start dari awal semester, dan juara 2-nya modalnya besar banget. Tapi mereka cukup senang karena mereka yang tadinya sudah putus asa, ternyata masih bisa membawa hasil yang memuaskan. Menang itu memang penting, tapi bukan segalanya. Proses ini membuat kelas kita semakin kompak, dan saya bisa melihat semangat kebersamaan anak-anak di dalamnya.

Oke, demikianlah tutorial sok kreatif dari bu guru abal-abal di tahun pertamanya mengajar. Semoga berguna!

PS: berhubung ada yang nanya kenapa kaki Bu Guru keliatan kayak abis digigit drakula gitu, nih jawabannya. Itu karena pas lagi ngajar di kelas 12, kaki Bu Guru digigit beberapa ekor semut api yang bersarang di tembok, sampai kakinya bengkak, dan akhirnya meletus berair huks. Tragedi di awal tahun pelajaran, tapi bekasnya nggak hilang-hilang.

Saturday, December 07, 2013

Sponsored Video: Gondappa ~ Lifebuoy

Sebelum kita makan, Dik
Cuci tanganmu dulu
Menjaga kebersihan, Dik
Untuk kesehatanmu.

Banyak-Banyak makan, jangan ada sisa 
Makan jangan bersuara, ayo makan bersama.

Masih ingat penggalan lirik lagu di atas? Sekarang, ayo kita nonton video ini, untuk mengingatkan kita betapa pentingnya cuci tangan sebelum makan.



Terharu nggak? Bayangin si Gondappa, bisa ngerayain ulang tahun ke-5 anaknya aja, senengnya minta ampun lantaran anak-anak dia sebelumnya meninggal semua sebelum usia lima! Huks. Bagi mereka, bisa mencapai usia lima adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Bener yang orang tua bilang, kalau demi anak, "kaki buat kepala, kepala buat kaki." Literally loh di video tersebut! Hahaha.

Kalau kita lihat video tadi, memang benar, bukan hanya soal cuci tangan yang menjadi isu utama, melainkan hidup bersih secara keseluruhan. Tetapi melihat bagaimana kuman masuk ke dalam diri kita dan diare menjadi salah satu penyebab utama kematian anak, berarti kita harus menjaga kebersihan makanan kita, dan juga kebersihan tangan kita. Betapa hal kecil seperti mencuci tangan dengan sabun, mampu mempertahankan hidup seseorang! 

Kalau saya dengar kata Lifebuoy, saya pasti ingat sabun antiseptik, dan saya tau banget, betapa Lifebuoy gencar sekali mengkampanyekan cuci tangan sebelum makan sejak tahunan yang lalu, dan juga mandi yang bersih dengan sabun. Kampanye yang sama seperti video di atas, sebenarnya juga sudah mulai terlaksana di Indonesia. Kalau di India tadi sasarannya adalah di Thesgora, di Indonesia sasarannya adalah desa Bitobe di NTT, di mana angka kematian anak tinggi, sebagian besar disebabkan oleh diare. Mungkin sudah pada lihat ya iklan yang dibintangi oleh Pandji Pragiwaksono yang temanya "5 Tahun Bisa untuk NTT".

Sayangnya, beberapa waktu lalu, saya membaca artikel di salah satu surat kabar di Indonesia, yang isinya adalah (perwakilan) masyarakat NTT protes keras karena iklan tersebut dianggap melecehkan warga NTT, dan mengeksploitasi warga NTT. Saya sendiri terus terang kaget dengan protes tersebut, karena menurut saya, walaupun ini adalah bentuk Corporate Social Responsibility dari Lifebuoy, setidaknya ini merupakan bentuk kepedulian dibandingkan dengan eksploitasi. Dalam kenyataannya, memang kehidupan di beberapa kampung di Indonesia sungguhlah memprihatinkan, dan mungkin ini merupakan sedikit "tamparan" untuk beberapa pihak *terutama pemerintah* untuk lebih memperhatikan warganya sebelum ada pihak luar yang justru lebih memperhatikan. Saya tau banget bagaimana masyarakat NTT ini justru banyak mendapatkan bantuan dari pihak-pihak lain di luar pemerintah termasuk pihak asing dan banyak institusi. Lifebuoy ini hanyalah salah satu pihak yang turut berpartisipasi.

Dibalik berbagai kontroversi yang diciptakan oleh kampanye ini, inti yang harus diambil adalah, bahwa mencuci tangan harus menjadi suatu kebiasaan, Lifebuoy membantu kita mengingatkan mengenai pentingnya hal tersebut. Jangan sampai ada desa-desa lain yang juga mengalami nasib yang sama. Marilah kita mencuci tangan, untuk Indonesia dan generasi mendatang yang lebih sehat.

Postingan ini disponsori oleh Lifebuoy.

Friday, December 06, 2013

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 2

Sekarang kita lanjut ke bagian kedua. Buat yang mau lihat bagian pertamanya, silakan klik di sini. 

Nah, barang-barang di bawah ini, sebenernya seringkali di salah kaprahkan orang sebagai kebutuhan utama, lantaran kalau ke toko bayi, barang-barang ini yang suka di deretan paling depan. Padahallll... yang di bagian satu itu yang jauh lebih penting.

Berhubung emak-emak jaman sekarang yang tinggal di Jakarta ini hobinya ngemol, jadi marilah kita menuju ke alat transportasi bayi.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

1. Car Seat

Masih ingat cerita saya soal pencarian car seat? Kalau lupa, silakan diintip lagi. Terus terang cerita itu bikin saya bengong, ngakak, dan nggak habis pikir hihihi. Nah, waktu di situ, saya belum nulis kan ya, akhirnya saya beli car seat apa? Jawabannya adalah: Combi Coccoro!

Abby punya persis warna ini :). Katanya kalau sekarang ada yang model baru ya?
Tadinya, saya mau beli yang bisa bolak balik. Sama-sama merek Combi, kalau nggak salah harganya sekitar IDR 5.8 juta, tapi gak ada barangnya! *makanya klik postingan lama tadi untuk tau kenapa nggak ada barangnya*. Pilihan akhirnya jatuh ke si Coccoro ini, yang ternyata harganya cuma 2 jutaan saja! *lupa blakangnya brapa*. Dan jujur saja, saya puas banget pakai ini, karena.... 

1. Enteng! Kan Abby gak selalu naik mobil saya, kadang-kadang naik mobil bapaknya, kadang-kadang juga naik mobil om-nya. Masak mau beli car seat berbiji-biji? Jadilah car seat ini pindah dari mobil satu ke mobil lain kalau memang dibutuhkan. Dan karena enteng, enak bawanya :). Pake 1 tangan juga bisa loh!

2. Gampang masangnya! Karena suka pindah-pindah itu, enak banget punya car seat yang tinggal ditemplok dan disilang safety beltnya. Juara banget deh soal pemasangannya itu.

3. Ukurannya! Combi Coccoro ini bisa mulai dari new born, dan sampai nanti anaknya beratnya 15 kg. Bayangin kalau misalnya beli yang new born sampai satu tahun, nanti beli lagi yang satu tahun sampai tiga tahun. Boros deh malah jadi beli dua kali. Selain itu, ukurannya sendiri tidak terlalu besar, sehingga tidak terlalu memakan tempat di mobil saya yang sekelas city-car alias imut-imut.

2. Stroller

Tadinya, saya punya keinginan beli stroller besar ala negara-negara Barat, dan sudah ngincer banget Quinny Moodd. Pokoknya naksir berat lah, mana warnanya cakep-cakep gitu. Sampai akhirnya, saya denger masukan dari orang-orang yang sudah pernah makai Quinny, katanya gede banget, berat, dan nggak sesuai sama suasana di Indonesia. Suasana apa maksudnya? Ayo ngaku, kita tuh pake stroller tuh kapan sih? Jawaban paling umum adalah: Saat Ke mall! Jarang banget orang Indonesia bawa stroller buat ke pasar atau jalan di luar rumah. Sayang bo! Soalnya jalanannya acakadul aspalnya brantakan, trotoarnya bompel-bompel. Pokoknya nggak banget deh ah. Beda banget sama di luar negeri, yang orang dorong-dorong stroller kemana-mana, bahkan jogging sambil dorong stroller. 

Terus kalau ke mal, pakai stroller gede-gede, kalau naik turun lantai gimana? Pake lift kan? Udah pernah liat lift-nya mall di Jakarta? Ya ampyun kecilnya! Dan ngantrinya saingan sama ngantri sembako. Terus, diakalin naik eskalator aja? NO NO NO! Bahaya bangetttt!! Kalau rodanya nyangkut, strollernya bisa kebalik dan anak kita kelempar! Jangan nekad ya. Makanya begitu nemu stroller yang satu ini, saya langsung hajar. Udah pada tau dong the most popular stroller of the year? Aprica Karoon! Alasannya:

Ini persis Abby punya, yang polkadot :). Sengaja biar kalo adeknya laki, masih bisa dipake haha. Ngirit donk!

1. Enteng! Beratnya cuma 3.6 kg! Lebih enteng dari sekantong beras, Bu! Terus karena enteng, keluar masukin dari bagasi mobilnya gampang banget. Kalau mau naik eskalator dan gendong anak, gak berat angkat strollernya.

2. Ukurannya! Lagi-lagi, walaupun strollernya ringan, bisa dipakai sampai anak kita beratnya 15 kg.

3. Cara lipatnya! Bener-bener tinggal one click away, dan simpel banget. Satu step saja! 

Kontranya: Suka lupa kalau enteng! Biasanya emak-emak kan suka nyantolin kantong belanjaan tuh di pegangan stroller. Kalau sama Aprica Karoon jangan ya! Tar yang ada pas anaknya diangkat, seluruh belanjaan bakalan ngejeblak semua saking entengnya tuh stroller hihihi. *lagian kayaknya cuma orang Indonesia doang yang hobi banget nyantolin segambreng belanjaan di pegangan stroller. Apalagi kalo lagi jalan-jalan di singaparna, stroller itu jadi kereta belanja haha*

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Oh iya, sebenernya saya sempat beli gendongan Aprica Fitta. Bagus sih, cuma ujung-ujungnya nggak sering dipakai karena Abby saya biasakan untuk tidak minta gendong. Jadinya dia betah banget duduk di stroller dan di car seat. Kalau tidur juga gitu, ditaruh di crib, paling dia loncat-loncat, terus nggak lama tidur sendiri. Jadi saya nggak bisa review gendongannya ya, soalnya beneran gak terlalu sering dipakai. Jadi bapak ibu, sebenernya, nggak usah beli terlalu banyak ya untuk alat transport. Kayak tas bayi, gak usah pakai yang fancy-fancy, karena ujung-ujungnya bakalan sering kotor juga dan malah lebih enak pakai yang parasut biasa atau ransel, yang bisa dicuci. 

Semoga walapun sedikit, reviewnya bisa membantu ya.  Intinya adalah, semua barang-barang yang saya tulis, worth the money spent. Nanti kalau ada kepikiran lagi barang-barangnya, bakalan saya tulis juga. Atau silakan tanya juga di comment soal barang-barang saya yang lain, nanti akan saya jelaskan dengan senang hati. 

Tuesday, November 26, 2013

2 Tahun Jadi Istri Orang

Terorejing torejing torejing... *ala PMR*... 19 November 2013 lalu, saya sudah jadi istri orang selama 2 tahun sodara-sodara! Prok prok prok prok prok! Ayo kasih saya selamat!

Kalau setahun pertama itu adalah masa-masa penyesuaian, kalau tahun kedua ini adalah MASIH TETEP masa penyesuaian. Beneran! Memang banyak orang bilang, sampai maut memisahkan pun, masih banyak misteri-misteri dan kelakuan pasangan yang baru kita ketahui. 

Tapi boleh dibilang, tahun kedua ini banyak diisi dengan peristiwa yang seru, dengan banyaknya lompatan-lompatan yang kami lakukan.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
1. Kami pindah lokasi!

Kami pindah bukan karena baru beli rumah, tapi kami pindah karena sudah mau melahirkan! Hahahaha.... Rumah kami sebenarnya sudah dibeli sejak sebelum kami menikah, tapi akhirnya tidak jadi kami tempati karena saat itu belum sempat renovasi, dan berat juga meninggalkan mama saya yang saat itu rasanya "seneng-namun-nggak-rela" anaknya nikah. Kebetulan dokter kandungan yang sreg di hati, lokasinya ada di RSPI Puri Indah, jadilah awal Desember 2012 lalu, saya pindahan dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat dalam keadaan perut usia hampir 9 bulan hahahaha... Untungnya cuma bawa koper doang, karena kami nggak pindah ke rumah kami, melainkan pindah ke ex tempat mertua yang saat itu sudah kosong. Jadi semua sudah furnished, dan kami tinggal gerek bawa koper pakaian dan juga crib serta perlengkapan Abby.

Siapa yang seneng pas kami pindah ke Jakarta Barat? Tentulah suami saya, karena itu berarti dia bisa sering-sering bersua dengan Bakmi Alok, Bakmi Asoi, Bakmi Aloi, dan bakmi-bakmian lainnya (dan babi-babian)... Welcome back, Darling! 

2. Kami dapat anugrah terindah - Abigail!

Cerita lahiran Abby sudah pada tau lah ya. Masa-masa membesarkan Abby, walaupun bahagianya tak terkira, juga merupakan masa-masa yang melelahkan dan kadang membuat hati down. Apalagi saat drama per-ASI-an di mana ASI saya jumlahnya nggak banyak, dan ada dorongan dari pihak sana sini untuk menyerah. Saat itu saya jadi belajar, kalau mau punya keteguhan hati, semuanya itu bisa dilalui dengan baik, tapi faktor utama yang juga penting adalah, dukungan dari SUAMI! Yes, dari suami. Apapun yang orang bilang, yang mengecilkan hati kita, asal suami selalu berada di sisi kita dan mendukung kita, rasanya kayak dapet tambahan support 1 juta orang!

Saya harus bersyukur punya suami yang kebo tidurnya, karena dia tidak pernah sekalipun mengeluh atas keberisikan aktifitas saya memompa ASI di sebelah dia saat subuh dan pagi hari. Saya bersyukur juga punya suami yang seneng sama anak kecil, walaupun seringkali dia sudah mau teler kecapekan pas pulang kantor, tapi kalau Abby masih bangun, pasti dia sempetin main. 

Bonus lagi, kami punya seorang anak yang mukanya seneng terus! She's a very happy baby! Sekarang di usia 11 bulan, hobinya lagi loncat-loncat gak karuan di crib, dan kayaknya gak sabar banget buat jalan sendiri. Being parents is tough, but it is rewarding. Having her in our life, have been the greatest joy so far. 

3. Saya pindah profesi!

Yang ini juga temen-temen juga pasti sudah tau, saya ganti profesi jadi guru. Terus terang, saya sempat stress saat awal-awal saya memulai pekerjaan ini. Seperti saya pernah cerita, memang ada faktor idealisme sebagai pendidik yang membuat saya justru kebanyakan merenung dan bertanya-tanya. Yang ada, saya sering banget nangis, sedih, gak bisa tidur, pokoknya segala hal berkecamuk di dalam otak saya. 

Saat saya mengalami yang namanya kegalauan super itu, saya sering banget gangguin suami saya yang lagi tidur pules tengah malem. Saya towel-towel, dan seringkali saya nangis sendiri sambil dia pelukin. Kedengeran lebay? IYA! GPP BIARIN hahahaha! Dalam kenyataannya, saya gak pernah kena baby blues, tapi kena teacher blues. Untungnya masa-masa itu pelan-pelan berlalu, dan saya menyadari, kuncinya adalah, saya cukup fokus di hal-hal yang memang menjadi tanggung jawab saya secara scope kecil dulu. Nanti setelah itu, baru kita menguasai dunia! *halah* Dan sekarang, lumayan saya sudah bisa tidur pulas dengan kadar stress berkurang (kecuali kalau nggak sengaja minum kopi atau teh kebanyakan, gak bisa tidur juga, haha). Thanks Pak Suami, you can get your sleep time back!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Last but not least, hal yang lumayan PENTING, yang saya rasakan di tahun kedua ini, yang merupakan perkembangan dari tahun pertama adalah: SAYA BISA TIDUR PULES WALAUPUN SUAMI SAYA NGOROK! Tralalalalala.... Hahahaha. Adaptasi akhirnya membuat kuping saya tebel dan ngorok suami berubah menjadi nyanyian merdu (gak deh, bohong, tetep aja ngga enak).

Terus, tahun ini rayainnya ngapain dong? Tahun ini bener-bener nggak ada perayaan. Kami lagi pada sakit semuanya! Udah gitu suami lagi lembur karena kantor pindah lantai, istri lagi gempor karena anak-anak mau ujian semester. Yang jelas, ketidakromantisan kali ini bukannya karena gak usaha kok! Hahaha. *melirik suami yang untungnya sudah lumayan menebus ketidak romantisannya pas Valentine tahun lalu di hari ultah saya*

Kesimpulannya, di tahun kedua ini, jauh lebih menantang dibandingkan tahun pertama, karena ada Abby. Kehadiran Abby di tengah-tengah keluarga, membuat kita makin memikirkan prioritas hidup, membuat kita bekerja lebih keras, dan membuat kita melakukan pilihan-pilihan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Puji Syukur pada Tuhan atas 2 tahun yang luar biasa ini, Puji Syukur karena begitu banyak orang yang mencintai kami dan memberikan support yang besar. Tidak sabar untuk menantikan tahun-tahun selanjutnya yang makin seru dan penuh cerita indah. Doakan kami terus ya!

19 November 2011 - Katedral Jakarta
PS: Our wedding day Part 1 and Part 2


Wednesday, November 20, 2013

Sponsored Video: Why Bring a Child into This World

Saya tau, saya adalah orang yang makin ke sini makin memilah-milah apa yang mau saya post di dalam blog. Dan ketika ada permintaan untuk posting video ini, saya mikir 1000 kali, should I do it? Dan setelah saya melihat video-nya, I definitely said yes.



Bohong banget kalau kita bilang kita tidak pernah khawatir dalam menghadapi masa depan. Saya yakin, sehebat-hebatnya kita, pasti ada saat dimana kita merasa sudah mentok, tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Saya sendiri pernah mengalaminya, mulai dari pengalaman keputusasaan saat didera penyakit, ataupun pengalaman hubungan dengan orang lain yang berlangsung tidak menyenangkan.

Kemudian setelah saya punya Abby, rasa ketakutan dan kekhawatiran itu makin melanda. Tentang masa depannya, tentang kualitas hidupnya, terutama kualitas hidup di Indonesia. Seringkali saya bertanya pada diri sendiri, apakah keputusan saya untuk kembali ke negara ini sudah tepat? Apakah keputusan untuk meminta suami saya tinggal di Indonesia dibandingkan dengan saya ikut dia ke luar negeri itu salah? Ada bagian-bagian di video ini, di mana saya jadi ikutan gemetar juga, mengingat masa-masa Abby masih di dalam perut saya, dan berbagai cita-cita yang sudah saya sematkan untuk dirinya. Apakah semuanya akan tercapai?

Seringkali saya berdiskusi kecil dengan suami saya, soal masa depan anak, soal apakah nanti dia bisa merasakan yang kita rasakan pada saat kecil dulu, bermain di halaman, menikmati udara yang bersih, menikmati main siram-siraman, menikmati kualitas hidup yang layak. Saat saya menonton video di atas, saya merasa tertampar, karena saya merasa, loh kenapa saya jadi begitu pesimis, padahal banyak hal-hal kecil yang kita lakukan sekarang, bisa berguna untuk masa depan. Saya, dan juga kita semua di sini, bisa membuka pintu bagi anak cucu kita, untuk kualitas hidup yang jauh lebih baik. Ditengah kebimbangan itu, kita harus punya suatu hal yang bisa membuat kita bersemangat, yaitu HARAPAN.

Project Sunlight dari Unilever ini menjadi pengingat bagi kita, kalau kita masih punya harapan, masih bisa berbuat sesuatu. Mungkin bukan kita yang menikmatinya, tetapi anak cucu kita. Teknologi itu bukan menjadi bumerang bagi kita, melainkan menjadi sarana bagi kita, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Untuk yang berminat, bisa gabung di project ini. Let's join, to make the world a better place. (sambil dadah-dadah kayak kontestan miss universe).

Postingan ini disponsori oleh Unilever, tapi curahan hatinya, asli dari saya! Hehehe.


Tuesday, November 05, 2013

Motherhood Saga: Barang-Barang Esensial Mama dan Abby Bag. 1

Pada saat mau jadi emak-emak, saya yang tadinya kalau buka internet itu cuma buat baca berita (plus gossip), facebook-an, dan blogging-an, mendadak jadi nambah hobi baru, yaitu buka website barang-barang kebutuhan untuk bayi dan emaknya beserta forum-forum. Dan lagi-lagi saya pusing tujuh keliling kalau  baca forum, sama seperti saat nyiapin kawinan. Seperti biasa, kalau di forum itu, emak-emak suka ngerasa pilihannya paling top markotop. Gak usah jauh-jauh, sampe soal dokter aja saing-saingan. Alamakjannnn... Tulung deh ah!

Buat orang yang nggak mau ribet kayak saya, paling enak itu nanya temen yang "sukses" dalam membesarkan bayinya, dan hidupnya keliatan cukup "wajar". Wajar dalam hal ini adalah, setelah punya anak, hidupnya tidak keliatan sulit dan ribet alias ngeluh melulu, plusss anak-anaknya terawat. Kebetulan emak-emak di group WA dan beberapa temen kuliah saya itu memang resources yang sungguh bisa diandalkan! Dalam kenyataannya, kalau kita bertanya pada sumber yang tepat, kita jadi tidak "kelebihan" dalam beli barang, dan bisa fokus pada barang-barang yang lebih bermutu daripada beli beberapa kali karena nggak gitu cocok.

Nah, di bawah ini adalah list dari beberapa barang yang saya beli sampai saat ini yang menurut saya berguna sekali setidaknya sampai Abby usia sekarang. Inget ya, ini versi saya loh. Kalau ada yang ngerasa nggak cocok, ya gak apa-apa karena tentunya tiap orang beda-beda ya preferensinya. Semoga membantu!

1. Pompa Asi

Lupakan soal stroller, car seat, dan lain-lain, karena inget bu, kebutuhan primer bayi itu adalah ASI! Banyak orang yang belum apa-apa mikirnya alat transportasi dulu, dan baru ingat, kalau pompa ASI adalah salah satu alat terpenting yang sebaiknya dimiliki oleh seorang ibu. Menyusui langsung adalah metode yang paling baik. Tetapi bagaimana jika ibu nantinya harus balik ke kantor? Supaya asupan ASI tetap bisa dipenuhi dan kewarasan ibu dapat dijaga dengan tidur yang cukup, tentunya bisa dilakukan dengan cara memompa ASI. Pompa asi yang saya pilih adalah: Medela Freestyle


Kenapa saya pilih pompa ini? Alesan ceteknya, ini adalah satu-satunya pompa ASI di pasaran yang memakai batere litium yang 'rechargeable'. Waktu itu saya berpikiran untuk langsung kembali ke kantor setelah cuti lahiran, dan mendapatkan berita kalau di ruangan tempat kita biasa mompa itu tidak ada stop kontak! Kemudian denger dari beberapa teman, kalau pakai pompa manual itu pegel banget, dan harus mompa satu-satu. Akhirnya, diputuskanlah untuk membeli Medela Freestyle. Ternyata banyak keunggulannya! Ukurannya kecil banget, beratnya kira-kira setengah kilo aja. Kemudian ada dua fase pemompaan, jadinya  dada kita ini dibikin relax dulu, baru kemudian diperes kayak sapi hahahaha. Dalam satu kali charge, bisa dipakai mompa 4-6 kali masing-masing setengah jam, tergantung level tarikannya. Kemudian, karena pompa langsung kanan dan kiri, buat saya yang ASInya minimalis ini, itu bisa membantu menstimulasi pengeluaran ASI sampai (katanya sih) 15 persen lebih banyak. Yang jelas nggak ada tetes terbuang karena umumnya kalau mompa separo, dada sebelahnya suka netes2 ASI. Sayang kan kebuang? Keunggulannya lagi, udah termasuk dengan tas dan cooler bagnya itu. Jadi nggak perlu simpen-simpen di kulkas kalau memang kulkasnya jorok (apalagi kulkas kantor yang isinya berbagai rupa ngga jelas). Tambahan lagi, suaranya tenang. Ya ada brisik dikittt... tapi paling tenang dibandingin pompa ASI elektrik lainnya. Kalau saya lagi mompa di klinik sekolah aja, orang-orang suka ngga ngeh saya lagi mompa di balik tirai. 

Kontranya: Harganya kakakkkkk.... Ini dia yang bikin saya sempet maju mundur mau beli. Tapi dinekad-nekadin juga akhirnya beli di Singapura. Saat itu jatuhnya sekitar IDR 4.5 juta dengan kurs yang dulu, dan saat itu di Indonesia harganya masih di kisaran IDR 5.3 juta. Kalau mau ngirit, belilah di Amerika! Jatuhnya IDR 3.5 jutaan. *sayangnya saat itu saya nggak tega mau nitip orang, takut ngerepotin hu hu hu* Kemudian, dia suka ada kayak "down time" yaitu saat indikatornya mulai nggak beres, itu artinya si pompa kudu di charge alias colok 24 jam nonstop untuk balik ke fungsi awal. 

2. Botol Susu

Nah, kalau sudah dipompa, kasih minum anaknya pakai apa dong? Ya tentunya pakai botol susu dong! Saya menggunakan botol susu Dr. Brown, yang standard neck, bukan yang wide neck. Ukurannya saya pilih yang 120ml. 



Dr. Brown ini saya pilih karena dia flownya lambat (natural flow). Flow yang sangat lambat ini baik sekali untuk bayi, supaya dia lebih berusaha pada saat mengenyot, dan mirip-mirip dengan saat dia mengenyot di puting ibu. Buat ibu, inget kan bu kalau sedotan bayi itu paling ampuh menstimulasi ASI? Jadi anak tidak punya preferensi karena baik di puting ibu maupun dengan botol, sedotannya sama-sama 'sulit'. Dan juga keunggulannya adalah anti-colic systemnya. Saya tidak tau pengalaman ibu-ibu lain, tapi yang jelas Abby cuma memakai produk Dr. Brown, dan sampai saat ini tidak pernah kolik. 

Kenapa yang standard neck? Karena bentuknya ramping, kemudian mulut botolnya bisa langsung pas dengan ukuran si Medela Freestyle tadi! Hihihih. Jadi saat saya kejar tayang dengan persediaan ASI, seringkali malam saya mompa dan langsung direct ke botol susunya Abby. Saat Abby sudah bisa megang botol susu sendiri pun, bentuknya pas dan tidak kebesaran. Dan kenapa saya  memilih yang 120ml, bukan yang lebih kecil atau lebih besar? Kalau yang 60 ml itu terlalu kecil, dan dipakainya sebentar banget! Sementara yang 240ml itu besar banget, dan baru akan dipakai saat anaknya sudah minum sangat banyak. Jadi kalau baru jadi ibu, cukup beli yang ukuran 120ml. Belilah setidaknya 6 botol, supaya tidak harus keseringan cuci dan steril.

Kontranya:  Partsnya banyak! Jadi nyucinya butuh kesabaran dan ketelatenan ekstra. Sebenernya nggak banyak-banyak banget, hanya tambah insert dan karetnya. Tetapi insertnya itu harus disikat khusus dengan sikat tipis yang dia kasih supaya bersih. 

3. Penghangat ASI

Kalau ASI ibu sudah didiamkan di kulkas, untuk diberikan ke bayi tentunya harus dihangatkan. Kalau mau pakai cara tradisional, rebus air, lalu rendam botol susunya di air panas. Tetapi jaman sekarang, kebanyakan orang memakai penghangat ASI. Pilihan saya jatuh kepada Philips Avent. Jangan bingung ya, botol susu sama penghangatnya kok mereknya lain hahahaha... Saya jelasin habis ini kenapa.


Banyak sekali bottle warmer yang ada di pasaran, dan mungkin ibu-ibu berpikir. Kenapa harus Philips Avent? Kan banyak yang lebih murah jauh, bentuknya juga mirip-mirip. Tapi dari awal sebelum Abby lahir, pilihan saya jatuh ke yang ini. Saya dapat kado juga merek lain yang sekarang saya taruh di rumah mertua buat cadangan. Padahal mereknya lumayan terkenal. Jangan salah ibu-ibu, kalau merek lain itu lamaaaaaa panasnya. Anak ibu udah bisa keburu meraung-raung kelaperan. Kalau si Philips Avent ini, cepet sekali! Sama seperti setrikaan merek Philips yang awet, penghangat botol yang satu ini juga awet dan praktis banget! Bentuknya juga mungil dan enteng. Jadi daripada buang uang dua kali, mendingan beli yang pasti-pasti aja hihi.

4. Sterilizer

Lupakan semua sterilizer botol, dan cukuplah kita memakai yang satu ini! Panasonic Dish Dryer!



Saat saya bilang saya cuma pakai sterilizer ini dan bukan pakai sterilizer khusus botol, banyak yang takut, duh, nanti bakterinya nggak mati semua, duh nanti kurang kering. Nah sekarang logikanya gini aja, kalau misalnya disteril direbus air panas, terus nanti ditaroh di rak lagi, kena debu nggak? Kena bakteri lagi nggak? Indonesia gitu loh! Terus kalau misalnya pakai bottle sterilizer, memangnya barang bayi hanya botol saja? Tidak berapa lama, barang si bayi udah nambah seabrek-abrek. Dari masih full ASI saja kan sudah ada cup-cup penampung ASI, sparepart pompa ASI emaknya, belum lagi nanti kalau sudah makan, ya ampunnn barangnya banyak bener deh ah! Kalau mau direbus satu-satu, entah sampai kapan kelarnya. Kalau takut ga bersih, tips saya, pretelinlah semua bagian-bagian botol dan lain-lain, cucilah sepenuh hati pakai sabun cuci piring yang food grade, sponge dan sikat yang bersih, bilas dengan baik. Terus tata dengan rapi di dish dryer ini, puter tombolnya selama setengah jam-an, dan voila! Kering kerontang plus anget hihihi.... Setelah itu, tinggal dipasang-pasang lagi deh bagian-bagian botol dan sparepart. Keunggulan lainnya, untuk kapasitas segitu, harganya terjangkau! Plus poin lagi tuh. 

5. Hand Blender

Inilah, alat paling berguna untuk MPASI-nya Abby. Tepuk tangan untuk Philips Hand Blender!! 


Percaya atau nggak, saking majunya pemikiran saya (alias sotoy), saat belanja barang-barang lamaran, saya minta hand blender ini masuk jadi bagian barang hantaran! Hahahaha.... Dan ternyata, ini adalah alat yang luar biasa membantu sekali untuk saya mempersiapkan MPASI-nya Abby. Lupakan berbagai alat untuk bikin bubur saring, bubur kasar, dan lain-lain. Serahkan saja kepada hand blender ini. Kalau ibu mau halus banget, ya tinggal hajar aja itu blender sampai halus. Kalau anak sudah agak besar dan  mau dikasarin, tinggal kasar-kasar aja pelan-pelan blendernya, jadi nasi tim-nya lebih bertekstur. Sangat-sangat menghemat waktu! Selain itu, karena dia hand blender, jadi ibu bisa langsung melakukan proses penghancuran di panci! Tidak perlu berganti-ganti container. Bedanya dengan blender biasa adalah, kalau blender biasa, proses penghancurannya kan dari bawah ya alias dari mata pisaunya dan itu bisa menyebabkan makanan terlalu halus. Kalau hand blender Philips ini, ibu atur aja, naik turun, puter-puter sambil posisi mengaduk, jadi dijamin lebih rata dan tingkat kehancurannya bisa diatur. Hal yang bagus lainnya adalah, bersihinnya gampang banget! 

Kontranya: Brisik! Udah..itu doang.

Oke, segitu dulu barang-barang yang menurut saya esensial sekali dalam perkembangan Abby, dan semuanya di atas itu berkaitan dengan makanan!! Hihihi... Nantikan lagi bagian selanjutnya! Kalau ada yang mau nanya-nanya, monggo!

Saturday, October 19, 2013

Apa Kabar Dunia

Saking sibuk dan stressnya sama urusan sekolahan, blog ini jadi lumayan terlantar ya. Udah hampir sebulan loh saya nggak nulis! Rekor nggak sih? Mama saya aja sampai nanyain... "Non, kenapa kamu udah nggak nulis dari 27 September?" Terus terang, karena hati ini lagi nggak enak banget rasanya, keinginan untuk nulis itu drop drastis! Soal kenapa hati saya nggak enak, bisa dikatakan terkait dengan idealisme saya mengenai seperti apa seharusnya sebuah institusi pendidikan itu, dengan realita yang saya hadapi. 

Setelah pergulatan hati ini, saya dinasehatin sama orang yang sudah lebih berpengalaman, kalau saya harus menurunkan level ekspektasi saya. Mungkin standard saya yang ketinggian, karena selama ini institusi pendidikan dan pekerjaan yang saya pernah lewati merupakan institusi-institusi wahid yang mempunyai standar disiplin dan etos kerja yang tidak diragukan. Sementara sekarang ini, saya harus menghadapi kenyataan yang sebenarnya sudah sangat umum di mata orang lain, tapi tidak umum di mata saya. Jelas saya tidak mungkin mengubah dunia, tapi saya mau berusaha berjuang, semoga kepercayaan dan keyakinan saya tidak luntur, dan sedikit demi sedikit, saya juga bisa lebih adaptasi walaupun berat. Doakan saya ya!

Berkaitan dengan sisi lain dari kehidupan saya, rasanya saya sudah lama banget tidak update soal perkembangan Abby. Yang jelas kalau dari fisik, giginya yang udah keluar gede-gede tuh dua, lalu sekarang yang atas lagi mulai muncul putih-putih dikit di tiga bagian, jadi kayaknya sebentar lagi gigi yang sudah keluar jadi lima. Badannya udah lebih montok dan gempal. Tiap orang yang megang pahanya pasti ngomong, kalau dia badannya padat berisi alias keras hahahah. Paling demen kalau elus2 pahanya yang kayak cukiok (kaki babi) tapi kulitnya alus dan lembut. Gemes deh! 

Kalau ditanya udah bisa apa aja, ya sama lah kayak anak usia 9 menuju 10 bulan pada umumnya. Merangkak ya udah, manjat-manjat ya udah, berdiri juga udah. Makanya sekarang tambah nggak bisa diem, lincahnya ampun-ampunan. Kepala suka keringetan juga gara-gara kebanyakan bergerak hihi. Kalau dulu ditaruh di crib nggak lama tidur, sekarang kalau ditaruh di crib malah bangun dan berdiri, lompat-lompat sambil pegangan, jadi nunggu dia capek dulu, baru deh tidur. Sampai saat ini susunya masih ASI, tapi mau nggak mau cuma dipompa aja, karena emaknya ngantor. Kalau makan, sampai saat ini apapun yang dikasih dia doyan, kecuali tomat dan papaya. Kayaknya nurunin emaknya kagak doyan papaya, mungkin takut dikira burung beo. 

Kalau soal sensorik alias daya tanggapnya, sekarang dia udah sangat ngenalin orang. Jadi kalau muka anda tidak friendly, dia bisa nangis sesenggukan, tapi nggak lama dibaikin juga ramah lagi hihi. Sudah bisa tepuk tangan pok ame-ame, toss, dan dadah. Dan lucunya, pas umur 9 bulan kemarin, baru kali pertama dia mewek pas ditidurin di ranjang Pak Dokter. Udah hafal dia kalau mau disuntik. Amazing banget ya daya serap anak-anak itu. Makanya kita sebagai orang tua juga harus lebih hati-hati dalam berbicara dan bertingkah laku. Berkaitan dengan hal itu, pas penerimaan progress report (alias rapor bayangan) bulan kemarin, kan saya jadi ketemu dengan ortu murid satu-satu, dan saya sangat-sangat bisa mengerti sifat anak-anak tersebut, memang sungguh tak jauh dari kepribadian orang tuanya. Buah tak jatuh jauh dari pohonnya. Jelas merupakan tantangan juga buat saya dan suami sebagai orang tua untuk menjadi role model bagi anak yang dipercayakan Tuhan pada kita.

Eh iya, sebelum basi nih, pas Abby usia 6 bulan, kita niatin mau foto Abby bugil tengkurep buat kenang-kenangan. Katanya mertua sih, jaman dulu cukup foto di atas meja hihihi. Tapi kali ini kita iseng deh ke foto studio yang murah meriah di Mal Puri Indah, cukup 250,000 saja hwahahaha... *ngirit*. Selimutnya beli sendiri soalnya Abby kan mau anti mainstream *halah*. Cewek kan biasa pake pink ya, kali ini pake kuning dong! Jadi inilah, hasil foto yang udah ampir basi, udah lebih dari tiga bulan lalu diambilnya.

 
Signature style anak 6 bulan
Botak-botak pake anting

Meletin Lidah

Hello!

Lirikan mata ngalahin Puss in Boots
LUCU KAN? AYO BILANG LUCU! Hahaha... Eh masak bikin foto studio begini aja, butuh 2 hari loh! Hari pertama, anaknya ngambek aja dong, terus selimutnya dikencingin. Besoknya baru balik lagi hihihi... Terus emak sama susternya udah kayak tim hore. Sampe serak dan pegel sendiri bergerak-gerak dan ngoceh-ngoceh supaya anaknya bisa berpose hihi. Kalo difilemin, pasti keliatan deh kalo yang dewasa di belakang kamera justru tingkahnya kayak anak kecil kebanyakan gula.

Nah, itu foto Abby lebih dari 3 bulan lalu. Sekarang gimana bentuknya? Nih deh...dikasih foto2 yang lebih baruan dikit. Semua diambil pake HP! Benar-benar ibu yang malas hahahaha....

September 12, 2013 - Biarpun kaki belum nyampe, yang penting gaya duluan

September 29, 2013 - Muka belepotan abis makan bubur, suster di blakangnya sampe ngakak.

October 2, 2013 - si Big Boss lagi nangkring

October 6, 2013 - siap-siap ikut Mama kondangan

October 7, 2013 - girang main-main di playpen

October 13, 2013 - Aktifitas sebelum tidur

October 15, 2013 - beware! I'm the new Bond Girl!
Udah ya segitu aja ya... Tuh, sekali posting langsung banyak fotonya, semoga pada puas semuanya! PUAS PUAS PUAS? *gaya Tukul* Sekian dulu update-an dari saya. Doain biar mood saya selalu bagus, biar bisa nulis lagi dengan hati yang jauh lebih gembira :D

Friday, September 27, 2013

Ini Bukan Curcol

Akhir-akhir ini, saya suka mendusin alias terjaga di pagi-pagi subuh, sebelum weker saya bunyi. Aneh, padahal saya ini termasuk orang yang biasanya gampang tidur susah bangun. Tapi sejak saya mengajar di sekolah dan menghadapi segala problematikanya, kayaknya saya jadi banyak banget pikiran. Seumur-umur saya kerja baik di perusahaan konsultan maupun di korporat, walaupun keadaan lagi chaotic karena dikejar deadline, saya nggak pernah tuh sampai nggak bisa tidur karena mikirin berbagai hal yang berlebihan. Tapi kenapa sekarang ini jadi begini ya?

Saya menyadari, sepertinya profesi saya yang sekarang, membuat saya makin berkaca, dan membuat saya agak khawatir mengenai masa depan bangsa ini. Sekolah tempat saya mengajar memang sekolah yang bisa dikatakan anak-anaknya sangat berada. Rata-rata pakai sopir ke sekolah, dengan mobil yang seringkali mentereng, dan jangan ditanya, gadgetnya nomer wahid! Kalau mau lihat gadget yang baru di launching, tinggal cari saja murid saya yang pakai. On the other side, saya melihat, guru-guru yang berjuang di tengah kemewahan tersebut, dengan pendapatan yang seadanya. Boro-boro naik mobil, masih banyak yang bermotor, bahkan naik angkot. Butuh kecintaan luar biasa besar untuk membuat para guru bertahan mengajar anak-anak.

Bayangkan, itu di tengah kota Jakarta loh! Di sekolah swasta pula. Bagaimana dengan keadaan guru-guru di daerah terpencil? Hari minggu lalu saat misa, saya mendengar khotbah Romo yang kebetulan bertugas di Kalimantan Barat, di daerah terpencil yang dihuni oleh suku Dayak Iban. Beliau bercerita, kalau guru-guru yang ditugaskan di pedalaman itu, banyakan memilih tidak datang ke sekolah, dan hanya datang ke sekolah pada saat tanggal gajian untuk menerima gaji. Saat itu sih umat tertawa, saya pun tertawa. Tapi dalam hati saya kok jadi menangis ya. Nyari guru yang baik saja, susahnya minta ampun. Sudah ada guru yang baik, ternyata tidak terlalu dihargai dari segi finansial dan support, sehingga kalau ditanya jaman sekarang, jarang sekali anak-anak yang cita-citanya mau jadi guru. Yes, bahkan yang pingin jadi polisi aja jarang! Maunya pada jadi pengusaha hahaha. Terus gimana dong dengan nasib anak-anak didik yang di pedalaman itu? Ya tambah mundur lah. Makanya saya salut juga dengan program Indonesia Mengajar, yang mengajak anak-anak muda perkotaan untuk membantu anak-anak di pedalaman. Cuma hasrat untuk berbagi yang bikin anak-anak muda ini mau untuk tinggal di pedalaman mengabdikan diri selama setahun penuh. Coba di cek video Lagu Baru, karya Edward Suhadi, siapa tau ada dari pembaca yang tergerak untuk menjadi guru. 

Sesungguhnya, banyak orang-orang Indonesia muda dan hebat lulusan luar negeri yang sebenarnya ingin sekali mengkaryakan dirinya di kampung halaman. Teman-teman saya yang bersekolah di luar negeri, banyak yang akhirnya jadi hebat dan jadi peneliti handal serta jadi professor, tapi jarang yang akhirnya balik jadi tenaga pengajar di Indonesia. Beberapa alasannya adalah, tidak ada penghargaan, lalu tidak ada dukungan dari pemerintah terhadap karya cipta anak bangsa. Dana penelitianpun dipangkas di sana sini gara-gara birokrasi yang jelimet, ijin kerja yang susah, sehingga akhirnya suatu ide yang luar biasa itu, mandek di tengah jalan. Sementara di sisi lain, orang-orang di luar negeri berebut mencari orang-orang pintar dari negara kita untuk masuk ke kampus mereka, dan pada akhirnya kembali jadi tenaga pengajar di negeri tersebut. 

Sedih? Ya iyalah! Saya masih ingat di kampus saya dulu, orang dengan bangga bilang kalau jurusan kuliah yang mereka ambil adalah bidang edukasi. Tapi kalau di Indonesia kita bilang sekolah pendidikan guru, orang malah mikir: "Gak salah lu? Mau makan apa?" Jadi guru itu susahnya ampun-ampunan, terutama di Indonesia. Di mata orang tua, sering kejadian begini, kalau anaknya berprestasi, jarang yang bilang: itu karena gurunya hebat. Rata-rata bilangnya, karena anaknya brilian, bekerja keras, hebat. Giliran anaknya gagal, gurunya yang dicari, terus diconfront, dibilang gurunya nggak bisa ngajar. Kasian deh kite...

Saya punya harapan, supaya profesi guru bisa semakin dihargai di negara ini, supaya guru-guru tidak perlu lagi bersusah payah mencari penghasilan tambahan, bisa fokus untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak-anak muridnya, mendapatkan penghargaan yang layak sesuai dengan jasa-jasanya, dan menjadi figur yang bisa dicontoh oleh anak-anak didiknya. Saya ingin sekali anak-anak bisa mengidolakan guru-guru mereka, seperti saya mengidolakan beberapa guru-guru saya dulu, karena dedikasinya yang luar biasa. Saya ingin orang menjadi guru karena cita-cita, bukan karena terpaksa.

Sebenernya banyaaaakkkk banget yang saya pingin curahkan soal keresahan saya.  Tapi kayaknya bakalan jadi postingan yang sendu yah. Daripada sendu semuanya, mendingan saya tutup postingan hari ini dengan gambarnya si kecil deh. Ada yang kangen?

Mirip gak??


Sama kayak baju hamilnya mama saya yang masih disimpan dan sempat saya pakai dulu, ternyata mama juga masih simpan baju saya pas masih bayi! Dan masih bagus! Ternyata jadi hoarder ada gunanya juga ya? Hahahaha....

Thursday, September 12, 2013

Remaja dan Kebebasan

Ceritanya, saya sok mau ngait-ngaitkan antara kejadian si Dul (anak Ahmad Dhani, bukan anak sekolahan, karena dia udah gak sekolah lagi... beneran!), dengan apa yang saya rasakan, terutama saat saya sudah jadi guru. Saya inget banget dulu Ahmad Dhani pernah ngomong di suatu acara, yang bikin saya sampai terbengong-bengong. Intinya sih, menurut dia pendidikan itu gak penting-penting banget. Dia menjadikan dirinya sebagai bukti, di mana dia yang pendidikannya gak jelas itu, bisa sukses sebagai seorang musisi, ngehasilin duit seabrek, dan berhasil memikat cewek-cewek. Sementara orang yang pendidikan tinggi, belum tentu bisa sukses (kayak dia). Hal itu jugalah yang bikin dia bersitegang sama si Maia, yang katanya lumayan mendukung anak untuk sekolah. Sayangnya, walaupun hak asuh anak jatuh ke tangan si Maia, si Dhani gak rela anaknya diurus oleh Maia. Pada akhirnya, anak-anak boleh memilih tinggal dengan siapa, dan tetap saja Dhani dengan segala kekayaan yang dimiliki, berhasil membuat anak-anak tinggal bersamanya, yang berarti cara didiknya ya sesuai dengan polanya dia toh?

Namanya anak-anak, siapa sih yang nggak seneng dikasih kebebasan? Nggak sekolah... silakan. Mau pacaran di usia belia... silakan. Mau pesta-pesta pake duit ortu... silakan. Mau naik mobil tanpa SIM... ya silakan juga (kata si Dhani). Sebenernya polisi anak nomer satu itu kan orang tua masing-masing. Kalau orang tuanya nggak melarang, malah mendukung (hey, dikasih naik Lancer loh. Emangnya mobil Lancer murah?), ya akhirnya yang terjadi adalah kebablasan! Setelah keluarga, polisi keduanya adalah pihak sekolah. Sayangnya, si Dul ini, udah polisi pertamanya nggak ada, polisi keduanya juga nggak ada! Gimana nggak hancur minah? Dan itu semua balik lagi ke polisi yang pertama. Ortunya aja cuek anaknya nggak sekolah, apalagi anaknya? Ya sebodo teuing! Sekarepmu!

Yang menyedihkannya, di Indonesia ini, orang tua kelewat masa bodo. Dipikir, kalau sudah punya banyak harta, artinya sudah cukup. Apa yang anak mau, kasih aja, toh duitnya ada. Dalam benaknya, yang penting anak happy, toh ujung-ujungnya bakalan mewarisi harta kekayaan orang tua, jadi nggak usah kerja keras gimana-gimana. Belum apa-apa sudah dimanjakan dengan fasilitas, yang dikira akan membahagiakan anak. Tapi benarkah anak bahagia? Toh ujung-ujungnya, saat si Dul sudah terbaring parah di Rumah Sakit, yang dia pingin cuma supaya bundanya berada di sisinya. Si Maia sampai ngga boleh pulang dari rumah sakit. Saat itu baru terasa, sebenarnya kebutuhan anak terutama itu bukan hartanya, tapi perhatian dari orang tuanya.

Kemarin ini, salah satu murid saya ada yang nyamperin saya. Masih kecil, usia SMP. Saya melihat dia sebagai anak yang happy go lucky. Pokoknya ketawa-ketawa aja, dan seperti terlihat tidak berbeban. Tapi saat dia cerita, saya jadi lumayan sedih dengernya. Dia bilang, dia kesal karena orang tuanya selalu ninggalin dia jalan-jalan ke luar negeri, dan sering banget. Sekali pergi langsung dua-duanya, dia dan adiknya ditinggal di rumah. Sopir dikasih, pembantu ada, tapi anak ini kesepian, "Seandainya mama lebih perhatian sama aku, mestinya kan dia tinggal di rumah, gak usah harus ikut papa terus. Lagian Miss, mending kalau perginya darurat, ada keperluan. Ini sih jalan-jalan senang-senang Miss. Tiap saat profile picnya diupdate terus foto-foto senang-senang" Jlep...

Saya mau ngomong apa saat itu? Bingung... Saya cuma bisa bilang, "Gak apa-apa, mungkin papa dan mama tau kamu anaknya hebat, jadi bisa ngurus adikmu di rumah. Itu tanda kepercayaan mama dan papamu." Tapi dalam hati, saya mikir, mungkin orang tuanya tidak mengerti kalau anaknya sebenarnya tidak suka ditinggal-tinggal. Tapi apakah orang-tuanya mendengarkan? Mungkin orang tua mikirnya, fasilitas dan pembantu tersedia, itu artinya sudah cukup. Ternyata nggak... anak kecil pun punya hati dan punya nurani. Mereka ingin dicintai!

Dicintai itu tentunya dengan cara yang wajar. Bukan dituntut untuk jadi yang best of the best, dihajar kalau salah, ataupun dikasih segala harta benda dan fasilitas. Mereka ingin dapat bimbingan, mereka ingin kita ini menjadi contoh buat mereka. Mereka ingin didampingi dari mulai masa kecil, sampai akhirnya mereka jadi dewasa, dan akhirnya nanti akan lepas dari kita dan memulai hidupnya sendiri. Jangan sampai anak-anak ini mendapatkan "cinta" yang salah, misalnya cinta palsu dari teman-teman disekitarnya yang menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan yang salah dan obat terlarang, ataupun cinta palsu lainnya yang berupa rayuan gombal yang menghancurkan masa depan mereka.

Saya di sini sebagai guru, sekuat-kuatnya saya berusaha untuk mengajar anak-anak di sekolah dengan nilai-nilai kehidupan yang baik, kalau di rumahnya tidak ada dukungan yang nyata dari keluarga, hasilnya ya nol! Dan yang lebih menyedihkan lagi, kalau anak-anaknya nilainya jelek atau bermasalah di sekolah, tolong juga untuk direfleksikan, bagaimana perhatian orang tua terhadap anak tersebut, bukan menyalahkan pihak sekolah. Orang tua adalah guru utama, dan sekolah hanyalah pendukungnya.

Last but not least, read the beautiful quotes below. Kali2 Mas Dhani baca yah? (Eh Ahmad Dhani bisa bahasa Inggris gak sih? Pas liat dia di X-Factor around the world, saya sampe tepok jidat).

Let parents bequeath to their children not riches, but the spirit of reverence.
~Plato

Loving a child doesn't mean giving in to all his whims; to love him is to bring out the best in him, to teach him to love what is difficult.
~Nadia Boulanger 


 Even as kids reach adolescence, they need more than ever for us to watch over them. Adolescence is not about letting go. It's about hanging on during a very bumpy ride.
~Ron Taffel

Sekian cuap-cuap dari saya. Makasih.


Saturday, August 24, 2013

Liburan (bikin) Lebaran

Liburan Lebaran kemarin, memang bikin lebaran, alias body bengkak lantaran makan melulu setiap hari. Kayaknya terlalu bahagia akhirnya bisa libur dua minggu. Tapi jujur aja, saya ngerasanya libur kali ini tuh beneran cuma seminggu doang, lantaran minggu keduanya, setiap hari saya malah nyiapin bahan ngajar plus soal-soal buat test anak-anak. Yah namanya ngajar enam level yang berbeda, materinya lain-lain semua... mabok.com banget deh ceritanya!

Highlight liburan ini tuh.... akhirnya saya balik ke bioskop lagi! Wee hee!! Setelah terakhir nonton Life of Pi beberapa hari sebelum lahiran di bulan Desember 2012, kali ini dibuka lagi lembaran baru pergi ke bioskop dengan nonton Wolverine. Pokoknya diembrace banget hari itu ceritanya mau kencan berdua. Pas sampai bioskop, saking excitednya langsung beli popcorn yang sekotak tenteng itu, (dan ludes di 30 menit pertama). Terus habis keluar bioskop, rasanya gimana ya....hmmm... biasa banget... Malah ngerasa filmnya jelek. Atau karena memang excitement kita ke bioskop itu turun ya gara-gara ada anak di rumah? Jadi, during the holiday, rencana nonton marathon itu diakhiri dengan nonton SATU film saja. Sampai sekarang sih saya masih meyakinkan kalau memang filmnya aja yang jelek (supaya gak luntur semangat nonton di bioskop).

Highlight yang kedua adalah... MY BIRTHDAY!!! (PENTING). Hihi. Udah tua dong! I just turned 31! (BANGGA hahahaha... tua kok bangga). Perayaan ulang tahun saya ini memang jatuhnya pas di akhir liburan kemarin, jadi bisa dibilang penutup liburan yang manis. Dan yang lebih highlightnya adalah, si suami yang nggak romantis itu, malah ngagetin saya pas di hari ultah dengan ngasih ini!

Jejengggg... sebuket bunga mawar yang guede guede hihihi....

Pas saya dikasih itu, saya masih kucel loh di rumah, terus langsung siap-siap late dinner (gak late banget sih, tapi considering jam tidur anak, itu udah late, jadi anak bisa ditinggal). Nyari resto aja kudu yang deket rumah, supaya ngga kelamaan ninggalinnya (halah... ternyata jadi emak-emak begini toh yo...). Motret dulu bertiga nih sebelum brangkat.

Foto wajib sekeluarga, yang motoin si Sus, jadi harep maklum blur2 dikit haha.
Akhirnya makan di Tony Roma's aja deh, soalnya kayaknya itu resto yang oke yang lokasinya tinggal ngesot. Sampe sana pun makan gak ada romantis-romantisnya. Seporsi regular slab baby back ribs ludes sendirian, makannya pake tangan pula sambil isep-isep huahahaha, sampe lupa motret berdua loh saking laper. Yang kepotret makanannya doang sebelum ludes. Makasih ya suamiku buat bunga dan traktirannya...cup cup mwah!
Onion Loaf yang masih bisa buat nyemil pas besoknya saking gedenya

Baby back pork ribs yang sempet difoto sebelum dihajar sama Jeng Lele

Hari terakhir liburan, seperti biasa ngajak makan-makan keluarga saya dan suami. Kita makan di Gio Vanese di Gandaria City.

Cuma sempet foto makanan sendiri. Lagi-lagi gak lama gone!
Daaannn..... saya dapet kue dua biji aje gitu! Rupanya kedua belah pihak masing-masing bawa satu kue dan ngga koordinasi hahaha. Udah gendut, tambah gendut aje dong!

Yak... dua loyang kue

Mama saya, masih aja ngerjain dengan beliin lilin yang nggak bisa mati! Ma, anak mama udah tua kali!

The whole gank
Last but not least, dari sebelum liburan, anak-anak yang saya walikan di kelas 7 sudah nagih dong, minta dimasakkin sama Ms. Leony kalo nanti pas jam wali kelas sehabis liburan. Jadilah... perayaan terakhir ultah ke 31 ini dirayakan di sekolah, sama anak-anak murid saya. Dari hari sebelumnya sudah gedabukan dibantuin mama saya yang khusus dateng dan nginep demi masakin anak-anak. Masakannya sih sederhana, cuma pasta sama meatballs (mesti bikin meatballs sendiri nih lantaran keberagaman agama anak-anak), lalu mama saya juga bawain 2 jenis kue lagi. Yang ribetnya itu ya ngebawanya karena kelas saya di lantai 4 kan. Dari lantai G, 1, 2, 3, 4, naik tangga aje gitu! Untung pas sampe sekolah ada 1 OB yang bisa bantuin, itupun ngos2an naiknya.
Murid-murid saya... liat deh bedanya yang cowo sama yang cewe... *bikinpusing.com*
Siangnya, dapet bonus dari orang tua murid, ada yang bawain kue lagi!! HAHAHAHAAH... 3 loyang aje tuh kue di kulkasssss...

Kue lagiiiii!!! Gendut lagiiiii!!! 
Kalo kado-kadonya, selain tentunya tiga loyang kue tersebut, dari suami saya dapet pre-birthday gift berupa laptop yang sudah mulai dipakai sejak ngajar bulan kemarin. Suami yang milihin modelnya, yaitu Samsung Ultrabook, yang mayan ringan cuma sekiloan. Kata suami sih supaya enak dibawa-bawa dari kelas-ke kelas, dan  ternyata malah ribet dikit gara-gara saking tipisnya jadi kudu pake konektor hahaha. Tadinya saya pikir cukup lah dapet itu sebagai birthday gift, tapi ternyata masih dibonusin lagi bunga, terus backpack Samsonite buat ngajar dan sepatu Rockport yang modelnya bu guru banget. Semoga ini bukan redemption atas ketidakromantisan Valentine lalu! HUAHAHAHA. Lanjutkan, Pak Suami! Kado dari keluarga saya, kasih "mentahnya". Mayannnnnn. Mertua saya sendiri sudah bertobat ngasih kado yang membuat saya feminin seperti tahun lalu, dan beralih ngasih saya panci. Hihihihi...

Ultah kali ini, rasanya apa ya... rasanya lain sih sama tahun kemarin. Kalau tahun lalu semuanya mendoakan biar lahirannya lancar, tahun ini semuanya kasih selamat, lalu dikasih embel-embel, didoakan supaya segera hamil lagi anak kedua.....-_- *plis dong, ada yang mau bantuin jadi baby sitter plus ngasih tabungan extra buat ngegedein anak?* Yang bikin lain lagi adalah, karena si Abby yang tadinya masih di dalam perut, sekarang udah mulai gede, memasuki usia 8 bulan di weekend ini, dan lagi lucu2nya. Sering nyebut "mamamamama" (sebenernya itu masih misteri, apakah dia manggil mama-nya atau dia minta mamam. We haven't figured it out :P)

Abby with her Mamamamama
Tahun ini, saya merasa tambah lengkap lagi. Sungguh penuh rasa syukur diberikan kesehatan, kekuatan, dan rejeki dari Tuhan terutama untuk keluarga kecil yang baru dirintis ini. Saya merasa sangat beruntung punya orang-orang di sekitar saya, baik keluarga maupun teman-teman yang luar biasa yang selalu mensupport saya dalam masa-masa awal saya menjadi seorang ibu. Semoga ke depannya, saya bisa menjadi manusia yang lebih baik lagi. I love you all.

Saturday, August 03, 2013

Balada Tiga Minggu

Tadinya saya mau membuka dengan: Nggak terasa, sudah tiga minggu saya mengajar. Tapi setelah dipikir2, NGGAK TERASA APANYA??!!! KERASA BANGET TAUK! (sambil mukul2in badan yang ngerentek dan minum air banyak-banyak gara-gara leher yang mengering). Apalagi sebagai guru baru, saya itu ibaratnya harus nyiapin semua bahan dari nol. Makanya nggak salah, pas masa orientasi guru, dia nyeletuk, "Miss Leony, siap-siap deh ya ngadepin berbagai tantangan di sekolah ini..." Iya deh, Mister, oke lah kalo begitu.

Oh iya, gara-gara kemarin banyak banget yang nanya saya ngajar di mana, dan ngajar apa. Saya ngajar di sebuah sekolah international di bilangan Jakarta Barat, dan ngajar Business Studies and Entrepreneurship. Ya tentu saja lidah ini mulai keriting kembali ngomong bahasa Inggris was wes wos. Kalau ada yang nanya, belajar apaan sih itu? Bayangin aja pas tahun pertama kuliah deh materinya. Mulai dari pengenalan soal bisnis serta ekonomi, financial, manajemen operasi, manajemen keuangan, manajemen manusia, dan sebagainya. Ribet? Iya. Apalagi kalau kita belum pernah mendalami secara langsung dunia keuangan dan korporat, dijamin itu cuma sekedar teori belaka. Tapi kalau kita sudah pernah ngalami langsung, ya itu nilai plus sebenernya buat saya. Jadi kalo anak-anak pada nanya, ya saya bisa terangin lah dikit-dikit. Tapi yang bingungin itu, rata-rata mulai anak kelas 8 aja udah mulai nanya saya, "Miss, gimana sih cara jual beli saham. Saya mau dong online trading. Miss kasih tau saya dong gimana cara lihat saham yang bagus itu gimana." *tepok jidat* Padahal kalo saya tanya mereka, ngerti atau ngga saham itu apaan, rata2 jawabannya nggak tau. Hahaha. 

Menghadapi anak-anak itu bagaikan sebuah seni yah. Seni bela diri tepatnya. Anak-anak remaja itu kan lagi masa-masanya galau. Kalau ditanya mau jadi apa, rata-rata jawabnya masih bingung. Tapi kalau diajarin, kadang-kadang suka ngga mau dengerin. Ditambah lagi, balada guru baru itu, biasanya anak-anak mau ngetes mental kita sampai mana. Yang namanya diledek, diketawain, sampe dikerjain supaya perhatian kita teralihkan, itu mah biasa. Intinya, mereka itu pengen adu kuat sama kita. Tinggal kita aja, mau nyerah, atau mau saingan adu panco sama mereka. Hihihi. 

Anak-anak di masa remaja ini juga bener-bener masa peralihan. Dari yang masih diperhatikan sama orang tua, sampai perlahan-lahan dilepaskan sama orang tuanya untuk jadi manusia mandiri. Eh iya, saya lupa cerita kalau saya juga ditunjuk menjadi wali kelas. Jadi selain ngajar, tentulah saya punya pekerjaan ekstra untuk mengasuh anak-anak. Yang ini juga yang kadang suka bikin urut-urut dada, terutama saat menghadapi: PARENTS!! Percaya nggak, ada anak yang sudah remaja, tapi parentsnya masih periksain SELURUH PEER DAN BUKU-BUKU ANAKNYA! Kemudian gara-gara anaknya peernya nilainya kurang dikit, ortunya sampe dateng ke sekolah untuk challenge guru mata pelajarannya. Dan siapa yang kudu ngadepin? Ya saya! Pusing yah kalo ketemu rabid mom kayak gini. Belum lagi kalau anaknya ditegur di depan gurunya seakan anaknya itu salahnya segede gunung. On the other side, ada juga anak yang sangat dicuekin sama ortunya, sampai sering melakukan kesalahan berulang misalnya salah seragam, atau nggak bawa ini itu. Sampai anaknya suka ada yg curhat, "Miss, saya udah kasih tau mama, tapi mama nggak ada tanggapan tuh." Duh, sama juga, ikut mleres hati ini jadinya.

Setelah tiga minggu ini, kayaknya bukan anak-anak saja yang belajar dari saya, tapi saya sangat banyak belajar dari anak-anak. Saya sampai suka berefleksi sendiri, akan jadi orang tua seperti apa nanti buat anak nanti. Kemudian, jadi suka berandai-andai anak saya nanti bakalan jadi anak yang seperti apa kelak, saat dia beranjak besar. Rasa takut dan khawatir itu pasti ada, tapi ngga mau mikirin dulu ah. Mikirin si Abby yang lagi lucu-lucunya aja biar gak mabok. 

Buat temen-temen yang merayakan, saya mau ngucapin: Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin. (dan nadahin tangan buat minta kue kering dan ketupat sayur). Liburan tahun ini saya nggak kemana-mana. Mau spend as much time as possible with my family, pergi ke bioskop lagi for the first time, dan ngelempengin badan saya yang kayaknya udah pada zigzag urat-uratnya. ASIK LIBURRRRR!!! *kesenengan padahal gak dapet THR*