Tuesday, November 27, 2012

Dari 1911 ke 1911

Nggak terasa, tau-tau sudah satu tahun aja saya menikah... Happy Anniversary to Me (and Husband)! Rasanya belum lama kita masih ajojing di resepsi, tau2 sekarang, boro-boro saya bisa ajojing, jalan aja udah kayak kudanil. Buat yang kepingin mengenang memori setahun lalu, silakan mampir ke sini dan ke sini.

Saya ini nggak pinter kalau suruh bikin kisah romantis yang bikin orang yang baca jadi terharu, menitikkan air mata, kemudian bilang, "So sweeeettt...." Hihihi... jadi postingan ini nggak akan mengharu biru deh. Soooo let's start!!

Soal Tidur
Waktu pas habis nikah, yang saya paling nggak tahan dari suami itu adalah, ngoroknya! Seumur hidup, di keluarga inti saya itu gak ada orang yang ngorok. Jadi pertama bener-bener bobok bareng, kemudian denger ngorokan membahana, saya cuma bisa bengong. Awalnya saya masih suka poke poke alias colok-colok aja itu badannya suami, sampai akhirnya mulai dengan towel, dorong, tendang, dan pada akhirnya, frekuensi bangun saya kalau malam sudah dapat dilatih dengan signifikan. Alah bisa karena biasa, katanya, dan itu bener banget! Tapi sebenernya ada lagi trik yang lebih ampuh yaitu: SAYA TIDUR AJE DULUAN! Hihihi...

Soal Makan
Kalau ditanya apa makanan favorit suami, saya pasti bakalan langsung bilang: BAKMI. Alangkah tersiksanya dia pas "kepaksa" pindah sementara ke Jakarta Timur demi nemenin mama saya (ps: rumah yang kita beli akhirnya dikontrakin dulu sebelum rencana renovasi, daripada kosyong). Setiap hari keluhannya dia, "Payah, di daerah sini nggak ada tukang bakmi enak". Jadilah pas awal pernikahan, tiap kali waktu kunjungan mertua, sebelum sampe rumah mertua, kita seringkali mampir di Bakmi Alok. Namun kemudian, saya menyadari, kalau kecintaannya dia terhadap bakmi itu lama-lama udah menurun juga kok. Doyan banget masih tetap, tapi seenggaknya sudah nggak fanatik lagi hihi. Nah, kalo abis ini kita pindah lagi ke Jakarta Barat, saya cuma berharap, dia nggak keseringan makan bakmi, karena istrinya bisa ketularan gembrot (padahal sekarang juga gembrot).

Kesukaannya yang kedua adalah: AYAM! Jadi kalau ke Japanese restaurant, pesenan langganan dia itu: Chicken katsudon. Pokoknya gampang banget deh kasih suami saya makan. Asal ada ayam, slamet! Jadi, kalo udah ga ada makanan di rumah, sangat sederhana bikin dia seneng... gorengin aja CHICKEN NUGGET! hahahahaha *istri pemalas*.

Soal Penyesuaian
Katanya, tahun pertama perkawinan itu, banyak brantemnya. Soalnya, banyak penyesuaian sana sini, yang katanya kadang bikin yang wanita suka kayak PMS tiap hari setelah masa bulan madu itu berlalu. Surprisingly, itu nggak terjadi sama kita. Saya dan suami itu, jarang banget brantem, apalagi yang sampai besar. Ngambek-ngambek dikit, ditowel juga langsung beres. Tapi apakah berarti selama setahun ini bisa dikategorikan sebagai adem? Jawabannya adalah: NGGAK hahahaha. Di saat orang-orang mengkhawatirkan soal brantem dengan pasangan, yang kita hadapi malah: kesensitifan mama saya yang naiknya nggak kira-kira! Hihihihi...

Sejak papa saya nggak ada 11.5 tahun lalu, otomatis saya yang anak pertama ini jadi seperti "kepala keluarga". Dan sepertinya, mama saya ini, agak rela ngga rela menerima fakta, kalau anaknya sudah menikah. Nampaknya dia belum terlalu siap kalau saya ini sudah harus membagi cinta saya dengan orang lain yang bukan keluarga sendiri. Menurut mama saya, biar gimana suami itu "orang lain". Beneran loh, susah banget menanamkan, kalau suami saya itu adalah keluarga juga. Yah, itulah namanya seorang ibu sama anak perempuannya. Mungkin saking sayangnya, atau saking possesif-nya kah? *Semoga pas saya pindahan, saya gak dikasih tali atau ditanamin chips buat tracking deh, hahaha*

Soal Jaim
TIDAK ADA DI DALAM KAMUS KITA! Kentut ya kentut, nyuruh ya nyuruh, males ya males, rajin ya rajin. Itu dia yang kadang bikin mama saya terheran-heran, soalnya dia itu dulu udah kayak Stepford Wife hahaha. Suami pulang, ranjang udah super rapih jali gak boleh disentuh, makanan sudah tersedia dari ujung ke ujung. Apalagi tipe mama saya itu, kalau pagi papa saya bangun, itu sarapan, kopi, dan kue-kue sudah tersedia, lengkap dengan koran pagi. Wuihhhh....

Sementara anak perempuannya ini, kalo lagi capek, suami pulang ya, nggak usah harus disambut gegap gempita (pake tari pendet). Kalo istri nyuci, suami jemur, ya itu biasa banget, suami setrika baju sendiri juga gak masyalah. Ya bukan berarti dengan demikian saya jadi istri yang cuek yah. Justru kami ngerasa, this is our style. Memahami kadar lelah dan letih satu sama lain, suami mau main game, ya silakan aja. (tapi AWAS NANTI KALO GA BANTU NGURUSIN ANAK!! *diancam pake silet*) Maybe our style is different than others, but it's our way, dan yang pasti: kita bahagia, dan kita ngga nyusahin orang.

Jadi kesimpulan setahun pertama ini, apaan dong? 

Seperti saya pernah mentioned sebelumnya, my first year of marriage life is like a roller coaster ride. Kadang naik, kadang turun, kadang muter, kadang spiral. Tapi yang pasti, seru dan menyenangkan, and it feels very short! (hayo, mana ada naik roller coaster sampai 1 jam? haha). Dan yang namanya naik roller coaster itu, pasti ada fear alias rasa takut walaupun sedikit. Ya, itulah yang namanya menikah. In the end, Tuhanlah yang kasih kita kekuatan untuk menjalankan hari-hari kita. Sama aja kalau naik roller coaster, pas lagi tegang, kita juga bergumam "oh my God, oh my God..." hihihi.

Yang kita rasakan juga adalah berkat yang luar biasa berlimpahnya, bukan hanya soal materi yang sampai saat ini dicukupkan, namun yang istimewa adalah soal kepercayaan yang diberikan oleh Tuhan pada kita berupa seorang anak. Jadi rasanya?

Rasanya: LENGKAP.

Eh, kok pose kita ngga mesra banget yah hahahaha...

PS: buat yang kepingin tau kita ngapain aja untuk ngerayain anniversary: mulai  Jumat, 16 November 2012, kita nginep 2 malam di Ritz Carlton (tempat kita nikah dulu), terus dinner membabi di Amigos, Bellagio. Sabtu: family lunch di Dapur Babah Elite, ngupi2 bareng di Bakoel Koffie, another dinner di Trattoria. Minggu: ditutup dengan hujan dan agak kebanjiran on the way home.

Wednesday, November 14, 2012

Soal Percaya

Saat paru-paru kanan saya dulu diangkat, hal yang pertama kali saya tanyakan ke dokter saya adalah, apakah saya bisa punya anak atau tidak. Jawaban dokter, bisa, apalagi jaman sekarang, melahirkan bisa dilakukan dengan C-Section alias Operasi Caesar. Buat saya, hal itu memantapkan hati saya untuk kembali bisa membuka hati untuk menerima cinta dari belahan jiwa saya, dan percaya, kalau suatu saat saya bisa menikah, dan akhirnya mempunyai keturunan.

Saya ingat sekali, waktu saya dan pacar (yang sekarang jadi suami) mengikuti Khusus Persiapan Perkawinan, kita diingatkan, kalau tujuan dari sebuah pernikahan itu, bukan hanya sekedar bahagia, melainkan: Mempunyai keturunan. Saya ingat si pengajar bilang, kalau cuma ingin bahagia, tidak perlu menikahpun bisa. Tapi kalau untuk memperoleh keturunan (yang sah tentunya), pernikahan adalah sesuatu yang mutlak. Bah...kok saya serius amat ya kali ini? Intinya, saat saya menikah, saya tau, saya mau punya anak. Dan begitu Tuhan kasih anak ini dalam waktu yang lumayan cepat, saya percaya, Tuhan pasti akan kasih saya kekuatan dan kesehatan untuk membesarkan anak ini, merawatnya, baik di dalam maupun di luar kandungan nanti.

Waktu awal-awal saya dinyatakan hamil, saya berpikir, saya tentunya akan lebih tenang, karena adanya opsi untuk C-section. Jadi saya nggak perlu berpikir untuk melakukan yang namanya push push, teriak-teriak histeris, atau menggeram-geram sambil megangin tangan suami sampe tulang-tulangnya mau remuk kayak di film-film. Saya tau, kalau obgyn yang saya pilih, adalah obgyn yang sangat-sangat pro-normal, dan hanya akan melakukan C-section kalau ada pengecualian. Dan tentunya, pengecualian itu adalah, kondisi fisik saya yang hanya punya lobus-lobus kiri saja di paru-paru. Berbulan-bulan di dalam hati saya, ya opsinya C-section aja gitu.

Waktu saya pemeriksaan minggu ke 28, saya nanya ke si obgyn, kapan saya sebaiknya booking kamar dan booking waktu beliau untuk C-section.

Eh dijawab sama dia,  "Ngapain booking? Kamu bisa lah normal."

HAH? Maksudnya?? Ternyata berdasarkan hasil pemeriksaan, lab, dan lain-lainnya, kondisi saya cukup baik untuk bisa melahirkan secara normal, menurut pendapat si Obgyn loh ya.

"Tapi Dok, waktu saya habis dioperasi dulu, dokter saya yang di Singapore bilang, kalau saya melahirkannya lewat Caesar loh."

"Kalo gitu, kamu tanya saja sama doktermu di Singapore, apakah kamu bisa melahirkan normal. Tanya sama dia, can I do Spontaneous Delivery gitu..."

Jadi dengan perasaan campur aduk, tanggal 1 November 2012 saat menjelang minggu ke 31 kehamilan, saya dan suami berangkat ke Singapura. Padahal tadinya saat mengetahui saya sudah hamil, Pulmonologist alias Dokter Paru saya bilang saya tidak perlu melakukan yearly check up, sampai nanti sesudah melahirkan. Tapi akhirnya, saya berangkat juga, demi memenuhi rasa penasaran, dan meminta surat rekomendasi. Saya sih yakin banget, kalau dokter saya di sana akan menulis rekomendasi untuk C-section karena dia sendiri pernah ngomong demikian.

Seperti biasa, pagi-pagi tentunya dimulai dengan cek darah, cek nafas, cek urine. Siangnya kembali lagi untuk konsultasi dengan si dokter. Saat konsultasi itu, saya lumayan deg-degan. Pertama dibacakan, kalau kolesterol saya agak naik, yang berarti harus kurangi daging-dagingan, kemudian ada sedikit infeksi bladder (saluran kencing), yang memang biasa terjadi di saat kehamilan. Kemudian saya kemukakan kalau tujuan utama saya ke sana adalah untuk meminta pernyataan dari dokter untuk C-section, supaya dokter saya bisa punya rekomendasi resmi. Dan dengan santainya dia menjawab.

"You can do normal delivery!"

"But you said couple years ago, that I should go to labor through C-section."

"No, you can do normal. Your lung capacity is 62%, why should you do C-section? Normal is better. Women with worse condition than you can still do normal.  I'll write a letter to your Gynae, recommending normal delivery."

JEDENG!! Beneran ini? Beneran saya bakalan lahiran normal?? Selama ini, saya gak siapin mental untuk lahiran normal loh! Pas pulang dari dokter itu, badan saya lemes banget. Bener-bener lemes. This is not what I expected.... Apalagi pas saya sampai di hotel dan menghubungi mama dan mami mertua, mereka semua sepertinya juga agak gak bisa terima dan masih tetap takut kalau saya harus melahirkan normal. Tapi tidak tahu kenapa, saat itu saya bilang ke mereka,   

"Tenang aja Ma, dua dokter sudah yakin kalau aku bisa normal, tinggal meyakinkan diri sendiri aja."

Tiba-tiba, saya ingat kenangan masa lalu saya. Dari sejak saya remaja, dan punya pikiran soal menikah, tidak pernah sedikitpun terlintas di pikiran saya kalau saya akan melahirkan dengan C-section, sampai akhirnya peristiwa pengangkatan paru-paru itu terjadi. Melahirkan normal itu, sebenarnya merupakan CITA-CITA saya! Di saat saya lupa dan sempat menyerah soal cita-cita awal saya itu, saya sebenarnya sedang dibukakan jalan kembali, untuk PERCAYA kalau saya masih bisa menjalankan cita-cita tersebut.

Saya menulis ini, 5 hari sebelum ulang tahun pernikahan saya yang pertama. Dari lubuk hati yang paling dalam, dengan segala kerendahan hati, saya berani bilang, kalau rasa PERCAYA, BERUSAHA, dan BERSERAH kepada-Nya itu, telah menuntun saya untuk sedikit demi sedikit, memenuhi cita-cita saya. Bahkan saya merasa perkawinan saya tahun lalu itu, melampaui cita-cita dan apa yang saya bayangkan sebelumnya. Perjalanan hampir setahun pernikahan ini, juga merupakan roller coaster yang seru, naik, turun, tapi penuh dengan excitement. Dan saya rasa kuncinya adalah tiga hal tersebut di atas, dan sumbernya hanyalah Tuhan semata.

Jadi Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara, dan Saudari sekalian, tolong dukung kami dengan doa untuk saya mempersiapkan proses kelahiran secara normal yah! Kecuali jika Tuhan nanti berkehendak lain, barulah kembali lagi, saya serahkan kepada-Nya melalui tangan-tangan orang yang membantu. Doakan saya dan si dedek!!

PS: Ibu-ibu, kalo ada tips-tips buat yang pernah ngelahirin normal,bantu ditulis di komen yah! Biar saya tambah banyak masukan! Tererengkiu!