Monday, March 12, 2012

(Jangan) Menilai Buku Dari Sampulnya

Alkisah... sepulang hanimun kemarin, karena tempat hanimun kita tidak menyediakan barang-barang berkualitas untuk dibawa pulang sebagai hadiah untuk para orang tua, ketika tiba untuk transit semalam di Kuala Lumpur, saya dan suami langsung tancap gas untuk ke mall terbesar di sana yang namanya Pavilion. Saat itu, keadaan kami sudah persis kayak gembel. Rambut awut-awutan, muka kuyu, pakaian seadanya, ditambah lagi, perut keroncongan belum makan, pokoknya komplit bleh. Tapi karena waktu yang begitu tipis, dan paginya harus berangkat balik ke Jakarta, jadilah sisa beberapa jam sebelum mall tutup itu, kami sudah gak pakai mikir lagi. Dari Sheraton, naik Monorail 2 stop, jalan kaki dikit, sampailah kita di tujuan.

Berhubung dua gembel ini luar biasa gembelnya, ketika masuk ke butik-butik ternama yang berjejer di sana, boro-boro ada pelayan nyamperin kami nanya butuh apa... yang ada, kami dicuekin!! Brasa banget deh. Mungkin kalaupun mereka memperhatikan kita, itu mungkin gara-gara mereka takut barangnya dicolong! hihihihih...

Akhirnya kami sampai di butik yang kebetulan tokonya belum ada di Jakarta (tapi surprisingly harganya hampir dua kali harga di tempat asalnya, why oh why). Pas kami masuk dan pegang-pegang tasnya, para pelayan (yang sebagian melambai) itu cuek banget. Dikit juga nggak ditanyain. Apalagi saat itu kami nggak langsung memutuskan, berhubung kami masih nggak tau jadi beli atau nggak, karena kan selain untuk kedua mama dan mami kita, kita juga masih mencari kado untuk papi mertua. Akhirnya kita tinggalin dulu itu butik.

Kitapun menuju butik satu lagi, yang banyakan menjual barang-barang pria, dan kami langsung beli hadiah untuk papi mertua. Begitu kita balik lagi ke butik sebelumnya yang jual tas itu, saya lihat mereka sudah sedikit berubah memandangnya, feeling saya sih, karena saya bawa paper bag dari butik tempat saya beli hadiah papi mertua. Mulai ditanyain juga loh, butuhnya apa...

Kemudian, gak sampai 10 menit kemudian, saya ngomong:

"I'll take two of this..."

Mendadak... eng ing enggg... itu suasana toko langsung berubah... pelayannya mendadak jadi ramaaahhh... langsung ada dua yang  nyamperin, nawarin ambil barangnya yang baru, kemudian ditanyain mau di bungkusnya gimana, karena takut boxnya nggak masuk ke koper.... terus ditanyain, ngapain ke Malaysia... gimana honeymoonnya, how's everything... bla bla bla bla bla...

Jadi ya bapak ibu sekaliaannnnn.... jangan kira yang gembel ini tuh gak ada duit buat blanjaaaa. Justru yang gayanya selangit itu, kadang belum tentu belanjaaaa! Ini tips buat semua store keepers, kalau bisa ramah aja sama semua orang deh, daripada kecele sama yang gembel tapi blanja, atau daripada capek-capek ramah ke orang yang perlente, padahal mereka gak shopping.

Don't judge the book by it's cover, don't judge the shoppers by their looks!

Thursday, March 01, 2012

Si Omde


"Saya tuh pernah mau nikah pak, sudah booking ballroom di hotel Mulia, akhirnya gak jadi. Akhirnya itu uang DP saya pakai aja buat makan-makan ulang tahun. Temen-temen saya pada bingung saya undangin, keren kan saya birthday makan meja loh di Hotel Mulia."

Dalam hati saya: Ini nyeritain tragedi apa mau nyombong? 

"Saya tuh suka trauma sama cewe, makanya saya gak mau bayarin cewe, soalnya dulu saya pernah ditipu dan hilang satu unit Honda Jazz gara-gara cewe."

Dalam hati saya: Ya ampun, padahal cuma ditanya kenapa gak bayarin taksi pas makan siang. Kalo pelit ya pelit aja, gak usah alesan. 

"Pak, rumah saya itu gede banget... tanahnya 2,500 meteran. Kegedean buat saya, karena saya tinggal cuma bertiga sama papa mama saya. Saya pengen jual aja, kayaknya buat saya 200 meter udah cukup deh. Saking gedenya rumah saya, sampe saya mesti teriak-teriak pak kalau manggil pembantu. Kemaren ini pembantu saya protes, kata dia, "Pak, bapak gak usah teriak-teriak manggil saya. Add aja pin BB saya pak, saya udah ada BB sekarang". Wah, hebat deh pak pembantu saya udah pake BB. Eh iya, BB-nya sama tuh pak kayak yang si Leony punya tuh...."

(sambil nunjuk BB di tangan saya).

Dalam hati saya: Rese lo! PLAK! PLAK! PLAK!

Perkataan di atas dilakukan oleh orang yang sama, dan itu dilakukan dalam beberapa kesempatan. Dalam kenyataannya, orang ini pelitnya parah minta ampun.... *jangan diceritain pelitnya, tar saya nambah dosa* tapi yang di atas itu, beneran komen-komen yang bikin saya geleng-geleng. Kalau ada yang kenal sama orang tersebut, mohon maaf, I didn't mention anyone's name here. Entry ini murni cuma mengungkapkan rasa heran saya kalau orang-orang macem gini ternyata eksis.

PS: Omde = Omong gede.