Wednesday, January 18, 2012

Tips Nyiapin Wedding ala Leony

Banyak orang yang tanya, "Le, lu nyiapin wedding tuh kayak under the radar gitu. Kagak ketauan, tau-tau jadi aja, udah gitu sukses acaranya". Katanya orang lain loh sukses, bukan kata saya. Kalo kata saya: SUKSES BANGET.... soalnya saya sama sekali SANTAI sepanjang hari. Padahal, saya bangun jam 2 pagi loh! Huahahahahaha....*bangga* Again, kadar kesuksesan sebuah acara kan beda-beda getu loh!

Kali ini saya sampaikan tips-tips dalam wedding yang berlaku BUAT SAYA, tapi kemungkinan nggak berlaku buat orang lain. Inget ya, BUAT SAYA, jadi jangan diprotes kalo gak cocok sama anda-anda, apalagi buat yang sudah nikah hahahahah... 

1. Buatlah daftar budget, dan bukalah itu secara blak-blakan dengan orang-orang yang mempunyai peran dalam pembiayaan pernikahan anda. Kalo berdua, ya dengan suami, kalo ada sponsorship ortu, ya dengan ortu.

Buat para bride, anda boleh lempar saya pake sendal jepit Swallow kalo kalimat saya ini salah: Every bride-to-be has her dream wedding. Bener gak? And to make your dream come true, bohong banget kalo gak butuh biaya. Masalahnya dengan orang jaman sekarang adalah, malu-malu dan sungkan untuk  menyampaikan dream weddingnya itu seperti apa, padahal, nggak salah loh menyampaikan doang. Palingan nanti mertua bilang: GILA LO! hahahahaha... Ya kagak lah ya. Lagian kalo mau minta dream wedding, pikir-pikir dulu lah pake otak yang waras, dan hati nurani yang luhur. Jangan bilang My Dream Wedding adalah di tepi pantai di Nice, Prancis, lengkap dengan keluarga besar ngikut serta dibiayai akomodasinya, dengan penampilan special dari Michael Buble secara akustik, padahal kenyataannya kita aja buat makan sehari-hari masih mikir mau beli KFC Paket Hemat atau di warteg. Ketahuilah keadaan kantong dari masing-masing orang yang terlibat pembiayaan ini, jadinya semua jelas, semua open, dan ada perinciannya pemasukan dan pengeluaran, jadi uang yang didepositokan oleh pihak pendonor itu jelas larinya kemana. Yang lebih penting lagi, semua pihak harus SETUJU dengan plan budgetnya. Jangan kucing-kucingan, jangan misuh-misuh di blakang. Memang sih di sini gak ada KPK yang mengaudit, tapi perencanaan finansial yang baik untuk sebuah acara pernikahan, adalah awal menuju kesuksesan dalam menjadi CFO rumah tangga. Ciyeh! Ditambah lagi bonus, semua orang hepi! Trust me!

2. Tau yang kamu mau, dan fokuslah untuk mencapai hal tersebut.

Kecenderungan pengantin jaman sekarang, pas ditanya, kamu pengen wedding yang seperti apa sih? Mulai deh ngomong, aku maunya yang sederhana aja deh, akad nikah, kemudian makan-makan keluarga. Atau ada yang bilang, aku mau yang spektakuler, lengkap dengan artis papan atas ibu kota dan papan bawah plus papan penggilesan. Terserah! Setiap orang punya preference masing-masing. Namun yang jadi masalah adalah, di saat semua itu sudah disusun rapih di otak, ada hal-hal yang mengganggu yaitu: Majalah-majalah perkawinan, kawinan orang lain, pengaruh teman, dan hal distraksi lain yaitu:

PAMERAN WEDDING RAKSASA
Pas pameran wedding yang gede-gede bagong di JCC itu, biasanya vendornya seabrek-abrek, kita jadi bingung, kaki mau copot, dan most of the time, gak dapet apa-apa!! Mau liat-liat juga mana bisa sih kita nilai dari pameran? Begitu kita kira yang stand ini bagus, sebelahnya ternyata lebih bagus, trus jadi bingung. Ditambah lagi, salesman-salesman dari bridal-bridal tertentu yang cukup parah menawarkan jasa, udah kayak jualan kue cucur di pasar: "Kuenya  mbak kuenya....." Eh salah... "Free make up mbak, yuk silakan diliat  paketnya mbak..." Terkadang ditambah gerakan narik-narik tangan dan ngasih brosur. Ketemu vendor tertentu sampai ngantri-ngantri, dan pas kita akhirnya decide buat deal lantaran katanya dapet kupon undian kalo deal di tempat, begitu sampe rumah baru merenung: "What did I do? Gue tadi DP kok ga pake mikir sih?" It's too late, Dear. Berada dalam pameran raksasa, membuat anda sungguh ga bisa mikir! Apa yang didapat dari pameran wedding biasanya: tumpukan brosur! Ditambah kaki pegel mau patah, dan otak  mau pecah. Belum lagi pas keluar Senayan antri berat, mau pipis kok nanggung gak bisa balik lagi. Cukup satu kali saja daku ke pameran wedding raksasa...phewwww....

dan yang terparah:

FORUM WEDDING!
Pertamanya sih mungkin iseng-iseng. Setelah memilih beberapa vendor dan DP, kita iseng masuk ke dunia forum, dan begitu sampai sana, kita  jadi bimbang dan bertanya-tanya, "Vendor gue tuh bener gak sih? Kok ada bad review? Kayaknya vendor yang itu lebih bagus deh, soalnya ada orang yang bilang bagus." I wanna tell you something. VENDOR TERMAHAL DAN TERHEBAT PUN, PASTI ADA REVIEW JELEK! Beneran! Ini dunia business, Mbak! Wedding itu one of the biggest and everlasting business in the world. Dan diantara para bridezilla itu, banyak juga yang muji-muji vendornya sendiri , lalu menjelekkan vendor lain karena mungkinnnnnn harganya ga cocok. Belum lagi sebenernya itu vendor lain yang iseng merekomendasikan businessnya sendiri dan ngaku-ngaku sebagai bride-to-be. Hey ho hey ho. Do you know that some people actually abuse wedding forums to brag about their dream wedding, while they're not actually experience it? Satu-satunya kegunaan wedding forum itu adalah untuk: sharing barengan dengan sesamai pemakai vendor tersebut!! Kalau buat browsing, beneran lama-lama bisa gila. I tried that, and I stopped after less than a month! Terbukti, tanpa wedding forum, kita bisa kok!

The key is: Ask the vendor right away: DIRECTLY! Ngapain sih nanya-nanya harga sama orang di forum? Bisa sih tanya dengan teman yang pernah memakai vendor tersebut, tapi buat saya, fokus aja, anda tuh maunya konsep yang seperti apa, pilih beberapa vendor yang sesuai selera anda, dan anda tau kira-kira price rangenya (you can do this by phone or email only), dan MEET THEM! Go and meet them, feel the connection between you and the vendor, and voila! It reduces your stress level by.... I don't know, maybe...90%? Jangan kebanyakan juga ketemu vendor, apalagi yang outside your style and price range. Buang-buang waktu, tenaga, dan biaya! *emangnye ketemu vendor di mol kagak pake bensin, Bu?*

3. Perlakukanlah vendor-vendor anda seperti teman, tetapi bayarlah mereka secara professional.

Seperti postingan saya sebelumnya, para vendor anda sebagian besar adalah seniman. Banyak orang yang tidak menyadari hal ini, kepinginnya minta bonus ini itu sampai vendornya juga meringis, dan banyak yang nawar gila, sampai menganggap vendor itu adalah lapak Mangga Dua. Banyak loh vendor yang curhat ke saya, kalau client-client mereka treat mereka seperti pekerja rodi, bahkan tidak dibayar sampai lewat hari H-nya. Kebodohan banyak orang itu kadang: "Kami tidak akan membayar kamu sampai kamu menunjukkan bukti kalau  kamu sudah bekerja dan ada hasilnya di depan mata". Pak, Bu, emangnya menyusun ide kreatif itu bukan kerja? Nemuin client di tengah kemacetan dan hujan badai itu ngga kerja? Tolong deh... Hari gini!

Percaya nggak, kalau kita tidak nawar kebanyakan, dan selalu bayar pada waktunya, itu juga akan membantu kita! Ide kreatif mereka keluar, tidak tertekan, dan BAHAGIA... one more time: BAHAGIA to serve you on your big day. Dan saat mereka bahagia, mereka pasti akan memberikan yang terbaik, dan hasilnya, di hari H anda tidak stress, tidak mikirin ini itu karena anda tau anda ada di tangan yang tepat. By the end of the big day, kita sudah nambah beberapa teman baru. Mereka akan membawa cerita indah itu ke client-client mereka selanjutnya! Bahagia itu nular loh!

4. Jadilah orang yang mandiri!

Tau ngga salah satu faktor yang suka bikin pasangan brantem kalau lagi wedding preps? Yaitu: si bride-to-be yang ingin mengikutsertakan si groom-to-be dalam berbagai hal, termasuk yang printilan gak jelas yang sebenarnya tidak butuh keputusan si groom-to-be, tapi si bride-to-be ini ngotot pake konsep "we're in this together" pokoknya aku capek, kamu juga ikut! TITIK ga pake koma. Udah gitu, begitu si cowok kecapekan, gak kuat ngikutin, cewenya  ngambek-ngambek ga berujung ditambah nangis-nangis drama, dikira cowoknya gak mau berpartisipasi! Terus pertanyaan ultimatum: "KAMU TUH BENERNYA MAU NIKAH GAK SIH SAMA AKU??" Dang! Begini ya, Ibu-ibu. Banyak sekali hal-hal yang sebenernya cowok itu MALES ngikutin, kecuali cowok anda itu memang super perfectionist sampe warna kembang meja aja mesti dia yang pilih, atau dia mesti ke gudang decor buat ngecek apakah cerminnya ujungnya sompel atau ngga.

Apa-apa yang bisa kita lakukan sendiri, terutama yang printilan, lakukanlah! Tentunya dengan seijin dan sepengetahuan calon suami. Bisa juga kita lakukan sama ibu kita, kemudian hasilnya kita tunjukkan ke calon suami, sehingga dia juga tau kalau anda itu memang calon istri yang bertanggung jawab, terampil, cekatan, pokoknya istri idaman deh! Tapi ya jangan kebablasan, misalnya si cowok bilang: "Yang, kamu pilih-pilih deh ya barang seserahan buat kamu, nanti kalau udah dapet semua, kasih tau aku, aku tinggal bayar." Terus begitu cowoknya mo bayar, gak taunya kamu gerek dia ke butik Hermes dan beli 3 bags, 2 clutches, 5 scarves, dan 7 bracelets warna warni *pingsan*. Tapi kalo suaminya mampu, ya sok, silakan! Tapi, jangan lupa ikut sertakan suami dan mertua untuk menentukan hal-hal besar. Terbukalah, dan tanyalah pada mereka, apa saja yang mesti didiskusikan bersama, dan apa yang bisa anda pilih sendiri. Dijamin, calon suami senang, calon mertua gembira, dan akhirnya, anda juga loh yang menikmati!

Yak, mungkin segitu dulu tips dari saya, yang sekarang nempel di otak, kalau ada tips tambahan, nanti deh dituliskan diposting selanjutnya. Kalau ada pertanyaan buat para bride-to-be, jangan sungkan! Saya bukan seorang konsultan, tapi seenggaknya, based on my experience on preparing this wedding, bridezilla syndrome itu ngga mampir ke saya sama sekali! And those tips above, work for everyone! Again, it's not about the money. Persiapan pernikahan itu, cuma sebuah tahap awal dari sebuah perkawinan, di mana keterbukaan, pemahaman, kesetiaan, dan cinta kita diuji.

Good luck to all of you out there who're preparing their wedding, and for those of you who'd been married, enjoy the ride!

Monday, January 09, 2012

Kalau Opa-Opa Main Facebook

Halo semua!! Gimana nih tahun barunya ? Kalo saya sih, nggak kemana-mana. Lagi mualesss... Mungkin kena euphoria pas kawinan kemarin, jadinya energy sudah keserap semua, sekarang tinggal sisa capeknya doangan! Pas malam tahun baru, enak juga di rumah aja, sambil bikin pizza ala si Jamie Oliver, kemudian hampir berkesimpulan mendingan beli aja daripada bikin, karena walaupun pizzanya sukses, tapi ternyata bahan-bahannya gak semurah yang dibayangin, apalagi keju di Jakarta ini!

Soalnya saya ngekeuh mau pake mozarella beneran, bukan keju cheddar kotakan dengan bungkus biru itu! Tomato paste yang enak juga kudu yang impor, masak pake saos botolan? Belum lagi shaved ham dan smoked beef yang ternyata perkilonya ratusan ribu. Ditambah lagi, meja makan saya yang berubah jadi countertop buat ngudek tepung dan air yang mbleber-mbleber kemana-mana. Tapi kalo disuruh bikin lagi... mau! Ada kepuasan batin tersendiri loh.... caelah! Jadilah malam tahun baru kemarin, pizza party, plus masak spaghetti, bikin bolu kukus, dan makan eskrim sambil main Monopoli Deal. What a night!

Back to the judul, saya mau nyeritain kejadian menegangkan yang saya alami sebelum tahun baru kemarin, tapi belum sempet diceritakan, karena ini menyangkut nama keluarga sendiri. Tapi begitu saya ceritain ke beberapa orang dan melihat reaksi mereka, kayaknya cukup pantas untuk diceritakan di blog *ini saya melegitimasi diri sendiri hahahaha*.

Pagi itu, saya bangun tidur, pas sebelum ke kantor, saya cek email, kebetulan ada notification untuk komen di foto album saya di Facebook, dari Om saya yang biasa saya panggil Engku. Sebagai latar belakang, Engku saya ini, umurnya sudah mendekati 70 Tahun, tapi ngekeuh mau main Facebook supaya up to date, dan katanya buat mengenang masa-masa jadul ketika Pen-Friend a.k.a Sahabat Pena itu masih ngetop buat kenalan.

Tulisannya, mengejutkan!! Semua ditulis dalam huruf kapital!

"ROY MESTINYA ELU GANTI NAMA AJA JADI ROYKURNIASETANSONTOLOYOIDIOT!"

Saya SHOCK!!! Ada apa gerangan ini antara si Engku dengan temen saya yang nama aslinya: Roy Kurnia*** Seti*** itu! Apakah mereka kenal satu sama lain? Apakah ada dendam di antara mereka? *pakai nada Fenny Rose di Silet*

Langsung saya hapus itu komen dari Facebook saya. Saya melihat, temen saya si Roy itu tidak pernah berkomentar aneh-aneh di Facebook, dan nampaknya kecil sekali kemungkinannya Engku saya itu kenal dengan si Roy. Jadi, pagi itu juga, kira-kira pukul 7, saya langsung telepon ke Engku untuk meminta klarifikasi.

"Ku, itu kenapa Engku nulis komen seperti itu di Facebook? Kenapa temenku dikata-katain?"

"Lah, itu kamu kan dikata-katain sama temen kamu itu!!" Kata Engku dengan nada berang.

"Hah? Nggak, Ku! Itu si Roy gak ngata-ngatain aku."

"Kamu apa gak sadar kalo kamu itu dikatain TOLOL??" Si Engku ngotot.

"Masa iya, Ku? Aku udah cek, dia ngga ngatain aku tolol."

"Itu, kamu dikatain itu, LOL, LOL! Itu kan kamu dikatain TOLOL!" 

DHUER!! BLARRRR!! KROMPYANGGGG!!

Ya ampyuuuunnnn!! Jadi si Engku nyangkain, kalo LOL itu artinya ngatain TOLOL! Pagi itu saya ngga tau, mau marah, apa ketawa ngakak. Beginilah kalo Opa-opa main Facebook. LOL yang merupakan singkatan dari Laughing Out Loud atau ketawa keras-keras itu diartikan jadi TOLOL. Terus si Engku saya minta tolong untuk klarifikasi ke temen saya via komen Facebook cuma ternyata dia gengsi dan nggak mau. Ya sudah deh, habis gitu saya jadi kontak si Roy via private message, dan juga nulis di komen untuk klarifikasi soal ini. Di bagian blakang komen itu, saya tulis:

"....OMG, gue sempet shock hahahaha"

Dan tak berapa lama kemudian, Engku saya balas di komen,

"I'm not shock. "

DHUER!! BLARRRR!! KROMPYANGGGG!! (Part 2)

Lagi-lagi, Om saya  salah ngartiin dan dia nyangka OMG itu singkatan dari Om Gue....

Akhirnya, sore itu, saya SMS om saya, ngejelasin singkatan satu per satu, OMG, LOL, ROFL, LMAO, dan lain-lainnya. Ngga dibales sih, gengsi mungkin haha. Tapi satu hal yang saya pelajari, ditengah kejadian yang unik ini, ternyata Om saya yang satu itu, bener-bener sayang dan perhatian sama saya. Buktinya, dia nggak rela ponakannya yang satu ini dikatain tolol, sampai dibelain banget... duh, jadi terharu....


I love you, Om! *bukan judul film nasional*