Wednesday, January 18, 2012

Tips Nyiapin Wedding ala Leony

Banyak orang yang tanya, "Le, lu nyiapin wedding tuh kayak under the radar gitu. Kagak ketauan, tau-tau jadi aja, udah gitu sukses acaranya". Katanya orang lain loh sukses, bukan kata saya. Kalo kata saya: SUKSES BANGET.... soalnya saya sama sekali SANTAI sepanjang hari. Padahal, saya bangun jam 2 pagi loh! Huahahahahaha....*bangga* Again, kadar kesuksesan sebuah acara kan beda-beda getu loh!

Kali ini saya sampaikan tips-tips dalam wedding yang berlaku BUAT SAYA, tapi kemungkinan nggak berlaku buat orang lain. Inget ya, BUAT SAYA, jadi jangan diprotes kalo gak cocok sama anda-anda, apalagi buat yang sudah nikah hahahahah... 

1. Buatlah daftar budget, dan bukalah itu secara blak-blakan dengan orang-orang yang mempunyai peran dalam pembiayaan pernikahan anda. Kalo berdua, ya dengan suami, kalo ada sponsorship ortu, ya dengan ortu.

Buat para bride, anda boleh lempar saya pake sendal jepit Swallow kalo kalimat saya ini salah: Every bride-to-be has her dream wedding. Bener gak? And to make your dream come true, bohong banget kalo gak butuh biaya. Masalahnya dengan orang jaman sekarang adalah, malu-malu dan sungkan untuk  menyampaikan dream weddingnya itu seperti apa, padahal, nggak salah loh menyampaikan doang. Palingan nanti mertua bilang: GILA LO! hahahahaha... Ya kagak lah ya. Lagian kalo mau minta dream wedding, pikir-pikir dulu lah pake otak yang waras, dan hati nurani yang luhur. Jangan bilang My Dream Wedding adalah di tepi pantai di Nice, Prancis, lengkap dengan keluarga besar ngikut serta dibiayai akomodasinya, dengan penampilan special dari Michael Buble secara akustik, padahal kenyataannya kita aja buat makan sehari-hari masih mikir mau beli KFC Paket Hemat atau di warteg. Ketahuilah keadaan kantong dari masing-masing orang yang terlibat pembiayaan ini, jadinya semua jelas, semua open, dan ada perinciannya pemasukan dan pengeluaran, jadi uang yang didepositokan oleh pihak pendonor itu jelas larinya kemana. Yang lebih penting lagi, semua pihak harus SETUJU dengan plan budgetnya. Jangan kucing-kucingan, jangan misuh-misuh di blakang. Memang sih di sini gak ada KPK yang mengaudit, tapi perencanaan finansial yang baik untuk sebuah acara pernikahan, adalah awal menuju kesuksesan dalam menjadi CFO rumah tangga. Ciyeh! Ditambah lagi bonus, semua orang hepi! Trust me!

2. Tau yang kamu mau, dan fokuslah untuk mencapai hal tersebut.

Kecenderungan pengantin jaman sekarang, pas ditanya, kamu pengen wedding yang seperti apa sih? Mulai deh ngomong, aku maunya yang sederhana aja deh, akad nikah, kemudian makan-makan keluarga. Atau ada yang bilang, aku mau yang spektakuler, lengkap dengan artis papan atas ibu kota dan papan bawah plus papan penggilesan. Terserah! Setiap orang punya preference masing-masing. Namun yang jadi masalah adalah, di saat semua itu sudah disusun rapih di otak, ada hal-hal yang mengganggu yaitu: Majalah-majalah perkawinan, kawinan orang lain, pengaruh teman, dan hal distraksi lain yaitu:

PAMERAN WEDDING RAKSASA
Pas pameran wedding yang gede-gede bagong di JCC itu, biasanya vendornya seabrek-abrek, kita jadi bingung, kaki mau copot, dan most of the time, gak dapet apa-apa!! Mau liat-liat juga mana bisa sih kita nilai dari pameran? Begitu kita kira yang stand ini bagus, sebelahnya ternyata lebih bagus, trus jadi bingung. Ditambah lagi, salesman-salesman dari bridal-bridal tertentu yang cukup parah menawarkan jasa, udah kayak jualan kue cucur di pasar: "Kuenya  mbak kuenya....." Eh salah... "Free make up mbak, yuk silakan diliat  paketnya mbak..." Terkadang ditambah gerakan narik-narik tangan dan ngasih brosur. Ketemu vendor tertentu sampai ngantri-ngantri, dan pas kita akhirnya decide buat deal lantaran katanya dapet kupon undian kalo deal di tempat, begitu sampe rumah baru merenung: "What did I do? Gue tadi DP kok ga pake mikir sih?" It's too late, Dear. Berada dalam pameran raksasa, membuat anda sungguh ga bisa mikir! Apa yang didapat dari pameran wedding biasanya: tumpukan brosur! Ditambah kaki pegel mau patah, dan otak  mau pecah. Belum lagi pas keluar Senayan antri berat, mau pipis kok nanggung gak bisa balik lagi. Cukup satu kali saja daku ke pameran wedding raksasa...phewwww....

dan yang terparah:

FORUM WEDDING!
Pertamanya sih mungkin iseng-iseng. Setelah memilih beberapa vendor dan DP, kita iseng masuk ke dunia forum, dan begitu sampai sana, kita  jadi bimbang dan bertanya-tanya, "Vendor gue tuh bener gak sih? Kok ada bad review? Kayaknya vendor yang itu lebih bagus deh, soalnya ada orang yang bilang bagus." I wanna tell you something. VENDOR TERMAHAL DAN TERHEBAT PUN, PASTI ADA REVIEW JELEK! Beneran! Ini dunia business, Mbak! Wedding itu one of the biggest and everlasting business in the world. Dan diantara para bridezilla itu, banyak juga yang muji-muji vendornya sendiri , lalu menjelekkan vendor lain karena mungkinnnnnn harganya ga cocok. Belum lagi sebenernya itu vendor lain yang iseng merekomendasikan businessnya sendiri dan ngaku-ngaku sebagai bride-to-be. Hey ho hey ho. Do you know that some people actually abuse wedding forums to brag about their dream wedding, while they're not actually experience it? Satu-satunya kegunaan wedding forum itu adalah untuk: sharing barengan dengan sesamai pemakai vendor tersebut!! Kalau buat browsing, beneran lama-lama bisa gila. I tried that, and I stopped after less than a month! Terbukti, tanpa wedding forum, kita bisa kok!

The key is: Ask the vendor right away: DIRECTLY! Ngapain sih nanya-nanya harga sama orang di forum? Bisa sih tanya dengan teman yang pernah memakai vendor tersebut, tapi buat saya, fokus aja, anda tuh maunya konsep yang seperti apa, pilih beberapa vendor yang sesuai selera anda, dan anda tau kira-kira price rangenya (you can do this by phone or email only), dan MEET THEM! Go and meet them, feel the connection between you and the vendor, and voila! It reduces your stress level by.... I don't know, maybe...90%? Jangan kebanyakan juga ketemu vendor, apalagi yang outside your style and price range. Buang-buang waktu, tenaga, dan biaya! *emangnye ketemu vendor di mol kagak pake bensin, Bu?*

3. Perlakukanlah vendor-vendor anda seperti teman, tetapi bayarlah mereka secara professional.

Seperti postingan saya sebelumnya, para vendor anda sebagian besar adalah seniman. Banyak orang yang tidak menyadari hal ini, kepinginnya minta bonus ini itu sampai vendornya juga meringis, dan banyak yang nawar gila, sampai menganggap vendor itu adalah lapak Mangga Dua. Banyak loh vendor yang curhat ke saya, kalau client-client mereka treat mereka seperti pekerja rodi, bahkan tidak dibayar sampai lewat hari H-nya. Kebodohan banyak orang itu kadang: "Kami tidak akan membayar kamu sampai kamu menunjukkan bukti kalau  kamu sudah bekerja dan ada hasilnya di depan mata". Pak, Bu, emangnya menyusun ide kreatif itu bukan kerja? Nemuin client di tengah kemacetan dan hujan badai itu ngga kerja? Tolong deh... Hari gini!

Percaya nggak, kalau kita tidak nawar kebanyakan, dan selalu bayar pada waktunya, itu juga akan membantu kita! Ide kreatif mereka keluar, tidak tertekan, dan BAHAGIA... one more time: BAHAGIA to serve you on your big day. Dan saat mereka bahagia, mereka pasti akan memberikan yang terbaik, dan hasilnya, di hari H anda tidak stress, tidak mikirin ini itu karena anda tau anda ada di tangan yang tepat. By the end of the big day, kita sudah nambah beberapa teman baru. Mereka akan membawa cerita indah itu ke client-client mereka selanjutnya! Bahagia itu nular loh!

4. Jadilah orang yang mandiri!

Tau ngga salah satu faktor yang suka bikin pasangan brantem kalau lagi wedding preps? Yaitu: si bride-to-be yang ingin mengikutsertakan si groom-to-be dalam berbagai hal, termasuk yang printilan gak jelas yang sebenarnya tidak butuh keputusan si groom-to-be, tapi si bride-to-be ini ngotot pake konsep "we're in this together" pokoknya aku capek, kamu juga ikut! TITIK ga pake koma. Udah gitu, begitu si cowok kecapekan, gak kuat ngikutin, cewenya  ngambek-ngambek ga berujung ditambah nangis-nangis drama, dikira cowoknya gak mau berpartisipasi! Terus pertanyaan ultimatum: "KAMU TUH BENERNYA MAU NIKAH GAK SIH SAMA AKU??" Dang! Begini ya, Ibu-ibu. Banyak sekali hal-hal yang sebenernya cowok itu MALES ngikutin, kecuali cowok anda itu memang super perfectionist sampe warna kembang meja aja mesti dia yang pilih, atau dia mesti ke gudang decor buat ngecek apakah cerminnya ujungnya sompel atau ngga.

Apa-apa yang bisa kita lakukan sendiri, terutama yang printilan, lakukanlah! Tentunya dengan seijin dan sepengetahuan calon suami. Bisa juga kita lakukan sama ibu kita, kemudian hasilnya kita tunjukkan ke calon suami, sehingga dia juga tau kalau anda itu memang calon istri yang bertanggung jawab, terampil, cekatan, pokoknya istri idaman deh! Tapi ya jangan kebablasan, misalnya si cowok bilang: "Yang, kamu pilih-pilih deh ya barang seserahan buat kamu, nanti kalau udah dapet semua, kasih tau aku, aku tinggal bayar." Terus begitu cowoknya mo bayar, gak taunya kamu gerek dia ke butik Hermes dan beli 3 bags, 2 clutches, 5 scarves, dan 7 bracelets warna warni *pingsan*. Tapi kalo suaminya mampu, ya sok, silakan! Tapi, jangan lupa ikut sertakan suami dan mertua untuk menentukan hal-hal besar. Terbukalah, dan tanyalah pada mereka, apa saja yang mesti didiskusikan bersama, dan apa yang bisa anda pilih sendiri. Dijamin, calon suami senang, calon mertua gembira, dan akhirnya, anda juga loh yang menikmati!

Yak, mungkin segitu dulu tips dari saya, yang sekarang nempel di otak, kalau ada tips tambahan, nanti deh dituliskan diposting selanjutnya. Kalau ada pertanyaan buat para bride-to-be, jangan sungkan! Saya bukan seorang konsultan, tapi seenggaknya, based on my experience on preparing this wedding, bridezilla syndrome itu ngga mampir ke saya sama sekali! And those tips above, work for everyone! Again, it's not about the money. Persiapan pernikahan itu, cuma sebuah tahap awal dari sebuah perkawinan, di mana keterbukaan, pemahaman, kesetiaan, dan cinta kita diuji.

Good luck to all of you out there who're preparing their wedding, and for those of you who'd been married, enjoy the ride!

40 comments:

  1. Replies
    1. Hahaha TOSS! Ibu yang sudah menikah komen perdana! Ternyata setuju sama eike! *senang*

      Delete
  2. acungin jempol hahaha :)
    g sih klo urusan deadline bayar dll sih OK! cuma klo g udah ikutin deadline lo ga tepati janji habislah kau g terror ^^
    tapi sejauh ini sih, liat beberapa wedding na sepupu sih, udah ada 1 WO yang cukup ok hahahaha ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuihhhh... Jeng Pitshu ternyata mulai lagi melirik-lirik kanan kiri ya buat weddingnya sendiri! Hihihihihi... Yuk Pit, bole tanya2 gue soal wedding preps! Gratis! Dan tidak mendistraksi! Hahahahah...
      Soal vendor ngga nepati janji, itu mah dah keliatan Pit dari awal elu ketemu, keliatan deh mana yg professional, dan mana yg ngga.

      Delete
  3. kalau begitu... lee maukah kamu menjadi WO kuuu *lho??* :)) nah ini gue lg dlm kebingungan le mo mulai wedding prep darimana :| baca kebanyakan review jd makin bingung, bener banget tuh :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahah Epiiii... lu adalah contoh bride yang lagi pusing gara2 kebanyakan review. Tuh ikutin aja tipsnya. Lu liat portfolio yang cocok, lu tanya range harganya dan availability-nya. Trus tinggal temuin yang elu sreg. Jadi ga usah liat kanan kiri kebanyakan. Wedding preps mulai dari: 1. Tempat 2. Make up artist 3. Photographer. Sisanya: Ngikutin... trust me.

      Delete
  4. sip...gw juga puyeng ke pameran hahaha...apalagi vendor yg dipake gak ada yg dr pameran T_T pas merit gw macet total, semua vendor telat banget gw gak pake wo trus nyantai..alhasil yg stress make up artist gw nguber touch up ke bride yg 1 lagi telat abis haha. Dan dari hasil macet itu gw dong gak ada dokumentasi foto + video dari abis gereja - sebelom resepsi hihihi.

    Dulu sebagai salah 1 jual bisnis jasa gw juga mangkel kalau di tawar kaya lapak mangga 2 fiuhh...trus temen gw juga pernah bilang jgn nawar gila2an sama org yg jual jasa, nanti harga korting kerjanya juga setengah hati. Makanya gw gak pernah nawar ke org yg jual jasa, kl emg gak masuk budget yah gw bilang dari pada baju desainer di tawar harga grosir hahaha bikin empet keki yg punya trus dia ngerjain baju kita 1/2 hati hahaha..

    Gw sampe ngakak baca tentang papan penggilesan lgs kebayang papan cuci baju gw gw udah patah hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, another korban pameran, akhirnya gak dapet apa-apa ya? Hihihi, pdhl banyak jg sih benernya orang yg deal di pameran. Loh, abis gereja sampai sebelum resepsi itu ada acara apa aja? Sayang amaaaatttt... WO penting banget sih emang. Good WO is like your closest friend during the preps hehe.

      Exactly, Dear! Soal jasa itu, jangan main-main deh, apalagi yang udah punya nama. Kasian kan, mereka moodnya gak oke gara2 keingetan, ini loh client yg nawar sampe nungging. Hahahahah... Eh penggilesannya udah beli yang baru blom?

      Delete
  5. GW SUPER AGREE sama cara loe!!! bener banget le..semua bener, dulu gw di dunia wedding organizer pas di indo..ampun minah kl ketemu client yg nawar uda kayak kita charity..tapi kadang ada client yg appreciate kita banget2 sampe kita rela overtime demi mereka ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya gak El ?? Bener banget kan! Ternyata elu mantan WO yah? Enak kan yah jadinya fair banget kalo kita tuh appreciate orang. Golden rules itu berlaku, apa yang ditanam, itu yang dituai.

      Delete
  6. ih bener bangettt leony..gue jg ngerasa kalo vendor2 kt perlakukan kayak temen malah mereka lebih nge hargain kita. vendor dekor gue, baru2 ini ketemu di PIM ga sengaja kita masih saling sapa dan ngobrol. pdhl wedding gue udah kapan tauk haha
    seneng ya kalo hubungan nya enak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dimulai dengan baik, diakhiri dengan baik! Gue sampe sekarang juga masih suka BBM-an dengan some vendors, dan malah suka gossip2 ga jelas dan ga karuan.

      Delete
  7. Ci noniiiik whatsappku khan suka error, bisa dibaca tp ga bisa dibales. iiii mantep wejangannya ci makasi :)) untungnya banget yg buat wedding disini temen2 icyo semua yg ngurusin dan mereka udah bisa professional ngurusin event2 hahah ketempa ngurusin acara macem jadi radak professional. trus yang di indo si mami yg nepsong ngurusin jadi bisa ongkang2 kaki. hihihi untungnya lagi disini semua vendor mahal jadi bener2 semua temen yg bantuin hihihi dr dekor, bunga, choir, time keeper, angkut speaker, jd supir hehehehe.

    Cii ayuuk kesini lagiii nanti nginep di rumah ku aja (pamer) hahahha yuk yuk yuk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, your wedding will be an ICYO Wedding yah ? huahahahaha... Good for you Wen. Kalo aku, beda dikit nih sama kamu. Aku males minta tolong temen, soalnya kalo sampe kita gak puas sama kerjaan mereka, kita jadi gak bisa komplen karena gak enak hahahhha... Cuma kalo di ICYO kan mereka juga mau yah, demen gitu ibaratnya ngerjainnya.

      Delete
  8. dan yang juga sangat penting buat gue: don't sweat the small stuff. Bunga salah warna dikit, list lagu gak cocok 100%, acara telat 15menitan...gak usah dipikirin banget2 lah, semua bakal keliatan bagus kok kalo kitanya hepi. Kawin gitu loh bok, masa gak hepi???
    Asli deh...tamunya juga gak bakal inspeksi kok bunganya layu berapa biji, layout ruang simetris apa gak, dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yes, itu tambahan tips yang baik, untuk D-day. Setuju dengan ente.

      Gue lagi bicarain soal prepsnya Rik. Soalnya banyak loh orang yang stress trus sampe putus pas wedding preps cuma gara-gara hal-hal di atas itu. Menyedihkan....

      Delete
  9. rempong emang tuh klo baca2 forum wedding. banyak setannye..
    gue pertama kali juga sempet kepengaruh ama omongan jelek orang ttg vendor yg udah gue pilih, jdi parno2 gimana gitu.
    padahal sih so far kerjanya si vendor bae2 aja. jadinya intinya emang banyak2 komunikasi aja ama vendornya.

    tapi ada juga sih vendor yg biar kita udah komunikasi juga cuma di iya-iya-iyain doank...yg kaya gini yg resek..

    ahh tapi jadi kangen masa2 preparing =)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yay! Korban Forum!! Makanya Na, gue langsung deh tutup tuh forum-forum mengerikan. Lagian it's all depends on you and selera masing-masing yah. Tapi Na, kadang ada vendor yang harganya miring, tapi overload, jadinya ya dia sulit untuk maintain communication sama clients. Kalo yang kayak gitu sih emang repot. Makanya saat kita milih vendor, dari komunikasi awal udah keliatan kok benernya mana yang tulus dan yang ngga.

      Delete
  10. tentang pameran wedding...
    gua setuju emang harus hati2. karena ke pameran itu bisa jadi masuk jebakan! hahaha.
    gua dulu juga ke pameran sekali doang. tapi menurut gua, buat langkah awal boleh lah ke pameran. cuma buat at least jadi tau2 aja sekitaran pasaran harga berapaan, trus vendor2 apa aja yang lagi ada di pasaran. soalnya awalnya gua asli gak tau apa2 lho. vendor wedding nya apa aja gak pernah ada yang denger. apalagi masalah harga, sama sekali nol besar. jadi dari ke pameran itu jadi mulai ada gambaran. dan ini bisa untuk membantu untuk kira2 bikin budget.

    tentang forum wedding...
    iya betul, emang namanya penjual jasa, pasti adalah review jeleknya. belum lagi yang kayak lu bilang ada customer palsu. tapi gua merasa dari forum wedding gua jadi terbantu banget. tentu emang kita harus kontek dan ketemu langsung ama vendornya. tapi dari begituuuu baaanyyyaaakkk vendor wedding bertebaran di luar sana, dari forum wedding at least kita bisa short listed. at least itu yang kita lakukan dulu ya. gak kebayang kalo gak dapet masukan dari forum, gua gak tau juga harus kontek vendor yang mana. hahahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue ended up ngga pake vendor yang ada di pameran Man! Pusyiiingg... Ada sih yg kepake macem Ko Richard or Om Timothy yang emang selalu ada di pameran, but they're reachable tanpa harus ke pameran, plus gak ada deal2 istimewa juga. Sama aja dengan kalo dateng langsung. And mungkin gpp kalo kayak elu, 1 kali ke pameran wedding, for the sake of: penasaran! Cuma kalo bener2 nyari vendor via pameran, please don't do it! Bisa ga jelas ujung2nya dan impulse.

      Soal forum, mungkin pada tahun elu merit, masih belum segila sekarang kali Man vendornya hahahaha. Sekarang mah gila banget. Tapi emang sih elu mah raja forum kali Man, soalnya kan gue baca org org tuh sampe kenal elu dari weddingku saking terkenalnya huahahahaha. Makanya, gue punya list, ga berlaku buat semua orang. *makanya gue pake disclaimer di atas gitu*

      Delete
  11. wahh...klo dlm soal begini2 nyokapku pasti yg paling otoriter. Klo ga ditny pendptnya tar pasti ngmbek n komplain ini itu. Klo pas ditny ehh jwbnya terserahhh...
    binun yee..:p (eh kog jd curhat y?)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lagi wedding preps juga? Nah, supaya orang tua tuh yakin sama kita dari awal, keterbukaan itu penting. Point nomer 1 itu penting banget, mereka pasti pingin make sure kalau budget dari mereka itu bener2 jatuhnya ke "jalan yang benar". Biarpun ortu jawabnya terserah, ask them to be honest. Mendingan minta jujur aja, blak-blakan, walaupun mungkin kesannya maksa di awal, tapi daripada misuh-misuh di blakang?

      Delete
  12. waktu jaman gua merit gua gak ada liat2 forum, di kost2an gak ada inet, jadi maen hantam kromo aja liat paket cocok bungkusss hehehe..
    emang sih kalo kebanyakan browsing jadi puyeng, jadi karna sekarang inet gampang jadi kadang kita gak tahan untuk gak browsing2 mulu hihi..
    semoga tipsnya berguna untuk calon manten gua sih udah expired wuahahaha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha iya, jaman nyokap gue juga mana ada internet yah ? Palingan word of mouth doang kan ? Buktinya dari jaman dulu sampai sekarang, orang-orang tetep aja pada tau yang ngetop-ngetop itu siapa. Makanya, with or without internet, quality of service itu ga bisa boong deh :)

      Delete
  13. Kayaknya ada yang kurang nih Le. Harusnya tips nomor satu: Carilah pasangan yang tepat! :D

    Huhuhu, udah repot-repot nyari WO yang cocok, nyiapin prentil-prentil segala macam, tapi pasangan yang mau diajak nikah belum ada. Gimana duuunk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haduh, Bang!! Itu mah sebelum wedding preps kaliiii!! Hahahahahaha.... Jadi inget kemaren ada sodaraku cerita, ada temen tuh udah booking hotel dll di tanggal cantik, terus cewenya ada 4 gitu, dia tinggal pilih2 yang cocok, pokoknya nikahnya pas tanggal sekian! GILE! hahahaha...

      Delete
    2. Wah, ide bagus tuh Le. Bisa ditiru tuh. Soal booking hotel bisa diatur. Ngelobi ortu biar nggak ngamuk-ngamuk kayanya juga bisa diatur. Tapi nyari cewenya kemanaaaaaaa...??? :D *megang jidat*

      Delete
    3. Cewe banyak, Bang. Tinggal kita juga, kriterianya kayak gimana hahahah. Kadang-kadang bukannya cewenya ga ada, tapi Bang Hoeda Manis kali yang muluk2 kepingin cewe yang seperti apa. Hahahahah...

      Delete
    4. Nih, nih, biasa omongan orang yang udah merid, "Ah, mungkin kamunya aja tuh yang kriterianya terlalu tinggi, jadinya sulit nyarinya." Padahal sih nggak gitu-gitu juga ya. Kriteriaku juga nggak ribet2 banget, asal dia bisa makan es krim dengan elegan, udah cukup, hahahaha...

      Kayanya kita sepakat, pasangan yang cocok tuh seseorang yang membuat kita nyaman bersamanya. Ini kan nggak sekadar soal tampilan luar semisal dia harus cakep banget atau semacamnya, tapi seseorang yang memiliki pandangan hidup sama (atau nggak jauh beda) dengan kita. Hal itulah yang (menurutku) agak sulit. Gitu lho, Dek Leony (kenapa juga aku dipanggil Abang).

      Btw, kebetulan aku nulis soal ini nih di blog. Coba dibaca deh. Kalo nggak setuju, silakan koment di sini. (Lho???) :D

      Delete
    5. Hahahahaha... Bang, dari masih blom nikah, saya juga sering ngomong gitu loh (especially ke orang yang ngeluh melulu kagak punya pacar huahahahaha...). Sudah aku baca :). Dan setuju sama Abang Hoeda!

      Semuanya loh aku setuju, plussss kalau di Indonesia tuh ada faktor lain di luar kecocokan kita dengan pasangan, yaitu: kecocokan juga dengan keluarga. Nikah tanpa restu keluarga tuh nampaknya kok gak afdol gitu yah! Dan aku percaya, kalo kiat ketemu SOULMATE, segala sesuatu jalan menuju hal perkawinan itu lancar! Kayak air mengalir, walaupun ada riak-riak kecil, tetapi overall mulus. Even during tough times, you know that in the end you can count on that person.

      Delete
  14. hi Le....coba seandainya sebelum gw prepare , u sudah mengeluarkan artikel ini, hahahha

    gw ini termasuk orang yg selama 1,5 th nongkrong di pameran wedding, hahaha, secara vendor2nya dealnya disitu smua...
    dan mulai terjebak pertama kali oleh vendor bridal dgn tawaran menggiurkan...padahal itu gw masih polos banget pertama berkunjung ke pameran wedding, tau2 dp...hadeh....
    mungkin muka polos dan kebingungan itu terbaca sama spg2nya kali ya?

    gw jg orang yg tralu byk baca reviw sana sini akhirnya byk pemikiran negatif ttg vendor si ini dan si itu, dan byk jg vendor2 yg diagung2kan orang ternyata pas ketemuan, gw ga pny chemistry sama mereka...

    skali lg gw membenarkan smua yg ada di tips u....kayanya boleh dishare seluas2nya utk membantu para bridezilla diluar sana ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaaduuuuh... Too bad ya kita nikahannya deketan... Kalo ngga mayan yah gak kejebak. Kayaknya kita mulai wedding prepsnya bareng2 yah. Silakan di share jeng Snoppy, kemana saja boleh.

      Delete
  15. Wow, these are some great tips indeed, non. Although sebenernya without reading this, gw udah belajar banyak dari lo tentang wedding preparations from the tidbits of our conversations. But seeing it all summed up like this, amazing. Well done!

    I couldn't help but feel that point 4, 1st paragraph, last 2 segments of the last sentence applies to me somehow. HAHA!!

    But honestly, that was me in the past. When I do get married, fingers-crossed-in-nomine-Patris-et-Filii-et-Spiritus-Sancti, I will try my best to be the most flexible groom-to-be, to butt in only when needed, and to butt out when requested to do so. How does that sound non?

    In fact, I would give up ALL of my prerogatives on the decisions regarding to the wedding details IF my wife-to-be agrees to relinquish ALL rights in deciding what should we name our kids. Gimana non, does that sound like a fair compromise?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahahahahaha.... YAKIN LO ? Itu diri lu in the past ? Hihihi... Flexible, tapi ya kalo ceweknya sableng, elu tetep kudu kontrol lah, kontrolnya ya pake point no. 1 hihhi. About your last sentence, I don't think you will be able to do that. Even though it sounds fair, YOU and YOUR FUTURE WIFE won't be able to do that. Lagian, it will be too risky to let you name the kids by yourself. HAHAHAHAHA...*jahat ya gue*

      Delete
    2. Is that REALLY that much to ask? Noni, some people are really, really bad at giving names. Thank GOD my dad married my mum, because if my mum wasn't there, do you have any idea what will my dad name me?? GINGER. GIN-GER. Yes, as in Ginger, that lady stripper who works in Manhattan. And my Chinese name would be Jin-zhu. Yes, as in Golden Pig. PIG. My 'O' level certificate could've been issued for Ginger G. Wu Jinzhu, non. Ginger, the golden pig of the Wu family.

      Plus, I'm not my dad. I'm EXCELLENT at naming names. Continuing the trend of Scandinavian given names in the family, I would give my kids prety, beautiful Scandinavian names. Like Ulle-Thor. or Ingvar-Åslog. Or Jorgen-Asbjørn. Or Tryggve-Völlund. Or Fröja-Ingigerðr.

      Delete
    3. You know what, at least Wu Jinzhu is better than Wu Tang Clan!! Wu Jinzhu still sounds Chinese and proper for the people who doesn't understand Chinese! (And Wu Tang Clan sounds very ghetto hahahaha... )

      Before you start naming your kids with those crazy names, please, please... just go to IKEA and pick simpler names. It will be very sad if their grandparents get frustrated just to spell their grandchildren's name.

      Delete
  16. OR...I could just marry a Scandinavian girl (preferably Swedish) and let HER name our kids. PROBLEM SOLVED!!

    Or maybe a Swedish-born-and-raised ASIAN girl. So as to avoid the wrath of el madre. LOL!

    Noni, do you know that stuff at IKEA is named after geographical locations in Scandinavia, not people's names? LOL!

    BTW, I was just kidding about Ulle-Thor etc. HAHA. As if I'm THAT crazy. I'm actually a very good name-giver. I'll definitely find a Scandinavian name that is not too 'foreign' for an Indonesian-Chinese kid to have. Like Brigitta. Or Stellan. Nice, yes? Nice dong, of course!! *bangga*

    BTW if you like those names, please don't steal them for your kids...udah gw tek!! Especially Stellan! That's my boy's name! Stellan Liev Ingvard Tryggve-Völlund bin Fat Owl!! That's his full name!

    ReplyDelete
  17. kalo ga tahan stress kaya gua, kasih aja smua ke EO dan biarkan EO yg ngurus semuanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue juga ada WO sih. Tapi vendor2nya gue yang pilih sendiri, soalnya gue udah tau vendor-vendor yang gue mau hihihi. Kalo nyerahin semua ke WO, kadang2 kurang njossss, soalnya bisa beda selera. Tapi emang bener, kalo kita have no clue at all on what we want, pake WO full itu bagus. Tapi harus pilih WO yang classy jg, supaya pilihannya dia seleranya bagus.

      Delete
  18. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    ReplyDelete