Tuesday, October 25, 2011

Cowok apa Banci ?

Jadi saya ada temen laki-laki namanya si X. Kemudian banyak temen-temen yang tau, kalo temen kita cewe yang namanya si Y itu suka sama si X.

Suatu hari, saya, si X, dan beberapa teman lainnya, pergi makan bareng. Si Y nggak ikut. Kemudian di tengah-tengah makan itu, si X mulai bercerita, kalau si Y ngejar-ngejar dia, gesture-gesture apa saja yang sudah dilakukan oleh si Y, intinya si X ini pamer-pamer banget kalau dia itu dikejar-kejar sama si Y, tapi dengan nada mencemooh dan merendahkan si Y.

Kita sebagai teman-temannya, terus terang mendukung-dukung aja sih kalau si X ini jadi sama si Y. Karena ya memang cocok juga. Si X ini tipe celamitan, dan si Y ini tipenya tegas, jadi bisa saling melengkapi. Secara umur, mereka sudah sama-sama matang, di atas 40 untuk si X dan di atas 35 untuk si Y. Walaupun namanya jodoh di tangan Tuhan ya, tapi kita melihat kalau mereka oke-oke saja jalan bareng.

Tapi statement yang paling bikin saya sebel adalah, si X ngomong dengan sombongnya, "Hah ??? Gue kawin sama si Y ?? Kalau cuma ada 1 cewe di dunia, dan itu si Y, lebih baik gue nggak kawin seumur hidup daripada sama si Y!"

Can u imagine ? Kalau si Y sampai tau si X menghina-hina dia serendah itu di depan teman-temannya, apa nggak hancur tuh hatinya si Y? Lagian, seorang laki-laki, yang:

1. Memamerkan kalau dia laku banget
2. Menjelek-jelekkan perempuan yang jelas menyukai dia di depan orang lain
3. Berani menantang-nantang soal pernikahan cuma buat mencemooh perempuan

itu BANCI !! (Itu kata saya loh... bagaimana dengan anda??)

Tuesday, October 11, 2011

Bergaya Dikit

Tadi siang, temen saya yang akhir Juli kemarin nikah di Perth ngirimin link ini.

Terus di dalemnya ada satu paragraph, isinya ini:

As a part of the second set the quintet were joined for two songs by a friend of Christina’s from Indonesia, Leony. She sang the ballad “The Nearness of You” which Daryl and Christina plus other family members danced appreciatively to. Leony’s voice and intonation was superb and was the perfect addition to provide that intimate moment. The song was so well received that Leony was talked into singing another song “It Had to be You” impromptu with the band backing.

Wahahahahahaaha.... *ketawa geli...*

Wednesday, October 05, 2011

Perilaku (salah satu) Orang Indonesia Yang Berobat di Singapura

Gara-gara baru balik dari check up kemarin, saya jadi ingat satu cerita yang saya simpan cukup lama, dari April tahun lalu tepatnya.

Sekelompok ibu-ibu berpakaian perlente dengan gaya rambut wah dan pakaian yang ehem-ehem memasuki klinik dokter saya. Beberapa ibu itu, juga ditemani remaja putri mereka, yang saya kira pakaiannya gak kalah ehem-ehem sama emaknya. Bayangkan para remaja putri itu, mau ke dokter, tapi pakai rok mini ketat, jaket berlapis, sepatu wedges super tinggi, ataupun high heels 12 cm dan tas bermerek mentereng. Ngerti juga sih, berhubung rumah sakitnya lokasinya di deket Orchard Road, mungkin mereka juga mau nampang yah.... (plus siapa tau ada dokter muda yang kecantol hahahahah).
 
Waktu itu, saya sedang menunggu hasil check up dan mau berkonsultasi dengan dokternya. Seperti biasa, yang namanya ke dokter ya saya berpakaian biasa saja, pakai celana jeans dan kaus, juga sepatu teplek, biar gampang kalo mesti buka baju pada saat di X-ray. Jadi, melihat pemandangan ibu-ibu dan remaja putri itu, tentu saja bikin mata saya lumayan "segar". Tapi penampilan itu rupanya baru pemanasan saja....

Dimulailah percakapan mereka dengan menggunakan dialek Jawa medok. Mulailah mereka membicarakan soal fesyen, merek-merek terbaru, rencana mau ngapain aja di Singaparna, sampai ngomongin (a.k.a ngegossipin) koleganya. Saya cuma diem-diem aja sambil liat majalah, berlagak nggak tau, padahal lagi nguping. Ya benernya juga bukan nguping sih, melainkan kedengeran... wong klinik kecil, tapi ngobrolnya kenceng gitu. FYI, untuk rumah sakit swasta di Singapura, umumnya setiap dokter mempunyai klinik sendiri yang lokasinya di dalam rumah sakit. Jadi kalau ada 100 dokter, ya ada 100 klinik. Dah kebayang kan, kalau kliniknya gak mungkin gede-gede banget.

Jadi rupanyaaaaa... yang ke dokter ini cuma 1 orang aja, sementara yang lainnya itu cuma penggembira alias nganterin. Nah, yang ke dokter ini kemudian malah nawar-nawarin temen-temennya untuk periksa juga, kemudian dilanjutkan pakai flu shot. Jadilah itu ibu-ibu dan remaja putri pada berendeng buat flu shot sambil cekakak cekikik, udah kagak kayak di dokter. Tinggal susternya mesem-mesem, sambil nyuntikin satu-satu. Ini kok serasa pas masih SD yah ?? Inget nggak dulu pas SD kita suka berendengan disuntik sambil berbaris?

Pas sudah kelar, billnya keluar, susternya ngomong,  "So the total is two thousand, xx hundred, and xx dollars...."

Si ibu yang ke dokter ini, langsung ngeluarin duit cash ribuan. Langsung temen-temennya yang lain juga pada mau bayar karena kan mereka pada ikut-ikutan ambil shot semua.

Tapi si ibu murah hati ini ngomong, "Haduh... Ndak usah laaahhhh... segini doang, ndak seberapaaa..." pake aksen Jawa medok. Ditutup dengan temennya yang nanya, "Bener nih ndak usah?? Makasih lohh..." sambil cekikikan...

Duh.... gile... pantesan aja dokter-dokter di Singapura banyak juga yang suka kalap mata, apalagi kalo ketemu pasien-pasien kayak gini, yang pergi ke dokter udah kayak beli fast food, sambil traktir temen-temennya pula!! Untung dokter saya itu baik loh, dia itu gak pernah nyuruh kita lakuin yang aneh-aneh kalau memang nggak perlu. Bahkan dia cepatkan waktu check-up saya menjadi sehari supaya gak perlu bayar biaya konsul dua kali.

Itu baru sekelumit cerita berobat. Masih banyak lagi yang antik-antik, seperti orang-orang berobat, yang saing-saingan biaya alias adu-adu mahal!! Hebat banget deh emang orang Indonesia ini!