Wednesday, June 22, 2011

Lagi Lagi Dia Lagi

Tetangga edan yang pernah saya ceritain sebelumnya, tadi pagi bikin ulah lagi!

Di halaman rumah saya, dilemparin 1 kantong plastik bening, yang isinya: Daun dan bunga kemboja!!

Kata mama saya, "Harap maklum Non, tetangga sebelah memang MANUSIA LANGKA."

Cuma ya, kayaknya mahluk langka yang dua itu, tidak patut dilestarikan kali ya....

Wednesday, June 01, 2011

Proud of My Mom

Mungkin ini saat yang cukup tepat untuk menceritakan, betapa bangganya saya terhadap sosok mama. Saya bukan bangga karena dia cantik, atau karena dia sungguh berprestasi di dalam kehidupannya. Saya bangga kepadanya, karena dia berhasil bangkit dari keterpurukan dan depresinya, sejak ditinggal oleh Papa saya. 3 Juni 2011 ini, Papa telah meninggalkan kami selama 10 tahun. Bukan waktu yang singkat tentunya. Sudah 10 tahun, Mama saya berjuang sebagai orang tua tunggal.

Tahun pertama sepeninggal Papa, Mama saya masih bisa bertahan. Walaupun saya tau, rasa sepi pasti menyerang, apalagi saya langsung balik lagi melanjutkan kuliah di Amerika setelah 10 hari saja pulang ke Indonesia untuk mengikuti upacara pemakaman Papa. Mama saya mengaktifkan diri, dengan mengantarkan adik saya ke sekolah, dan berusaha beraktifitas normal. Mama saya adalah tipe orang yang sangat ramah, rajin, baik, pokoknya selalu bisa menjadi teman dan saudara yang baik. Saya kira, dengan dukungan orang-orang terdekatnya, pasti dia bisa melalui ini dengan baik.

Ternyata prediksi saya salah. Benar yang orang-orang bilang, biasanya awal-awal itu, kita masih sibuk, masih berusaha untuk melupakan yang telah berlalu. Namun ketika kesepian itu benar-benar melanda, dan rasa cintanya yang luar biasa kepada Papa saya, membuat dia semakin sedih, dan semakin terpuruk. Mama saya mulai depresi, dia tidak mau melihat foto Papa. Ada saat-saat di mana dia begitu khawatir dan kesepian, sehingga dia bisa tiba-tiba panik sendiri, dan menelepon adik saya yang sedang ujian, dan memintanya pulang segera sambil mama meraung-raung ketakutan. Dia juga sering merasa kalau rumah tidak nyaman, sehingga saat itu saya mendesain layout baru dan meminta kontraktor untuk membongkar dapur dan kamar mandi, sesuai dengan cita-citanya. Tapi memang bukan itu yang ternyata diperlukan, karena selama pembangunan dapur itu, dia malah jadi tambah depresi. Bahkan saat dapurnya sudah jadi, dan mendapatkan pujian dari orang, dia tetap tidak bahagia.


Saat-saat itu berlangsung tidak sebentar. Saat saya wisuda di tahun 2004, saya ingat mama saya berangkat ke Amerika dalam keadaan depresi. Saat di Amerika itu, dia bilang, dia bisa melupakan sesaat kesepiannya, dan begitu bahagia bersama saya. Kita keliling naik mobil, menikmati hidup berdua selama 2 minggu. Ke supermarket tengah malam, memasak berdua, merangkai bunga untuk wisuda saya, lalu jalan-jalan ke Chicago dan Milwaukee dengan mobil, hal-hal tersebut memberinya rasa bangga. Tapi dia tidak benar-benar bahagia. Ketika dia kembali ke Indonesia, malah keadaannya tambah terpuruk. Dia tidak mau keluar kamar, lebih memilih gelap-gelapan tidur di kamar.


Awal tahun 2006, mama saya merasa mendapat mukjijat. Mendadak dia merasa tenang, bersukacita, lalu bisa bangkit lagi menjadi orang yang ceria. Apalagi bulan September itu, untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 50, saya pulang ke Indonesia. Saat itu saya sudah bekerja di salah satu kantor akuntan publik Big 4. Saya membuat pesta kecil untuknya dengan mengundang lebih kurang 50 orang kerabat dekat, lalu saya ajak Mama dan adik saya berjalan-jalan ke Bali menginap di Conrad. Dia sangat bahagia luar biasa. Saya pikir itulah titik kebangkitan mama saya.

Tapi lagi-lagi saya salah. Desember 2006, saya memutuskan balik ke Indonesia. Dia kembali depresi berat. Cukup parah. Namun di akhir Oktober 2007, dia bisa bangkit lagi, lalu kita rayakan dengan jalan-jalan ke Tanah Suci. Saat itu kondisi mama saya stabil sekali, dan bagus. Tentu saja saya sebagai anaknya sangat senang.

Di tahun 2009 akhir, mama saya terkena depresi yang terberat. Sungguh-sungguh berat, bahkan sampai pada tahap ingin bunuh diri. Saya bingung harus bagaimana. Saat itu mama saya tidak mau melakukan aktifitas. Bahkan tiap hari kami memesan makanan delivery, sampai resto-resto semuanya hafal dengan suara kami. Sedihnya minta ampun, luar biasa. Saya bawa mama ke salah satu pastor, dan beliau bisa melihat cakra. Saat itu anak buah pastor tersebut melihat cakra mama saya, dan dia katakan, bahwa ternyata ada pengaruh jahat yang menyelimuti mama saya, sehingga mama saya jatuh depresi ke titik yang paling rendah.

Saya bingung, saya kalut, saya tidak tau harus bagaimana. Banyak orang menawarkan terapi ini dan itu. Saya curhat pada bos saya. Saya bilang, bagaimana ini? Saat itu saya sakit, operasi saya gagal, tapi mama saya depresi, saya tidak tau harus berbuat apa. Bos saya mengatakan, "Cintailah mamamu, rangkul dia, jangan anggap mamamu sedang depresi." Saya sungguh ingat kata-kata itu. Bos saya juga bilang, jangan treat mama seperti pesakitan, dengan meminta dia ikut terapi apapun. Kita harus percaya dengan kekuatan cinta dan doa.

Awal 2010,  saya memutuskan untuk ke Singapura, untuk operasi pengangkatan paru-paru. Di awal tahun itu, mama saya perlahan tapi pasti mulai bangkit, bahkan saya merasakan sungguh, bahwa titik balik dari depresinya yang mendalam itu menuju kesembuhan adalah saat mempersiapkan diri untuk berangkat ke Singapura. Saya ingat bagaimana dia begitu mendukung saya, lebih kuat dari biasanya, lebih tangguh dari biasanya, lebih beriman dari biasanya. Dan ketika operasi saya dinyatakan berhasil, saat itulah mama saya benar-benar seperti terlepas dari segala beban, dan itu berlangsung SAMPAI SAAT INI....

Saat ini, Mama saya benar-benar sudah sembuh. Dan keajaiban-keajaiban selanjutnya terus terjadi. Mama saya yang dua tahun lalu begitu terpuruk sampai ingin mati, tahun ini diangkat menjadi Prodiakon di Gereja Santo Antonius Padua. Prodiakon adalah orang yang dipercaya untuk membagikan Tubuh dan Darah Kristus sebagai perwakilan dari Pastor. Dia dinominasikan oleh orang-orang di wilayah karena dianggap pantas, dan mempunyai latar belakang keluarga yang baik. Setelah melalui proses panjang dimulai dari interview dan penataran, akhirnya April lalu, dia dilantik. Sekarang dia begitu aktif melayani Tuhan, dan saat mengulang peristiwa-peristiwa lalu yang menyedihkan, Mama selalu berujar, "Walaupun Mama sempat terpuruk ke titik terbawah, tapi ada satu hal yang mama tidak pernah lepaskan, yaitu DOA."

Saya sekarang mengerti, Tuhanlah yang mengangkat Mama saya dari kuasa gelap, dan keinginan dia untuk lepaslah yang membuat Dia sembuh. Sayapun jadi banyak belajar, dan saya jadi tau, ternyata DEPRESI itu adalah DOSA. Dalam hidup kita punya pilihan, untuk berpikir positif atau berpikir negatif. Pikiran negatif itulah yang lama-lama membuat kita depresi, dan akhirnya terus bergumul dengan dosa. Saat kita berpikiran negatif, hal-hal jahat itu akan lebih mudah memasuki diri kita. Maka, selalu berpegang teguhlah pada Doa dan keyakinan, bahwa Tuhan akan selalu menolong kita.

Mama saya di antara para prodiakon yang didominasi pria

I'm very proud of You, Mom!