Monday, May 16, 2011

Tukang Nyatut

Pernah denger kata nyatut kan ? Nyatut itu bahasa resminya MENCATUT, yang kalau saya lihat definisinya adalah sebagai berikut:

men·ca·tut v 1 mencabut dng catut; 2 memperdagangkan (sesuatu) dng cara yg tidak sewajarnya dan mengambil untung sebanyak-banyaknya (spt memperdagangkan karcis bioskop dng harga lebih dp harga resmi); 3 mencari keuntungan dng jalan tidak sah (msl dng cara menipu atau mengakali): ia hendak ~ saya tetapi gagal; 4 menyalahgunakan (kekuasaan, nama orang, jabatan, dsb) untuk mencari untung: banyak orang yg ~ nama pejabat untuk kepentingan pribadi; 

Nah, pagi tadi, mama saya baru saya mengalami pencatutan... dan ini terjadi sudah lebih dari sekali, oleh orang yang SAMA!! Tentu saja bukan definisi yang nomor 1, bukan definisi yang nomor 2, tapi gabungan antara definisi nomor 3 dan nomor 4.

Begini ceritanya.

Mama saya itu punya hobi memasak, dan masakannya dia itu memang terkenal enak, mulai dari kue-kue dan sayur matang. Makanya kalau ada pertemuan lingkungan di rumah, pasti ramai, karena makanannya pasti terjamin. Karena banyak yang suka dengan masakannya, orang-orang banyak yang mengusulkan kalau mama sebaiknya coba jualan, supaya bisa dinikmati lebih banyak orang.

Nah, karena mama saya memang bukan pedagang, dan dia jualan itu karena iseng-iseng saja, jadilah sekitar 3 tahun lalu, dia coba-coba menitipkan es buatannya ke temannya, sebut saja si A yang memang pedagang kue dan sayur di pasar. Si A ini mengambil margin dari harga yang mama saya kasih ke dia. Berhubung es buatan mama itu laku, jadilah si A ini lumayan banyak mendapat untung dari penjualan.

Sampai suatu hari, mama saya memutuskan untuk stop mensupply es-nya ke A, karena kita sibuk finishing renovasi rumah kemudian pindahan. Kemudian si A ini mulai meminta mama saya untuk supply lagi, tetapi mama saya tidak mau supply karena memang sedang sibuk sekali. Beberapa minggu kemudian, mama saya shock, ternyata si A ini meniru es buatan mama saya, dan menjualnya, mengatasnamakan nama mama saya! Itupun kita ketahui karena kita mendapatkan informasi dari teman mama yang membeli es dari si A, tetapi katanya rasanya berbeda. Betul saja, pas ditemui oleh mama saya, si A itu akhirnya minta maaf, dan janji tidak akan melakukannya lagi. Namanya teman, ya dimaafkan oleh mama saya.

Beberapa bulan lalu, karena permintaan teman-teman, mama saya kembali menerima pesanan. Kali ini dia terima pesanan kue-kue dan sayur. Lumayan katanya untuk mengisi waktu. Karena sudah punya pengalaman buruk dengan si A, mama saya tidak mau lagi supply  masakan kepada si A, melainkan dia supply ke si B. Si B ini memang terkenal baik, dan tidak suka mengambil untung besar. Bahkan saat orang pesan langsung ke mama, mama tetap meminta orang mengambilnya melalui si B, karena si B ini memang orang yang baik dan jujur. Jadi anggaplah si B ini jadi agen tunggalnya si mama, dan kebetulan masakan mama memang selalu dikerubutin orang dan rata-rata habis setiap hari.

Sampai pagi ini, mama saya menerima SMS dari temannya, yang mau memesan bakso goreng. Mama bingung, perasaan selama ini dia tidak pernah mensupply bakso goreng. Lalu mama bertanya, "Bakso gorengnya yang mana ya ? Perasaan saya nggak supply bakso goreng." Temannya itu jawab, "Itu loh, yang kemarin kamu jual lewat si A. Kata si A itu masakan kamu." Mama saya shock! Pertama, dia tidak pernah supply makanan ke si A, dan kedua, kok si A tega banget memakai nama mama saya cuma supaya dagangannya laku! Dan yang lebih parah lagi, si A ini dulu sudah minta maaf berjanji tidak akan melakukan pencatutan nama, dan sudah dimaafkan. Bahkan mama tetap berteman baik dengan si A.

Kali ini mama saya sudah tidak mau lagi menegur si A. Mama minta tolong temannya yang tadi memesan bakso goreng itu, untuk menegur A langsung karena mencemarkan nama baik mama saya. Rupanya selama ini, makanan yang bukan buatan mama saya, yang kualitasnya tidak baik sering dijual si A dengan memakai nama mama supaya laku. Itulah manusia, memang tidak bisa ditebak. Dan yang pasti, orang yang sifatnya jelek, minta maaf itu rupanya cuma di mulut bukan di hati.

Susah memang mengharapkan orang yang sifatnya jelek untuk berubah, dan saya menyadari, kegilaan akan uang memang membuat orang melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya. Temanpun dikorbankan. Nggak heran kalau di Indonesia banyak korupsi.

Tuesday, May 03, 2011

Dasar Keong!

*Mohon maaf jika cerita saya di bawah ini menimbulkan kontroversi, silakan lempar saya pake batu virtual kalo anda kurang sependapat dengan saya*

Beberapa minggu lalu, saya bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak saya temui. Laki-laki, sudah berkeluarga. Orangnya sangat ramah, dan memang enak diajak bicara, jadi kita cukup nyambung pada saat ngobrol. Tapi yang saya heran adalah, selama ngobrol itu, dia suka complain soal istrinya. Katanya istrinya tuh kaku lah, workaholic lah, gak gaul lah, gak bisa romantis lah bla bla bla....

Lalu saya mencoba encouraging dia. Saya bilang ke teman saya itu, "Pernikahan yang baik itu seperti buah kurma. Makin tua usianya, makin keriput buahnya, makin manis rasanya." Eh dia ngga terima, katanya, "Pernikahan itu ibarat  medan perang. Pas sebelum perang semangat, pas sudah sampai di dalamnya, kepingin mundur lagi."

Ih, pathetic banget sih orang ini, sampai mikir hidupnya seperti itu. Saya jadi mulai kasian sama orang ini, jadi saya suka kasih kata-kata penyemangat, lalu kasih tips-tips supaya hubungan dia sama istri tetap romantis. Misalnya, coba spend time berdua sama istri tanpa anak dulu makan dan nonton misalnya, atau have a short honeymoon. Ya namanya sebagai teman, saya pasti selalu ingin teman saya bahagia. Kan gak semua orang ngerti caranya supaya bisa tetep romantis? Tull gak?

Tapi lama-lama yang terjadi malah makin ga enak. Orang ini mulai jadi annoying alias ganggu banget, dimulai dengan, dia membandingkan dirinya dengan rumah tangga teman-temannya. Katanya sih, rumah tangga dia termasuk oke, teman-temannya rata-rata rusak semua rumah tangganya. Cuma 10 persen katanya dari rumah tangga teman-temannya yang nilainya di atas 6 dari skala 10. Sisanya di bawah itu. Lalu mulai ceritain kalo temen-temennya suka selingkuh lah, lalu dia bilang, orang pintar itu kalo selingkuh hebat. Istri dan teman kerja pasti gak tau. Ihhhh...sungguh mulai ganggu banget.

Makin ganggu lagi adalah saat dia cerita, kalo dia suka jadi tempat curhat dari teman-temannya. Katanya, ada teman cewe pas SMA dah lama gak ketemu, lalu ketemu di FB, lalu janjian makan, dan cerita kalo suaminya impoten lah. Nah, teman saya ini tuh bangga, karena temen cewenya itu percaya sama dia. Saya langsung bilang ke dia, "Terus terang, buat saya, kalau wanita sudah menikah lalu menceritakan kejelekan pasangan kepada laki-laki yang dia baru kenal atau lama gak ketemu, apalagi yang diceritakan adalah soal aktifitas seksual, that woman is a bit*h. Demikian juga dengan laki-laki, kalau laki-laki sudah menikah, lalu menceritakan kejelekan istrinya ke orang yang baru dia kenal, dia juga ngaco!"


Lalu teman saya ini, mulai menganggap saya terlalu serius, kemudian dia mulai complain ke saya. Katanya dia cerita cuma untuk iseng-iseng. Tapi lama-lama ceritanya mulai berlebihan, yang intinya, dia cerita kalo cewe-cewe itu merasa nyaman cerita sama dia, mulai dari yang ketemu di pesawat lah, kenalannya di mana lah, dan lain-lainnya. Beuhhhh!! Lalu dia juga mulai cerita kalo dia pernah  mau iseng sama seorang cewe, in the middle of his marriage. Hiyaaaahhhhh!! Cmon, Dude!! No story of you actually amuses me. Pikiran saya, nih orang kayaknya bangga deh jadi Casanova, dan buat saya itu sungguh mengganggu dan menggelikan.

Akhirnya saya bilang, "Kita di dunia ini, hidup adalah untuk jadi Saksi Tuhan. Pernikahan itu terjadi karena campur tangan Tuhan, dan mengkhianati pernikahan, artinya mengkhianati Tuhan. Sejak saya bertemu anda kemarin ini, saya tidak mendengar satupun kisah indah pernikahan. Anda berhadapan dengan saya yang belum menikah, anda malah menceritakan kerusakan pernikahan orang lain dan complain anda terhadap pasangan anda."  Dan, dijawab olehnya dengan kalimat yang semakin annoying, "Oh, saya sih nggak ada misi buat menjadi Saksi Tuhan. Orang saya cerita kenyataan kok. Kamu yang belum menikah juga harus tau soal gitu."

Tolong deh, saya juga tau kali mengenai kisah perselingkuhan orang-orang, kisah kekacauan dunia, kisah dunia pelacuran, dan lain-lain. Emangnya dia pikir saya orang bodoh? Dari kecil saya justru sudah diekspose oleh orang tua saya mengenai perkembangan biologis maupun seksualitas manusia, mengenai berbagai penyakit, mengenai cinta versus nafsu, dan Puji Tuhan, pada umumnya saya tumbuh dan memilih untuk tumbuh di lingkungan yang positif. Makanya saya jadi tau yang benar dan yang salah. Tapi orang ini malah anggap saya terlalu beretika. Pertanyaan saya, saya yang terlalu beretika, atau dianya yang kurang beretika?

Akhirnya saya cuekin benar-benar orang itu. Sampai akhirnya dua hari lalu, dia message saya, katanya minta maaf atas kata-katanya yang kurang pantas. Dalam hati, bagus deh kalo sadar. Dia tuh juga bilang, kalau saya wanita pertama yang dia temui, yang punya standar berbeda. Dalam hati lagi, ohhh...jangan-jangan selama ini, wanita-wanita lain tuh mudah tergoda kali yaaaa....  

Sori sori jek, ku bukan cewe gampangan!! *pake nada Keong Racun*