Wednesday, March 30, 2011

Review dan Plus Plus

Hai hai !! Duh, udah 2 minggu ya saya nggak nulis hahahahaha.. Pada kangen nggak ? Tentu dong yaaa...*pede*...


Kemana aja saya ngilang ? Saya ngilang lantaran sakit hu hu hu.... kena radang tenggorokan, kayaknya kecapekan bener-bener sepulang dari Singaparna. Abisnya di Singaparna bener-bener singkat banget tripnya, berangkat Jumat malam tanggal 18, sampai tanggal 19 subuh, dan tanggal 20 malam sudah balik. Sudah singkat begitu, ternyata banyak banget fans yang kepingin ketemuan. *bentar lagi yang baca muntah deh...* Jadi deh, capeknya minta ampun! Mana sebelum pergi saja, kondisi lagi nggak fit alias mulai flu.

Nah, daripada ngomongin penderitaan selama sakit yang sampai 2 hari nggak masuk kantor itu, mendingan kita ngomongin review Broadway Show: Lion King, yang akan saya bagi dua, yaitu tentang shownya sendiri, dan tentang suasana menonton di Marina Bay Sands. Mari kita mulai dengan shownya.

Bagi orang yang pertama kali menonton Broadway show, saya yakin anda semua pasti akan suka dengan Lion King. Kenapa ? Karena tokoh-tokohnya sudah familiar, musiknya juga lucu dan menyenangkan, seperti kita sedang menonton film-nya. Belum lagi kostum-kostumnya yang benar-benar unik dan menggemaskan untuk beberapa tokoh. Sang kreator bisa membuat tokoh-tokoh kartun itu menjadi hidup dengan segala make up, kostum, dan konsep yang menarik. Menurut saya Lion King ini benar-benar a feast to the eyes!

TETAPI.......

buat saya yang memang penggemar musikal, menurut saya secara musik kurang "kaya" gitu hehehehe. Eh tapi bukan berarti jelek loh, bener deh. Bagus banget malah. Teman-teman saya yang nonton sih bilang keren, apalagi kan semuanya live termasuk orchestra-nya. Cuma, berhubung saya sempat menonton beberapa musikal lain yang agak "berat" seperti Phantom of The Opera, yang ini jadi terkesan biasa saja. Mungkin saya terlalu berharap lebih kali ya....*dasar manusia gak ada puasnya* Tetapi terus terang, musiknya Lion King sangat-sangat kids friendly. It was fun! You can actually dance with the music *sayangnya kita cuma bisa duduk manis hehehehe* Bener juga kata Lady in Red yang kebetulan punya hobi yang mirip, dia juga bilang secara musik biasa aja. Makanya, saya juga nggak kasih standing ovation pas akhir pertunjukkan. Malah cuma separuh dari penonton yang memberikan standing ovation.

JADI....

Apakah Lion King ini bernilai untuk ditonton ?? YA IYALAH!! Hehehehehe... Kalau nggak bernilai, mana mau orang beli tiketnya? Sudah bertahun-tahun dari sejak pertama digelar, dan Lion King masih menjadi show yang mengundang begitu banyak penonton. Sudah lebih dari 50 juta orang loh yang nonton di seluruh dunia. Eh iya, ada kejutannya loh! Ternyata mereka memasukkan unsur Indonesia ke dalam show tersebut. Apakah itu ? Nonton sendiri aja ya... masih sampai May kok shownya. Jadinya kalau ada waktu, kesempatan, dan ongkos, tentunya sangat baik jika digunakan untuk menonton pertunjukkan berkualitas seperti ini.

DAN SEKARANG

Marilah kita membahas soal-soal lain di luar show tersebut, tetapi berkaitan erat dengan shownya. Pertama tentunya soal tempat pertunjukannya yaitu Marina Bay Sands Theater. Menurut saya sih teaternya bagus yah, masih baru, modern, di dalam mal pula! Dan yang paling saya suka adalah, berbeda dari teater broadway pada umumnya, sistem tempat duduknya dia agak step up dari depan ke belakang. Jadinya duduk di bagian belakang pun masih lumayan keliatan. Saya sendiri duduk di bagian tengah, dan saya rasa itu adalah posisi yang sangat baik. Jangan terlalu depan juga, karena nanti tidak akan kelihatan keseluruhan pertunjukannya.

Jadi, buat nonton Lion King ini, jangan beli tiket yang termahal! Percuma! Lagian aneh deh, kalau di US, yang paling depan itu justru lebih murah daripada yang di tengah, bahkan di Indonesia pun yang paling depan itu lebih murah daripada yang di tengah (kalau ini berdasarkan pengalaman nonton Teater Koma kemarin). Sepertinya budaya kiasu (nggak mau kalah) ala Singaporean itu dimanfaatkan sekali sama pengelola teaternya, sehingga beberapa row terdepan, malah harganya termahal. Kalau nonton konser sih: Benar! Tapi kalau nonton Broadway show: Salah! Pokoknya untuk nonton teater, pilihlah row yang tengah, supaya bisa kelihatan seluruh settingnya.

Lalu mengenai penonton-penontonnya. Ini dia yang bikin saya paling SHOCK! Di US ataupun di Aussie, orang nonton broadway itu rata-rata berpakaian rapih. Yang cowok memakai kemeja kadang pakai sports coat, dan yang wanita pakai dress pants atau simple short dress. Ternyata di Singapore itu, orang nonton Broadway ada yang pakai sendal jepit, celana pendek, sneakers, baju sport, pokoknya bener-bener bikin kaget cara berpakaiannya. Belum lagi banyak rombongan orang-orang kaya Indonesia yang datang secara rombongan yang isinya kakek, nenek, anak, mantu, cucu, dan PEMBANTU/ BABY SITTER hauahahahha. Belum lagi omanya seperti biasa pakai sanggul tinggi! Ihiy!!

Sepanjang show juga ada aja kejadian yang ngga enak, seperti: Tepuk tangan sebelum waktunya (alias heboh sendiri, emangnya nonton konser musik yah?), terlambat memasuki area show, dan dengan santainya masih dikasih masuk di tengah-tengah show berjalan (kalau di US nggak boleh nih), dan yang paling bego adalah, memotret di saat show berlangsung. Padahal sudah jelas-jelas sebelum show dikasih tau kalau tidak boleh ada alat perekam jenis apapun termasuk kamera dan perekam suara. Saya rasa mungkin ngga ngerti bahasa Inggris kali ya tuh orang (kalau dari gaya pakaiannya kayaknya orang Mainland), sampai ushernya mesti menyenter muka mereka pakai senter LED supaya mereka nggak motret lagi. Bikin malu aja deh.

Oh iya, satu lagi, soal souvenir. Menurut saya, souvenirnya: MIHIL MIHIL!! Saya sih ngga gimana ya sama souvenir Broadway, jadinya saya membeli sekenanya aja deh untuk hadiah. Tetapi yang saya incar adalah program booknya. Program book sih bukan souvenir yang mahal. Kalau di US atau Aussie, biasa harganya 10 dolar. Kalau di Singapore ? 20 dolar! Udah 20 dolar, eh dalamnya masih ada iklannya lagi! Mestinya kan kalau kita beli 20 dolar, bersih dong dari iklan ? Ada-ada aja. Udah gitu, biasanya kalau di US atau Aussie seluruh penonton itu pas masuk akan mendapatkan buku Playbill secara gratis, untuk melihat sinopsis, urutan acts-nya, dan nama pemainnya. Tetapi pas nonton kali ini ? NGGA ADA! Jadi kalau mau tau nama pemainnya, harus beli program booknya! Bener-bener deh! Udah tiket-nya mahal, gak dapet apa-apa pula hahahaha...

Kapok ngga nonton di Singapore ? Nggak sih. Soalnya: DI INDONESIA NGGAK ADA! *nasib*

Demikianlah review plus-plus dari saya. Semoga berkenan. Jika ada pertanyaan, saya akan senang hati menjawab.

Monday, March 14, 2011

Setahun Yang Lalu

Yang mengikuti blog saya tahun lalu, mungkin ingat deretan foto makanan dari postingan saya yang waktu itu. Nah, mungkin pada menyangka, saat itu saya sungguh-sungguh lagi wisata kuliner di Singapura yah ? Heheheheheh... ANDA TERTIPU! HA HA HA...*ketawa ala nenek lampir*

Sebenarnya saya mau membuat pengakuan di posting ini, kalau di tahun lalu itu, dari pertengahan bulan Maret sampai akhir April, saya ada di Singapura untuk, (siap siap...eng ing eng...) Operasi Pengangkatan Paru-paru Kanan. Tadaaaa...!!!! (Kaget gak kaget gak ?? Buat temen2 yang udah tau, mungkin nggak kaget kali ya...).

Mungkin orang-orang mikir, ih sok banget sih si Leony. Pake berobat ke Singaparna segala. Kan berobat ke Singaparna itu mihil katanya. Terus terang, saya juga nggak mau loh berobat ke Singaparna. Bayangin harganya, bayangin jauhnya, bayangin kesepian nggak ada sanak saudara, duh malasnya minta ampun. Tetapi akhirnya saya membulatkan hati untuk operasi di sana, karena: Operasi saya di Indonesia, gagal total, dan dokter bedahnya cuma bilang ke mama saya saat itu, "Maaf bu, operasinya kurang berhasil, jalan udara ke paru-parunya nutup lagi. Ya sudah deh bu, berharap keajaiban aja." Saat itu, Maret 2009, dan saya sungguh tidak tahu harus bagaimana lagi, sampai akhirnya dokter paru saya bilang, ke Singapura aja deh. Kali-kali ada jalan lain.

Sedikit latar belakang penyakit saya, di November 2008, saya kena gejala thypus. Saat itu saya diopname di RS. Gara-gara diopname itu, seluruh badan saya diperiksa mulai dari x-ray sampai USG. Yang mengagetkan adalah hasil X-ray. Paru-paru kanan saya kok nggak kelihatan! Setelah di cek lagi, ternyata paru-paru kanan saya kempes pes pes. Udara  nggak bisa lewat. Padahal, di bulan Juni 2008, saya juga sempat opname gara-gara panas tinggi, dan saat itu pas di X-ray, paru-paru saya lengkap kap kap. Kami semua panik dan bingung, apa yang terjadi. Saat itu dokter memutuskan untuk brokoskopi (dari hidung saya dimasukkan kamera menuju paru-paru saya untuk dilihat masalahnya), dan ternyata, kamera tidak bisa lewat, karena ternyata saluran bronkus kanan saya sudah tertutup, hampir tidak menyisakan lubang. Udara tidak bisa lewat, dan akhirnya paru-paru saya seperti mati.

Keluar dari diopname, kami berusaha cari dokter paru-paru yang terbaik. Dan saat itu dirujuk ke Professor paling senior di Indonesia. Sesudah berkali-kali bronkoskopi (sampai pakai bronkoskopi anak yang ujungnya kecil), saluran bronkus saya tetap tidak bisa ditembus. Beliau memutuskan untuk dilaksanakan operasi. Operasi yang dilakukan adalah untuk membelah saluran bronkus saya, dan melapisinya dengan membran yang diambil dari jantung, untuk melebarkan jalan udara, supaya paru-paru saya bisa aktif kembali. Saat di patologi, kami masih tidak tau apa yang menyebabkan kerusakan saluran bronkus saya, karena sudah tidak ditemukan bakteri patogen. Tetapi kesimpulannya, saluran bronkusnya sempat terserang oleh virus/ bakteri yang melemahkan salurannya sehingga menjadi kempot. Dokter bedah thorax terbaik di Indonesia melaksanakan operasi tersebut, dan beliau mengatakan, seluruh pasiennya dia berhasil. Namun, seperti yang saya ceritakan di atas, akhirnya operasi tersebut dinyatakan gagal.

Maret 2009, saya akhirnya mulai kontrol ke Singapura. Saat itu saya sungguh tidak tahu harus kontrol ke mana, karena tidak terlalu punya referensi. Saya pergi ke tiga dokter, dan akhirnya berjodohlah saya dengan Prof. Philip Eng. Kenapa akhirnya pilihan jatuh ke beliau ? Karena beliaulah satu-satunya dokter yang tidak grabak grubuk menyarankan saya untuk operasi ulang! Pertama kali bertemu dengan beliau, dia langsung bertindak cepat namun tanpa operasi yaitu dengan di baloon (jadi balon panjang dimasukkan ke dalam saluran paru-paru, lalu dicoba dikembangkan di dalam), dan you know what, dia melakukannya dengan bius LOKAL! Saya cuma dikasih morfin, sambil melayang-layang dan masih bisa ngobrol sebelum proses balooning dilakukan. Benernya saya mau bius total, tapi susternya bilang, di Singapura, tidak sembarangan orang langsung bius total, karena proses pernafasan ini, sebaiknya bius lokal supaya reaksi anggota tubuhnya bisa terkontrol. Eh...bener juga nih caranya si dokter! Dulu di Indonesia sih, tiap kali di brokoskopi, biusnya total aja (biar gak repot kayaknya). Dan parahnya, dulu dokternya suka kasih bon nggak resmi, pakai kwitansi bikinan sendiri (saya baru tau belakangan, karena ternyata harga resminya cuma  IDR1.6 juta saja setiap bronko, sementara saya selalu dikasih kwitansi IDR 5 juta). Hebat yah Indonesiaku *sarcasm mode on*.

Selesai proses di balon, ternyata dinding bronkus saya sudah keras seperti batu, sehingga balonnya tidak bisa mengembang. Prof. Eng tetap tidak mau operasi dulu. Dia meminta saya meminum steroid secara berkala untuk melemaskan otot-otot dinding bronkus. Sebulan kemudian saya balik lagi, tetapi yang terjadi, saluran paru-paru saya sudah tertutup penuh. Prof. Eng lalu bilang, kita lihat saja ke depan, dan tidak tergesa-gesa. Kalau ternyata tidak mengganggu, ya sudah, biarkan saja. Namun kalau mengganggu, kita lakukan tindakan selanjutnya yaitu operasi pengangkatan. Tapi dia sama sekali tidak memaksa, dia bilang keputusan ada di tangan saya.

Ternyata, beberapa lama sekali, saya selalu kena sakit panas. Dan saat berobat lanjutan di Jakarta, saya dikasih antibiotik-antibiotik mahal. Nonstop! sampai rasanya badan saya seperti jadi tempat buangan antibiotik. Setiap kali saya tanya ke dokter di Jakarta, mereka bilang, jangan diangkat, sayang, kan belum nikah...bla bla bla..dll dll etc etc...Padahal, dulu mereka yang paling semangat suruh saya operasi, sebelum gagal dulu itu, dengan janji dan keyakinan pasti berhasil.  December 2009, saya sudah tidak tahan. Saya kembali di opname di RS untuk dirawat pakai antibiotik keras, dan menghabiskan Natal saya di sana (sampai diliput masuk TV segala), plus menghabiskan uang puluhan juta. Januari 2010, belum sebulan keluar dari RS, badan saya panas lagi. Dan dokter di Jakarta rupanya belum kasih saya lampu hijau untuk operasi pengangkatan paru di Singapore. Malah disuruh balik opname lagi menjalani treatment antibiotik! Padahal saat itu yang tersisa tinggal ruang Super VIP, dan saya dipaksa  masuk situ. Ya ampun, habis dong uang saya!

Akhirnya di Januari 2010 itu juga, saya kontrol lagi di Singapura, dan menetapkan hati untuk dioperasi. Setelah itu saya laporkan keputusan saya itu ke dokter saya di Jakarta, ehhhhh dia malah kalang kabut! Kalang kabutnya bukannya kenapa-napa, tapi dia  malah pingin saya operasinya SAMA DIA dan di rumah sakit situ!! Ya ampunnnn... Jadi intinya tuh selama ini saya dijadiin ladang duit ya ?? Jadi benernya, inti dia ngelarang-larang saya operasi di Singapura itu ternyata supaya saya diopname terus sama dia! ALAMAKJAN!

Maret 2010, setahun yang lalu. Saya dioperasi di Singapore General Hospital oleh Dr. Agasthian T, dokter bedah thorax paling murah hati dan baik yang pernah saya temui. Dia adalah rujukan dari Prof. Eng, karena Prof. Eng bilang kalau beliaulah yang paling ahli di Singapura. Operasi tersebut berhasil dengan baik. Terima kasih spesial selain tentunya kepada para dokter dan perawat, adalah kepada Mama saya yang luar biasa, telah menemani saya, sampai tidurnya di ruang depan ICU, karena kamar rawat kita ditutup selama saya di ICU, dan berjuang sebulan mengurus saya sendirian selama masa recovery di sana.  She's such a super woman. Love you, Mom! Sungguh effisien, dalam waktu satu minggu saja, saya sudah bisa keluar dari rumah sakit, berjalan tegak tanpa kursi roda setelah operasi panjang lebih dari 8 jam. Keluar RS hari Jumat, hari minggu saya bisa naik taksi untuk ke Gereja! Setelah 5 minggu di Singapura, saya sungguh merasa menjadi manusia baru.

Apa saja yang dilepas dari badan saya? Paru-paru kanan tentunya, komplit tiga lobus (katanya sih 60% kapasitas paru itu ada di paru-paru kanan). Tetapi saat saya cek terakhir, kapasitas paru-paru kiri saya telah berkembang dari 40% menjadi 65%! Horeee! Dan ada "bonus" lagi yang dilepaskan dari badan saya yaitu: 2 tulang rusuk kanan. Hehe... Dan kenapa bisa sampai dipotong? Karena ternyata, operasi saya yang dulu di Jakarta, menyebabkan 2 tulang rusuk kanan saya retak, dan terpaksa harus dipotong karena kalau tidak, bisa berbahaya karena retakannya bisa kemana-mana. Keretakan itu saya ketahui saat saya di x-ray untuk membuat visa Australia, saya bingung kenapa di keterangannya ada fraktur di rusuk kanan. Canggih ya! *sarcasm lagi*

Dan Sabtu besok, 19 Maret 2011 adalah 1st anniversary saya hidup dengan satu paru-paru. Ternyata, saya sehat! Tidak tergantung obat lagi! Dan saya bahagia! Sungguh! Saya belum mau menulis soal ini sebelumnya, karena saya agak trauma dengan kejadian kegagalan operasi di Jakarta. Dan kali ini, saya merasa Tuhan telah mengatur semuanya dengan begitu indah. And did you know that I met my soon-to-be other half in Singapore, right after the surgery? *ketawa nyengir sambil malu-malu* That's MIRACLE :)

Monday, March 07, 2011

Selembar Kertas - Catatan dari Bulan May 2005

Kenapa saya tiba-tiba mengingat kembali tulisan ini ? Karena baru beberapa hari yang lalu, seorang bapak yang begitu saya kenal, curhat kepada saya, dia merasa anaknya tidak terlalu peduli kepadanya, padahal anak tersebut sudah dewasa, dan si bapak ini sudah mulai memasuki masa tuanya.  

Tulisan ini saya buat, 6 tahun lalu, tepatnya di bulan May 2005, di usia saya saat itu, saya baru bekerja di tahun pertama di Amerika, masih terlalu muda sebetulnya untuk menulis hal seperti di bawah ini. Kesannya kok sok tau banget. Tapi beberapa tahun berlalu, saya rasa tulisan ini tetaplah relevan. Saya copy dan paste saja tulisan ini, tepat seperti aslinya. Walaupun ini adalah sebuah karya daur ulang, mungkin tulisan ini, bisa menjadi bahan refleksi kita semua, baik yang belum menikah seperti saya, maupun yang sudah menikah dan menjadi orang tua.


Kemarin malam, saya terlibat pembicaraan seru dengan tante dari teman saya yang notabene sangat bangga dengan anak2nya yang katanya sih terdidik semua dan sayang dengan orang tua. Sebagian orang memang merasa sudah cukup dalam mendidik anak anak mereka. Sebagian orang merasa telah melakukan dosa besar karena anak anak mereka terjerumus ke dalam pergaulan yang salah tanpa mereka sadari sebelumnya. Ada orang tua yang merasa perlu mengekang anak2 mereka, bahkan sampai keterlaluan sehingga anak2nya mencari pelarian. Kalau pelariannya baik, anak anak akan menjadi makin tangguh dan bisa belajar dari keadaan dirinya, sehingga tidak akan berulang ke keturunan mereka selanjutnya. Yang jadi masalah adalah bagaimana jika pelariannya salah, akhirnya terjun ke dalam pergaulan maksiat dan narkotika. Banyak jumlah anak2 ini justru berasal dari kota besar dan keluarga berada. Umumnya mereka kekurangan kasih sayang karena orangtua terlalu sibuk dengan businessnya. Anak2 tersebut hidup diliputi kemewahan, tapi hati begitu gersang karena tak ada tempat mengadu yang tepat. Ditambah lagi tidak ada kedekatan dengan Tuhan, sehingga mereka tidak tau harus lari kemana disaat menghadapi masalah. Kemudian sampailah saya kepada sebuah analogi yang menurut saya cukup pas untuk menggambarkan pribadi seorang anak dan peranan orangtua di dalam perkembangan jiwa anaknya.

Seorang anak yang baru lahir, ibaratnya seperti selembar kertas putih. Ayah dan ibu memulai goresan goresan sketsa kasar pada kertas itu. Lingkungan dan teman2nya akan memulai coretan coretan berwarna warni di dalam bagian yang kosong. Sesekali, orang tua berperan sebagai penghapus. Jika kurang puas, ayah dan ibu akan membetulkan sketsa itu sedikit demi sedikit. Semakin besar usia si anak Ada warna merah, kuning, hijau, dan jutaan warna lainnya yang membuat kertas itu menjadi sebuah lukisan beraneka warna. Ada goresan yang tebal, ada goresan yang tipis. Ada sifat yang menonjol dan ada sifat yang terpendam.

Saat sang anak beranjak dewasa, makin banyak goresan dalam dirinya. Teman dekatnya membuat banyak goresan tebal. Kadang goresan itu malah membuat lukisan menjadi jelek. Orangtua pun bertindak sebagai penghapus, mencoba membersihkan apa yang mengotori lukisan itu. Sayangnya kadang orangtua menghapus terlalu keras, sehingga akhirnya kertas itu menjadi bolong. Orang tua yang terlalu keras mendidik anak dan tidak memperhatikan keinginan anak, cenderung membuat anak tertekan. Akhirnya anak bisa menjadi pemberontak. Mau dibetulkan sudah terlambat. Kertas itu sudah bolong. Paling cuma bisa ditambal, tapi bukan lagi merupakan kertas yang utuh. Namun jika orangtua menghapus goresan itu perlahan lahan dengan kelembutan, goresan itu juga akhirnya bisa luntur. Pemahaman orang tua terhadap perkembangan anak, dan penerimaan anak terhadap nasihat orang tua akan menjadi kunci pendidikan dari orang tua ke anak.

Umur saya masih muda, masih beberapa tahun lagi untuk menjadi seorang ibu. Saya sadar kalau saya sebagai manusia juga kepingin segala sesuatu menjadi sempurna. Mungkin saya pingin anak saya nanti selalu nurut apa yang saya bilang. Tapi kan ngga bisa begitu adanya. Kalau cuma saya yang memberikan goresan itu, kertasnya hanya akan diisi oleh satu warna, dan lukisannya pun tidaklah indah. Saya juga yakin orang tua saya sudah berusaha semaksimal mungkin mendidik saya, menjaga lukisan itu tetap indah, sedap dipandang mata, dan juga mendamaikan hati orang yang melihatnya. Berat juga ya jadi orang tua.