Friday, January 21, 2011

Cerita Super Basi

Berhubung kemarin ada berita sedih mendadak, alias Oma meninggal, jadi makin telat aja cerita soal tahun baru. Masih pengen tau gak sih saya tahun baru ngapain ??? Mau? Mau? Mau ?? Mau tau atau ngga, ga epek ya...saya juga gak bisa denger jawaban situ hihihih... Ya intinya, saya tetep aja bakalan cerita, daripada kelamaan terus bener-bener basi, tau-tau udah mau deket Tahun Baru Imlek aja gitu!

Saya ceritakan sedikit kali ya, pergantian tahun baru 2010 alias setahun yang lalu itu saya ngapain. Saat itu sih kita memutuskan bakalan dinner bareng bertiga, terus tahun baruannya saya dan adik saya main ke rumah teman yang memang ngundang buat acara tahun baruan. Waktu itu kita dinner di restaurant classic di bilangan Cikini yang inisialnya P. Nah tempat ini tuh biasanya enak banget untuk makan keluarga, tapi hari itu, ya ampun, ga enak abis makanannya! Kita cuma dikasih pilihan sedikit menu, kata dia cuma boleh pesen dari menu itu aja. Kecewa banget lah pokoknya. Acara tahun baruan di rumah temen ya juga gitu-gitu aja. Seru sih seru main kembang api dan lain-lain, cuma ga enaknya mama gak ikutan karena kita isinya anak-anak muda semua (plus saya jadi ga bisa tidur seharian penuh gara-gara kebanyakan minum Pokka Green Tea). Jadi ngerasa bersalah juga deh kenapa ngga menghabiskan tahun baru bareng keluarga. Sorry, Mom!

Pergantian tahun 2011 ini, saya memutuskan untuk dihabiskan bersama keluarga. Mulailah saya menelepon beberapa tempat, tapi rata-rata tidak ada yang betul-betul menyelenggarakan acara old and new. Rata-rata hotel bintang lima hanya ada perayaan di clubnya saja alias ajeb-ajeb dan pasti penuh asap rokok. Cuma Hotel Mulia aja yang ada gala dinner, itupun penyanyinya Duo Vuci, jadi bukan tipe-tipe yang seru-seru gitu. Si Mama gak tertarik sama sekali. Sampai suatu siang, si Mama melihat sebuah iklan di koran dan langsung menelepon saya sambil gembira dan ceria gitu (sampai saya bingung, apa dia kebanyakan dosis gula). Beliau melihat, menimbang, dan akhirnya memutuskan kalau acara tahun baruan kita adalah... eng ing eng... drumroll please....

Horeeeee.... kita mau nonton BANCI!

Ya itung-itung mengingat-ngingat memory lah ya pas dulu ke Pattaya. Nah, yang menyenangkan itu, di sini kita juga ada dinnernya, ada hiburannya, dan yang paling bikin mama kesenengan adalah MC-nya alias si Edric Tjandra! Hayo... pada tau kan yang mana si Edric tuh? Sudah gitu, harganya gak nohok-nohok amat, 958rb/orang atau 658rb/orang. Pas habis melihat iklannya, weekend itu kita langsung buru-buru ke Sands buat booking. Ternyata eh ternyata, kursi yang 958rb itu sudah di book semua! Di booknya ternyata sama Bos Aheng lah, Bos Acek lah...siapa lah itu nama-nama bosnya semua, Literally ditulis gitu sama karyawannya dengan pendahuluan kata BOS! hahahah. Akhirnya kita mau nggak mau mencari-cari empat kursi yang 658rb dengan posisi yang enak, dan akhirnya dapet nomor meja 69 (hush!... jangan mikir yang nggak-nggak pas lihat nomernya ya... *walaupun kita sempet cekikikan pas tau nomernya segitu*).

31 Desember 2010 akhirnya tiba. Acaranya sendiri berkesan, makanannya cukup enak, dan lucunya saya semeja sama om tante gitu, ngobrol-ngobrol, eh ngga taunya itu ortunya kakak kelas di Madison. Ya ampun, bingung deh, udah sampe kemana-mana ketemunya sama kerabat UW Madison. Sampai ke Israel aja, bisa serombongan sama papi maminya temen yang anak Madison. Heran! Acara Ladyboy Shownya sendiri lumayan menarik. Ada tiruan KW 1 - KW 3 dari artis-artis terkenal lengkap dengan kostum yang mendukung seperti Wonder "Ladyboys" dengan lagu Nobody dan Lady"boy" Gaga dengan lagu Bad Romance (itu tambahan boy-nya saya yang namain sendiri hehe). Tapi yang benar-benar mengocok perut dan bikin saya sampe kepingin pipis ketawa adalah favoritnya si Mama yaitu: Edric Tjandra. Ancur parah tu orang!! Bikin saya mules sampe kram perut!! Dan yang lebih mengejutkan, ternyata si bintang utama yaitu Dewi Sandra (bukan Sandra Dewi), sama gokilnya! Udah deh sepanjang acara utama, saya ketawa sampe nangis-nangis dan mules beneran.

Overall, acara pergantian tahun baru kali ini betul-betul berkesan walaupun sempat keganggu berisik terompet yang gila-gilaan menjelang count down sampai bikin gendang telinga mau copot. Memang beda ya rasanya kalau menghabiskan tahun baru bersama keluarga. Rasanya jauh lebih berarti!

Happy New Year buat semuanya! Resolusi saya di tahun 2011 ini yang kepikiran sih, losing 8kgs! Ampun deh, sepanjang 2010 naiknya sampe segitu, bulet parah! Sisa resolusi saya, saya simpan aja deh di dalam hati.... *malu*


Foto adik saya bersama para Ladyboys bermodal selembar duit 20 ribuan. Saya males pajang foto saya, abisnya cakepan bancinya daripada saya -_-

Thursday, January 13, 2011

Kesempatan Dalam Kesempitan

Pemakaman Oma tercinta sudah berlalu kemarin siang di San Diego Hills. Seluruh rangkaian acara berjalan dengan khidmat dan lancar, dan bisa dikatakan seluruh keluarga mampu bekerjasama dengan baik sehingga semuanya bisa berlangsung tanpa halangan yang berarti kecuali satu hal.

MALING!

Benar-benar si maling kurang ajar, membuat acara pemakaman Oma tertunda hampir satu jam. Tas tante saya digondolnya dengan sukses, tepat sebelum kami berangkat dari rumah duka ke San Diego Hills. Kami semua panik besar. Apalagi di dalam tas itu ada tiga telepon selular, tujuh kartu kredit, KTP, SIM, dan uang cash. Uang cashnya sudah direlakan, tetapi yang lainnya harus dibereskan. Kami semua panik mencari, dan sibuk juga memblokir kartu kredit sebelum sempat digunakan. Dan tau sendiri kan, yang namanya menghubungi pelayanan pelanggan di Indonesia susahnya seperti apa? Belum lagi, tante saya kehilangan seluruh kontak di teleponnya. Dengan pekerjaan tante saya, sangat merepotkan sekali saat customernya akan menghubungi dia.

Ada beberapa teman yang sibuk mengecek CCTV, tapi tidak ada hasil. Yang ada, malah menduga-duga dan menebak-nebak sendiri, sehingga terjadi kesalahpahaman. Akhirnya kami semua memutuskan untuk berangkat, dan akan kembali lagi setelah acara pemakaman selesai. Kebetulan saya semobil dengan Romo Romanus, CICM. Beliau gondok juga dengan kejadian itu.

"Wah, sialan juga orang itu!"

"Waduh Romo kok bisa bilang sialan?"

"Ya emang benar sialan tuh orang!"

Saya sampai senyum sendiri. Bayangkan, si Romo saja sampai kesal dan mengumpat, lantaran ada orang yang memanfaatkan kesempatan di saat kita semua sedang berduka dan sedang repot-repotnya mengurus acara. Untunglah saat itu kami semua masih bisa meredam emosi. Tante saya juga sudah lumayan tenang karena seluruh kartu kreditnya sudah berhasil di blokir, walaupun dia masih sangat kepikiran mengenai kontak di telepon selularnya.

Acara berjalan lancar, langit mendung menggelayut, tetapi hujan sama sekali tidak turun. Oh iya, setelah hampir 25 tahun berpisah, abu jenazah Opa saya akhirnya dijadikan 1 makam bersebelahan dengan peti jenazah Oma saya. Isak tangis sudah berlalu, yang ada tinggal perasaan lega, karena seluruh acara selama 5 hari berjalan indah. Tiga Perayaan Ekaristi dari 3 Romo yang berbeda, satu Ibadat Sabda, dan Ibadat Pemakaman telah selesai. Sungguh berkat Tuhan luar biasa. Tapi kasihan juga, lantaran acara dimulai telat satu jam, banyak orang-orang yang sudah kelaparan pas acara berlangsung. Bahkan adik oma saya mengaku kalau dia sempat gemetar karena lapar. Duh, benar-benar deh si maling!

Dari San Diego Hills, karena penasaran, keluarga saya dan keluarga tante saya kembali ke Rumah Duka, untuk melihat rekaman CCTV selengkap-lengkapnya. Sayangnya, CCTVnya hanya merekam di bagian lorong-lorong saja. Kebetulan ada 1 CCTV yang merekam tepat di depan ruang semayam Oma saya, yaitu ruang VIP B. Selama beberapa jam, kami menyelidiki, sampai akhirnya, saya melihat ada 1 laki-laki, yang berjalan cepat, sambil menenteng tas wanita, tapi tidak terlalu jelas. Kami ulang lagi berkali2. Kemudian, saya minta rekaman dari kamera yang merekam jalan keluar Rumah Duka, pada waktu yang bersamaan.

BINGO! Betul saja, ternyata laki-laki itu membawa kabur tas tante saya, ditutupi dengan tas kresek putih. Mendadak sepupu saya ingat, ada seorang bapak-bapak yang datang dengan tas kresek putih, tetapi tidak masuk ke dalam ruangan melainkan duduk di luar selama acara Misa Pelepasan berlangsung. Kami mengulang lagi rekaman dari waktu yang lebih awal, dan ternyata benar. Orang ini duduk di luar, merokok, tidak menyapa siapapun. Dan dia masuk tepat setelah Misa selesai dan kami sedang melakukan penghormatan terakhir. Sebelumnya, dia datang dan celingak celinguk di ruangan semayam tetangga yang kebetulan hari itu berangkat juga, tapi dia tidak mendapat mangsa. Dia mendapat mangsa di tempat kami, setelah menunggu selama lebih kurang 30 menit.

Ini dia kronologis gerak gerik si maling berdasarkan rekaman CCTV yang kami tinjau kembali selama berjam-jam.

Camera 3: 8:40 AM: Tiba di gerbang rumah duka

Camera 3: 8:41 AM: Menghampiri bus yang kami sewa, ketemu teman (sepertinya teman sekomplotannya), kemudian berjalan bersama ke dalam, tapi berbeda arah (sepertinya temannya menuju ke bagian bawah, dan dia menuju ke atas alias daerah VIP).

Camera 7: 8:45 AM: Masuk ke lantai atas dan celingak celinguk di tetangga-tetangga ruangan Oma saya, mencari mangsa selama beberapa menit, tapi tidak berhasil.

Camera 7: 8:49 AM: Duduk di depan ruangan Oma saya. Di dalam ruangan misa sedang berlangsung. Dia duduk sendiri, sama sekali tidak menghampiri meja penerima tamu.

Camera 7: 9:01 AM: Mencoba masuk ruangan kami. Sepertinya saat itu kami sedang proses komuni, sehingga dia akhirnya gagal lagi untuk melaksanakan misinya, dan akhirnya dia kembali duduk.

Camera 7: 9:09 AM: Dia mencoba kembali masuk ruangan, dia menunggu di belakang tiang. Dan pada saat misa bubar, dia berhasil masuk.

Camera 7: 9:16 AM: Dia berhasil mencuri tas tante saya, berjalan keluar cepat dari ruangan, melintasi lorong, dan langsung mengarah keluar.

Camera 3: 9:16 AM: Di detik-detik akhir, ada penampakan dia keluar, berlagak menuju ke bus, tapi setelah itu langsung kabur ke pintu keluar gerbang rumah duka.

Grrrrrhhhhhhhh....!!! Malingnya Professional !

Ciri2: Laki-laki, keturunan Chinese, lebih kurang 30-40 tahun. Memakai kemeja putih dikeluarkan dan celana bahan, persis seperti orang yang mau melayat. Membawa kantong kresek putih.

Pihak rumah duka mengaku belum pernah ada kejadian seperti ini. Saya sendiri TIDAK PERCAYA, karena menurut saya malingnya ini benar-benar canggih, licin sekali sekali cara kerjanya. Pasti dia sudah sering melakukan hal seperti ini. Hanya saja, biasanya orang Chinese totok tidak memprosesnya lebih lanjut, karena dipikir bakalan pamali kalau pemakamannya terlambat alias liat jam, hitung menit, dan lain-lain. Untungnya kami tidak totok, dan sudah Katolik semua, sehingga kami masih follow up kejadiannya. Ketika kami minta pihak keamanan untuk memantau, malah dibilang,

"Kalau keturunan Chinese gitu, nanti tau-tau keluarga lagi."

Cape deh! Sekarang mah orang mana aja juga bisa jadi maling kali Pak!! Yang penting kan mestinya pihak keamanan waspada, memantau dengan lebih seksama lagi.

Buat semua orang, berhati-hatilah. Mereka berpakaian rapi layaknya keluarga dan beroperasinya di Rumah Duka atau Rumah Sakit. Maling will always be Maling! Dengan segala cara, tidak punya hati, tidak memikirkan kami yang sedang berduka. Semoga deh... semoga nih... uangnya nanti dipakai untuk beli susu anaknya, atau membiayai keluarga yang sakit. Ya Tuhan, ampunilah orang ini, sebab dia tidak tahu apa yang dia lakukan.

Tuesday, January 11, 2011

Losing Her

It's time to say goodbye, to my dearest Grandma Maria Latief....

Jumat sore lalu, telepon kantor saya berdering, Mama saya bicara di ujung sana,

"Non, oma sudah payah. Nafasnya hanya tinggal dari mulut, badannya sudah mulai membiru."

"Gak dibawa ke rumah sakit, Ma ? Terus pakai oksigen nggak ?"

"Dokter sudah datang, Non, oksigennya ditolak. Dokter bilang, kalau masuk rumah sakit, selamanya akan di ICU, pakai life support. Jadi hidupnya tergantung alat."

"Ya aku pulang sekarang kalo gitu. Mama siap-siap, habis ini kita langsung berangkat."

Sore itu, saya mendapati Oma dalam keadaan sangat memprihatinkan. Badannya lemas, nafasnya tinggal satu-satu. Saat itu saya pegang tangannya, saya panggil. Matanya yang tadinya sudah tidak ada reaksi, mendadak bergerak, dan memandang saya. Saya tersentak. Kemudian dia mulai berkata-kata, sepertinya mau bicara. Tapi yang keluar hanya nafas dan suara aaa..aaa..aaa..

Tangis saya berderai. Inilah Oma saya tercinta, yang dengan suara emasnya, mengajarkan saya menyanyi, mengajarkan saya bersiul. Padahal katanya bersiul itu nggak sopan untuk anak perempuan, tapi kami berdua memang diwarisi Tuhan siulan yang merdu.

Inilah Oma, yang dulu mengajak saya jalan-jalan di kota untuk makan nasi tim, beli piyama di Glodok, nonton di bioskop Chandra, naik bemo dan omprengan supaya saya bisa belajar merakyat.

Kami berdua adalah duo guguk, shio kami sama-sama anjing, dengan selisih 48 tahun. Kami sama-sama bawel dan senang bercerita. Sayalah cucu pertama, yang dulu selalu merindukan saat-saat liburan sekolah, supaya saya bisa berlama-lama menginap di rumahnya, dan bercerita serta berbagi kebisaan baru, seperti memasak dan menjahit.

1 Januari lalu, pagi-pagi saya mendadak kepingin ke rumah Oma, dan mendadak juga kepingin masakin sesuatu. Biasanya tiap kali saya ke sana, saya beli makanan dari luar. Hari itu pagi-pagi, saya bikin macaroni schootle, kemudian saya bawakan ke rumahnya. Dia hanya mampu makan 3 sendok kecil. Ternyata, itu adalah terakhir kali dia mencicipi makanan buatan saya.

Hari jumat, 7 Januari itu, ternyata adalah kesempatan terakhir saya menemui beliau dalam keadaan bernafas, dan kesempatan saya terakhir melihat sinar matanya.

Sabtu, 8 Januari 2011, Oma dipanggil Tuhan, tepat setelah diberi sakramen perminyakan oleh Romo. Dia meninggalkan kami dengan tenang di dalam tidurnya.

"Selamat jalan Oma Maria, sakit-penyakitmu tentunya sudah diangkat oleh yang Maha Kuasa. Noni yakin, Oma pasti bahagia sekali di sana. Kalau ketemu dengan Papa, titip salam ya...."

Monday, January 03, 2011

Go Fight Win!

Happy New Year, semuanya! Marilah kita semua mengucap syukur atas tahun 2010 yang telah lewat, walaupun isinya pasti rupa-rupa warnanya ya kayak balonku, yang penting tahun 2011 ini, kita akan lebih baik lagi dari tahun 2010 kemarin, AMIN!

Saya buka postingan perdana 2011 ini, dengan postingan yang tentunya membangkitkan semangat muda saya kembali yaitu: Pengalaman saya nonton Grand Prix Marching Band XXVI! Buat sebagian orang pasti mikir, apaan sih tuh?? Grand Prix Marching Band alias GPMB ini adalah event tahunan berupa kompetisi untuk seluruh Marching Band di Indonesia memperebutkan piala bergilir Presiden Soeharto.... Eh salah!!! Piala Bergilir Presiden RI (habis dulu Soeharto melulu, makanya kebawa-bawa sampai sekarang).

Mengapa event ini begitu penting buat saya ? Karena saya dulu sempat menjadi bagian dari event ini selama 3 tahun berturut-turut yaitu tahun 1995, 1996, dan 1997. Saat itu saya masih menjadi bagian dari anak-anak wanita manis namun gahar dengan kekuatan tenaga kuda bermesin diesel, berlogo Putri Santa Ursula Marching Brass alias PSUMB. Tahun 1995 kami memainkan paket My Fair Lady, 1996 kami memainkan paket Phantom of The Opera, dan 1997 kami memainkan paket Carmen. 6 tahun saya bergabung di PSUMB, 3 tahun pertama saya main tuba, dan 3 tahun kedua saya main euphonium. Dua-duanya alat tiup ukuran besar, membuat bibir saya nampak agak berisi huahahahah *dower gitu*.

Kenapa saya semangat sekali menunggu event GPMB? Karena sudah 10 tahun saya tidak menonton GPMB. Sebetulnya saya lulus SMU tahun 2000 (ketebak deh ikke umur brapa), tetapi karena kerusuhan tahun 1998, GPMB sempat ditiadakan di tahun 1998 dan 1999, sehingga saat 2 tahun terakhir saya di PSUMB, saya tidak sempat merasakan gegap gempitanya persiapan menuju GPMB. Terakhir saya menonton GPMB adalah tahun 2000, sesaat sebelum saya melanjutkan pendidikan kuliah ke Amerika. Ketika saya kembali lagi ke Jakarta setelah 6 tahun sekolah dan kerja, 3 tahun berikutnya saya tidak bisa menonton karena: 2007 saya ke Israel, 2008 saya ke Solo, 2009 saya masuk Rumah Sakit. Jadi bisa dibayangkan penantian panjang saya selama 10 tahun! *lebay...*

27 Desember 2010, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Final GPMB XXVI! Lomba akan dimulai pukul 15.30 di Istora Senayan, dan PSUMB akan mendapat giliran di pukul 16.30. Sebelumnya di semifinal, PSUMB sudah mendapatkan nilai tertinggi untuk Divisi Sekolah, sehingga kita mendapatkan giliran terakhir untuk Divisi Sekolah di Final. Ketika saya tiba di sana pukul 15.30-an, saya sangat terkejut, karena kursi VIP terisi penuh! Saya yang sudah mendapatkan tiket VIP di luar, terpaksa duduk agak menyamping sedikit. Bahkan orang-orang rela berjubelan duduk di tangga. Ternyata peminat GPMB ini tambah banyak ya! Atau jangan-jangan ada banyak penyelusup juga ? *Gak tau deh, Indo gitu loh!*Saat tiba giliran kita, Istora terasa menggelegar, riuh rendah pendukung PSUMB yang memang dari dulu terkenal paling kompak mulai menggema.

"Go go go
Fight Fight Fight
Win Win Win
Go Fight Win


We're Gonna Go Go Go, Sanur Go
We're Gonna Fight Fight Fight, Sanur Fight

We're Gonna Win Win Win, Sanur Win


Go (Go), Fight (Fight), Win (Win)

Yeah!"


Mendadak saya merinding. Merinding ingat masa belasan tahun lalu, saat saya ada di posisi pemain, berdegup kencang jantung menantikan giliran keluar dari pintu samping Istora menuju lapangan utama. Ingatan saya kembali hadir, saat bertahun-tahun harus mengorbankan hari Natal dan saat-saat santai masa remaja, dengan latihan dan drill-drill gila berjam-jam per hari, selama berbulan-bulan. Ditambah dengan pelajaran sekolah yang beratnya luar biasa serta ulangan yang bertumpuk. Saya sendiri bingung, kok bisa ya saya dulu melakukan itu.

Kode marching in mulai dimainkan oleh snare drum. Inilah adik-adik kelas saya, penerus saya, memasuki lapangan Istora, dengan dagu yang tinggi dan badan yang tegap, dengan langkah roll step yang dulu menjadi makanan saya sehari-hari. Tak disangka, rasa haru menyergap, dan rasanya di pelupuk mata ini hampir keluar setetes air mata.Tahun ini PSUMB memainkan paket lagu "Selections from English and Celtic Songs". Ketika saya melihat adik-adik kelas saya yang muda belia itu, saya bangga. Sungguh-sungguh bangga. Seragam mereka baru, atasan warna hijau kebanggaan kami, dengan rok kotak-kotak klasik yang modelnya sama dengan saat PSUMB memainkan paket The Sound of Music di tahun 1992 lalu. Inilah PSUMB, tetap menampilkan kekhasannya dengan rok panjang, dan pakaian sopan dan sederhana, di tengah-tengah keglamoran dunia Marching Band dengan banyak properti. Di saat tim lain berlomba-lomba dengan pakaian gemerlap, seksi, dan perlengkapan yang berlebihan, PSUMB tetap bermain jujur dengan mengutamakan kualitas musik dan tarian yang klasik. It's Original Marching Band, not Marching Show.

12 menit berlalu, pertunjukkan yang sungguh menggugah hati nurani saya, penantian selama 10 tahun. Penampilan yang menurut saya sangat menyentuh, sederhana namun berkesan dan "bersih", sungguh tidak neko-neko. Setelah itu, masih ada 8 Marching Bands lagi dari Divisi Umum yang mempertontonkan aksinya. Ternyata dunia Marching Band Indonesia sudah banyak berubah banyak, sangat dinamis, namun sangat disayangkan, banyak sekali Team yang kebanyakan memakai properti gila-gilaan dan bermodal besar, namun menutupi kualitas musikalitas dan baris-berbaris yang dimiliki. Dan lebih disayangkan lagi, penonton kok suka yang model begini ya? Bahkan band-band seperti ini mendapatkan standing ovation. Terus terang saya tidak masalah kalau dari segi hiburan. Mereka memang sungguh menghibur. Saya cuma berdoa dan berharap, supaya dewan juri tidak terpengaruh oleh penampilan "spektakuler" tersebut, karena terus terang kalau dinilai dari properti, unit-unit sekolah dan universitas seperti PSUMB, UI, atau UGM, jadi kecil kesempatan menangnya. Akankah hari ini perjuangan berbulan-bulan adik-adik kelas saya dan seluruh kru yang terlibat di dalamnya berbuah manis?

8 jam berlalu, akhirnya tiba juga saat pengumuman di sekitar pukul 11.30 malam. Setiap kategori dibacakan. Saya menulis kategori tersebut satu per satu di blackberry saya, beserta pemenang 1-3 dari Divisi Sekolah dan Divisi Umum. Saat itu batere blackberry saya sudah mau habis, tapi saya berusaha menulis dan berharap kalau kemudian saya bisa mengirimkan hasilnya ke mailing list Santa Ursula. Saya tahu, saingan terberat dari Divisi Sekolah adalah Bahana Cendana Kartika, Rumbai, yang kebetulan disponsori oleh perusahaan minyak Chevron. Di setiap penampilannya, BCK Rumbai dan BCK Duri memang baik dan menghibur, dan setiap tahun mereka langganan menjadi saingan kita untuk memperebutkan posisi 1. Terakhir PSUMB ikut di tahun 2008, kitalah yang jadi juara 1. Tapi kita harus selalu waspada, dan puji syukur, PSUMB tetap bertahan dengan konsep musikalitasnya.

Juara Favorit berdasarkan SMS, sudah jelas, PSUMB memang langganan di bidang ini, hehehe (maklum, anak-anaknya hobi olahraga jari). Pembacaan tiap kategori dilanjutkan. Sampai akhirnya pemenang ke 4 dan 3 disebutkan untuk Divisi Sekolah dan Divisi Umum. Deg-degan luar biasa. Saat itu juri berkata, saat disebutkan juara duanya, maka juara satunya langsung ketahuan.

"Juara ke dua Divisi Sekolah adalah....... Bahana Cendana Kartika, Rumbai!"

Mendadak, teriakan skala ribuan desibel membahana... Kami para supporter PSUMB berteriak gembira. Luar biasa, perasaan meluap-luap senangnya, karena itu artinya: PSUMB menjadi juara pertama untuk Divisi Sekolah!! Saya pun luar biasa gembira, karena setelah 10 tahun berlalu, di kesempatan perdana saya kembali menonton GPMB, saya menjadi saksi kemenangan adik-adik kelas saya. Perasaan lelah karena menunggu terlalu lama, rasanya hilang begitu saja. AMAZING!! Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya jika saya masih menjadi anggota PSUMB, pasti lebih terharu lagi. Dahulu saja, setiap habis bermain di final, kami pasti bertangis-tangisan bahagia.

Moment PSUMB dan MBUI menerima Piala Presiden.
Bravo Pak Agum, yang rela nongkrong sampai pukul 00.30 pagi hehehehe...


Ternyata juri GPMB ini benar-benar objektif, untuk divisi umum, juara pertama dan keduanya adalah Madah Bahana Universitas Indonesia dan Marching Band Universitas Gajah Mada! Buat Marching Band lain yang mengandalkan properti tapi kehilangan konsep original marching itu sendiri, sayang banget deh! Sungguh! Persiapan selama hampir setahun jadi "terganggu" oleh konsep yang salah. Kasian kan potensi para pemain anda. Bravo MBUI dan PSUMB! Sebuah akhir yang indah untuk menutup 2010 ini!


Tampang saya pas jadi Bonek PSUMB *cantik banget yeeee*

Catatan Kecil:

Pas lagi nonton di Istora sana, saya ketemu sama adik-adik kelas yang pakai kaos PSUMB. Jadi sembari iseng, saya ngobrol. Ternyata yang badannya bongsor-bongsor itu masih kelas 2 SMP!! Dan, mereka keren-keren abis! Pakai Blackberry Onyx, Pakai I-Phone!! ALAMAK!

Tapi yang namanya jiwa anak Sanur memang gak berubah dari dulu sampai sekarang. Pas di sebelah mereka ada orang yang ngerokok, dengan santainya salah satu teriak... "Woi, ini Istora ber-AC woi. Ngerokok bau taukkkk!!". Dan saat si Bapaknya itu tidak bergeming, mendadak salah satu anak Sanur-nya ada yang ngilang. Nggak taunya dia lapor ke panitia soal si Bapak yang merokok, dan si Bapak yang merokok itu dengan sukses dimaki-maki sama panitia di hadapan anak-anak SMP. Sukurin deh lu pakkkk!! Huahhaahah...