Wednesday, June 01, 2011

Proud of My Mom

Mungkin ini saat yang cukup tepat untuk menceritakan, betapa bangganya saya terhadap sosok mama. Saya bukan bangga karena dia cantik, atau karena dia sungguh berprestasi di dalam kehidupannya. Saya bangga kepadanya, karena dia berhasil bangkit dari keterpurukan dan depresinya, sejak ditinggal oleh Papa saya. 3 Juni 2011 ini, Papa telah meninggalkan kami selama 10 tahun. Bukan waktu yang singkat tentunya. Sudah 10 tahun, Mama saya berjuang sebagai orang tua tunggal.

Tahun pertama sepeninggal Papa, Mama saya masih bisa bertahan. Walaupun saya tau, rasa sepi pasti menyerang, apalagi saya langsung balik lagi melanjutkan kuliah di Amerika setelah 10 hari saja pulang ke Indonesia untuk mengikuti upacara pemakaman Papa. Mama saya mengaktifkan diri, dengan mengantarkan adik saya ke sekolah, dan berusaha beraktifitas normal. Mama saya adalah tipe orang yang sangat ramah, rajin, baik, pokoknya selalu bisa menjadi teman dan saudara yang baik. Saya kira, dengan dukungan orang-orang terdekatnya, pasti dia bisa melalui ini dengan baik.

Ternyata prediksi saya salah. Benar yang orang-orang bilang, biasanya awal-awal itu, kita masih sibuk, masih berusaha untuk melupakan yang telah berlalu. Namun ketika kesepian itu benar-benar melanda, dan rasa cintanya yang luar biasa kepada Papa saya, membuat dia semakin sedih, dan semakin terpuruk. Mama saya mulai depresi, dia tidak mau melihat foto Papa. Ada saat-saat di mana dia begitu khawatir dan kesepian, sehingga dia bisa tiba-tiba panik sendiri, dan menelepon adik saya yang sedang ujian, dan memintanya pulang segera sambil mama meraung-raung ketakutan. Dia juga sering merasa kalau rumah tidak nyaman, sehingga saat itu saya mendesain layout baru dan meminta kontraktor untuk membongkar dapur dan kamar mandi, sesuai dengan cita-citanya. Tapi memang bukan itu yang ternyata diperlukan, karena selama pembangunan dapur itu, dia malah jadi tambah depresi. Bahkan saat dapurnya sudah jadi, dan mendapatkan pujian dari orang, dia tetap tidak bahagia.


Saat-saat itu berlangsung tidak sebentar. Saat saya wisuda di tahun 2004, saya ingat mama saya berangkat ke Amerika dalam keadaan depresi. Saat di Amerika itu, dia bilang, dia bisa melupakan sesaat kesepiannya, dan begitu bahagia bersama saya. Kita keliling naik mobil, menikmati hidup berdua selama 2 minggu. Ke supermarket tengah malam, memasak berdua, merangkai bunga untuk wisuda saya, lalu jalan-jalan ke Chicago dan Milwaukee dengan mobil, hal-hal tersebut memberinya rasa bangga. Tapi dia tidak benar-benar bahagia. Ketika dia kembali ke Indonesia, malah keadaannya tambah terpuruk. Dia tidak mau keluar kamar, lebih memilih gelap-gelapan tidur di kamar.


Awal tahun 2006, mama saya merasa mendapat mukjijat. Mendadak dia merasa tenang, bersukacita, lalu bisa bangkit lagi menjadi orang yang ceria. Apalagi bulan September itu, untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 50, saya pulang ke Indonesia. Saat itu saya sudah bekerja di salah satu kantor akuntan publik Big 4. Saya membuat pesta kecil untuknya dengan mengundang lebih kurang 50 orang kerabat dekat, lalu saya ajak Mama dan adik saya berjalan-jalan ke Bali menginap di Conrad. Dia sangat bahagia luar biasa. Saya pikir itulah titik kebangkitan mama saya.

Tapi lagi-lagi saya salah. Desember 2006, saya memutuskan balik ke Indonesia. Dia kembali depresi berat. Cukup parah. Namun di akhir Oktober 2007, dia bisa bangkit lagi, lalu kita rayakan dengan jalan-jalan ke Tanah Suci. Saat itu kondisi mama saya stabil sekali, dan bagus. Tentu saja saya sebagai anaknya sangat senang.

Di tahun 2009 akhir, mama saya terkena depresi yang terberat. Sungguh-sungguh berat, bahkan sampai pada tahap ingin bunuh diri. Saya bingung harus bagaimana. Saat itu mama saya tidak mau melakukan aktifitas. Bahkan tiap hari kami memesan makanan delivery, sampai resto-resto semuanya hafal dengan suara kami. Sedihnya minta ampun, luar biasa. Saya bawa mama ke salah satu pastor, dan beliau bisa melihat cakra. Saat itu anak buah pastor tersebut melihat cakra mama saya, dan dia katakan, bahwa ternyata ada pengaruh jahat yang menyelimuti mama saya, sehingga mama saya jatuh depresi ke titik yang paling rendah.

Saya bingung, saya kalut, saya tidak tau harus bagaimana. Banyak orang menawarkan terapi ini dan itu. Saya curhat pada bos saya. Saya bilang, bagaimana ini? Saat itu saya sakit, operasi saya gagal, tapi mama saya depresi, saya tidak tau harus berbuat apa. Bos saya mengatakan, "Cintailah mamamu, rangkul dia, jangan anggap mamamu sedang depresi." Saya sungguh ingat kata-kata itu. Bos saya juga bilang, jangan treat mama seperti pesakitan, dengan meminta dia ikut terapi apapun. Kita harus percaya dengan kekuatan cinta dan doa.

Awal 2010,  saya memutuskan untuk ke Singapura, untuk operasi pengangkatan paru-paru. Di awal tahun itu, mama saya perlahan tapi pasti mulai bangkit, bahkan saya merasakan sungguh, bahwa titik balik dari depresinya yang mendalam itu menuju kesembuhan adalah saat mempersiapkan diri untuk berangkat ke Singapura. Saya ingat bagaimana dia begitu mendukung saya, lebih kuat dari biasanya, lebih tangguh dari biasanya, lebih beriman dari biasanya. Dan ketika operasi saya dinyatakan berhasil, saat itulah mama saya benar-benar seperti terlepas dari segala beban, dan itu berlangsung SAMPAI SAAT INI....

Saat ini, Mama saya benar-benar sudah sembuh. Dan keajaiban-keajaiban selanjutnya terus terjadi. Mama saya yang dua tahun lalu begitu terpuruk sampai ingin mati, tahun ini diangkat menjadi Prodiakon di Gereja Santo Antonius Padua. Prodiakon adalah orang yang dipercaya untuk membagikan Tubuh dan Darah Kristus sebagai perwakilan dari Pastor. Dia dinominasikan oleh orang-orang di wilayah karena dianggap pantas, dan mempunyai latar belakang keluarga yang baik. Setelah melalui proses panjang dimulai dari interview dan penataran, akhirnya April lalu, dia dilantik. Sekarang dia begitu aktif melayani Tuhan, dan saat mengulang peristiwa-peristiwa lalu yang menyedihkan, Mama selalu berujar, "Walaupun Mama sempat terpuruk ke titik terbawah, tapi ada satu hal yang mama tidak pernah lepaskan, yaitu DOA."

Saya sekarang mengerti, Tuhanlah yang mengangkat Mama saya dari kuasa gelap, dan keinginan dia untuk lepaslah yang membuat Dia sembuh. Sayapun jadi banyak belajar, dan saya jadi tau, ternyata DEPRESI itu adalah DOSA. Dalam hidup kita punya pilihan, untuk berpikir positif atau berpikir negatif. Pikiran negatif itulah yang lama-lama membuat kita depresi, dan akhirnya terus bergumul dengan dosa. Saat kita berpikiran negatif, hal-hal jahat itu akan lebih mudah memasuki diri kita. Maka, selalu berpegang teguhlah pada Doa dan keyakinan, bahwa Tuhan akan selalu menolong kita.

Mama saya di antara para prodiakon yang didominasi pria

I'm very proud of You, Mom!

30 comments:

  1. congrats ya buat nyokap lu!!
    emang pasti berat banget ditinggal sama soulmate, tapi nyokap lu hebat.. tetep berjuang demi anak2nya ya...

    moga2 nyokap lu selalu sehat ya ny!

    ReplyDelete
  2. Salut buat nyokap lu, and i feel u..nyokap gw juga been through depresi yang sampe kalo liat matahari pagi bisa sampe gimanaaaaaaa banget takutnya.

    Tapi, mungkin Tuhan masih sayang sama anaknya kali yah..pelan-pelan mulai dikasih kesembuhan.
    * gw sounds aneh yah nulis bawa2 Tuhan gini..tapi itu yg terjadi loh bo *

    ^^

    ReplyDelete
  3. @Arman: Thanks, Man. Cuma Tuhan dan keinginan nyokap untuk sembuh yang bikin dia bertahan.

    @Pinkbuble: Wah, ternyata kita pernah mengalami kejadian yang sama ya ? Bener tuh orang kalo depresi males liat matahari. Tuhan memang maha besar, dan gpp kok memuji Tuhan, soalnya He's good!

    ReplyDelete
  4. Hi Leony, aku sering mampir kesini tapi belum pernah komen. Syukur kalau mamamu bisa ngelewatin semuanya. Aku doain supaya mamamu bisa semakin kuat & bisa terus melayani :)
    Btw, aku jg pernah baca artikel yg nulis kalau kekhawatiran yang bikin manusia putus asa itu dosa karena akhirnya manusia ga lagi percaya dgn pertolongan Tuhan....
    Thanks to God dia masih memegang mamamu dengan erat :)

    ReplyDelete
  5. @Adelheid: Iya bener tuh... gara-gara orang khawatir, akhirnya pengaruh roh jahat makin menguasai. Amin, Tuhan memang sayang sekali sama keluarga kita, karena kita memang nggak pernah ninggalin Tuhan, walaupun dalam situasi terburuk.

    ReplyDelete
  6. haii Leonny salam kenal yah . kagum g baca crt ttg mama kamu . salam deh buat dia n congrats bisa bangkit kembali krn kuasa Tuhan .
    ga kebayang gmn deperesinya dia , trus gmn lo yg berjuang juga . duhh salut !
    Thanks for sharing yah

    ReplyDelete
  7. wah salut sama nyokap loe dan tentunya loe jg yang tetap tough berjuang bersama nyokap loe. emang pikiran yang positif itu membawa pengaruh yang besar buat kita.

    ReplyDelete
  8. @Veny: Sama-sama. Senang bisa berbagi, supaya semua jadi tahu, kalau cinta dan doa yg menyelamatkan Mama saya, kuasa Tuhan tentunya.

    @Mamadesi: Iya, positive thinking, and positive attitude.

    ReplyDelete
  9. emang ga mudah ya kehilangan soulmate , dan bersyukur banget nyokap lu bisa melalui semua itu dan berakhir manis. GBU and fam ya. thx for sharing

    ReplyDelete
  10. Leony... bagus banget. Mama gua juga superwoman. She went through hard times when my dad fell sick, took care of him until his sudden death 10 years later. Sayangnya gua terlalu cinta sekolah, jadi masih belum bisa bantu dia the way you do. Gua kadang mikir, kalo gua jadi mama one day, bisa gak ya being as selfless as that?

    ReplyDelete
  11. wah le, di foto itu semua cowo lo, cuma mama lu yang cewe, hebat :D
    gua sih gak tau ya rasanya mesti hidup sendiri setelah sekian lama berdua, apalagi anak jauh.. kalo inget ini gua suka menyesal juga marah2 ama nyokap gua, pasti dia kesepian juga makanya aktif di vihara..
    sukurlah nyokap lu skarang udah sembuh ya, mungkin karna harus kuat waktu lu dioperasi yang membuat mama bangkit.

    ReplyDelete
  12. @Mama Fang2 memei: Makasih ya, God bless you too. Glad kalau sharingnya bisa membantu.

    @Lady in Red: Yes, our moms are superwomen. Bisa dong Rhe, saat kita disatukan dalam perkawinan, kita berani mengorbankan diri untuk orang yang kita cintai.

    @Pucca: Hehehe iya, total 3 cewe dari 53 orang sih. Iya, gpp Vi nyokaplu aktif di Vihara, at least ada kegiatannya, daripada dia gak fokus, akhirnya jadi kebanyakan pikiran.

    ReplyDelete
  13. thanks for sharing ya Ny, menguatkan..:)

    ReplyDelete
  14. @Nattever: Sama-sama Nat. Saling menguatkan yah.

    ReplyDelete
  15. Le, ternyata lu n nyokap ngalamin hal yg berat utk waktu yg ga bs dibilang singkat. G coba nempatin jadi posisi, hrs kuliah kerja ninggalin nyokap dg kondisi spt itu pasti jd beban bgt.

    Bersyukur akhirnya hal baik datang jg utk keluarga u khususnya mom. Smoga kedepannya terus bgini n jadi hari baik selalu y le. G baca ini bnr2 SPEECHLESS!

    ReplyDelete
  16. @Decity: Bener, berat, makanya gue terpanggil untuk pulang. Walaupun setelah itu nyokap masih mengalami saat2 berat, seenggaknya ada gue di situ untuk take care of her. Memang banyak yang harus dikorbankan. Amin untuk wishnya :)

    ReplyDelete
  17. tersentuh deh baca nya le :'( hebat ya nyokap lu bisa ngelewatin semua nya. thannks for sharing ya le

    ReplyDelete
  18. @Epi: Sama-sama Epi. Iya, kita sebagai satu keluarga ikut merasa senang semuanya.

    ReplyDelete
  19. A miracle story! Emang (ternyata) selalu ada hikmat tersembunyi di balik kesusahan yang kita alamin ya. Selamat untuk mamamu ya Le, juga untukmu yang sama-sama tangguh, hehe...

    ReplyDelete
  20. @Hoeda Manis: Thanks, Hoeda. What doesn't kill us will make us stronger, right? Makasih juga buat banyak tulisan kamu di blog yang very inspiring.

    ReplyDelete
  21. wow such a super mum! bangga juga mendengar cerita beliau dari mu :)

    ReplyDelete
  22. @Xty: Seru ya perjuangannya. I'm glad that I got the courage to share :)

    ReplyDelete
  23. Syukurlah semua sudah berlalu...Mudah-mudahan kedepannya cuma ada senyum. Ini juga salah satu reason kamu balek ke Indo khan, Len?

    ReplyDelete
  24. @Mercuryfalling: Aminnn... actually, saat aku mutusin balik Indo, mama ada di stage yang baik-baik saja, malah dikira sudah sembuh. Jadi aku balik itu lebih ke arah punya panggilan juga ya...

    ReplyDelete
  25. eh kalo di gereja Santa (Blok Q) prodiakonya banyak juga lho yang cewe, cuma lebih di utamakan cowo :) klo kurang baru yang cewe :)

    ReplyDelete
  26. @Pitshu: Wah Pit, prodiakon cewe itu bukan tambahan Pit. Mereka memang dipilih dengan cara yang sama seperti prodiakon cowo terpilih. Caranya adalah dengan melalui nominasi dari wilayah setempat, kemudian interview oleh pastor (uji kelayakan), ditambah lagi penataran beberapa bulan, baru bisa jadi prodiakon. Tugas prodiakon itu, sudah dischedule dari berminggu-minggu sebelumnya, jadi bukannya kalau kurang lantas ditambahin. Tidak ada yang diutamakan dalam hal ini, cowok dan cewek sama saja. Tugas prodiakon itu bukan cuma membagi komuni di gereja, tapi mereka harus bisa memimpin ibadat, termasuk juga memimpin ibadat di pemakaman. Lebih sulit dari yang dibayangkan yah ?

    ReplyDelete
  27. Bravo for you and your mom, Le. Hope you don't mind with something here I want to share and straight thing out. Depression is not a SIN. Depression is a common disorder that affects4-5% adults at any one time. Depression occurs across countries, levels of education and occupations. It can affects the rich and poor and people of all races, religions and cultures. Most people with depression recover quickly with treatment and some recover without treatment, although that may take longer. The prognosis is good, even though some people may need continuing treatment in order to prevent recurrence. There are many effective treatments available so don't feel pessimistic even the first one does not work.

    If you persist that depression is a sin and then you feel more frustrated and feel more guilty (already in depression symptoms. So it's not everybody fault. However I agree patient has a responsibility to work together and getting help to get better.

    ReplyDelete
  28. @Once_alifetime: Terima kasih bu dokter buat penjelasannya. Kalo gue sih mikirnya a bit different ya. There are some things in the world that we can't explain. Depresi juga banyak yang disebabkan oleh ketidakkuatan iman kita. Nyokap gue sudah pernah di treat pakai obat, pergi ke psikiater, tapi nggak efek. Coba pakai cara counseling, tapi ngga efek juga.

    Sama seperti kita mikir soal life creation, banyak hal-hal yang ngga bisa kita jelaskan secara ilmiah, dan dalam hal ini, tipis banget bedanya dosa dan ngga dosa. Di dalam 7 dosa besar, depresi itu adalah salah satunya. Dia ada di dalam kategori Sloth (Kemalasan), dan sebagai examplenya adalah Despair (Keputusasaan) which is described as feelings of hopelessness, despondency, pessimism and impending doom.

    Saat orang menyadari kalau itu adalah dosa, justru orang tersebut bisa bangkit, bukannya membuat dia tambah terpuruk. Di mana-mana, kalau kita menyadari kalau itu adalah hal yang salah, itu akan membantu kita untuk juga mencari bantuan untuk keluar dari dosa itu. Apalagi orang yang beriman, pasti dia mencari cara, supaya bisa balik lagi menuju jalan keselamatan. Wah gue nulisnya jadi panjang lebar ya hehehehe...

    ReplyDelete
  29. Kmrn coba post, kok ga bisa yahhh...
    hehehehe... sebelumnya salam kenal yah... saya wie2 dr semarang, salut banget ama mama-kamu dan kamu yg kuat dan tegar dlm menghadapi berbagai cobaan yg melanda hidup... Saya bisa nyasar ke blog ini gara2 search di google "lagu untuk sungkem-an"... e malah jadi-nya nyasar disini, blog yg penuh inspirasi...hahahahaha...
    Cerita mama kamu sama seperti mama saya yg udh ditinggal ama papa 10thn lebih, tp beda-nya mama saya punya kesibukan mengelola perusahaan yg papa tinggalkan, dan yg lebih penting dukungan dr keluarga sangat berperan penting, kalo saya liat dr cerita leony, kasih mama kesibukan yg positif, sudah bagus bisa jadi prodiakon yg notabene banyak dr laki2... kasih mama kesempatan untuk berkarya dalam gereja...kalo mama deket ama Tuhan kan semua masalah dpt tersingkir dengan sendiri-nya...
    Xixixixi...Semangat yah buat Leony... Salam buat mama km...... Ciaaaaa Yooooooooooou...

    ReplyDelete
  30. @Wie_Wie: Thanks for stopping by!!! Mama sih kesempatannya selalu ada untuk berkarya. Tapi kalau orang lagi depressed itu, keinginan untuk melayani jadi menurun drastis. It's her own choice juga, ditambah dengan bantuan moral dari orang-orang disekitarnya... Tapi beneran, in the end, it's her own choice + Roh Kudus :)

    ReplyDelete