Monday, March 07, 2011

Selembar Kertas - Catatan dari Bulan May 2005

Kenapa saya tiba-tiba mengingat kembali tulisan ini ? Karena baru beberapa hari yang lalu, seorang bapak yang begitu saya kenal, curhat kepada saya, dia merasa anaknya tidak terlalu peduli kepadanya, padahal anak tersebut sudah dewasa, dan si bapak ini sudah mulai memasuki masa tuanya.  

Tulisan ini saya buat, 6 tahun lalu, tepatnya di bulan May 2005, di usia saya saat itu, saya baru bekerja di tahun pertama di Amerika, masih terlalu muda sebetulnya untuk menulis hal seperti di bawah ini. Kesannya kok sok tau banget. Tapi beberapa tahun berlalu, saya rasa tulisan ini tetaplah relevan. Saya copy dan paste saja tulisan ini, tepat seperti aslinya. Walaupun ini adalah sebuah karya daur ulang, mungkin tulisan ini, bisa menjadi bahan refleksi kita semua, baik yang belum menikah seperti saya, maupun yang sudah menikah dan menjadi orang tua.


Kemarin malam, saya terlibat pembicaraan seru dengan tante dari teman saya yang notabene sangat bangga dengan anak2nya yang katanya sih terdidik semua dan sayang dengan orang tua. Sebagian orang memang merasa sudah cukup dalam mendidik anak anak mereka. Sebagian orang merasa telah melakukan dosa besar karena anak anak mereka terjerumus ke dalam pergaulan yang salah tanpa mereka sadari sebelumnya. Ada orang tua yang merasa perlu mengekang anak2 mereka, bahkan sampai keterlaluan sehingga anak2nya mencari pelarian. Kalau pelariannya baik, anak anak akan menjadi makin tangguh dan bisa belajar dari keadaan dirinya, sehingga tidak akan berulang ke keturunan mereka selanjutnya. Yang jadi masalah adalah bagaimana jika pelariannya salah, akhirnya terjun ke dalam pergaulan maksiat dan narkotika. Banyak jumlah anak2 ini justru berasal dari kota besar dan keluarga berada. Umumnya mereka kekurangan kasih sayang karena orangtua terlalu sibuk dengan businessnya. Anak2 tersebut hidup diliputi kemewahan, tapi hati begitu gersang karena tak ada tempat mengadu yang tepat. Ditambah lagi tidak ada kedekatan dengan Tuhan, sehingga mereka tidak tau harus lari kemana disaat menghadapi masalah. Kemudian sampailah saya kepada sebuah analogi yang menurut saya cukup pas untuk menggambarkan pribadi seorang anak dan peranan orangtua di dalam perkembangan jiwa anaknya.

Seorang anak yang baru lahir, ibaratnya seperti selembar kertas putih. Ayah dan ibu memulai goresan goresan sketsa kasar pada kertas itu. Lingkungan dan teman2nya akan memulai coretan coretan berwarna warni di dalam bagian yang kosong. Sesekali, orang tua berperan sebagai penghapus. Jika kurang puas, ayah dan ibu akan membetulkan sketsa itu sedikit demi sedikit. Semakin besar usia si anak Ada warna merah, kuning, hijau, dan jutaan warna lainnya yang membuat kertas itu menjadi sebuah lukisan beraneka warna. Ada goresan yang tebal, ada goresan yang tipis. Ada sifat yang menonjol dan ada sifat yang terpendam.

Saat sang anak beranjak dewasa, makin banyak goresan dalam dirinya. Teman dekatnya membuat banyak goresan tebal. Kadang goresan itu malah membuat lukisan menjadi jelek. Orangtua pun bertindak sebagai penghapus, mencoba membersihkan apa yang mengotori lukisan itu. Sayangnya kadang orangtua menghapus terlalu keras, sehingga akhirnya kertas itu menjadi bolong. Orang tua yang terlalu keras mendidik anak dan tidak memperhatikan keinginan anak, cenderung membuat anak tertekan. Akhirnya anak bisa menjadi pemberontak. Mau dibetulkan sudah terlambat. Kertas itu sudah bolong. Paling cuma bisa ditambal, tapi bukan lagi merupakan kertas yang utuh. Namun jika orangtua menghapus goresan itu perlahan lahan dengan kelembutan, goresan itu juga akhirnya bisa luntur. Pemahaman orang tua terhadap perkembangan anak, dan penerimaan anak terhadap nasihat orang tua akan menjadi kunci pendidikan dari orang tua ke anak.

Umur saya masih muda, masih beberapa tahun lagi untuk menjadi seorang ibu. Saya sadar kalau saya sebagai manusia juga kepingin segala sesuatu menjadi sempurna. Mungkin saya pingin anak saya nanti selalu nurut apa yang saya bilang. Tapi kan ngga bisa begitu adanya. Kalau cuma saya yang memberikan goresan itu, kertasnya hanya akan diisi oleh satu warna, dan lukisannya pun tidaklah indah. Saya juga yakin orang tua saya sudah berusaha semaksimal mungkin mendidik saya, menjaga lukisan itu tetap indah, sedap dipandang mata, dan juga mendamaikan hati orang yang melihatnya. Berat juga ya jadi orang tua.

9 comments:

  1. Kamu bijaksana sekali, Leony. Bagus sekali analoginya. Salam kenal ya. :)

    ReplyDelete
  2. yah jadi ortu itu emang gampang2 susah. harus nyari yang pas. kayak perumpamaan lu, kalo menghapusnya kekencengan malah bolong. tapi kalo ngehapusnya kepelanan gak kehapus2 malah keburu udah tambah banyak coretannya.

    nah nyari gimana cara menghapus yang pas itu tricky. hehehe.

    emang gak dipungkiri kalo ada aja ortu2 yang gak bertanggung jawab dan akhirnya jatohnya anak2nya jadi 'rusak'. dan ini jadi kesalahan ortu.

    tapi sebenernya dalam case anak jadi 'rusak' itu gak semuanya selalu jadi salah ortu. toh pada akhirnya banyak sekali faktor yang mempengaruhi sampe si anak itu jadi apa.
    tapi yah orang tetep suka mengeneralisir kalo ada anak gak bener pasti salah ortunya. ya gak...

    yah itu udah konsekuensi jadi ortu. gimanapun gua yakin hampir semua ortu pasti selalu berusaha untuk mengajarkan dan memberi yang terbaik buat anak2nya. nobody can judge. nobody should judge. karena tiap anak itu berbeda. dan seberapa batas menghapus nya itu terlalu keras atau terlalu lembek, batasan itu berbeda2 untuk anak yang satu dengan yang lain. kayak kertas, itu tergantung kertasnya. tebel apa tipis. tergantung coretannya, pake pensil apa bolpen apa spidol. tergantung kondisinya, kertasnya basah atau kering. jadi bukan selalu kalo menghapusnya keras itu pasti salah. semuanya tergantung.
    dan tetep orang tua yang tau what is the best for their children.. :)

    ReplyDelete
  3. @Hoeda Manis: Makasih Hoeda, semoga membantu tulisan asal-asalan saya itu.

    @Arman: Iya Man, gue sih anggep kertasnya tuh sama, pensilnya sama, penghapusnya sama. Yang beda itu cuma faktor ngapusnya. Kalo variable-nya terlalu banyak kayak yang elu bayangin, wah, bisa gak kelar-kelar analoginya, dan akhirnya kagak jalan karena kebanyakan faktor.

    Emang beda kali ya cara pikir elu sebagai orang tua dan gue yang emang belum jadi orang tua :) Kalo elu kan udah pengalamannya lebih banyak.

    ReplyDelete
  4. bagus banget le perumpamaannya, tapi kalo menurut gua tidak sepenuhnya anak itu kertas putih, tiap anak pasti membawa sifat dari sananya, gak ada anak yang sama bahkan anak kembar sekalipun..
    memang berat ya jadi orang tua :)

    ReplyDelete
  5. @Pucca: Emang, faktor keturunan jg ngaruh ya. Gue setuju soal sifat dasar, tapi kayak tingkah laku dan tata krama itu, kayaknya ortu yah yang punya faktor terbesar.

    ReplyDelete
  6. bener-bener ga mudah jadi orang tua le, bener bangat perumpamaan loe. Gw cuma berharap nanti pas gw jadi orang tua, gw dikasih kebijaksanaan wkt ngadepin anak gw. Pastinya ga mungkin bisa sempurna, tapi ngusahain yang terbaik aja buat mereka.Hehehe, gw masih teoritis banget yaa...

    ReplyDelete
  7. @Katrin: Iya Kat, gue jg masih gak kebayang pas nanti punya anak. Pasti prakteknya beda lagi deh. Kita pasti gak tegaan nanti sama anak. Mau kerasin juga nggak tega. Bener lah, yang penting kasih yang terbaik buat anak, tapi dengan batasan-batasan yang wajar dan bertanggung jawab :)

    ReplyDelete
  8. Emang antara kasih sayang dan disiplin harus seimbang ya, Le. Kalau utk gua pribadi, gua lebih tkt sampai mendominasi anak, maksain dia ngikut jalan yang menurut gua benar padahal belum tentu, makanya gua suka banget puisi Khalil Gibran ttg anak adalah anak panah sementara ortu adalah busurnya. Sampai suatu titik dia dewasa, gua harus rela membiarkan dia menjalani hidupnya dengan bekal2 yang telah diberikan semasa masih dalam binaan.

    ReplyDelete
  9. @once_alifetime: Iya El. Anak harus tetap punya cita-cita, punya kepribadian, dan punya jalan hidupnya sendiri. Kita tinggal mengarahkan, tanpa memaksakan. Pantesan ya, ortu suka sedih kalau ngelepasin anaknya untuk menikah. Pasti kebayang membesarkan itu anak dari masih bayi sampai akhirnya siap diambil orang. *Mendadak mellow*

    ReplyDelete