Tuesday, January 11, 2011

Losing Her

It's time to say goodbye, to my dearest Grandma Maria Latief....

Jumat sore lalu, telepon kantor saya berdering, Mama saya bicara di ujung sana,

"Non, oma sudah payah. Nafasnya hanya tinggal dari mulut, badannya sudah mulai membiru."

"Gak dibawa ke rumah sakit, Ma ? Terus pakai oksigen nggak ?"

"Dokter sudah datang, Non, oksigennya ditolak. Dokter bilang, kalau masuk rumah sakit, selamanya akan di ICU, pakai life support. Jadi hidupnya tergantung alat."

"Ya aku pulang sekarang kalo gitu. Mama siap-siap, habis ini kita langsung berangkat."

Sore itu, saya mendapati Oma dalam keadaan sangat memprihatinkan. Badannya lemas, nafasnya tinggal satu-satu. Saat itu saya pegang tangannya, saya panggil. Matanya yang tadinya sudah tidak ada reaksi, mendadak bergerak, dan memandang saya. Saya tersentak. Kemudian dia mulai berkata-kata, sepertinya mau bicara. Tapi yang keluar hanya nafas dan suara aaa..aaa..aaa..

Tangis saya berderai. Inilah Oma saya tercinta, yang dengan suara emasnya, mengajarkan saya menyanyi, mengajarkan saya bersiul. Padahal katanya bersiul itu nggak sopan untuk anak perempuan, tapi kami berdua memang diwarisi Tuhan siulan yang merdu.

Inilah Oma, yang dulu mengajak saya jalan-jalan di kota untuk makan nasi tim, beli piyama di Glodok, nonton di bioskop Chandra, naik bemo dan omprengan supaya saya bisa belajar merakyat.

Kami berdua adalah duo guguk, shio kami sama-sama anjing, dengan selisih 48 tahun. Kami sama-sama bawel dan senang bercerita. Sayalah cucu pertama, yang dulu selalu merindukan saat-saat liburan sekolah, supaya saya bisa berlama-lama menginap di rumahnya, dan bercerita serta berbagi kebisaan baru, seperti memasak dan menjahit.

1 Januari lalu, pagi-pagi saya mendadak kepingin ke rumah Oma, dan mendadak juga kepingin masakin sesuatu. Biasanya tiap kali saya ke sana, saya beli makanan dari luar. Hari itu pagi-pagi, saya bikin macaroni schootle, kemudian saya bawakan ke rumahnya. Dia hanya mampu makan 3 sendok kecil. Ternyata, itu adalah terakhir kali dia mencicipi makanan buatan saya.

Hari jumat, 7 Januari itu, ternyata adalah kesempatan terakhir saya menemui beliau dalam keadaan bernafas, dan kesempatan saya terakhir melihat sinar matanya.

Sabtu, 8 Januari 2011, Oma dipanggil Tuhan, tepat setelah diberi sakramen perminyakan oleh Romo. Dia meninggalkan kami dengan tenang di dalam tidurnya.

"Selamat jalan Oma Maria, sakit-penyakitmu tentunya sudah diangkat oleh yang Maha Kuasa. Noni yakin, Oma pasti bahagia sekali di sana. Kalau ketemu dengan Papa, titip salam ya...."

13 comments:

  1. Turut berduka cita. Semoga keluarga yg ditinggalkan diberi kekuatan iman dan ketabahan dan arwah oma diterima disisi Tuhan.

    ReplyDelete
  2. turut berduka~ 1 jan g juga bersedih 1 tahun yang lalu, GM kantor lama g, meninggal di usia muda masih 32 thn, baca postingan lo, g masih inget waktu g di RS g pegang tangannya, tangan masih anget! cuma dia udah napas dengan alat bantu, alias sama aja dia udah enggak ada hiks

    ReplyDelete
  3. sedih le, semoga oma maria tenang skarang.. memang gak ada yang abadi di dunia..

    ReplyDelete
  4. Ikut berduka cita atas kepergian Oma Maria. Tabah ya leony...

    ReplyDelete
  5. Hi Leony,

    Turut berduka cita yah atas kepergian Oma. Semoga keluarga yang ditinggalkan sabar dan tabah menerimanya.

    ReplyDelete
  6. Ikut berdukacita ya, Le. Pasti Oma sudah senang di sana..

    ReplyDelete
  7. Deepest sympathy, Leony....

    Oma pasti sudah bersama2 dengan Bapa di kerajaan abadi.

    Buat keluarga yg ditinggalkan, biarlah Tuhan yang memberi kekuatan dan penghiburan.

    ReplyDelete
  8. Kak Onyy turut berduka yah..

    Semoga beliau tenang dan bahagia di sisi Bapa :) Amin.

    ReplyDelete
  9. Ahh.. turut berduka cita ya :)

    ReplyDelete
  10. Turut berduka cita ya...semoga Omamu uda bahagia di rumah Tuhan

    ReplyDelete
  11. Turut berduka cita Ny,gw bekaca2 bacanya..:(

    ReplyDelete
  12. selamat jalan Oma....Makasih udah temenin Lele,... sekarang Lele jadi temen saya Oma....maksih ya...

    ReplyDelete
  13. Buat semuanya, makasih banyak untuk ucapan belasungkawa dan doa-doanya. Seperti Pastor bilang, makin banyak yang mendoakan, makin cepat dan indah jalannya untuk menuju ke rumah Bapa di surga.

    ReplyDelete