Thursday, January 13, 2011

Kesempatan Dalam Kesempitan

Pemakaman Oma tercinta sudah berlalu kemarin siang di San Diego Hills. Seluruh rangkaian acara berjalan dengan khidmat dan lancar, dan bisa dikatakan seluruh keluarga mampu bekerjasama dengan baik sehingga semuanya bisa berlangsung tanpa halangan yang berarti kecuali satu hal.

MALING!

Benar-benar si maling kurang ajar, membuat acara pemakaman Oma tertunda hampir satu jam. Tas tante saya digondolnya dengan sukses, tepat sebelum kami berangkat dari rumah duka ke San Diego Hills. Kami semua panik besar. Apalagi di dalam tas itu ada tiga telepon selular, tujuh kartu kredit, KTP, SIM, dan uang cash. Uang cashnya sudah direlakan, tetapi yang lainnya harus dibereskan. Kami semua panik mencari, dan sibuk juga memblokir kartu kredit sebelum sempat digunakan. Dan tau sendiri kan, yang namanya menghubungi pelayanan pelanggan di Indonesia susahnya seperti apa? Belum lagi, tante saya kehilangan seluruh kontak di teleponnya. Dengan pekerjaan tante saya, sangat merepotkan sekali saat customernya akan menghubungi dia.

Ada beberapa teman yang sibuk mengecek CCTV, tapi tidak ada hasil. Yang ada, malah menduga-duga dan menebak-nebak sendiri, sehingga terjadi kesalahpahaman. Akhirnya kami semua memutuskan untuk berangkat, dan akan kembali lagi setelah acara pemakaman selesai. Kebetulan saya semobil dengan Romo Romanus, CICM. Beliau gondok juga dengan kejadian itu.

"Wah, sialan juga orang itu!"

"Waduh Romo kok bisa bilang sialan?"

"Ya emang benar sialan tuh orang!"

Saya sampai senyum sendiri. Bayangkan, si Romo saja sampai kesal dan mengumpat, lantaran ada orang yang memanfaatkan kesempatan di saat kita semua sedang berduka dan sedang repot-repotnya mengurus acara. Untunglah saat itu kami semua masih bisa meredam emosi. Tante saya juga sudah lumayan tenang karena seluruh kartu kreditnya sudah berhasil di blokir, walaupun dia masih sangat kepikiran mengenai kontak di telepon selularnya.

Acara berjalan lancar, langit mendung menggelayut, tetapi hujan sama sekali tidak turun. Oh iya, setelah hampir 25 tahun berpisah, abu jenazah Opa saya akhirnya dijadikan 1 makam bersebelahan dengan peti jenazah Oma saya. Isak tangis sudah berlalu, yang ada tinggal perasaan lega, karena seluruh acara selama 5 hari berjalan indah. Tiga Perayaan Ekaristi dari 3 Romo yang berbeda, satu Ibadat Sabda, dan Ibadat Pemakaman telah selesai. Sungguh berkat Tuhan luar biasa. Tapi kasihan juga, lantaran acara dimulai telat satu jam, banyak orang-orang yang sudah kelaparan pas acara berlangsung. Bahkan adik oma saya mengaku kalau dia sempat gemetar karena lapar. Duh, benar-benar deh si maling!

Dari San Diego Hills, karena penasaran, keluarga saya dan keluarga tante saya kembali ke Rumah Duka, untuk melihat rekaman CCTV selengkap-lengkapnya. Sayangnya, CCTVnya hanya merekam di bagian lorong-lorong saja. Kebetulan ada 1 CCTV yang merekam tepat di depan ruang semayam Oma saya, yaitu ruang VIP B. Selama beberapa jam, kami menyelidiki, sampai akhirnya, saya melihat ada 1 laki-laki, yang berjalan cepat, sambil menenteng tas wanita, tapi tidak terlalu jelas. Kami ulang lagi berkali2. Kemudian, saya minta rekaman dari kamera yang merekam jalan keluar Rumah Duka, pada waktu yang bersamaan.

BINGO! Betul saja, ternyata laki-laki itu membawa kabur tas tante saya, ditutupi dengan tas kresek putih. Mendadak sepupu saya ingat, ada seorang bapak-bapak yang datang dengan tas kresek putih, tetapi tidak masuk ke dalam ruangan melainkan duduk di luar selama acara Misa Pelepasan berlangsung. Kami mengulang lagi rekaman dari waktu yang lebih awal, dan ternyata benar. Orang ini duduk di luar, merokok, tidak menyapa siapapun. Dan dia masuk tepat setelah Misa selesai dan kami sedang melakukan penghormatan terakhir. Sebelumnya, dia datang dan celingak celinguk di ruangan semayam tetangga yang kebetulan hari itu berangkat juga, tapi dia tidak mendapat mangsa. Dia mendapat mangsa di tempat kami, setelah menunggu selama lebih kurang 30 menit.

Ini dia kronologis gerak gerik si maling berdasarkan rekaman CCTV yang kami tinjau kembali selama berjam-jam.

Camera 3: 8:40 AM: Tiba di gerbang rumah duka

Camera 3: 8:41 AM: Menghampiri bus yang kami sewa, ketemu teman (sepertinya teman sekomplotannya), kemudian berjalan bersama ke dalam, tapi berbeda arah (sepertinya temannya menuju ke bagian bawah, dan dia menuju ke atas alias daerah VIP).

Camera 7: 8:45 AM: Masuk ke lantai atas dan celingak celinguk di tetangga-tetangga ruangan Oma saya, mencari mangsa selama beberapa menit, tapi tidak berhasil.

Camera 7: 8:49 AM: Duduk di depan ruangan Oma saya. Di dalam ruangan misa sedang berlangsung. Dia duduk sendiri, sama sekali tidak menghampiri meja penerima tamu.

Camera 7: 9:01 AM: Mencoba masuk ruangan kami. Sepertinya saat itu kami sedang proses komuni, sehingga dia akhirnya gagal lagi untuk melaksanakan misinya, dan akhirnya dia kembali duduk.

Camera 7: 9:09 AM: Dia mencoba kembali masuk ruangan, dia menunggu di belakang tiang. Dan pada saat misa bubar, dia berhasil masuk.

Camera 7: 9:16 AM: Dia berhasil mencuri tas tante saya, berjalan keluar cepat dari ruangan, melintasi lorong, dan langsung mengarah keluar.

Camera 3: 9:16 AM: Di detik-detik akhir, ada penampakan dia keluar, berlagak menuju ke bus, tapi setelah itu langsung kabur ke pintu keluar gerbang rumah duka.

Grrrrrhhhhhhhh....!!! Malingnya Professional !

Ciri2: Laki-laki, keturunan Chinese, lebih kurang 30-40 tahun. Memakai kemeja putih dikeluarkan dan celana bahan, persis seperti orang yang mau melayat. Membawa kantong kresek putih.

Pihak rumah duka mengaku belum pernah ada kejadian seperti ini. Saya sendiri TIDAK PERCAYA, karena menurut saya malingnya ini benar-benar canggih, licin sekali sekali cara kerjanya. Pasti dia sudah sering melakukan hal seperti ini. Hanya saja, biasanya orang Chinese totok tidak memprosesnya lebih lanjut, karena dipikir bakalan pamali kalau pemakamannya terlambat alias liat jam, hitung menit, dan lain-lain. Untungnya kami tidak totok, dan sudah Katolik semua, sehingga kami masih follow up kejadiannya. Ketika kami minta pihak keamanan untuk memantau, malah dibilang,

"Kalau keturunan Chinese gitu, nanti tau-tau keluarga lagi."

Cape deh! Sekarang mah orang mana aja juga bisa jadi maling kali Pak!! Yang penting kan mestinya pihak keamanan waspada, memantau dengan lebih seksama lagi.

Buat semua orang, berhati-hatilah. Mereka berpakaian rapi layaknya keluarga dan beroperasinya di Rumah Duka atau Rumah Sakit. Maling will always be Maling! Dengan segala cara, tidak punya hati, tidak memikirkan kami yang sedang berduka. Semoga deh... semoga nih... uangnya nanti dipakai untuk beli susu anaknya, atau membiayai keluarga yang sakit. Ya Tuhan, ampunilah orang ini, sebab dia tidak tahu apa yang dia lakukan.

12 comments:

  1. Ya ampun! Bener-bener semoga ada balasan yang setimpal di akhirat dehhh. Praktek maling kok di pemakaman ya, nggak takut kualat ya?

    ReplyDelete
  2. @Lei: Gue gak tau deh Lei tuh orang apa yang dipikirin. Hari gini, kayaknya gak takut kualat. Di makam bokap gue aja, salib baja segede bagong dipotong! Katanya sih besinya dijual... di MAKAMnya loh! Indonesia tanah air beta ini emang MAGIC!

    ReplyDelete
  3. wah mesti hati2 ya kalo di rumah duka, banyak yang memanfaatkan kesempatan, gua inget pas di rumah duka juga gua suka geletakin tas asal, emang namanya orang jahat selalu ada aja..
    yang bikin gondok petugas rumah dukanya kok gak ada tindak lanjutnya ya.. payah..

    ReplyDelete
  4. @Pucca: Si petugas rumah duka juga nggak mau disalahin sih Vi. Intinya dia gak mau dibilang kalo rumah dukanya tuh nggak aman. Padahal udah jelas-jelas deh tuh nggak amannya.

    ReplyDelete
  5. san diego hill karawang yah ?! hahaha.. klo di karawang emang kudu hati2 walaupun san diego termasuk yang paling elite saat ini :)

    ReplyDelete
  6. Aduh, beneran tuh orang mencari kesempatan banget ya. Mudah2an dapet ganjarannya. Kayak dulu ada org ngejambret temennya nyokap, pdhal didalam tas tsb ada uang dana gereja, eh tau gga, gitu selese gondol tas, tuh jambret lari, nyebrang jalan, gubrak,,, ketabrak mobil.

    ReplyDelete
  7. wah kebangetan tuh malingnya ya!!!
    yah biarin aja ny,biar Tuhan yang membalas ya...

    sekalian ini jadi pelajaran dan pengalaman buat kita semua, jangan pernah meleng! sesibuk apapun, harus waspada, karena maling emang bisa ada dimana2.... ya gak...

    ReplyDelete
  8. @Pitshu: Di San Diego Hillsnya sih ga kenapa-kenapa. Malah semuanya lancar, professional. Emang mahal sih terus terang, tapi servicenya sesuai lah sama harganya. Yang kejadian pencurian itu di Rumah Duka Jelambar.

    @Babybeluga: Yah gue sih terus terang gak tau deh apa yang terjadi sama tuh orang nantinya. Makanya, semoga deh, dia gak pakai uangnya untuk senang-senang atau berjudi. Kalau untuk berobat atau kasih makan keluarganya yang kelaparan, kita relakan.

    @Arman: Bener man. Sejak saat itu, semua orang pegangin tasnya masing-masing. Pinter tuh Man, malingnya nyolong pas kita lagi kasih penghormatan terakhir. Elu tau kan yang kuikui gitu (sujud 3 kali), jadi kan repot bawa tas.

    ReplyDelete
  9. Maling emang pinter cari kesempatan kala kita lagi musibah/sakit jd gak konsen. Di rumah sakit terutama RSCM, udah sering cerita teman kehilangan laptop, hp, dompet sampai proyektor LCD (jaman dulu yang masih besar) pun diangkut.

    ReplyDelete
  10. @once_alifetime: Wah, selama elu jadi dokter sering juga ya menghadapi beginian. Emang maling di Indonesia itu antik!

    ReplyDelete
  11. Ikut berduka cita buat Oma ya jeng...
    thank u jg buat sharingnya...biar teman2 yg lain suatu saat alert sblm ada kejadian yg kek gini.

    ReplyDelete
  12. @Tiwi: Iya, memang itu tujuanku, untuk sharing mengenai keamanan di Indonesia yang makin memprihatinkan.

    ReplyDelete