Tuesday, November 23, 2010

Perjuangan Jadi Kurus

Hehe, target nulis blog seminggu sekali kemarin failed berat, gara-gara ada acara kantor rapat kerja di lembang dari Kamis sampai Sabtu, plus sisanya tepar berat, jadi deh, ketunda ngisi blog entrynya. Dan berhubung otak lagi mandek mau nulis apaan, mendingan nulis pengalaman yang udah lewat, tapi mungkin mayan berguna yah buat teman-teman sekalian.

Kalau orang lihat saya beberapa tahun terakhir ini, mungkin banyak yang tidak nyangka kalau saya dulu berbentuk agak seperti babi alias gendut abis. Dari kecil, saya tidak pernah mengenal yang namanya kurus. Pas saya kelas 4 SD, badan saya sudah bongsor dengan berat dia atas 50 kg. Terus naik dan naik ke puncak gunung, dan rasanya saat SMU, berat badan saya ada di sekitar angka 70-an. Dengan tinggi badan yang sedang-sedang saja di bilangan 163cm, saya sungguh terlihat seperti bola.

Orang tua saya saja sudah tidak tau harus bilang apa dengan keadaan bobot saya yang mayan besar ini. Selain saya gemuk, saya juga sangat cuek. Sekolah di sekolah khusus putri yang pelajarannya berat minta ampun di jurusan IPA, membuat saya serasa tidak punya waktu untuk ngurusin penampilan. Rambut cepak, kacamata tebal, badan besar, ah....gak peduli deh. Boro-boro mikirin cowok, ulangan gak dapat merah saja sudah bagus.

Saat saya mau kuliah, berat badan saya sudah turun di bilangan 65-an. Itupun masih terlihat besar, dan ketika saya mulai kerasan sekolah di state penghasil keju, berat badan saya kembali melonjak di bilangan 70-an. Tapi saya tetap saja cuek. Gendut-gendut begini, tetep aja loh, punya pacar! hihihihi... *blagu amat sih lu Non*. Dan tiap kali punya pacar, bukannya tambah kurus, malah tambah gendut! Lantaran sang pacar sama-sama doyan makan, jadi deh wisata kuliner sana sini bertambah. Apalagi hobi saya memasak sangat tersalurkan pas saya di Amerika sana.

Puncak kegemukan saya adalah saat saya mulai bekerja sebagai auditor di salah satu Kantor Akuntan Publik ternama. Di KAP itu, fasilitasnya wow. Menginap di hotel bintang 5 sudah biasa, bahkan saya menghabiskan lebih banyak waktu di hotel daripada di rumah sendiri. Yang namanya makan di luar dengan berbagai pilihan menu, itu lebih biasa lagi. Steak, lobster, cheese, wine, dan lain-lain, rasanya seperti tanpa batas. Tahun pertama saya bekerja, berat badan saya melonjak 15 kg!!! Dan di saat gemuk itu, lagi-lagi saya cuek, karena toh, tetep saja punya pacar. PS: Sampai saat itu, sudah 3 kali loh ganti pacar hahahahah...

Suatu hari, di akhir Januari 2006, saat itu perayaan tahun baru Imlek. Saya berkumpul bersama beberapa teman dekat di Metro Hotel Downtown untuk menikmati hidangan penutup. Dan saat itu kawan saya mengambil beberapa foto, dan besoknya foto tersebut dikirimkan ke saya. Pas menerima foto itu, saya SHOCK berat. Benar-benar shock! Saya terlihat sangat jelek. Badan saya lebar, leher berlipat. Baju-baju saya memang masih kelihatan lumayan keren, karena saya selalu membeli yang baru dan terus membeli yang baru mengikuti bentuk badan saya. Betul-betul pemborosan yang bodoh! Saya merasa malu, bahkan saya tidak berani mengirimkan foto terbaru saya ke orang tua.

Berat badan saya saat itu, ada di bilangan 78kg. Saya bingung, apa yang harus saya lakukan. Namun dengan tekad bulat, akhirnya saya bertekad, saya harus berubah. Saya adalah orang yang sangat anti dengan yang namanya jalan pintas, apalagi jalan pintas untuk diet. Jadilah saya mulai berjuang, membuat program sendiri. Di bulan Februari, saya membeli treadmill. Setiap hari saya rutin berlatih, tidak harus lari kencang, tetapi harus rutin, setidaknya 30 menit per hari. Kalau saya ada di luar kota, saya minta pihak hotel untuk memasukkan 1 unit treadmill atau unit cardio lainnya ke kamar saya.

Tadinya saya sangat sembarangan kalau makan. Saat itu saya mulai mengatur makan saya. Betul-betul saya jaga dan saya hitung kalorinya. Yang tadinya makan steak, lobster, dan lain-lain, mulai saya ganti dengan salad, buah, dan dada ayam tanpa lemak. Kalau saya sempat, saya siapkan makan siang saya sendiri, berupa salad buah dan toast. Saya juga tidak mau diet gila-gilaan sampai lupa akan asupan gizi. Jadi saya atur supaya saya tetap beroleh karbohidrat, protein, dan vitamin yang pas.

Di kala saya merasa sukses dengan target mingguan saya, saya tidak ragu untuk memberikan penghargaan sedikit, misalnya, saya masih bisa makan ribs, atau es krim, dengan jumlah yang saya batasi, supaya tidak menghancurkan diet saya. Saya sangat enjoy sekali perjalanan saya menurunkan berat badan. Setiap hari saya mewajibkan diri untuk menimbang berat badan saya, supaya kontrolnya dipertahankan.

Hasilnya ?? Di bulan Oktober 2006, saya pulang ke Jakarta untuk liburan. Di Airport, saya bingung,kok tidak ada yang menjemput saya. Saya nunggu di dekat kantin...lamaaaa banget...sampai akhirnya saya melihat mama saya, saya panggil dia, dan dia KAGET! Dia bilang, dia sudah melewati saya berkali-kali, dan tidak mengenali saya sama sekali. Padahal saat itu berat saya masih sekitar 62 kg, yang berarti turun 16kg dari berat tertinggi saya. Dan bulan Desember 2006, 10 bulan setelah berlatih keras dan menjaga asupan makanan, berat saya turun menjadi 55kg. 23 kg dalam 10 bulan, tanpa obat, tanpa ramuan pelangsing, hanya diet yang baik, dan olahraga yang teratur.

Jadi apa senjata no. 1 dalam menguruskan badan ??? Jawabannya adalah: TEKAD dan DISIPLIN! Hal ini berlaku untuk segala hal, dalam pekerjaan, dalam sekolah, dan tentunya, dalam diet. Percaya deh, pasti bisa! Makanya, jangan ketipu sama segala jenis obat-obatan pelangsing, yang ujung-ujungnya cuma merusak ginjal. Buat yang mau diet atau mau tanya-tanya, dipersilakan :).

Oh iya, sekarang berat badan saya lagi naik di kisaran 60kg-an nih. Ini karena kemarin saya baru menjalani operasi besar, dan di masa recovery itu, saya jadi makan banyak, dan tidak terlalu beraktifitas yang melelahkan. Operasi apa ? Nanti kapan-kapan saya cerita yah. Sekarang ini saya lagi mau berusaha diet lagi, supaya balik normal, soalnya baju-baju sudah mulai kesempitan hihihi. Doakan berhasil yah.

Semoga entry kali ini berguna.

Tuesday, November 09, 2010

Norak Nggak Sih ?

Cerita ini sebenarnya bukan saya sendiri yang mengalami, tapi adik saya. Jadi ceritanya, minggu lalu dia hadir ke resepsi perkawinan salah satu co-workernya. Resepsinya diadakan di sebuah hotel. Saya sih gak tau ini hotel bintang berapa ya, tapi yang pasti hotel ini ada di kelas menengah, lokasinya di bilangan Tanah Abang sana. Buat yang tinggal di Jakarta, pasti sudah bisa mengira-ngira hotel apa namanya.

Nah, sekarang kan di Jakarta lagi ngetrend tuh, pake photo booth. Jadi kayak ABG jaman dulu, pakai box untuk berfoto dan hasilnya langsung jadi, sehingga bisa digunakan sebagai souvenir. Saya sudah beberapa kali ke resepsi perkawinan yang ada photo booth ini, dan biasanya di foto tersebut otomatis tercetak nama kedua mempelai dan tanggal resepsi. Kadang juga ada nama tempat resepsinya tercetak kecil di banner. Nah, kalau pengantin yang satu ini, nggak tau norak atau apa, masak sih, dicetak LOGO HOTELnya lumayan besar di pojok kanan atas. Pas pulang-pulang, adik saya sampai bilang, kalau dia mau gunting aja sisi kanan fotonya, biar logo besarnya itu tidak mengganggu.

Apa mungkin untuk kedua mempelai ini, bisa menikah di hotel tersebut merupakan suatu pencapaian besar? Saya sih sangat mengerti standar setiap orang mengenai tempat resepsi itu berbeda-beda. Mungkin saja buat keluarga mereka, bisa berpesta di hotel tesebut cukup membanggakan. Namun sekiranya demikian, apa perlu mencantumkan logonya di setiap foto yang tercetak untuk suvenir pernikahan yang dibawa oleh tamu2? Kesannya bukannya malah jadi norak ya? Soalnya yang berpesta di tempat-tempat yang lebih mewah saja tidak sampai seperti itu kok.

Di dalam pesta tersebut, juga ada pembagian hadiah, kayak door prize gitu lah. Biasa kan ada lempar bunga, ada kuis. Pengantin yang ini agak unik, mereka meminta teman-teman mereka untuk maju dan seperti mengambil undian di dalam toples besar. Kalau dapat, undiannya itu dibuka, ada tulisan "anda belum beruntung" atau "anda sedang beruntung". Kebetulan adik saya dapat tulisan "anda sedang beruntung". Jadi cukup senanglah dia. Yang belum beruntung mendapatkan boneka-boneka teddy bear kecil, dan yang beruntung mendapatkan 1 box yang oleh adik saya dibawa pulang ke rumah. Sebagai orang yang beruntung, diajak juga untuk foto bersama, yah, seperti layaknya kalau dapat lempar bunga, kan diajak foto juga tuh bersama kedua mempelai.

Adik saya sih tidak mempunyai ekspektasi tinggi untuk hadiah apa yang dia bawa pulang. Tapi sampai saat ini, sejelek-jeleknya hadiah door prize itu adalah telepon genggam buatan China seharga 150-200 ribuan lah. Pas sampai rumah, dia buka hadiahnya...eng ing eng...apakah itu ?? Setelah kertas kadonya dibuka, ternyata di dalamnya masih dibungkus kertas koran. Setelah kertas korannya dibuka, ternyata ada sebuah box butut yang sepertinya bukan box dari barangnya. Dan barangnya itu ternyata adalah sebuah keramik BUTUT, asli butut banget, saya gak akan tega bilang butut kalau nggak bener-bener butut. Keramiknya di cat sembarangan, dan tulisannya plentat plentot, kayak produk gagal bikin. Kecewalah adik saya, karena menurut dia, mendingan dapat yang "anda belum beruntung", setidaknya dapat boneka teddy bear kecil yang dia bisa kasih ke orang lain. Lah, kalau keramik butut ini, kasih ke orang lain juga gak tega. Mau dipakai juga gak tau buat apaan.

Besoknya, kita sekeluarga masih membahas lagi soal keramik tersebut. Dan fakta lebih jauh soal keramik ini adalah, ternyata di bawahnya masih ada label harganya. Tulisannya : Love Jewelry Box Rp. 78,000. Pertama, masak sih orang kasih hadiah masih ada label harganya? Apa gak malu ya? Apakah Rp. 78,000 itu merupakan angka yang besar buat si mempelai atau tidak, itu kan relatif ya. Tetapi yang sudah jelas, tidak mungkin keramik itu harganya Rp. 78,000, dan saya malah merasa itu adalah barang bekas, karena boxnya tidak cocok, dan dibungkus sembarang dengan kertas koran sebelum dibungkus lagi dengan kertas kado.

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, ternyata, label harga yang Rp. 78,000 itu adalah, LABEL BIKINAN! Jadi ternyata setelah kita sobek label harga tersebut (yang ternyata gampang banget sobeknya), di bawahnya itu ada bekas label harga asli yang sudah berusaha untuk disobek sebelumnya. Sekarang ini yang saya pertanyakan, sebetulnya niat nggak sih si kedua mempelai ini bikin door prize ? Dan kenapa harus pakai kamuflase harga segala ? Pasang label harga saja udah malu, dan ini ditambah lagi ternyata labelnya palsu.

Sebenarnya, masih banyak lagi cerita kelebay-an dari acara resepsi perkawinan, tetapi tidak pernah menemukan yang seunik ini. Hehehe. Cerita ini saya tujukan untuk para calon pengantin, yang mungkin masih memikirkan acara seperti apa untuk pernikahan mereka. Banyak orang-orang yang ingin unik, ingin dianggap keren, tapi kok malah kesannya lebay dan norak juga. Kalau menurut saya, mendingan sederhana, tapi berkesan, dan tidak memaksakan. Untuk kedua mempelai, saya mendoakan anda berdua semoga langgeng sampai kakek nenek, diberkahi dengan anak-anak yang baik dan sehat, serta kemakmuran dan berkat Tuhan selalu menyertai.