Friday, October 29, 2010

Ulah Tetangga Part 2

Seperti yang saya janjikan di postingan sebelumnya, akan ada lanjutan kisah tetangga di sebelah kanan. HA HA HA...*tertawa lebar seperti nenek lampir, musik gaya suspens*. Ya, mungkin bisa dibilang ini tetangga yang lumayan horor karena: KEJUDESANNYA.

Disclaimer: Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mencari masalah, tetapi hanya sekedar curhatan belaka, baik untuk tetangga yang kiri, maupun tetangga yang kanan. Mohon maaf sebesar-besarnya jika ada pihak-pihak yang kurang berkenan. Tetapi jika tetangga-tetangga saya membaca ini, mungkin bisa dijadikan bahan refleksi juga untuk kehidupan bertetangga. Terima kasih.

Tetangga sebelah kanan rumah saya itu adalah dua orang gadis berumur di atas 50 tahun. Iya, kenapa saya menyebutnya gadis ? Ngerti sendiri lah ya. Nah, dua orang gadis ini adalah kakak beradik gitu. Satu aja repot kan ? Apalagi kalo dua? Nah... Silakan dibayangkan sendiri. Tetangga ini adalah tetangga yang sama dari sejak saya dilahirkan ke dunia sampai sekarang, jadi saya kenal betul sifat dan bagaimana pergaulan antar tetangganya. Dulu si kakak beradik ini tinggal bersama mamanya. Setelah mamanya meninggal, jadi tinggal mereka berdua saja.

Ciri-ciri si tetangga ini adalah, JUDES ABIS. Semua tetangga-tetangga sekitar rumah yang lain juga suka bilang ke kita kalau tetangga kita yang satu itu memang seperti tidak mau bergaul. Ya, rada ekslusif gitu deh. Tiap pagi sih saya suka liat dia jalan ke pasar, plus saya sih masih manggil walaupun sekedar basa basi saja. Yang saya tau, dari dulu dua gadis ini tidak pernah cocok sama yang namanya pembantu. Menurut curhatan para pembantunya ke pembantu saya di masa lalu sih, katanya para pembantunya ini rajin banget dimarah-marahin, plus dua nyonyanya itu pelit parah. Sebagai contoh, rumah segitu besar, kalau malam lampu yang nyala cuma 2 biji dan remang-remang. Namanya gosip antar pembantu, tentu cepat lah ya nyampenya. Kayaknya gak ada pembantu yang tahan lebih dari setahun deh sama mereka. Sekarang sih mereka sudah gak pakai pembantu lagi.

Sebetulnya, punya tetangga yang judes, menyebalkan, galak, itu mah sudah biasa kali ya. Tetapi ketika hal tersebut berhubungan langsung dengan diri kita, nah itu baru mengganggu. Kejadiannya itu dimulai dari saat saya merenovasi rumah. Kebetulan rumah saya dirombak total dan dibangun ulang dari pondasi. Jadi sudah pasti dong ya, banyak tukang dan banyak debu. Nah, setiap hari, si duo gadis ini menelpon mama saya atau saya, dan berkicau. Begini lah, begitu lah, komplen sana sini. Nelepon tetangga, isinya cuma makian, dan ketusnya, alamaakkkk... Padahal beberapa tahun sebelumnya, mereka juga melakukan hal yang sama alias merenovasi total rumahnya. Malah dahulu lebih parah, pernah ada balok kayu besar minta ampun mendadak terlempar ke rumah saya dan hampir menghantam mama saya. Tapi berhubung kita gak pernah nyari ribut, ya sudah kita diam-diam saja lah.

Nah, kegilaan duo gadis ini bertambah lagi. Gara-gara kita renovasi rumah, mereka juga gak mau kalah. Kegilaan pertamanya adalah: ikut meninggikan dinding! Kemudian mereka juga menambah teralis dan pagar besi di samping rumah, kesannya itu kayak tukang-tukang yang kerja di rumah saya mau ngemaling di rumah dia. Saking parnonya mereka, setiap malam, mereka yang biasa pelit, lampunya jadi TERANG BENDERANG!! Ditambah lagi, dia telepon mama saya, ngoceh, katanya tukangnya kerja itu gak boleh sama sekali mampir di area rumah dia. LAH! Namanya kita lagi bikin dinding, sudah pasti ada dua sisi dong? Sudah gitu saat ada kotor2 sedikit di tembok mereka, merek ribut lagi, minta kontraktor saya untuk cat tembok SEGERA. Padahal kontraktor saya sudah bilang, begitu proyek selesai, bagian tembok dia akan dicat ulang. Kontraktor saya pun suka ditelepon langsung dan cukup kenyang dimaki, sampai rasanya si kontraktor lumayan frustasi dan sampai mengadu ke mama saya kalau dia stress pas bangun rumah saya gara-gara suka dimaki sama di duo gadis. Ya, sebenarnya sih, dari si duo gadis itu, jubirnya cuma satu aja ya. Tapi menurut saya sih, kalau yang satunya baik, dia gak akan mendukung saudaranya untuk melakukan tindakan yang tidak mengenakan. Jadi saya anggap saja mereka merupakan satu kesatuan.

Ada kejadian belum lama ini, waktu itu adik saya pulang malam, dan gak tau kenapa, di depan pagar rumah saya ada mobil sehingga adik saya tidak bisa memasukkan mobilnya. Kemudian di bagian tembok rumah saya juga ada mobil parkir, jadinya adik saya terpaksa parkir di bagian tembok rumah si duo gadis, yang notabene TIDAK menghalangi aktivitas si duo gadis keluar masuk rumah. Saya tuh punya perasaan gak enak, saya bilang ke mama,"Ma, gawat nih, jangan2 mereka bakalan marah kalau kita parkir di depan tembok rumahnya." Mama saya bilang, "Gak mungkin lah, gila apa ? Itu kan mestinya gak jadi masalah, apalagi kita tetangga sama-sama kenal." Tapi ternyata dugaan saya terbukti. Pagi-pagi buta, kayaknya sekitar pukul 6.30 pagi deh, telepon saya berdering2, dan kebetulan mama yang angkat. Benar saja, kita dikomplen dengan nada kasar, dan pakai ancaman "awas" kalau berani parkir lagi. Mama saya pun akhirnya mengkonfirmasi, kalau duo gadis ini benar-benar ajaib dan di luar ekspektasi!

Dan inilah yang paling mengejutkan! Save the best for last ceritanya. Sederhana sih, tapi lumayan mengejutkan. Suatu pagi, kita bingung... kok di rerumputan rumah kita, ada kayak gulungan gitu, ya kayak rol kecil lah yang diikat dengan karet gelang. Pas kita buka, kita shock, ternyata itu adalah daun-daun bambu yang digulung. Setelah kita teliti, kira-kira beginilah ceritanya. Desainer taman kita menanam tanaman baru di samping rumah, yaitu pohon bambu kuning. Nah tau sendiri kan, namanya tanaman berdaun, pasti daunnya kalau copot suka berterbangan kemana-mana. Rupanya ada beberapa lembar daun bambu yang masuk ke halaman rumah si duo gadis. Dan rupanya mereka tidak senang dengan kejadian itu, sehingga mereka kumpulkan daun bambu yang masuk ke halaman rumah mereka, menggulungnya, mengikatnya dengan karet gelang, dan melemparnya kembali ke halaman rumah kita. Cuma satu komen dari saya: YA AMPUUUUUNNNNN !!!

Demikianlah, liputan dari saya, sekian dan terima kasih. *Jangan sampai ada Ulah Tetangga Part 3 deh*

Thursday, October 21, 2010

Ulah Tetangga part 1

Tempat saya tinggal dari kecil sampai sekarang adalah sebuah kompleks yang aman, damai, dan tenteram. Saya sangat bahagia tinggal di kompleks ini sepanjang hidup saya. Rata-rata tetangganya baik-baik dan ramah, lingkungan sekitar juga nyaman banget deh! Kenapa saya sebut rata-rata tetangganya baik-baik dan ramah?? Karena ada ajaaaaaa tetangga yang memang bikin keki!

Mari kita mulai dari tetangga sebelah kiri!

Tetangga sebelah kiri saya itu sudah beberapa kali ganti penghuni karena kebetulan rumahnya itu dikontrakkan. Dari dulu sampai sekarang tidak ada masalah, sampai akhirnya pada penghuni yang sekarang. Isinya itu adalah engkoh-engkoh, sepertinya sih bukan orang Jakarta ya, lebih seperti pendatang gitu. Dia itu punya usaha daur ulang besi-besi bekas display supermarket. Jadi bayangkan, setiap hari kita melihat ada besi-besi bekas diantar ke rumahnya, kemudian dikikis, dan di cat kembali. Nah, bayangkan saja tuh, suka brisik, suka kotor, tapi kita sebagai tetangga yang baik, gak pernah ngeluh.

Nah, di rumahnya itu ada pohon mangga gede banget yang sangat membahayakan. Pohonnya, terutama dahan-dahannya itu mengerikan sekali besarnya, dan kalau roboh, benar-benar bisa kacau. Yang lebih parahnya lagi itu, sepertiga pohonnya itu, masuk ke halaman rumah kita dan bisa saja menimpa mobil. Sudah berkali-kali mama saya meminta tolong kepada mereka, tapi tidak pernah diladeni. Pokoknya, orang ini tipe yang ga mau keluar uang sama sekali. Rumah kontrakannya mau hancur saja, sama sekali tidak dia perbaiki, apalagi mau ngurus pohon kan? Akhirnya karena kita ngeri sendiri, kita panggil tukang untuk gergaji pohonnya. Sekarang sih sudah rimbun lagi, tapi gimana? Masak tiap kali mesti kita yang bayar ratusan ribu gara-gara pohonnya dia sih?

Tapi kejadian ultimatenya sih kira-kira dua bulan lalu. Waktu itu sekitar pukul 1 pagi, adik saya pulang dari proyek. Karena kecapaian, dia tak sengaja menyenggol mobil si tetangga ini yang diparkir di jalanan. Karena adik saya baik, dia panggil si Engkohnya itu, dan minta maaf, dan akan bertanggung jawab. Kenanya cuma sedikit, bahkan tidak kasat mata. Ibaratnya kalau dibawa ke bengkel, tinggal di tarik, yakin banget gak sampai 200 ribu. Kemudian si Engkohnya itu ya, biasa deh, marah-marah. Kemudian mama saya bilang, kalau kita yang akan tanggung jawab, dan kita akan bawa ke bengkel rujukan yang sudah terkenal bagus kualitasnya. Tapi si engkoh ini diam saja. Sebagai pemberitahuan, mobilnya si Engkoh ini adalah minibus butut kecil tahun super lawas.

Besoknya, si Engkoh ini datang ke rumah, eh dia ngomong kalau dia minta mentahnya saja. Mintanya gak tanggung-tanggung, angka yang jauuuuhhh di atas normal. Dia pakai bilang, kalau dia mau bawa ke bengkel yang bagus, bengkel temannya, kalau murahan nanti hasilnya jelek. Tapi kok minta mentahnya ya ?? Mama saya tetap dong bilang, kalau memang mau dibawa ke bengkel, kita bawa ke bengkel resmi rujukan, apalagi bengkel langganan kita ini sangat bagus kualitasnya, bahkan mobil-mobil mewah Eropa saja dibawa ke sana. Yang nyebelinnya itu, si Engkoh pake bilang dengan aksen cadelnya, "Gini deh ci, kita kan sama-sama Tenglang, udah lah enci kasih saya duitnya aja." WTH!! Emangnya apa hubungannya suku sama duit ? Mama saya cuma bilang, "Koh, pokoknya kalo engkoh sudah siap dibawa mobilnya, tinggal hubungi saya, saya anter." Dan si Engkoh balik ke rumahnya tanpa kabar berita.

Dua minggu berlalu. Tidak ada tanggapan sama sekali dari si Engkoh. Tapi yang aneh adalah, mobilnya dia, tambah hari tambah lecet2 dan rusak-rusak, dan bukan di bagian yang kena dulu melainkan di bagian lain. Yang tadinya cuma dent kecil, sekarang jadi bonyok2 dan banyak baret-baret. Eh mendadak si Engkoh dateng ke rumah, dan kali ini bawa bekingan! Bekingannya tuh Engkoh2 lain dengan badan kurus kering, gigi hitam-hitam, dan wajah menyeramkan. Malu-maluin banget, pake bawa bekingan buat menghadapi seorang janda! Hiyah! "Eh Ci, saya udah siap nih. Yok ke bengkel!" Nahloh! Mama saya kaget! Karena dent yang kecil sekarang jadi brantakan. Mama saya bilang, "Loh Koh, kok mobilnya jadi begitu? Kan waktu itu cuma kecil aja." Dijawab, "Ya karena Enci gak kasih duitnya, saya coba ketok-ketok sendiri." WTH!! (again). Kurang baik apa sih ya kita? Nawarin untuk bawa ke bengkel bagus buat dent kecil, sekarang mau diperas!

Mama saya jelas-jelas menolak permintaan dia ke bengkel. Akhirnya dia kembali minta uang, yang jumlahnya LEBIH BESAR LAGI dari permintaan sebelumnya. Ya ampun... orang tuanya didikannya bener gak sih tu orang? Karena mama saya juga punya posisi kuat di situ, mama saya cuma bilang kalau daripada ribut, kita mau cari jalan tengah, dan tercapailah jumlah angka beberapa ratus ribu. Walaupun kita rugi, daripada ribut lagi, mendingan sudah lah, di settle saja. Nah, saat itu, mama saya di rumah cuma ada uang sekian, yang jumlahnya kurang 50 ribu rupiah dari apa yang diminta. Eh si Engkoh itu gak percaya kalau mama saya gak pegang uang cash. Mama saya cuma bilang, "Nih saya adanya segini, kalau mau 50 ribu lagi, dateng aja lagi besok." Bener loh!! BESOKNYA DATENG LAGI!! NGAMBIL DUIT 50 RIBU!! Ya amppppuuuunnnnn ... *brapa kali ya kudu nyebut kata ya ampun...*

Dan saudara-saudari pembaca, pada akhirnya selesailah masalah tersebut. Kita menunggu dan menunggu, kapan ya itu mobilnya akan diperbaiki. Ternyata eh ternyata, GAK DIPERBAIKI !!! Malah yang sisi lain yang bukan disebabkan oleh kita yang diperbaiki. CAPE DEH!! Koh, kalo mo meras orang kira-kira dong. Masak sama tetangga kayak gitu sih??

PS: Tetangga sebelah kanan, akan diceritakan di part 2. Tunggu tanggal mainnya.

Tuesday, October 12, 2010

10-10-10

What's so special about this day ?

It's not about getting 4 invitations and getting confused on which one that I should go to
It's not about stuck in the traffic with so many people rushing from one wedding to other
It's not about spending too much money for hong baos

So what is it all about?

It is about NOT being special!

How come you said it's SPECIAL when there are too many people having their weddings at the same time?

For the rest of you who wants to be part of other special dates, you only have 2 more days left till the next century!
They are 11-11-11 and 12-12-12

Go book your wedding date now!

PS: Anyway, it's still a special day for many couples there. It's the beginning of their journey together in life. Congratulations to all of you :D

Tuesday, October 05, 2010

Serius Dikit

Tadi siang, saya habis terlibat pembicaraan seru dengan seorang teman dan maminya. Si Maminya ini sayang dan care banget sama anak cowoknya, dan pingin anak cowoknya ini cepat-cepat menikah. Padahal anak cowok ini masih 2 tahun di bawah saya umurnya. Kebetulan, dulu si cowok sudah pacaran dengan seorang cewek sampai 5 tahun lamanya, sebelum akhirnya mereka mengakhiri kisah cintanya. Dan sekarang si cewek sudah menikah dan sudah punya anak. Maminya teman saya ini, masih tetap berpikir, sayang banget dulu sampai pisah, semestinya harus sama cewek itu saja. Tetapi saya cuma bilang, "Bukan jodohnya, Tante. Lama pacaran tidak menentukan apakah orang tersebut mengenal satu sama lain. Berarti, memang bukan dialah yang terbaik untuk anak Tante."

Jadi, yang terbaik itu seperti apa sih? Soal jodoh dan pasangan hidup, adalah hal yang serius untuk dibicarakan. Di saat orang berpikir kalau dia sudah menemukan jodohnya, terkadang suka mengabaikan hal-hal yang sebenarnya penting. Buat kita yang wanita, seringkali syarat utama seorang pria single yang dianggap cukup untuk menikahinya adalah sudah mapan. Beberapa hari lalu, saya mendapatkan sebuah forward-an yang sangat bagus untuk dibagikan. Kebetulan, forward-an ini berlaku untuk wanita, membicarakan tanda pria yang mempunyai masa depan, yang berarti juga merupakan sebagian syarat dari pria yang baik untuk dijadikan calon pendamping.

1. Punya tujuan hidup
Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.

Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, "Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir."

2. Mandiri
Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

3. Hobi menolong
Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.

4. Bersahabat dan berwawasan
Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.

5. "Family man"
Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.

6. Memiliki investasi
Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.

7. Realistis dan lurus
Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

8. Optimistis dan positif
Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata "tidak bisa" atau "malas deh melakukannya". Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.

Bagaimana? Apakah syarat-syarat itu sudah ada pada pasangan anda? Dan untuk menjadi seorang calon suami yang baik, saya merasa perlu untuk menambahkan beberapa faktor lagi. Hal di bawah ini mungkin tidak disetujui oleh semua orang, karena merupakan pendapat pribadi saya, berdasarkan pengalaman pribadi.

1. Taat pada Tuhan.
Orang yang taat pada Tuhan pasti menghormati istri, menghormati orang tuanya, dan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dia akan berjuang supaya keluarganya bisa bahagia, dan tentu saja relasinya dengan orang lain juga bermakna. Dia akan menjalankan perintah cinta kasih sesuai dengan yang diajarkan oleh agamanya, sesuai dengan janji yang diucapkannya di dalam perkawinan di hadapan Tuhan, sehingga faktor untuk meninggalkan, apalagi mengkhianati keluarganya tidak terlintas dipikirannya.

2. Latar belakang keluarga yang baik.
Memang terdengar cukup menghakimi kalau saya bilang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saya (yang pernah cukup menyakitkan), orang tua yang cara didik dan cara pikirnya tidak baik, akan menularkan ke anaknya. Anak yang dicekoki oleh orang tuanya pengajaran yang salah, akan tumbuh menjadi anak dengan pola pikir yang mirip. Jika anak terbiasa melihat dan mengalami orang tuanya bertutur kata, bertingkah laku, kemudian orang tuanya memposisikan diri sebagai selalu benar, anak akan menganggap itu adalah hal yang benar, dan akhirnya terbawa di dalam kehidupannya. Kecuali: Anak tersebut menyadari kalau orang tuanya salah, dan berusaha untuk mengubahnya. Tapi pada umumnya, anak sering menganggap orang tua adalah figur idolanya, sehingga akhirnya yang salah itu tidak disadarinya. Jadi, selalu cari tahu dulu soal keluarganya, sebelum anda memutuskan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius.

3. Rajin (dan pintar).
Kenapa pintar saya kasih tanda kurung? Karena itu adalah bonus! Kunci utama adalah rajin. Orang yang tidak terlalu pintarpun, asal dia rajin dan tekun, pasti bisa menjadi orang yang semakin baik, dan meningkat kualitas hidupnya. Dan kalau ditambah pintar, daya kreatifitas si pasangan membuat kita selalu merasa tenang, karena dia pasti punya cara untuk menyiasati kekurangan di dalam sebuah hubungan. Kekayaan materi ada kemungkinan akan lenyap. Tetapi kerja keras dan kepintaran adalah hal yang bisa membuat kita bertahan.

Nah, serius banget kan postingan saya hari ini? Kenapa saya jadi menulis postingan ini? Karena semakin lama, saya melihat, orang suka makin asal jadi dalam memilih pasangan hidup. Terkadang juga, nafsu itu menang dibandingkan dengan cinta dan logika. Ujung-ujungnya, suka banyak rumah tangga yang dibina bukan atas dasar merancang masa depan yang baik, melainkan karena: Aku suka kamu, kamu suka aku, yuk kawin! Sayang kan, kalau hal yang begitu indah, pas di tengah-tengah berantakan cuma karena tidak berpikir panjang? Jadi, walaupun mungkin tidak semua orang setuju dengan apa yang saya sampaikan, saya harap sedikit ulasan di sini bisa membantu ya. Dan kalau ada yang ingin menambahkan, yuk, silakan saja.

PS: Di bawah ini adalah tambahan dari beberapa teman via komentar.

Arman - Harus cinta
Tanggapan Leony: Kenapa cinta tidak masuk di dalam listing saya di atas? Karena menurut saya, cinta itu sudah syarat MUTLAK :). Hal-hal yang saya kemukakan di atas adalah hal-hal yang seringkali terlupakan di saat kita memutuskan untuk memilih seorang pria untuk menjadi pasangan seumur hidup. Cinta itu sudah pasti ada. Sayangnya, banyak orang yang nekad gara-gara ngaku saling cinta, jadinya tidak memikirkan hal-hal lain. Dengan tulisan ini, saya ingin orang-orang menjadi lebih realistis. Makasih Arman buat komennya.

Yulia - Seiman
Tanggapan Leony: Nah, ini juga syarat yang luar biasa pentingnya. Kenapa saya tidak masukkan di atas? Karena terus terang, issue ini adalah issue yang sensitif, jadi ngeri juga ada yang tersinggung. Tapi saya sangat-sangat setuju dengan Yulia. Berhubung sudah ada yang komen soal ini, marilah kita bahas. Setiap kali saya memilih pacar, saya selalu memilih yang seiman, atau setidaknya berniat menjadi seiman, seperti salah seorang mantan pacar saya, yang ketika pacaran dengan saya, semakin mendalami agama yang saya anut, dan dengan keinginannya sendiri meminta belajar agama, dan believe it or not, saya menjadi ibu baptisnya (padahal saat dia dibaptis, kami sudah putus, dan tetap menjadi sahabat sampai sekarang). Faktor seiman begitu pentingnya, karena ini adalah landasan untuk membina rumah tangga ke depannya. Sering orang mengabaikan soal ini, sampai pada suatu saat pasangan mempunyai anak, dan bingung anaknya harus ikut agama yang mana, dan mulailah terjadi perselisihan.

Perlu dicatat juga, alangkah indahnya seandainya satu agama, tetapi jika tidak, bukan berarti hal tersebut adalah sesuatu yang buruk. Contohnya, kisah Om saya yang Budha dan tante saya yang Katolik. Dan keluarga mereka adalah salah satu keluarga paling harmonis yang pernah saya lihat. Om saya selalu mengantar Tante dan sepupu-sepupu saya ke Gereja selama lebih dari 20 tahun pernikahan. Dan ketika suatu saat, beberapa bulan sebelum sepupu saya menikah, Om saya meminta untuk dibaptis, betapa sukacitanya kami menyambut penantian panjang itu. Sepupu saya jadi orang yang paling bahagia, karena pada pernikahannya, sang ayah bisa menyambut komuni bersama. Jadi hal yang penting juga adalah jangan menjadikan agama sebagai sumber perselisihan.