Tuesday, September 28, 2010

Dasar Kampret

Pertama-tama, mau megucapkan HAPPY BIRTHDAY untuk Mama tersayang. Love you, Mom!! Kalau soal wish-wishnya, udah pasti dong anak mendoakan yang terbaik untuk ibunya.

Dari judulnya, pasti semua orang sudah pada tau, kalau kali ini saya mau misuh-misuh dikit. Kejadiannya tuh hari Sabtu 10 hari lalu. Saat itu saya ditelepon oleh Tante saya, kalau Oma saya masuk rumah sakit lantaran pinggulnya patah. Susah ya kalau sudah tua, kalau jatuh pasti hasilnya parah. Seperti Oma saya ini, gara-gara dia ke wece mau buang air kecil sekitar jam 3 pagi, eh dia sempoyongan dan jatuh. Korbannya? Tangan dan kaki patah! Ampun deh.

Namanya Oma sakit, sudah pasti langsung buru-buru berangkat. Tadinya Oma saya mau diopname di RS dengan inisial RT di bilangan Jakarta Barat sana. Rumah sakitnya memang baru dan bagus. Tapi begitu dengar Oma saya mau masuk situ, seluruh kerabat protes! Katanya rumah sakit itu kalau sudah masuk susah keluar, dan materialistis (yang ternyata kebukti benar karena minta dokumen buat keluar saja susah). Akhirnya Oma saya masuk Sumber Waras karena mau mengejar Prof. Subroto yang memang superman dalam bidang bedah tulang.

Nah, percaya atau tidak, ini adalah kali pertama saya ke Sumber Waras. Jadi benar-benar saya tidak tau lokasinya di mana. Cluenya dari mama saya cuma satu, "Lokasinya di dekat kampus Trisakti. Di belakangnya situ." Pas arah ke sana, saya naik tol, keluar Tomang Grogol, dan berjalan menyusuri S. Parman. Pas mau perempatan Citraland situ, saya lihat ada jalan untuk putar balik ke arah Trisakti. Jadi saya ambil jalur ke sana. Ternyata, kata mama saya, bukan itu jalannya, melainkan setelah lampu merah, belok kanan! Jadilah saya lurus, melewati jalur busway sampai ke perempatan yang jaraknya kira-kira 10-15 meteran dari putaran.

Dan seperti sudah diduga, si Polisi rese itu telah BERSEMBUNYI di balik halte busway, dan menghampiri mobil saya.

"Maaf pak, saya bingung, saya mau ke Sumber Waras, Oma saya sakit, dan saya gak tau jalan, jadi tadi salah belok".

"STNK!" Katanya dengan gaya belagu. Lalu saya kasih STNK.

"Pak, saya mau ke Sumber Waras, buru-buru karena Oma saya jatuh."

"SIMnya mana ?"
Lagi-lagi dengan gaya belagu, dan saya kasih SIM.

Mama saya kesal lihatnya. Langsung dia kasih saya selembar uang 50-ribuan.

"Pak, nih Pak, saya mau cepat-cepat. Arah Sumber Waras ke mana ?", sambil kasih uang ke Polisi.

Mendadak situasi berubah 180 derajat. SIM dan STNK saya dibalikin, kemudian,

"Adek belok kanan saja, nanti di bawah jembatan putar balik, rumah sakitnya di sebelah kanan. Mau dikawal?"

" Nggak, Pak. Makasih."
Sambil segera cabut dari lokasi.

Ya ampun cape deh... Padahal beberapa menit sebelumnya baru melihat iklan gede dengan tulisan "Hormatilah Martabat Polisi". Gimana kita mau hormat coba ? Polisinya aja tidak menghormati dirinya sendiri! Uang 50 ribuan sudah jadi santapan sehari-hari. Padahal kalau dia polisi yang benar:

1. Dia seharusnya tidak bersembunyi di balik halte dan menjebak orang -orang yang tidak jadi ambil putar balik dan terjebak masuk jalur busway.

2. Dalam situasi darurat, sudah semestinya polisi yang baik memberikan peringatan saja. Bukan sok-sok jagoan tapi UUD alias Ujung-Ujungnya Duit. Malah mestinya beliau membantu orang yang kebingungan.

Silakan deh Pak, makan uang 50 ribu saya. Tapi Pak, mestinya MALU dong ah...

Thursday, September 23, 2010

Penampakan!

Barusan, mendadak si OB dateng, bawa box paketan. Buat Ibu Leony, katanya. Pas liat penampakannya, bener-bener gak keingetan box apaan ini. Terus keliatan dari samping, penampakannya kayak gini:



Masih bener-bener nggak ngeh loh, siapa sih iseng kirim paket, tulisannya makanan lagi. Pas liat nama pengirimnyaaa...EH IYAAAA.... Ternyata ini kiriman dari Viol! Ya ampun, saking sibuknya, sampe bener-bener blank gitu... (tapi walaupun sibuk, tetep foto dulu di Blackberry, dan bikin blog entry hahahaha).

Buat Viol, Makasih, makasih, makasih!! Kiriman anda sudah sampai dengan selamat di meja saya yang brantakan. Sering-sering ya jalan-jalan, terus bagi-bagi lagi hahahaha...*serakah banget sih ni anak hahaha*



Padahal hari ini rencana diet loh, tapi kayaknya batal nih, gara-gara napsu liat cemilan... Lagian si Viol tau aja, budget snack saya, udah saya alokasiin buat beli BENSIN lantaran macet edan tiap hari, dan kiriman itu tiba tepat pada waktunya...YIPPIE!

Wednesday, September 15, 2010

Time's Up

Apa yang ada di dalam pikiran anda semua, saat anda mengetahui kalau ajal semakin dekat?

Ini yang dilakukan oleh salah satu orang terdekat di hati saya.

1. Menentukan ingin disemayamkan di mana, yaitu di Kapel yang tidak ber-AC.
2. Memilih untuk dikremasi kemudian dilarung di laut, supaya tidak menyusahkan.
3. Memilih baju untuk dipakai di peti, baju hijau yang dulu dipakainya saat perayaan 27 tahun pernikahan.
4. Memilih bacaan dan lagu-lagu favoritnya untuk digunakan di Misa pelepasan.

Perjuangan beliau telah berakhir kemarin. Tante saya tercinta, Imeldasari Kinardi, telah dipanggil yang kuasa. Sudah selesai rasa sakit yang diderita selama ini.

I'll miss the time that we share together, chatting about the craziness of life. I'll miss your sweet smile and your encouragement throughout my hardest times.

Goodbye my dearest one. God needs you more than anyone in this world.

Wednesday, September 08, 2010

Lagi Lagi Gara Gara 2,000

Gak tau kenapa, saya kembali bermasalah dengan nominal uang rupiah senilai 2,000.

Jadi begini ceritanya. Kemarin ini saya belanja di hypermarket terkenal di Jakarta yang inisialnya C. Nah, seperti diketahui, yang namanya C itu kan toko retail, jadi tidak menjual barang secara grosiran atau bulk (istilah baratnya).

Kemarin ini saya iseng mau beli snack, harga per unitnya 500 rupiah saja. Murah kan? Tapi saya mau belinya 20 biji, nanggung soalnya beli dikit-dikit. Jadi daripada saya ambil satu-satu, saya lihat masih ada yang dibungkus 1 pak, di balik tumpukan satu-satu itu. Daripada kasirnya repot hitung, kan enak toh, nanti tinggal 20 biji dikali 500 rupiah.

Ketika seluruh belanjaan saya sudah dihitung dan struk keluar, saya periksa belanjaan saya. Saya bingung, kok barang sekotak yang saya beli itu harganya 12,000 rupiah. Bukankah 20 buah dikali 500 rupiah itu totalnya 10,000 rupiah saja? Saya tanya ke kasirnya, dijawab:

"Oh, itu bukan urusan kasir, Bu. Tanya saja langsung ke customer service."

Oke, saat itu saya masih sabar. Yang membingungkan bagi saya adalah, jika memang harga per box itu 12,000, kenapa mereka tidak mencantumkan harga per box di counternya? Kenapa hanya harga eceran saja yang tersedia? Dan karena C merupakan pasar retail, kenapa bisa tersedia harga per box? Selain itu, aneh juga ya, harga per box bukannya harusnya lebih murah? Kan belinya sekaligus?

Akhirnya gara-gara selisih 2,000 itu, saya penasaran, dan saya datang ke customer servicenya. Mungkin orang-orang bingung, kok ini ibu-ibu lumayan keren, pakai baju kantoran necis, nenteng tas bermerek lumayan, dan bawa Blackberry, tapi meributkan uang 2,000 rupiah. Saya juga yakin customer servicenya berpikiran gitu juga kali ya hahaha. Sekali lagi, buat saya di sini bukan masalah uangnya, tapi masalah perlindungan konsumen.

Setelah tiba di depan customer service, saya tanyakan pertanyaan yang sama dengan yang di kasir tadi. Jawaban customer service:

"Emang begini, Bu. Kan Ibu dapet kardusnya."

Hehhhh??? Ya ampun, gak ada jawaban lain apa ? Kardusnya mending deh kalo kayak kardus air mineral. Ini sih kardus letoy-letoy, dijual juga gak ada yang mau! Akhirnya dia bilang kalau dia mau hitung ulang. Ya ampun repotnya, mesti lapor ke supervisor, ubah nota, kemudian mesti dibuang kardusnya sebagai tanda kalau belinya eceran! ANEH BANGET GAK SIHHH ??

Dan yang terparah adalah, saat uang 2,000 rupiah itu dikembalikan. Dikembalikannya dalam bentuk: RECEHAN 100 RUPIAH!! Ya ampun, di bulan Ramadhan ini, maafkanlah hambamu... kok rasanya kemarin itu nggak sabar ya. Dengan wajah nyolot, customer service-nya ngomong,

"Adanya ini, Bu. Terserah mo diambil apa nggak, kalau nggak mau receh, ya nunggu lagi."

Hypermarket segitu besar, tidak punya uang 2,000 dalam bentuk lembaran?? Atau setidaknya logaman 500 rupiah?? Yang benar saja kan ? Saya ambil itu seraup uang recehan, dan saya bilang,

"Nggak usah, gak apa-apa, buat parkiran aja."

Ternyata begini toh suasana Ramadhan. Makin banyak pengemis maksa di jalanan, makin macet, makin banyak rampok, makin banyak orang nyolot. Tapi ya Tuhan, terima kasih saya dikasih kesempatan untuk belajar lebih sabar.

Minal Aidin Walfaizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Wednesday, September 01, 2010

Welcoming Gift

Kemarin, untuk pertama kalinya Misa Minggu di Kanisius, pukul 18.00. Lantaran sambil nemenin Tante yang lagi diopname di Carolus, misa di situ kan paling dekat.

Pas sampai di sana, di parkiran langsung dapet welcoming gift, DIGIGIT SEMUT MERAH. Kaki rasanya panas sekali, dan mulai bengkak. Kanan kiri pula. Tapi saya diamkan karena kan harus konsentrasi ikut misa. Pas misa diminta tolong untuk jadi collector *Hihihi... padahal 3 orang lain yang dipilih tuh ABG loh, apa muka saya masih ABG ya ?*
Balik lagi ke Carolus, kebetulan ada yang bawa minyak angin, jadi sementara pakaikan itu dulu, dibalurkan di kaki. Sampai rumah, gatel sih gatel, tapi mencoba untuk tidak dipikirin deh. Kan cuma semut ini.

Besoknya Senin di kantor, kaki kok malah tambah bengkak. Teman kantor berinisiatif minta office boy untuk membelikan Insidal satu strip isi 10. Kemungkinan saya kena alergi. Jadilah siang-siang minum Insidal, yang bikin ngantuk gak kira-kira. Sampai sore, saya lihat kok tidak ada perkembangan berarti alias gak kempes.
Malam sepulang kerja, balik lagi ke Carolus, ketemu saudara-saudara. Mereka pada kaget, kok kaki saya jadi kayak orang kena kaki gajah. Dan guatelnya memang gak kira-kira. Sepulang dari Carolus berinisiatiflah saya dan mama untuk ke dokter langganan di dekat rumah.

Pas banget, pas sampai sana, pasien terakhir baru masuk, jadi setelah itu giliran saya. Cihuiii... gak usah nunggu lama-lama. Akhirnya pas dokter melihat, dia bilang, stop Insidal, Ini alerginya sudah parah. Dia menawarkan untuk disuntik, tapi saya gak mau. Akhirnya pakai obat makan 3 macam. Diantaranya ada Dexametasone (steroid), dan Winatin (anti allergic semacam Claritin). Katanya sih steroidnya membantu supaya jalan obatnya lebih cepat, padahal males banget minum steroid kalo tidak terpaksa.
Hari ini, Rabu, akhirnya kaki sudah agak mendingan. Tapi ya masih bengkak juga sih, cuma gak separah hari Senin itu. Nah, kalau mau lihat penampakan kaki saya pas Senin di ruang tunggu dokter, check the picture below. Hiyyyyyyyy.....