Thursday, August 26, 2010

Sinetron oh Sinetron

Lagi bengong siang-siang di kantor gara-gara nungguin data, mendadak jadi inget perkembangan sinetron Indonesia. Perasaan, pas saya masih kecil, saya masih suka nonton sinetron loh. Bukannya karena gak ada acara tivi yang lain, tapi karena memang sinetron Indonesia jaman dahulu, layak untuk ditunggu-tunggu dan ditonton.

Saya ingat bagaimana dulu saya menunggu-nunggu Si Doel Anak Sekolahan. Kalau sudah gak ketemu, rasanya kangen dengan tokoh-tokohnya. Si Doel, Sarah, Zaenab, Enyak, Babe, Engkong, Mandra, dan lain-lain. Semuanya benar-benar punya porsi penting dan berpengaruh, gak cuma buat jadi pemanis saja. Ceritanya juga menarik, tentang lika liku kehidupan si Doel yang tukang insinyur, kesulitannya mencari kerja, sampai kisah cintanya yang berliku.

Masih ingat juga kan Keluarga Cemara? Rasanya masih ingat saat si Abah yang tidak pernah putus asa menarik becak, dan si Emak rajin membantu Abah lewat bikin opak. Si Euis yang berkeliling menjajakan opak walau kadang malu, dan si Ara yang bangga dengan gaun Cinderella sisa kenangan semasa mereka masih jadi orang kaya. Ceritanya membumi sekali, pemainnya gak ada yang pakai make-up berlebihan kayak sinetron karya produser-produser India.

Terus, ada juga Sahabat Pilihan, bercerita tentang persahabatan si Ading dan Dado, dua loper koran yang saling bahu membahu. Si Ading kurus, dan si Dado montok kerjaannya makan melulu. Mereka berguyon dengan ciri anak SMP yang polos, dengan problema sehari-hari, dan akting yang memukau secara natural. Nilai moralnya juga luar biasa banyaknya yang bisa diambil, mulai dari tentang persahabatan, tentang sayang orang tua, dan tentang berbagi.

Bedakan dengan sinetron masa kini, yang ceritanya cuma berkisar pada: Rebutan harta, rebutan lelaki, rebutan kekuasaan, ditambah lagi dengan bumbu amnesia, rubah wajah, iri dengki, cinderella wannabe, pembantu sirik, pembunuhan berencana, taruhan, ceritanya akan berputar di situ-situ terus tanpa henti. Kalau ada kisah religi juga gak niat-niat amat, lantaran biasanya mendadak orang yang jahat berubah jadi baiknya setengah mati. Nggak ada kali ya, menghayal kayaknya tuh yang bikin skenario!

Belum lagi pemain-pemainnya, dengan kualitas karbitan nomer 1. Anak umur belasan tahun, dipaksa jadi orang dewasa, belum lagi ada yang dipaksa jadi tua, bahkan jadi nenek-nenek lantaran sinetronnya stripping, ratingnya tinggi, terus dipanjang-panjangin deh ceritanya. Tersanjung dulu sudah berhasil dengan rekor 6 season, sekarang ini rekornya sudah hampir dikejar dengan Cinta Fitri! Dulu sih masih normal, cuma seminggu sekali, lah sekarang? Setiap hari !! Makanya, gak heran orang-orang pada berlomba mau jadi bintang sinetron, lantaran kalau sudah ngetop, cetak uangnya sudah gak ada seri-nya. Kualitas akting? Sebodo lah... yang penting orderan banyak.

Jangan lupa, sinetron misteri yang menggelikan, dengan special effect yang jijay minta ampun. Sinar-sinar laser yang dipaksakan, burung elang plastik yang terbang tak terkendali, dan efek animasi komputer budget rendah yang membuat ular kobra terlihat seperti kartun di cetakan mainan ular tangga. Oh oh, ada juga sebuah stasiun TV yang membuat sinetron ala India, di mana ada lirik-lirik lagu dangdut, dan seluruh dialog pemainnya di dubbing! Ceritanya itu berkisar pada cerita kerajaan dengan settingan modern, di mana pangerannya naik mobil. TIDAAAAKKKKKK.....!! (pemain pun berlari-larian di taman...dan mulai menyanyi...tung jahe jaheeee....).

Begini kira-kira skemanya: Artis Sinetron --> Penyanyi -->Bintang Iklan --> Presenter -->(Syukur-syukur dapet pasangan pejabat)

PS: Urutan bisa diputar-putar sesuai kebutuhan hahahaha...

Makanya, gak salah kalau jaman sekarang muncul artis macam si Chinca Lawra itu, yang gak jelas datang dari mana, dengan kualitas akting pas-pas-an, mendadak jadi fenomena, muncul di sinetron, iklan, lagu, dan sering banget muncul di acara gossip dengan berita gak pentingnya, such as: Chinca maw sekolah di Harvard, Princeton, Berkeley, or Chinca yang daddynya itu GM hotel ternama di the whole wide world sehingga dia selalu tinggal di suites, or Chinca yang abis ikut mini olympic di sekolahnya, or Chinca yang selalu dapet grade 4.0... or or or (orang lama lama bisa gila ngikutinnya....)

Tapi syukurlah, masih ada orang-orang yang sadar akan kebutuhan kita terhadap sinetron berkualitas. Terima kasih buat Deddy Mizwar yang telah menghasilkan karya-karya brilian, mulai dari Lorong Waktu, Kiamat Sudah Dekat, dan sekarang Para Pencari Tuhan. Karya-karyanya telah membawa angin segar di keterpurukan dunia layar kaca Indonesia. Ayo Bang Deddy, sadarkanlah para pembuat sinetron stripping tidak jelas itu, untuk bertobat dan kembali di jalan yang benar. Majulah Sinetron Indonesia!!

Friday, August 20, 2010

Blessed

I feel so blessed
Of having wonderful people
That are always be there for me
In good times and bad times

Thank you
For being my companion
For being a place to share my laughter
For being a dumpster to throw my sadness

There are so many friends out there
But you are my best friends
That I can always turn to
When life out there is not by my side

Thank you, Lord
For the past, the present, and the future
That I have spent, am spending, and will spend
With the dearests to my heart

MY FAMILY

Tuesday, August 10, 2010

Berlagak Bego

Paling kesel sama orang yang suka berlagak bego.

Contohnya kejadian kemarin ini. Saya sekeluarga pergi ke toko roti H di bilangan Kelapa Gading. Pas di kasir, total belanjaan kita Rp. 64,000. Kemudian Mama mengeluarkan uang Rp. 100,000, dan dikembalikan sama si mbaknya.

Pas masuk ke mobil, mama melihat jumlah kembaliannya, kok cuma Rp. 34,000, terus dia bilang, perasaan tadi belanjaannya Rp. 64,000 deh, berarti kan kembaliannya mestinya Rp. 36,000. Untung parkiran toko rotinya itu pas di depan tokonya, bukan jauh kayak di mall. Jadinya mama turun lagi.

Saat mama turun itu, kelihatan si Mbak Kasir ngelihatin terus gerak geriknya mama, sampai akhirnya tiba di depan kasir. Kelihatan sekali sepertinya dia sudah tau apa yang terjadi. Mama saya bilang, "Mbak, ini kembalinya kurang nih, mestinya Rp. 36,000, bukan Rp. 34,000."

Seandainya si Mbak ini benar-benar alpa, tentulah dia kaget, dan memeriksa kembali bon belanjaannya untuk memastikan kalau jumlah belanjaan dan kembaliannya benar. Tapi yang terjadi adalah, si Mbak ini cengengesan aja, berlagak bego, kasih kembalian Rp. 2,000, dan ngomong "Saya KIRA tadi ketekuk Bu."

NAH LOH ! Kok bisa ya saya KIRA. Berarti dia sudah tau dong sebelumnya kalau dia memang SENGAJA untuk tidak memberikan kembaliannya. Lagian aneh juga, kalau kembalian Rp. 36,000, mestinya kan dia kasih Rp. 6,000-nya itu berupa 1 lembar Rp. 5,000 dan sisanya bisa berupa logam atau lembaran Rp. 1,000. Kenapa dia kasih Rp. 2,000-an ? Pakai alasan "saya KIRA ketekuk" pula! (ya kecuali dia benar-benar tidak ada ruang Rp. 5,000-an).

Saya yakin, bukan saya saja yang pernah mengalami hal seperti ini. Cara kasirnya melakukan penipuan lumayan pintar, sama sekali tidak mempengaruhi penghitungan inventori, dan sama sekali tidak mempengaruhi uang yang benar-benar masuk ke dalam kas. Memang jumlahnya gak seberapa sih, tetapi bayangkan kalau setiap hari ada kejadian seperti ini, memanfaatkan ketidaksadaran orang, brapa banyak uang yang terkumpul di kantong si kasir?

Pelajaran yang bisa diambil, si saat kita belanja dengan uang tunai berapapun kembalian kita belanja, sebaiknya kita cek. Dan seandainya tidak tepat, tidak ada salahnya menegur kasirnya, karena kalau tidak akan jadi kebiasaan.