Wednesday, July 28, 2010

An Accountant Usually Ends Up....

Waktu itu, dia ngajak saya makan burger. Tadinya disangka bakalan pergi bertiga sama temen yang satu lagi, eh gak taunya cuma berdua aja karena temen yang satu lagi gak bisa dateng.

Dia waktu itu pulang kerja, pakai kemeja lengan pendek, celana bahan, dan sepatu pantofel, sambil nenteng tas laptop.

Sambil makan burger, dia malah ngomongin soal abu vulkanik. Dalam hati saya mikir, "Geek banget sih nih orang... Apa gak ada bahasan lain ?"

Pas saya balik ke Indonesia, tiap hari kita ngobrol online nonstop. Ngomongin hal yang gak jelas, mulai dari kegiatan sehari-hari sampai rencana masa depan. Dan gak kerasa, suatu hari dia gak online, saya kangen.

Beberapa tahun lalu, saat saya kerja di Amerika, manager saya bilang:
"Leony, you know that an accountant usually ends up spending their life with a person with one of the three professions.
One, an engineer.
Two, another accountant.
Three, a teacher."

And I just chose, option number one.

Wednesday, July 21, 2010

Hidup Seperti Emas

Kurang dari setahun lalu, saya mengalami kejadian yang bisa dikatakan buruk. Kalau saya ceritakan ke teman-teman terdekat saya, semuanya bilang, sinetron aja kalah! Tokoh jahatnya itu jahatnya luar biasa, dan saya ini adalah korbannya. Si tokoh jahatnya itu menekan saya terus menerus, sampai perbuatannya itu sungguh di luas batas kewajaran. Kalau dibilang drakula, ya mungkin ini drakulanya benar-benar mau menghisap darah sampai titik penghabisan kali ya hehehe.

Di saat seperti itu, ada seseorang yang selalu memberikan saya petuah berharga dan menguatkan saya, yaitu tante saya. Beliau mengatakan, "Non, makin dekat diri kita dengan Tuhan, pasti makin banyak cobaannya. Kamu itu seperti emas yang sedang dimurnikan. Sebelum menjadi emas murni yang berharga, kamu itu harus dilebur. Yang namanya dilebur, pasti mengalami panas, sakit, dan berbagai hal yang tidak mengenakan lainnya. Tetapi setelah itu, kamu benar-benar murni, benar-benar berharga, terutama di mata Tuhan."

Kata-kata dari tante saya itu benar-benar luar biasa menguatkan. Saya menjadi tenang. Dan walaupun disakiti seperti apapun, tidak ada sama sekali niatan untuk mengeluh, apalagi membalas perbuatan jahat yang dilakukan oleh orang lain. Di dalam pikiran saya, saya cuma berpikir, ini adalah rencana Tuhan, untuk membuat saya menjadi semakin dekat lagi pada-Nya dan semakin berserah.

Semalam, saya menengok Tante saya, yang tergeletak karena kanker yang menggerogotinya beberapa Tahun belakangan ini. She's a very dear and special person to my heart. Melihatnya dalam keadaan seperti itu, jujur saja sangat sedih. Tapi saya berusaha tidak menunjukkan kesedihan saya itu. Terus terang mereka punya dana yang lebih dari cukup untuk pengobatan Tante saya, tetapi segala daya dan upaya yang ditempuh, walaupun memperpanjang umur Tante saya, tetapi menambah berat juga rasa sakit yang dideritanya.

Untuk pertama kalinya, saya mendengar tante saya mengeluh. Hampir seumur hidup dia tidak pernah mengeluh soal sakitnya ini, sampai semalam dia bilang, "Kayaknya aku get worse." Sedihnya minta ampun, tapi saya tetap usaha tersenyum. Dia juga bilang, kalau painkiller yang kelas berat yang diminumnya sepertinya sudah tidak mempan. Kalau mau yang lebih keras lagi, memang bekerja, tetapi dia hanya tidur terus, dan takut ketergantungan. Saya coba alihkan perhatiannya dengan membicarakan hal-hal lain di luar sakitnya, seperti cerita soal pekerjaan, teman-teman di sekitar saya, dan lain-lain.

Oom saya sepertinya juga mengalami frustrasi. Suatu hari dia menulis di status Facebooknya, kenapa istrinya yang begitu baik dan tulus kepada semua orang, harus menderita sakit seperti ini, dan sepertinya cobaan tidak pernah berhenti. Tiba-tiba saya teringat kembali nasihat Tante saya itu, dan saya katakan kembali kepada Oom. I believe, that she'll be a pure gold. She's in the process of becoming one.

Get well soon, Kim. We love you.

Friday, July 16, 2010

Jangan Senang Lihat Orang Susah dan Jangan Susah Lihat Orang Senang

Judul di atas, saya ambil dari status Facebook adik saya, yang kebetulan bisa terdengar bijak banget. (Tumben Di, biasanya omongan kamu banyakan gak mutunya hahahaha).

Hari ini, saya masih kena writer's block. Help!