Sunday, March 28, 2010

Pengen Nyamperin (dan Kalau Perlu N****). Grrhhh...

Kejadiannya ini, sekitar 10 hari lalu, saat saya berada di Bandara Soekarno Hatta untuk penerbangan ke Singapura. Buat orang yang suka terbang, pasti semua pada 'ngeh' kalau di Bandara Soekarno Hatta itu ada beberapa lounge yang disediakan untuk pemilik kartu kredit tertentu. Ada lounge yang bisa dimasuki oleh pemilik dari beberapa jenis kartu, dan ada juga lounge khusus yang dipegang oleh bank tertentu. Saya biasanya nongkrong di lounge tersebut, namanya H**C Premiere Lounge, dan hanya bisa dimasuki oleh pemegang kartu Premiere dan Platinum yang dikeluarkan oleh bank tersebut. Saya mengerti kenapa orang-orang tertarik dengan lounge yang satu ini, karena yah, bisa dibilang makanannya paling lumayan, walaupun tidak selengkap First Class lounge.

Saat itu pagi-pagi, ketika saya dan mama sedang ada di counter untuk masuk lounge, mendadak ada seorang ibu (kira2 usia 50-an akhir) dan anaknya (kira2 usia 30-an) langsung ngeloyor masuk dan langsung duduk di lounge. Terang saja karyawan lounge tersebut langsung menghampiri pasangan ibu dan anak tersebut, dan menanyakan kartu mereka. Mendadak ibu tersebut teriak2, sampai bikin saya kaget. Teriakannya kira-kira begini, "Anak saya ini, sudah berkali-kali apply kartu kamu, tapi tidak pernah di approve. Pokoknya saya mau duduk di sini, biarin aja nanti apply di sini." Kemudian, sepertinya si karyawan itu dengan halus bilang lagi, kalau di situ cuma bisa diisi oleh pemilik kartu khusus. Gold saja gak bisa loh, apalagi gak punya kartu. Eh si ibu cerewet itu, malah lebih galak dari karyawannya. Dia ngotot, "Mana sini, anak saya apply aja sekarang." Intinya, dia maunya nunggu di situ. Pokoknya malu-maluin banget, teriak teriak terus.

Karena mungkin tidak mau cari ribut, akhirnya karyawannya itu berdiskusi di dalam dengan karyawan lain. Dan akhirnya karyawannya nyerah juga. Ibu itu dikasih juga untuk duduk di lounge, dan disuruh apply kartu kredit platinum. Sebagai informasi, nggak gampang loh dapet kartu kredit platinum di bank tersebut. Minimal, sudah harus punya kartu platinum dari bank lain yang qualified, dan itupun tidak menjamin kalau aplikasi anda akan diterima. Eh ternyata, pas anaknya itu kasih KTP dan kartu kredit dari bank lain, ternyata kartu kredit dari bank lain itu cuma kartu gold, dan dari bank B*A yang gampang banget dapetinnya. Sudah jelas si ibu dan anak ini memang nggak qualified lah untuk dapet kartu platinum dari bank H**C tersebut.

Gilanya, begitu akhirnya dikasih untuk duduk, langsung pasangan ibu dan anak ini pindah ke sofa yang paling enak, kemudian langsung maruk, semua makanan diambil, mulai dari pasta, nasi goreng, pudding, pokoknya sudah kayak orang rakus. Saya sendiri sampai terheran-heran. Yang bikin lebih memalukan lagi adalah, si ibunya ini, pas lagi makan2 lahap gitu menelepon kerabatnya, kemudian ngomong, "Oh, saya lagi di erpot nihhhh ! Ini saya lagi di H**C lounge, si X (anaknya) kan ada kartu kredit, jadi makan gratis." OMG !!!

Dan kedongkolan terakhir adalah.... si ibu ini.... ke wece... dan gak keluar-keluar !!! Kayaknya segala makanan yang tadi masuk itu, mungkin saking banyaknya sampai gak tertampung lagi. Saya mau buang air kecil aja sampai ngantri, dianya gak keluar-keluar. Dikira WC umum kali !

Grrrhhhhhh... Makanya, saya rasanya.... (silakan baca judul di atas...)

PS: N**** yang di atas jangan diartikan sebagai Nonjok ya hehehehe.... Plus, kayaknya pasangan ibu dan anak ini terlihat sangat professional memakai modus operandi yang sama untuk menikmati fasilitas gratis... Dannnnnn... si ibu itu, mukanya, cara pakaiannya, cara ngomongnya, mirippppppp banget sama si ibu dari artis sinetron yang saling berseteru dengan anaknya itu.

Monday, March 08, 2010

Those 3 Idiots Are Actually Really Smart!

Seperti janji entry sebelumnya, kalau saya sudah nonton 3 Idiots, saya akan tulis reviewnya. Akhirnya, setelah perjuangan panjang, hari Sabtu lalu, saya berhasil mendapatkan tiket film tersebut. Melayanglah Rp. 225,000 untuk tiga lembar tiket. Khusus film India ratenya dinaikan jadi segitu. Tetapi tetep loh "laris manis tanjung kimpul, dagangan abis duit ngumpul". Saya antri pukul 3.45 sore, tetapi kursi yang tersedia dan masih dalam posisi cukup baik ada di show pukul 8.10 malam! Padahal di antara itu masih ada show pukul 4.50 dan pukul 6.40 sore yang tentunya sudah terisi penuh.

Saat saya memasuki ruangan theater 5, saya melihat, banyak sekali orang yang nonton bersama-sama, tetapi duduknya semua pisah-pisah karena nggak dapat tempat sederet. Dan gilanya, tidak tersisa satu kursi kosong pun ! FULL sampai depan!

Soal filmnya sendiri,... hmm... saya nggak mau cerita sedikitpun. Kenapa ? Karena film ini WAJIB untuk ditonton. The best IDR 75,000 that I spent so far in 2010! Jadi gak usah tanya apa-apa lagi, langsung saja semuanya berangkat ke bioskop. Tontonlah film fenomenal ini! Dan hati anda akan dipenuhi oleh kebahagiaan, selama 3 jam nonstop! Bukan hanya itu, banyak sekali pelajaran yang anda bisa petik. Dan setelah anda keluar dari bioskop, kalau anda gak bilang itu film bagus, artinya anda sudah beneran mati rasa.

Jadi, ngapain nunggu lagi ? Buat yang tinggal di Jakarta, segeralah ke Blitz Pacific Place. Dan buat yang tinggal di luar negeri, setau saya film ini hanya main di bioskop independent. Dijamin GAK AKAN RUGI.

Aal Izz Welllllllllllllll !!!

Tuesday, March 02, 2010

Johnny Sayang

Saya biasanya gak suka nulis review film. Tapi nggak tau kenapa, kali ini gatel banget pengen nulis. Gak tau saya mau nulis review, ataukah ini sebenarnya ungkapan kekesalan pas menonton film itu. Dear John alias si John Sayang....(atau kalo mau lebih terlihat cute pake Johnny aja sekalian) dimainkan oleh 2 aktor yang lagi ngetop buat kalangan remaja. Si Channing Tatum yang terkenal gara-gara sering main film remaja chick flick, dan si Amanda Seyfried yang terkenal gara-gara Mammamia. Buat yang nggak mau spoiler, silakan jangan dibaca. Kalau yang tetep mau baca, resikonya adalah: 1. Anda penasaran dan jadi malah pengen ngeliat, 2. Mengurangi keinginan anda untuk melihat. Oke deh... Lanjuttt....

Benernya saya nggak ada niat sama sekali nonton film-film romantis kayak gini. Berhubung Jumat kemarin lagi libur, plus saya rada-rada kagak ada kerjaan, trus diajakin temen nonton, ya hayuk dah nonton aja. Sampe di bioskop, nyari film yang deket waktunya, tinggal si Dear John sama si Up in The Air. Berhubung Dear John lagi bergema banget, mana ada poster segede gaban dengan tulisan: “Number One Box Office Movie in the US”, jadinya agak-agak ga pake mikir, langsung beli tiket Dear John. (Padahal tau gitu, mendingan nonton Up in The Air kemana-mana... Dasar dodollllll !!)

Adegan dibuka, disaat si Channing eh John lagi sekarat ketembak perang, dengan narasi apa yang dia rasakan pada saat sekarat. Ya intinya dia teringat pada dua hal yaitu koin-koin (yang rupanya adalah koleksi bokapnya), dan “you” (you di sini maksudnya si Amanda itu eh...Savannah). Dan ceritanya flash back, khas remaja. Si John dan si Savannah itu ketemu saat si John lagi break dari tugas tentaranya, dan si Savannah lagi spring break di kuliahnya, jadi pulang kampung. Trus si Savannah tasnya jatoh di laut, dan si John dengan perkasa loncat dari dermaga demi menyelamatkan tasnya si Savannah. Dan begitulah mereka mulai berkenalan, dan benih-benih cinta menyebar. Lebay gak ?? Gak sekalian aja si John dikejar2 hiu plus ngelawan pirate, kan jadi lebih jelas kenapa si Savannah jatuh cinta (selain tentunya karena mukanya si John yang macho dan bodynya yang aduhai itu). Ya tentu aja temen cowok yang lagi deketin si Savannah rada bete dong yah. Maklum langsung kalah set sama si John yang seperti model keluar dari majalah.

Nah, si Savannah ini rupanya punya temen baik, seorang bapak2 beranak satu, namanya si Tim, yang punya anak namanya Allen. Si Allen ini autis, jadi Savannah sayang banget sama si Allen ini. Dan selanjutnya, diketahuilah kalau si Tim ini istrinya ninggalin dia. Mungkin kagak tahan kali ya ngerawat anak autis. Berhubung si John sama si Savannah ini cuma punya waktu 2 mingguan untuk pacaran sebelum si Savannah balik kuliah dan si John balik perang, jadilah mereka tiap hari ketemuan, dan si Savannah juga kenalan sama bokapnya si John yang ternyata autis juga sama kayak si Allen dan hobi koleksi koin. Bokapnya ini tiap hari masak udah ada jadualnya. Contoh: hari Minggu itu pasti masak Lasagna (ga gitu penting sih benernya...). Ya ditengah-tengah ada lah konflik dikit, di mana si John tersinggung karena Savannah bilang bokapnya si John itu autis, dan akhirnya si John dan Savannah baekan lagi pada saat si Savannah mau balik ke kuliah.

Dan, berpisahlah mereka. Selama berpisah itu, mereka berjanji kirim-kiriman surat. Berhubung si John gak jelas bertugas di mana, katanya sih gak ada akses email dan telepon. Hari gini gitu lohhhhh.... Settingnya 2001 gitu lohhh... Padahal seinget saya sih, tahun segitu, orang perang di Irak aja bisa pake laptop trus webcaman sama keluarganya. Tapi ini bilangnya gak ada alat komunikasi dan cuma bisa pake surat. Lebay stadium 3 tuh... huks... Setiap suratnya selalu dibuka dengan kata “Dear”. Kalo gak “Dear John”, ya “Dear Savannah”. Jadilah mereka kirim-kiriman surat gitu, sampe setumpuk suratnya disimpenin sama si John, dibawa2 keliling2 dunia.

Salah satu isi suratnya itu, menerangkan kenapa bokapnya si John koleksi koin. Dimulai dari si John kecil yang beli eskrim, terus ada kembalian uang yang aneh. Jadi depannya kayak duit 5 sen, tapi blakangnya kayak duit 1 sen. Ternyata, koin itu adalah koin salah cetak, dan pas bokapnya nanya di toko pegadaian, ternyata nilainya 4000 dolar! Nah, sejak saat itulah bokapnya mulai koleksi koin, terobsesi sama koin, sampai katanya duitnya habis-habisan demi koin. Makanya hubungan si John sama bapaknya kurang harmonis. Gitu deh kira-kira.

Sampailah suatu hari, peristiwa September 11, 2001, World Trade Center runtuh. Ancaman teroris datang. Si John dan teamnya dikasih kesempatan untuk memilih ikut ke Afghanistan atau ngga. Berhubung temen-temennya semua satu team kompak untuk membela negara, “terpaksa”lah si John memilih untuk ikutan perang. Dia dikasih waktu 1 weekend buat break. Temen-temennya pada milih seneng-seneng di Paris, tapi si John milih pulang buat ketemu si Savannah walaupun cuma 1 malam saja. Cieh cieh... Dan seperti typical film romantic pada umumnya, di malam itu...terjadilah komunikasi dua arah... alias, si Savannah memberikan diri buat si John, biar malam terakhir itu berkesan, tak akan terlupa... biar si John selalu kebayang-bayang dan tidak melupakan si Savannah. Ya gitu lah... you know lah kira-kira maksudnya (tentulah dengan potongan sensor di sana sini, yang menyebabkan lagu pengiring yang romantic menjadi terputus-putus...Darn LSF!).

Dan, brangkatlah si John kembali ke medan perang. Kembalilah proses pengiriman surat antara John dan Savannah. Awal-awalnya masih rutin, eh tapi lama-lama si Savannah gak pernah ngirim surat lagi. Tiap kali tukang suratnya dateng, si John nyari-nyari, tetep gak ada surat dari Savannah. Dua bulan berlalu, akhirnya datanglah surat dari si Savannah, yang mengabarkan kalau....kalau...kalau... dia bertunangan dengan seseorang... hu hu hu...nangis terisak isak. Si John yang patah hati, mengambil tumpukan surat-surat yang dia terima dari si Savannah, dan membakarnya. Menyayat-nyayat hati dan mengharu biruuu (maksudnya sih begitu...tapi kenapa saya liatnya biasa banget ya... apa jiwa romantic saya sudah luntur ?)

Gara-gara surat terakhir itu, si John gak pernah mau lagi pulang kampung. Dia perpanjang terus tugasnya di ketentaraan walaupun sebenarnya dia punya hak untuk mundur karena dianggap sudah cukup banyak berjasa lah. Males dia pulang kampung ketemu si Savannah lagi. Tapi apa daya, suatu hari si John dipanggil pulang di tahun 2007. Bapaknya sakit keras. Si John yang lebay itu, membacakan surat yang dia tulis untuk bapaknya, persis seperti narasi di awal film tadi. Bacanya sambil terisak-isak, di depan bapaknya yang sudah sekarat. Akhirnya bapaknya meninggal juga. Si John yang sudah balik kampung, penasaran akan apa yang terjadi di hidup si Savannah, akhirnya mampir di rumah Savannah. Dan kejadiannya sangat aneh, karena ternyata, Savannah itu menikah sama si Tim !! Si duda yang juga bokapnya si Allen. Kagetlah si John, karena si John selama ini mikirnya si Savannah menikah dengan salah satu teman yang masih muda.

Trus, si Savannah mulai cerita, kalau dia menikahi si Tim, karena si Tim kena Kanker Kelenjar Getah Bening alias Lymphoma Cancer, dan tinggal di rumah sakit. Dan gak ada yang bisa ngerawat si Allen selain Savannah, lantaran si Savannah sayang dan ngerti soal si Allen yang autis. So, atas dasar belas kasihan itulah, si Savannah menikahi si Tim. Si John dan Savannah kemudian dateng menemui si Tim di rumah sakit, dan si Tim bilang secara pribadi kepada si John, kalau satu-satunya cinta si Savannah sebenernya adalah si John. Hu hu hu... Saat perjalanan pulang, si Savannah cerita, kalau dia lagi ngadain fund raising, buat beli obat hasil research demi memperpanjang umurnya si Tim, supaya si Tim setidaknya bisa pulang ke rumah. Perusahaan asuransi gak ada yang mau biayain, sementara ortunya si Savannah udah jual salah satu rumahnya untuk biayain pengobatan si Tim.

Dan, yang namanya pahlawan, tetaplah menjadi pahlawan. Si John, karena begitu cintanya kepada si Savannah, mengumpulkan seluruh koleksi koin bokapnya, dan menjualnya kepada toko gadai. Kemudian uangnya dikirimkan ke si Savannah. Di tengah medan perang, si John menerima surat dari Savannah, dan Savannah cerita, si Tim akhirnya bisa segar dan kembali pulang ke rumah, walaupun dua bulan kemudian meninggal. Dia berterima kasih kepada seseorang yang “tanpa nama” yang telah memberikan dana untuk mencukupi beli obatnya si Tim, sehingga dia bisa menghabiskan 2 bulan sisa hidupnya bersama Savannah dan Allen di rumah. Aihhhhh... So sweeeettttt...

Dan begitulah ceritanya... katanya resensi salah satu media sih, inti ceritanya adalah: “Cinta Tak Harus Memiliki”. Ngerti sih ngerti ya. Tapi menurut saya, gak tau kenapa, ini cerita:

- Bikin ngantuk! Udah pasti dong ya, drama, no action, ceritanya juga gitu2 aja. Kalo orang yang suka, pasti ngomongnya: Wah, itu bukannya no action, tetapi kekuatan film ini ada pada dialognya. Dialog apaan ? Orang banyakan baca surat melulu. Mana si Channing aktingnya juga gitu-gitu aja alias kaku.

- Super gak masuk akal. Yang ngarang cerita ini kan sama dengan yang ngarang “Notebook”. Nah, kalau “Notebook” itu romantic, mengharu biru, tapi sesuai sama settingnya yang kayaknya di tahun 40-50-an. Lah kayaknya, si penulisnya ini terjebak sama kesuksesan si “Notebook”, sehingga filmnya masih tetap berkesan ada di tahun 40-50-an, padahal settingnya tahun 2000-an. Terlalu dipaksakan gitu loh. Cmon lah, hari gini kan setidaknya orang punya komputer, telepon genggam, games, apa kek. Lah ini anak, di rumahnya kayaknya tivi aja kagak ada loh! Boro2 komputer.

- Masih agak kayak “Sampek Engtay” tapi tanpa pertentangan ortu. Gadisnya kaya, punya ranch, ortunya berpakaian fashionable dengan gaya agak socialite, sementara cowoknya bisa dibilang “rodo kere” cuma emang sih, punya modal sebagai tentara, muka ganteng, body wow, dan... dan... ah pokoknya mayan bikin ngiler deh... tapi secara ekonomi ya, pas-pasan. Anehnya, di dalam film ini, sepertinya gak ada konflik apapun mengenai family background. Kalo dalam hal kenyataan, mana bisa sih? Nanti anakmu mo dikasih makan opo toh? Sangat typical film yang sederhana, yang kayaknya konflik cuma datang dari pasangan aja. Pokoknya I love you, you love me, dunia milik kita berdua.

Ya, segitu saja kali ya, review film saya yang pertama, yang lebih berkesan spoiler daripada review hahahahaha. Kesimpulannya, yang pasti, kalau saya pribadi sih, seandainya anda semua masih ada yang mau nonton film ini, jangan nonton film ini di bioskop. RUGI ! Mendingan sewa DVD aja, dan jangan beli DVD bajakan yah (mendukung gerakan anti pembajakan).

*Sampai sekarang saya masih penasaran mau nonton Three Idiots. Kesel, Sabtu lalu mau nonton Three Idiots di Blitz PP, habis ludes tiketnya, tak bersisa 1 kursi pun ! Once again, tak bersisa 1 kursi pun !! Padahal harga tiketnya 75 ribu loh! Special rate for Indian Movie. Nanti kalau saya udah nonton dan rajin bikin review, saya tulis lagi deh di sini*