Monday, February 22, 2010

Phew...

Ada suatu sindikat, saya sendiri tidak tau dari sindikat apa. Yang pasti saya mendengar berita, kalau sindikat ini menangkap orang-orang secara acak, untuk dijadikan bahan penelitian. Saya juga tidak tahu penelitian mereka tentang apa, tetapi orang-orang yang sudah tertangkap, biasanya tidak pernah kembali. Berita itu menyebar cepat di lingkungan sekitar saya. Walaupun saya belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana prosedur penangkapan tersebut, namun saya cukup was-was juga. Bagaimana jika saya tertangkap ? Apa yang sindikat itu akan lakukan kepada saya ? Bagaimana nasib orang-orang yang saya tinggalkan?

Siang itu saya sedang duduk-duduk santai di apartemen, sambil memandangi jendela. Siang itu cerah, dan enak sekali melihat jalanan dari ketinggian. Rasanya sangat menenangkan. Mendadak saya mendengar suara gaduh yang luar biasa dari lantai di atas saya, dan saya lihat ada bayangan hitam di balik jendela. Saya langsung panik, teringat kepada peristiwa penangkapan acak yang dilakukan oleh sindikat tersebut. Saya langsung buka pintu apartemen saya, dan lari turun secepatnya melewati lewat tangga darurat. Suara gaduh itu semakin mendekat, dan mendadak dua orang berbaju hitam sudah ada di depan saya. Saya memberontak mencoba untuk kabur. Tetapi saya kalah, dan mendadak semua menjadi gelap.

Perlahan-lahan saya bangun dari tidur saya. Saya berada di dalam sebuah aula besar, tanpa jendela sama sekali, dan lampu-lampu terlihat berpendar dari sekeliling ruangan. Ada ribuan orang di situ. Saya tidak mengenal mereka sama sekali. Semuanya terlihat begitu asing. Di mana kah saya berada ? Ditengah kebingungan saya, mendadak ada suara terdengar begitu kencang. Saya melihat sumber suara itu. Rupanya, seperti ada seorang yang merupakan bagian dari sindikat tersebut, berdiri di atas podium. Podiumnya itu bergerak ke segala arah, seperti forklift dengan pengontrol arah. Orang tersebut berbicara, dia mengucapkan selamat datang kepada kami semua.

Wajah orang tersebut begitu dingin, seakan-akan kami adalah objek yang sedang dimainkan. Dan memang benar, tak berapa lama dia menyampaikan maksud keberadaan kami semua di sana. Sebenarnya, tidak terlalu jelas juga mengapa kami ada di situ. Tetapi yang pasti, kami tau bahwa kami adalah objek dari sebuah percobaan. Kami diberi waktu 1 jam untuk mengenal sebanyak-banyaknya orang yang ada di aula tersebut. Dan setelah 1 jam itu berakhir, mereka akan memilih pasangan secara acak. Kedua orang terpilih tersebut harus bisa menceritakan sedikit biografi dari orang yang merupakan pasangannya itu. Jika ada fakta yang salah terucap, maka seketika itu juga, orang yang salah sebut akan mati. Ya! Mati! Saat itu tidak ada bayangan bagaimana caranya kita bisa mati seketika.

Waktu 1 jam diberikan. Saya panik, semua orang panik, saling bertanya-tanya mengenai identitas lawan bicaranya. Ruangan begitu ribut, riuh, penuh dengan orang-orang yang hanya mempunyai satu tujuan, yaitu mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Kita tidak akan pernah tau apakah pasangan kita yang dipilih nanti sempat kita ambil informasinya atau tidak. Bisa saja saya berdiri di ujung sini dan pasangan saya berdiri di ujung lainnya. Bagaimana jika saya tidak pernah bertemu dan menanyakan tentang dirinya? Pikiran saya betul-betul kalut. Bahkan untuk mengingat informasi dari orang-orang yang sudah saya temuipun saya tidak mampu. Sepertinya informasi hanya lewat begitu saya, tanpa sedikitpun bisa terserap. Bagaimana ini? Apakah ini akhir dari segalanya?

Tinggal sisa beberapa menit saya sebelum waktu berakhir. Rasanya otak sudah buntu, tidak bisa berpikir lagi. Yang saya tahu, saya hanya bisa berpasrah. Saya tidak punya energy lagi untuk bertanya pada siapapun. Saya hanya merenung, apa yang telah saya perbuat sehingga saya bisa sampai di ruangan tersebut. Namun sepertinya tidak ada gunanya, tinggal bagaimana saya bisa benar-benar menyerahkan hidup saya saja. Yang saya harapkan, saya tidak dipilih cepat-cepat. Ada ribuan orang di sini, dan saya berharap saya tidak berada di giliran awal.

Satu jam pun berakhir. Ruangan mendadak menjadi senyap. Dari atas podium, anggota sindikat itu mulai memilih secara acak. Mesin podium itu bergerak-gerak mengitari ruangan, dan mulai menunjuk sepasang manusia. Dengan mata kepala sendiri saya melihat, ketika ada satu fakta yang salah disebut tentang pasangannya, orang yang salah menyebut langsung jatuh terkapar, dan tidak sadar. Tidak ada yang menembak, menikam, atau apapun. Orang tersebut langsung mati di tempat. Mendadak saya tersadar, kalau saya berada di dalam suatu penelitian, di mana chip sudah ditanamkan ke tubuh semua orang di sini, dan kemampuan untuk mengontrol kehidupan, ada di tangan sindikat mengerikan itu.

Suasana ruangan semakin tegang, hampir tidak ada suara apapun yg terdengar. Podium bergerak itu, mulai maju mendekati daerah saya. Saya mencoba bergerak perlahan, mencoba berlindung di balik kerumunan manusia, berharap kalau manusia di atas podium itu tidak melihat saya. Tetapi rupanya, saya tidak bisa mengecohnya. Dia menunjuk saya untuk maju ke depan. Kemudian dipilihnya lagi seorang lainnya di antara kerumunan tersebut untuk menjadi pasangan saya. Ketika saya melihat pasangan saya, saya sama sekali tidak mengenalnya, dan saya berpikir...inilah saatnya.... Saya mulai mengucapkan sepatah kata...dan tiba tiba...

.
.
.
.
.
.

TELOLET TELOLET TELOLET !... Bel rumah saya berbunyi... Saya tersentak bangun! Kaget luar biasa. Ya ampun... Ternyata saya cuma mimpiiiii !!!! Phewwwwww.....

Tuesday, February 09, 2010

Kenapa Saya Pakai Blackberry

Dari dulu, saya paling bingung sama orang Indonesia. Paling cepet mengikuti trend, tetapi paling tidak jelas alasannya. Terus terang, sebagai seorang yang sangat cuek dengan gadget, bahkan tidak terlalu sayang sama yang namanya barang-barang elektronik, jangan harap saya mau mengikuti trend alat komunikasi. Apalagi dengan yang namanya Blackberry itu ! (mulai sekarang saya sebut BB aja ya). Menurut saya, trend BB ini cukup mengganggu. Di mall-mall melihat orang pakai BB, jalan nyelonong sambil ketak ketik. Paling kesel itu ya kalau melihat nih, pasangan, baik yang pacaran, maupun yang suami istri, duduk berdua di restaurant. Bukannya ngobrol, eh malah sibuk berchatting ria dengan BB-nya, dan sama sekali tidak ada komunikasi lewat kata-kata langsung terjalin di antara mereka. Yang wanita ya cengengesan sendiri, yang laki-laki ya senyum-senyum gak tau lagi ngobrol apa. Sekalian aja gak usah ketemuan ya. Toh udah ketemu aja nggak ngobrol kan ?

Terus terang, setiap kali saya tanya pengguna Blackberry di Jakarta, feature apa yang paling sering mereka pakai, pasti jawabannya adalan BBM, alias Blackberry Messenger. Saya masih ingat dulu pas kerja di Amerika, yang memakai Blackberry umumnya adalah atasan-atasan saya minimal GM atau Director. Dan nggak pernah seumur-umur saya melihat mereka memakainya untuk chatting! Apalagi chatting tipe Indonesia, yang extreme ngetiknya ngebut, sambil senyam senyum sendiri. Mereka pasti pakai BB karena fungsi pushmailnya, sehingga email-email penting bisa segera dibaca dan dijawab. Tetapi di Indonesia, pemakai BB adalah berbagai kalangan. Bahkan terus terang, di kantor, saya adalah late bloomer. Staff-staff saja sudah pada pakai BB loh. Sementara saya masih pakai HP katro yang tombolnya isinya cuma nomer tanpa keyboard Qwerty.

Jadi, apa alasan saya memakai BB? Dari dulu saya berprinsip, saya hanya akan mulai memakai BB jika ada salah satu hal di bawah ini:

1. Pacar saya memakai BB
2. Kantor saya mengharuskan saya memakai BB
3. Dikasih orang

Dan bisakah anda menebak alasan yang mana?
Nomer 1 sudah pasti nggak. Namanya aja orang jomblo. Dan saya bukan tipe manusia yang mencari jodoh lewat chatting, jadi sudah pasti bukan alasan yang ini. Nomer 2, sampai sekarang bos saya belum mengumandangkan kalau bawahannya yang satu ini harus pakai BB. Jadi juga bukan alasan yang ini. Nah, jadilah menyisakan satu, yaitu nomer 3! Hehehehe.... Siapa yang ngasih ? I'm proud to say that it was given by my BROTHER !!! Thank you ya, Di! Jadi sejak November 2009, saya mulai petualangan dengan BB!

Kemudian, setelah 3 bulan berlalu, apa saja yang bisa saya ceritakan soal BB ?

1. Pertamanya sih lumayan excited ya. Add-add BB Pinnya orang lain, kemudian chat sana sini. Lama-lama kok, bosen! Bahkan, sejak 2010 ini, saya dengan resmi menaruh profil BB saya di Silent Mode! Kenapa ? Karena berbunyi klentang klentung gak karuan, dan kadang kalau sudah bunyi itu, rasanya tangan gatel banget buat melihat apa yang terjadi, padahal gak penting-penting amat. So, sorry friends... since I put my BB into silent mode, saya suka lama balasnya. Maaf juga buat yang protes, katanya sekarang saya jadi gak aktif di chattingan. Tetapi yang pasti, saya lebih konsen dalam pekerjaan tanpa klentang klentung dari si BB.

2. Berhubung Jakarta macetnya gak kira-kira, thanks to BB, saya jadi punya kerjaan di saat mobil saya berada pada gigi neutral dan rem tangan terangkat di jalan. Saya bukan orang yang kegilaan memegang BB sepanjang jalan, tetapi di saat-saat membosankan, BB lumayan membantu. Kadang saya menginfokan ke teman saya, sudah sampai di mana saya berada, dan biasanya dijawab dengan:"Hah? Dari tadi elo baru sampe situ? GILA ! Elu pasti boong!". Dan untuk membuktikannya, tinggal saya foto aja ciri khas yang ada di tempat tersebut (i.e. Patung Pancoran), dan mengirimkannya ke orang yang tidak percaya tersebut. "Percaya kan lo sekarang?"

3. Fungsi yang paling menyenangkan buat saya adalah pushmailnya. Browsing ya lambat klemar klemer. Facebook application ya kadang suka ngehang. BB Messenger juga kadang bikin ngehang ditambah lagi banyak yg isinya gak terlalu penting. Pushmail ini menurut saya sangat membantu sekali kalau saya lagi malas buka laptop. Mau hubungi bos saya, dokter saya, siapapun, dengan cara yang lebih resmi dari sekedar chattingan, ya lewat pushmail ini. Lagi gak enak badan di ranjangpun, tinggal buka BB, ketik ketik, tanya dokter mesti ngapain. Pas dia reply, kita juga bisa langsung balas, dan kesannya, sudah pasti lebih resmi dari sekedar chatting.

4. Katanya orang-orang, kalau ada BBM hemat pulsa telepon. Setelah saya rasakan, nggak ada bedanya ya. Abisnya dari dulu saya memang bukan orang yang suka gossip di telepon. Terus gara-gara punya BB, sekarang saya harus menyisihkan uang untuk BB servicenya. Lahhhh... hemat apanya ? Ya paling hemat jadi gak perlu SMS aja. Tapi buat orang-orang yang gak ada BB kan tetep dong kita masih pake SMS. Saya juga lebih memilih nelepon kok daripada terus-terusan ngetik di BB. Lama-lama bisa kena efek jari kapalan kayak jaman dulu pas main game console Sega, Sonic the Hedgehoc, sewaktu SD.

5. BB katanya bisa bikin "BB Autis". Bukan menghina orang yang mempunyai penyakit autis ya. Tapi katanya BB Autis ini adalah istilah buat orang-orang yang nggak bisa lepas dari BB, selalu terikat sama BB, dan matanya natap ke BB sampai gak mempedulikan sekitarnya, seperti pasangan yang saya ceritakan di atas. Tapi syukurlah Puji Tuhan, saya tidak terkena syndrome seperti demikian. Saya masih tetep suka ngobrol, dan lebih memilih ngobrol kalau ketemu teman. Jadinya jangan harap saya balas BB anda cepat-cepat, kecuali saat saya lagi nganggur.

Demikianlah, pengalaman hampir 3 bulan bersama si BB. Saya berharap dengan adanya teknologi ini, orang-orang pada nggak lupa berkomunikasi secara langsung pada teman-temannya ya. Jangan sampai gara-gara keasyikan ber-BB ria, kemudian jadi BB beneran alias Bau Badan lantaran lupa mandi.