Thursday, December 02, 2010

Wejangan si Bos Part 1

Kemarin ini sehabis makan siang, saya mampir di kantor si Bos. Maksudnya sih lagi mau diskusi mengenai acara akhir tahunan. Si bos menugaskan saya untuk research tempat yang sesuai dengan segmen karyawan kita, dan juga masuk di budget. Ternyata nggak gampang juga yah. Kalau tempatnya bagus, multimedia lengkap, biasanya makanannya biasa-biasa aja. Kalau makanannya enak, tempatnya ternyata gak punya fasilitas. Gitu deh, akhirnya jadi mayan repot juga. Sampai saya sempat mengusulkan, gimana pak kalo kita kateringan aja di kantor ? Tapi berhubung acaranya hanya buat departemen kami, alias bukan buat umum, mana enak ya untuk dilaksanakan di kantor. Lagian, masak saya mau gotong-gotong layar dari ruang meeting, terus gotong-gotong speaker buat acaranya ? Gak seru juga kan ?

Di tengah-tengah saya nyeletuk.... "Ternyata, nyiapin acara ginian aja kayak nyiapin acara kawinan yah". Terus mendadak si bos bilang, "Wah, kalo soal nyiapin acara perkawinan mah beda lagi! Bukan cuma sekedar acara, tapi kelanjutan ke depannya". Kemudian mulailah si bos memberikan ceramah alias wejangan selama hampir 2 jam yang menurut saya isinya sangat-sangat menarik, baik untuk orang yang masih single, akan menikah, maupun sudah menikah. Bos saya kebetulan seiman dengan saya yaitu Katolik, jadi mungkin pendekatan yang digunakan sedikit banyak terkait juga dengan agama, tetapi menurut saya, inti yang dibicarakan itu berlaku secara general. Ada 4 point yang beliau kemukakan dan akan saya bahas satu per satu di sini, dan saya rangkum sesuai dengan ingatan saya, dan saya tambahkan juga sedikit masukan versi saya.

1. Marriage is POINT OF NO RETURN


Seperti sumpah yang telah diucapkan, kita menerima pasangan kita apa adanya, dalam untung dan malang, dalam suka dan suka, di waktu sehat dan sakit, sampai MAUT memisahkan. Kecuali sebelum anda menikah anda dibohongi pasangan (misalnya pasangan ternyata sudah pernah menikah tetapi belum resmi berpisah, atau dia punya penyakit yang tidak dia ungkapkan pada anda yang menghambat proses kelanjutan keturunan), atau anda nikah karena terpaksa (kayak Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih yang dijodohin ortu padahal dah nangis-nangis menolak) tidak ada yang namanya CERAI. Saat anda memutuskan menikah, anda telah siap untuk segala konsekuensi, segala kekurangan dan kelebihan pasangan anda. Ada empat JANGAN yang harus selalu dipegang oleh pasangan yang sudah menikah.

Pertama, jangan sekali-sekali bilang "Pulangkan sajaaaa...aku pada ibukuuuu....atau ayahkuuuu..." *lebay seperti lagu*. Intinya, jangan pulang kepada orang tua jika anda mengalami masalah, atau sedikit-sedikit mengadu. Cobalah untuk menyelesaikan masalah keluarga anda, di dalam keluarga anda. Jangan bocor sama teman, tetangga, gossipan sana sini, karena apa? Karena anda bukan lagi DUA melainkan SATU. Saat anda menceritakan keburukan suami/ istri anda, anda menceritakan keburukan anda sendiri.

Kedua, jangan sekali-sekali menginjakan kaki keluar dari rumah saat anda sedang ribut dengan pasangan. Itulah yang dinamakan lari dari masalah. Saat anda sedang ribut, cobalah tenangkan diri. Pandanglah pasangan anda, dan ingat kembali komitmen anda saat mengucapkan janji perkawinan itu.

Ketiga, jangan pernah mengucapkan kata CERAI. Saat anda menikah, itulah saat anda dipersatukan oleh Allah. Dan apa yang dipersatukan Allah, jangan diceraikan oleh manusia. Berpikir tentang cerai saja, itu sudah merupakan kesalahan, apalagi mengucapkan kata cerai, sudah pasti melawan kehendak Allah yang telah mempersatukan kedua manusia menjadi satu tubuh. Jika sampai anda sungguh mempunyai masalah berat pada pasangan anda, tapi anda ingin setia dengan komitmen anda, janganlah bercerai. Berpisahlah, uruslah anak-anak anda jika anda mempunyai anak, dan jangan mencari pasangan baru. Setialah pada sumpah perkawinan anda di hadapan Tuhan, dan upahnya adalah Surga.

Keempat, jangan membawa keributan anda sampai lewat matahari terbenam. Artinya, jangan sampai memendam masalah berlarut-larut. Selesaikanlah ribut-ribut dalam rumah tangga secepatnya. Jangan sampai terbawa-bawa di dalam tidur, dan saat besok pagi anda bangun dengan wajah dan pikiran yang suram. Biarlah, saat anda bangun pagi, itu sudah merupakan hari yang baru dengan pikiran yang jernih. Ya, mungkin ada saatnya di mana pikiran itu selalu ada dan mengganggu anda. Usahalah dibicarakan dengan baik, cari solusinya, agar jangan sampai semakin runyam.

2. Marriage is accepting that DIFFERENCES ARE BEAUTIFUL


Bos saya menceritakan sebuah perumpamaan. Ada seorang anak muda, dia bertapa selama 40 hari 40 malam untuk mencari ilham. Setelah dia bertapa itu, dia mendapat pencerahan yang luar biasa, sehingga memberikan dia kekuatan baru, dan semangat yang baru. Saat itu usianya 17 tahun. Keluar dari pertapaan, dia bertekad, "Saya mau mengubah dunia menjadi seperti yang saya mau!". Sepuluh tahun berlalu, saat itu usianya 27 tahun. Dia melihat kalau dunia begitu-begitu saja, niatan dia menjadi lebih mundur, dan dia masih bertekad, "Saya mau mengubah Indonesia menjadi seperti yang saya mau!". Sepuluh tahun kembali berlalu, saat itu usianya sudah 37 tahun. Dia melihat, dia tidak bisa berbuat banyak untuk Indonesa. Indonesia belum menjadi seperti yang dia inginkan. Akhirnya dia menurunkan lagi standardnya, "Saya mau mengubah gereja saya menjadi seperti yang saya mau!". Sepuluh tahun berlalu, usianya sudah 47 tahun dan dia masih tidak puas. Gereja masih begitu-begitu saja, tidak ada perubahan berarti. "Saya mau mengubah keluarga saya menjadi seperti yang saya mau!" Sepuluh tahun berlalu, anak-anaknya ternyata tidak berprofesi sesuai cita-citanya, hampir semua tidak sesuai kehendaknya. Sementara, kesehatannya makin menurun. Saat itu usianya sudah 57 tahun. Saat itu dia baru terbuka pikirannya, kalau dia tidak akan bisa mengubah dunia, Indonesia, bahkan keluarganya sendiri. Yang dia bisa lakukan adalah menerima keadaan di sekitarnya. Dan saat itu, hatinya pun mulai tenang. Butuh 40 tahun baginya untuk menyadari hal itu, dan sepertinya kita tidak perlu sampai selama itu untuk memahami kalau perbedaan itu indah, hanya bagaimana cara kita menerimanya. Sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita, belum tentu adalah sesuatu yang buruk.

Mungkin saat anda masih pacaran, anda tidak tahu kalau pasangan anda suka mendengkur di saat tidur. Saat anda menikah, anda kesal karena setiap malam anda tidak bisa tidur. Pagi-pagi anda marah-marah. Malamnya, anda minta pasangan anda untuk ubah posisi tidur. Ternyata tidak berhasil, begitu tengah malam saat posisinya kembali terlentang, dia sudah mendengkur lagi. Anda belikan dia sticker khusus untuk penjepit hidung, yang kata orang di toko kesehatan bisa membuat dengkurnya berkurang. Tetapi pasangan anda tidak mau memakainya, karena dia tidak betah dan menutupi jalan napasnya. Anda marah, anda kecewa. Anda masih tidak bisa terima kalau anda terganggu tidurnya. Anda pergi ke dokter THT, berharap ada solusi. Dan ternyata solusinya sederhana, yaitu daripada mengeluhkan dengkurannya, anda cukup membeli penutup telinga.

Ada banyak hal yang tidak bisa anda ubah dari pasangan anda. Jangan berharap hidup dengan anda selama setahun, bisa mengubah pasangan anda yang telah hidup bersama orang tuanya selama lebih dari 25 tahun. Cobalah terima dia dan cari cara untuk membuat perbedaan itu menjadi sesuatu yang makin menyempurnakan hubungan anda. Dan jika ada yang ingin anda ubah secara perlahan dari pasangan anda untuk menuju ke hal yang lebih baik, lakukanlah dengan cinta dan kesabaran.

Masih ada 2 bagian lagi yang akan saya ceritakan yaitu:

3. Marriage as a TRAIL TO HOLINESS

4. Marriage with GOD as the FOCUS


Tapi saya rasa segini dulu ya, nanti saya udah keburu lemes ngetiknya hehehe.
Ngomong-ngomong, saya sisipkan ya, foto menarik, yang diambil dari tahun 1933.


Ganteng dan cantik kan Opa dan Oma saya ? hehehe... Perkawinan mereka, bertahan sampai maut memisahkan. Opa saya meninggal di tahun 1991 pada usia 80 tahun, dan Oma saya meninggal di tahun 2005 pada usia 88 tahun. After 7 kids, 7 son and daughter in laws, 19 grandchildren, and 13 great grandchildren as of today, it shows that love truly never dies.

17 comments:

  1. wahh gua setuju banget ama bos lu.. masih si pak H kah?

    ReplyDelete
  2. LOl beli tutup telinga doank resepnya

    ReplyDelete
  3. @ Arman: Yes yes... gue juga setuju banget. Dan sebenarnya, ini benar-benar sama dengan yang selama ini mami gue juga nasihatin. Sampai pas dia nerangin tuh, gue bisa kayak finish up the line alias nyambungin. Bos gue bukan pak HB lagi tapi pak DK hehe.

    @ Mercuryfalling: Hihihi...iya, intinya, mendingan kita nerima dan kita mencoba untuk mencari solusi pada diri kita, bukan pada orang lain.

    ReplyDelete
  4. Wah setuju banget deh ama pendapat elo dan boss elo. Gw juga Katolik, so, totally percaya kalau perkawinan itu tidak dapet diceraikan oleh manusia. Mami gw juga pernah nasihatin masalah kalau bertengkar jgn sekali2 keluar dari rumah, mami gw blg kalau tengkar terus pulang ke rumah ortu kalau sampe gga dijemput sama lakinya gimana?

    ReplyDelete
  5. @ Babybeluga: Bener banget! Nyokap gue juga dari dulu berpendapat seperti itu. Iya, laki2 kalo kita melarikan diri, mereka bisa aja melarikan diri ke tempat yang lebih gak bener, akhirnya keluarga yang sebenarnya bisa diselamatkan, malah jadi berantakan.

    ReplyDelete
  6. huahhh dari kemarin kok postingannya tentang relationship hahaha ^^
    gilak masih ada photo wedding opa oma~ g enggak inget wajah opa g, soalnya pas g gede udah ga ada jadi ga ada yang nempel, photo na ga ada juga

    ReplyDelete
  7. @ Pitshu: Kebetulan aja Pit. Kmaren yang pas itu kan dapet forward-an dari milis alumni, nah kali ini dapet ceramah dari bos. Gara-gara isinya bagus, ya gue share dong heheheh...

    Iya, itu nyokap gue yang nemuin di tumpukan2 foto. Btw, kita masih nyimpen loh foto2 bersejarah dari tahun 1950-an sampai sekarang. Ada albumnya rapih di rumah gue hehehe...

    ReplyDelete
  8. ^_^ Nice posting. Sama persis kayak wejangan mertuaku. ^_^
    Keren ya foto weddingnya. Udah termasuk modern ya jaman tahun 30 an udah pake baju wedding ^^?

    ReplyDelete
  9. @Fely: good advice ya Fel. Iya, itu dulu opa oma gue katanya pesta tiga hari tiga malam, soalnya di jaman itu keluarga mereka mayan top *katanya loh*. Ada yang ala barat, ala Chinese, dan ala Betawi. Kalo gak salah ganti baju sampai 7 kali. Gila, kalau skrg pesta kyk gitu pasti bangkrut deh.

    ReplyDelete
  10. iya bener banget, rata2 orang udah merit pasti setujulah, tapi semuanya bisa dipelajari pelan2 tapi intinya sama, menerima apa adanya pasangan kita :)

    ReplyDelete
  11. @ Pucca: Intinya, kalo udah komit, ya jangan berpaling. Inget terus soal janji perkawinan itu :)

    ReplyDelete
  12. ini grandma lu rambutnya keik pengantin jawa ya? hihihihi
    hebat masih ada poto tua begini...

    ReplyDelete
  13. @ Bebek: Wah, justru gayanya pengantin barat hehehehe..bukan pengantin Jawa. Itu modelnya kayak pake crown gitu, dan rambutnya tepes kayak bintang-bintang film di tahun segituan. Iya, kaget juga sih pas nemu. Very2 precious.

    ReplyDelete
  14. sukaaaa sama post yang ini :) Salut sama pasangan yang berani untuk mempertahankan pernikahan sampai ajal menjemput, walaupun pasti banyak banget masalahnya. Kalau di otak solusinya cuma "cerai", maka dengan mudah orang bakalan cari jalan pintas yang belum tentu yang terbaik.
    Tapi katanya sekarang kalau orang Katolik, misalnya pasangan nya punya gangguan jiwa/alasannya acceptable boleh bercerai. Bener ngga sihh?

    ReplyDelete
  15. @Eveline: Good question, Dear. Nah, aku jawab pakai pengetahuan awam ya, sesuai dengan informasi yang pernah didapat. Intinya dalam sebuah pernikahan Katolik itu adalah keterbukaan. Kalau dari awal si pasangan ternyata mengidap gangguan jiwa tetapi pasangan lainnya TIDAK MENGETAHUI dan si yang punya gangguan ini TIDAK JUJUR, maka masih ada kemungkinan "cerai" atau dalam istilah Katolik perkawinannya dibatalkan. Itupun harus melalui proses penelitian yang panjang dan disetujui oleh Gereja. Tetapi kalau yang mengalami gangguan ini JUJUR dan si pasangan MENGETAHUInya, maka TIDAK BOLEH "cerai" karena berarti si pasangan sudah mau menerima dari awal kan? Nah, beda kasusnya dengan yang gangguan jiwanya itu terjadi di tengah pernikahan. Kalau hal ini sih aku bilang tidak pantas ya untuk "cerai", karena siapa tahu orang tersebut mengalami gangguan karena stress rumah tangga, atau hal2 lainnya, yang secara langsung ataupun tidak langsung disebabkan oleh situasi di dalam pernikahan tersebut.

    Mohon maaf jika ada salah-salah kata, dan mungkin saja pendapatku ini belum mewakili sikap Gereja hehehe... jadi anggap saja itu opini pribadi yang kurangkum dari knowledge dan faith yang aku imani. Semoga berkenan.

    ReplyDelete
  16. I love your boss' wejangan. Hahaha. Sebenernya semuanya cukup general ya, but it's nice to be reminded, apalagi pake perumpaan hahaha. Jadi tambah dramatis :)

    ReplyDelete
  17. @Leija: Iye Lei, ngena banget... dia emang hobi kasih perumpamaan2, termasuk buat acara outing kantor, sampe kita disuruh ngapal perumpamaan dia, trus kita ditest nanti kalo pas balik kantor, masih inget apa kaga hahahaha...

    ReplyDelete