Tuesday, November 09, 2010

Norak Nggak Sih ?

Cerita ini sebenarnya bukan saya sendiri yang mengalami, tapi adik saya. Jadi ceritanya, minggu lalu dia hadir ke resepsi perkawinan salah satu co-workernya. Resepsinya diadakan di sebuah hotel. Saya sih gak tau ini hotel bintang berapa ya, tapi yang pasti hotel ini ada di kelas menengah, lokasinya di bilangan Tanah Abang sana. Buat yang tinggal di Jakarta, pasti sudah bisa mengira-ngira hotel apa namanya.

Nah, sekarang kan di Jakarta lagi ngetrend tuh, pake photo booth. Jadi kayak ABG jaman dulu, pakai box untuk berfoto dan hasilnya langsung jadi, sehingga bisa digunakan sebagai souvenir. Saya sudah beberapa kali ke resepsi perkawinan yang ada photo booth ini, dan biasanya di foto tersebut otomatis tercetak nama kedua mempelai dan tanggal resepsi. Kadang juga ada nama tempat resepsinya tercetak kecil di banner. Nah, kalau pengantin yang satu ini, nggak tau norak atau apa, masak sih, dicetak LOGO HOTELnya lumayan besar di pojok kanan atas. Pas pulang-pulang, adik saya sampai bilang, kalau dia mau gunting aja sisi kanan fotonya, biar logo besarnya itu tidak mengganggu.

Apa mungkin untuk kedua mempelai ini, bisa menikah di hotel tersebut merupakan suatu pencapaian besar? Saya sih sangat mengerti standar setiap orang mengenai tempat resepsi itu berbeda-beda. Mungkin saja buat keluarga mereka, bisa berpesta di hotel tesebut cukup membanggakan. Namun sekiranya demikian, apa perlu mencantumkan logonya di setiap foto yang tercetak untuk suvenir pernikahan yang dibawa oleh tamu2? Kesannya bukannya malah jadi norak ya? Soalnya yang berpesta di tempat-tempat yang lebih mewah saja tidak sampai seperti itu kok.

Di dalam pesta tersebut, juga ada pembagian hadiah, kayak door prize gitu lah. Biasa kan ada lempar bunga, ada kuis. Pengantin yang ini agak unik, mereka meminta teman-teman mereka untuk maju dan seperti mengambil undian di dalam toples besar. Kalau dapat, undiannya itu dibuka, ada tulisan "anda belum beruntung" atau "anda sedang beruntung". Kebetulan adik saya dapat tulisan "anda sedang beruntung". Jadi cukup senanglah dia. Yang belum beruntung mendapatkan boneka-boneka teddy bear kecil, dan yang beruntung mendapatkan 1 box yang oleh adik saya dibawa pulang ke rumah. Sebagai orang yang beruntung, diajak juga untuk foto bersama, yah, seperti layaknya kalau dapat lempar bunga, kan diajak foto juga tuh bersama kedua mempelai.

Adik saya sih tidak mempunyai ekspektasi tinggi untuk hadiah apa yang dia bawa pulang. Tapi sampai saat ini, sejelek-jeleknya hadiah door prize itu adalah telepon genggam buatan China seharga 150-200 ribuan lah. Pas sampai rumah, dia buka hadiahnya...eng ing eng...apakah itu ?? Setelah kertas kadonya dibuka, ternyata di dalamnya masih dibungkus kertas koran. Setelah kertas korannya dibuka, ternyata ada sebuah box butut yang sepertinya bukan box dari barangnya. Dan barangnya itu ternyata adalah sebuah keramik BUTUT, asli butut banget, saya gak akan tega bilang butut kalau nggak bener-bener butut. Keramiknya di cat sembarangan, dan tulisannya plentat plentot, kayak produk gagal bikin. Kecewalah adik saya, karena menurut dia, mendingan dapat yang "anda belum beruntung", setidaknya dapat boneka teddy bear kecil yang dia bisa kasih ke orang lain. Lah, kalau keramik butut ini, kasih ke orang lain juga gak tega. Mau dipakai juga gak tau buat apaan.

Besoknya, kita sekeluarga masih membahas lagi soal keramik tersebut. Dan fakta lebih jauh soal keramik ini adalah, ternyata di bawahnya masih ada label harganya. Tulisannya : Love Jewelry Box Rp. 78,000. Pertama, masak sih orang kasih hadiah masih ada label harganya? Apa gak malu ya? Apakah Rp. 78,000 itu merupakan angka yang besar buat si mempelai atau tidak, itu kan relatif ya. Tetapi yang sudah jelas, tidak mungkin keramik itu harganya Rp. 78,000, dan saya malah merasa itu adalah barang bekas, karena boxnya tidak cocok, dan dibungkus sembarang dengan kertas koran sebelum dibungkus lagi dengan kertas kado.

Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah, ternyata, label harga yang Rp. 78,000 itu adalah, LABEL BIKINAN! Jadi ternyata setelah kita sobek label harga tersebut (yang ternyata gampang banget sobeknya), di bawahnya itu ada bekas label harga asli yang sudah berusaha untuk disobek sebelumnya. Sekarang ini yang saya pertanyakan, sebetulnya niat nggak sih si kedua mempelai ini bikin door prize ? Dan kenapa harus pakai kamuflase harga segala ? Pasang label harga saja udah malu, dan ini ditambah lagi ternyata labelnya palsu.

Sebenarnya, masih banyak lagi cerita kelebay-an dari acara resepsi perkawinan, tetapi tidak pernah menemukan yang seunik ini. Hehehe. Cerita ini saya tujukan untuk para calon pengantin, yang mungkin masih memikirkan acara seperti apa untuk pernikahan mereka. Banyak orang-orang yang ingin unik, ingin dianggap keren, tapi kok malah kesannya lebay dan norak juga. Kalau menurut saya, mendingan sederhana, tapi berkesan, dan tidak memaksakan. Untuk kedua mempelai, saya mendoakan anda berdua semoga langgeng sampai kakek nenek, diberkahi dengan anak-anak yang baik dan sehat, serta kemakmuran dan berkat Tuhan selalu menyertai.

27 comments:

  1. wuakakakakakakakaak kok banyak banget cerita norak dalam acara wedding yah...

    kita juga diundang ke wedding seseorang, duh kalau dia baca matilah aku (darn!)

    Nico sampe terkagum2 wah gile, bunganya, kata Nico....banyak banget, berapa mereka bayar??? Gue sih senyam-senyum aja. Trus kuenya lagi ampe berapa tingkat gitu.

    Pas didekatin, ternyata....PALSU semua. Kaget dia, gimana mau makan kuenya kalau palsu?????????

    Udah gitu kita meresa ndak enak ati banget, makanannya ndak enak sekali, Hotel bintang 4 lagi....

    ReplyDelete
  2. oh yah aku tahu lho hotel dekat ancol itu hahahhahahahhaah

    ReplyDelete
  3. @ Xty: Kalau kue palsu, di Indonesia sudah biasa Cris, malah sekarang hampir semua cake makers udah nggak bikinin yang asli lagi, itu karena banyak pengantin yang mau modelnya macam-macam dan maunya besar-besar. Biasanya kuenya akhirnya dibuat modelnya saja, kemudian the real cakenya itu sudah di boks-kan, biasanya belasan box kecil gitu buat dibagi2 family. Gue juga dulu bingung loh, jadi kuenya kan gak bisa dipotong, tapi lama-lama dan setelah bicara sama cake makers, gue jadi ngerti juga hehehe...dan sekarang anggap itu jadi common. Cuma hmm...jangan sampai bentuknya terlalu aneh deh. Masak kemarin ini ada yang bentuknya kayak labu cinderella sih ? Gak make sense! hahaha...

    ReplyDelete
  4. hmmm.. klo masalah begini kadang ada yang di serahin ke EO, bisa aja EO na yang ngasal beli! sedangkan yang punya hajatan enggak tau barang na kek apaan :) atau mungkin salah ngambil ?!
    g sih seumur2 cuma ilfil pas ngeliat kuah sop di gayung dengan gayung plastik yang udah dekil, dan juga semua makanan di taro na di ember plastik, yang keliatan banget plastik embernya murahan punya ^^

    ReplyDelete
  5. emm.. sepertinya itu kerjaan EO bukan buk? soalnya biasanya kl di hotel udah diurus EO minimal si panitia hotelnya. Kan mereka belinya paketan... jadi curiganya foto box itu ya kerjaan si EO Hotel itu sendiri. Trus hadiah2nya juga, krn mc nya dr mereka, rancangan acaranya jg dr mereka. Kasian aja sih sama mempelainya, mereka kemungkinan ga tau lho itu...
    Aku pernah dtg ke resepsi nikah temen di restoran, dan ternyata makanannya habis sebelum waktunya banyak tamu belum dpt makan. Kasian banget sama keluarga mempelainya krn mereka ga nyangka pihak kateringnya separah itu. Akhirnya besoknya ngasi ucapan permintaan maaf sambil ngasi nasi kotakan lg bahkan ke org yg ga hadir..heheheheh

    ReplyDelete
  6. @ Pitshu: Wah, kalau yang cerita elu sih bukan soal pengantennya yang lebay Pit, tapi lebih kepada pemilihan katering yang sembarangan. Memang nggak bisa bohong, ada barang, ada harga. Katering yang mahal, pinggan2 dan piring2nya pun exclusive, plus pelayan2nya bersih2. Ngadain acara di rumah aja, kesannya jadi berasa nyaman, dan cekatan semua kerjanya.

    Kalo soal EO yang beli, gue rasa nggak deh. Soalnya cousin2 gue banyak yang married, dan semua hadiah itu yang beli pengantinnya. EO sama sekali nggak keluar buat gini2an, apalagi kalau EO yang pro, mereka gak mau disusahin beli ini itu.

    @ Rahayu: Soal photobox itu, aku tau vendor photoboxnya itu tidak related dengan EO maupun dengan hotelnya. Dan sudah ada beberapa teman yang pakai vendor ini. Vendor ini kalau mencantumkan tulisan atau logo, itu berdasarkan permintaan pengantinnya. Jadi kalau pengantinnya pingin kayak gitu, ya mereka turutin. Kalau pengantinnya lebay, ya jadinya lebay hehehe..

    Soal EO, sama seperti penjelasanku ke Pitshu, EO itu tidak bertanggung jawab untuk membelikan hadiah. Semua hadiah itu dibelikan oleh pengantin. Sepupu seumuranku baru pada nikah kemarin 3 orang, dan semuanya pakai EO yang berbeda, dan EO itu betul2 sampai batas menjalankan acara, tidak ada urusan beli membeli apalagi mempersiapkan hadiah.

    Kalau yang soal kekurangan makanan, kalau menurutku sih pasti karena salah ekspektasi. Biasanya event yang gembira, maunya undang semua orang, tapi tidak dipikirkan jumlah makanan yang seharusnya dipesan. Mendingan kelebihan daripada kekurangan kan ? Jadinya malu banget deh kalau sampai kurang.

    ReplyDelete
  7. personally, saya pikir kalo ada yang ngundang saya ke pesta pernikahannya, that means they honored me to come and celebrate THEIR day. dan kalo saya memilih untuk datang, artinya saya datang dengan tujuan to celebrate their day. karena itu harinya mereka, jadi bagaimanapun lucunya atau absurdnya (menurut saya) jalannya pesta, i'll just enjoy it, be happy with and for them, go along with the ride. but for certain i won't make any judgement (or perhaps if i make judgement, i'd keep it for myself and wouldn't b**** about it).
    this is their party, not mine. and this party is not made to suit my taste, but to suit theirs.
    mungkin mereka punya pertimbangan budget atau pertimbangan lain yang saya ga tau.

    mungkin karena lagi menyiapkan pernikahan adik dan udah banyak denger komentar "kalo ga begini/begitu nanti jadi omongan orang", and oh boy *sigh*... mungkin ini memang kultur kita, but this certainly the culture that i fail to embrace.

    but that's me, perhaps i'm the one moving against the grain...
    anyhow, this is your blog, and i'm just a passer by.. but because it's an open article to comment, thus, my 2 cents :). o hard feeling please..

    ReplyDelete
  8. @ Dian: Yes, I do agree dengan komen kamu, dan I also do agree that this is an open forum and people can go with personal opinion. Saya juga setuju kalau setiap orang punya cara masing-masing untuk berekspresi. Saya sama sekali tidak keberatan dengan komentar anda, dan kalau anda bilang saya b****ing, it's okay (even though I don't agree if what I wrote is implied as b****ing), it's your personal opinion, but for me, it's sharing to avoid people actually talking/ thinking bad about your/your family members/your friends upcoming wedding. Many problems happened in a wedding, seperti pemilihan lagu yang salah, makanan yang kurang, dan lain-lain, dan saya rasa tidak ada salahnya saya sharing untuk dipertimbangkan oleh orang lain.

    Seperti yang anda bilang tadi, dan saya juga kemukakan di isi blog saya, orang banyak pertimbangan dalam pernikahan, seperti pertimbangan budget. Namun menurut saya pribadi, banyak hal-hal yang lebih sederhana namun lebih berkesan, dan tidak berkesan "maksa". For example, memberikan used item untuk hadiah door prize, menurut saya itu bukan related to taste, itu lebih relate kepada appreciation. Jadi sasarannya mungkin kurang tepat kalau disebut masalah taste. Yah, itu cuma salah satu contoh yang menurut saya cukup menarik untuk di share.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya, seperfect apapun pernikahan seseorang, maka pasti ada saja yang berkomentar buruk. Mungkin untuk orang yang berkomentar buruk hal itu hal yang gampang 'kok gini sih' 'kok gitu sih' 'kok jelek sih' bla3, tapi belom tentu ketika dia menjalaninya dia dapat lebih baik dari yang diomongin. Dan soal Logo itu kan hanya pendapat anda saja dia sombong, bagaimana kalau kenyataannya dia salah dalam mendesign? bagaimana kalau sebenernya dia juga tidak ingin seperti itu? Lalu untuk hadiah doorprize, bagaimana kalau ternyata menurut si pengantin, barang itu adalah barang yang sangat unik. karena pendapat orang sangat relatif terhadap selera masing2. Mungkin adik anda tidak menyukainya, tapi bagaimana jika orang lain menyukainya? Jadi kalau menurut saya sih, selama masih diundang ke acara orang lain, akan lebih baik kalau kita sepenuhnya bersyukur dan positive thinking ajah yaa.. kalau memang merasa pestanya low budget dan males pergi, ya mendingan gausah pergi.. hehehe.. daripada dateng hanya untuk ngomongin di belakang dan menyebarkan sesuatu yang membuat mereka malu.. akan sangat baik, jika kita datang ke pernikahan orang dan mendoakan orang yang akan menikah tersebut agar kehidupan keluarganya bahagia ..

      Delete
    2. Anon, first of all, thank you for stopping by to my blog. Next time jangan pakai anon ya. Heran deh kalau org komentar nggak setuju rata2 selalu pakai anon. Pdhl kalau kenal pun gak masalah kok punya pendapat yang berbeda.

      I never said that I didn't wish the couple the best for their marriage (who is assuming here?). Dan saya tidak pernah ingin mempermalukan orang. Kalau saya ingin permalukan, says tulis aja namanya gede2. Sudah saya tulis di atas, yang diundang adik saya, bukan saya (hayo dibaca hehhehe). Kalau saya datang ke undangan orang juga bukan karena budgetnya tp karena kedekatan saya dengan yang ngundang. Jadi malah mas/ mba Anon nih yg assumed jg kalau semua itu berkaitan dengan budget.

      In the end, what I talked about was not about the budget at all. Coba perhatiin lagi dan dibaca lagi deh. Putting a price tag in a gift aja menurut saya udah rada inappropriate kok. Sama seperti tanggapan saya ke komentar sebelumnya, sepertinya rata2 org malah fokus ke budget instead of soal etika dan apresiasi. Gitu lohhh...Soal design, udah ada yg nanya di atas. Udah saya jawab juga kok. Anyway, hebat jg bs scroll post yg udah 5 thn lalu hihihi. Thanks again udah mampir sini.

      Delete
  9. pas baca tentang foto ada logo hotelnya tadinya gua kira siapa tau hotel nya itu salah satu sponsor. mungkin yang punya hotel itu kerabatnya dan mereka dikasih gratis/murah dengan catatan logo hotelnya dicetak di foto itu. bisa jadi kan?

    tapi pas baca tentang hadiah doorprize nya sih asli ancur banget ya. huahahaha... :P
    aneh banget.. gak abis pikir gua...

    ReplyDelete
  10. Halah..

    Same like Arman, gw pikir hotel itu juga sponsor utama :p Kayanya tidak ya? Hehe

    Well, gw rasa ada kesalahan teknis deh. Even assuming si penganten pake EO, masa sih ada yang tega ngebungkus keramik murahan gitu untuk kategori 'Anda sedang beruntung'?

    ReplyDelete
  11. @ Arman: Terus terang, gue juga sempet kepikiran kayak elu, tapi setelah ngeliat nama vendor photoboothnya, gue tau kalo mereka itu bikin logo basednya dari permintaan pengantin, soalnya udah mayan banyak temen2 gue yang pake juga. Soal hadiah door prize itu, sampe skrg gue juga masih bingung, especially soal label harganya.

    @ Mr. E: Menurut gue sih nggak ya, tapi nggak tau kalau memang begitu (kemungkinannya kecil sekali). Hehe, iya, jadi kesannya gak ada apresiasinya gak sih? Walaupun sesungguhnya gak dapetpun gak apa-apa, tapi begitu dapet hal yang asal jadi gak enak juga dilihatnya.

    ReplyDelete
  12. Banyak kok yg norak. makanya gw posting jg kan tempat gw kemaren. gw jd bingung, norak kok di acara wedding sih. yah emang sih, mereka bagi berkat ke orang lain dan bikin kaya mereka through the wedding. anggap aja hikmahnya begitu.
    lu belum pernah kan ketemu orang married bikin surat minta sumbangan?????? hi hi hi

    ReplyDelete
  13. @ Yulia: Wah, beneran minta sumbangan ?? Ditulis gitu, kalo mereka MINTA ?? Aneh juga.

    Kalo dulu sih gue pernah dateng ke weddingnya seorang pengusaha gitu, dia nulis, seluruh angpao yang masuk akan disumbangkan ke Panti Asuhan apaaa gitu. Eh gilanya, pengantinnya tuh sama sekali nggak meriksa lagi loh angpaonya. Pas malem2 gitu, langsung biarawati2nya ambil sumbangannya itu directly dari kotak angpao. Kalo gue bilang sih, itu gak bener lagi sih, biar gimana kan mestinya tuan rumahnya ngelihat dulu siapa yang dateng, siapa yang kasih angpao, jadi balik lagi, kayak gak ada apresiasi. Mana tamu2nya masih ada dan pada ngeliat lagi. Jadi gak enak rasanya.

    ReplyDelete
  14. Haha..kalo soal logo hotel, gue no comment deh yah. Mgkn bagi sebagian org emang ada kebanggaan tersendiri bisa ngadain pesta di tempat (hotel) tertentu, jd yg ada terlihat 'berlebihan'.

    Tapi soal packaging hadiah undian??? Ampyunnn deh..masa sih segitu gak 'care' nya tuh capeng? Biar kata tuh packaging asli dari tokonya, yah mbok minta ganti ato cari hadiah lain lah...Terus soal label harga palsu? Busyeeet...gak ada yg lebih 'horor' apa? :)

    Penasaran sih, itu emang sengaja or kecelakaan yah? Adek luh tau gak Le, itu karakter orgnya sehari2 kayak apa. Kan bisa keliatan tuh, apa orgnya yg perfeksionis, ato so pamer, gengsi-an? Nah dr situ biasanya bisa di-reka2, itu 'kecelakaan' or sengaja? Hehe....kepo yah gue, pake dianalisa segala :) Abis penasaran sih...kok bisa se'kacau' itu sih.

    ReplyDelete
  15. @ Lovefaithhope2811: Li, bingung juga sih gue soal yang hadiah itu. Secuek-cueknya pengantin, masak sih ya tega. Ya jika emang ini kerjaan EO-nya, mesti tau tuh EOnya siapa, jangan sampe dipake hahahah. Tapi kalo ini kerjaan pengantennya (yang gue lebih yakini), tega bener orangnya.

    Soal temennya adik gue ini, gue sih sempet nanya sama dia. Kata adik gue, model chinese kota gitu sih dan simpel2 aja. Gak tau deh kalo istrinya yang take control. hahahah...

    ReplyDelete
  16. teganya...teganya...kasian juga kalo bikin acara sampe maksa biar keliatan gebyarnya doang yach, malah jadinya gak berkesan.

    ReplyDelete
  17. @Tiwi: Bener banget Jeng Tiwi. Mendingan sederhana sekalian tapi berkesan yah, daripada maksa.

    ReplyDelete
  18. kok lu gak pajang foto keramiknya di sini ny? mestinya dibuka disana kali ya hahaha...
    lesson learned ny, kalo dapet hadiah doorprize buka aja di tempat :D

    ReplyDelete
  19. Wow.. U're already created ur blog since year 2003! I think I should call u 'suhu'.. *lebay* ;p

    ReplyDelete
  20. hehe..kasian juga ya..

    Seumur-umur ke wedding, aku gak pernah merhatiin eh. So gak punya pengalaman buat dibagi hehe...Plus, aku selalu enjoy aja sih.

    ReplyDelete
  21. @ Pucca: Vi, kalo gue pajang di sini, gak enak juga sih. Mendingan dibayangin aja deh. Tapi mana enak euy buka hadiah di tempat. Malu hati ah.. hehehehe..

    @ NicetobeOKI: Haish...suhu apaan ? Suhu udara kali yah ? heheheh...

    @ Dian: Duh Di, kalo wedding di US tuh enak... kita bisa enjoy. Kalo wedding Jakarta, kadang2 susah enjoynya. Antri makanan aja kadang2 kayak orang stress...grabak grubuk..ampun deh. But banyak kok yg fun juga, dan bisa dienjoy.

    ReplyDelete
  22. Wah, bener2 pengantin yang lebay bin norak non!

    LOGO hotel? Please...wong nama hotelnya dicantumkan aja gw masih ngerasa ...eergh... really? Kalo ini, logonya? Wahhh...lebay.

    Yang penting tuh tanggalnya aja yang harus tercantum, karena yang diingat kan seyogyanya harinya saja, bukan tempatnya. Nama kota juga boleh.

    But I do understand how you feel non. I mean, kalo kawinannya di The Plaza, New York siihhh...well, boleh kali ya dicantumkan kecil2 dibawah fotonya, misalnya "Erni & Djohan - September 12th, 2010 - The Plaza, New York". Kalo hotel di tanah abang ini...ermm...haha.

    And I can't even begin to describe how appalling that door price thingy is. Reminds me of a similar situation I experienced many years ago - menerima hadiah ultah berupa vas butut dengan kotak yang bukan aslinya dan juga ada label harganya (tapi yang ini at least label beneran) HAHA!

    ReplyDelete
  23. @Erique: Iya, gue sih mayan malu sih nyantumin logo hotel gue di souvenirnya tamu. Emangnya gue nikah disponsorin sama hotelnya ?

    PS: kalo hotel gue sponsorin 100%, boleh deh mereka cantumin logo hahahaha... Silakan Pak Tan Kian, Pak ?? Mbok dibaca blog saya yang humble ini dan dikabulkan?...

    Soal kado, been there Rik. Ini dari SODARA loh...dia kasih gue pajangan bentuk balerina dari plastik IJO (maksudnya mo niru giok), dengan box yang udah belel, dan gabus di dalamnya sudah hancur2an... TEGANYA....

    ReplyDelete
  24. Pembelajaran berharga buat yg mau nyiapin doorprize & hadiah hiburan. Jadi bisa membedakan mana yg sifatnya doorprize buat kejutan & mana yg hadiah hiburan buat lucu lucuan. Tamu harus happy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lucu2an ngga apa2 asal jangan kelewatan. Yang dulu adik saya alami itu menurut saya sih kelewatan ya. Mendingan ga usah pake door prize sekalian.

      Delete