Tuesday, October 05, 2010

Serius Dikit

Tadi siang, saya habis terlibat pembicaraan seru dengan seorang teman dan maminya. Si Maminya ini sayang dan care banget sama anak cowoknya, dan pingin anak cowoknya ini cepat-cepat menikah. Padahal anak cowok ini masih 2 tahun di bawah saya umurnya. Kebetulan, dulu si cowok sudah pacaran dengan seorang cewek sampai 5 tahun lamanya, sebelum akhirnya mereka mengakhiri kisah cintanya. Dan sekarang si cewek sudah menikah dan sudah punya anak. Maminya teman saya ini, masih tetap berpikir, sayang banget dulu sampai pisah, semestinya harus sama cewek itu saja. Tetapi saya cuma bilang, "Bukan jodohnya, Tante. Lama pacaran tidak menentukan apakah orang tersebut mengenal satu sama lain. Berarti, memang bukan dialah yang terbaik untuk anak Tante."

Jadi, yang terbaik itu seperti apa sih? Soal jodoh dan pasangan hidup, adalah hal yang serius untuk dibicarakan. Di saat orang berpikir kalau dia sudah menemukan jodohnya, terkadang suka mengabaikan hal-hal yang sebenarnya penting. Buat kita yang wanita, seringkali syarat utama seorang pria single yang dianggap cukup untuk menikahinya adalah sudah mapan. Beberapa hari lalu, saya mendapatkan sebuah forward-an yang sangat bagus untuk dibagikan. Kebetulan, forward-an ini berlaku untuk wanita, membicarakan tanda pria yang mempunyai masa depan, yang berarti juga merupakan sebagian syarat dari pria yang baik untuk dijadikan calon pendamping.

1. Punya tujuan hidup
Ketika Anda bertanya apa tujuan hidupnya, ia akan menjelaskan secara rinci kepada Anda rencana jangka pendek dan menengahnya, apa yang ingin ia lakukan setahun mendatang, lima tahun, dan seterusnya.

Bahkan, ia menyiapkan rencana cadangan untuk mengantisipasi kegagalan. Tidak hanya menjawab, "Kita lihat saja nanti, jalani saja hidup ini seperti air mengalir."

2. Mandiri
Ia tidak bergantung pada orang lain dan mengandalkan kemampuan sendiri dalam hal apa pun. Misalnya, sejak awal mula bekerja, ia menanggung sendiri biaya hidupnya tanpa bantuan orangtuanya. Pria seperti ini menunjukkan bahwa ia bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang yang ia sayangi. Si dia juga tak pernah mengeluh mengenai pekerjaannya. Karena ia sadar, untuk mencapai kesuksesan, tentu dibutuhkan usaha dan kerja keras.

3. Hobi menolong
Anda tentu pernah mendengar ungkapan semakin banyak memberi, akan semakin banyak menerima. Percaya atau tidak, ungkapan ini memang ada benarnya. Jadi, bila pasangan termasuk pria yang ringan tangan membantu orang lain, Anda perlu berbangga hati mendukungnya. Sebab, ini akan menjadi bekal atau tabungan untuk menuju kesuksesannya di masa depan. Siapa tahu seseorang yang ia bantu saat ini berperan penting dalam kariernya di kemudian hari.

4. Bersahabat dan berwawasan
Sikapnya yang bersahabat ditambah dengan wawasan luasnya biasanya akan mudah mengambil hati banyak orang, termasuk saat melobi orang-orang penting yang berkaitan dengan kariernya. Pengetahuannya tentang berbagai hal termasuk berita-berita terkini akan membuat orang lain merasa nyaman berdiskusi dengannya. Semakin banyak orang tertarik padanya, semakin luas juga networking-nya. Kalau sudah begini, Anda tak perlu khawatir dengan kualitas diri yang dimiliki si dia, kesuksesan pun akan segera menghampiri.

5. "Family man"
Pria yang bertanggung jawab dan menyayangi keluarganya biasanya adalah pria yang juga memerhatikan perkembangan kariernya. Ia akan selalu termotivasi meningkatkan karier lebih baik lagi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain itu, pria tipe ini cenderung setia pada pasangannya sehingga ia bisa menyeimbangkan waktu dan pikirannya untuk Anda dan pekerjaannya.

6. Memiliki investasi
Saat ini gaji si dia tak bisa dibilang besar? Tak perlu khawatir selama ia bisa mengatur pendapatannya dan tak selalu kehabisan uang di tengah bulan. Apalagi bila ia termasuk orang yang jeli melihat peluang bisnis. Tak perlu terlalu besar, berangkat dari bisnis kecil-kecilan pun bisa mengantarkannya menjadi pengusaha sukses. Dukung sepenuhnya ketika dia memiliki keinginan untuk mencicil rumah atau berinvestasi dalam bentuk lain, seperti saham atau reksa dana. Karena ini menunjukkan si dia sangat memikirkan masa depan.

7. Realistis dan lurus
Meskipun si dia bersemangat meraih mimpinya, tetap amati bagaimana usahanya meraih impian, jangan sampai si dia menghalalkan berbagai cara yang justru bisa menghancurkan masa depannya. Ingatkan untuk tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya. Bila si dia ahli dalam bidang teknologi informatika, ia tak perlu memaksakan diri untuk menjadi seorang public relations karena tertarik melihat temannya yang sukses di bidang tersebut. Masing-masing orang kan memiliki kelebihan yang berbeda-beda.

8. Optimistis dan positif
Ia sangat tahu apa yang menjadi kelebihan dan kekurangannya sehingga ia selalu percaya diri saat berinteraksi dengan orang lain ataupun ketika diberikan tanggung jawab baru. Ia hampir tak pernah berkata "tidak bisa" atau "malas deh melakukannya". Ia selalu berpikir positif dan optimistis bahwa setiap tantangan yang datang pasti ada solusinya. Selain itu, ia juga terbiasa fokus dalam melakukan sesuatu sehingga tak cepat menyerah saat mengalami kegagalan.

Bagaimana? Apakah syarat-syarat itu sudah ada pada pasangan anda? Dan untuk menjadi seorang calon suami yang baik, saya merasa perlu untuk menambahkan beberapa faktor lagi. Hal di bawah ini mungkin tidak disetujui oleh semua orang, karena merupakan pendapat pribadi saya, berdasarkan pengalaman pribadi.

1. Taat pada Tuhan.
Orang yang taat pada Tuhan pasti menghormati istri, menghormati orang tuanya, dan mengusahakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dia akan berjuang supaya keluarganya bisa bahagia, dan tentu saja relasinya dengan orang lain juga bermakna. Dia akan menjalankan perintah cinta kasih sesuai dengan yang diajarkan oleh agamanya, sesuai dengan janji yang diucapkannya di dalam perkawinan di hadapan Tuhan, sehingga faktor untuk meninggalkan, apalagi mengkhianati keluarganya tidak terlintas dipikirannya.

2. Latar belakang keluarga yang baik.
Memang terdengar cukup menghakimi kalau saya bilang buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. tetapi berdasarkan pengalaman pribadi saya (yang pernah cukup menyakitkan), orang tua yang cara didik dan cara pikirnya tidak baik, akan menularkan ke anaknya. Anak yang dicekoki oleh orang tuanya pengajaran yang salah, akan tumbuh menjadi anak dengan pola pikir yang mirip. Jika anak terbiasa melihat dan mengalami orang tuanya bertutur kata, bertingkah laku, kemudian orang tuanya memposisikan diri sebagai selalu benar, anak akan menganggap itu adalah hal yang benar, dan akhirnya terbawa di dalam kehidupannya. Kecuali: Anak tersebut menyadari kalau orang tuanya salah, dan berusaha untuk mengubahnya. Tapi pada umumnya, anak sering menganggap orang tua adalah figur idolanya, sehingga akhirnya yang salah itu tidak disadarinya. Jadi, selalu cari tahu dulu soal keluarganya, sebelum anda memutuskan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius.

3. Rajin (dan pintar).
Kenapa pintar saya kasih tanda kurung? Karena itu adalah bonus! Kunci utama adalah rajin. Orang yang tidak terlalu pintarpun, asal dia rajin dan tekun, pasti bisa menjadi orang yang semakin baik, dan meningkat kualitas hidupnya. Dan kalau ditambah pintar, daya kreatifitas si pasangan membuat kita selalu merasa tenang, karena dia pasti punya cara untuk menyiasati kekurangan di dalam sebuah hubungan. Kekayaan materi ada kemungkinan akan lenyap. Tetapi kerja keras dan kepintaran adalah hal yang bisa membuat kita bertahan.

Nah, serius banget kan postingan saya hari ini? Kenapa saya jadi menulis postingan ini? Karena semakin lama, saya melihat, orang suka makin asal jadi dalam memilih pasangan hidup. Terkadang juga, nafsu itu menang dibandingkan dengan cinta dan logika. Ujung-ujungnya, suka banyak rumah tangga yang dibina bukan atas dasar merancang masa depan yang baik, melainkan karena: Aku suka kamu, kamu suka aku, yuk kawin! Sayang kan, kalau hal yang begitu indah, pas di tengah-tengah berantakan cuma karena tidak berpikir panjang? Jadi, walaupun mungkin tidak semua orang setuju dengan apa yang saya sampaikan, saya harap sedikit ulasan di sini bisa membantu ya. Dan kalau ada yang ingin menambahkan, yuk, silakan saja.

PS: Di bawah ini adalah tambahan dari beberapa teman via komentar.

Arman - Harus cinta
Tanggapan Leony: Kenapa cinta tidak masuk di dalam listing saya di atas? Karena menurut saya, cinta itu sudah syarat MUTLAK :). Hal-hal yang saya kemukakan di atas adalah hal-hal yang seringkali terlupakan di saat kita memutuskan untuk memilih seorang pria untuk menjadi pasangan seumur hidup. Cinta itu sudah pasti ada. Sayangnya, banyak orang yang nekad gara-gara ngaku saling cinta, jadinya tidak memikirkan hal-hal lain. Dengan tulisan ini, saya ingin orang-orang menjadi lebih realistis. Makasih Arman buat komennya.

Yulia - Seiman
Tanggapan Leony: Nah, ini juga syarat yang luar biasa pentingnya. Kenapa saya tidak masukkan di atas? Karena terus terang, issue ini adalah issue yang sensitif, jadi ngeri juga ada yang tersinggung. Tapi saya sangat-sangat setuju dengan Yulia. Berhubung sudah ada yang komen soal ini, marilah kita bahas. Setiap kali saya memilih pacar, saya selalu memilih yang seiman, atau setidaknya berniat menjadi seiman, seperti salah seorang mantan pacar saya, yang ketika pacaran dengan saya, semakin mendalami agama yang saya anut, dan dengan keinginannya sendiri meminta belajar agama, dan believe it or not, saya menjadi ibu baptisnya (padahal saat dia dibaptis, kami sudah putus, dan tetap menjadi sahabat sampai sekarang). Faktor seiman begitu pentingnya, karena ini adalah landasan untuk membina rumah tangga ke depannya. Sering orang mengabaikan soal ini, sampai pada suatu saat pasangan mempunyai anak, dan bingung anaknya harus ikut agama yang mana, dan mulailah terjadi perselisihan.

Perlu dicatat juga, alangkah indahnya seandainya satu agama, tetapi jika tidak, bukan berarti hal tersebut adalah sesuatu yang buruk. Contohnya, kisah Om saya yang Budha dan tante saya yang Katolik. Dan keluarga mereka adalah salah satu keluarga paling harmonis yang pernah saya lihat. Om saya selalu mengantar Tante dan sepupu-sepupu saya ke Gereja selama lebih dari 20 tahun pernikahan. Dan ketika suatu saat, beberapa bulan sebelum sepupu saya menikah, Om saya meminta untuk dibaptis, betapa sukacitanya kami menyambut penantian panjang itu. Sepupu saya jadi orang yang paling bahagia, karena pada pernikahannya, sang ayah bisa menyambut komuni bersama. Jadi hal yang penting juga adalah jangan menjadikan agama sebagai sumber perselisihan.

13 comments:

  1. Kalo g mah cukup 1 syarat. Mampu jadi partner of destiny. Dia yang bisa menentukan nasib g nanti masuk surga apa neraka. :P
    As long selama dekat dia kita bisa deket ama Tuhan,lanjut deh. Kriteria yang lain mah tergantung situasi dan kondisi(wuih.... sok alimbener g ya? :P Tp bener khan.)

    ReplyDelete
  2. dan harus cinta juga dong... :)
    kalo gak cinta, walaupun pasangannya sebaik apapun pasti rasanya kurang sreg...

    dan harus bisa nyambung juga... :D

    ReplyDelete
  3. kalo gw dulu syaratnya 3:
    1. seiman. kudu no 1 kalo ga, langsung gw coret.
    2. ga merokok. gw benci abis ama asap rokok.
    3. rajin (dan pintar)
    Puji Tuhan dapet semua di suami yang ini. hehe.. your writing inspire me to write in my blog.
    ditunggu ya... hihi

    ReplyDelete
  4. @ Fely: Hehehehe...ulasan yang menarik. Tapi kalo menurut gue sih, jangan cowok itu yang nentuin kita masuk surga apa neraka. Kita sendiri yang tetep harus bersikap baik.

    @ Arman: Justru man, yang gue mau bahas ini kategori di luar kategori yang biasanya sudah ada. Kalo cinta itu mah sudah HARUS :). Masak hari gini mau kawin paksa wkwkwkwk... Gue tulis bahasan tambahan di isi blognya ya based on komen elu.

    @ Yulia: Seiman, itu HARUS :). Bener... gue tambahin di isi blog gue ya. Plus, gue juga BENCI BANGET SAMA PEROKOK !!! huhahahaha..ternyata mirip!

    ReplyDelete
  5. kalo gua dulu gak pake list2an, pake filing aja, walaupun udah ketemu yang memenuhi semua faktor tapi kalo gak dapet 'feel' nya itu, kayanya kok gak siap aja rasanya.. atau mungkin faktor umur juga kali ya hehehe..

    tapi menurut gua menikah itu gak selalu bisa dijamin mulus walaupun semua kriteria kita yang seabrek2 itu terpenuhi, selalu ada faktor lain di dalamnya, faktor x yang ikut menentukan, kadang ada orang sebelum menikah baek, tapi setelah menikah bisa aja malah selingkuh..

    atau yang sebelum menikah ugal2an, eh abis merit n punya anak malah jadi suami n ayah yang baik :)

    menikah itu proses seumur hiduplah, bukan cuma waktu memilihnya aja, tapi tiap hari juga harus diperjuangkan...

    ReplyDelete
  6. @Pucca: Setujuuuu !!! Calon mertua gue juga bilang hal yang sama. Pacaran lama gak menjamin, proses pernikahan itu sendiri tetap diisi penuh oleh proses pembelajaran.

    Tapi ada bagusnya juga point2 yang dikemukakan oleh forward-an tersebut dipertimbangkan juga kali ya, untuk seenggaknya memperkecil resiko. Kalo emang masih gak beruntung, ya walhaualam. Daripada udah ketauan error, masih nekad nikah juga, trus tambah error :)

    ReplyDelete
  7. hmmm... g baca ini jadi makin banyak pikiran wakakakaka :D secara bumi sendang gonjang ganjing ^^
    but thanks buat postingan ini hahaha

    ReplyDelete
  8. @Pitshu: Waduh.... maaf ya Pit, kalo gue malah bikin elu banyak pikiran :( Gue tidak bermaksud membuat elu khawatir atau apa. Semoga bisa membuka hati dan pikiran aja sih :)

    ReplyDelete
  9. SETUJU banget ama list2nya ituu... one question that always popping now and then-how do we know if he is 'THE ONE'?

    ReplyDelete
  10. @ Anonymous: Kita gak akan pernah tau if he's the one or not, sampai pada akhirnya kita sudah sah di hadapan Tuhan. Yang pasti biasanya, tanda-tandanya itu adalah, makin elu dekat sama dia, elu menjadi semakin baik, semakin diberkati, hubungan elu dengan sesama juga makin baik, dan biasanya ada aja dukungan dari kanan kiri secara random dan tak terduga.

    ReplyDelete
  11. hmm .. kalo aku apa ya? buat aku sih syaratnya ga banyak, yang penting seiman. kalo buat aku, yang cewe gini, aku rasa syarat materi, pekerjaan, masa depan, penting yah. bukan matre lho ... karna ada temenku cowo yang kurang suka waktu cewenya ngasih syarat2 diatas tadi.

    cinta kalo ga pake saling pengertian, aku rasa percuma juga. aku aja yg udah nikah gini, rasanya cinta udah jadi nomor sekian kalo kita dah nikah, apalagi dah punya anak :)

    ReplyDelete
  12. gpp sih~ emang ini udah jadi pikiran semenjak akhir tahun lalu wakakaka :D

    ReplyDelete
  13. @ Meda: Med, setuju sama kamu in terms of, kalau wanita menginginkan pria dengan syarat, itu bukan berarti matre. Karena ya, ujung2nya sebagai tulang punggung keluarga, pria harus setidaknya punya bayangan soal masa depan. Soal cinta, kurasa kan pada saat mutusin mau menikahnya tetep cinta kan ? Pengertiannya juga karena kita mencintai pasangan kita, walaupun secara tidak sadar.

    @ Pitshu: Wah, kalo gitu elu udah mulai mau planning nih buat ke depannya? Gue doakan ya :D

    ReplyDelete