Monday, November 23, 2009

Antara Diare dan Maag

Kepada bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, mohon maaf atas segala keterlambatan penulisan blog yang sudah agak lama tidak diupdate. Bukan maksud hati (memeluk gunung apadaya tangan tak sampai.... eh salah ya?) untuk menyepelekan blog ini, apalagi sekarang sudah jaman Facebook, namun memang saya mempunyai alasan (yang bukan dibuat-buat) sehingga blog ini agak terlantar selama lebih dari 10 hari...huks...

Oke oke, saya tau, entry yang sebelumnya ini adalah soal diare, dan kali ini naik ke atas sedikit, problemnya berpindah menjadi ke lambung. Hari Sabtu tanggal 14 November lalu, mendadak saya jadi tidak bisa makan. Makanan layak terakhir yang saya makan adalah makan siang, dan setelah itu mendadak lambung saya kacau balau. Cium bau makanan, kok eneg, terus baru masuk makanan seiprit, eh mau muntah. Sampai malam hari, makanan yang bisa masuk ke dalam badan saya cuma nasi 2 sendok, padahal belinya nasi semangkok di Beppu Plaza Indonesia lengkap dengan daging sapi dan telur. Untung ada adek saya si Recycle Bin yang bersedia menampung semua sisa makanan yang saya pesan hehehehe... Tapi beneran deh, sebelum ke Beppu itu, kan kita nyemil sore di Sushi Tei Plaza Senayan, adik saya sih dengan santainya makan Dragon Roll sendirian, sementara salad secomot aja gak bisa masuk ke perut saya. Akhirnya 1 mangkok wakame salad masuknya ya ke Recycle Bin (alias my bro).

Sampai pulang dari nonton dan jalan-jalan sama teman-teman, saya cuma bisa lemas. Di rumah, boro-boro bisa tidur. Yang ada, lambung saya seperti ngajak brantem. Bahkan coklat sepotong kecil saja ditolak! Yang ada saya malah muntah2 air, dan airpun tidak bisa masuk, mau minum aja rasanya beraaattt banget. Padahal eh padahal, tanggal 15 Novembernya itu saya mesti bertugas sebagai MC/ Lektor di gereja untuk pernikahan sepupu saya tercinta. Pagi-pagi sekitar pukul 6, saya sudah gak kuat lagi. Tanpa tidur, dan tanpa makan, rasanya sudah hampir pupus harapan untuk berpartisipasi di perkawinan saudara.

Tapi jam 6 itu, saya ingat untuk menelepon Oom saya yang dokter, dan saya ceritakan kalau sebelumnya saya diare dan dikasih obat ini itu. Ternyata, kata oom saya, obat dokter yang dikasih sebelumnya untuk diare itu memang agak keras. Langsung si oom came to the rescue, tante saya datang ke rumah membawakan obat lambung 3 macam, dan langsung saya konsumsi saat itu juga! Mendadak, keadaan lambung membaik, saya sudah mulai bisa makan sepotong kue! HOREEEEEE !! Dan badan sayapun mendadak segar, mulai bisa bergerak, mandi, dan akhirnya di gereja, bisa sukses menjadi MC/Lektor. Puji Tuhaaannnnnn...!!

Sampai malampun, saya masih tetap segar. Masih sempat ke salon untuk nata rambut, kemudian di pesta juga ceria, bertemu dengan teman-teman kuliah. Oh iya, sebagai pemberitahuan, sepupu saya yang dulu sempat berdomisili di Milwaukee, menikah dengan teman kuliah saya dari Madison. Jadi bisa dibayangkan, saya berlarian, dari mulai anak Madison, trus ke anak Milwaukee, trus ke saudara-saudara juga hahahah. Nggak tau tuh bisa dapet energy dari mana, yang pasti, thanks to those medicines, I survived the day!

Cerita Extra: Di tengah-tengah acara pesta, mendadak nama saya dipanggil MC. Beneran loh! Dipanggil, full name! Saya pikir, ada apa ini ? Apakah saya mau dikerjain ke atas pelaminan ? Deg deg deg deg.... Akhirnya, setelah tiba di atas panggung, yang terjadi adalah: Saya dapat buket bunga! Langsung dari mempelainya! Gak pakai acara lempar-lemparan loh! Katanya, karena saya telah berjasa, mempertemukan kedua sejoli ini. Hehehe... ceritanya, dulu itu Spring Break 2002, karena saya di Amerika belum ada mobil, saya minta tolong si mempelai pria untuk mengantar saya menemui sepupu saya di Milwaukee. Ternyata.... eh ternyataaa..... begitu ketemu, ada getaran cinta di antara mereka hihihihi.... Tapi beneran loh, sudah 2 kali, dengan jarak sebulan, saya mendapatkan buket bunga. Moga2 pertanda baik yahhhh... AMIN.

Thursday, November 12, 2009

Aduh Mak...

WARNING!! Postingan ini, dikhususkan bagi anda yang tahan akan kejorokan. Kalau tidak, sebaiknya di skip saja.

Akhirnya... hari ini saya bebasssssssssssssss !!! Bebas dari si pengganggu super annoying yang bernama: DIARE!

Hari Senin pagi, pukul 6 kira-kira, bangun tidur, perut bergejolak tak karuan. Bolak balik wece sampai beberapa kali, diakhiri dengan muntah. Diarenya kali ini ultimate, sudah bener-bener gak ada solid-solidnya sama sekali, tapi full cairan. Diapet 1 tablet dikonsumsi. Lemas minta ampun, tapi yang namanya manusia pemberani, saya tetap nekad ke kantor. Maklum hari Senin, apa kata si boss nanti kalau saya gak masuk ? Dipikirnya saya kebanyakan berpesta pora di weekend... padahal nggak sama sekali. Hari minggu cuma ke sangjitan saudara sepupu dan makan2 di sana, terus sore ke gereja, nonton Michael Jackson's This is It, dan dinner di Pizza Hut lantaran semua tempat udah pada tutup. Makan sambel aja nggak loh!

Di kantor, baru sampai, langsung 2 kali bolak balik.... kondisi makin drop. Tablet imodium pun dikonsumsi. Dan setelah itu, masih 2 kali lagi bolak balik. Makan siang cuma berani makan nasi dan kuah sup bening. Gak berani makan yang lain. Pukul 15.00, saya gak kuat lagi, akhirnya ijin pulang sama bos. Puji Tuhan masih ada energy buat menyetir, dan akhirnya sampailah saya di rumah dengan selamat, langsung ganti baju, menuju tempat tidur dan BLEK...sampai pukul 18.30. Bangun2, disambut oleh nasi tim. Kata mama, makan nasi tim aja, biar gak kotor perutnya. Dan enak sekali, udah gak sakit perut lagi loh. Mungkin karena imodiumnya worked very very well. Tidur malam juga lumayan enak. Sampai.....

Pukul 04.30 pagi.... MULESNYA GAK KIRA2 !! Bolak balik bolak balik bolak balik... malah kayaknya lebih parah daripada hari sebelumnya. Cairan yang keluar banyak banget! Langsung minum diatabs 2 tablet. Habis gitu berusaha tiduran lagi karena lemes. Ehhhhh.... dasar kecepatan mencret itu lebih cepat dari kecepatan cahaya, tiba2 celana saya agak2 basah, dan saya gak nyadar! Pas bangun baru berasa gak enak di blakang... duh... bener-bener udah kayak anak kecil! Bikin maluuuuuuuuu.... langsung diatabs lagi 2 tablet. Menu makan siang, lagi-lagi nasi tim. Huks.

Dan... akhirnya... kesusahan ultimate tiba... di saat: KENA PEMADAMAN LISTRIK DARI PLN, TANPA MEMILIKI GENSET! Huks huks.... kenapa sih, PLN adil dan merata banget. Padahal baca di jadualnya, mestinya kita kena pemadaman hari Jumat loh ! Dan yang terparah adalah, berhubung ini rumah pinjeman (rumah orisinil saya lagi di re-build), rumah ini ternyata gak ada PAM! Jadi kalau pompa listrik gak bisa jalan = gak ada air! Diare, kepanasan, gak ada air, KOMPLIT! Tapi Tuhan adil loh! Selama pemadaman itu, saya sama sekali gak sakit perut, ataupun ada urgency untuk membuang hajat! Hihihihhhi....

Malamnya akhirnya saya ke dokter. Setelah menunggu 1.5 jam lantaran pasiennya bejibun (dan semua rata-rata mempunyai keluhan batuk pilek dan diare), akhirnya tiba giliran saya diperiksa. Kata dokter sih, kemungkinan salah makan dan kondisi saya lagi lemah. Jadinya reaksinya langsung berlebihan. Pas diperiksa pakai stetoskop, dokter bilang perutnya masih gak stabil, jadi jangan kaget kalau masih ada sisa diare 1-2 kali setelah minum obat. Akhirnya dikasih deh 3 jenis obat, mulai dari anti mual sampai antibiotik, dan sementara harus menghindari sayur, buah, dan susu. Duh, moga2 cepat sembuh.

Rabu, saya sudah kembali ke kantor, tapi kondisi masih belum stabil2 banget. Sempat keluar keringat dingin pas di kantor, dan rabu malam sempat muntah juga sedikit. Tetapi setidaknya diarenya sudah stop. Dan akhirnya Kamis ini, baru saya merasakan kelegaan yang lumayan. Tadi pagi si hajat sudah solid :) Horeee.....!! Dan sepertinya kondisi badan juga sudah membaik, makanya bisa nulis entry ini :P (alesan...). Namun ada satu yang saya benar-benar bosan. Yaitu menu makanan saya.

Senin: Nasi + Kuah Bening, Nasi Tim
Selasa: Nasi Tim, Nasi Tim
Rabu: Nasi Tim, Bubur
Kamis: Nasi Tim

TIDAAAAAAAAAAAKKKK please take me away from Nasi Timmmmm. Mamaaaa... tolong jangan beli nasi tim lagi buat malem ini...

Monday, November 02, 2009

Resto Keren, Service Jeblok

Hehe, lumayan lama juga ya belum update blog. Tau-tau udah bulan November lagi. Barusan habis ngecek di kalender. Ada 11 undangan perkawinan lagi yang mesti dipenuhi sampai akhir tahun, dan itu yang sudah ketahuan. 3 di antaranya adalah sepupu-sepupu saya, so sudah pasti yang 3 itu, satu harian penuh waktu bakalan tersita. Yakin banget, masih ada lagi undangan yang akan nyusul... Cape de... But on the other hand seneng juga kalo bisa reunion bareng temen2 dan keluarga via acara perkawinan.

Back to the topic shown in the title... kali ini mau ngebahas dikit, soal resto baru yang bermunculan di Jakarta. Bukan hanya sekedar resto, tempat ini dirancang untuk memenuhi berbagai syarat sebuah tempat nongkrong. Ambiance yang asik, makanan enak, list minuman yang panjang, dan musik yang menunjang. Dan itulah yang saya harapkan saat Jumat 2 minggu lalu diajak teman-teman saya untuk makan malam di sebuah restaurant yang baru buka sekitar 1 bulan berlokasi di sebuah gedung perkantoran mewah di Jakarta (yang lobbynya mirip Fullerton). Just call it "B". Buat para penggemar tempat-tempat nongkrong di Jakarta, mungkin sudah langsung ngeh, apa tempat yang dimaksud.

Begitu masuk ke sana, yang saya tangkap adalah, WOW! Bagus banget interiornya. Memang restaurant ini di rancang menggunakan konsep sebuah perpustakaan di Eropa. Langit-langitnya tinggi, penerangannya remang-remang dengan lilin-lilin panjang di setiap meja. Kursi-kursinya klasik dan besar-besar (juga berat hahaha). Ada seperti balkon perpustakaan di lantai 2, yang dilengkapi dengan meja-meja dan kursi juga, serta rak buku berisi buku-buku tua (yang entah mereka dapat dari mana). Dindingnya dari kayu, dan juga ada cermin-cermin besar, menambah kesan maskulin dan tangguh interior tempat ini. Ada juga tempat duduk di bagian luar, dikelilingi oleh pagar baja dan pohon-pohon. Pokoknya, kalau kita sudah ada di dalam, rasanya bukan seperti di Jakarta lagi. Orang-orang yang makan di sana, rata-rata berdandan tampan dan cantik, sempat membuat saya kurang percaya diri karena saya langsung dari kantor dengan pakaian jeans, kaos, dan cardigan seadanya.

Menu makanan, mostly Western and Mediterranean. Steak, pasta, kebab, menjadi pilihan utama di sana. Drink listnya ada satu buku terpisah, mulai dari yang non-alkohol, mixed drink, dan wines. Harganya, lumayan OK. Tidak bisa dibilang murah, tetapi tidak terlalu mahal untuk restaurant dengan ambiance seperti itu. Tapi, ternyata, penilaian saya yang sudah sangat positive itu, ternoda cukup banyak oleh servicenya yang lumayan kacau. Tidak mengerti apa itu disebabkan karena restaurant hari itu cukup sibuk dengan banyaknya manusia tumpah ruah, ataukah memang karena kurangnya training yang diberikan oleh management. Tapi bisa dibilang untuk restaurant sekelas ini, agak cukup mengkhawatirkan. Di bawah ini ada beberapa point yang menurut saya lumayan mengganggu.

1. Saya memesan mixed juice yang namanya Jungle Juice dan pesanan sudah datang. Teman sebelah saya birnya sudah habis, sehingga dia juga ingin memesan minuman lagi. Kemudian dia minta waiternya untuk bikinkan minuman yang sama dengan saya, dan waiternya bilang, “Oh, Jungle Juice”. Ditunggu... lama...lama...lama... sampai teman saya sudah mau habis makanannya, akhirnya dia panggil lagi waiter itu, dan akhirnya juicenya datang juga. Pas tiba, juicenya beda sekali dengan yang saya punya. Saya punya warna pink, dia punya warna kuning. Tetapi karena sudah haus, dan capek nunggu, akhirnya sudah malaslah kita meminta ganti lagi dengan si waiter. Sampai sekarang masih jadi misteri, entah yang benar yang mana yg namanya Jungle Juice itu, yang pink atau yang kuning ya ?

2. Saat waiter menanyakan, teman saya, memesan Sirloin Steak sebagai menu utama. Setelah menunggu dan menunggu, 20 menit kemudian, sang waiter kembali lagi, “Maaf Pak, steak yang tadi bapak pesan, mau medium, atau medium well atau apa, Pak ?” Ya ampun..... mestinya steak itu sudah siap dong ya dalam 20 menit ? Eh ini baru ditanyakan mau dimasak dengan tingkat kematangan apa. Apakah tidak ada prosedur untuk menanyakan pemesanan steak ?

3. Saat itu kami memesan Caesar Salad with Grilled Chicken sebanyak 2 piring untuk dibagi-bagi sebagai appetizer. Kami menunggu dan menunggu terus, semua main course mulai keluar satu-satu (ada sekitar selusin orang di rombongan kami), dan saladnya sama sekali belum kelihatan. Sampai main course terakhir keluar, saladnya tetap belum keluar. Akhirnya, kami memanggil waiter, dan meminta untuk membatalkan pesanan tersebut. Tapi yang terjadi adalah, waiternya malah kembali, dan membawakan Caesar Salad kita! (Yang tentu saja momentnya sudah basi karena main course saja sudah selesai). Akhirnya salad tersebut hanya termakan sedikit, karena orang-orang sudah keburu kenyang.

4. Ini yang paling ultimate tulalitnya. Mengenai pesanan saya Spaghetti Aglio Olio with Mixed Seafood. Setelah saya melakukan pesanan, Spaghetti saya datang. Saya melongok, dan melihat, tidak ada satu tanda-tandapun mengenai adanya seafood di dalam Spaghetti saya. Karena saya penasaran, saya tanya pada yang mengantar, “Pak, ini with Seafood ya ?” Dan waiter menjawab, “Iya bu, with seafood.” Sayapun mulai membongkar-bongkar spaghetti saya, dan tidak menemukan 1 potong seafood pun di dalamnya! (Bayangkan, seorang waiter tidak bisa mengetahui jenis makanan di restaurantnya sendiri!) Akhirnya, saya panggil lagi waiter yang ada untuk mengganti pesanan saya. Tak beberapa lama kemudian, pesanan saya datang lagi, kali ini lengkap dengan beberapa potong udang. Oh, akhirnya datang juga...kata saya dalam hati. Sayapun mulai makan. Ketika makanan di piring saya tinggal sisa seperempatnya, tiba2 ada waiter lain lagi datang, dan berkata,”Spaghetti Aglio Olio with Seafood !” Lah...? Itu kan pesanan saya ? Saya lihat ke piring itu, lengkap, ada cumi-cumi dan udangnya! Sementara yang saya punya tadi, kok cuma udang saja? Saya lantas bilang ke waiternya, “Mas, mestinya pesanan saya mixed seafood itu ada cumi2nya ya ?” Terus dia bilang, “Iya, Bu”. “Jadi kalau begitu, boleh dong itu piring yang baru ditinggal saja, karena yang tadi pesanannya salah.” Waiternya bilang lagi, ”Oh bu, sebentar saya tanyakan ke chefnya”.... dan diapun pergi, dengan membawa sepiring Spaghetti Aglio Olio yang seharusnya milik saya, dan TIDAK PERNAH KEMBALI LAGI! Bahkan dia tidak kembali untuk mengabarkan apapun! What a mess!

Untungnya, hari itu, saya bertemu dengan banyak teman-teman yang asyik dan seru. Jadinya, waktu menunggu yang lama, kesalahan-kesalahan para waiter itu tidak terlalu terasa dengan obrolan-obrolan yang menyenangkan. Namun, jika mereka tidak memperbaiki servicenya, bisa-bisa ditinggalkan pelanggan. Itu opini saya semata. Tapi yang saya perhatikan, di Jakarta ini, sepertinya orang tidak terlalu peduli dengan service. Asal tempatnya enak, fancy, dan lagi hip di Jakarta, orang akan terus berdatangan. Makin mahal, makin prestigious, makin ngantrilah manusia Jakarta.

Ada yang pernah punya pengalaman di situ juga ? Atau, mungkin ada yang lain yang mau coba ?