Tuesday, September 29, 2009

Kalau Tuhan Menghendaki

Kalau Tuhan menghendaki, orang yang sakit dalam kondisi terparah, bisa sembuh, bangkit, dan berjalan kembali.

Kalau Tuhan menghendaki, orang yang sehat wal afiat, terlihat bugar, bisa dipanggil ke hadirat-Nya secara mendadak.

Kalau Tuhan menghendaki, langit yang cerah mendadak bisa berubah menjadi kelabu disertai dengan hujan badai menderu.

Kalau Tuhan menghendaki, segala niat yang tidak baik, walaupun dilakukan dengan berbagai cara, tak akan mampu menggagalkan kehendak-Nya.

Kalau Tuhan menghendaki, meski kita harus menunggu sampai di detik terakhir, sampai jantung rasanya mau copot, Tuhan pasti tetap akan memberinya.

Rencana manusia bukanlah rencana Tuhan. Tetapi kita harus percaya, walaupun rencana Tuhan pada awalnya itu terasa menyakitkan, terasa melelahkan, pada akhirnya hasilnya pasti indah. Walaupun rencana manusia itu terlihat baik, segalanya terlihat indah, tetap yang jauh lebih baik dan lebih indah rencana Tuhan. Jadi, disaat kita merasa terpuruk, yakinlah, kalau itu hanyalah merupakan salah satu jalan dari Tuhan, untuk melatih kita agar kita mengetahui cara, untuk keluar dari keterpurukan itu. Kita akan jauh lebih kuat sesudahnya.

Kalau Tuhan menghendaki, tidak ada yang mustahil.

Friday, September 18, 2009

Gara-gara Bulan Puasa

Apa yang berbeda selama bulan puasa untuk saya yang memang tidak puasa ? Tentulah.... TRAFFICNYA ! Ampuuuuunnnnn..... *angkat2 tangan sambil angkat bendera putih....*

Sejak sehabis operasi akhir Januari lalu, saya meminta ijin kepada atasan saya dan kepada HRD, untuk pulang ke rumah pukul 4 sore setiap harinya. Di hari-hari non-bulan puasa, it works very well. Saya jadi tidak terlalu lelah, bisa beristirahat lebih awal di rumah, dan enaknya itu, saya jadi tidak kena sakit panas. Soalnya, sejak operasi itu, saya jadi agak sensitif, kalau capek pasti suhu badan agak naik. Nah, jadi pulang pukul 4 itu sangat membantu sekali buat saya.

Tetapi, di bulan puasa itu, ceritanya berbeda total. Di awal-awal puasa, saya coba pulang pukul 4, mau keluar dari gedung kantor aja, NGANTRI! Ngantrinya gak tanggung-tanggung, bisa sampai 30 menit cuma untuk keluar dari gedung kantor. Dan akhirnya, pas tiba di jalan Gatot Subroto yang notabene kena 3-in-1 itu, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dag dig dug minta ampun, mana polisinya banyak berseliweran mencoba mengatur jalan yang macetnya ngajubileh itu.

Pernah suatu saat, polisi mengatur giliran di Semanggi, antara yang keluar dari Sudirman dan yang lurus di Gator Subroto. Dan pas giliran saya di stop, itu sudah pukul 5 sore, dan polisinya itu benar-benar di depan muka saya ! Saya pikir, matilah saya.... kena deh nih... eh gak taunya Polisinya malah tenang-tenang aja. Mungkin buat dia, kalo sampe dia nangkep saya, itu macetnya bakalan gak kira-kira kali ya kacaunya. Dan saya lihat ke sebelah-sebelah saya, memang banyak sekali orang yang cuma sendirian. Abis gimana dong ? saya sudah terjebak macet itu dari pukul 4 sore, and there's no way I can get out!

Pulang kantor, yang biasanya hanya memakan waktu 30-40 menit, berubah menjadi 2 jam! Yihaaaa.... 10 km jarak antara rumah dan kantor, berarti, hanya 5km/jam saja! What a waste of energy, what a waste of fuel! Itu kan sama aja dengan jalan kaki selama 2 jam dong? Jadi setelah minggu pertama itu, saya memikirkan alternative lain untuk membebaskan diri dari jebakan 1 jam di Semanggi area itu. Mulai dari lewat Senayan (hari pertama masih oke, eh hari kedua, muacetnya gak kira-kiram jadi dicoretlah ini dari list), lewat Pejompongan kemudian masuk tol (yang ini lumayan, setidaknya masih jalan, walaupun pernah juga 2 jam stuck di jalan tol), kemudian lewat Casablanca (yang ini terparahhhh.... pernah 2.5 jam..*sambil mengharu biru melihat bensin yang habis jauh lebih cepat daripada biasanya*).

Nah... hari ini, semuanya itu telah berlalu. Jalanan Jakarta tiba-tiba lengang, sepi.... magical !! Kayaknya, gak ada hari lain yang lebih sepi di Jakarta kecuali pada saat Lebaran. Inilah saatnya mengucapkan:

SELAMAT IDUL FITRI 1430 Hijriah
Mohon maaf lahir dan batin yaaahhh :)

PS: Setiap pagi dengerin radio, sering banget ada pembicaranya si Uztad selalu bilang "Meminta maaf itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah memberi maaf." Sama saja loh kayak doa Bapa Kami untuk umat Kristiani, "Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami." Jadi bisa dilihat, sebelum kita memohon ampun kepada yang kuasa, marilah kita duluan mengampuni alias memberi maaf kepada orang yang bersalah kepada kita. Moga-moga kita bisa ya.

Thursday, September 03, 2009

Sore Tadi Pukul 3

Mendadak, salah satu staff payroll keluar dari ruangannya dengan wajah pucat. Kemudian kita semua mulai berpandangan satu sama lain. "Le, gempa ya ?" "Iya nih...kok goyang-goyang ?" Semua orang tiba-tiba mulai merasakan guncangan hebat! Dan saat kami pikir guncangan akan segera berhenti, ternyata masih tetap berlangsung. Sebagian orang berpikir, bagaimana cara yang tepat untuk menyelamatkan diri dari gempa.

Saat itu saya tetap tenang. Saya ingat, kalau bisa justru jangan panik dan berlari-larian. Posisi saya ada di lantai 19, di salah satu gedung perkantoran terbaik di Jakarta. Tangga daruratpun semakin penuh. Dari tangga itu, ratusan bahkan ribuan orang turun di gedung berlantai 40. Seandainya saat itu saya ikut turun, sepertinya hanya akan membuat saya menjadi tambah panik dan sesak. Ketika orang mulai berlarian, gempa semakin terasa. Saya hanya bisa duduk, berdoa, dan berusaha tidak panik.

Saat itu mendadak salah seorang General Manager berlari dari arah kamar kecil. Dia bilang, kalau tadi dia lagi duduk di closet sedang "menikmati" buang air besar, dan dia pikir closetnya bergerak-gerak. Kemudian dia teriak di kamar kecil, "Gempa ya ?" Namun tidak ada yang menyahut. Rupanya orang-orang yang tadinya ada di kamar kecil, semuanya sudah berhamburan keluar, menyisakan dia seorang diri, yang tiba-tiba kehilangan hasrat untuk BAB. Lantas dia berberes diri dan lari keluar. Di kala dia bercerita itu, kami masih sempat-sempatnya tertawa, kemudian mulai pusing-pusing sedikit.

Kami masih bertanya-tanya, kenapa pandangan kami berputar? Apakah masih ada gempa? Kemudian manager di sebelah saya berujar, "Kita lihat saja ornamen yang bergantungan, apakah masih bergerak." Kebetulan di sebelah ada lampion kecil bekas perayaan tahun baru Imlek kemarin, dan rupanya lampion sudah tidak bergerak sama sekali. Ternyata, benar-benar yang berputar adalah kepala kami sendiri.

Kantor sudah sepi, mungkin hanya ada beberapa wanita saja, sementara laki-laki masih lumayan banyak. Mungkin manusia di kantor kami termasuk banyak yang ndablek, alias cuek bebek, karena dengar-dengar kantor-kantor lain sudah kosong. Malah ada satu bos yang santai sekali, balik ke ruangannya, dan mulai lanjut bekerja. Tetapi kemudian ada pengumuman dari management gedung. Kita diharapkan tidak panik, tidak meninggalkan gedung, dan menjauhi dinding kaca. Tetapi, sepertinya pengumumannya agak telat, karena orang-orang sudah lari berhamburan.

Saya masih santai, pelan-pelan saya bereskan laptop, masukkan ke laci, dan sempat-sempatnya saya juga ganti sepatu dari high heels dengan sepatu bersol datar yang memang sudah saya siapkan di bawah meja seandainya ada fire drill. Saya mulai berkemas, tidak terburu-buru. Dan pelan-pelan saya menuruni tangga darurat yang sudah lebih sepi, tidak heboh dan ramai seperti tadi. Tiba di lobby, saya lihat manusia sudah begitu ramai. Di halaman depan juga ramai sekali. Lift di non-aktifkan, sehingga orang-orang pun hanya bisa menunggu.

Beberapa menit menunggu, terlihat tidak ada kejelasan. Akhirnya saya bertanya kepada security, apakah akses ke basement tempat parkir dibuka. Ternyata dibuka, dan akhirnya pukul 3.30-an, saya kabur hihihihihi.... Tetapi, jalanan ternyata macet luar biasa. Sepanjang jalan saya juga melihat para karyawan berhamburan di luar gedung. 2 jam, akhirnya jarak 10 km antara kantor dan rumah dilewati, dan Puji Tuhan, semua selamat.

Apa yang saya rasakan waktu terguncang hebat di lantai 19 itu, adalah perasaan bahwa saya begitu kecil, dan hidup itu bisa berubah sekejap karena kuasa Tuhan. Saat itu, sudah tidak terpikirkan juga untuk menyelamatkan harta atau apapun, yang dicari adalah keselamatan. Di kala jantung ini rasanya mau copot, dan kepala rasanya terguncang, tidak ada yang lain yang saya pikirkan kecuali "Tuhan, selamatkan saya."

Hikmah kecil yang bisa diambil adalah, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Kekayaan, kesuksesan, kemakmuran, nama besar, semuanya itu tidak akan ada artinya, jika Tuhan menjentikkan jari untuk menegur kita lewat sesuatu yang tak terduga. Jadi, berbuat baiklah selagi kita bisa, ungkapkanlah rasa cinta selagi orang tersebut masih ada, dan dekatkanlah diri kita kepada Tuhan. Saat ini kita menabur, di saat nanti kita menuai.