Thursday, May 28, 2009

Thypoid or Not Thypoid

Inspirasi judul entry ini, saya ambil dari "To Be or Not To Be". Mengapa begitu ? Sudah beberapa minggu terakhir ini, saya terserang penyakit aneh, yang sampai sekarang pun saya tidak tahu sebenarnya sakit apa.

Dimulai dari sekitar 3 minggu yang lalu, tiap sore hari, panas badan saya selalu naik, sampai akhirnya saya langganan paracetamol (go Panadol!!). Aktifitas masih berjalan seperti biasa, tetapi setiap sekitar jam 2-3 sore, baik saya berada di manapun, tetap saja badan saya panas. Paling mengganggu kalau panasnya di kantor, sehingga kalau pulang kantor, saking mengigilnya, saya nggak berani pasang AC... ("mendukung green movement" wannabe).

Denger-denger dari beberapa teman, yang gejala-gejalanya seperti ini adalah sakit thypus. Tapi saya nggak muntah, dan nggak buang2 air berlebihan juga. Tapi kalau sudah mengigil memang keterlaluan, gak bisa ngapa2in deh, pusing, lemes, dan cuma bisa meringkuk saja.

Di minggu pertama, saya akhirnya nyerah selama 2 hari... Rabu dan Kamis istirahat di rumah... Jumat balik lagi ke kantor (eh, malah kesangkut jadi model hehe - see previous entry). Trus minggu depannya, masih gak sembuh juga, akhirnya ke dokter umum, dan periksa darah ke lab, katanya sih kena infeksi biasa... dikasih antibiotik untuk 5 hari, tapi kok masih suka demam juga, dan tetap masih berteman dengan paracetamol.

Minggu ketiga ini, akhirnya benar-benar nyerah, balik lagi ke dokter specialist yang dulu menangani saya, dikasih lagi antibiotik yang lebih sangar (kemungkinan sih lebih sangar karena harganya lebih bikin kantong bolong), dan tetep disuruh minum Panadol... *tuh, Panadol harus bayar advertising fee ke saya, disebut berkali2 loh*. Periksa darah lagi, kali ini komplit...saking komplitnya dan jebolin kantongnya, sampai dapet souvenir loh dari laboratoriumnya. Dan ultimate task is: REST FOR A WEEK !! Jadi inilah saya di rumah.... jarang mandi, krn masih suka demam, dan menunggu untuk segera lekas sembuh...

Jadi, sorry gak sempat update2, soalnya badan benar2 lagi soak....

Saturday, May 16, 2009

Sombong Dikit: Jadi Model (Lagi)

Setelah lima tahun lalu sempat menjadi covergirl di majalah Wisconsin CPA, dan juga sempat dipanggil secara khusus tiga tahun lalu untuk mejadi model di brosur Wisconsin CPA, akhirnya sejarah permodelan saya bertambah lagi sedikit (Sombong lo, Non !)

Mungkin memang wajah saya ini unik (alias aneh), atau mungkin penampilan saya yang sangat menarik (alias nyeleneh...), mendadak tadi, saat pulang makan siang di Plaza Semanggi, sambil nunggu taksi yang antriannya menyaingi antrian di bioskop pas film True Lies mau dicekal (remember this?), tiba-tiba ada dua orang tak dikenal menghampiri saya.

"Maaf Dek, kami berdua dari majalah Chic. Boleh minta waktunya sedikit ?", kata si cowok yang mukanya sih mayan ciamik (kata temen saya yg tadi ikut nunggu taksi), tapi masih kurang saya yakini orientasi (sexual)nya.

"Mo ngapain ya ?", kata saya cengo.

"Begini, kita kepingin foto Mbak, untuk di halaman fashion, soalnya tema kita yang akan datang ini flowery. Kebetulan Mbak pake bajunya bunga-bunga", kata dia sambil nunjukkin halaman majalah Chic yang membicarakan tema yang sedang in.

"Oooohhhh.....", kata saya sambil cengo lagi. "Trus saya mesti ngapain?"

"Mbak sini yuk ikut saya, saya foto di depan tiang itu ya."

Dan sayapun mulai beraksi, dalam keadaan mati gaya. Hmm, tangan saya mesti gimana ya ? Hmm kok gaya saya kodok mau terbang.

"Ya Mbak, kakinya dibuka dikit mbak..." "Kayaknya bagusan gak pake kacamata..." "Nih mbak, hasilnya gimana ? Saya zoom ya." "Oke sip deh..."

Akhirnya, selesailah sudah photoshoot dadakan. Saya diminta nama, umur, profesi, dan nomer handphone. Katanya sih, kalo photo saya memenuhi syarat, bakalan dimuat di majalah itu di edisi awal Juni. Wekekekeekekek.... (KALO NON ! KALO MEMENUHI SYARAT !!! JANGAN NGIMPI MO JADI MODEL !!)

Jadi Bapak Ibu sekalian, berhubung saya gak pernah langganan majalah, apalagi majalah Chic (karena saya gak ada chic-chicnya... kalo chicken, apalagi yg digoreng kalasan, saya demen banget), jadi kalo ada yang melihat wajah cantik saya di edisi awal Juni, mohon kasih tau ya hihihi... Makasih makasih makasih (sambil tangan saya melambai-lambai seperti Miss Universe).

Wednesday, May 06, 2009

Monica si Monster

Terinspirasi dari kisah-kisah mengenai guru-guru di bulan pendidikan nasional ini, akhirnya saya tergelitik juga untuk menuliskan suatu kisah dari guru kelas IV SD saya, yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan karena dia ganteng, super pintar, atau menawan, tetapi karena kekejamannya termasuk kelas kakap untuk kami yang saat itu berusia di bawah 10 tahun. Bagi beberapa orang, nama guru yang kejam biasanya ditutup-tutupi, supaya tidak menyinggung sang guru bersangkutan (jikalau secara tidak sengaja dia, atau keluarganya, atau koleganya membaca blog saya). Tetapi saya ingin mengungkapkan saja, dialah guru yang fenomenal di sekolah saya, Pak Yohanes Musiran.

Saya masih ingat betapa lumayan brutal dan kejamnya guru kita yang satu ini. Kalau ada anak yang nakal, tidak segan-segan melakukan sesuatu yang ekstrim. Kalau guru-guru lain suka menjewer, guru yang satu ini tidak menjewer telinga, melainkan menarik cambang dari anak-anak, baik yang laki-laki maupun yang perempuan sampai semua teraduh-aduh dan menitikkan air mata. Kalau yang nakal itu ada sekelompok, sudah pasti disuruh berdiri, dan bergiliran mendapatkan tarikan cambang darinya.

Jangan harap beliau punya belas kasihan terhadap anak-anak yang masih kecil ini. Setiap kali pembagian ulangan, kalau nilai ulangan kita di bawah nilai 5, siap-siap dipanggil ke depan (biasanya Pak Yohanes ini sangat ketat kalau memberikan nilai, jadi sudah pasti berderetlah yang dapat nilai di bawah 5). Kemudian, kita harus mendengarkan perintah dan menjalankannya. Perintahnya tidak jauh-jauh dari berjalan jongkok atau berjalan berlutut berkeliling di dalam kelas, diantara barisan kursi-kursi teman-teman. Yang paling extreme adalah berjalan jongkok dari kelas IV A, kemudian keluar melewati kelas IV B, C, dan D, kemudian balik lagi ke kelas IV A dan masih berputar-putar di dalam kelas.

Maksud Pak Yohanes adalah supaya anak-anak yang mendapatkan nilai jelek itu merasa malu, dan kemudian berpacu untuk menjadi lebih baik. Tapi apa yang terjadi ? Biasanya yang dapat hukuman ya yang itu-itu saja anaknya. Yang paling kasihan, adalah teman saya Siska, yang terkena asma. Kalau sudah dihukum seperti itu, biasanya dia teler karena tidak bisa nafas. Bukannya dimaafkan, oleh Pak Yohanes ya disubstitusi hukumannya dengan tarik cambang tadi. Waktu angkatan saya, tidak ada yang berani melawan beliau. Tetapi dengar-dengar, dari angkatan adik saya, sekelompok orang tua pernah melancarkan protes kepada pihak sekolah. Lalu kenapa dia tetap berkibar sebagai guru ? Ya karena sudah terbukti, jebolan kelas Pak Yohanes biasanya lumayan berprestasi dan punya mental baja. Jadi serba salah kan ?

Jika murid-murid yang kurang berprestasi itu sering mendapat hukuman, lalu apa yang terjadi dengan murid yang berprestasi ? Apakah selalu mendapatkan pujian ? Tidak juga! Suatu hari, murid-murid yang berprestasi dan tidak pernah mendapatkan hukuman, dikerjai juga oleh dia, karena rupanya dia penasaran dan mungkin bercampur dendam. Saat itu saya ingat, ada saya dan ada kawan baik saya Aditya yang memang tidak pernah dapat nilai merah. Rupanya Pak Yohanes menyimpan dendam tersendiri kepada kita. Suatu hari, beliau memberikan ulangan mendadak yang terdiri dari 10 soal, dan soalnya lumayan sulit-sulit. Ada satu soal nomor 9 yang memang rasanya sulit sekali untuk dikerjakan karena itu soal aljabar untuk anak SMP. Jadi sudah pasti tak ada satu orangpun di kelas yang tidak mampu mengerjakan. Tetapi saya, Adit, dan beberapa teman lainnya mengerjakan soal lainnya dengan benar, sehingga kami berhak mendapat nilai 9. Hore... kami pikir, nilai 9 is not bad at all toh ? Karena kan memang tidak ada juga yang dapat nilai 10.

Tetapi di pikiran seorang Pak Yohanes lain lagi. Untuk melampiaskan dendamnya terhadap kami yang tidak pernah memperoleh hukuman, beliau memanggil dengan cara sebagai berikut, "Bagi yang di ulangan tadi, melakukan kesalahan HANYA di nomor 9, harap maju ke depan." Dan saat itu kira-kira 5 anak maju ke depan dan semuanya adalah anak-anak yang biasa bercokol di deretan 5 besar di kelas. Pak Yohanes lanjut lagi, "Nah, sekarang giliran kalian untuk jalan jongkok keliling kelas, supaya kalian juga bisa merasakan apa yang teman-teman kalian biasa rasakan." Arrgghhh...gila banget ! Akhirnya saya merasakan juga jalan jongkok, dan untungnya hanya di dalam kelas sendiri. Dan kamipun ditertawakan teman-teman, dan Pak Yohanes juga tertawa melihat kita jalan jongkok, seakan-akan mendapatkan kelegaan bisa memperoleh kesempatan untuk menghukum kami.

Dan kenapa judul tulisan saya "Monica si Monster" ? Pas SD dulu, saya biasa dipanggil Monica, dan dialah yang pertama-tama menyebut nama saya dengan Monster, karena badan saya bongsor, dan saya dianggap sebagai monster pelajaran di kelas. Dan ketika saya lulus kelas VI, pagi-pagi sebelum nilai ujian akhir dibagikan beliau datang kepada saya, sambil menjabat tangan saya, "Selamat ya, tapi sayang, kamu sudah bukan Monster lagi." Begitu acara perpisahan dan NEM saya dibagikan, saya baru tau kenapa dia bilang begitu. NEM saya hanya tertinggi kedua di satu sekolah, makanya "jabatan" Monster itu dilepaskan olehnya. Saya sadar, dari dulu, dia itu sayang sekali sama saya, bahkan saat saya sudah bukan di kelasnya lagi dua tahun kemudian, dia tetap memperhatikan nilai saya.

Sudah 15 tahun berlalu sejak saya lulus SD. Saat ini saya tidak tahu Pak Yohanes ada di mana, tapi yang pasti saya tidak pernah lupa akan kekejamannya yang penuh cinta itu. Selamat bulan Pendidikan Nasional !!