Friday, March 27, 2009

Why oh Why ??

Saat kita bertanya pada Tuhan, apa rencana-Nya dalam hidup kita, Tuhan menjawab dengan cara-cara yang unik, mencengangkan, menegangkan, dan seringkali, membuat kita bertanya lebih jauh...WHY oh WHY !!

Kalau saya bertanya kepada keluarga, teman, kolega, apa pendapat mereka soal diri saya, pasti orang-orang langsung berpikir, kalau saya ini termasuk kalangan orang yang hidupnya lumayan enak. Saya memiliki masa kecil yang sangat menyenangkan, dengan keluarga yang sangat mencintai dan memperhatikan saya. Keluarga saya yang lumayan terbuka dan suka berpergian, membuka cakrawala saya mengenai dunia di luar sana. Saya tumbuh sebagai seorang anak yang imut-imut, lucu, cerdas (katanya), dan selalu membuat gemas orang-orang di sekitar saya. Masa remaja saya juga menyenangkan, selalu diisi dengan kegiatan positive, mulai dari sekolah setengah mati, les-les tambahan, kegiatan marching band yang menyita waktu namun membanggakan (kapan lagi saya bisa menyemprot sang presiden pada masa itu dengan jarak kurang dari 3 meter dengan tuba ? hehe). Walaupun saya tidak sempat punya pacar di masa SMP dan SMU, tapi hidup saya rasanya indah dan tanpa beban. Masa kuliah juga saya lewati dengan lumayan mulus, banyak kegiatan kemahasiswaan, menyanyi di sana sini dengan suara saya yang kayak kaleng rombeng tapi (katanya) merdu, bisa mendapatkan tawaran pekerjaan bergengsi sebelum lulus, padahal saat itu sedang krisis. Masa kerja saya juga lumayan seru, bekerja di perusahaan besar, berjalan-jalan ke sana kemari, menikmati ruangan hotel di berbagai tempat dengan pelayanan prima, dan makanan di restoran berkelas, sampai akhirnya saya kembali ke Indonesia pun, hidup saya terlihat mulus dan indah.

Tapi apakah semuanya itu selalu seperti yang terlihat di luar? Ada masa-masa di mana saya merasa kalau Tuhan sedang menguji kesetiaan saya. Di saat saya kecil atau remaja, mungkin hal itu tidak terlalu terasa, karena saya berada dalam lindungan keluarga saya. Tetapi saat masuk masa kuliah, saat saya sendiri dan harus mandiri di negeri orang, Tuhan betul-betul melatih saya. Juni 2001, saat usia saya belum genap 19 tahun, dan satu semester baru saja berlalu dari kuliah saya, Tuhan memanggil Papa saya secara mendadak. Saya cuma punya waktu 10 hari untuk pulang dan berduka, dan saat kembali lagi ke Amerika, saya langsung melanjutkan sekolah, dan berharap kisah di awal bulan Juni itu hanya sebuah mimpi buruk dan suatu saat saya akan bangun dari mimpi itu. Tiada lagi bayangan wisuda didampingi orang tua, tiada lagi bayangan Papa akan mendampingi saya menuju altar di hari perkawinan. Tetapi kehilangan beliau membuat saya jadi orang yang jauh lebih kuat dan bertanggung jawab.

Oktober 2003, saat semester musim gugur, saya menderita sakit pinggang yang luar biasa. Tidak tahunya, saya memiliki batu ginjal di saluran ureter. Katanya sih karena saya belajar dan beraktivitas terlalu berat, sampai lupa untuk minum. Selama dua bulan saya menderita, karena dokter berusaha ingin memecahkan batunya secara alami. Saya ketinggalan ujian, dan harus menyusul sendirian karena sakitnya luar biasa kalau sedang kumat. Seminggu sebelum minggu ujian final di akhir November, batu ginjal saya di laser. Saya ingat, setelah bangun dari bius total, saya langsung disuruh pulang, dan selama itu saya ditemani oleh teman baik saya di rumah. Buang air kecil rasanya seperti penyiksaan tingkat tinggi karena sakit luar biasa. Tapi Tuhan sayang pada saya, saya diberikan teman-teman yang sangat supportive, yang mampu mengobati kelelahan dan rasa sakit saya.

Baru saja laser batu ginjal dan liburan di Jakarta, di awal Januari 2004 saat saya kembali ke Amerika, saya terkena cacar air! Cacar air yang sudah merupakan penyakit langka di Amerika, membuat saya harus diisolasi selama 3 minggu. Sudah pasti ketinggalan pelajaran, dan dipaksa untuk melepas salah satu kelas penting saya untuk kelulusan, dan mengulangnya di semester depan. Selama 3 minggu itu, saya tidak boleh keluar rumah, tidak boleh bertemu dengan teman. Bahkan, untuk memasakpun, saya menitip belanjaan pada teman saya, dan teman saya meninggalkannya di depan pintu, mengetuk pintunya, kemudian lari supaya tidak tertular. Setelah boleh keluar rumah, perjuangan di mulai, mengejar ketinggalan-ketinggalan saya seperti orang gila, menghadapi kenyataan kalau ujian kelas Audit pertama saya memperoleh nilai D. Tuhan kembali sayang pada saya, karena gara-gara nilai saya yang buruk itu, saya sering konsultasi dengan Professor saya, kemudian beliau malah menjadi teman baik saya yang terus membimbing saya bahkan sampai saat saya bekerja. Beliau jugalah yang menjadi penggemar berat masakan saya yang dia menangkan di lelang organisasi.

Desember 2004, pekerjaan idaman sudah ada di tangan saya. Seharusnya tanggal 3 Januari 2005, saya bisa mulai bekerja, tetapi ijin kerja saya tidak kunjung keluar juga. Padahal teman-teman saya yang tidak mendapatkan pekerjaan, ijinnya sudah keluar dari bulan Desember. Saat itu posisi saya terancam, kalau saya tidak bisa memulai pekerjaan saya dan harus menunggu sampai Juni 2005 untuk memulai bekerja, yang berarti saya akan menganggur selama 5 bulan! Pihak perusahaan tidak mau menerima saya walaupun saya bersedia untuk tidak digaji, karena perusahaan ini memang mempunyai prosedur yang sangat ketat. Saat itu, setiap hari saya gelisah, sampai saya datang langsung ke imigrasi, dan pernah mendapatkan makian kasar dari petugas imigrasi karena saya menanyakan status ijin kerja saya yang tidak kunjung keluar. Tapi Tuhan selalu adil. Akhir Januari 2005, keluar juga kartu ijin saya, dan 7 Februari 2005, saya memulai hari pertama saya. Saya adalah satu-satunya inexperienced new hire yang mengikuti pelatihan hari itu, tetapi perusahaan tetap menerima saya walaupun telat 1 bulan.

April 2006, lagi-lagi ada problem dengan kesehatan saya. Saya sampai harus masuk ke emergency room gara-gara migrain! Dan yang paling parah, setelah saya di release dari emergency room dalam keadaan cuaca yang dingin subuh-subuh itu, saya harus berjalan kaki pulang dengan sendal jepit dan piyama sebanyak 8 blok karena tidak ada yang menjemput saya. Tuhan benar-benar menguji kesabaran saya, tapi di balik itu hikmahnya adalah, saya menjadi tau, siapakah teman-teman saya yang benar-benar baik dan bisa saya andalkan, dan siapa yang tidak.

Awal 2007, saat saya baru kembali dari Amerika dan mulai bekerja di Jakarta, saya ada gangguan di pencernaan, sehingga setiap kali BAB mengeluarkan darah, mirip seperti orang wasir. Saya bisa menghabiskan 30-40 menit di kamar mandi karena darahnya menetes terus. Saat ke dokter di salah satu rumah sakit, beliau menakut-nakuti saya dengan mengatakan kalau itu ada tumbuhan di anus yang harus dibuang, dan beliau langsung memberi perintah bedah. Kemudian, saya dan mama mencari-cari info, sampai akhirnya saya mendapatkan nama seorang dokter specialist bagian "bokong" (jangan ketawa yah hehehe), dan beliau menginformasikan kalau itu hanyalah luka di rectum yang disebabkan oleh ketidakcocokan dengan makanan yang dikonsumsi. Istilahnya, perut saya kaget. Dengan pengobatan akhirnya masalahnya berakhir dan tidak perlu sampai dibedah.

Di Tahun 2008, mungkin semua sudah mengerti perjalanan penyakit saya yang diketahui di bulan November 2008 lalu. Kemudian, semua juga mungkin mengetahui, betapa berat perjalanan saya menjalankan operasi yang lumayan besar di bulan Januari 2009, sampai penyembuhan berlangsung. Kemudian, apa pendapat anda jika setelah perjalanan panjang itu, dokter mengatakan kalau operasinya kurang berhasil, dan saya harus berpasrah dengan satu paru-paru?

Perjalanan hidup manusia memang tidak selalu mulus, tidak selalu indah, tidak selalu mempesona seperti terlihat di luarnya. Di antara peristiwa-peristiwa indah yang terjadi di dalam hidup saya, ada saatnya dimana saya harus berjuang keras. Saat itu kita lagi-lagi bertanya, WHY oh WHY ?? Dua hari lalu, saya melakukan perjalanan yang singkat, padat, dan menimbulkan secercah harapan di Singapura. Intinya adalah, jangan pernah menyerah, karena Tuhan pasti membantu kita. Perjalanan saya masih panjang, dan doa dari semuanya sangatlah saya harapkan.

Thursday, March 19, 2009

Perlindungan Konsumen

Nah, pertama, saya laporan dulu, kalau saya ganti template blog saya yang sangat standar ini dengan warna yang lebih terang, dan berharap segala sesuatunya akan menjadi lebih cerah rah rah rah...

Mungkin, karena pernah hidup di negara barat, saya merasa sekali, kalau di Indonesia ini, yang namanya perlindungan konsumen itu, sangat lemah sekali keberadaannya. Kali ini, saya nggak mau membahas yang susah-susah, cuma ingin membahas, betapa kita, para customer, yang biasanya mottonya: "Customer adalah Raja", ternyata dalam kenyataannya boro-boro jadi raja, yang ada tuh jadi korban terus menerus. Di bawah ini tiga cerita, terjadi di tiga tempat berbeda, dengan tiga kasus yang sebetulnya mirip, miripnya adalah: Sama-sama menyebalkan.

1. Gunting murah (tapi nggak juga).

Kejadiannya ini di sebuah chain salon Y yang lumayan terkenal di Jakarta, yang harganya lumayan ekonomis. Kami sekeluarga belum pernah ada yang potong rambut di sana karena biasanya kami setia dengan salon langganan kami masing-masing. Hari itu sebenarnya tidak ada rencana untuk nyalon. Tetapi sambil menunggu bioskop yang akan dimulai 1.5 jam kemudian, adik saya jadi iseng dan ingin potong rambut karena dia merasa rambutnya mulai agak gondrong. Namanya anak laki-laki, dia agak cuek mau potong rambut dimanapun. Di depan salon tertulis harga promo. Gunting Rambut Rp. 18,000, Cuci & Blow Rp. 18,000, dan beberapa service lainnya beserta harga. Adik saya mikir, waduh, murah banget gunting rambut cuma Rp. 18,000 saja, dan karena adik saya rambutnya cepak ABRI, dia memang tidak pernah di cuci blow.

Jadi datanglah dia ke counter, "Mbak, saya mau gunting rambut ya. Gunting aja, gak pake cuci blow."

Mbaknya nyaut,"Wah, gak bisa Pak, kalau gunting rambut itu sudah paket dengan cuci blow, jadi harus dua-duanya".

"Lah Mbak, kalau gitu kenapa ditulis gunting rambut dipisah dengan cuci blow? Jadi mestinya bisa dong gunting rambut aja"

Mbaknya ngotot,"Memang gitu pak aturannya, pokoknya itu sudah paket, gak bisa gunting rambut aja."

Dalam hati saya, makan tuh paket!! Bukan cuma restaurant fast food aja yang pakai paket, sekarang salon aja paketan. Memang sih, harganya gak mahal, bahkan adik sayapun tetap gunting rambut di sana karena harganya miring. Tetapi tetap, selisih Rp. 18,000 itu merupakan 100% dari harga gunting rambut yang ditawarkan. Bayangkan, jika orang yang uangnya pas-pasan, dan tidak bertanya dulu di depan counter, tau-tau disuruh bayar dua kali lipat dibandingkan dengan harga yang dipasang. Lalu apa gunanya pasang harga untuk gunting ? Sekalian aja tulis Gunting + Cuci + Blow Rp. 36,000. Lebih masuk akal toh? Dan yang pasti, nggak menipu-nipu.

2. Beli Satu, Gratis Satu (tapi boong).

Yang ini kejadian di gerai roti modern paling terkenal di Jakarta bernama BT, yang biasanya kalau orang mau beli roti sama dia, harus antri membentuk lingkaran di depan kasir saking ramainya. Saat itu ada satu jenis roti yang di atasnya ada keterangan mengenai jenis rotinya dan ditulis: "Buy One Get One Free". Karena tertarik dengan promosinya, dan kebetulan itu adalah rasa favorit mama saya, jadilah kita langsung mengambil empat buah yang jenis tersebut, kemudian beberapa lagi jenis lainnya. Begitu sampai di depan kasir, ternyata diitung harga penuh untuk empat roti promo yang tadi kami beli. Padahal, kalau melihat promosinya, harusnya saya hanya membayar dua untuk jenis tersebut.

Jadilah saya tanya,"Mbak, itu kan ada tulisannya, buy one get one free. Mestinya hanya diitung dua dong mbak yang jenis ini"

Kata si Mbak,"Wah, udah gak promosi tuh sekarang."

"Loh, kok tulisannya masih di situ kok mbak. Jadinya kan saya beli banyak karena promo."

Si Mbak malah manggil temennya, "Eh, siapa sih yang taro tulisan promo? Cabut tuh tulisan di atas roti, udah nggak promo." Lantas temannya itu dengan santainya mencabut tulisan promo tersebut.

Wuih, ngeselinnya minta ampun tuh si Mbak. Ini bukan masalah uangnya yang cuma selisih Rp. 16,000. Tapi ini soal mereka yang tidak bertanggung jawab atas promosi yang mereka buat sendiri. Akhirnya saya kesal dan bilang,"Mbak, tolong panggilkan managernya, saya mau bicara."

Mulailah mereka kelimpungan. Lalu si kasir itu malah memanggil teman-temannya yang lain, dan malah menyalahkan satu sama lain mengenai siapa yang memasang tulisan promo itu. Yang parahnya, konsumen lain yang mengantri didiamkan semua, termasuk saya. "Mbak, ini layani dulu dong, kok kita didiamkan saja?"

Kemudian karena ada dua kasir, kasir yang satunya mulai melayani pelanggan lain. Tetapi tetap belanjaan saya tidak diurus. Kemudian, si pelayannya bilang, "Maaf Bu, managernya lagi sholat, akan kembali setengah jam lagi." Nahloh! Gara-gara urusan ini, sudah saya didiamkan, tidak dihitung belanjaan saya yang lain, eh malah disuruh nunggu setengah jam! Kenapa sih keputusan simpel seperti ini, yang terang-terang merupakan kesalahan dari pihak BT itu sendiri, tetap saja konsumen yang direpotkan.

"Mbak, maaf ya, karena kesalahan anda, waktu saya terbuang, dan sekarang anda membiarkan saya menunggu di sini tanpa kepastian, sementara banyak konsumen anda yang menunggu untuk dilayani." Sayapun, mulai kesal. Eh, para mbak-mbaknya itu bukannya melayani, malah diam-diam dan berlagak tidak mengerti. Sampai akhirnya salah satu breadmakernya keluar, kemudian memberikan solusi, untuk memakai kas yang ada terlebih dahulu untuk menalangi Rp.16,000 itu, lalu kemudian para staff akan bicara dengan managernya. Nah, terbukti sudah, kalau breadmakernya lebih punya pemikiran yang advance dibandingkan dengan para kasir yang seharusnya merupakan public relations dari toko roti tersebut.

Setelah 15 menit berlalu, akhirnya semuanya settle. Terus terang, mungkin banyak yang bertanya, kenapa saya meributkan uang Rp. 16,000 tersebut, padahal jumlahnya tidak terlalu besar. Yang saya perjuangkan di sini bukan uangnya, melainkan pertanggung jawaban dari pihak toko roti yang ibaratnya memberikan promosi "palsu" supaya orang membeli banyak, dan untuk yang tidak sadar, bisa saja mereka tidak menghitung lagi total belanjaannya, sehingga akhirnya dirugikan.

3. Per Orang atau Per Gelas (tapi gak jelas).


Kisah terakhir ini (sebetulnya masih banyak yang lain, tapi kebanyakan nulisnya), terjadi di sebuah restaurant besar di Senayan City yang bernama MS. Saat itu seingat saya, MS belum terlalu lama buka. Di menu restaurant tersebut, di bagian minuman, ada dua jenis pemberian harga yaitu: Per Gelas dan Per Pax (alias Per Orang). Seperti yang kita semua tau, kalau disebut per pax, artinya kita boleh menambah sepuas kita, dan tetap dihitung satu harga. Di dalam bagian Per Pax pilihannya ada: Chinese Tea, Hot Tea, Ice Tea, dan Ice Lemon Tea. Saat itu saya makan berdua dengan teman kantor saya. Dan kita berdua memesan Ice Lemon Tea sebagai minumannya. Karena hitungannya per pax, saya dan teman saya sempat menambah masing-masing satu kali.

Begitu bill-nya datang, betapa terperangahnya saya, karena bukannya dihitung harga untuk 2 pax, minuman kami dihitung 4 gelas! Kemudian saya panggil pelayannya, dan saya jelaskan, kalau per pax itu artinya per orang, dan artinya kami bisa menambah. Saya bahkan meminta si pelayan mengambil buku menunya, dan saya tunjukkan, kalau posisi Ice Lemon Tea itu sama seperti Chinese Tea, Hot Tea, dan Ice Tea. Tapi si pelayan ngotot, kalau Ice Lemon Tea tidak termasuk dalam hitungan.

Lagi-lagi, saya perlu memanggil managernya, tapi kali ini untungnya si manager langsung hadir dan tanggap, serta memperbaiki bill-nya, seraya meminta maaf berkali-kali, dan berjanji memperbaiki menu mereka. Seingat saya, harga per gelasnya sekitar Rp. 12,000, jadi total selisihnya sebetulnya hanya Rp. 24,000 saja. Sekali lagi, berapa banyak orang yang tidak menyadari, kalau sebenarnya hak mereka lebih dari sekedar 1 gelas saja, karena terang-terangan kesalahan pihak restaurant yang tidak mencantumkan harga dengan benar.

Nah, demikianlah sedikit cerita saya tentang kita ini, para konsumen, yang sebenarnya sering sekali "ditipu" oleh para pengusaha, jika saja kita kurang teliti. Dan sepertinya hobi para pengusaha itu adalah memanfaatkan ketidaktelitian kita. Maka itu, kita sebagai konsumer harus menanamkan motto "Teliti Sebelum Membeli", karena "Konsumer Adalah Raja" sudah sulit berlaku di negara kita ini.

Thursday, March 12, 2009

Habis Masuk Kantor, Terbitlah Flu

Setelah masuk kantor secara resmi di tanggal 2 Maret yang lalu, akhirnya saya kembali harus mendekam di rumah gara-gara kena flu berat. Oh noooo.... Padahal dokter sudah berpesan, kalau saya tidak boleh kena penyakit apapun, karena di dalam masa recovery ini, bagian dalam tubuh saya harus benar-benar terlindungi agar tidak terjadi infeksi.

Seminggu lalu padahal saya sudah survive melewati minggu pertama dengan manis, walaupun masih nggak nyambung pas menghadapi kerjaan. Setiap Senin, Rabu, dan Jumat, saya pulang pukul 3 sore karena pukul 4 sudah harus nyambung terapi di rumah. Lalu setiap Selasa dan Kamis, saya pulang seperti biasa, sekitar pukul 7 malam, jadi sebagai silihnya, saya harus tidur siang melemaskan otot-otot yang dipakai duduk seharian di kantor. Hari pertama masuk kantor, saya didampingi oleh asisten setia (adik saya), datang ke office dengan membawa kasur gulung! Nah, masalah tidur siang ini, sempat menjadi topik hangat, karena: WHERE IN THE OFFICE ADA TEMPAT BOBO SIANG ???

Berhubung kantor saya ini kantor super produktif, boro-boro ada ruangan buat istirahat. Ruangan buat duduk santai aja gak ada gitu loh! Semua tempat sampai ke sudut-sudut dipakai secara efektif untuk filing lah, untuk kantor si A sampai Z lah, pokoknya jangan harap deh ada tempat yang tersedia. Sebetulnya ada ruangan kosong yang dulu dipakai oleh salah satu wakil presiden, tetapi sayangnya, walaupun kosong, pintu dan jendela ruangan itu transparan, sehingga kalau saya tidur siang di situ menggelar kasur gulung saya, yang ada saya bisa jadi tontonan satu divisi. Akhirnya, saya sampaikan kekhawatiran saya ini ke bagian General Affair, dan mereka akhirnya mengusahakan tempatnya.

Dan, tempat manakah yang akhirnya digunakan?? Dan tempatnya adalah....*drum rolling*... Ruangan Bos Besar !! Hehehe... mungkin pada bingung kali ya. Jadi si bos besar alias owner utama group perusahaan ini, jarang sekali datang ke kantor. Maklum, domisilinya kan bukan di Indonesia. Tetapi ruangannya itu sudah disediakan, lengkap dengan peralatan-peralatan canggih dan furniture yang top punya. Namun, karena jarang dipakai, akhirnya digunakan untuk penyimpanan barang-barang berharga seperti lukisan-lukisan antik, TV model high end, komputer canggih dengan layar raksasa, dan lain-lain. Akhirnya saya berkesempatan untuk menggelar kasur saya di situ pada siang hari selama satu jam dengan meminjam kunci khusus dari security. Di ruangan itu, suasananya tenang... tapi dinginnya minta ampun... Yang penting, otot-otot bisa relax dulu deh.

Setelah minggu pertama itu, Sabtu paginya, tenggorokan mulai tidak enak dan mulai batuk-batuk. Mulailah saya minum obat dan vitamin. Besoknya, bukannya membaik, eh malah hidung mulai berair. Tambah lagi jadi obat flu. Siang itu masih sempat beraktifitas. Makan siang, lalu lanjut nonton Curious Case of Benjamin Button, dan pulangnya makan mie pangsit di dekat rumah. Minggu malam itu, gara-gara mengkonsumsi expectorant, yang ada, malah jadi mual...dan habis mual, tau sendiri deh apa yang terjadi. Rupanya saya memang tidak cocok dengan expectorant. Senin pagi, saya pikir keadaan membaik, masih sempat beraktifitas. Makan siang lagi, kemudian ke Fatmawati, beli bahan, ke tukang jahit. Sorenya langsung kembali ke rumah.

Selasa pagi, keadaan badan masih kurang enak, tapi saya paksakan juga ke kantor karena memang ada janji untuk menyelesaikan laporan. Di kantor, rasanya makin parah, dan ujung-ujungnya saya bilang sama bos, kalau laporannya selesai, saya ijin pulang. Dan akhirnya, pulanglah saya dalam keadaan super lemas. Sampai di rumah, saya langsung minum obat dan tertidur, tetapi sorenya dibangunkan oleh rekan kantor untuk lagi-lagi menanyakan soal kerjaan. Hehehe...susah ya.... Rabu, bukannya membaik, tambah beler lagi. Rasanya kmarin adalah hari terbeler sedunia, dan sepertinya buangan tissue saya, kalau dikumpulin mencapai satu kantong plastik besar. Belum lagi bersin-bersin tidak terhitung banyaknya.

Arghhh...sampai kapan flu ini terus berlanjut....huks huks huks... Sembuhkanlaaaahhhh akuuuuuuu....

Thursday, March 05, 2009

Akhirnyaaaa.... OUT !

Nah, setelah entry rabu minggu lalu itu, dan merengek-rengek pada sang therapist untuk diijinkan keluar, akhirnya.... di hari Kamis, 26 Februari 2009, saya bisa keluar dari rumah...HOREEEE !!

Dan tujuan pertama saya adalah: SLUMDOG MILLIONAIRE! Bayangkan saja, pas saya masuk rumah sakit Selasa, tanggal 27 Januari 2009 yang lalu, film ini premiere tepat di weekendnya. Semua orang yang sudah nonton, pasti bilang: Bagus, keren, dan lain-lain. Gimana saya nggak ngiler coba? Eh udah balik ke rumah, masih harus istirahat dalam keadaan yang "steril" alias tidak boleh terekspos ke dunia luar dulu. Jadi begitu kesempatannya datang, tidak akan saya sia-siakan!

Kamis siang itu, berangkatlah saya dengan harapan dan ekspektasi tinggi. Biasanya, kalau saya punya ekspektasi tinggi, lalu filmnya kurang dari ekspektasi saya, umumnya agak-agak kecewa. Sebelum mulai nonton, isi perut dulu dengan makan sushi dan sashimi di Sushi Groove... sampe kenyaaannnggg (maklum, kangen banget udah makan yang kayak gini...). Dan filmpun di mulai. Dan perlu saya katakan... setelah sekian lama... akhirnya.... ADA JUGA FILM YANG BAGUS KAYAK GINIIIII.... arrghhh.... dan soal ekspektasi tadi itu, bubar sudah... karena film ini, akan memuaskan anda, dari sisi manapun. Sisi komedi, sisi romantik, sisi aksi, sisi kemanusiaan, dan segala sisi yang tidak bisa disebutkan satu persatu...

Okeh...sebelum saya mulai ngoceh, dan akhirnya satu isi entry ini hanya membahas Slumdog Millionaire, sebaiknya saya stop dulu, dan mencoba fokus pada hal lainnya. Hahaha... Saya kadang terlalu excited kalau menceritakan sesuatu yang spektakuler. Baru kali ini, mama saya keluar dari bioskop berkata, "Non, mama harus beli DVD originalnya. Ini film yang mesti dilihat oleh anak cucu kita." Kayaknya, film terakhir yang mempunyai efek seperti itu tuh, adalah "Sound of Music". Hmmm... sebegitu bagusnyakah film yang menang 8 Oscar tersebut ? Sebaiknya anda buktikan saja sendiri.

Sepulang nonton, ternyata sudah sore, dan saya lupa kalau ada 3 in 1. Huh, menyebalkan... jadilah saya harus menunggu sampai jam 7 malam. Muter-muter...lihat furniture, lihat baju, lihat sepatu, lihat ini, lihat itu...dan berakhirlah dengan beberapa kantong belanjaan. Eh, nggak berasa sudah jam 8 malam, dan perut kukuruyuk. Dan gilanya, saya masih tetap ngidam masakan Jepang. Malam itu ditutup dengan makan Beef Katsu Curry Rice di Daisho. Nyaaaammm....

Malam itu pulang ke rumah, bawaannya pingin senyum terus. Hati senang karena boleh keluar rumah, bisa makan enak, dan nonton film yang bagus. Rasanya kok gak capek, dan rasa sakit tuh seperti berkurang. Luar biasa deh pokoknya. Seperti keluar dari penjara (padahal penjaranya enak, dengan fasilitas AC, internet, makanan enak, dan lain-lain, tetapi terbatas ruang geraknya dan gak bisa ke bioskop >> hu hu hu...).