Wednesday, February 25, 2009

Setelah Hampir 1 Bulan Tak Menatap Dunia Luar

Huks....

Tidak terasa, sudah hampir satu bulan saya betul-betul tidak menatap dunia luar...alias nggak jalan-jalan ke tempat di mana saya biasanya nongkrong buat hang out ataupun jalan-jalan bersama keluarga. Ke mall, ke bioskop, ke resto-resto, huuuuuu... kangennnn.... Sebetulnya sih, sejak keluar dari rumah sakit, saya masih sempat kok keluar sedikit...yaitu: Balik ke rumah sakit lagi untuk kontrol, dan ke salon untuk keramas. That's all folks!

Ya, bukannya kenapa-kenapa sih, tapi kata sang therapist, ketahanan tubuh saya masih belum cukup untuk menahan gempuran udara luar di Jakarta yang kotornya alamakjan itu. Seperti juga dokter saya bilang, kalau gedung-gedung perkantoran yang mewah-mewah, biskop, dan mall-mall itu, justru menjadi tempat penyebaran penyakit pernafasan yang paling ganas. Bayangkan saja, kita terkungkung di dalam gedung, dengan AC central, dimana udara tidak berputar keluar, melainkan hanya melingkar-lingkar di dalam saja. No wonder, penyakit dari lantai 2 misalnya, bisa sampai ke lantai 30 via AC central. Wuih! Saya kok dengarnya jadi ngeri juga ya. Makanya, gak salah kalau orang ada yang pakai masker kalau ke tempat umum. Memang kacau sih udaranya.

Nah, sejak saya keluar dari rumah sakit, saya jadi ngapain aja dong di rumah? Hmmm... banyak sih... yang pasti saya banyak belajar. Belajar apa saja ?

1. Belajar Tidur
Nah, kalau dulu posisi tidur bisa jungkir balik seenaknya, sekarang posisi tidur itu gak bisa banyak macam. Pilihannya yang optimal cuma menghadap kiri. Menghadap kanan nanti menekan paru kanan dan menekan jahitan, terlentang malah merangsang untuk batuk. Arrghhh repot ya? Tapi sekarang mulai coba-coba terlentang juga, biar melatih gitu loh hehehe.

2. Belajar Batuk
Kalau biasanya orang batuk bisa sekencang-kencangnya sampai puas, sekarang kalau batuk pakai tehnik buka mulut. Uhuk...ahem... bleh... Intinya, supaya otot-otot ini tidak ketarik. Berabe dong kalo tertarik, kan jahitannya berlapis di dalam tubuh... yang ada bisa sakit-sakit semua.

3. Belajar Jalan
Bingung kan? Kok kayak anak bayi lagi belajar jalan. Tapi ya, sehabis operasi ini, terlihatlah kalau bahu kanan saya turun, karena otot-ototnya tertarik oleh jahitan. Kalau jalanpun, badan rasanya kok gak ringan. Bawaannya tangan kepingin dilipat terus, demi menahan sakit. Tapi si therapist mengingatkan terus, kalau saya tidak sadar, nanti saya sendiri yang jelek, jadi miring jalannya. Jadi sekarang, kalau jalan harus pakai mikir, harus angkat bahu kanan. *huks...jalan harus MIKIR*

4. Belajar Fitness Gaya Baru
Setelah dipijat dan dilemaskan otot-ototnya oleh therapist, saya latihan untuk gerakan tangan. Ke samping, ke atas, dengan kekuatan si therapist sebagai penahannya. Udah kayak latihan beban di tempat fitness kan? Biasanya, yang kejadian adalah, otot-otot punggung pada ngilu semua, terutama di daerah tulang belikat. Saya dijelaskan, itu terjadi karena otot-otot penyangga tulang belikat itu kemarin kan dipotong dan disambung lagi, jadi daerah sambungannya itu, sudah pasti ngilu semua, dan sekarang posisi tulang belikatnya agak keluar. Jadi deh...ganas sakitnya. Nah kemudian, ada latihan yang ini nih... saya jadi kayak lumba-lumba beneran deh. Si therapist lempar bola, saya harus sigap menangkap. Kalau dia lempar ke arah kiri sih, gampaaannnggg.... tapi kalau dia lempar ke arah kanan, ALAMAK! Pas awal-awal, sakitnya minta ampun, tapi lama-lama, bisa juga kok ditahan sakitnya. Kemarin, sudah pesat loh perkembangannya.

5. Belajar Sabar
Mungkin, inilah salah satu pelajaran terbesar yang saya dapat dari sakit kali ini. Saya yang biasanya tidak bisa diam, selalu kepingin aktif wara wiri kemana-mana, saat ini harus menerima kenyataan, saya tidak bisa kemana-mana, tidak bisa seenaknya makan dan minum yang merupakan hobi saya. Ke bioskop saja, belum kesampaian. Padahal, saya sudah kepingin banget nonton Slumdog Millionaire yang kebetulan premiere 1 hari setelah saya di operasi. Di balik ini, saya merasa, Tuhan begitu baik pada saya. Inilah saatnya saya untuk istirahat dan refleksi diri. Saatnya melupakan kegiatan-kegiatan yang biasanya menyita waktu dan hanya memberikan kesenangan sesaat. Dan, pada akhirnya, saya mensyukuri, setiap detik kesembuhan saya.

Nah, segitu dulu deh update dari saya. Oh iya, nanti sore, peluncuran perdana saya loh ke outside world. Officially! I am gonna go to Church for Ash Wednesday. Yee hawwww !! (Kayaknya sih bakalan bawa bantal ke Gereja buat penyangga...).

Saturday, February 07, 2009

Puji Tuhan

Banyak hal yang akan sampaikan, tapi mungkin hanya akan saya tulis saja dalam beberapa poin di bawah ini, mengenai rasa syukur saya yang amat dalam.

Puji Tuhan 1:
Operasi hari Kamis tanggal 29 Januari 2009 telah berjalan dengan lancar dan sukses selama 6.5 jam. Walaupun lebih lama dari estimasi selama 4-5 jam, tetapi semuanya berhasil baik. Paru-paru berhasil dibuka. Untuk detailnya: saluran utama paru kanan, dibelah seperti buncis hehehe, kemudian ditambal dengan membran dari jantung. Dokternya sempat bikin takut karena beliau menyatakan ini adalah operasi besar.

Puji Tuhan 2:
Bronkoskopi hari Jumat tanggal 30 Januari 2009 di ruang ICU, menyatakan paru atas, tengah, dan bawah sudah terbuka salurannya. Bisa keluar dari ICU hari Senin minggu depannya (walaupun sebelumnya ada perdebatan antar dokter kapan saya bisa keluar).

Puji Tuhan 3:
Bronkiotoilet hari Selasa tanggal 3 Februari 2009 menyatakan dahak-dahak yang melekat di saluran sudah berhasil dibersihkan, sehingga memberikan jalan yang cukup untuk udaranya. Nafas sudah jauh lebih lancar walaupun produksi dahak masih banyak.

Puji Tuhan 4:
Sabtu tanggal 7 Februari 2009 selang untuk pembuangan darah sisa, telah dilepas oleh dokter bedah. Selang tersebut ternyata masuk ke dalam tubuh sepanjang 20 cm. Pantas saja ngilunya setengah mati kalau bergerak. Saya jadi sudah bisa ke toilet sendiri deh :) Gak bawa-bawa penampung redux yang besarnya kayak kotak accu.

Puji Tuhan 5:
Pemulihan sampai saat ini berjalan lancar. Saya sudah bisa duduk, jalan, dan nafsu makan sudah mulai membaik. Bronkiotoilet selanjutnya akan dilaksanakan Selasa tanggal 10 Februari 2009. Doain ya. Oh iya, setiap kali bronkiotoilet itu, dilaksanakannya di ruang bedah juga dengan bius umum.

Puji Tuhan 6:
Dukungan dari keluarga dan teman luar biasa besarnya. Special thanks to Mama dan Ardi. Terutama buat Mama yang setiap malam nunggu di rumah sakit.

Masih banyak lagi Puji Tuhan lainnya yang tidak bisa saya sebutkan. Sekedar update saja sampai saat ini, kalau saya baik-baik saja dan pulih. Terima kasih untuk seluruh dokter dan team medis, sampai saat ini yang saya ingat adalah Prof. Nirwan, Dr. Ani, Dr. Agung, Dr. Arman, Dr. Budi, Dr. Ranjin, Dr. Nevi, Dr. Tommy, Sr. Cahyati, Sr. Made, Pak Kiryadi (fisiotherapist), puluhan dokter lainnya dan suster yang merawat saya. Sampai saat ini saya masih di RS Persahabatan, tetapi saya harap doanya untuk proses pemulihan ini, supaya bisa segera keluar dari rumah sakit, mulai theraphy dan rawat jalan, dan kembali ke aktifitas seperti biasa.

Terima kasih untuk segala bentuk perhatian, doa, dan cinta yang luar biasa dari semua orang. Tuhan pasti memberikan balasan untuk anda semua.

Dr. Ranjin once said in the Central Operating Room,"Leony, did you know that you get a second life? We're just human beings. Don't forget to pray."