Wednesday, December 09, 2009

Setelah Musim Kawin Berlalu

Setelah pertarungan bertubi-tubi yang melibatkan: memilih pakaian, mengisi angpao, dan antri makanan di resepsi, akhirnya selesai juga kegiatan yang berkaitan dengan Mating-Season, alias musim kawin. Doh ! Dari awal Oktober sampai sekarang, rasanya adaaaaaaa aja tiap weekend diisi dengan kegiatan persiapan perang di atas. Bahkan ada yang sampai sehari dua kali, bahkan tiga. Seandainya saja saya bisa membelah diri seperti amoeba, mungkin bisa hadir ke semuanya kali hehehehe. (Eh iya baru inget, kayaknya masih ada undangan lagi sampai akhir tahun ini, kalau gak salah ada temen yang mau tunangan, dan udah kasih-kasih info buat nyuruh datang. Ya elah... ternyata masih ada aja yang berkaitan dengan kawin-kawinan...).

Setidaknya, tahun ini, saya menyadari bahwa, business pernikahan itu benar-benar menguntungkannnnnn !! Luar biasa !! Dalam satu perkawinan, tak terhitung banyaknya pihak yang terlibat. Tergantung juga dari skala perkawinannya, makin hari rasanya semakin menggila saja pengeluaran yang berkaitan dengan perkawinan. Belum lagi, acara-acaranya lumayan innovative loh! Kali ini, saya listing sedikit cara-cara unik perkawinan ala Indonesia yang makin aneh-aneh tetapi menarik.

Cara Masuk Pengantin

Cara lama: Orang tua pengantin masuk, diikuti oleh saudara, kemudian diikuti oleh pasangan. Biasanya berbaris berdua-dua saja, nanti dipanggil sama MC-nya untuk giliran masuk.

Cara baru: Sama seperti di atas, tetapi dimodifikasi dengan cara masuk pengantin yang berbeda. Misalnya, yang pengantin pria berjalan dari ujung satunya, kemudian yang wanita juga berjalan dari ujung satunya. Mereka bertemu di tengah-tengah (biasanya ada gazebonya), kemudian mempelai pria memberikan bunga kepada mempelai wanita (kadang-kadang pakai berlutut kayak di film-film). Kemudian bisa dilanjutkan dengan kedua mempelai langsung berjalan bersama ke pelaminan. Tetapi kadang bisa juga setelah pemberian bunga itu, dilanjutkan dengan wedding kiss dulu, baru deh jalan ke pelaminan.
Biasanya lagu-lagu yang dimainkan lumayan standard, seperti:
- I Finally Found Someone
- Since I Found You
atau lagu-lagu cinta lainnya yang mendayu-dayu.
Modifikasi cara ini adalah, pada saat pengantin masuk, sebagian undangan yang berada di samping karpet merah, dikasih bubble-bubble, untuk ditiupkan ke pengantin pada saat mereka lewat, supaya keren effectnya gitu hehehehe.

Cara (ide) saya: Nah, yang ini sebenarnya bayangan saya kalau nanti saya menikah hahahah (Blagu lo, Non!). Saya nggak ingin masuk pakai cara yang standar. Kalau nanti in the future suami saya mengijinkan... (cieh cieh)... Saya mau masuk ke ruang resepsi sambil bergoyang-goyang bersama bridesmaids saya diiringi pakai lagu “Accidentally in Love” dari Counting Crows! Wekekekekek... Buat pengantin prianya, terserah deh, mau ikut joget, mau bengong, atau mau salto-salto. Pokoknya saya suka lagu itu hahahah...*MAKSA*

Upacara Pemotongan Kue

Cara lama: Biasanya pemotongan kue dilakukan di awal acara setelah pengantin memasuki ruang resepsi. Kemudian, ya seperti biasa, mulai potong kue. Kalau jaman dulu, biasanya ada dry icenya. Pokoknya heboh lah. Jaman Mama saya tuh, pengantin setengah badan sampai ketutup dry ice. Jadi kayak brasa Negeri di Awan. Nah yang lebih standard lagi, ya gak pakai efek apa-apa. Pokoknya potong kue aja deh. Bagi-bagi ortu, lalu suap-suapan. Oh iya, jaman dahulu, kue semuanya asli loh! Pas nikah dulu, Mama saya kuenya 7 susun, asli semua, jadi tamu-tamu pun kebagian icip-icip kuenya.

Cara baru: Nah, di jaman modern ini, kuenya biasanya palsu hehehe. Jadi kalau dipotong, gak kepotong deh tuh kuenya. Ini dikarenakan, org org jaman sekarang maunya kuenya gede-gede dan tinggi menjulang, sementara, kue itu kan mahal kalau asli semua. Enaknya kue modern ini, bentuknya bisa disesuaikan dengan kemauan pengantin. Mau hiasannya antik-antik juga bisa. Ga enaknya ya, hmm gimana ya, kuenya gabus hehehe. Pemotongan kue bisa dilakukan di bagian depan acara, ataupun dilakukan di tengah acara. Pemotongan di tengah acara dilakukan supaya para undangan tidak terlalu kelaparan lantaran kelamaan menunggu acara seremonial. Nah, biasanya, acara pemotongan kue ini, diakhiri dengan wedding kiss. Wedding kiss itu biasanya dihiasi dengan confetti, alias kertas-kertas yang diletupkan di udara. Kalau yang model baru lagi, pakai mesin bubble, jadinya pas wedding kiss, keluarlah itu bubble-bubble.

Cara (ide) saya: Kalo bisa, seenggaknya, krim kuenya yang asli lah gitu. Kalo bisa dapet kuenya asli, lebih manteb lagi (mahal pastinya...-_-”). Kuenya besar ya syukur, kalau sedangpun nggak apa-apa. Nah krim kuenya asli itu, supaya pas dipotong bagus ya, supaya di pisaunya nanti nempel-nempel krimnya, gak cuma kayak motong styrofoam. Trus kalo bisa diceplokin itu krim kue ke muka pengantin pria, lebih seru lagi hehehehe... (kayak di film kartun :P).

Lempar Bunga Plus Bagi-Bagi Hadiah

Cara Lama: Jaman dulu mana ada ya lempar bunga ??? Tapi yang pasti, akhir-akhir ini sering ada acara lempar bunga. Lempar bunga itu biasanya dimaksudkan untuk wanita-wanita lajang, supaya enteng jodoh. Tapi kenyataannya, di Indonesia, pesertanya dari kaum pria dan wanita lajang. Yang diincar adalah bukan murni supaya enteng jodoh, melainkan hadiahnya! Hadiahnya beragam loh, mulai dari telepon genggam, perhiasan, ipod, blackberry, DVD player, voucher, dan lain-lain. Ujung-ujungnya, biasanya kaum pria yang dapat lantaran mereka pada sigap dan brutal. Dan cewe-cewenya biasa jadi korban. Yang namanya kesenggol, kepukul, keinjak gaunnya dan lain-lain hehehe. Intinya, kalau cara lama, pesertanyanya digiring untung ke depan panggung, kemudian mempelai pria dan wanita melempar buket bunga dari atas pelaminan. Siapa yang dapat, dialah yang beruntung.

Terus biasanya ada juga cara pembagian hadiah klasik, yaitu misalnya, MCnya nanya, siapa undangan yang bawa kunci terbanyak di sakunya? Wah, ini sering banget nih jaman dulu ditanyain. Sampai-sampai, saya ingat, ada salah satu orang yang ngaku, kalau dia sengaja membawa kunci banyak-banyak di kantongnya pada saat kondangan, supaya bisa dapat hadiah! Hihihi...

Cara baru: Nah, hari gini biasanya inovasi di mulai. Inovasi ini terkadang malah tidak melibatkan buket bunga yang dilempar loh. Tapi konsepnya sama, supaya dapat hadiah! Yang pernah saya alami adalah, biasanya setelah peserta dikumpulkan, kemudian kedua mempelai melempar boneka-boneka, biasanya bisa ada selusin boneka atau lebih yang diperebutkan. Nah, biasanya di salah satu boneka tersebut ada tandanya (biasa nama pengantin), yang dapat boneka bertanda itulah yang si pemenang dan dia berhak dapat hadiah. Nah, buat yang bonekanya gak ada tandanya, maaf, anda kurang beruntung, tapi mayan kannnn masih dapet boneka ? Hihihi...

Kemudian ada juga cara pembagian hadiah yang lain. Yang ini dipraktekan sepupu saya November lalu. Jadi ceritanya, ada kira-kira 100 cups kecil kopi dibagikan ke undangan. Kemudian pada hitungan ketiga, diminum kopinya bareng-bareng. Nahhhh, yang di dalam kopi itu ada permennya, dapet deh hadiahnya! Kreatif ya? Terus, ada lagi sepupu saya yang December ini menikah, juga memakai cara unik untuk memberikan buket bunga dan hadiah. Jadi serunya yang terakhir ini, pesertanya dibatasi hanya 20 orang saja, siapa cepat dia dapat. Nah... caranya adalah, ada 20 pita yang tersambung ke buket bunga si mempelai wanita. Dari 20 pita itu, yang benar-benar terikat di buketnya hanya 1 pita saja. Jadi 20 orang peserta boleh mengambil pita pilihannya. Pada saat hitungan ketiga, semua peserta menarik pita mereka, dan cuma satu pita yang benar-benar terikat di buket bunga. Tuh kan, kreatif lagi! Nah cara ini ada bagusnya loh, yaitu buket bunganya gak rusak, dan cara rebutannya nggak brutal. Seringkali buket bunga itu rusak gara-gara para pesertanya rebutan. Ujung-ujungnya, pemenang ditentukan dari siapa yang dapat pegangan bunganya (bunganya sih udah GUNDUL! hahahaha).

Cara (ide) saya: Belum kepikiran tuh. Yang pasti sih, buket bunga saya maunya untuk peserta wanita aja. Kasian kan yang wanita kalau keinjak-injak sama yang pria. Yang pria biar nanti rebutan garter belt aja (garter belt= pita berkaret yang dipasang di paha mempelai wanita). Biarin nanti pengantin pria melempar garter beltnya, dan silakan peserta prianya brutal sendiri. Kalau soal games-games pembagian hadiah, itu sih bisa diatur blakangan hehehehe.

Nah, demikianlah sedikit highlight dari acara perkawinan yang telah saya lalui beberapa bulan terakhir ini, dan kalau yang ide saya itu, who knows, mungkin bisa terlaksana kalau Tuhan mengijinkan hahahaha (AMIN). Intinya, mau apapun acaranya, mau brapapun biayanya, yang penting kan kehidupan setelah perkawinan ya. Buat semua pasangan yang telah menikah, semoga langgeng, bahagia, saling bisa berbagi, sampai maut memisahkan kalian.

10 comments:

  1. alo leony, salam kenal ya. mulai suka bacain blog mu nih :)

    yg masuk nya nari2 pake "accidentaly in love" itu sama bgt sama idenya cowo ku. tp aku gak mauuu, gak bakat nari :p

    ada ide gak, klo cowo-ku masuk sambil nari, terus aku nya ngapain? (gak mau nari tp) *comment sambil cari ide*

    aku jg bakal pake wedding cake yg masih pake cream beneran buat weddingku(tp gak pake kue beneran). ternyata lebih murah lho daripada yg gabus2 semua

    ReplyDelete
  2. Therese>> wah, kalau gitu sih, kamu gak usah pake latihan dance lah, gaya bebas aja, goyag kanan kiri. Heheheh... Atau kalau mau edan, kamu muncul mendadak dari belakang kertas yang dirobek, sebelmnya dicahayain, jadi kayak siluet gitu.

    ReplyDelete
  3. tiap taun sih business wedding emang selalu booming ny. cuma lu berasa taun ini lebih dari taun2 yang lalu karena emang lu lagi di umur2 dimana banyak temen2 lu lagi pada kawin. biasa antara umur 25-menjelang 30, bakal buanyak banget dapet undangan kawinan.

    mulai umur 28-an gitu sih udah mulai menurun frekuensinya dan mulai banyak undangan baby shower dan ultah anak.

    umur 30-an lebih menurun lagi undangan kawinan, dan lebih banyak undangan ultah anak nya. hahahaha.

    btw tentang kue palsu. walaupun kuenya palsu tapi icing sugar nya akan asli kok. jadi di piso pasti ada bekasnya. :D hehe. tapi belakangan mulai banyak yang pake kue asli ya, dan tentunya gak gede2 amat. kayaknya mulai banyak yang ngikutin wedding ala US.

    ReplyDelete
  4. Masuknya pake parasut aja hahaha =D. Wedding di sini (Amrik) mah banyakan dance sama alcohol doank yah. Pas kapan itu gua ke wedding temen gua, udah pusing aja mikirin pake baju apa, ternyata mereka bener-bener nyantai ya.

    Dulu temenku pas masuk ke acara weddingnya dia nari (dia emang ballerina) dan suaminya nyanyi (suaranya mirip banget sama Jose Mari Chan, mukanya juga sih hihi).

    Kalo soal kue, bukannya nge-trend pake cup cakes ya sekarang (di sini kayaknya gitu deh). Gua sih mending pake kue kecil asal beneran... (dan harus enak). Kalo nggak asli ngapain pake kue? emang simbolisasi apa sih? Terkadang kita harus mempertanyakan "tradisi" yah...

    ReplyDelete
  5. Arman >> kalo menurut gue sih, kayaknya bukan karena umur aja ya. Tahun lalu gue jg ud umur 26, tapi gak segila ini loh undangannya. I guess itu jg kepengaruh dari makin banyaknya teman yang elu punya. Makin banyak teman, semakin mabukkkkk. For example, dulu pas papi gue masih ada, buanyak banget dpt undangan. Pas papi gue ga ada, undangannya agak turun. So it depends jg colleague u brp banyak. Wah, so far di indo yg praktekin pake kue kecil palingan di bali. Kalo di jkt, semua harus megah, wah, setinggi2nya hahahahah. Surabaya apalagi. Sampe atep kalo bisa.

    Rhea >> I don't know what's going on with cupcakes itu ya, tapi ga tau napa, gue gak gimana suka, looks weird, especially disaat elu potong kue pake samurai, tapi kuenya cupcakes. Very out of place. Mending pake cupcakes buat dibagi2in, tp kuenya jangan cupcakes deh. Soal simbol, gue rasa itu menggambarkan the journey of life, yang sebaiknya diisi dengan something sweeeeeettt heheheheh. Soal disko n alcohol, actually org amrik just wanna have a good time. Kalo di indo, banyak mikirnya especially printil2an yg kadang ga jelas, tapi dituntut sm keluarga.

    ReplyDelete
  6. errr, kayaknya goyang kiri kanan gtu juga susah buat gw :s

    iya banggett, wedding buat orang indo itu urusan keluarga. jadi seluruh keluarga ikutan comment. dan karena banyak yg comment, jadi banyak printilan nya :p

    tp demi ortu, sebisa mungkin gw jg ngikutin tata cara wedding yg "umum". soalnya klo gak, yg diomongin sama orang2 tuh malah ortu. kasian mereka (kitanya sih cuek2 aja)

    ReplyDelete
  7. pas msh bc yg atas2x, dlm ati aku : hrusnya lempar bunga buat yg cewek aja..

    eee dibawah kamu nulis gitu hehhe soale memang gak fair euy. waktu nikahanku, yg dpt bunga banci. meski merasa gemulai, tetap aja laki2x and lbh kuat dr cewek. makanya dia yg dpt

    ReplyDelete
  8. Therese >> Kalau saya sih mikirnya, di Indonesia itu yang penting makanan gak boleh kurang. Kalau soal tatacara yang nyeleneh2 dikit, masih gak apa-apa, tapi kalau makanan kurang, diinget-inget terus dan diomongin deh (plus digossipin antar tetangga hahahaha).

    Mercuryfalling >> Loh, kamu dulu pas resepsi di Indonesia ya Jeng ? Aku pikir kamu resepsi di Amrik sana. Kok yang dapet bisa banci sih ? Banci mah tenaganya kuattt... bahkan kalau marah bisa lebih galak daripada laki laki loh :)

    ReplyDelete
  9. woah, tentang wedding, neh :D

    pernah lho aku dapet kue (tapi bukan pas di undangannya, dikasih di gereja) dari yang baru nikah. itu lapisan gulanya tebel banget, ampe pas makan rada khawatir ama nih gigi :P cuman, untuk kue yang di dalemnya kecil banget (tebelan gulanya ^^; hahaha!)

    ReplyDelete
  10. Rachel >> Hahahaha... kalau di gereja sih baiknya pake kue-kue jajan pasar ya lebih enak daripada kue tart (apalagi yang bergula). Mendingan kan kayak Risoles, Lemper, Sosis Solo, Bika Ambon, Pie Buah, pasti lebih nyam!

    ReplyDelete