Thursday, September 03, 2009

Sore Tadi Pukul 3

Mendadak, salah satu staff payroll keluar dari ruangannya dengan wajah pucat. Kemudian kita semua mulai berpandangan satu sama lain. "Le, gempa ya ?" "Iya nih...kok goyang-goyang ?" Semua orang tiba-tiba mulai merasakan guncangan hebat! Dan saat kami pikir guncangan akan segera berhenti, ternyata masih tetap berlangsung. Sebagian orang berpikir, bagaimana cara yang tepat untuk menyelamatkan diri dari gempa.

Saat itu saya tetap tenang. Saya ingat, kalau bisa justru jangan panik dan berlari-larian. Posisi saya ada di lantai 19, di salah satu gedung perkantoran terbaik di Jakarta. Tangga daruratpun semakin penuh. Dari tangga itu, ratusan bahkan ribuan orang turun di gedung berlantai 40. Seandainya saat itu saya ikut turun, sepertinya hanya akan membuat saya menjadi tambah panik dan sesak. Ketika orang mulai berlarian, gempa semakin terasa. Saya hanya bisa duduk, berdoa, dan berusaha tidak panik.

Saat itu mendadak salah seorang General Manager berlari dari arah kamar kecil. Dia bilang, kalau tadi dia lagi duduk di closet sedang "menikmati" buang air besar, dan dia pikir closetnya bergerak-gerak. Kemudian dia teriak di kamar kecil, "Gempa ya ?" Namun tidak ada yang menyahut. Rupanya orang-orang yang tadinya ada di kamar kecil, semuanya sudah berhamburan keluar, menyisakan dia seorang diri, yang tiba-tiba kehilangan hasrat untuk BAB. Lantas dia berberes diri dan lari keluar. Di kala dia bercerita itu, kami masih sempat-sempatnya tertawa, kemudian mulai pusing-pusing sedikit.

Kami masih bertanya-tanya, kenapa pandangan kami berputar? Apakah masih ada gempa? Kemudian manager di sebelah saya berujar, "Kita lihat saja ornamen yang bergantungan, apakah masih bergerak." Kebetulan di sebelah ada lampion kecil bekas perayaan tahun baru Imlek kemarin, dan rupanya lampion sudah tidak bergerak sama sekali. Ternyata, benar-benar yang berputar adalah kepala kami sendiri.

Kantor sudah sepi, mungkin hanya ada beberapa wanita saja, sementara laki-laki masih lumayan banyak. Mungkin manusia di kantor kami termasuk banyak yang ndablek, alias cuek bebek, karena dengar-dengar kantor-kantor lain sudah kosong. Malah ada satu bos yang santai sekali, balik ke ruangannya, dan mulai lanjut bekerja. Tetapi kemudian ada pengumuman dari management gedung. Kita diharapkan tidak panik, tidak meninggalkan gedung, dan menjauhi dinding kaca. Tetapi, sepertinya pengumumannya agak telat, karena orang-orang sudah lari berhamburan.

Saya masih santai, pelan-pelan saya bereskan laptop, masukkan ke laci, dan sempat-sempatnya saya juga ganti sepatu dari high heels dengan sepatu bersol datar yang memang sudah saya siapkan di bawah meja seandainya ada fire drill. Saya mulai berkemas, tidak terburu-buru. Dan pelan-pelan saya menuruni tangga darurat yang sudah lebih sepi, tidak heboh dan ramai seperti tadi. Tiba di lobby, saya lihat manusia sudah begitu ramai. Di halaman depan juga ramai sekali. Lift di non-aktifkan, sehingga orang-orang pun hanya bisa menunggu.

Beberapa menit menunggu, terlihat tidak ada kejelasan. Akhirnya saya bertanya kepada security, apakah akses ke basement tempat parkir dibuka. Ternyata dibuka, dan akhirnya pukul 3.30-an, saya kabur hihihihihi.... Tetapi, jalanan ternyata macet luar biasa. Sepanjang jalan saya juga melihat para karyawan berhamburan di luar gedung. 2 jam, akhirnya jarak 10 km antara kantor dan rumah dilewati, dan Puji Tuhan, semua selamat.

Apa yang saya rasakan waktu terguncang hebat di lantai 19 itu, adalah perasaan bahwa saya begitu kecil, dan hidup itu bisa berubah sekejap karena kuasa Tuhan. Saat itu, sudah tidak terpikirkan juga untuk menyelamatkan harta atau apapun, yang dicari adalah keselamatan. Di kala jantung ini rasanya mau copot, dan kepala rasanya terguncang, tidak ada yang lain yang saya pikirkan kecuali "Tuhan, selamatkan saya."

Hikmah kecil yang bisa diambil adalah, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Kekayaan, kesuksesan, kemakmuran, nama besar, semuanya itu tidak akan ada artinya, jika Tuhan menjentikkan jari untuk menegur kita lewat sesuatu yang tak terduga. Jadi, berbuat baiklah selagi kita bisa, ungkapkanlah rasa cinta selagi orang tersebut masih ada, dan dekatkanlah diri kita kepada Tuhan. Saat ini kita menabur, di saat nanti kita menuai.

4 comments:

  1. kalo orang cp emang pada berani mati kok... hahhaahhaa....

    waktu itu juga pernah ada gempa, gak ada yang keluar. pada tetep duduk aja, cuma saling tanya2 gempa ya gempa ya... huahahahaha

    ReplyDelete
  2. goyangannya kuat gak, len? sampe jkt ya.

    ReplyDelete
  3. Arman >> Heheheh kalo elu di Maspion atau Ancol sih mending. Gedungnya masih pendek. Lah ini, gue di lantai 19 bo... kok bisa ya gue santei...

    Mercuryfalling >> Iya Di, sampe Jakarta dong. Kan gue di Jakarta. Pusatnya sih di laut deket Tasik.

    ReplyDelete
  4. Wooooow!!!! Orang kantornya udah biasa kena gempa kali ya? Atau saking puyengnya ngurusi kerjaan, jadi mending kena gempa daripada harus ninggalin kerjaan. Ck....ck....

    ReplyDelete