Wednesday, May 06, 2009

Monica si Monster

Terinspirasi dari kisah-kisah mengenai guru-guru di bulan pendidikan nasional ini, akhirnya saya tergelitik juga untuk menuliskan suatu kisah dari guru kelas IV SD saya, yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan karena dia ganteng, super pintar, atau menawan, tetapi karena kekejamannya termasuk kelas kakap untuk kami yang saat itu berusia di bawah 10 tahun. Bagi beberapa orang, nama guru yang kejam biasanya ditutup-tutupi, supaya tidak menyinggung sang guru bersangkutan (jikalau secara tidak sengaja dia, atau keluarganya, atau koleganya membaca blog saya). Tetapi saya ingin mengungkapkan saja, dialah guru yang fenomenal di sekolah saya, Pak Yohanes Musiran.

Saya masih ingat betapa lumayan brutal dan kejamnya guru kita yang satu ini. Kalau ada anak yang nakal, tidak segan-segan melakukan sesuatu yang ekstrim. Kalau guru-guru lain suka menjewer, guru yang satu ini tidak menjewer telinga, melainkan menarik cambang dari anak-anak, baik yang laki-laki maupun yang perempuan sampai semua teraduh-aduh dan menitikkan air mata. Kalau yang nakal itu ada sekelompok, sudah pasti disuruh berdiri, dan bergiliran mendapatkan tarikan cambang darinya.

Jangan harap beliau punya belas kasihan terhadap anak-anak yang masih kecil ini. Setiap kali pembagian ulangan, kalau nilai ulangan kita di bawah nilai 5, siap-siap dipanggil ke depan (biasanya Pak Yohanes ini sangat ketat kalau memberikan nilai, jadi sudah pasti berderetlah yang dapat nilai di bawah 5). Kemudian, kita harus mendengarkan perintah dan menjalankannya. Perintahnya tidak jauh-jauh dari berjalan jongkok atau berjalan berlutut berkeliling di dalam kelas, diantara barisan kursi-kursi teman-teman. Yang paling extreme adalah berjalan jongkok dari kelas IV A, kemudian keluar melewati kelas IV B, C, dan D, kemudian balik lagi ke kelas IV A dan masih berputar-putar di dalam kelas.

Maksud Pak Yohanes adalah supaya anak-anak yang mendapatkan nilai jelek itu merasa malu, dan kemudian berpacu untuk menjadi lebih baik. Tapi apa yang terjadi ? Biasanya yang dapat hukuman ya yang itu-itu saja anaknya. Yang paling kasihan, adalah teman saya Siska, yang terkena asma. Kalau sudah dihukum seperti itu, biasanya dia teler karena tidak bisa nafas. Bukannya dimaafkan, oleh Pak Yohanes ya disubstitusi hukumannya dengan tarik cambang tadi. Waktu angkatan saya, tidak ada yang berani melawan beliau. Tetapi dengar-dengar, dari angkatan adik saya, sekelompok orang tua pernah melancarkan protes kepada pihak sekolah. Lalu kenapa dia tetap berkibar sebagai guru ? Ya karena sudah terbukti, jebolan kelas Pak Yohanes biasanya lumayan berprestasi dan punya mental baja. Jadi serba salah kan ?

Jika murid-murid yang kurang berprestasi itu sering mendapat hukuman, lalu apa yang terjadi dengan murid yang berprestasi ? Apakah selalu mendapatkan pujian ? Tidak juga! Suatu hari, murid-murid yang berprestasi dan tidak pernah mendapatkan hukuman, dikerjai juga oleh dia, karena rupanya dia penasaran dan mungkin bercampur dendam. Saat itu saya ingat, ada saya dan ada kawan baik saya Aditya yang memang tidak pernah dapat nilai merah. Rupanya Pak Yohanes menyimpan dendam tersendiri kepada kita. Suatu hari, beliau memberikan ulangan mendadak yang terdiri dari 10 soal, dan soalnya lumayan sulit-sulit. Ada satu soal nomor 9 yang memang rasanya sulit sekali untuk dikerjakan karena itu soal aljabar untuk anak SMP. Jadi sudah pasti tak ada satu orangpun di kelas yang tidak mampu mengerjakan. Tetapi saya, Adit, dan beberapa teman lainnya mengerjakan soal lainnya dengan benar, sehingga kami berhak mendapat nilai 9. Hore... kami pikir, nilai 9 is not bad at all toh ? Karena kan memang tidak ada juga yang dapat nilai 10.

Tetapi di pikiran seorang Pak Yohanes lain lagi. Untuk melampiaskan dendamnya terhadap kami yang tidak pernah memperoleh hukuman, beliau memanggil dengan cara sebagai berikut, "Bagi yang di ulangan tadi, melakukan kesalahan HANYA di nomor 9, harap maju ke depan." Dan saat itu kira-kira 5 anak maju ke depan dan semuanya adalah anak-anak yang biasa bercokol di deretan 5 besar di kelas. Pak Yohanes lanjut lagi, "Nah, sekarang giliran kalian untuk jalan jongkok keliling kelas, supaya kalian juga bisa merasakan apa yang teman-teman kalian biasa rasakan." Arrgghhh...gila banget ! Akhirnya saya merasakan juga jalan jongkok, dan untungnya hanya di dalam kelas sendiri. Dan kamipun ditertawakan teman-teman, dan Pak Yohanes juga tertawa melihat kita jalan jongkok, seakan-akan mendapatkan kelegaan bisa memperoleh kesempatan untuk menghukum kami.

Dan kenapa judul tulisan saya "Monica si Monster" ? Pas SD dulu, saya biasa dipanggil Monica, dan dialah yang pertama-tama menyebut nama saya dengan Monster, karena badan saya bongsor, dan saya dianggap sebagai monster pelajaran di kelas. Dan ketika saya lulus kelas VI, pagi-pagi sebelum nilai ujian akhir dibagikan beliau datang kepada saya, sambil menjabat tangan saya, "Selamat ya, tapi sayang, kamu sudah bukan Monster lagi." Begitu acara perpisahan dan NEM saya dibagikan, saya baru tau kenapa dia bilang begitu. NEM saya hanya tertinggi kedua di satu sekolah, makanya "jabatan" Monster itu dilepaskan olehnya. Saya sadar, dari dulu, dia itu sayang sekali sama saya, bahkan saat saya sudah bukan di kelasnya lagi dua tahun kemudian, dia tetap memperhatikan nilai saya.

Sudah 15 tahun berlalu sejak saya lulus SD. Saat ini saya tidak tahu Pak Yohanes ada di mana, tapi yang pasti saya tidak pernah lupa akan kekejamannya yang penuh cinta itu. Selamat bulan Pendidikan Nasional !!

4 comments:

  1. guru jaman dulu memang galak yah, suka ngasih hukuman fisik. Di SDku dulu ada yg galak juga, untungnya aku gak pernah kena ceplesan dia, soalnya kita les privat sama dia, jadi dia sungkan ama ortuku kalo mau ngapa2in kita (aku dan adikku), hehe..

    ReplyDelete
  2. guru2 sd-sma emang suka gitu ya. sok2 berkuasa. herannya kita dulu kok ya gak berani ya ama mereka. padahal kalo udah kayak gitu kan kita berhak untuk protes!

    gua juga ngalamin tuh 'disiksa' guru. hahaha. ntar dah kapan2 gua tulis di blog. :D

    dan gua masih dendam lho ama guru itu sampe sekarang. kalo ketemu lagi mau gua damprat! :P

    ReplyDelete
  3. aku dulu juga punya guru smp yg suka narik cambang keatas kalo salah menjawab soal. cuma, galaknya ke anak yg 'kurang' aja yg mana gue gak setuju berat. harusnya kalo kurang, dipanggil, ditanya apa masalahnya dan kekurangannya dimana.

    tp dengar2x guru jaman sekarang gak gitu lagi ya ?

    ReplyDelete
  4. Marlina >> Intinya, kalau ada relationship pribadi dan dibayar langsung oleh family, jadi mendingan ya. Dasar guru...benernya kasian, banyak diantara mereka yang jadi emosi di sekolah gara2 kesulitan ekonomi.

    Arman >> Hehehe..iya, gue udah baca postingan elu yang seru itu. Sabar ya mas heheheh jangan dendam kesumat...

    Mercuryfalling >> Justru akhir-akhir ini kasus kekerasan muncul lagi. Bedanya, sekarang anak-anaknya udah pinter2, direkam pakai handphone. Jadi deh masuk tivi heeheheh. Gurunya ditindak, sekolahnya malu...trus wartawannya ditonjok sm guru lainnya....ANEH !

    ReplyDelete