Thursday, March 19, 2009

Perlindungan Konsumen

Nah, pertama, saya laporan dulu, kalau saya ganti template blog saya yang sangat standar ini dengan warna yang lebih terang, dan berharap segala sesuatunya akan menjadi lebih cerah rah rah rah...

Mungkin, karena pernah hidup di negara barat, saya merasa sekali, kalau di Indonesia ini, yang namanya perlindungan konsumen itu, sangat lemah sekali keberadaannya. Kali ini, saya nggak mau membahas yang susah-susah, cuma ingin membahas, betapa kita, para customer, yang biasanya mottonya: "Customer adalah Raja", ternyata dalam kenyataannya boro-boro jadi raja, yang ada tuh jadi korban terus menerus. Di bawah ini tiga cerita, terjadi di tiga tempat berbeda, dengan tiga kasus yang sebetulnya mirip, miripnya adalah: Sama-sama menyebalkan.

1. Gunting murah (tapi nggak juga).

Kejadiannya ini di sebuah chain salon Y yang lumayan terkenal di Jakarta, yang harganya lumayan ekonomis. Kami sekeluarga belum pernah ada yang potong rambut di sana karena biasanya kami setia dengan salon langganan kami masing-masing. Hari itu sebenarnya tidak ada rencana untuk nyalon. Tetapi sambil menunggu bioskop yang akan dimulai 1.5 jam kemudian, adik saya jadi iseng dan ingin potong rambut karena dia merasa rambutnya mulai agak gondrong. Namanya anak laki-laki, dia agak cuek mau potong rambut dimanapun. Di depan salon tertulis harga promo. Gunting Rambut Rp. 18,000, Cuci & Blow Rp. 18,000, dan beberapa service lainnya beserta harga. Adik saya mikir, waduh, murah banget gunting rambut cuma Rp. 18,000 saja, dan karena adik saya rambutnya cepak ABRI, dia memang tidak pernah di cuci blow.

Jadi datanglah dia ke counter, "Mbak, saya mau gunting rambut ya. Gunting aja, gak pake cuci blow."

Mbaknya nyaut,"Wah, gak bisa Pak, kalau gunting rambut itu sudah paket dengan cuci blow, jadi harus dua-duanya".

"Lah Mbak, kalau gitu kenapa ditulis gunting rambut dipisah dengan cuci blow? Jadi mestinya bisa dong gunting rambut aja"

Mbaknya ngotot,"Memang gitu pak aturannya, pokoknya itu sudah paket, gak bisa gunting rambut aja."

Dalam hati saya, makan tuh paket!! Bukan cuma restaurant fast food aja yang pakai paket, sekarang salon aja paketan. Memang sih, harganya gak mahal, bahkan adik sayapun tetap gunting rambut di sana karena harganya miring. Tetapi tetap, selisih Rp. 18,000 itu merupakan 100% dari harga gunting rambut yang ditawarkan. Bayangkan, jika orang yang uangnya pas-pasan, dan tidak bertanya dulu di depan counter, tau-tau disuruh bayar dua kali lipat dibandingkan dengan harga yang dipasang. Lalu apa gunanya pasang harga untuk gunting ? Sekalian aja tulis Gunting + Cuci + Blow Rp. 36,000. Lebih masuk akal toh? Dan yang pasti, nggak menipu-nipu.

2. Beli Satu, Gratis Satu (tapi boong).

Yang ini kejadian di gerai roti modern paling terkenal di Jakarta bernama BT, yang biasanya kalau orang mau beli roti sama dia, harus antri membentuk lingkaran di depan kasir saking ramainya. Saat itu ada satu jenis roti yang di atasnya ada keterangan mengenai jenis rotinya dan ditulis: "Buy One Get One Free". Karena tertarik dengan promosinya, dan kebetulan itu adalah rasa favorit mama saya, jadilah kita langsung mengambil empat buah yang jenis tersebut, kemudian beberapa lagi jenis lainnya. Begitu sampai di depan kasir, ternyata diitung harga penuh untuk empat roti promo yang tadi kami beli. Padahal, kalau melihat promosinya, harusnya saya hanya membayar dua untuk jenis tersebut.

Jadilah saya tanya,"Mbak, itu kan ada tulisannya, buy one get one free. Mestinya hanya diitung dua dong mbak yang jenis ini"

Kata si Mbak,"Wah, udah gak promosi tuh sekarang."

"Loh, kok tulisannya masih di situ kok mbak. Jadinya kan saya beli banyak karena promo."

Si Mbak malah manggil temennya, "Eh, siapa sih yang taro tulisan promo? Cabut tuh tulisan di atas roti, udah nggak promo." Lantas temannya itu dengan santainya mencabut tulisan promo tersebut.

Wuih, ngeselinnya minta ampun tuh si Mbak. Ini bukan masalah uangnya yang cuma selisih Rp. 16,000. Tapi ini soal mereka yang tidak bertanggung jawab atas promosi yang mereka buat sendiri. Akhirnya saya kesal dan bilang,"Mbak, tolong panggilkan managernya, saya mau bicara."

Mulailah mereka kelimpungan. Lalu si kasir itu malah memanggil teman-temannya yang lain, dan malah menyalahkan satu sama lain mengenai siapa yang memasang tulisan promo itu. Yang parahnya, konsumen lain yang mengantri didiamkan semua, termasuk saya. "Mbak, ini layani dulu dong, kok kita didiamkan saja?"

Kemudian karena ada dua kasir, kasir yang satunya mulai melayani pelanggan lain. Tetapi tetap belanjaan saya tidak diurus. Kemudian, si pelayannya bilang, "Maaf Bu, managernya lagi sholat, akan kembali setengah jam lagi." Nahloh! Gara-gara urusan ini, sudah saya didiamkan, tidak dihitung belanjaan saya yang lain, eh malah disuruh nunggu setengah jam! Kenapa sih keputusan simpel seperti ini, yang terang-terang merupakan kesalahan dari pihak BT itu sendiri, tetap saja konsumen yang direpotkan.

"Mbak, maaf ya, karena kesalahan anda, waktu saya terbuang, dan sekarang anda membiarkan saya menunggu di sini tanpa kepastian, sementara banyak konsumen anda yang menunggu untuk dilayani." Sayapun, mulai kesal. Eh, para mbak-mbaknya itu bukannya melayani, malah diam-diam dan berlagak tidak mengerti. Sampai akhirnya salah satu breadmakernya keluar, kemudian memberikan solusi, untuk memakai kas yang ada terlebih dahulu untuk menalangi Rp.16,000 itu, lalu kemudian para staff akan bicara dengan managernya. Nah, terbukti sudah, kalau breadmakernya lebih punya pemikiran yang advance dibandingkan dengan para kasir yang seharusnya merupakan public relations dari toko roti tersebut.

Setelah 15 menit berlalu, akhirnya semuanya settle. Terus terang, mungkin banyak yang bertanya, kenapa saya meributkan uang Rp. 16,000 tersebut, padahal jumlahnya tidak terlalu besar. Yang saya perjuangkan di sini bukan uangnya, melainkan pertanggung jawaban dari pihak toko roti yang ibaratnya memberikan promosi "palsu" supaya orang membeli banyak, dan untuk yang tidak sadar, bisa saja mereka tidak menghitung lagi total belanjaannya, sehingga akhirnya dirugikan.

3. Per Orang atau Per Gelas (tapi gak jelas).


Kisah terakhir ini (sebetulnya masih banyak yang lain, tapi kebanyakan nulisnya), terjadi di sebuah restaurant besar di Senayan City yang bernama MS. Saat itu seingat saya, MS belum terlalu lama buka. Di menu restaurant tersebut, di bagian minuman, ada dua jenis pemberian harga yaitu: Per Gelas dan Per Pax (alias Per Orang). Seperti yang kita semua tau, kalau disebut per pax, artinya kita boleh menambah sepuas kita, dan tetap dihitung satu harga. Di dalam bagian Per Pax pilihannya ada: Chinese Tea, Hot Tea, Ice Tea, dan Ice Lemon Tea. Saat itu saya makan berdua dengan teman kantor saya. Dan kita berdua memesan Ice Lemon Tea sebagai minumannya. Karena hitungannya per pax, saya dan teman saya sempat menambah masing-masing satu kali.

Begitu bill-nya datang, betapa terperangahnya saya, karena bukannya dihitung harga untuk 2 pax, minuman kami dihitung 4 gelas! Kemudian saya panggil pelayannya, dan saya jelaskan, kalau per pax itu artinya per orang, dan artinya kami bisa menambah. Saya bahkan meminta si pelayan mengambil buku menunya, dan saya tunjukkan, kalau posisi Ice Lemon Tea itu sama seperti Chinese Tea, Hot Tea, dan Ice Tea. Tapi si pelayan ngotot, kalau Ice Lemon Tea tidak termasuk dalam hitungan.

Lagi-lagi, saya perlu memanggil managernya, tapi kali ini untungnya si manager langsung hadir dan tanggap, serta memperbaiki bill-nya, seraya meminta maaf berkali-kali, dan berjanji memperbaiki menu mereka. Seingat saya, harga per gelasnya sekitar Rp. 12,000, jadi total selisihnya sebetulnya hanya Rp. 24,000 saja. Sekali lagi, berapa banyak orang yang tidak menyadari, kalau sebenarnya hak mereka lebih dari sekedar 1 gelas saja, karena terang-terangan kesalahan pihak restaurant yang tidak mencantumkan harga dengan benar.

Nah, demikianlah sedikit cerita saya tentang kita ini, para konsumen, yang sebenarnya sering sekali "ditipu" oleh para pengusaha, jika saja kita kurang teliti. Dan sepertinya hobi para pengusaha itu adalah memanfaatkan ketidaktelitian kita. Maka itu, kita sebagai konsumer harus menanamkan motto "Teliti Sebelum Membeli", karena "Konsumer Adalah Raja" sudah sulit berlaku di negara kita ini.

12 comments:

  1. iya kalo di indo kan kalo mereka salah naruh tanda promosi tinggal senjatanya ya jadi mau beli atau gak jadi? gitu aja.. hehehe.

    cape kalo diajak ngotot juga suka percuma. ketemu manager juga belum tentu membantu malah buang2 waktu. untungnya barang di indo murah2 jadi kadang yah ya udah lah. hahaha. abis mau gimana lagi. daripada buang waktu dan energi marah2. :P

    BT mah customer servicenya emang ancur parah. gua kan pernah bermasalah karena beli roti ada karetnya di dalemnya. gua telp hotline servicenya, ditampung doang, gak ada follow up. akhirnya gua sebarin email ke milis2 gitu. kalo udah begitu baru cepet dah gua langsung di follow up. didatengin minta maaf sama dikasih kue. coba gua gak tulis di milis2, gak bakal dapet minta maaf nya dah.

    ReplyDelete
  2. yg no 2, gue setuju tuh. hajar bleeehh ! di indo, konsumen dicuwekin. parah banget deh CSnya. tapi kalo di amrik, ngelunjak ya hahahaha

    ReplyDelete
  3. BT apaan sih ? tulis lengkap donk, jeng. sapa tau malah ownernya baca hehehhe bukan Bambang tri khan ?

    ReplyDelete
  4. Noniiii...again, GREAT GREAT Post!! Andalah SUARA KONSUMEN sejati!! I agree with every single bit of what you said, especially KARYAWAN TOKO ROTI TERKENAL BERINISIAL "BT" yang sudah berkali2 bikin gw naik pitam dan darah mendidih because of their incompetency!! BT bener2 bikin gw BT!! LOL...talk you you soon...

    ReplyDelete
  5. Di Indo yg penting laku,yg formalinlah,yg expire, yg udah busuk jual saja yg penting duitnya blehhhhh

    ReplyDelete
  6. Aaah! My favorite topic :)

    Kejadian juga sama gw beberapa bulan lalu. Di Toko Buku berinisial TGA. Pertama gw tanya buku "Anak Tani" dan "Di Tepi Sungai Plum" karangan Laura Ingalls Wilder, dan diantar sama pelayannya ke SETUMPUK BUKU YANG BARU DATANG. Barcode ada dua: Rp 35,000 dan Rp 28,000. Yang dipakai yang lebih murah, karena lagi diskon (katanya).

    Tiga hari kemudian gw datang lagi untuk beli "Tahun-tahun Bahagia". Sama juga, barcode-nya dua. Tapi kata kasirnya "Diskonnya sudah habis BULAN LALU, sekarang harganya udah Rp 35,000 lagi".

    Lha, gimana bisa diskonnya habis bulan lalu, wong bukunya aja belum genap seminggu datang :)

    ReplyDelete
  7. Kalo mo cerita soal consumers ditipu di amrik: consumerist.com

    ReplyDelete
  8. Arman >> Bener man, kita cuma jadi korban doang. Nah, yang murah-murah itu, kalo dikumpulin, jadi banyak juga loh. Makanya kadang orang suka mikir remeh-temeh karena murahnya itu. Tapi skrg gue gak peduli ah, mau murah juga, TETEP HARUS DIPERJUANGKAN... Nyari duit susah hihihi...

    Mercuryfalling >> Di, udah tau kali ya, BT = Bread T***. Nah... very famous in Indo. Kalo Bambang Tri bukannya famous, tapi notorious wekekekek.

    Erik >> Trueeee... BT bikin BT hihihi...seru-seru. Perlu dimasukkin ke dalam kotak pembaca kompas tuh, tapi minta ditulisin judulnya kayak gitu juga.

    Mr. Bien >> Nah, kalo soal formula, itu urusan lain lagi deh. Yang di sini, urusan harga dulu nih, dan promo-promo yang gak jelas, cuma buat luring konsumen doang. Tapi memang bener, soal formula jg gak ada protectionnya tuh terhadap pembeli.

    May-Not>> Yoi jeng, bener, topik paling sering, dan paling serong hahahaha... Kalo ditulisin semua pengalaman kita, bisa bisa 1 blog penuh dan bikin yang baca jadi bete. Makasih ceritanya, bikin saya jadi makin yakin, kalau tenaga promosi dan ide-idenya di Indonesia makin ngawur.

    Janesa >> Thanks for the link.

    ReplyDelete
  9. INI BUKTINYA : PUTUSAN SESAT PERADILAN INDONESIA

    Putusan PN. Jkt. Pst No. 551/Put.G/2000/PN.Jkt.Pst membatalkan
    demi hukum atas Klausula Baku yang digunakan Pelaku Usaha.
    Putusan ini telah dijadikan yurisprudensi.
    Sebaliknya, putusan PN Surakarta No. 13/Pdt.G/2006/PN.Ska
    justru menggunakan Klausula Baku untuk menolak gugatan. Padahal
    di samping tidak memiliki Seritifikat Jaminan Fidusia, Pelaku
    Usaha/Tergugat (PT. Tunas Financindo Sarana) terindikasi
    melakukan suap di Polda Jateng.
    Ajaib. Di zaman terbuka ini masih ada saja hakim yang berlagak
    'bodoh', lalu seenaknya membodohi dan menyesatkan masyarakat, sambil berlindung di bawah 'dokumen dan rahasia negara'. Maka benarlah statemen KAI : "Hukum negara Indonesia berdiri diatas pondasi suap". Bukti nyata moral sebagian hakim negara ini sudah sangat jauh sesat terpuruk dalam kebejatan. Quo vadis hukum Indonesia?

    David
    (0274)9345675

    ReplyDelete
  10. hehehe, bisa buat ilmu nih,biar gk mengecewakan, thanks ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hrs bisa baca2 biar jelas semuanya dan bisa memastikan kalau hak2 kita semua terpenuhi.

      Delete
  11. Aduhhh saya tmsk orang yg males ngurus gituan. Jarang juga ngitung2. Entah kenapa suka kasian malahan liat pegawe yg plonga-plongo hehe. Apalagi kl bawa bocil pecicilan, pengennya cepet keluar aja. Tapi kmrn ternyata kejadian juga, beli oleh2 di pusat oleh2. Totalan ngitung sendiri sm tagihan di kasirnya beda 10rb. Ga tau deh knp kok tiba2 ada niatan minta itung ulang. Sm kasirnya diitung ulang di kalkulator eh bener dia kelebihan. Jd curiga juga jgn2 sengaja, soalnya mesin kasirnya ga ada layarnya yg bs diliat pembeli dan struknya ada bbrp pisah2, gak jadi satu trus ditotal. Aneh....

    ReplyDelete