Monday, December 28, 2009

Natal Kali Ini

Natal kali ini....

Saya mendadak jadi selebritis (emangnya Luna Maya doang? hehe j/k... ).

Ada wartawan dan kamerawan dari dua stasiun TV mewawancarai saya.

Stasiun TV yang satu, adalah TV nasional kita.

Stasiun TV yang satu lagi, adalah salah satu dari 3 stasiun TV milik salah satu perusahaan, jadi mereka bisa berbagi berita.

Sudah gitu, saat wawancaranya ditayangkan, saya malah nggak nonton.

Habis lupa sih, nanya si mas wartawan kapan ditayanginnya.

Cuma mendadak terima SMS dan BBM dari teman-teman.

"Non, kok elu ada di tivi ?"

Lah, sayanya sendiri lupa loh, tadi ngomong apa di depan kamera-kamera itu.

Ya intinya, Natal kali ini, saya betul-betul bisa merayakan Natal secara lebih dalam.

Tanpa pesta meriah, tanpa keramaian yang biasanya, tapi rasanya kok tetep semriwing.

Membayangkan Yesus Kristus yang turun ke dunia, dan membayangkan betapa besar kuasa Bapa sang pencipta.

Selamat Natal untuk semua!

Mari kita ucap syukur, dan puji Tuhan atas berkatNya yang tak terhingga.

Wednesday, December 09, 2009

Setelah Musim Kawin Berlalu

Setelah pertarungan bertubi-tubi yang melibatkan: memilih pakaian, mengisi angpao, dan antri makanan di resepsi, akhirnya selesai juga kegiatan yang berkaitan dengan Mating-Season, alias musim kawin. Doh ! Dari awal Oktober sampai sekarang, rasanya adaaaaaaa aja tiap weekend diisi dengan kegiatan persiapan perang di atas. Bahkan ada yang sampai sehari dua kali, bahkan tiga. Seandainya saja saya bisa membelah diri seperti amoeba, mungkin bisa hadir ke semuanya kali hehehehe. (Eh iya baru inget, kayaknya masih ada undangan lagi sampai akhir tahun ini, kalau gak salah ada temen yang mau tunangan, dan udah kasih-kasih info buat nyuruh datang. Ya elah... ternyata masih ada aja yang berkaitan dengan kawin-kawinan...).

Setidaknya, tahun ini, saya menyadari bahwa, business pernikahan itu benar-benar menguntungkannnnnn !! Luar biasa !! Dalam satu perkawinan, tak terhitung banyaknya pihak yang terlibat. Tergantung juga dari skala perkawinannya, makin hari rasanya semakin menggila saja pengeluaran yang berkaitan dengan perkawinan. Belum lagi, acara-acaranya lumayan innovative loh! Kali ini, saya listing sedikit cara-cara unik perkawinan ala Indonesia yang makin aneh-aneh tetapi menarik.

Cara Masuk Pengantin

Cara lama: Orang tua pengantin masuk, diikuti oleh saudara, kemudian diikuti oleh pasangan. Biasanya berbaris berdua-dua saja, nanti dipanggil sama MC-nya untuk giliran masuk.

Cara baru: Sama seperti di atas, tetapi dimodifikasi dengan cara masuk pengantin yang berbeda. Misalnya, yang pengantin pria berjalan dari ujung satunya, kemudian yang wanita juga berjalan dari ujung satunya. Mereka bertemu di tengah-tengah (biasanya ada gazebonya), kemudian mempelai pria memberikan bunga kepada mempelai wanita (kadang-kadang pakai berlutut kayak di film-film). Kemudian bisa dilanjutkan dengan kedua mempelai langsung berjalan bersama ke pelaminan. Tetapi kadang bisa juga setelah pemberian bunga itu, dilanjutkan dengan wedding kiss dulu, baru deh jalan ke pelaminan.
Biasanya lagu-lagu yang dimainkan lumayan standard, seperti:
- I Finally Found Someone
- Since I Found You
atau lagu-lagu cinta lainnya yang mendayu-dayu.
Modifikasi cara ini adalah, pada saat pengantin masuk, sebagian undangan yang berada di samping karpet merah, dikasih bubble-bubble, untuk ditiupkan ke pengantin pada saat mereka lewat, supaya keren effectnya gitu hehehehe.

Cara (ide) saya: Nah, yang ini sebenarnya bayangan saya kalau nanti saya menikah hahahah (Blagu lo, Non!). Saya nggak ingin masuk pakai cara yang standar. Kalau nanti in the future suami saya mengijinkan... (cieh cieh)... Saya mau masuk ke ruang resepsi sambil bergoyang-goyang bersama bridesmaids saya diiringi pakai lagu “Accidentally in Love” dari Counting Crows! Wekekekekek... Buat pengantin prianya, terserah deh, mau ikut joget, mau bengong, atau mau salto-salto. Pokoknya saya suka lagu itu hahahah...*MAKSA*

Upacara Pemotongan Kue

Cara lama: Biasanya pemotongan kue dilakukan di awal acara setelah pengantin memasuki ruang resepsi. Kemudian, ya seperti biasa, mulai potong kue. Kalau jaman dulu, biasanya ada dry icenya. Pokoknya heboh lah. Jaman Mama saya tuh, pengantin setengah badan sampai ketutup dry ice. Jadi kayak brasa Negeri di Awan. Nah yang lebih standard lagi, ya gak pakai efek apa-apa. Pokoknya potong kue aja deh. Bagi-bagi ortu, lalu suap-suapan. Oh iya, jaman dahulu, kue semuanya asli loh! Pas nikah dulu, Mama saya kuenya 7 susun, asli semua, jadi tamu-tamu pun kebagian icip-icip kuenya.

Cara baru: Nah, di jaman modern ini, kuenya biasanya palsu hehehe. Jadi kalau dipotong, gak kepotong deh tuh kuenya. Ini dikarenakan, org org jaman sekarang maunya kuenya gede-gede dan tinggi menjulang, sementara, kue itu kan mahal kalau asli semua. Enaknya kue modern ini, bentuknya bisa disesuaikan dengan kemauan pengantin. Mau hiasannya antik-antik juga bisa. Ga enaknya ya, hmm gimana ya, kuenya gabus hehehe. Pemotongan kue bisa dilakukan di bagian depan acara, ataupun dilakukan di tengah acara. Pemotongan di tengah acara dilakukan supaya para undangan tidak terlalu kelaparan lantaran kelamaan menunggu acara seremonial. Nah, biasanya, acara pemotongan kue ini, diakhiri dengan wedding kiss. Wedding kiss itu biasanya dihiasi dengan confetti, alias kertas-kertas yang diletupkan di udara. Kalau yang model baru lagi, pakai mesin bubble, jadinya pas wedding kiss, keluarlah itu bubble-bubble.

Cara (ide) saya: Kalo bisa, seenggaknya, krim kuenya yang asli lah gitu. Kalo bisa dapet kuenya asli, lebih manteb lagi (mahal pastinya...-_-”). Kuenya besar ya syukur, kalau sedangpun nggak apa-apa. Nah krim kuenya asli itu, supaya pas dipotong bagus ya, supaya di pisaunya nanti nempel-nempel krimnya, gak cuma kayak motong styrofoam. Trus kalo bisa diceplokin itu krim kue ke muka pengantin pria, lebih seru lagi hehehehe... (kayak di film kartun :P).

Lempar Bunga Plus Bagi-Bagi Hadiah

Cara Lama: Jaman dulu mana ada ya lempar bunga ??? Tapi yang pasti, akhir-akhir ini sering ada acara lempar bunga. Lempar bunga itu biasanya dimaksudkan untuk wanita-wanita lajang, supaya enteng jodoh. Tapi kenyataannya, di Indonesia, pesertanya dari kaum pria dan wanita lajang. Yang diincar adalah bukan murni supaya enteng jodoh, melainkan hadiahnya! Hadiahnya beragam loh, mulai dari telepon genggam, perhiasan, ipod, blackberry, DVD player, voucher, dan lain-lain. Ujung-ujungnya, biasanya kaum pria yang dapat lantaran mereka pada sigap dan brutal. Dan cewe-cewenya biasa jadi korban. Yang namanya kesenggol, kepukul, keinjak gaunnya dan lain-lain hehehe. Intinya, kalau cara lama, pesertanyanya digiring untung ke depan panggung, kemudian mempelai pria dan wanita melempar buket bunga dari atas pelaminan. Siapa yang dapat, dialah yang beruntung.

Terus biasanya ada juga cara pembagian hadiah klasik, yaitu misalnya, MCnya nanya, siapa undangan yang bawa kunci terbanyak di sakunya? Wah, ini sering banget nih jaman dulu ditanyain. Sampai-sampai, saya ingat, ada salah satu orang yang ngaku, kalau dia sengaja membawa kunci banyak-banyak di kantongnya pada saat kondangan, supaya bisa dapat hadiah! Hihihi...

Cara baru: Nah, hari gini biasanya inovasi di mulai. Inovasi ini terkadang malah tidak melibatkan buket bunga yang dilempar loh. Tapi konsepnya sama, supaya dapat hadiah! Yang pernah saya alami adalah, biasanya setelah peserta dikumpulkan, kemudian kedua mempelai melempar boneka-boneka, biasanya bisa ada selusin boneka atau lebih yang diperebutkan. Nah, biasanya di salah satu boneka tersebut ada tandanya (biasa nama pengantin), yang dapat boneka bertanda itulah yang si pemenang dan dia berhak dapat hadiah. Nah, buat yang bonekanya gak ada tandanya, maaf, anda kurang beruntung, tapi mayan kannnn masih dapet boneka ? Hihihi...

Kemudian ada juga cara pembagian hadiah yang lain. Yang ini dipraktekan sepupu saya November lalu. Jadi ceritanya, ada kira-kira 100 cups kecil kopi dibagikan ke undangan. Kemudian pada hitungan ketiga, diminum kopinya bareng-bareng. Nahhhh, yang di dalam kopi itu ada permennya, dapet deh hadiahnya! Kreatif ya? Terus, ada lagi sepupu saya yang December ini menikah, juga memakai cara unik untuk memberikan buket bunga dan hadiah. Jadi serunya yang terakhir ini, pesertanya dibatasi hanya 20 orang saja, siapa cepat dia dapat. Nah... caranya adalah, ada 20 pita yang tersambung ke buket bunga si mempelai wanita. Dari 20 pita itu, yang benar-benar terikat di buketnya hanya 1 pita saja. Jadi 20 orang peserta boleh mengambil pita pilihannya. Pada saat hitungan ketiga, semua peserta menarik pita mereka, dan cuma satu pita yang benar-benar terikat di buket bunga. Tuh kan, kreatif lagi! Nah cara ini ada bagusnya loh, yaitu buket bunganya gak rusak, dan cara rebutannya nggak brutal. Seringkali buket bunga itu rusak gara-gara para pesertanya rebutan. Ujung-ujungnya, pemenang ditentukan dari siapa yang dapat pegangan bunganya (bunganya sih udah GUNDUL! hahahaha).

Cara (ide) saya: Belum kepikiran tuh. Yang pasti sih, buket bunga saya maunya untuk peserta wanita aja. Kasian kan yang wanita kalau keinjak-injak sama yang pria. Yang pria biar nanti rebutan garter belt aja (garter belt= pita berkaret yang dipasang di paha mempelai wanita). Biarin nanti pengantin pria melempar garter beltnya, dan silakan peserta prianya brutal sendiri. Kalau soal games-games pembagian hadiah, itu sih bisa diatur blakangan hehehehe.

Nah, demikianlah sedikit highlight dari acara perkawinan yang telah saya lalui beberapa bulan terakhir ini, dan kalau yang ide saya itu, who knows, mungkin bisa terlaksana kalau Tuhan mengijinkan hahahaha (AMIN). Intinya, mau apapun acaranya, mau brapapun biayanya, yang penting kan kehidupan setelah perkawinan ya. Buat semua pasangan yang telah menikah, semoga langgeng, bahagia, saling bisa berbagi, sampai maut memisahkan kalian.

Monday, November 23, 2009

Antara Diare dan Maag

Kepada bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, mohon maaf atas segala keterlambatan penulisan blog yang sudah agak lama tidak diupdate. Bukan maksud hati (memeluk gunung apadaya tangan tak sampai.... eh salah ya?) untuk menyepelekan blog ini, apalagi sekarang sudah jaman Facebook, namun memang saya mempunyai alasan (yang bukan dibuat-buat) sehingga blog ini agak terlantar selama lebih dari 10 hari...huks...

Oke oke, saya tau, entry yang sebelumnya ini adalah soal diare, dan kali ini naik ke atas sedikit, problemnya berpindah menjadi ke lambung. Hari Sabtu tanggal 14 November lalu, mendadak saya jadi tidak bisa makan. Makanan layak terakhir yang saya makan adalah makan siang, dan setelah itu mendadak lambung saya kacau balau. Cium bau makanan, kok eneg, terus baru masuk makanan seiprit, eh mau muntah. Sampai malam hari, makanan yang bisa masuk ke dalam badan saya cuma nasi 2 sendok, padahal belinya nasi semangkok di Beppu Plaza Indonesia lengkap dengan daging sapi dan telur. Untung ada adek saya si Recycle Bin yang bersedia menampung semua sisa makanan yang saya pesan hehehehe... Tapi beneran deh, sebelum ke Beppu itu, kan kita nyemil sore di Sushi Tei Plaza Senayan, adik saya sih dengan santainya makan Dragon Roll sendirian, sementara salad secomot aja gak bisa masuk ke perut saya. Akhirnya 1 mangkok wakame salad masuknya ya ke Recycle Bin (alias my bro).

Sampai pulang dari nonton dan jalan-jalan sama teman-teman, saya cuma bisa lemas. Di rumah, boro-boro bisa tidur. Yang ada, lambung saya seperti ngajak brantem. Bahkan coklat sepotong kecil saja ditolak! Yang ada saya malah muntah2 air, dan airpun tidak bisa masuk, mau minum aja rasanya beraaattt banget. Padahal eh padahal, tanggal 15 Novembernya itu saya mesti bertugas sebagai MC/ Lektor di gereja untuk pernikahan sepupu saya tercinta. Pagi-pagi sekitar pukul 6, saya sudah gak kuat lagi. Tanpa tidur, dan tanpa makan, rasanya sudah hampir pupus harapan untuk berpartisipasi di perkawinan saudara.

Tapi jam 6 itu, saya ingat untuk menelepon Oom saya yang dokter, dan saya ceritakan kalau sebelumnya saya diare dan dikasih obat ini itu. Ternyata, kata oom saya, obat dokter yang dikasih sebelumnya untuk diare itu memang agak keras. Langsung si oom came to the rescue, tante saya datang ke rumah membawakan obat lambung 3 macam, dan langsung saya konsumsi saat itu juga! Mendadak, keadaan lambung membaik, saya sudah mulai bisa makan sepotong kue! HOREEEEEE !! Dan badan sayapun mendadak segar, mulai bisa bergerak, mandi, dan akhirnya di gereja, bisa sukses menjadi MC/Lektor. Puji Tuhaaannnnnn...!!

Sampai malampun, saya masih tetap segar. Masih sempat ke salon untuk nata rambut, kemudian di pesta juga ceria, bertemu dengan teman-teman kuliah. Oh iya, sebagai pemberitahuan, sepupu saya yang dulu sempat berdomisili di Milwaukee, menikah dengan teman kuliah saya dari Madison. Jadi bisa dibayangkan, saya berlarian, dari mulai anak Madison, trus ke anak Milwaukee, trus ke saudara-saudara juga hahahah. Nggak tau tuh bisa dapet energy dari mana, yang pasti, thanks to those medicines, I survived the day!

Cerita Extra: Di tengah-tengah acara pesta, mendadak nama saya dipanggil MC. Beneran loh! Dipanggil, full name! Saya pikir, ada apa ini ? Apakah saya mau dikerjain ke atas pelaminan ? Deg deg deg deg.... Akhirnya, setelah tiba di atas panggung, yang terjadi adalah: Saya dapat buket bunga! Langsung dari mempelainya! Gak pakai acara lempar-lemparan loh! Katanya, karena saya telah berjasa, mempertemukan kedua sejoli ini. Hehehe... ceritanya, dulu itu Spring Break 2002, karena saya di Amerika belum ada mobil, saya minta tolong si mempelai pria untuk mengantar saya menemui sepupu saya di Milwaukee. Ternyata.... eh ternyataaa..... begitu ketemu, ada getaran cinta di antara mereka hihihihi.... Tapi beneran loh, sudah 2 kali, dengan jarak sebulan, saya mendapatkan buket bunga. Moga2 pertanda baik yahhhh... AMIN.

Thursday, November 12, 2009

Aduh Mak...

WARNING!! Postingan ini, dikhususkan bagi anda yang tahan akan kejorokan. Kalau tidak, sebaiknya di skip saja.

Akhirnya... hari ini saya bebasssssssssssssss !!! Bebas dari si pengganggu super annoying yang bernama: DIARE!

Hari Senin pagi, pukul 6 kira-kira, bangun tidur, perut bergejolak tak karuan. Bolak balik wece sampai beberapa kali, diakhiri dengan muntah. Diarenya kali ini ultimate, sudah bener-bener gak ada solid-solidnya sama sekali, tapi full cairan. Diapet 1 tablet dikonsumsi. Lemas minta ampun, tapi yang namanya manusia pemberani, saya tetap nekad ke kantor. Maklum hari Senin, apa kata si boss nanti kalau saya gak masuk ? Dipikirnya saya kebanyakan berpesta pora di weekend... padahal nggak sama sekali. Hari minggu cuma ke sangjitan saudara sepupu dan makan2 di sana, terus sore ke gereja, nonton Michael Jackson's This is It, dan dinner di Pizza Hut lantaran semua tempat udah pada tutup. Makan sambel aja nggak loh!

Di kantor, baru sampai, langsung 2 kali bolak balik.... kondisi makin drop. Tablet imodium pun dikonsumsi. Dan setelah itu, masih 2 kali lagi bolak balik. Makan siang cuma berani makan nasi dan kuah sup bening. Gak berani makan yang lain. Pukul 15.00, saya gak kuat lagi, akhirnya ijin pulang sama bos. Puji Tuhan masih ada energy buat menyetir, dan akhirnya sampailah saya di rumah dengan selamat, langsung ganti baju, menuju tempat tidur dan BLEK...sampai pukul 18.30. Bangun2, disambut oleh nasi tim. Kata mama, makan nasi tim aja, biar gak kotor perutnya. Dan enak sekali, udah gak sakit perut lagi loh. Mungkin karena imodiumnya worked very very well. Tidur malam juga lumayan enak. Sampai.....

Pukul 04.30 pagi.... MULESNYA GAK KIRA2 !! Bolak balik bolak balik bolak balik... malah kayaknya lebih parah daripada hari sebelumnya. Cairan yang keluar banyak banget! Langsung minum diatabs 2 tablet. Habis gitu berusaha tiduran lagi karena lemes. Ehhhhh.... dasar kecepatan mencret itu lebih cepat dari kecepatan cahaya, tiba2 celana saya agak2 basah, dan saya gak nyadar! Pas bangun baru berasa gak enak di blakang... duh... bener-bener udah kayak anak kecil! Bikin maluuuuuuuuu.... langsung diatabs lagi 2 tablet. Menu makan siang, lagi-lagi nasi tim. Huks.

Dan... akhirnya... kesusahan ultimate tiba... di saat: KENA PEMADAMAN LISTRIK DARI PLN, TANPA MEMILIKI GENSET! Huks huks.... kenapa sih, PLN adil dan merata banget. Padahal baca di jadualnya, mestinya kita kena pemadaman hari Jumat loh ! Dan yang terparah adalah, berhubung ini rumah pinjeman (rumah orisinil saya lagi di re-build), rumah ini ternyata gak ada PAM! Jadi kalau pompa listrik gak bisa jalan = gak ada air! Diare, kepanasan, gak ada air, KOMPLIT! Tapi Tuhan adil loh! Selama pemadaman itu, saya sama sekali gak sakit perut, ataupun ada urgency untuk membuang hajat! Hihihihhhi....

Malamnya akhirnya saya ke dokter. Setelah menunggu 1.5 jam lantaran pasiennya bejibun (dan semua rata-rata mempunyai keluhan batuk pilek dan diare), akhirnya tiba giliran saya diperiksa. Kata dokter sih, kemungkinan salah makan dan kondisi saya lagi lemah. Jadinya reaksinya langsung berlebihan. Pas diperiksa pakai stetoskop, dokter bilang perutnya masih gak stabil, jadi jangan kaget kalau masih ada sisa diare 1-2 kali setelah minum obat. Akhirnya dikasih deh 3 jenis obat, mulai dari anti mual sampai antibiotik, dan sementara harus menghindari sayur, buah, dan susu. Duh, moga2 cepat sembuh.

Rabu, saya sudah kembali ke kantor, tapi kondisi masih belum stabil2 banget. Sempat keluar keringat dingin pas di kantor, dan rabu malam sempat muntah juga sedikit. Tetapi setidaknya diarenya sudah stop. Dan akhirnya Kamis ini, baru saya merasakan kelegaan yang lumayan. Tadi pagi si hajat sudah solid :) Horeee.....!! Dan sepertinya kondisi badan juga sudah membaik, makanya bisa nulis entry ini :P (alesan...). Namun ada satu yang saya benar-benar bosan. Yaitu menu makanan saya.

Senin: Nasi + Kuah Bening, Nasi Tim
Selasa: Nasi Tim, Nasi Tim
Rabu: Nasi Tim, Bubur
Kamis: Nasi Tim

TIDAAAAAAAAAAAKKKK please take me away from Nasi Timmmmm. Mamaaaa... tolong jangan beli nasi tim lagi buat malem ini...

Monday, November 02, 2009

Resto Keren, Service Jeblok

Hehe, lumayan lama juga ya belum update blog. Tau-tau udah bulan November lagi. Barusan habis ngecek di kalender. Ada 11 undangan perkawinan lagi yang mesti dipenuhi sampai akhir tahun, dan itu yang sudah ketahuan. 3 di antaranya adalah sepupu-sepupu saya, so sudah pasti yang 3 itu, satu harian penuh waktu bakalan tersita. Yakin banget, masih ada lagi undangan yang akan nyusul... Cape de... But on the other hand seneng juga kalo bisa reunion bareng temen2 dan keluarga via acara perkawinan.

Back to the topic shown in the title... kali ini mau ngebahas dikit, soal resto baru yang bermunculan di Jakarta. Bukan hanya sekedar resto, tempat ini dirancang untuk memenuhi berbagai syarat sebuah tempat nongkrong. Ambiance yang asik, makanan enak, list minuman yang panjang, dan musik yang menunjang. Dan itulah yang saya harapkan saat Jumat 2 minggu lalu diajak teman-teman saya untuk makan malam di sebuah restaurant yang baru buka sekitar 1 bulan berlokasi di sebuah gedung perkantoran mewah di Jakarta (yang lobbynya mirip Fullerton). Just call it "B". Buat para penggemar tempat-tempat nongkrong di Jakarta, mungkin sudah langsung ngeh, apa tempat yang dimaksud.

Begitu masuk ke sana, yang saya tangkap adalah, WOW! Bagus banget interiornya. Memang restaurant ini di rancang menggunakan konsep sebuah perpustakaan di Eropa. Langit-langitnya tinggi, penerangannya remang-remang dengan lilin-lilin panjang di setiap meja. Kursi-kursinya klasik dan besar-besar (juga berat hahaha). Ada seperti balkon perpustakaan di lantai 2, yang dilengkapi dengan meja-meja dan kursi juga, serta rak buku berisi buku-buku tua (yang entah mereka dapat dari mana). Dindingnya dari kayu, dan juga ada cermin-cermin besar, menambah kesan maskulin dan tangguh interior tempat ini. Ada juga tempat duduk di bagian luar, dikelilingi oleh pagar baja dan pohon-pohon. Pokoknya, kalau kita sudah ada di dalam, rasanya bukan seperti di Jakarta lagi. Orang-orang yang makan di sana, rata-rata berdandan tampan dan cantik, sempat membuat saya kurang percaya diri karena saya langsung dari kantor dengan pakaian jeans, kaos, dan cardigan seadanya.

Menu makanan, mostly Western and Mediterranean. Steak, pasta, kebab, menjadi pilihan utama di sana. Drink listnya ada satu buku terpisah, mulai dari yang non-alkohol, mixed drink, dan wines. Harganya, lumayan OK. Tidak bisa dibilang murah, tetapi tidak terlalu mahal untuk restaurant dengan ambiance seperti itu. Tapi, ternyata, penilaian saya yang sudah sangat positive itu, ternoda cukup banyak oleh servicenya yang lumayan kacau. Tidak mengerti apa itu disebabkan karena restaurant hari itu cukup sibuk dengan banyaknya manusia tumpah ruah, ataukah memang karena kurangnya training yang diberikan oleh management. Tapi bisa dibilang untuk restaurant sekelas ini, agak cukup mengkhawatirkan. Di bawah ini ada beberapa point yang menurut saya lumayan mengganggu.

1. Saya memesan mixed juice yang namanya Jungle Juice dan pesanan sudah datang. Teman sebelah saya birnya sudah habis, sehingga dia juga ingin memesan minuman lagi. Kemudian dia minta waiternya untuk bikinkan minuman yang sama dengan saya, dan waiternya bilang, “Oh, Jungle Juice”. Ditunggu... lama...lama...lama... sampai teman saya sudah mau habis makanannya, akhirnya dia panggil lagi waiter itu, dan akhirnya juicenya datang juga. Pas tiba, juicenya beda sekali dengan yang saya punya. Saya punya warna pink, dia punya warna kuning. Tetapi karena sudah haus, dan capek nunggu, akhirnya sudah malaslah kita meminta ganti lagi dengan si waiter. Sampai sekarang masih jadi misteri, entah yang benar yang mana yg namanya Jungle Juice itu, yang pink atau yang kuning ya ?

2. Saat waiter menanyakan, teman saya, memesan Sirloin Steak sebagai menu utama. Setelah menunggu dan menunggu, 20 menit kemudian, sang waiter kembali lagi, “Maaf Pak, steak yang tadi bapak pesan, mau medium, atau medium well atau apa, Pak ?” Ya ampun..... mestinya steak itu sudah siap dong ya dalam 20 menit ? Eh ini baru ditanyakan mau dimasak dengan tingkat kematangan apa. Apakah tidak ada prosedur untuk menanyakan pemesanan steak ?

3. Saat itu kami memesan Caesar Salad with Grilled Chicken sebanyak 2 piring untuk dibagi-bagi sebagai appetizer. Kami menunggu dan menunggu terus, semua main course mulai keluar satu-satu (ada sekitar selusin orang di rombongan kami), dan saladnya sama sekali belum kelihatan. Sampai main course terakhir keluar, saladnya tetap belum keluar. Akhirnya, kami memanggil waiter, dan meminta untuk membatalkan pesanan tersebut. Tapi yang terjadi adalah, waiternya malah kembali, dan membawakan Caesar Salad kita! (Yang tentu saja momentnya sudah basi karena main course saja sudah selesai). Akhirnya salad tersebut hanya termakan sedikit, karena orang-orang sudah keburu kenyang.

4. Ini yang paling ultimate tulalitnya. Mengenai pesanan saya Spaghetti Aglio Olio with Mixed Seafood. Setelah saya melakukan pesanan, Spaghetti saya datang. Saya melongok, dan melihat, tidak ada satu tanda-tandapun mengenai adanya seafood di dalam Spaghetti saya. Karena saya penasaran, saya tanya pada yang mengantar, “Pak, ini with Seafood ya ?” Dan waiter menjawab, “Iya bu, with seafood.” Sayapun mulai membongkar-bongkar spaghetti saya, dan tidak menemukan 1 potong seafood pun di dalamnya! (Bayangkan, seorang waiter tidak bisa mengetahui jenis makanan di restaurantnya sendiri!) Akhirnya, saya panggil lagi waiter yang ada untuk mengganti pesanan saya. Tak beberapa lama kemudian, pesanan saya datang lagi, kali ini lengkap dengan beberapa potong udang. Oh, akhirnya datang juga...kata saya dalam hati. Sayapun mulai makan. Ketika makanan di piring saya tinggal sisa seperempatnya, tiba2 ada waiter lain lagi datang, dan berkata,”Spaghetti Aglio Olio with Seafood !” Lah...? Itu kan pesanan saya ? Saya lihat ke piring itu, lengkap, ada cumi-cumi dan udangnya! Sementara yang saya punya tadi, kok cuma udang saja? Saya lantas bilang ke waiternya, “Mas, mestinya pesanan saya mixed seafood itu ada cumi2nya ya ?” Terus dia bilang, “Iya, Bu”. “Jadi kalau begitu, boleh dong itu piring yang baru ditinggal saja, karena yang tadi pesanannya salah.” Waiternya bilang lagi, ”Oh bu, sebentar saya tanyakan ke chefnya”.... dan diapun pergi, dengan membawa sepiring Spaghetti Aglio Olio yang seharusnya milik saya, dan TIDAK PERNAH KEMBALI LAGI! Bahkan dia tidak kembali untuk mengabarkan apapun! What a mess!

Untungnya, hari itu, saya bertemu dengan banyak teman-teman yang asyik dan seru. Jadinya, waktu menunggu yang lama, kesalahan-kesalahan para waiter itu tidak terlalu terasa dengan obrolan-obrolan yang menyenangkan. Namun, jika mereka tidak memperbaiki servicenya, bisa-bisa ditinggalkan pelanggan. Itu opini saya semata. Tapi yang saya perhatikan, di Jakarta ini, sepertinya orang tidak terlalu peduli dengan service. Asal tempatnya enak, fancy, dan lagi hip di Jakarta, orang akan terus berdatangan. Makin mahal, makin prestigious, makin ngantrilah manusia Jakarta.

Ada yang pernah punya pengalaman di situ juga ? Atau, mungkin ada yang lain yang mau coba ?

Tuesday, October 20, 2009

Cerita Kondangan

Ngomong-ngomong, semua pembaca blog ini tau kan artinya kata "kondangan"? Hehehe... harap maklum saya nanya, soalnya "kondangan" kan sebenernya bahasa yang agak unik ya, mirip sama kata "loteng", gak semua orang tahu. Padahal, lumayan sering dipakai loh. Nah, entry kali ini bukan buat membahas arti kata kondangan (yang berarti menghadiri resepsi perkawinan) atau kata loteng (yang berarti mempunyai tingkat ~ biasanya digunakan untuk rumah yang mempunyai lebih dari satu lantai), tetapi sedikit bercerita mengenai kisah kondangan di hari Jumat minggu lalu. Yang menikah adalah V dan L. V adalah kakak kelas saya pas kuliah dulu, dan kita juga tanpa disangka akhirnya bekerja di kantor yang sama dengan selisih tanggal masuk satu bulan.

Pertama kali menerima undangan dari sahabat saya, saya agak-agak bingung, loh, kok perkawinannya hari Jumat, di hotel Shangri-La. Itu kan hari kerja, dan trafficnya, pasti gak kira-kira ramai dan padatnya. Tetapi kata V, si calon mempelai wanita, itu adalah hari baik berdasarkan penanggalan dan kepercayaan. Dan ternyata sepertinya memang benar loh, karena Hotel Mulia saja juga di book untuk sebuah resepsi perkawinan. Wow! Baru ngeh, kalau akhir-akhir ini, seringkali ada perkawinan di hari biasa. Nanti di akhir November saja, ada sahabat saya yang menikah pada hari Senin di sebuah hotel berbintang, dengan alasan yang mirip yaitu berdasarkan perhitungan hari baik.

Oke, mari kita berlanjut ke hari H. Kira-kira pukul 5 sore di hari H tersebut, kami kembali dikejutkan dengan: GEMPA !!! Ya, gempa lagi saudara-saudari, bumi gonjang-ganjing. Bedanya kali ini adalah, semua teman-teman kantor sudah tidak panik seperti dulu lagi, karena sudah diajarkan, kalau gempa justru tidak boleh lewat tangga. Kali ini semua cukup keluar dari ruangan di pinggir jendela menuju ke tengah-tengah. Dan syukurlah, gempa kali ini tidak sedahsyat gempa Tasikmalaya yang baru lalu. Kali ini pusat gempanya di Ujung Kulon dengan kekuatan 6.4 SR. Makanya guncangannya tidak terlalu parah.

Setelah pukul 5 itu, mulailah orang-orang panik. Bukannya panik karena gempa, tetapi panik karena dandan ! Maklum gara-gara resepsinya hari Jumat, tidak ada waktu lagi untuk pulang dan mandi, terpaksa semua ciwi-ciwi pada dandan di kantor. Saya sih biasa aja, sampai jam 6 kurang pun, saya masih santai, blum dandan, blum ganti baju. Yang mengagetkan adalah, beberapa teman saya, tiba2 kok rambutnya sudah dicatok semua, melingkar-lingkar. Ternyata eh ternyata, sodara sodari... salah satu ruangan di dekat tempat duduk saya, sudah berubah menjadi salon express! Lengkap dengan resepsionis kita yang menjadi tukang salonnya, plus catokan ! Dan para ciwi2 di kantor adalah clientnya. Duh, sayangnya saya lupa memfoto ruangan tersebut, kalau nggak, kan mayan, kali aja bisa dipropose buat jadi salon di kantor heheheheh...

Lanjut lagi, cerita perjalanan ke Shangri-La dari kantor saya. Pas keluar kantor, waktu menunjukkan pukul 18:50. Saya naik mobil berdua dengan adik saya yang nyusul ke kantor. Sebetulnya tinggal nunggu 10 menit lagi sampai lepas 3 in 1. Tetapi saya nekad keluar, karena saya pikir jaraknya dekat, dan teman saya juga sudah pernah bilang, kalau dekat sih santai aja lah, kan habis gitu belok di sebelah Wisma BNI. Tapi ternyata eh ternyata, saya distop sampai 2 kali !!! Polisinya sudah melambai2kan senter panjang merah itu, dan dengan kegilaan menjadi-jadi, saya terobos saja itu polisi ! 2 kali !! Beneran 2 kali !!! Maaf ya Pak Polisi.

Dan masa deg-degan itu pun berlalu. Suasana pesta menyenangkan, karena diadakannya Jumat, jadi tidak terlalu ramai. Ambil makanan juga gampang dan tidak sampai ngantri. *tapi anehnya kok saya gak makan banyak ya, cuma sekali ambil makan buffet tengah....that's it, padahal banyak makanan stallsnya... kata temen saya, itu tanda2 penuaan* Malam itu, saya sumbang suara. Dan berdasarkan permintaan dari V, dia mau lagunya lagu Indonesia yang ceria. Nah loh.... bingung banget. Sampai 1 jam sebelum berangkat ke resepsi, masih bingung mau nyanyi lagu apa. Akhirnya diputuskan lagu-nya jeng Vina Panduwinata, yaitu “Di Dadaku Ada Kamu”. Tapi berhubung si mempelai pria gak berkumis, di bagian “ada kumismu”-nya saya ganti jadi “ada bibirmu” hehehehe... Pas saat saya nyanyi itu, si pengantin berdua lagi mingle2 diantara tamu2. Begitu selesai, saya hampiri si V, dan saya bilang,”Udah ya, gue udah nyanyi.” Terus si V reaksinya, “Hah? Elu udah nyanyi ? Gue gak dengerrrr.... ulang lagi dongggg.” Ya ampunnnn... akhirnya saya bilang, “Udah ah, elu nanti liat via video aja.”

Acara dilanjutkan dengan lempar-lemparan hehehehe. Yang wanita dapat giliran lempar bunga, yang pria dapat giliran lempar garter belt. Nah, buat yang belum tau apa itu garter belt, garter belt itu adalah karet berenda yang dilingkarkan di paha untuk menahan stocking wanita. Jadinya sebelum sang mempelai pria melempar garter belt, tentulah dia harus usaha menyelam di bawah gaun mempelai wanita untuk mengambil beltnya hihihih. Kalau di Amerika, memang biasa seperti ini, dibagi dua crowdnya pria dan wanita. Makanya saya senang banget hal ini dilakukan di resepsi kali ini, karena biasanya kalau lempar bunga saja, yang menang banyakan yang pria, karena mereka memang niat kayak orang gila demi mendapatkan hadiahnya (bukan demi enteng jodohnya ~yang sebenarnya merupakan tujuan utama dari pelemparan buket bunga itu).

Setelah sekian lama saya tidak pernah ikut-ikutan acara lempar bunga, akhirnya setelah saya menjadi single lagi, ini kali pertama saya kembali ikutan acara lempar bunga. Gak ada ekspektasi apa-apa, lantaran gak pernah menang sekalipun. Saya maju ke depan cuma untuk ngerame-ramein aja, soalnya ciwi-ciwinya pada malu-malu sih. Dipandu MC, V mulai bersiap-siap melempar bunga.. satu...dua.. tiga... , ehhh ternyata gak dilempar... Diulang lagi... Satu.... Baru hitungan ke-satu, lemparan bunga itu melesat, dan mampir di wajah saya. Kontan kaget, shock, dan gak ada reaksi lain, selain mengatup tangan di depan muka dan menangkap bunganya. Sama sekali nggak pakai rebutan, bunga itu hinggap di tangan saya. What a surprise! Seumur-umur, baru kali ini saya mendapatkan buket bunga!! Didoakan ya teman-teman, moga-moga saya bisa segera menyusul mempelai... biar enteng jodoh. AMIN !

Acara diakhiri dengan foto bersama, dan saya percaya, si photographernya (Edward Suhadi ~ check him out, he’s such a talented photographer), pasti menanggap saya banci foto lantaran sering bolak balik ke atas panggung. Mulai dari pas dapet bunga, pas bersama teman-teman kantor, dan bersama teman-teman kuliah. Hahaha.... blum lagi dia sering jepret-jepret pas sebelum saya dapet bunga, pas lagi ngucapin selamat di video. Tapi saya hampir bisa memastikan, dari ribuan foto, palingan ngga ada yang masuk di album kecuali photo bersama di pelaminan hihihhi.

What a day! It was fun, it was crazy, it was unexpected!

Friday, October 09, 2009

Ditangkap Polisi (Again)

Mungkin ada beberapa orang yang pernah cerita soal ditilang ya. Salah satu yang saya ingat adalah kisahnya temen saya si Arman (yang ngakunya keren banget dan agak narsis itu heheheh). Dan yang namanya polisi di Amerika itu sudah jelas nggak akan mungkin bisa disogok seperti layaknya polisi Indonesia yang bisa pakai salam tempel. Sebagai pemberitahuan, sampai saat ini (alhamdulilah) saya tidak pernah sama sekali ditangkap oleh polisi di Indonesia. Tetapi, melihat mama saya ditangkap gara-gara melanggar marka jalan, ya pernah. Makanya kira-kira saya tahu, bagaimana proses salam tempel itu bekerja.

Oh iya... mungkin perlu saya ceritakan sedikit bedanya menghandle Polisi Amerika dan Polisi Indonesia, seandainya kita tertangkap melanggar peraturan lalu lintas. Yang versi Indonesia ini adalah versi jaman dahulu ya. Kalau yang jaman sekarang, saya belum update lagi sihhh... apalagi sejak ada issue yang katanya mendingan ditilang daripada nyogok.

Polisi Indonesia: Senyum sedikit, katakan selamat pagi (atau siang, atau sore, atau malam sesuai kebutuhan). Akan lebih akrab, kalau kita keluar dari mobil, kemudian bersalaman (kayak lagi lebaran). Kemudian ketika polisi meminta SIM, kasih liat aja sambil senyum-senyum, lanjutkan dengan basa basi sedikit, "Wah pak... gak usah repot pak..." plus, tambahkan gerakan tangan menyodorkan sejumlah dana ke genggaman polisi tersebut (yang tentunya cukup pantas untuk jenis pelanggaran yang dilakukan). Kalau polisinya masih sok galak, itu artinya jumlah yang anda kasih belum cukup menyenangkan hati si polisi. Biasanya kalau sudah begini caranya, tambahkan satu sampai dua lembar pecahan yang lebih kecil, dan bilang saja kalau tunai yang anda miliki tinggal segitu. Seandainya anda beruntung dan polisinya "baik" biasanya akhirnya anda dilepaskan dengan senyuman, dan diperingatkan, untuk hati-hati, lain kali tidak boleh begitu lagi.

Polisi Amerika: JANGAN sekali-sekali anda keluar dari mobil! Atau anda akan dianggap akan melawan, dan polisi Amerika tidak akan segan-segan untuk menembakkan peringatan ke udara. Walaupun niatan anda kepingin sok akrab, tetap saja pada posisi duduk anda, jangan lepaskan sabuk pengaman, dan tunggulah sampai pak polisi menghampiri. Bukalah kaca mobil anda, tersenyumlah kepada si polisi. Biasanya anda akan diterangkan mengenai kesalahan anda, kemudian anda berhak untuk menjawab jika beliau bertanya. Jangan sekali-kali anda sok tau maupun berkelit, karena biasanya mereka punya bukti berupa photo atau rekaman speed gun (pistol untuk mengukur kecepatan kendaraan). Berikan HANYA yang diminta oleh pak polisi, dan biasanya SIM anda (jangan berikan tambahan-tambahan yang lain). Sang polisi umumnya akan membawa SIM anda balik ke mobilnya untuk di cek, kemudian dia akan kembali dengan SIM anda plus surat tilang (jika anda memang ditilang). Kemudian biasanya anda boleh melanjutkan perjalanan. Kalau kesalahan anda cukup fatal, sampai fatal sekali, poin di SIM anda akan dikurangi. Kalau poinnya itu sampai 12 totalnya dalam satu tahun, SIM anda akan dicabut dengan sukses. Jangan lupa untuk bayar uang tilangnya atau appeal ke pengadilan di tanggal yang ditentukan jika anda merasa tidak bersalah, karena kalau anda tidak melakukan salah satunya, kesalahan anda akan terus terbawa di dalam SIM anda.... Hiyyyyy......seram....

Kali ini, akan saya ceritakan pengalaman saya, selama 3 kali ditangkap polisi. Dan semuanya itu terjadi bukan di Indonesia. Nasibbbb......

1. Tempat: University Avenue, Madison, Wisconsin, USA.
Waktu: Summer 2003, sekitar pukul 1.30 pagi.
Saat distop oleh polisi itu, saya betul-betul tidak tahu apa kesalahan saya. Asliiii.... Pas polisinya nyamperin, eh, polisinya ganteng loh! Dia celingak celinguk, kemudian nanya saya, apakah saya tahu kesalahan saya. Saya bilang, kalau saya bener-bener gak tau. Dan ternyata kesalahan saya adalah: Lupa menyalakan lampu mobil !!! Padahal itu kan tengah malam. Kemudian polisinya bertanya, saya dari mana jam segitu baru pulang. Saya jawab, saya dari fitness center. Saat itu saya pakai kaus belel dan celana training pendek, muka keringetan, pokoknya jelek banget lah. Maklum, yang namanya student, waktu luangnya gak jelas, waktu tidurnya gak jelas, waktu belajarnya juga nggak jelas. Anehnya, kenapa ya saya bisa gak sadar kalau saya nggak nyalain lampu ? Ternyata eh ternyata, itu karena jalanan University Avenue itu terang benderang menyala, sehingga tanpa lampu mobil pun, jalanan bisa terlihat dengan jelas. Saat SIM dikembalikan, ternyata saya cuma dikasih warning hihihihih... Dia juga memberitahu saya, kalau kecepatan saya itu sebenarnya melebihi normal, yaitu 10 mil/jam di atas normal, tapi kali ini dia maafkan (Mungkin karena sebenarnya saya cukup cantik juga, sehingga dia terpesona...cuih cuih). Asikkkkk....bebassss.....

2. Tempat: East Washington Avenue, Madison, Wisconsin, USA.
Waktu: Spring 2006 (kalau gak salah), kira-kira pukul 8.00 pagi
Kali ini, saya bukan lagi student, tapi seorang auditor, dan berpakaian layaknya seorang auditor (kemeja kaku, celana kaku, tampang kaku hiehieehheieh). Waktu itu saya sudah bukan tinggal di Madison lagi, tetapi tinggal di Milwaukee. Saya berangkat dari Milwaukee menuju client saya di Madison, dan saat exit dari jalan tol memasuki East Washington, memang gak bisa langsung kecepatan saya dikurangi dari 70mil/jam menjadi 35mil/jam dong. Jadi disaat saya di dalam proses mengurangi kecepatan itu, rupanya polisi sudah mengintai dari balik jembatan, kemudian menyalakan sirene dan menghentikan saya. Ya sudah lah, saya berpasrah, saat itu katanya sih kecepatan saya 45mil/jam. Ya sudah lah saya terima, mana polisinya kali ini sudah tua, gemuk, dan berkumis. Kemudian dia tanya, saya mau apa, kerjaan saya apa dll dll dll.... SIM saya diambil lagi.... Dan akhirnya dibalikin lagi... dan... tidak ada surat tilangnya....HORE HORE HORE !! Dia bilang, karena so far record saya bersih, jadi kali ini dia kasih warning saja. Tetapi sekali lagi saya melakukan kesalahan, sudah pasti ditilang. Amin.... Lolos lagiiiii !!

3. Tempat: Lakes Street, Mandurah, Western Australia
Waktu: 23 September, 2009 Sekitar pukul 1.30 siang
Ini dia, tangkapan polisi teranyar, makanya saya sampai ingat tanggal brapa. Bayangkan saja, lagi liburan Lebaran kemarin, sempat-sempatnya ditangkep polisi! Saat itu saya sebenarnya sedang santai saja menyetir di Lakes St. bersama dengan Mama dan adik saya menuju ke arah pantai. Tapi gak tau kenapa, tiba-tiba di belakang tiba-tiba ada mobil sipil, Ford berwarna ungu, menguntit saya, dan tiba-tiba penumpang sebelah kiri mobil tersebut mengeluarkan sirene dan menyalakannya. Ya ampun! Apa salah saya ini? Saya pun menepi. Gimana nggak mau rada stress ? Di negeri orang, modal SIM Amerika, naik mobil sewaan, dan ditangkep pula! Ternyata itu adalah mobil polisi yang memang dandanannya seperti mobil sipil. Nah, saya baru ngeh, ternyata polisi di Australia ini, GALAK GALAK !!! Belum apa-apa, dia sudah marah-marah. Katanya saya menyetir terlalu ke tengah. Padahal saya yakin banget saya nyetirnya normal-normal saja, tapi saya nggak membantah. Saya cuma pasang muka memelas dan bilang sorry berkali-kali. Kemudian saat dia melihat SIM saya yang sim Amerika itu, dia ngoceh-ngoceh, katanya di Amerika juga gak boleh nyetir kayak begini! Bisa membahayakan, bisa nabrak orang bla bla bla bla.... Kemudian dia ambil SIM saya, dan sepertinya dia berdiskusi dengan temannya di mobil (mungkin mendiskusikan, apakah saya cukup dipanggang, direbus, atau dilepaskan kembali ke jalanan). Akhrinya dia kembali lagi menemui saya, mengembalikan SIM saya, dan kembali marah marah dengan aksen yang aneh..."YOU CAN GET VOIN !!" asli itu yang saya denger.... What Sir ??? "VOIN VOIN!!" Kata dia gitu... terus saya masih nanya, "Sorry, I don't know what you mean, Sir.." Terus dia bilang lagi:"If you drive like that, you can get voineedddd..." (mungkin sambil mengurut dada, saking bolotnya saya.....)... dan saya akhirnya ngeh, "Oooohhhh, you mean I can get FINEDDDD...." Ya ampun, aksen Australia ini memang sulit di mengerti ya terkadang. Apalagi di desa macam Mandurah. Dan diapun akhirnya merelakan saya pergi. Horeeee...lolos lagiiii !!

Begitulah, 3 kali ditangkep polisi, semuanya di luar negeri. Satunya masih jadi student, satunya lagi jadi karyawan, dan satunya lagi jadi turis. Kesian dehhhhh... Tapi syukurlah, semuanya bisa dilewati dengan damai... bener-bener damai... bukan "damai" versi Indonesia. Oh iya, denger-denger dari temen yang tinggal di Australia sana, katanya sih di kota kecil-kecil itu, justru polisinya suka tambah iseng. Pokoknya begitu salah sedikit aja, bisa langsung dikerjain, demi nambah-nambahin pendapatan kotanya. Kalau di Wisconsin, saya inget ada kota namanya Rosendale. Kalau orang mau nonton football di Green Bay dan jalan dari arah selatan, pasti harus melewati kota itu. Penduduknya cuma 500 orang, dan pendapatan tertinggi kota itu adalah dari nangkepin orang-orang yang ngebut. Dan sengaja, jalannya itu dibikin maksimum speednya 25mil/jam, supaya orang-orang di situ gampang banget ketangkepnya.

Intinya, nyetir di manapun harus waspada. Bukan cuma waspada terhadap keadaan di jalan, tetapi juga waspada sama polisinya. Apalagi di luar negeri, polisinya itu ngumpet di berbagai belahan, ada yang di dalam mobil, ada yang di balik pohon, ada yang di tikungan, dan mereka semua rata-rata pegang speed gun. Belum lagi, ada yang namanya speed camera dan red light camera. Jadi, tanpa ketemu dengan polisi pun, kita bisa aja difoto, kemudian tau-tau surat tilang sampai di rumah dengan selamat. Dan kalau sampai tidak dibayar... inget lohhh...kesalahannya akan terus menempel di SIM kita...hiyyyy... heheheheh

Tuesday, September 29, 2009

Kalau Tuhan Menghendaki

Kalau Tuhan menghendaki, orang yang sakit dalam kondisi terparah, bisa sembuh, bangkit, dan berjalan kembali.

Kalau Tuhan menghendaki, orang yang sehat wal afiat, terlihat bugar, bisa dipanggil ke hadirat-Nya secara mendadak.

Kalau Tuhan menghendaki, langit yang cerah mendadak bisa berubah menjadi kelabu disertai dengan hujan badai menderu.

Kalau Tuhan menghendaki, segala niat yang tidak baik, walaupun dilakukan dengan berbagai cara, tak akan mampu menggagalkan kehendak-Nya.

Kalau Tuhan menghendaki, meski kita harus menunggu sampai di detik terakhir, sampai jantung rasanya mau copot, Tuhan pasti tetap akan memberinya.

Rencana manusia bukanlah rencana Tuhan. Tetapi kita harus percaya, walaupun rencana Tuhan pada awalnya itu terasa menyakitkan, terasa melelahkan, pada akhirnya hasilnya pasti indah. Walaupun rencana manusia itu terlihat baik, segalanya terlihat indah, tetap yang jauh lebih baik dan lebih indah rencana Tuhan. Jadi, disaat kita merasa terpuruk, yakinlah, kalau itu hanyalah merupakan salah satu jalan dari Tuhan, untuk melatih kita agar kita mengetahui cara, untuk keluar dari keterpurukan itu. Kita akan jauh lebih kuat sesudahnya.

Kalau Tuhan menghendaki, tidak ada yang mustahil.

Friday, September 18, 2009

Gara-gara Bulan Puasa

Apa yang berbeda selama bulan puasa untuk saya yang memang tidak puasa ? Tentulah.... TRAFFICNYA ! Ampuuuuunnnnn..... *angkat2 tangan sambil angkat bendera putih....*

Sejak sehabis operasi akhir Januari lalu, saya meminta ijin kepada atasan saya dan kepada HRD, untuk pulang ke rumah pukul 4 sore setiap harinya. Di hari-hari non-bulan puasa, it works very well. Saya jadi tidak terlalu lelah, bisa beristirahat lebih awal di rumah, dan enaknya itu, saya jadi tidak kena sakit panas. Soalnya, sejak operasi itu, saya jadi agak sensitif, kalau capek pasti suhu badan agak naik. Nah, jadi pulang pukul 4 itu sangat membantu sekali buat saya.

Tetapi, di bulan puasa itu, ceritanya berbeda total. Di awal-awal puasa, saya coba pulang pukul 4, mau keluar dari gedung kantor aja, NGANTRI! Ngantrinya gak tanggung-tanggung, bisa sampai 30 menit cuma untuk keluar dari gedung kantor. Dan akhirnya, pas tiba di jalan Gatot Subroto yang notabene kena 3-in-1 itu, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dag dig dug minta ampun, mana polisinya banyak berseliweran mencoba mengatur jalan yang macetnya ngajubileh itu.

Pernah suatu saat, polisi mengatur giliran di Semanggi, antara yang keluar dari Sudirman dan yang lurus di Gator Subroto. Dan pas giliran saya di stop, itu sudah pukul 5 sore, dan polisinya itu benar-benar di depan muka saya ! Saya pikir, matilah saya.... kena deh nih... eh gak taunya Polisinya malah tenang-tenang aja. Mungkin buat dia, kalo sampe dia nangkep saya, itu macetnya bakalan gak kira-kira kali ya kacaunya. Dan saya lihat ke sebelah-sebelah saya, memang banyak sekali orang yang cuma sendirian. Abis gimana dong ? saya sudah terjebak macet itu dari pukul 4 sore, and there's no way I can get out!

Pulang kantor, yang biasanya hanya memakan waktu 30-40 menit, berubah menjadi 2 jam! Yihaaaa.... 10 km jarak antara rumah dan kantor, berarti, hanya 5km/jam saja! What a waste of energy, what a waste of fuel! Itu kan sama aja dengan jalan kaki selama 2 jam dong? Jadi setelah minggu pertama itu, saya memikirkan alternative lain untuk membebaskan diri dari jebakan 1 jam di Semanggi area itu. Mulai dari lewat Senayan (hari pertama masih oke, eh hari kedua, muacetnya gak kira-kiram jadi dicoretlah ini dari list), lewat Pejompongan kemudian masuk tol (yang ini lumayan, setidaknya masih jalan, walaupun pernah juga 2 jam stuck di jalan tol), kemudian lewat Casablanca (yang ini terparahhhh.... pernah 2.5 jam..*sambil mengharu biru melihat bensin yang habis jauh lebih cepat daripada biasanya*).

Nah... hari ini, semuanya itu telah berlalu. Jalanan Jakarta tiba-tiba lengang, sepi.... magical !! Kayaknya, gak ada hari lain yang lebih sepi di Jakarta kecuali pada saat Lebaran. Inilah saatnya mengucapkan:

SELAMAT IDUL FITRI 1430 Hijriah
Mohon maaf lahir dan batin yaaahhh :)

PS: Setiap pagi dengerin radio, sering banget ada pembicaranya si Uztad selalu bilang "Meminta maaf itu penting, tapi yang lebih penting lagi adalah memberi maaf." Sama saja loh kayak doa Bapa Kami untuk umat Kristiani, "Ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami." Jadi bisa dilihat, sebelum kita memohon ampun kepada yang kuasa, marilah kita duluan mengampuni alias memberi maaf kepada orang yang bersalah kepada kita. Moga-moga kita bisa ya.

Thursday, September 03, 2009

Sore Tadi Pukul 3

Mendadak, salah satu staff payroll keluar dari ruangannya dengan wajah pucat. Kemudian kita semua mulai berpandangan satu sama lain. "Le, gempa ya ?" "Iya nih...kok goyang-goyang ?" Semua orang tiba-tiba mulai merasakan guncangan hebat! Dan saat kami pikir guncangan akan segera berhenti, ternyata masih tetap berlangsung. Sebagian orang berpikir, bagaimana cara yang tepat untuk menyelamatkan diri dari gempa.

Saat itu saya tetap tenang. Saya ingat, kalau bisa justru jangan panik dan berlari-larian. Posisi saya ada di lantai 19, di salah satu gedung perkantoran terbaik di Jakarta. Tangga daruratpun semakin penuh. Dari tangga itu, ratusan bahkan ribuan orang turun di gedung berlantai 40. Seandainya saat itu saya ikut turun, sepertinya hanya akan membuat saya menjadi tambah panik dan sesak. Ketika orang mulai berlarian, gempa semakin terasa. Saya hanya bisa duduk, berdoa, dan berusaha tidak panik.

Saat itu mendadak salah seorang General Manager berlari dari arah kamar kecil. Dia bilang, kalau tadi dia lagi duduk di closet sedang "menikmati" buang air besar, dan dia pikir closetnya bergerak-gerak. Kemudian dia teriak di kamar kecil, "Gempa ya ?" Namun tidak ada yang menyahut. Rupanya orang-orang yang tadinya ada di kamar kecil, semuanya sudah berhamburan keluar, menyisakan dia seorang diri, yang tiba-tiba kehilangan hasrat untuk BAB. Lantas dia berberes diri dan lari keluar. Di kala dia bercerita itu, kami masih sempat-sempatnya tertawa, kemudian mulai pusing-pusing sedikit.

Kami masih bertanya-tanya, kenapa pandangan kami berputar? Apakah masih ada gempa? Kemudian manager di sebelah saya berujar, "Kita lihat saja ornamen yang bergantungan, apakah masih bergerak." Kebetulan di sebelah ada lampion kecil bekas perayaan tahun baru Imlek kemarin, dan rupanya lampion sudah tidak bergerak sama sekali. Ternyata, benar-benar yang berputar adalah kepala kami sendiri.

Kantor sudah sepi, mungkin hanya ada beberapa wanita saja, sementara laki-laki masih lumayan banyak. Mungkin manusia di kantor kami termasuk banyak yang ndablek, alias cuek bebek, karena dengar-dengar kantor-kantor lain sudah kosong. Malah ada satu bos yang santai sekali, balik ke ruangannya, dan mulai lanjut bekerja. Tetapi kemudian ada pengumuman dari management gedung. Kita diharapkan tidak panik, tidak meninggalkan gedung, dan menjauhi dinding kaca. Tetapi, sepertinya pengumumannya agak telat, karena orang-orang sudah lari berhamburan.

Saya masih santai, pelan-pelan saya bereskan laptop, masukkan ke laci, dan sempat-sempatnya saya juga ganti sepatu dari high heels dengan sepatu bersol datar yang memang sudah saya siapkan di bawah meja seandainya ada fire drill. Saya mulai berkemas, tidak terburu-buru. Dan pelan-pelan saya menuruni tangga darurat yang sudah lebih sepi, tidak heboh dan ramai seperti tadi. Tiba di lobby, saya lihat manusia sudah begitu ramai. Di halaman depan juga ramai sekali. Lift di non-aktifkan, sehingga orang-orang pun hanya bisa menunggu.

Beberapa menit menunggu, terlihat tidak ada kejelasan. Akhirnya saya bertanya kepada security, apakah akses ke basement tempat parkir dibuka. Ternyata dibuka, dan akhirnya pukul 3.30-an, saya kabur hihihihihi.... Tetapi, jalanan ternyata macet luar biasa. Sepanjang jalan saya juga melihat para karyawan berhamburan di luar gedung. 2 jam, akhirnya jarak 10 km antara kantor dan rumah dilewati, dan Puji Tuhan, semua selamat.

Apa yang saya rasakan waktu terguncang hebat di lantai 19 itu, adalah perasaan bahwa saya begitu kecil, dan hidup itu bisa berubah sekejap karena kuasa Tuhan. Saat itu, sudah tidak terpikirkan juga untuk menyelamatkan harta atau apapun, yang dicari adalah keselamatan. Di kala jantung ini rasanya mau copot, dan kepala rasanya terguncang, tidak ada yang lain yang saya pikirkan kecuali "Tuhan, selamatkan saya."

Hikmah kecil yang bisa diambil adalah, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi. Kekayaan, kesuksesan, kemakmuran, nama besar, semuanya itu tidak akan ada artinya, jika Tuhan menjentikkan jari untuk menegur kita lewat sesuatu yang tak terduga. Jadi, berbuat baiklah selagi kita bisa, ungkapkanlah rasa cinta selagi orang tersebut masih ada, dan dekatkanlah diri kita kepada Tuhan. Saat ini kita menabur, di saat nanti kita menuai.

Saturday, August 29, 2009

By Request: Photo Ulang Tahun

Sesuai request dari teman-teman di entry sebelumnya, ini saya posting photo-photonya (nyomot dari FB aja ya hihihihihihi).





Tuesday, August 25, 2009

Postingan Ultah (Yang Agak Basi Dikit Heheheh)

Walaupun udah basi... marilah kita bahas hal yang seru-seru... yaitu: Ulang tahun saya hihihih...(Malu, tapi seneng). Birthday saya kali ini, kebetulan jatuhnya hari Minggu, dan pas long weekend pula. Keistimewaan ulang tahun saya kalau dirayainnya di Indonesia adalah, besoknya pasti libur hehhehee. 17 Agustusan gitu loh besoknya. Tapi berhubung kita sekeluarga lagi bermalas-malas ria alias gak punya rencana, jadi semuanya benar-benar total tidak terencana, termasuk bagaimana saya akan merayakan ulang tahun kali ini.

Siang itu, Minggu, tanggal 16 Agustus, kita nggak tau mau ngapain, akhirnya setelah berleyeh-leyeh sekian lama, ditambah lagi pada blum mandi, tiba-tiba saja saya berpikir... makan yang ringan-ringan aja deh, yuk mari ke Samudra BRI II, icip-icip menu dimsum aja bertigaan. Akhirnya, pukul 1 siang lewat-lewat dikit baru deh kita berangkat. Begitu sampai di Samudra, kaget juga sih... katanya long weekend, katanya orang-orang Jakarta pada keluar kota, tapi kok ini sudah mau pukul 2 siang, ruamenyaaaaa minta ampun! Untung langsung dapat meja, dan perut kita yang sudah keroncongan ini langsung pilih-pilih menu.

Rencana sih boleh rencana, tadinya gak mau terlalu kenyang, tapi ujung-ujungnya, pesenannya ada: Siomay, Hakaw, Char Siew Bao, Roti Kelapa Jagung Manis, Cheong Fun Cakwe, Tim Kaki Ayam, Tim Paikut, dan Bakso Cumi Goreng. Dan disaat perut sudah mulai kenyang, tiba-tiba keingetan, belum pesan mie ! Padahal, mie itu kan “wajib” hukumnya, katanya biar panjang umur. Biarpun cuma Indomie atau mie instant lain, pokoknya harus ada yang panjang-panjang. Jadilah, nambah lagi pesenan Szechuan Noodle! Oh no banget deh... Dan setelah menghabiskan mienya, kami masih pesan dessert Mango Sagoo dan Avocado Pudding. Hehehe...pardon my family’s appetite.

Setelah makan siang “kecil” itu, kita balik ke rumah sebentar, kemudian lanjut untuk misa jam 4 sore. Setelah misa itu, perut masih kenyang, dan rasa malas kembali menyerang. Hu hu, padahal kan tadinya rencana makan siang kecil, lalu dilanjutkan dengan makan besar di malam hari. Jadilah kita pulang dulu, kemudian memikirkan, mau ngapain untuk celebrate malam ini. Sampai jam 7 malam, perut kami masih kenyang, tapi kemudian saya berpikir, masak sih birthday celebrationnya stop sampai di sini? Pasti kan nanti jam 8-an juga sudah laper lagi. Jadilah pukul 7 lewat, akhirnya saya membuat reservasi di Rosso, Shangri-La Hotel. Reservasi dibuat untuk pukul 08.30 malam, kemudian saya juga pesan ke orang sananya, “Pak, nanti saya kabarin lagi ya jadi dateng atau ngga...” Soalnya terus terang, mama saya itu sampai pukul 7.30 malam bilang masih merasa kenyang, mana sambil nonton acara TV “Take Him Out” pula. (Ngomong dikit soal “Take Me Out” dan “Take Him Out”, buat yang belum tau, ini adalah acara baru ajang para single people to find their soulmate, tapi dibikin dalam format kontes ... cari aja sendiri di Google yah, emang ini acara kadang bikin penasaran aja).

Finally ! Pukul 8 malam, berangkat juga kita untuk dinner. Begitu sampai di sana, sudah hampir pukul 9 malam (gara-gara Semanggi ditutup lantaran ada pengaspalan jalan). Nah, jadinya malah pas banget, perutnya sudah mulai lapar. Hore! Sebelum makan, lumayan ada assorted Italian Bread yang bisa buat ganjal-ganjal. Menu yang kita pesan hari ini: Antipastinya Herb Crusted Yellow Tail Tuna Carpaccio with Pine Nuts and Orange Zest, kemudian main coursesnya: Braised Veal Cheek with Aged Balsamic on Grilled Polenta untuk adik saya, Rock Lobster Rolled in Pasta with Broccolini and Tomato Sauce untuk Mama saya, dan I guess the winner was my order, Trilogy of Veal Tenderloin with Asparagus, Porcini and Black Olive Crust. Setelah makan malam, a birthday is not complete without a cake. Tetapi, kali ini kita order 1 jenis dessert saja, karena berdasarkan pengalaman birthday terakhir di keluarga kami (birthdaynya adik saya), kue ultahnya masih bersisa di freezer (setelah 2 bulan berlalu)! So, my birthday “cake” was Do Mori Chocolate with Expresso tart, topped with Orange Sorbet. Trus dikasih lilin deh satu biji heheehe... Make a wish! Poof! Moga2 semuanya lebih indah ya!

And when I thought the celebration was over, hari Rabu, my bestfriend Ms. T, called me. Dia ngajakin dinner bareng sama temen-temennya di Tony Roma’s. Saya pikir, boleh lah, ngumpul-ngumpul bareng temen-temen, karena sudah lama juga gak hang-out. Jadilah hari rabu itu, datang, dinner, ngobrol-ngobrol ketawa ketiwi. Terus setelah dinner, tiba-tiba ada Mr. C, melontarkan pertanyaan, apa yang ada di dalam pikiran saya sehari-hari. Di saat saja lagi asik cerita, tiba-tiba dia komen, “Apakah kamu pernah berpikir, soal yang manis-manis, tapi ada panasnya, terus kamu berpikir apakah kamu mau berbagi dengan teman-teman kamu?” Terus tiba-tiba.... HAPPY BIRTHDAY TO YOUUUUU !!! HAPPY BIRTHDAY TO YOUUUU !!!! A round Blackforest Birthday cake was ready, complete with the candle! Hu hu... jadi terharuuuuu... Kemudian, teman yang lain lagi, Ms. A, melontarkan ide, kalau setiap orang di sana harus menyuapi saya dengan a bite of the cake, dan memberikan wish untuk saya. What a great idea. I got wonderful wishes and some funny ones. Thanks also to my best buddy Ms. T for the delicious birthday cake and for arranging the surprise for me. BIG hug to you!

Hari Jumat pagi, dua co-worker saya Mr. A dan Ms. R ngajak lunch. They are my best friends at the office. Memang biasa kita kalau hari Jumat lunch bareng. Terus setelah mikir-mikir mau makan di mana, akhirnya kita ke Pacific Place. Tapi sampai PP pun masih gak tau mau makan di mana. Akhirnya kita makan di Ootoya deh. Btw, makan siang hari itu, saya jadi merasa selebritis. Soalnya di depan saya ada Angelique Widjaja si petenis itu, dan di kanan saya ada Agnes Monica hihhihihi. Habis pulang kantor, biasanya kan giliran bayar-bayaran tuh buat makan siangnya, eh teman-teman saya bilang, itu traktiran sebagai birthday gift. Asikkkk !! Thanks friends!

Nah, jadi selama minggu itu, saya merasa spesial deh pokoknya. Saya bisa merayakan penambahan usia ini, dikelilingi oleh keluarga terdekat, dan tentunya oleh teman-teman yang begitu perhatian. Saya mungkin tidak pandai merangkai kata-kata, tetapi yang pasti saya ingin sampaikan terima kasih dan syukur pada Tuhan, atas segala anugrahnya yang indah, atas segala misterinya yang luar biasa, yang tentunya sudah pasti disiapkanNya supaya saya selamat dan sejahtera. Terima kasih pada teman-teman atas ucapan dan doanya yang banyaaakkkkk, mulai dari via direct call, sms, facebook, email dan lain-lain. Semoga Tuhan berkati kita semua.

Saturday, August 15, 2009

Jangan Menyerah

Posting ini saya dedikasikan untuk Tante saya tercinta, yang sedang berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Jika dibandingkan dengan penderitaan yang saya rasakan, rasanya kok saya tidak ada apa-apanya dibanding dengan beliau. Selama beberapa tahun terakhir ini, beliau telah mengalami penderitaan berulang. Apa yang saya maksud dengan penderitaan berulang ? Sejak Tante saya ditetapkan menderita penyakit kanker, dia sudah dinyatakan sembuh, kemudian penyakitnya kembali lagi, dinyatakan sembuh lagi, dan akhirnya di kanker itu kembali lagi untuk yang ketiga kalinya.

Di setiap langkah perjuangannya, Tante saya menjalani kemoterapi, yang membuat dia kehilangan berat badannya secara drastis, membuat wajahnya pucat, rambutnya rontok, dan kondisi tubuhnya luar biasa drop. Sekian kali ronde-ronde terapi itu dijalaninya, tetapi saya tidak pernah melihat yang namanya kegelisahan, kesedihan, ataupun kemarahan terpancar dari matanya. Yang saya lihat adalah sebuah ketegaran luar biasa, semangat yang sungguh berkobar, dan cintanya yang tidak pernah putus terhadap orang-orang disekelilingnya.

Tante saya adalah seseorang dengan karya yang luar biasa. Dari sejak beliau mengabdi sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Jakarta, sampai menjadi aktivis di salah satu yayasan sosial, saya yakin sudah begitu banyak orang yang merasakan sedikit banyak percikan kasih sayangnya. Disaat saya mengalami beberapa kali masa-masa sulit, beliau adalah teman curhat saya, dan ditengah sakitnya, beliau masih terus membuka hati untuk mendengarkan cerita keponakannya ini. Bahkan beliaulah yang selalu memberikan saya semangat dan dukungan yang tak henti setiap kali saya menghadapi masalah. Dengan segala keterbatasan yang dia miliki, dia adalah seorang tokoh yang harus saya teladani.

Dan saat tadi saya melihat dia tertidur lelap saat saya mengunjunginya di rumah sakit, tiba-tiba saja saya seperti melihat salah satu orang terkuat di dunia. Saat dia kaget terbangun mengetahui kalau saya sudah nongkrong di situ selama lebih dari setengah jam, saya melihat wajahnya berbinar-binar, padahal dia baru saja menjalani transfusi darah karena kemarin HBnya drop mendadak. Tadi kita bercerita banyak, soal hidup, soal harapan, soal kematian dan berbagai hal acak lainnya. Hari ini makannya mulai banyak, berbeda sekali dengan saat saya mengunjunginya 2 hari yang lalu. Waktu itu tak ada yang membuat dia nafsu. Kali ini nasi lembek dicampur kuah daun singkong dan bandeng presto dilahapnya sampai habis. Sebelum makanannya datang, dia sempat ngomong, kalau dia pingin makan yang berkuah dan tradisional, seperti nasi beberapa sendok dicampur kuah lodeh atau kuah sayur asem. Dan syukurlah, menu hari ini cocok rupanya dengan apa yang dia inginkan. Dan setelah itu semangatnya semakin bertambah, duduknya pun bertambah tegak di ranjang.

Pesan yang dia berikan kepada saya hari ini, adalah untuk jangan pernah menyerah. Kita boleh sakit atau disakiti, tetapi hidup kita ini pasti punya tujuan. "Tuhan pasti tidak pernah merem, Non," itu katanya. Hidup harus tetap semangat, toh nanti kita akan mati pada akhirnya. Dan di saat penyakit terminal menyerang, hidup itu bagaikan menghitung hari. Bahkan di saat ajal mulai menjemput, perasaan kalau Tuhan menghampiri akan sangat kuat. Namun, jangan pernah menyerah sebelum waktunya, apalagi jika Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk berjuang.

Berikut ini kutipan syair lagu yang turut menginspirasi saya akhir-akhir ini:

Jangan Menyerah - D'Masiv

tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi

kita pasti pernah
dapatkan cobaan yang berat
seakan hidup ini
tak ada artinya lagi

reff1:
syukuri apa yang ada
hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yang terbaik

tak ada manusia
yang terlahir sempurna
jangan kau sesali
segala yang telah terjadi

Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasanya
bagi hambanya yang sabar
dan tak kenal putus asa

Monday, August 03, 2009

Angels v. Demons

Bukan mau menyamakan dengan film yang dibintangi Tom Hanks tersebut, tetapi kebetulan sepertinya relevan dengan entry hari ini.

Pernahkan anda bertemu dengan seseorang yang begitu baik terhadap anda, suka menolong, ramah, tetapi dalam sekejap berubah menjadi orang yang paling kejam yang pernah anda temui dalam hidup anda?

Pernahkah anda bertemu dengan seseorang yang banyak berbuat baik kepada anda, tetapi tidak melakukannya dengan tulus, bahkan menuliskan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan di catatan pribadinya?

Pernahkan anda bertemu dengan seseorang yang demi menutupi kekurangannya berubah menjadi lebih galak dan kasar, lalu berbalik mencari-cari kesalahan anda ?

Jika jawaban anda atas salah satu dari pertanyaan di atas adalah pernah, berarti anda senasib dengan saya. Bertemu dengan orang tersebut, walaupun terasa sebagai bencana, ternyata merupakan suatu anugrah yang besar untuk saya.

God is helping me in mysterious way. We'll never know what kind of plan that He had prepared for us.

Friday, July 24, 2009

Buah Simalakama

Bagaimana jika kita bertemu dengan buah simalakama? Dimakan mati ayah, tak dimakan mati ibu. Di saat sulit seperti ini, hanya Tuhan yang tau, hanya Tuhanlah kebenaran sejati.

Friday, July 17, 2009

Bom dan Bensin

Sebenarnya judul entry di atas tidak ada hubungannya sama sekali. Tetapi pertama-tama saya ingin menyampaikan turut berduka cita untuk bangsaku, yang hari ini menghadapi tragedi untuk yang ke sekian kalinya. Sedih.... benar-benar sedih... Rasa malu, ya tentu saja ada. Sekali, malu, dua kali sangat malu, tiga kali muka gak tau mau taruh di mana, ini sudah yang ke empat kali, muka mungkin sudah dilempar jauh.

Namun kita semua harus optimis, harus bangkit, dan melawan segala bentuk kekerasan. Dan buat yang melakukan kejahatan ini, otaknya, pelaksananya, dan siapapun yang terlibat, biarlah nanti itu urusan anda dengan Tuhan ya. Dan sorry kalau saya ngomong kasar, tapi kalian itu SETANNNNNNNNN ALASSSSSSSSSSSS !!!!!!!

Ok, selesai sudah dengan serapah saya untuk peristiwa Bom Marriott dan Ritz Carlton. Sekarang kita hibur diri sedikit dengan cerita saya membeli bensin di Shell. Sejak saya di Amerika, saya memang fanatik dengan Shell. Sampai balik ke Jakarta, tetep pake Shell dong ! Kecuali di saat angkanya sempat menunjukkan hampir 10,000 Rupiah per liter, saya sempat ganti haluan ke Pertamina premium. Mirip lagu Pasto yang judulnya Aku Pasti Kembali, saya memang meninggalkan Shell hanya untuk sementara, bukan untuk selamanya, aku pasti kan kembali, pada dirimu....(loh kok jadi nyanyi...??). Jadi saat angkanya sudah di kepala 7,000-an, kembalilah saya ke merek bensin tercinta, Shell.

Tau promosi Coca Cola gratis dari Shell kan ? Jadi setiap belanja bensin kelipatan 50,000 Rupiah, bisa dapat 1 kaleng Coca Cola. Wih, mayan banget tuh, per kalengnya aja udah 4,000-an. Sayangnya, satu hari sebelum promosi itu mulai, saya baru saja mengisi bensin full !! Huuuu....

Pas tanggal 20 Juni malam, eh, bensin saya habis. Wah kebetulan tuh, sudah bisa dapet promo Coca Cola...jadilah saya ke pom bensin, ngisi 200,000 Rupiah. Terus... saya tanya, "Coca Colanya mana, Mas?" Eh si Masnya jawab, "Maaf bu, itu hanya berlaku sampai jam 6 sore." Dan saat itu waktu menunjukkan pukul 9.30 malam. Argggghhhhh.... gagal lagi dapet Coca Cola!

Akhirnya pada saat harga per liter 5,800 Rupiah, saya sempat juga mengisi bensin. Isi full 200,000, sampai luber2 (maklum tengki mobil saya kecil), demi mendapatkan 4 kaleng Coca Cola. Padahal selangnya udah bunyi klek saat Rupiahnya menunjukkan angka 193-ribuan. Tapi daripada dapet 3 kaleng aja, mendingan dipaksa-paksa biar dapet 4 kaleng. Hehehe...berhasil berhasil berhasil (lompat-lompat gaya Dora).

Gak berapa lama, bensinnya naik lagi harganya jadi 6,200 Rupiah per liter. Saya sih nggak sempat ngisi, maklum mobil kecil 200,000 aja gak abis-abis buat seminggu lebih. Terus kemarin hari Selasa tanggal 14 Juli, saya ngisi lagi dong, 200,000 Rupiah lagi di harga tersebut. Eng ing eng.... abis ngisi, saya bingung, kok si masnya gak bawain Coca Cola. Ternyata, promosi hanya berlaku sampai tanggal 12 Juli !!! Arghhhhh.... gagal lagi dapet Coca Cola. Kenapa sih selalu mepet-mepet gitu gagalnya...uhhhh...

Dan yang lebih betein lagi, hari Rabu pagi tanggal 15 Juli, saya lihat harga per liternya Shell Super, sudah turun jadi 5,900 Rupiah per liter. NICE !! Udah kemarin ngisi harganya 6,200 Rupiah per liter, gak dapet Coca cola, eh dalam sehari turun 300 perak ! Sebagai pencinta Shell, saya mengalami yang namanya DOBEL DONGKOL !!

PS. Padahal selisih 300 perak, kalau dikali 30 liter aja baru 9,000 perak.. tapi kenapa ya kesel aja gitu...

Thursday, June 25, 2009

Laporan Khusus !

Entry yang ini, cuma mau ngabarin, kalau setelah peristiwa di depan Plaza Semanggi kemarin, akhirnya, di edisi majalah yang gambarnya di bawah ini.....



.

.

.

.

.
ada foto cewek cantik yang terpampang seperti di bawah ini....
.

.

.

.

.



Hihihihhi..... (jadi malu....)

Monday, June 15, 2009

Gatel - Gatel

Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya gatel-gatel tak tertahankan, yang bisa bikin kelojotan, gak bisa konsentrasi dan pada akhirnya, hanya bisa berpasrah diri, karena terkadang tidak diketahui penyebabnya. Kali ini, saya ceritakan beberapa kisah gatal-gatal yang lumayan seru.

1. Ini terjadi saat usia saya sekitar tujuh tahun... kelas 2 SD gitu hehhe (pas lagi imut2nya gak kayak sekarang). Oom saya yang kolektor whisky, memang seringkali menggunakan saya sebagai kelinci percobaan. Biasanya sih, saya baik-baik saja tuh minum whisky dicampur Coke atau Sprite. (Hehe, hebat ya... anak kecil minum whisky...). Kali ini ada menu baru, katanya whiskynya sih sudah berusia puluhan tahun, dan dibawain sama temannya dari Inggris. Jadi seperti biasa, dimulailah acara minum whisky gembira... campur sana sini...tiba2.. Dhoeng... badan saya biduran.. , bentol gede-gede dan seperti ngeblock... jadilah si oom dan tante panik, telepon mama saya di rumah suruh jemput anaknya... Dan pas sampe rumah, ternyata obatnya adalah dimandikan alias di washlap dengan arak tape yang direbus...doh ! Jadi deh, di atas ranjang, malem-malem, anget gitu... Sejak saat itu, no more whiskey.

2. Saat itu, seingat saya, saya kelas 4 SD, yah kira-kira umur 9 tahun lah. Suatu hari, di kedua belah paha saya, muncul gatal-gatal yang tak terkira, ditambah lagi bintik-bintik bentolan yang gatal luar biasa. Munculnya itu bukan di satu sisi, tapi di dua-duanya, dan pas duduk, guatalnya tambah kerasa. Mungkin karena kalau duduk kan ada tekanan ya. Ampun deh... sampai gak bisa konsentrasi belajar di sekolah. Akhirnya, terpaksa bawa bantal hias yang di sofa2 itu, dipakai buat tatakan duduk di kursi sekolah yang terbuat dari kayu. Diledekin terus sama temen-temen karena setiap hari bawa bantal...huks (anak kecil dari jaman dulu aja udah seneng tertawa di atas penderitaan orang lain...dasar !) Dan setelah diteliti, kayaknya saya kegigit tungau-tungau nakal yang ada di jok mobil jemputan. Mobilnya sih udah tua banget deh, dan joknya itu..juoroookkkk...

3. Kali ini saat saya berusia 10 tahun. Pas ultah mama, habis potong2 kue di rumah, kita sepakat makan di restaurant Yakiniku/ Shabu-shabu yang ngetop saat itu berinisial H. Pas makan sih kita melihat, restonya gak terlalu ramai. Tapi kita masih tetap semangat, maklumlah, all you can eat hehehe... gak boleh rugi dong. Pas malam-malam sampai di rumah... muncullah blok blokan yang lokasinya itu di telapak tangan, dan di telapak kaki. Yang di telapak kaki itu, udah uncontrollable gatelnya. Amit2. Pertamanya sih blok-blokan aja...tapi besoknya, tiba2 mulai muncul air di dalam bentol2 bloknya itu. Menggelikan...jadi bentuknya seperti kantung2 berisi air dan gatalnya gak kira2. Akhirnya sembuhnya pakai obat alergi minum. Duh, kita jadi berkesimpulan, kalau di restaurant itu, dagingnya sudah tidak segar lagi, karena saya memang tidak pernah terkena gatal-gatal karena alergi.

4. Gatal-gatal selanjutnya, terjadi di masa kerja di Amerika. Doh... bukannya Amerika itu mestinya bersih ya ? Gara-gara ikut-ikutan kompak dengan teman-teman untuk menginap di hotel murah pada saat kunjungan ke Indiana untuk pertandingan sepakbola, badan saja jadi korban. Emang sih untuk ukuran di Amerika, dealnya bagus banget. Cuma 45 USD/ malam. Pas bangun pagi-pagi, seluruh badan saya bentol, dan yang terparah, di wajahpun bengkak2 dan hancur lebur penuh dengan titik2 bentolan. Mau cari klinik, ternyata hari Sabtu itu banyakan klinik tutup. Akhirnya ketemu juga klinik kecil yang buka hari itu. Ternyata kesimpulan dokternya lucu banget, "Leony, you're alergic to cheap detergent". Yeah! Jadi ceritanya, si hotel itu pakai detergent murah untuk mencuci perlengkapan hotelnya. Makanya, sejak saat itu, kalau mau nginap di chain hotel itu, mikir dulu sejuta kali. Dan syukurnya, sampai saya balik lagi ke Indonesia belum pernah lagi nginep di hotel itu. Hati-hati, ada harga ada rupa !! (berlaku untuk segala hal).

5. Yang ini kejadian lumayan parah, sampai menyebabkan saya harus off dari kantor. Lagi-lagi gara-gara nemenin anak-anak cowok untuk main bola di dekat danau di Milwaukee, paha saya digigit serangga. Dan bukan main serangga yang satu ini hebatnya. Dari satu titik gigitannya, bengkaknya seperti 1/2 buah apel ! Sehingga saat saya memakai celana panjang, kelihatan sekali benjolannya. Akhirnya berobat lagi ke klinik, dan seperti kebiasaan di sana, kalau masuk klinik kan harus buka baju total sampai dokternya tiba. Jadi dokter itu gak tau kalau saya sebenarnya mengambil off setengah hari dari kantor. Pas setelah saya berpakaian kembali dan memakai suit lengkap, dia kaget, dan bilang,"Sorry, you're so young, I thought you're still in highschool or university." Hihi...mayan, abis periksa bengkak, dipuji puji hihihi...senang...(eh nggak ding, soalnya bengkaknya parah...). Yang ini dikasih obatnya obat minum. Berangsur-angsur, sembuh deh !

6. Nah, kejadian yang terakhir ini, baru terjadi beberapa hari yang lalu. Jadi ceritanya, karena rumah saya yang lama sedang direnovasi total, saya pindah ke rumah pinjaman milik oom saya, yang kondisinya lumayan mengenaskan (cenderung parah), tetapi lokasinya dekat dengan rumah lama. Pas beberapa hari pertama di rumah itu, setiap malam saya perang melawan nyamuk. Karena saya tidak tahan bau obat pembasmi serangga (bahkan yang electric sekalipun), saya melawan nyamuk dengan memakai balsem cap Macan (Tiger Balm). Dari mulai digunakan untuk mengobati bentol-bentol, sampai akhirnya saya pakai untuk membaluri seluruh tubuh hahahah (abisnya hebat banget nyamuknya, bisa nembus).

Tapi akhir2nya, saya curiga, kenapa ya, kok dada saya bisa ada bentol, lalu di paha bagian dalam ada empat bentol, di dekat ketiak juga penuh bentol, dan di pinggul juga ada bentol besar-besar. Bukankah nyamuk sangat sulit untuk mencapai daerah tersebut ? Selidik punya selidik, ternyata eh ternyata, gatal-gatal saya disebabkan oleh RAYAP !!! yak! Ternyata jendela di dekat ranjang saya itu, kayunya digerogoti rayap, dan rayapnya juga numpang bobo di ranjang saya.... OH NO ! Dan syukurlah, sekarang rayap2 tersebut sudah dibasmi, kusen kayu sudah disemen, dan marilah kita berdoa semoga rayapnya tidak kembali lagi....

*duh, sambil nulis point nomer 6 tadi, saya masih merinding....*

Monday, June 08, 2009

Turning 25 - Dedicated to My Brother

No no no... It's not me who's turning 25. I turned 25 a long long long time ago hahahahaha. Today is the birthday of my one and only sibling, my little brother, Ardi. During the New Order Era, he was very proud of his birthday that falls on the same day with our 2nd President, Soeharto (And at that time, I insisted in my childhood mind, that if my brother's birthday fell on the President's birthday, then mine supposed to fall on the First Lady's birthday haha...).

So, first of all, let me say: Happy Happy Happy Birthday to Ardi !! Woo hoo ! He is entering the 2nd quarter of the century of his life! He's been my companion for so many years, more than just a brother, but to me he's also my best friend (next in line to my Mom). Let me tell you some of the crazy things that I know about him.

1. He used to be very very skinny when he was a little kid. He couldn't eat something heavy or hearty. His favorite food was long bean, and he could eat long beans with rice only e-v-e-r-y-d-a-y!! Thanks to my mom persistency to feed him with Scott's Emulsion, he turned to be chubby and cute by the time he reached 6-7 yrs old, and until now, he’s still chubby and he can eat anything!! Yes, eating becomes his hobby, even sometimes he forgot that he had uric acid problem. But the crazy thing is, when he focused on something, he was able to not eat until 5 PM, and ate 3 people’s portions after that haha.

2. He used to never have any interest in music. When my Dad or Mom asked him to learn how to play organ, he always said no. His only interest with organ was when I played certain songs, he was happy to participate in pressing the "fill-in" or "ending" button to my rhythm, and then we laughed together (remember Farid Harja's song: Romantika Diamor ??). And I don't know when he became a music freak. I guess it started when I was studying in the States. He's not a music freak in playing instrument. He doesn't play any! But I can say that he's a music database! I am kinda ashame and also proud to admit, that my brother memorized Kangen Band's songs. Doh ! And he kept us entertained every time we went karaoke-ing because of his odd song choices (Now you can imagine The Killers or Coldplay combined with Kangen Band or Kuburan Band).

3. My Dad used to call him The Destroyer because he could just ruin or destroy anything. He liked to burn papers using the candle every time we had blackouts (or he burned anything else near it). One day, he took our spoon set rack (together with the spoons, forks, and all the items in there), he went up the stairs to the 2nd floor of the house, and he threw the whole rack down to the 1st floor! The sound was horrible, and for sure, our eating utensils were scattered on the floor. He was only 4 or 5 years old at that time, and when we asked him why he did that, he said he had no reason! *grrrhhhh*. But later, he turned out to be a very delicate person. Seeing his interest in itsy bitsy stuff, on his 8th birthday, my Dad decided to buy him a really huge Lego set in the shape of a Pirate Boat (for age 12+). I remember it consisted of thousands of super tiny plastic blocks, but he managed to finish making it in 3 days! *Note: we still keep the pirate boat till now :) It was my bro's childhood achievement*

4. I don’t know if I can categorize my brother into smart of not too smart. In academic field he’s doing quite well. He always managed to get into the top 5 in his class during elementary school, he also managed to get into the favorite all boys school Canisius in Menteng, and he did well in the University. But sometimes I just couldn’t stand his lack of interest in daily life knowledge. For example, it is REALLY-REALLY hard for him to memorize the road. He almost never paid any attention to every road that we passed. I can guarantee you. If I ask him today the road to our grandma’s house, he won’t be able to explain it. BUT, there’s an exception to that. When he met the girl that he liked, and he delivered her home for the first time, he would remember every detail of the road right away, and he even could explain to us on how to get there. Should we call it the magic of love?

5. Warning: This one might make you puke!! My brother is not the cleanest person on earth. Until about 2 months ago, every time he cut his nails or cleaned his ears, he didn’t care about the dirty mess that he left, and never cleaned it up. So sometimes I stepped on his pieces of nails (or ear wax...euww..!) At least now he’s changed and uses a piece of paper to collect the mess (after I got really2 mad for uncounted times). The next one is even worse. When I sat in front of his study table, I accidentally touch the bottom of the table top, and felt lots of sticky stuff under there. When I saw it...OMG, it was horror... hundreds of pieces of dried snots were there!! And my brother proudly admitted that when he sat there, every time he picked his nose, he always put the snot under the table! Shoot! To help you imagine of how dirty the table was, he has been using the same table for...hmm... almost 20 yrs! Haha! To make this story more interesting, let me tell you this. 2 months ago, I and my mom also found out that the wall next to the toilet bowl was also dirty because of his dried snots! We thought previously it was just dirty, but looking at the history, we realized that it was my brother’s mess. So we gave him old newspapers and ask him to scrub everything down. Thanks God it’s over!

I have so many more stories to tell, but I guess I am going to stop now. Probably I am going to save it for his 26th birthday, but I won’t guarantee that. Even though sometimes I got irritated by his ‘stupid, crazy, and annoying’ attitude, I won’t exchange him for anything in the world. I know that I yelled a lot at him, but I did that because I love him very much that I always want him to be a better person. In the end, I am still her big sister, and without our Dad (who in June 3rd 2009 had passed away for 8 years), I feel the responsibility of making sure that my brother is ready to face the world.

To Ardi: Happy Birthday, Di! I wish you good health, bright future, and off course a wonderful love life. And since this year might be the last year that we celebrate your birthday together before I move from Jakarta, please treat me and Mom to a really nice restaurant and we wish you abundant return later in the future hehehehe....

Thursday, May 28, 2009

Thypoid or Not Thypoid

Inspirasi judul entry ini, saya ambil dari "To Be or Not To Be". Mengapa begitu ? Sudah beberapa minggu terakhir ini, saya terserang penyakit aneh, yang sampai sekarang pun saya tidak tahu sebenarnya sakit apa.

Dimulai dari sekitar 3 minggu yang lalu, tiap sore hari, panas badan saya selalu naik, sampai akhirnya saya langganan paracetamol (go Panadol!!). Aktifitas masih berjalan seperti biasa, tetapi setiap sekitar jam 2-3 sore, baik saya berada di manapun, tetap saja badan saya panas. Paling mengganggu kalau panasnya di kantor, sehingga kalau pulang kantor, saking mengigilnya, saya nggak berani pasang AC... ("mendukung green movement" wannabe).

Denger-denger dari beberapa teman, yang gejala-gejalanya seperti ini adalah sakit thypus. Tapi saya nggak muntah, dan nggak buang2 air berlebihan juga. Tapi kalau sudah mengigil memang keterlaluan, gak bisa ngapa2in deh, pusing, lemes, dan cuma bisa meringkuk saja.

Di minggu pertama, saya akhirnya nyerah selama 2 hari... Rabu dan Kamis istirahat di rumah... Jumat balik lagi ke kantor (eh, malah kesangkut jadi model hehe - see previous entry). Trus minggu depannya, masih gak sembuh juga, akhirnya ke dokter umum, dan periksa darah ke lab, katanya sih kena infeksi biasa... dikasih antibiotik untuk 5 hari, tapi kok masih suka demam juga, dan tetap masih berteman dengan paracetamol.

Minggu ketiga ini, akhirnya benar-benar nyerah, balik lagi ke dokter specialist yang dulu menangani saya, dikasih lagi antibiotik yang lebih sangar (kemungkinan sih lebih sangar karena harganya lebih bikin kantong bolong), dan tetep disuruh minum Panadol... *tuh, Panadol harus bayar advertising fee ke saya, disebut berkali2 loh*. Periksa darah lagi, kali ini komplit...saking komplitnya dan jebolin kantongnya, sampai dapet souvenir loh dari laboratoriumnya. Dan ultimate task is: REST FOR A WEEK !! Jadi inilah saya di rumah.... jarang mandi, krn masih suka demam, dan menunggu untuk segera lekas sembuh...

Jadi, sorry gak sempat update2, soalnya badan benar2 lagi soak....

Saturday, May 16, 2009

Sombong Dikit: Jadi Model (Lagi)

Setelah lima tahun lalu sempat menjadi covergirl di majalah Wisconsin CPA, dan juga sempat dipanggil secara khusus tiga tahun lalu untuk mejadi model di brosur Wisconsin CPA, akhirnya sejarah permodelan saya bertambah lagi sedikit (Sombong lo, Non !)

Mungkin memang wajah saya ini unik (alias aneh), atau mungkin penampilan saya yang sangat menarik (alias nyeleneh...), mendadak tadi, saat pulang makan siang di Plaza Semanggi, sambil nunggu taksi yang antriannya menyaingi antrian di bioskop pas film True Lies mau dicekal (remember this?), tiba-tiba ada dua orang tak dikenal menghampiri saya.

"Maaf Dek, kami berdua dari majalah Chic. Boleh minta waktunya sedikit ?", kata si cowok yang mukanya sih mayan ciamik (kata temen saya yg tadi ikut nunggu taksi), tapi masih kurang saya yakini orientasi (sexual)nya.

"Mo ngapain ya ?", kata saya cengo.

"Begini, kita kepingin foto Mbak, untuk di halaman fashion, soalnya tema kita yang akan datang ini flowery. Kebetulan Mbak pake bajunya bunga-bunga", kata dia sambil nunjukkin halaman majalah Chic yang membicarakan tema yang sedang in.

"Oooohhhh.....", kata saya sambil cengo lagi. "Trus saya mesti ngapain?"

"Mbak sini yuk ikut saya, saya foto di depan tiang itu ya."

Dan sayapun mulai beraksi, dalam keadaan mati gaya. Hmm, tangan saya mesti gimana ya ? Hmm kok gaya saya kodok mau terbang.

"Ya Mbak, kakinya dibuka dikit mbak..." "Kayaknya bagusan gak pake kacamata..." "Nih mbak, hasilnya gimana ? Saya zoom ya." "Oke sip deh..."

Akhirnya, selesailah sudah photoshoot dadakan. Saya diminta nama, umur, profesi, dan nomer handphone. Katanya sih, kalo photo saya memenuhi syarat, bakalan dimuat di majalah itu di edisi awal Juni. Wekekekeekekek.... (KALO NON ! KALO MEMENUHI SYARAT !!! JANGAN NGIMPI MO JADI MODEL !!)

Jadi Bapak Ibu sekalian, berhubung saya gak pernah langganan majalah, apalagi majalah Chic (karena saya gak ada chic-chicnya... kalo chicken, apalagi yg digoreng kalasan, saya demen banget), jadi kalo ada yang melihat wajah cantik saya di edisi awal Juni, mohon kasih tau ya hihihi... Makasih makasih makasih (sambil tangan saya melambai-lambai seperti Miss Universe).

Wednesday, May 06, 2009

Monica si Monster

Terinspirasi dari kisah-kisah mengenai guru-guru di bulan pendidikan nasional ini, akhirnya saya tergelitik juga untuk menuliskan suatu kisah dari guru kelas IV SD saya, yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan karena dia ganteng, super pintar, atau menawan, tetapi karena kekejamannya termasuk kelas kakap untuk kami yang saat itu berusia di bawah 10 tahun. Bagi beberapa orang, nama guru yang kejam biasanya ditutup-tutupi, supaya tidak menyinggung sang guru bersangkutan (jikalau secara tidak sengaja dia, atau keluarganya, atau koleganya membaca blog saya). Tetapi saya ingin mengungkapkan saja, dialah guru yang fenomenal di sekolah saya, Pak Yohanes Musiran.

Saya masih ingat betapa lumayan brutal dan kejamnya guru kita yang satu ini. Kalau ada anak yang nakal, tidak segan-segan melakukan sesuatu yang ekstrim. Kalau guru-guru lain suka menjewer, guru yang satu ini tidak menjewer telinga, melainkan menarik cambang dari anak-anak, baik yang laki-laki maupun yang perempuan sampai semua teraduh-aduh dan menitikkan air mata. Kalau yang nakal itu ada sekelompok, sudah pasti disuruh berdiri, dan bergiliran mendapatkan tarikan cambang darinya.

Jangan harap beliau punya belas kasihan terhadap anak-anak yang masih kecil ini. Setiap kali pembagian ulangan, kalau nilai ulangan kita di bawah nilai 5, siap-siap dipanggil ke depan (biasanya Pak Yohanes ini sangat ketat kalau memberikan nilai, jadi sudah pasti berderetlah yang dapat nilai di bawah 5). Kemudian, kita harus mendengarkan perintah dan menjalankannya. Perintahnya tidak jauh-jauh dari berjalan jongkok atau berjalan berlutut berkeliling di dalam kelas, diantara barisan kursi-kursi teman-teman. Yang paling extreme adalah berjalan jongkok dari kelas IV A, kemudian keluar melewati kelas IV B, C, dan D, kemudian balik lagi ke kelas IV A dan masih berputar-putar di dalam kelas.

Maksud Pak Yohanes adalah supaya anak-anak yang mendapatkan nilai jelek itu merasa malu, dan kemudian berpacu untuk menjadi lebih baik. Tapi apa yang terjadi ? Biasanya yang dapat hukuman ya yang itu-itu saja anaknya. Yang paling kasihan, adalah teman saya Siska, yang terkena asma. Kalau sudah dihukum seperti itu, biasanya dia teler karena tidak bisa nafas. Bukannya dimaafkan, oleh Pak Yohanes ya disubstitusi hukumannya dengan tarik cambang tadi. Waktu angkatan saya, tidak ada yang berani melawan beliau. Tetapi dengar-dengar, dari angkatan adik saya, sekelompok orang tua pernah melancarkan protes kepada pihak sekolah. Lalu kenapa dia tetap berkibar sebagai guru ? Ya karena sudah terbukti, jebolan kelas Pak Yohanes biasanya lumayan berprestasi dan punya mental baja. Jadi serba salah kan ?

Jika murid-murid yang kurang berprestasi itu sering mendapat hukuman, lalu apa yang terjadi dengan murid yang berprestasi ? Apakah selalu mendapatkan pujian ? Tidak juga! Suatu hari, murid-murid yang berprestasi dan tidak pernah mendapatkan hukuman, dikerjai juga oleh dia, karena rupanya dia penasaran dan mungkin bercampur dendam. Saat itu saya ingat, ada saya dan ada kawan baik saya Aditya yang memang tidak pernah dapat nilai merah. Rupanya Pak Yohanes menyimpan dendam tersendiri kepada kita. Suatu hari, beliau memberikan ulangan mendadak yang terdiri dari 10 soal, dan soalnya lumayan sulit-sulit. Ada satu soal nomor 9 yang memang rasanya sulit sekali untuk dikerjakan karena itu soal aljabar untuk anak SMP. Jadi sudah pasti tak ada satu orangpun di kelas yang tidak mampu mengerjakan. Tetapi saya, Adit, dan beberapa teman lainnya mengerjakan soal lainnya dengan benar, sehingga kami berhak mendapat nilai 9. Hore... kami pikir, nilai 9 is not bad at all toh ? Karena kan memang tidak ada juga yang dapat nilai 10.

Tetapi di pikiran seorang Pak Yohanes lain lagi. Untuk melampiaskan dendamnya terhadap kami yang tidak pernah memperoleh hukuman, beliau memanggil dengan cara sebagai berikut, "Bagi yang di ulangan tadi, melakukan kesalahan HANYA di nomor 9, harap maju ke depan." Dan saat itu kira-kira 5 anak maju ke depan dan semuanya adalah anak-anak yang biasa bercokol di deretan 5 besar di kelas. Pak Yohanes lanjut lagi, "Nah, sekarang giliran kalian untuk jalan jongkok keliling kelas, supaya kalian juga bisa merasakan apa yang teman-teman kalian biasa rasakan." Arrgghhh...gila banget ! Akhirnya saya merasakan juga jalan jongkok, dan untungnya hanya di dalam kelas sendiri. Dan kamipun ditertawakan teman-teman, dan Pak Yohanes juga tertawa melihat kita jalan jongkok, seakan-akan mendapatkan kelegaan bisa memperoleh kesempatan untuk menghukum kami.

Dan kenapa judul tulisan saya "Monica si Monster" ? Pas SD dulu, saya biasa dipanggil Monica, dan dialah yang pertama-tama menyebut nama saya dengan Monster, karena badan saya bongsor, dan saya dianggap sebagai monster pelajaran di kelas. Dan ketika saya lulus kelas VI, pagi-pagi sebelum nilai ujian akhir dibagikan beliau datang kepada saya, sambil menjabat tangan saya, "Selamat ya, tapi sayang, kamu sudah bukan Monster lagi." Begitu acara perpisahan dan NEM saya dibagikan, saya baru tau kenapa dia bilang begitu. NEM saya hanya tertinggi kedua di satu sekolah, makanya "jabatan" Monster itu dilepaskan olehnya. Saya sadar, dari dulu, dia itu sayang sekali sama saya, bahkan saat saya sudah bukan di kelasnya lagi dua tahun kemudian, dia tetap memperhatikan nilai saya.

Sudah 15 tahun berlalu sejak saya lulus SD. Saat ini saya tidak tahu Pak Yohanes ada di mana, tapi yang pasti saya tidak pernah lupa akan kekejamannya yang penuh cinta itu. Selamat bulan Pendidikan Nasional !!

Friday, April 24, 2009

Menerima Kenyataan

Kadang susah ya menerima kenyataan. Terutama, saat kenyataan itu rasanya pahit, dan sulit untuk diubah. Bertanya kesana kemari, berjuang sampai ke negara tetangga, ternyata hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Kepinginnya mendengar berita gembira, diobok-obokpun saya rela kalau hasilnya memuaskan. Tapi yang namanya rencana Tuhan itu memang bukan rencana manusia.

I should be happy with what I have right now. At least, I still have half of what other people has. It's much better than nothing. But knowing that I cannot do some stuff that I really like, knowing that I can't sing well anymore, it makes me sad. But life must go on, dan sudah sepatutnya saya bersyukur, memiliki orang-orang yang mencintai saya, dan mau menerima saya apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihan saya.

Yesterday, when I attended the mass at St. Alphonsus-Novena Church Singapore, the priest said something that is very nice and soothing. "God loves us, not only because God is Good, but because God is LOVE". Tuhan mencintai kita, bukan karena hanya Dia baik, tapi karena Dialah cinta. Buat saya, menerima apa yang Dia berikan pada saya, berarti saya menerima Dia, dan saya tau dengan menerima Dia berarti saya akan selalu merasakan cinta.

Keep our faith alive! Never give up!

Wednesday, April 15, 2009

Garudaaaaaaaaaaa....arghhh....

Dengan bangga, saya memilih Garuda, sebagai satu-satunya direct flight NON low cost carrier dari Jakarta ke Perth. Qantas sudah tidak beroperasi lagi, yang ada hanya Jetstar saja, yang berarti tidak dapat makan, tidak dapat selimut, dan tidak dapat bagasi kecuali membayar extra untuk semuanya. Kalau mau naik Singapore Airlines, yang ada hanya buang waktu, karena harus transit di Changi. Nah, sebagai satu-satunya airline premium yang menerbangkan rute langsung ini, saya mengharapkan service yang juga premium dong! Mari kita simak kisah berikut ini.

Untuk keberangkatan tanggal 3 April 2009 yang lalu, pesawat saya dijadualkan untuk terbang pada pukul 10.45 pagi. Sekitar pukul 10.30, kami dipersilakan untuk boarding menuju ke dalam pesawat. Setelah menunggu dan menunggu, kami heran, kenapa pesawat tidak berangkat-berangkat juga. Tak berapa lama kemudian, ada pengumuman kalau para penumpang diharapkan turun dan menunggu di ruang tunggu bandara, karena ada kesalahan teknis. Kami tidak perlu membawa barang kami yang di dalam kabin, jadi cukup membawa diri dan barang berharga saja keluar. Sekitar pukul 11.30, ada pengumuman lagi, kalau penumpang diharapkan mengambil barang-barangnya yang ditinggal di dalam pesawat, karena pesawat akan diganti berkaitan dengan kerusakan teknis. Waktu penerbanganpun diubah menjadi jam 12.30, dan kami diminta untuk pindah dari gate E7 menuju gate E2.

Berbondong-bondonglah kami pindah ke gate E2, menunggu, dan terus menunggu. Pukul 12.30 akhirnya kami dipanggil untuk memasuki pesawat. Saya pikir, saya akan masuk ke pesawat menggunakan belalai alias garbarata. Tapiiii eh tapiiii... ternyata semua penumpang disuruh turun ke bawah, dan pesawatnya bahkan tidak ada di situ. Kami harus naik bus Garuda menuju pesawat yang disediakan, dan pesawatnya itu lokasinya di tengah-tengah. Dan cara naik ke pesawat adalah dengan menggunakan TANGGA ! Kasihan banget satu keluarga yang membawa 2 bayi, harus menggotong-gotong barang-barang bayinya yang begitu banyak. Belum lagi orang-orang yang sudah lanjut usia, harus menaiki tangga. Jadi mirip dengan low cost carrier macam Air Asia kan ? hehehehe... Hebat banget deh! Dan, ternyata kita baru take off sekitar pukul 13.20-an.

Pas saya masuk pesawat, ada seorang bapak-bapak bule, yang dengan senyum cemerlang berbicara kepada sang pramugari, "Congratulations Garuda...now you've shortened the delay into 2 hours! Last time I took your flight, it was delayed for 7 hours. Bravo !" Cihui... Garuda emang mooooiiii *sinis mode on*. Oh iya, perlu diketahui kalau penggantian pesawat itu disebabkan oleh handle pintu bagasi pesawat yang patah. Hebat ya hihiihi... bisa patah oi... tapi untung lah, mendingan ganti pesawat daripada barang-barang kita hilang di Samudra Hindia. Cuma mbok ya jangan kelamaan kayak gitu, dan mohon lah, jangan dikurangi pelayanannya. No stairs please... ini kan Soekarno Hatta International Airport gitu loh, bukannya Raden Inten Lampung.

Ketika perjalanan pulang, jauh lebih mendingan. Setidaknya dari Australia, tidak terlalu ada banyak masalah. Mungkin kalau dari Australia pakai acara telat kayak pas di Jakarta itu, sudah didenda kali sama pihak airport. Tapi masih tetep aja ada flawnya (Garuda gitu loh). Pas kita tiba di Jakarta, ternyata generator garbaratanya belum dinyalakan, dan belum siap pada posisi. Pengumuman dari pramugari menyatakan kalau kita harus menunggu sampai garbaratanya siap. Tetapi, plis dong, ACnya masak dimatiin? Walaupun cuma 10 menit menunggu, tapi di dalam pesawat tanpa AC itu rasanya udah kayak dipepes gitu loh. Pelit amat sih.... grrrhhhh....

Kapan ya maskapai kita bisa sebaik Singapore Airlines ? *ngimpi mode on*