Thursday, August 28, 2008

Kalau Orang Penting Lewat

Pagi itu, seperti biasa saya berangkat dari rumah, sekitar pukul 7.30. Umumnya kalau saya berangkat diwaktu demikian, pukul 8.15 saya sudah sampai kantor. Seperti biasa, antrian paling panjang adalah antrian pintu masuk tol Cawang. Setiap hari saya menghadapi antrian itu, sampai waktu menunjukkan pukul 7.55! Benar-benar antrian yang membosankan.... Mana kadang orang suka ada yang menyodok dari jalur ketiga. Padahal kita sudah mengantri dari ujung. Rasanya kepingin saya lindas2 saja mobil nggak sopan itu dengan buldozer. Tetapi memang itulah kenyataan yang harus dihadapi setiap hari. Di jalan tol pun, kita nggak pernah bebas dari yang namanya macet, apalagi kalo pagi hari...cape deeee....

Pagi itu, ketika saat mengantri sudah hampir berakhir, saat beberapa puluh meter lagi dari pintu tol, tiba-tiba.. JRENG, antrian dibubarkan, dan kita harus melewati jalan arteri! Polisi-polisi berseliweran, dan jalan tol ditutup Jalan arteri yang biasanya lebih lancar, menjadi macet total. Tak bergerak sama sekali. Ternyata, bapak RI 1, lewat di jalan tol satu-satunya di tengah kota. Di jalan arteri, saya menunngu, dan menunggu, membuang-buang bensin dengan sukses. Dari pintu tol Cawang sampai lampu merah Tebet, yang jaraknya hanya sepelemparan batu (ibaratnya), memakan waktu 45 menit. TIDAAAAKKKK....

Akhirnya, tiba di kantor pukul 9 pagi. Dan ketika bos bertanya mengapa, saya cuma bisa menjawab, "Presiden lewat pak..".

Mengapa para pejabat, dengan asyiknya menutup jalan seenaknya, kadang-kadang memakai bahu jalan tanpa merasa bersalah, memakai vooridjer yang mengancam-ngancam dengan sirenenya supaya kami para rakyat ini minggir karena ketakutan terserempet. Oh Bapak.... mengapa engkau tidak bisa merakyat seperti kami semua? Yang bergumul dengan kemacetan setiap hari, pegal menginjak pedal, diserempet motor sampai sudah jadi tahan mental. Pak, kalau gitu, jadikan saya pejabat juga dong, supaya saya bisa menindas rakyat saya juga. Yang penting saya lancarrrrrrr.....

Thursday, August 21, 2008

10 Tahun Terakhir

16 Agustus 1999

Perayaan sweet seventeen saya, perayaan terakhir di masa SMU, dikelilingi oleh teman-teman sekolah dan saudara-saudara. Seru banget, indah banget, pokoknya nggak akan terlupakan. Acaranya diadakan di ballroom sebuah hotel di bilangan Semanggi. Ada live band, kue besar, panggung dansa, makanan berderet, dan saya yang dandan komplit, rambut disanggul dan pakai gaun --> istimewa loh saya pakai gaun... heheheh... Masa remaja yang betul-betul indah... ! Untuk cerita lengkapnya, bisa di klik di entry yang ini.

16 Agustus 2000

Saat itu, acaranya tidak dirayakan secara khusus. Kebetulan hari itu, dua sepupu saya sedang perpisahan untuk berangkat studi di Amerika. Jadi istilahnya, saya numpang tiup lilin dan potong kue di event tersebut. Kalau tidak salah, acaranya di restaurant di bilangan Kelapa Gading. Yang membuat ulang tahun saya kali ini paling berkesan adalah, ini acara ulang tahun saya yang terakhir yang saya rayakan bersama papa.

16 Agustus 2001

Inilah ulang tahun pertama saya di Amerika dan kira-kira dua bulan setelah Papa meninggalkan kita. Saat itu sedang summer school di Seattle. Tanggal 15 malam, kebetulan kakak dari teman saya sedang mengadakan kunjungan singkat ke Seattle, jadilah malam itu kita makan-makan bersama dia. Pulang sampai apartemen, sudah jam 1 pagi, dan ketika saya membuka pintu, ruangan gelap. Saya cek ada 1 pesan di telepon, pas dinyalakan mesinnya, terdengar lagu Happy Birthday yang dinyanyikan oleh Mama saya. Beberapa detik kemudian, belasan teman-teman berlompatan, dari belakang dapur, dari kamar mandi, dari kamar tidur, semuanya bernyanyi "Happy Birthday" sambil membawa kue lengkap dengan lilin menyala. Waduh, saya betul-betul kaget dan terharu. Apalagi saat itu, saya bukan berada di kota saya di Madison, melainkan sedang mampir saja. Tapi rupanya teman-teman kompak. Ada yang dari Seattle, Madison, bahkan Purdue, kompak semuanya....Kue ultahnya adalah Hershey's Chocolate Pie. Makan-makannya di Zao, House of Noodle... biar panjang umur dong!

16 Agustus 2002

Tanggal 15 Agustus selalu menjadi moving day di satu kota. Memang biasanya di Madison itu, tanggal 16 adalah hari rent pertama setiap tahunnya, jadi tanggal 15 kita keluar, dan masuk ke apartemen yang baru. Jadi tanggal 15 Agustus itu, saya bekerja keras memindahkan semua barang-barang saya ke apartemen yang baru setelah dari awal masuk sekolah tinggal di asrama, dan semuanya dilakukan dengan gerak cepat, karena tanggal 16-nya saya berangkat untuk berlibur ke San Francisco. Tanggal 16-nya lewat tengah malam, pintu apartemen saya diketuk, dan datanglah rombongan teman-teman, lagi-lagi lengkap dengan kue dan ada juga yang membawa hadiah. Saat itu juga ada satu teman lagi yang disurprise-in di tempat saya yaitu Marcell. Jadi ada dua orang yang ulang tahun, dengan dua kue yang berbeda. Saya masih ingat, kue saya adalah kue es krim dari Dairy Queen, lengkap dengan gambar Scoobydoo di atasnya (maklum, saya suka nonton serial itu, dan saya shio anjing hehe). Karena saya berada di San Francisco sampai akhir Agustus, perayaan ultahnya baru dirayakan di bulan September, di Olive Garden. Pengalaman aneh di Olive Garden adalah: 1. Pesanan saya datang terlambat, 2. Teman saya berinisiatif memesankan 1 loyang kue coklat untuk acara tiup lilin di Restaurant, maksudnya untuk surprise, tapi ujung-ujungnya, saya sendiri yang disuruh bayar, 3. Pelayan restaurantnya sampai shock mengetahui kalau tatacara Indonesia adalah yang ulang tahun yang membayar billnya. HAHAHA... (lumayan, 22 orang boooo...)

16 Agustus 2003

Yay, I turned 21 !! Biasanya, ulang tahun ke 21 merujuk ke usia dewasa, alias usia boleh minum dan mabuk-mabukan secara legal (katanya orang Amerika). Tetapi saat itu saya mengasingkan diri, dengan kabur lagi ke San Francisco, dan merayakannya bersama keluarga oom saya. Kita dinner sederhana, kemudian saya dibelikan tart kecil rasa mangga. Kembali ke Madison, saya berinisiatif mengadakan perayaan yang agak sedikit berbeda. Kali ini saya masak-masak untuk teman-teman, dan daripada membeli kado, saya meminta sumbangan saja, untuk dimasukkan dalam kotak sebagai hadiah ultah saya, dan uangnya nanti digunakan untuk kegiatan Mudika. Saat itu saya membuat barbecue party di tanggal 20 September. Menunya ada shrimp salad, fruit salad, pudding almond, racks of ribs, sate ayam bumbu kacang, chicken sandwich, burger, dan bratwurst. Semua bumbu-bumbunya asli olahan tangan, termasuk marinate untuk ribsnya dan bumbu kacangnya. Lagi asik-asiknya ngaduk bumbu kacang di atas kompor...tiba2....BRUK... serombongan anak-anak lengkap dengan satu botol champagne di tangan hadir di ruang tamu! SURPRISE...no cake this time! Tapi saat itu saya dipaksa menghabiskan satu botol Moet Champagne dengan secepat mungkin... HAYO HAYO... jadilah, saya yang lagi capek masak, tambah teler, muka merah semua, sampai mabok beneran, tapi masih sempat pidato penyambutan (dibikinin video pula)... Setelah teman-teman keluar, saya muntah-muntah sampai 5 kali. Untung ada cousins2 saya yang baik hati yang menemani sampai paginya. Besoknya, acara meriah banget, yang datang mungkin ada sekitar 35-40 orang, diadakannya di Sheboygan Park. Cuaca cerah banget. Di situ saya tiup lilin sekali lagi. Kuenya dibawakan oleh best friend saya Lina. Acara diakhiri dengan lempar balon isi air... Basah deh semua...horeee....!!

16 Agustus 2004

Setelah tiga tahun tidak merayakan ulang tahun di Indonesia, kali ini saya pulang karena ada kemungkinan ini adalah kesempatan terakhir untuk pulang di bawah student visa. Kalau saya bekerja, kemungkinan besar masih dua tahun lagi baru bisa pulang. Ulang tahun saya ke 22, dirayakan dengan sangat sederhana. Saya satu keluarga bersama omm, tante, dan sepupu, makan di Bakmi Gang Kelinci di Jalan Sabang. Pulangnya, tiup lilin dan potong kue, kuenya pun saya buat sendiri loh. Kue coklat, pakai frosting coklat. Lagi sok rajin ceritanya. Lilinnya banyak pula, ada sesuai umur...Jadi walaupun kuenya jelek, tapi di foto terang benderang, krn lilinnya banyak heheheh.

16 Agustus 2005

Ulang tahun pertama di kota baru, Milwaukee. Kali ini saya sudah bekerja loh. Di Milwaukee juga jauh lebih sepi, jadinya gak bisa expect kemeriahan yang sama dengan yang di Madison. Saat itu sepulang kerja saya kelaparan. Saya telepon-telepon si mantan, maksudnya supaya dia datang cepat karena saya pingin Birthday Dinner sama dia. Tapi dia alasan terus, dia bilang lembur lah dan lain-lain. Ditunggu-tunggu sampai jam 9 malam, akhirnya dia baru datang, cuma sama beberapa teman, sambil membawa kue. Ternyata, yang membuat dia datang malam banget adalah karena menunggu teman-teman yang lain. AMPUNNNN...... ini badan capek, badan lapar, jadi semangatnya udah turun banget, tapi masih berusaha senyum. Malam itu saya dimasakin sama mantan pacar. Fillet mignon dan pasta. So basically that's the birthday dinner. Nothing fancy, nothing gaudy. Santai aja semuanya. Hadiah yang berkesan adalah, satu unit mesin jahit hehehehe... digunakan untuk apa? Silakan lihat di sini.

16 Agustus 2006

Ulang tahun terakhir saya di Milwaukee. Tanggal 15 malam, sekitar selusin teman-teman membuat surprise di apartemen saya, kuenya adalah kue es krim dari Coldstone. Padahal saat itu saya sedang membuat cupcakes untuk dibagikan di kantor. Cerita surprise partynya bisa dilihat di sini dan cupcakes bikinan saya bisa dilihat di sini. Ulang tahun saat itu, saya seperti sudah mempunyai firasat, kalau ini adalah ulang tahun yang terakhir sebelum pulang for good ke Indonesia, jadi saya membuat acaranya sedikit lebih meriah. Acara dilaksanakan di Lake Park Bistro, dengan hidangan Perancis dan dihadiri 24 orang, merayakan ulang tahun saya ke 24 (pas kan ??). Cerita lengkapnya bisa dilihat di sini. Di link itu juga, ada review birthday saya tahun-tahun sebelumnya (jadi kayak baca double ya ? hehehe). Kemudian, untuk lihat acaranya seperti apa, bisa dilihat di sini. Oh iya, I just realized I was bigger ya by that time... endut endut, empukkkkkk....

16 Agustus 2007

Ulang tahun paling gila.... dengan rencana mendadak, ulang tahun saya yang ke seperempat abad dirayakan di Hong Kong. Hahahaahah.... Mendadak lihat ada long weekend, mendadak ambil cuti satu hari, mendadak pesan tiket online for the first time in Indonesia, mendadak semua pokoknya. Dan intinya, it was FUN FUN FUN with my mom. Cerita lengkapnya bisa dilihat di sini. Kemudian perayaan nyempilnya di Jakarta bersama keluarga adalah pada saat arisan alias family gathering di rumah. Cerita arisannya, bisa dilihat di sini.

16 Agustus 2008

Oh nooo... I am over quarter life... Tapi kayaknya this year is when I received more phonecalls, more greetings, especially through cellphone and online. Thanks peeps!! Too bad, kali ini jatuhnya long weekend lagi, banyak teman-teman saya yang keluar kota, jadi birthdaynya agak-agak sepi. Jadi malam itu, merayakan detik-detik pergantian, dari tanggal 15 ke 16, saya ada di depan komputer, di depan chatroom, memaksa salah satu teman baik saya, untung menemani sambil menunggu, walaupun dia udah ngantuk-ngantuk sampai matanya berair (jahat ya saya...). Dan saat tanggal 16 tiba, SMS pertama, datang dari....eng ing eng...teman saya yang di chat room tadi... HAHAHAH... (iseng banget sih orang itu...).

Perayaan tahun ini juga sederhana, bersama mama, saya kembali lagi ke Bakmi Gang Kelinci (seperti perayaan tahun 2004), kali ini di pusatnya yang di Passer Baroe. Pesannya Bakmi Bakso (dengan daging B2, yang cuma bisa ditemui di pusat) dan swekiaw kuah. Habis makan, lanjut ke FX, dan nggak tau mau ngapain, akhirnya nonton Asterix di Platinum XXI. Sepulang nonton, mampir sebentar ke Segafredo untuk menikmati Ice Latte dan memesan 1 potong Blueberry Cheesecake yang diatasnya diletakkan lilin. And that's my official birthday cake on my birthday. Sepanjang weekend itu, saya tidak melakukan perayaan yang biasanya saya lakukan.

Di hari Selasa, saya membawa 16 lusin donut Krispy Kreme untuk dibagi-bagi di kantor. Ampun banyak banget ya ternyata 16 lusin itu, sampai membutuhkan 2 orang Office Boys untuk membantu membawakan. Karena selasa itu, tepat setelah libur long weekend, teman-teman saya berinisiatif untuk mengadakan acara kumpul-kumpul. Akhirnya terkumpulah 8 orang termasuk saya, dan kita menikmati dinner di Mandarin Spice, Senayan City. Mumpung ingat, inilah menu-menu yang dipesan saat itu: Bakmi Goreng Seafood, Irisan Bebek dan Ubur-Ubur, Mongolian Beef, Sapo Terong dengan Ikan Asin, Udang Mayonaise, 1 Ekor Ayam Goreng Wijen, Lumpia Seafood, dan Belut Goreng Madu. Sebagai hadiah special dari dua teman saya L dan C (yang mengusulkan kumpul-kumpul ini), mereka membawakan saya satu loyang Tiramisu dari Breadtalk yang yummy banget. Jadi tiup lilin lagi deh.

Foto-foto dari Birthday 2008, bisa dilihat di bawah ini.



Yang Non Halal Tapi Maknyos

Siap-siap Menyerbu
Blueberry Cheesecake dan Ice Latte - Segafredo

Tiup Lilin Ronde 1

Beginilah Kalau Belum Dimakan... beberapa menit kemudian, kandas...

Kue Yummy

Foto Manis dan Beradab

Maksud Hati Foto Tiup Lilin (tapi mbaknya fotonya terlalu bawah, jadi kesannya tiup meja)

Wednesday, August 13, 2008

Kalau Anak Muda Membuat Naskah Pidato Ibu-Ibu

Hari Senin yang lalu, tante saya tiba-tiba menelepon untuk meminta tolong sesuatu. Dari nada bicaranya, lumayan serius. Ternyata, dalam rangka menyambut HUT RI ke 63, Wanita Katolik Republik Indonesia Cabang Paroki St. Antonius menyelenggarakan lomba pidato, dan tante saya sebagai perwakilan dari Ranting Cawang, meminta tolong saya membuat naskah pidatonya! Nah loh! Jadi tante saya bercerita, kalau pidatonya ini akan dibacakan oleh Tante E yang berusia 40-an dan penonton serta juri lombanya semuanya adalah ibu-ibu. Oh nooooooooooooooooooo !!! Bagaimana mungkin saya bisa membuat pidato untuk ibu-ibu dan menempatkan diri saya sebagai ibu-ibu ? Terorejingg... jadi saya harus menuakan diri dulu nih....(bergerak memasuki mesin time travel.... eng ing eng...).

Hari Selasa pagi alias kemarin, tante saya mengirimkan tata cara lomba pidato tersebut, termasuk bagaimana cara menyusun naskahnya. Begitu dibaca, saya langsung stress. Kalau nggak percaya, lihat aja nih di bawah.

TUJUAN
Mendorong anggota untuk memahami dan mendapatkan wawasan kebangsaan dan nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa

TEMA
Mengisi Kemerdekaan RI yang mampu membangun cinta tanah air dan bangsa

TATA CARA LOMBA

Tulisan diungkapkan dalam bentuk esai
Ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar (sesuai dengan EYD)
Esai ditulis dengan menggunakan huruf Arial 11 dan spasi 1,5
Jumlah halaman esai minimal 1,5 halaman kuarto/A4
Sertakan bio data penulis (CV), foto ukuran 3 x 4, belum pernah dipublikasikan.

KRITERIA PENILAIAN
Bobot isi sesuai dengan tema
Sistematika meliputi pendahuluan, isi, penutup dan kesimpulan.
Bahasa: struktur bahasa yang dipakai dan keindahan bahasa
Relevansi tema dengan permasalahan nyata
Terdapat ide-ide untuk pemecahan masalah
Tulisan mudah dimengerti oleh berbagai pihak

Bayangkan, bagaimana saya yang boro-boro pernah mengikuti lomba mengarang, harus menulis naskah dengan tema yang begitu saklek, kaku, dan bikin boooooosan (biasanya loh, saya bosan sama yg berbau-bau patriotisme). Akhirnya, demi menghindari kestressan lebih lanjut, saya memutuskan, untuk cepat-cepat saja membuat karangan naskah pidato tersebut, daripada saya harus berlenje-lenje lebih lama lagi. Jadi, dalam hitungan beberapa jam, inilah hasil karya saya, yang saya banggakan, karena saya telah melakukan time travel dengan menggunakan teknologi tercanggih.... WOOOOSSHHHHH !!

____________________

Peran Ibu Agar Merdeka dan Cinta Negara Bukan Hanya Kiasan Semata

Ketika melihat iklan-iklan di surat kabar kalau Indonesia tahun ini sudah 63 tahun merdeka, saya bertanya-tanya dalam hati, apakah arti kemerdekaan tersebut. Ada yang bilang, merdeka itu adalah lepas dari penjajahan. 63 tahun yang lalu, kita memang terlepas dari penjajahan bangsa Jepang. Di era peperangan saat itu, saya bisa membayangkan betapa bahagianya rakyat Indonesia yang mendengar dari radio-radio saat Soekarno membacakan naskah proklamasi. Rasa bangga dan rasa cinta terhadap tanah air, sudah pasti memuncak saat itu. Sambil merenung itu, tiba-tiba saya tersentak. Waduh! Sinetron kegemaran saya sudah mulai 10 menit yang lalu. Dan saya cepat-cepat memencet tombol remote control saya sambil kesal dalam hati, kenapa saya sampai ketinggalan nonton acara tersebut. Ah, untung baru mulai (sambil saya tersenyum simpul, membayangkan aktornya yang imut-imut dan ganteng akan menghiasi layar kaca).

Saat jeda iklan berlangsung, saya perhatikan keadaan seputar rumah. Anak saya yang besar, tadi menghubungi lewat telepon genggamnya, katanya dia masih ngumpul dengan teman-teman di mal terbaru di Jakarta. Lagi ingin mencoba terjun dari lantai tujuh pakai perosotan teknologi Jerman katanya. Anak saya yang kecil, sedang asyik dengan permainan konsol di depan televisi yang saya memang sediakan untuk dia (daripada saya terganggu saat nonton sinetron). Sementara suami saya, sedang duduk di meja kerjanya, memandangi layar notebook sambil berselancar di dunia maya. Saya tersentak lagi. Kali ini bukan karena tokoh utama di sinetron yang saya tonton tercebur jurang (lalu kena amnesia), tetapi karena saya sadar, kalau selama ini justru saya belum merdeka! Cukup dengan waktu lima menit kehidupan saya hari ini, saya sadar kalau saya telah dijajah oleh sinetron, anak-anak saya dijajah oleh mal dan permainan konsol, dan suami saya lebih memilih dunia maya dibandingkan dengan menghabiskan waktu bersama saya. Dan selama ini, kita telah menganggap kejadian-kejadian tersebut adalah hal biasa dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi apa daya, pikir saya. Apa yang bisa saya lakukan? Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa kan? Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, saya ini bukan ibu rumah tangga biasa. Saya ini adalah Superheronya keluarga! Memang saya tidak bisa disamakan dengan Superman atau Batman yang membasmi penjahat dan menyelamatkan penduduk kota, tetapi setidaknya saya tahu, kalau “keselamatan” suami dan anak-anak saya juga merupakan tanggung jawab saya. Pernahkan kita terpikir, apa jadinya keadaan rumah tangga tanpa seorang ibu yang bijak? Mungkin setiap hari, keadaan rumah kita akan menjadi seperti hotel, dimana seluruh anggota hanya numpang tidur dan makan semata. Dan bukan tidak mungkin sinetron-sinetron yang berderet mulai dari pukul lima sore sampai pukul sebelas malam itu, cepat atau lambat mengikis kebersamaan di dalam keluarga. Memikirkan soal itu, membuat kepala saya mulai cenut-cenut.
Sepertinya, sang Superhero sudah harus kembali menegakkan kebenaran!

Apakah tujuan si Superhero ini? Dia ini mempunyai tugas khusus yaitu untuk membangkitkan rasa cinta di dalam keluarga, sehingga penjajahan “asing”, bisa dikikis sedikit demi sedikit. Ada pepatah bilang, “Home is Where Your Heart Is”. Rumah adalah tempat, dimana hati kita berada. Sebagai hasil akhir, rasa cinta yang dimulai dari lingkungan kecil itu, bisa menyebar ke lingkungan sekitarnya, sehingga pada akhirnya, bangsa ini menjadi bangsa yang penuh cinta dan menjadi bangsa yang besar, seperti yang dicita-citakan oleh para proklamator kita. Hmm, kok terdengar muluk sekali ya, dan bagaimana mungkin seorang ibu bisa membuat “keajaiban” itu? Tapi tunggu dulu, siapa bilang Superheronya hanya satu orang? Sesungguhnya, ada jutaan Superhero di Indonesia tercinta ini. Dan jika seluruhnya punya tujuan yang sama, bayangkan apa yang bisa para ibu lakukan.

Seperti Superhero yang mempunyai jurus-jurus unggulan, saya juga ingin mengemukakan jurus-jurus saya. Jurus perdana yang bisa diterapkan oleh kita sebagai ibu rumah tangga adalah, jurus “Meja Makan”. Kalau orang jaman dahulu bilang, jangan bicara di saat makan, rasanya pernyataan itu bisa diabaikan. Percaya atau tidak, meja makan adalah sarana komunikasi yang paling jitu untuk mempererat hubungan keluarga. Dengan suasana yang nyaman di meja makan, seluruh anggota keluarga bisa memanfaatkan waktu makan pagi maupun makan malam untuk menceritakan kejadian sehari-hari yang dihadapi. Kadang-kadang, kita bisa saling sumbang saran, sehingga seluruh anggota merasa dilibatkan. Kuncinya adalah, masakan seorang ibu yang ngangenin! Saya masih ingat, di saat-saat saya masih remaja dulu. Masakan ibu walaupun sederhana tetapi membuat saya ingin cepat-cepat pulang ke rumah. Kebahagiaan ibu adalah bukan saat tokoh utama di sinetron itu mendapatkan cinta, tapi saat ibu melihat ayah dan anak-anaknya tersenyum menikmati masakannya.

Jurus kedua yang bisa diterapkan adalah jurus “Apresiasi”. Di dalam keluarga, penghargaan bukan hanya selalu di dalam bentuk hadiah yang wah. Setiap hal-hal kecil yang diapresiasi, pasti akan menambah kebahagaiaan dan motivasi di dalam hati orang yang menerimanya. Misalnya, ketika suami kita pulang kantor dan lelah, kita bisa mengapresiasi hasil kerja kerasnya dengan menyiapkan secangkir teh. Ketika nilai anak-anak mendapat hasil ujian yang memuaskan, orang tua bisa melayangkan pujian atau hadiah kecil. Orangtua juga bisa mengapresiasi anak jika ia menjaga ketertiban, kebersihan, dan kerapihan. Kebiasaan di rumah, pasti akan berlanjut di luar, dan anak-anak kita juga pasti bisa mengapresiasi orang-orang di sekitarnya termasuk mengapresiasi lingkungannya. Kalau lingkungan bisa diapresiasi dengan tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencoret-coret tembok dan merusak fasilitas umum, tentu saja yang mendapatkan keuntungan adalah seluruh masyarakat. Nah, makin nyata lagi peranan ibu di dalam keluarga dalam mendukung kecintaan kita pada negara.

Jurus yang ketiga adalah jurus “Doa Bersama”. Nah, jurus ketiga inilah yang seringkali dilupakan oleh keluarga jaman sekarang. Jangankan doa bersama, doa sendiri-sendiri saja sudah terhitung jarang. Padahal ibu-ibu bisa mengajak suami dan anak-anak untuk doa bersama. Hal ini sangat penting untuk menyatukan keluarga, dan untuk mengingatkan ketergantungan kita pada sang Pencipta. Dalam doa, kita bersyukur, dan dalam doa juga kita memohon, kita saling mendoakan satu sama lain, dan mendukung anggota keluarga secara spiritual. Kedekatan kita kepada Tuhan membuat kita juga makin menghargai orang-orang di sekitar kita dan juga menghargai ciptaan Tuhan yang lainnya. Kedekatan kita kepada Tuhan juga menjauhkan kita dari perbuatan-perbuatan yang kurang berkenan. Kalau anak-anak kita dekat dengan Tuhan, niscaya mereka juga pasti menjadi anak-anak yang bertanggung jawab menjalankan tugasnya dan tidak akan merugikan orang lain. Siapa tau, jika nanti anak-anak saya bisa menjadi pejabat, negara Indonesia akan menjadi negara yang tambah maju karena pemimpin yang beriman dan anti korupsi (boleh dong saya berangan-angan).

Sebenarnya masih banyak lagi jurus-jurus unggulan yang bisa dipraktekkan. Saya yakin, setiap ibu pasti punya jurus unggulan yang bisa diaplikasikan dalam tugasnya sebagai Superhero keluarga. Contoh yang dikemukakan tadi hanya merupakan sebagian kecil dari peran seorang ibu yang kelihatannya sepele, tetapi jika bisa dilaksanakan, akan sangat berarti dalam memerdekakan diri dari penjajahan konsumerisme dan individualisme yang menimbulkan suasana kurang hangat dalam keluarga. Sedikit trivia, mengapa seorang ibu rumah tangga di dalam Bahasa Inggris sering disebut sebagai “homemaker”? “Home” yang berarti rumah dan “maker” yang berarti pembuat, kata “homemaker” menyimpulkan kalau yang membuat sebuah rumah tangga berjalan adalah seorang ibu. Dan menyambung dengan pepatah “Home is Where Your Heart is” yang saya kemukakan sebelumnya,dengan Ibu sebagai “Homemaker”, berarti seorang Ibu adalah tempat di mana hati kita berada.

Ujung-ujungnya, ibu adalah seorang dengan pengaruh terkuat di dalam pembentukan sebuah keluarga. Tidak salah kalau kita semua yang mengaku sebagai seorang Ibu yang berhasil membina keluarga dengan baik, bisa mematenkan diri sebagai Superhero. Tokoh Batman atau Superman memang bisa membasmi penjahat, tetapi para Ibu (walaupun secara tidak langsung) bisa menentukan nasib bangsa. Ya, kita semua berpotensi menjadi Superhero, bagi keluarga, dan bagi bangsa ini.

____________________

Kira-kira menang gak ya ? Ayo dukung saya... ketik LP spasi L E O N Y, kirim ke 1234. Kirim yang banyak yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......!! (Meniru acara Idola Cilik dongggg hihihi)

Tuesday, August 05, 2008

From Bandung with Love

Judulnya memang mirip dengan judul film yang baru naik beberapa hari di bioskop, tapi langsung turun lagi (ngeledek film Indo nih hahaha...sekali2 boleh dong). Tapi, setelah kepenatan berbagai acara minggu sebelumnya (bayangkan, ada empat acara wedding dalam satu weekend yang harus saya hadiri), minggu ini saya berkesempatan untuk santai sejenak di Bandung (setelah lebih dari satu tahun nggak pernah ke Bandung - resepsinya A&D kemarin kan cuma nemplok aja, jadi gak dihitung yah).

Sabtu kemarin, pukul 6.45 pagi, saya sudah bangun dan siap-siap untuk ke Bandung. Saya dijemput teman saya si L, yang baik banget deh pokoknya. Si L ini salah satu teman baru saya yang saya kenal dari teman lagi (friend of friend istilahnya). Tapi begitu kenal, rasanya cocok banget, dan saat beberapa saat lalu dia menawarkan untuk main-main ke Bandung (alias kampung halamannya), wah, senang banget rasanya, apalagi sudah lama banget kan nggak pernah kunjungan ke sana. Pukul 7.45, si L dengan mobilnya tiba, dan petualangan kita dimulai. Pemberhentian pertama adalah untuk beli kopi di Rest Area Km 57. Pas kita lagi santai minum kopi sambil makan kue di Excelso, tiba-tiba ada bapak-bapak edan berkacamata hitam yang mendadak ngomel-ngomel sambil ngomong ke barista, "Mbak! Ini lagu tolong diganti jadi smoky jazz! Lagu yang sekarang nggak cocok !" Waduh, saya dan si L yang lagi gigit Danish daging, langsung diam seribu bahasa. Padahal menurut saya, baik-baik saja kok musiknya yang smooth jazz itu. Silent moment berlangsung beberapa detik, sampai akhirnya musik smoky jazz mengalun (aduh, untungggg di Excelso sedia musik smoky jazz, kalau nggak sih, bisa-bisa si mbaknya tadi sudah dimutilasi dengan gergaji listrik kali...hahaha..sok ekstreme banget ya). Akhirnya acara makan pagi saya bisa berlanjut dengan tenang. Beberapa menit kemudian, ada istri dan dua anaknya yg masih kecil-kecil masuk, sambil bawa bungkusan KFC. Eh, bapaknya langsung bangun dan marah-marah ke anaknya, "Kok kamu beli KFC ? Papa udah beliin roti di sini buat kamu!" Duh, istrinya itu cuma dieeeemmmm aja sementara suaminya ngoceh. Untung saya dan si L sudah selesai makan roti, dan siap-siap kabur...

Sekitar pukul 10.30 pagi, sampailah di kita di rumah si L. Duhhhh..rumahnya adem banget... suasananya santai bangettt.... ada kolam ikan, terus belakangnya ada taman, sampai saya tuh rasanya cuma pengen leyeh-leyeh aja di sana. Ternyata juga, seluruh keluarganya si L ini senang musik. Jadi ada piano, keyboard, gitar, dan yang paling amazing itu adalah, adanya 1 ruangan home theater, lengkap dengan dinding akustik, kursi-kursi ala la-Z-boy, layar besar dengan projector, sound system lengkap, dengan wireless microphone, pokoknya heavenly banget buat karaoke lover! Apalagi, lagu-lagunya itu yang diinject di dalam system, jadi pakai program, betul-betul sudah kayak di ruang karaoke beneran, tapi jauh lebih nyaman lagi. Bawaannya jadi pengen bobo di kamar, tapi nyampe Bandung kalau gak kemana-mana kan aneh juga ya hehehe.

Siang itu, kami dijemput oleh S (teman L juga), dan pergi ke Gang Mahmud. Di Gang Mahmud, ada 1 rumah yang halamannya dipakai untuk warung makan. Warung makan Mahmud ini terkenal dengan masakan yang sangat sederhana, yang menjadi comfort food untuk sebagian besar orang. Kami pesan nasi bakmoy, nasi lengko, kangkung petis, rujak surabaya (campuran buah dan sayur dengan bumbu petis), 2 gelas es cincau dan 3 gelas teh tawar. Di luaran juga ada penjual tahu gejrot khas cirebon, yang menggoda kami untuk memesan 1 porsi. Apakah keistimewaan kota Bandung ? Makanannya murah-murah! Kemarin itu, semua pesanan kami, termasuk 1 porsi lagi nasi bakmoy untuk dibungkus, hanya merusak 55 ribu rupiah dari kantong!!

Sama seperti di Jakarta, anak-anak Bandung juga punya kebiasaan untuk ke mall setiap akhir pekan. Dan si L mengatakan, anak muda Bandung dan mall Paris Van Java (PVJ) itu seperti absenan yang harus diisi. Jadi jangan bingung kalau untuk masuk dan cari parkir di PVJ, sudah sama susahnya seperti mencari parkir di mall besar di Jakarta. Berdasarkan informasi tersebut, saya, L, dan tiga teman lainnya menuju ke Bandung Super Mall (BSM) saja, supaya kami bisa lebih santai. Kebiasaan di Bandung juga, kalau ada tempat nongkrong baru, tempat nongkrong lama akan ditinggalkan dengan segera. Sama nasibnya dengan BSM saat PVJ dibuka. PVJ ramainya kayak pasar, sementara di BSM sangat mudah mencari parkiran. Sore itu, kita nongkrong di J-Co, sambil bergossip soal teman-teman (saya sih gak kenal, tapi berlagak sok tau saja, daripada gak ada bahan omongan).

Malam hari, saya, L, dan orang tua dari L bersiap-siap untuk makan malam. L menyarankan ayahnya untuk menyetir ke The Valley di Dago Atas. Dalam perjalanan, ternyata macet minta ampun, dan isinya mobil-mobil dengan plat nomer B. Cape deeee.... Bandung kok isinya orang Jakarta semua. Karena sudah pukul 8 malam, dan perut sudah mulai lapar, akhirnya ayahnya L memutuskan, kalau kita makan di Tizi saja. Tizi adalah salah satu dari steak house yang lumayan tua di Bandung dan menyediakan menu-menu ala Jerman. Menurut si oom, Tizi itu terkenal mahal di jaman dahulu, sehingga dulu itu, cuma event sangat-sangat special yang dirayakan di Tizi. Sampai sekarang pun, katanya tetap saja Tizi itu lumayan mahal bagi orang Bandung. Setelah saya lihat menunya, wah....ini mah gak ada apa-apanya dibandingkan dengan steak house di Jakarta. Kita bisa mendapatkan T-Bone Steak, hanya dengan 51 ribu rupiah !! (MAN, I LOVE BANDUNG !!). Malam itu, saya pesan 1 mangkok Goulash, dan 1 Weiner Schnitzel, yang ternyata porsinya mantab besarnya. Side dishnya adalah potato puree yang yummy banget. Benernya masih kepingin cemil blackforest cake, tapi sudah penuhhhhh....

Malam dilanjutkan dengan kumpul dengan teman-teman di The Cellar. The Cellar ini adalah wine bar yang konsepnya mirip Cork and Screw di Jakarta. Kita ke ruangan untuk pilih wine-nya, kemudian wine diantarkan ke meja. Malam itu sebetulnya ada hiburan live music yang lumayan asik. Saya dan L yang penggemar musik sebenarnya lebih memilih untuk menikmati musik tersebut, tetapi teman-teman yang lain nggak terlalu suka, sehingga memilih di sisi lain. Nah, itulah lagi bedanya orang Bandung dengan orang Jakarta. Kalau di Jakarta senangnya musik yang hingar bingar untuk teman minum wine, di Bandung, live music yang memainkan top 40 saja sudah dibilang "gandeng" (bahasa Sunda untuk berisik). Tapi gak tau kenapa, kayaknya kami memilih wine yang salah (setelah direkomendasikan oleh si mas-masnya), dan wine kita rasanya GAK ENAK BANGET hihihihi... Untung calamarinya lumayan... tapi beneran, wine kita masih sisa setengah botol saking gak enaknya....huh, mas-masnya tulalit ah...

Minggu pagi, rekor saudara-saudaraku ! Saya dan L bangun pukul 10 pagi, tanpa merasa bersalah. Padahal malamnya, kami sudah bobo pukul 00.00, yang berarti kami tidur nonstop 10 jam. Kalau tidak malu dengan ayahnya si L, mungkin saya sudah bobo lagi extra 2 jam. Habisnya udaranya enak banget, nyaman banget, pokoknya top banget lah. Acara hari itu adalah family gatheringnya keluarga L, jadi sok pasti isinya adalah makan-makan keluarga. Saya dan L hari itu sudah seperti pianist beken dan penyanyi lounge beneran, dengan kursi tinggi, microphone, dan amplifier. Kita menghibur keluarga dengan nyanyi lagu-lagu mulai dari yang jadul sampai yang wahid, mulai dari When You Tell Me that You Love Me-nya Diana Ross, sampai Cinta diujung Jalan-nya Agnes Monica.

Sore-sore gitu, karena bosan, kita nggak tau mau kemana lagi, si L mengajak ke Belgian Spring, yaitu tempat nongkrong yang menyediakan Belgium Waffle dan Ice Cream. Lagi-lagi saudara saudari sekalian, gara-gara banyaknya mobil berplat nomer B yang membuat jalanan macet, kita terpaksa membatalkan niat, dan berbelok ke Kafe Halaman. Kafe Halaman itu lokasinya beneran ada di halaman rumah tua yang disulap menjadi restauran dengan konsep taman. Menunya sih campur-campur tak jelas, mulai dari Chinese dim sum, sampai Spaghetti. Sore itu, kita bertiga memesan sekoteng, bitterballen, cheese fritters, dan udang rambutan. Minumnya lemon ice tea, mango ice tea, dan peach ice tea. Mayan, sore-sore yang adem itu, kita cemil-cemil, sambil ngobrol-ngobrol ngalor ngidul. Kelemahannya kafe halaman itu adalah: LAMANYA AMIT2.... dan lamanya itu bukan karena mesin gak jalan atau apa, tetapi pelayannya yang banyak itu, malah pada ngobrol sendiri2 sambil becanda...huh...

Sore-sore, langit sudah hampir gelap. Sudah sekitar jam 6 sore, akhirnya saya dan L memutuskan untuk nonton DVD chickflick saja di rumah L sambil bergelimpangan di atas La-Z-Boy. Tau-tau, waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Sehabis dinner masakan mamanya L, tibalah waktu kita untuk pulang ke Jakarta. Huuuuu...rasanya nggak kepingin deh balik lagi ke Jakarta. Tapi sudah minggu malam, apadaya Senin harus kerja lagi. Perjalanan pulang, saya menyetir ke Jakarta ditemani L. Goodbye Bandung ! For sure I'll be back...!!